cover
Contact Name
Syakieb Sungkar
Contact Email
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Phone
+62811101722
Journal Mail Official
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tebet Mas Indah III Blok E No. 40 Tebet Barat, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 13115
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dekonstruksi
Published by Gerakan Indonesia Kita
ISSN : 27746828     EISSN : 2797233X     DOI : 10.54154/dekonstruksi
Jurnal Dekonstruksi is a scientific journal published by Gerakan Indonesia Kita (GITA). This journal publishes scientific articles and research reports on the study of philosophy, art, social science, and cultural studies forth times a year.
Articles 257 Documents
Narasi Simbolik Kabel-Kabel di Pameran Fotografi Jakarta: The Naked Truth Bambang Asrini Wijanarko
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.214

Abstract

Tulisan ini dimaksudkan untuk memahami pameran tunggal seorang fotografer yang menghadirkan narasi simbolis tentang kondisi kota Jakarta. Foto-foto yang ditampilkan memperlihatkan kisruh kabel-kabel yang tidak tertata di jalan-jalan besar tertentu. Pameran tersebut menjelaskan rangkaian narasi tentang tanda-tanda intimidasi berupa simbol-simbol yang mengancam warga di kota Jakarta.
Seni Folklor Dantiang sebagai Etnopsikologi Kesadaran Lingkungan dan Pengembangan Identitas Anak Sri Rustiyanti; Wanda Listiani; Anrilia Ema M.N
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.215

Abstract

Penciptaan karya seni berupa gagasan karya dapat terispirasi dari berbagai hal. Seorang seniman dapat memiliki inspirasi dari pengalaman empirik, realita yang terjadi pada masyarakat, naskah kuno, folklor, bahkan dari fenomena problematika lingkungan alam. Minangkabau sangat terkenal dengan filosofi ‘alam terkembang jadi guru’. Filosofi ini menggambarkan betapa luas dan kayanya alam itu sehingga dapat menjadi sumber inspirasi dalam ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya sebagai sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni. Sumber inspirasi karya ‘Dantiang’ mengambil spirit dari folklor Naskah Kuno Gunung Galunggung yang berisikan tentang nasihat-nasihat untuk menjalani kehidupan bagi masyarakat Sunda, juga mengajarkan tata cara hidup tentang peringatan bila manusia melakukan hal-hal yang buruk. Seni folklore Dantiang juga menerapkan etnopsikologi dalam pengembangan kesadaran dan identitas anak sebagai penari dalam film tersebut. Konsep garap karya seni ‘Dantiang’ mengangkat Naskah Kuno Amanat Galunggung, sebagai salah satu bentuk folklor yang harus dijaga menjadi identitas bagi masyarakat Sunda. Hal ini penting untuk diangkat kembali ke masyarakat saat ini, karena berisikan nilai-nilai menjaga alam dari kerusakan. Penggunaan etnopsikologi adalah sebagai landasan teori untuk mempelajari perkembangan mental anak sebagai partisipan penari dan penonton pertunjukan seni folklor Dantiang. Penciptaan karya seni ‘Dantiang’, menunjukkan fenomena bagaimana hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya sebagai reaksi adaptasi terhadap situasi aktual yang telah terjadi di lingkungannya. Hasil penelitian ini berupa karya seni folklore Dantiang sebagai salah satu upaya membangun kesadaran lingkungan dan identitas anak.
Struktur, Media dan Makna Karya Patung Abstrak Nazar Ismail Suryanti; Rica Rian
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.216

Abstract

Tarik menarik antara tradisionalisme, modernitas, dan agama Islam, telah membentuk karya-karya patung kayu Nazar Ismail menjadi abstrak, demi menghindari keserupaan bentuk dengan makhluk hidup. Melalui pengaruh masyarakat tempat ia berasal, adat dan tradisi Sumatra Barat yang kuat, Nazar mengolah perenungan diri, kehidupan manusia, dan cerita rakyat yang diketahuinya menjadi patung yang halus, dan unik, dengan kecenderungan simetris, berproporsi seimbang, dan kaligrafis. Studi tentang pematung Nazar Ismail telah menunjukkan bagaimana seniman melakukan akomodasi dan absorbsi agar ide-ide kreatifnya dapat berjalan dan dapat diterima masyarakatnya.
Seni Grotesk Syafrudin Anna Sungkar
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.217

Abstract

Istilah grottesche atau grotesk digunakan untuk penggambaran iblis abad pertengahan sampai zaman kontemporer. Selanjutnya, segala sesuatu yang melampaui standar normalitas atau keindahan mendapat perlakuan istilah yang sama. Istilah grotesk kadang digunakan untuk merujuk pada seni secara umum, film, karakter, dan bahkan orang. Syafrudin, telah lama memilih gaya grotesk sebagai dasar dalam berkarya. Hal itu berhubungan dengan rasa keprihatinannya pada dunia anak-anak. Namun penggunaan gaya melukis grotesk di Indonesia tidak selalu menyeramkan. Kita melihat bagaimana gaya grotesk telah menyebabkan beberapa karya S. Sudjojono dan Sudjana Kerton menjadi jenaka.
Upaya Vita Activa dan Vita Contemplativa Hannah Arendt sebagai sebuah Tawaran atas Relativisme Nilai Karya medan Seni: Studi Kasus Pameran Indonesia Painting I: Vita Mardohar Batu Bornok Simanjuntak
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.218

Abstract

Relativisme karya dalam medan seni sudah selalu menjadi persoalan yang tidak mudah bagi agensi manapun yang terlibat, termasuk seniman, kolektor, dan galeris. Persoalan mendasarnya terletak pada mekanisme penciptaan yang menempatkan seniman dalam peran-peran fabrikasi barang mewah. Disposisi semacam ini menjadikan perupa sebagai satu titik dalam ban berjalan geliat pasar. Hannah Arendt mengingatkan bahwa transisi dari masyarakat rural ke masyarakat urban dapat menyebabkan distorsi dari agensi yang terlibat langsung dengan dunianya secara utuh (“manusia”), dan agensi yang hanya bersentuhan dengan berbagai fungsi yang diberikan oleh mekanisme eksternal-impersonal (“orang”). Situasi ini justru menegasi hakikat seniman sebagai pihak yang dapat bergerak bebas mengasumsikan peran manapun. Arendt menawarkan sebuah pendekatan biner yang bersifat komplementer – vita activa dan vita contemplativa. Pameran Indonesia Painting I: Vita Activa menjadi sebuah studi kasus untuk melihat sejauh mana gagasan Arendt tentang upaya yang mewujud dalam vita activa relevan dalam arus diskursif pewacanaan seni rupa, dan bagaimana kajian filosofis semacam ini dapat menjadi sebuah titik argumentasi yang solid untuk menilai karya.
Kritik Nietzsche Terhadap Kebahagiaan Eudaimonia Sokrates Yohanes Mega Hendarto
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.219

Abstract

Dalam paragraf keempat “Problem Sokrates”, Nietzsche mengkritik Sokrates atas rumusan “rasio = keutamaan = kebahagiaan” sebagai persamaan yang paling aneh dan bertentangan dengan naluri. Rumusan ini menyatakan, hanya dengan rasio, manusia dapat menentukan Kebenaran dan dengan begitu menjamin hidup yang berkeutamaan serta menjamin kebahagiaannya. Nietzsche melihat adanya masalah, karena dengan begitu segala macam bentuk naluri, insting, atau hasrat manusia disingkirkan demi mencapai Keutamaan dan akhirnya Kebahagiaan. Nietzsche memperlihatkan Kebahagiaan adalah perasaan munculnya kuasa atas kontradiksi dalam diri manusia. Di bagian lainnya, Nietzsche menunjukkan adanya keterikatan antara rasa sakit (pain) dan kesenangan (pleasure), yang menjadi penegasan selanjutnya bahwa tidak ada Kebahagiaan tanpa penolakan terhadap Kebahagiaan itu sendiri. Penelitian ini akan membahas etika eudaimonia yang bermula dari Sokrates dan kemudian dikembangkan oleh Platon. Selanjutnya, penulis akan memaparkan kritikan Nietzsche terhadap konsep Kebahagiaan dalam etika eudaimonia dengan mengulas konsep Kebahagiaan menurut Nietzsche.
Skena Senirupa Indonesia 2023 Syakieb Sungkar
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.220

Abstract

Senirupa Indonesia mutakhir dapat diukur jejaknya sejak terjadinya booming tahun 2007. Pasca booming telah muncul seniman-seniman baru yang mewarnai pasar senirupa. Galeri berperan besar dalam memunculkan seniman dan kolektor baru. Senirupa Asia Timur berpengaruh dalam karya-karya senirupa Indonesia terbaru. Dalam paper ini diuraikan kategorisasi kolektor dan karya seni sebagai instrumen investasi.
Salam Redaksi Vol 10.2 Sungkar, Syakieb
Dekonstruksi Vol. 10 No. 02 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i02.225

Abstract

Jurnal edisi ini membicarakan tentang Teologi, filsafat Paul Ricoeur, Derrida, David Hume, dan masalah etnik Tantra Bhairawa, suku Sakai, serta seni rupa dan sastra.
Allah Sebagai The Wholeness: Relasi Integral Iman Katolik dan Sains Modern Menurut Ilia Delio Kelabur, Arnoldus Arif Sumara
Dekonstruksi Vol. 10 No. 02 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i02.226

Abstract

Artikel ini bertujuan mengemukakan paradigma teologi kosmik Delio tentang Allah sebagai The Wholeness. Paradigma itu secara sederhana mengacu kepada kesadaran bahwa seseorang adalah bagian dari keseluruhan dan keseluruhan menjadi bagian dari orang itu. Dalam kesadaran itu, seseorang meyakini dan melihat Allah dalam alam semesta sebagai proses kehidupan yang dinamis, terbuka (unfolding life), dan kreatif. Delio melihat keserupaan spirit antara penemuan-penemuan sains dan iman Katolik. Penemuan-penemuan sains seperti kosmologi Einstein, teori khaos, dan teori evolusi memperlihatkan gambaran ruang-waktu yang bersifat dinamis, relasional, dan terbuka. Dalam iman Katolik, gambaran itu juga diperlihatkan dalam pemahaman tentang Kristus kosmik. Dalam Kristus, setiap makhluk saling berbagi dalam keterhubungan mereka dengan dimensi kehidupan kosmik. Oleh karena itu, Delio menyelidiki arti Kristus kosmik itu dalam ajaran Gereja Katolik.
Melacak Kembali Asal-usul Gerakan Seni Rupa Baru Sungkar, Anna
Dekonstruksi Vol. 10 No. 02 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i02.227

Abstract

Artikel ini membicarakan tentang Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia yang melakukan perlawanan pada seniman senior atas tradisi pengkotak-kotakan seni yang didasarkan pada media atau mediumnya, yaitu seni lukis pada kanvas, patung dan grafis. Sementara kemungkinan untuk melakukan pembaharuan dengan media baru tidak diberikan dan tidak diapresiasi. Para seniman senior di tahun 1974 masih menonjolkan seni lukis sebagai bentuk teratas dari seni rupa, sehingga tidak memberikan jalan untuk media alternatif, yang saat itu sedang berkembang di Barat. Tema dan konten dari seni lukis yang diapresiasi oleh Dewan Kesenian Jakarta adalah lukisan bergaya abstrak, kubis, dan dekoratif yang menggambarkan alam, tradisi, batik, dan kehidupan keluarga. Lukisan-lukisan tersebut terlihat tenang tanpa permasalahan, namun tidak mencerminkan apa yang terjadi di masyarakat ketika itu. Di mana di Indonesia sedang terjadi represi di kampus-kampus karena para mahasiswa melakukan protes atas korupsi dan strategi ekonomi yang tidak jelas dari rezim Orde Baru. Situasi tidak puas dari para seniman muda yang berasal dari mahasiswa ITB dan Asri Yogya akhirnya meledak ketika dewan juri “Pameran Besar Seni Lukis Indonesia” yang dibawahi oleh Dewan Kesenian Jakarta mengumumkan 5 karya lukis terbaik. Hal itu menimbulkan protes dan memunculkan pernyataan Desember Hitam. Delapan bulan setelah pernyataan Desember Hitam, para seniman muda itu memamerkan karya-karya bergaya baru dalam sejarah seni rupa Indonesia. Tema dan narasi karya-karya tersebut mencerminkan situasi sosial dan politik di Indonesia ketika itu. Sementara, bentuk eksekusi karya-karyanya sangat dipengaruhi oleh pop art yang sedang berkembang di Barat sejak awal tahun 60-an.