cover
Contact Name
Didik Sumanto
Contact Email
jipmi@unimus.ac.id
Phone
+6282221586617
Journal Mail Official
jipmi@unimus.ac.id
Editorial Address
Jalan Kedungmundu Raya No. 18 Tembalang Kota Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA
ISSN : -     EISSN : 28295617     DOI : https://doi.org/10.26714/jipmi
Jurnal Inovasi dan Pengabdian Masyarakat Indonesia (JIPMI) mewadahi publikasi kegiatan pengabdian masyarakat dan temuan inovasi teknologi terapan diutamakan yang berhubungan dengan bidang kesehatan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 209 Documents
Efektivitas Training of Trainer Bidan dalam Penggunaan Buku Saku Cerdas untuk Cegah Stunting Calon Pengantin Diah Wulandari; Titin Setiyani; Putri Dwi Arum Sari
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan intervensi sejak masa pranikah. Calon pengantin merupakan kelompok strategis dalam upaya pencegahan stunting melalui peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi dan gizi. Namun, pemanfaatan media edukasi yang efektif oleh tenaga kesehatan masih belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan berbasis media edukatif lokal seperti Buku Saku Sakura Cantik. Tujuan: Program ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Training of Trainers (TOT) dalam meningkatkan pengetahuan bidan dan nutrisionis terkait penggunaan Buku Saku Sakura Cantik sebagai media edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan stunting pada calon pengantin. Metode: Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan kuasi eksperimen dengan desain one group post-test only. Sampel terdiri dari 15 peserta TOT di Puskesmas Maospati yang dipilih dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pilihan ganda setelah pelatihan. Kegiatan meliputi pemberian materi, simulasi penggunaan media, serta evaluasi pemahaman peserta. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa 73,3% peserta memperoleh nilai dalam kategori baik (19–20). Kelompok usia 41–50 tahun mendominasi skor tertinggi, menunjukkan bahwa pengalaman kerja berkontribusi terhadap pemahaman materi. Pelatihan ini terbukti meningkatkan pengetahuan peserta terkait penggunaan media edukasi dalam pencegahan stunting. Kesimpulan: Pelatihan TOT berbasis media edukatif lokal efektif dalam meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan. Program ini direkomendasikan untuk dikembangkan lebih luas sebagai strategi promotif preventif dalam percepatan penurunan stunting sejak masa pranikah. Kata kunci: calon pengantin, edukasi kesehatan, stunting, tenaga kesehatan, TOT _____________________________________________________________________ Abstract Background: Stunting remains a major public health challenge that requires interventions beginning in the preconception period. Prospective brides and grooms represent a strategic target population for stunting prevention through improved reproductive health and nutrition literacy. However, the use of effective educational media by healthcare providers remains suboptimal. Therefore, strengthening the capacity of healthcare workers through training using locally developed educational media, such as the Sakura Cantik Pocket Book, is essential. Objective: This study aimed to evaluate the effectiveness of a Training of Trainers (TOT) program in improving the knowledge of midwives and nutritionists regarding the use of the Sakura Cantik Pocket Book as an educational tool for reproductive health promotion and stunting prevention among prospective couples. Method: A quasi-experimental study with a one-group post-test-only design was conducted. The study included 15 participants from the TOT program at Maospati Community Health Center (Puskesmas Maospati), who were recruited using total sampling. Data were collected using a structured multiple-choice questionnaire administered immediately after the training. The intervention consisted of lectures, demonstrations and simulations on the use of the educational media, followed by participant evaluation. Result: Overall, 73.3% of participants achieved scores in the good category (19–20 points). Participants aged 41–50 years accounted for the highest proportion of high scores, suggesting that greater professional experience may contribute to a better understanding of the educational materials. The findings indicate that the TOT program effectively enhanced participants' knowledge of the use of educational media for reproductive health education and stunting prevention. Conclusion: The TOT program utilizing locally developed educational media effectively strengthened the capacity of healthcare workers. Scaling up this training model is recommended as a promotive and preventive strategy to support stunting reduction initiatives beginning in the preconception period. Keywords: health education, health workers, prospective couples, stunting, TOT
Penguatan Kapasitas dan Kompetensi Mengajar Guru Penjas dengan Pendekatan Cooperative Learning Agam Akhmad Syaukani; Vera Septi Sistiasih; Andre Yogaswara
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) berperan dalam mengembangkan kebugaran fisik sekaligus karakter, kemampuan bekerja sama, kepercayaan diri, dan keterampilan sosial peserta didik. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pendekatan yang mendukung pencapaian tujuan tersebut, namun implementasinya oleh guru PJOK masih belum optimal sehingga diperlukan kegiatan edukasi untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman guru PJOK mengenai konsep dan implementasi pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Metode: Kegiatan melibatkan 65 guru PJOK di wilayah Solo Raya. Edukasi dilaksanakan melalui penyampaian materi tentang konsep dan strategi pembelajaran kooperatif, dilanjutkan dengan diskusi interaktif mengenai pengalaman, kendala, dan peluang implementasinya di sekolah. Efektivitas kegiatan dievaluasi menggunakan desain pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil: Proporsi peserta dengan kategori pengetahuan baik meningkat dari 52,3% pada pre-test menjadi 96,9% pada post-test, sedangkan kategori kurang menurun dari 47,7% menjadi 3,1%. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan edukasi efektif dalam meningkatkan pemahaman guru mengenai konsep dan implementasi pembelajaran kooperatif. Kesimpulan: Edukasi pembelajaran kooperatif terbukti meningkatkan pengetahuan guru PJOK dan memperkuat kesiapan mereka dalam menerapkan pembelajaran yang lebih kolaboratif, berpusat pada peserta didik, serta mendukung pengembangan aspek fisik dan sosial. Kata kunci: guru PJOK, kompetensi mengajar, pembelajaran kooperatif, pendidikan jasmani __________________________________________________________________________ Abstract Background: Physical Education, Sports, and Health (PJOK) plays a pivotal role in promoting not only students' physical fitness but also their social, emotional, and collaborative competencies. Cooperative learning has been recognized as an effective student-centered instructional approach for fostering active participation, teamwork, and interpersonal skills. However, its implementation among PJOK teachers remains limited, indicating the need for targeted professional development to strengthen teachers' pedagogical competence. Objective: This community service program aimed to improve PJOK teachers' knowledge and understanding of cooperative learning principles and their implementation in physical education instruction. Method: A pre-experimental one-group pretest–posttest design was employed involving 65 PJOK teachers from the Solo Raya region, Indonesia. The intervention consisted of interactive lectures on cooperative learning concepts and instructional strategies, followed by guided discussions addressing participants' experiences, implementation challenges, and potential classroom applications. Participants' knowledge was assessed using structured pretest and posttest instruments, and the results were analyzed descriptively. Result: The proportion of participants demonstrating good knowledge increased markedly from 52.3% before the intervention to 96.9% after the intervention, while the proportion with poor knowledge declined from 47.7% to 3.1%. These findings indicate that the educational intervention substantially enhanced teachers' understanding of cooperative learning and strengthened their readiness to integrate student-centered instructional practices into PJOK classes. Conclusion: The educational program effectively improved PJOK teachers' knowledge of cooperative learning and reinforced their capacity to implement collaborative, student-centered pedagogical approaches that support both physical and socio-emotional development. Future professional development programs should incorporate sustained mentoring and classroom-based evaluation to facilitate the long-term adoption of cooperative learning practices. Keywords: cooperative learning, pedagogical competence, physical education teachers, professional development
Pemantauan Hilir Kualitas Air Bersih pada Sekolah sebagai Sarana Tempat Fasilitas Umum Cucu Herawati; Sadita Nurkhotomah; Suzana Indragiri; Iin Kristianti; R Nur Abdurakhman; Nuniek Tri Wahyuni; Supriatin Supriatin
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Ketersediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan sangat penting dalam mendukung kesehatan lingkungan sekolah. Namun, beberapa sekolah di wilayah kerja Puskesmas Astanagarib Kota Cirebon masih menggunakan sumur gali dengan kondisi sanitasi yang berisiko terhadap pencemaran mikrobiologis, terutama karena jarak sumur dengan jamban kurang dari 10 meter. Tujuan: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan mengetahui kualitas air bersih pada bagian hilir di sarana tempat fasilitas umum (sekolah) untuk memastikan keamanan air sesuai standar kesehatan. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada enam sekolah binaan di wilayah kerja Puskesmas Astanagarib Kota Cirebon pada Oktober–November 2025. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, pengukuran, dokumentasi, pengambilan sampel air, serta pemeriksaan kualitas air secara fisik, kimia, dan mikrobiologi. Hasil: Seluruh sekolah menggunakan sumur gali sebagai sumber air bersih utama. Sebanyak 83,3% sumur tidak memenuhi syarat jarak aman dari jamban (<10 meter). Pemeriksaan fisik dan kimia menunjukkan sebagian besar parameter masih memenuhi standar kualitas air bersih. Namun, seluruh sampel air (100%) positif mengandung Escherichia coli. Kadar tertinggi ditemukan pada RA Aminah sebesar 101 koloni/100 mL dan PAUD Wijaya Kusuma 1 sebesar 70 koloni/100 mL. Kesimpulan: Kualitas air bersih di sebagian besar sekolah belum aman secara mikrobiologi akibat jarak sumur dengan jamban yang tidak memenuhi syarat, kondisi konstruksi sumur, dan sanitasi lingkungan yang kurang memadai. Disarankan dilakukan perbaikan konstruksi sumur, desinfeksi berkala, dan pemantauan kualitas air secara rutin oleh pihak sekolah dan Puskesmas. Kata kunci: Escherichia coli, kualitas air bersih, sanitasi lingkungan, sekolah, sumur gali __________________________________________________________________________ Abstract Background: Access to clean water that meets health standards is essential for maintaining a healthy school environment. However, several schools within the service area of the Astanagarib Community Health Center, Cirebon City, rely on dug wells with inadequate sanitary conditions, increasing the risk of microbiological contamination, particularly because the distance between the wells and nearby latrines is less than the recommended 10 meters. Objective: This community service program aimed to assess the quality of clean water used in schools within the Astanagarib Community Health Center service area to ensure compliance with national health standards. Method: The program was conducted from October to November 2025 at six partner schools within the Astanagarib Community Health Center service area in Cirebon City. Data were collected through direct observation, interviews, environmental measurements, documentation, water sampling, and laboratory analyses of the physical, chemical, and microbiological quality of water. Result: All participating schools relied on dug wells as their primary source of clean water. A total of 83.3% of the wells did not meet the minimum recommended distance from latrines (<10 m). Physical and chemical analyses indicated that most water quality parameters complied with clean water standards. However, all water samples (100%) tested positive for Escherichia coli. The highest bacterial concentrations were detected at RA Aminah (101 CFU/100 mL) and PAUD Wijaya Kusuma 1 (70 CFU/100 mL). Conclusion: The microbiological quality of clean water in most participating schools did not meet health standards, primarily because of the inadequate separation distance between wells and latrines, poor well construction, and suboptimal environmental sanitation. Improvements in well construction, regular well disinfection, and routine water quality monitoring by schools in collaboration with community health centers are recommended to ensure the safety of water used in school settings. Keywords: clean water quality, dug wells, environmental sanitation, Escherichia coli, schools
Health Education: Junk Food and Its Dangers to Children's Health Ulfa Nurullita; Trixie Salawati; Wulandari Meikawati; M. Faisal Rofie; Dimas Saputra
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Elementary school-aged children are highly vulnerable to environmental influences on their dietary behaviors, particularly the frequent consumption of nutrient-poor snacks and fast food. The widespread availability and aggressive marketing of energy-dense, nutrient-poor foods have contributed to unhealthy eating habits, increasing the risk of obesity and other non-communicable diseases. Similar concerns were identified among children attending the At-Tanzil Hicom Learning Center in Shah Alam, Malaysia, many of whom come from socioeconomically disadvantaged families with limited parental supervision and low educational attainment. Objective: This community service program aimed to improve children's knowledge and awareness of healthy eating habits and the health risks associated with fast-food consumption through interactive nutrition education. Method: The program involved 15 children and two teachers. Educational interventions were delivered using interactive counseling supported by visual learning media, including flashcards, educational games, posters, brochures, and the development of a healthy school canteen proposal. Program outcomes were evaluated through direct observation of participants' understanding and engagement during educational activities. Result: Before the intervention, participants demonstrated limited knowledge of basic nutrition and healthy food choices. Following the educational sessions, children showed substantial improvements in their ability to distinguish healthy foods from unhealthy alternatives and to recognize the health risks associated with fast-food consumption. The use of visual aids and game-based learning effectively enhanced participants' comprehension, engagement, and active participation, despite their limited literacy levels. Conclusion: Interactive nutrition education is an effective approach for improving children's knowledge and awareness of healthy eating behaviors. However, sustained behavioral change requires continuous nutrition education, active parental involvement, and supportive school environments, including the implementation of healthy school canteen policies. Keywords: health education, health risks, junk food _________________________________________________________________________ Abstrak Latar belakang: Anak usia sekolah dasar sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, khususnya dalam perilaku makan, termasuk seringnya mengonsumsi camilan rendah nutrisi dan makanan cepat saji. Ketersediaan dan pemasaran makanan padat energi dan miskin nutrisi yang meluas telah berkontribusi pada pola makan yang tidak sehat, peningkatan risiko obesitas, serta penyakit tidak menular. Masalah ini juga terjadi di kalangan anak-anak Indonesia di Pusat Pembelajaran At-Tanzil Hicom di Shah Alam, Kuala Lumpur, yang sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu dengan pengawasan orang tua yang terbatas, dan latar belakang pendidikan yang rendah. Tujuan: Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anak-anak tentang pola makan sehat dan risiko Kesehatan dari makanan cepat saji. Metode: Program ini melibatkan 15 anak dan 2 guru. Intervensi meliputi penyuluhan interaktif menggunakan media visual (kartu flash), permainan edukatif, poster, brosur, dan pengembangan proposal kantin sehat. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan bahwa anak-anak awalnya memiliki pengetahuan terbatas tentang nutrisi dasar. Namun, setelah sesi interaktif berulang, kemampuan mereka untuk mengidentifikasi makanan sehat dan mengenali makanan cepat saji meningkat. Metode visual dan berbasis permainan terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan meskipun terdapat keterbatasan literasi. Kesimpulan: Pendidikan kesehatan interaktif efektif meningkatkan pengetahuan gizi anak-anak. Perubahan perilaku yang berkelanjutan membutuhkan pendidikan terus-menerus, keterlibatan orang tua, dan lingkungan yang mendukung seperti kantin sekolah yang sehat. Kata kunci: bahaya kesehatan, junk food, pendidikan kesehatan
Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani Berbasis Eco Green untuk Peningkatan Pangan Sehat dan Green Economy di Aceh Besar Farrah Fahdhienie; Tiara Mairani; Surna Lastri; Fahrisal Akbar; Muhammad Iqhrammullah
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Pertanian organik berbasis eco green merupakan pendekatan yang mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Meskipun Aceh Besar memiliki potensi pengembangan pertanian organik yang cukup besar, kapasitas kelompok wanita tani dalam menerapkan praktik pertanian ramah lingkungan masih memerlukan penguatan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Kelompok Wanita Tani melalui workshop pertanian organik berbasis eco green. Metode: Kegiatan dilaksanakan menggunakan desain pra-eksperimental one-group pretest-posttest yang melibatkan 40 peserta. Intervensi mencakup penyuluhan, demonstrasi praktik budidaya menggunakan rumah kaca dan sistem hidroponik, diskusi interaktif, serta evaluasi pengetahuan menggunakan instrumen tujuh butir soal sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil: Workshop meningkatkan pengetahuan peserta secara nyata, ditunjukkan oleh kenaikan rata-rata skor dari 3,43 menjadi 6,00 atau peningkatan capaian dari 49,0% menjadi 85,7%. Peningkatan tersebut mengindikasikan bahwa kombinasi penyuluhan dan praktik langsung efektif dalam memperkuat pemahaman peserta mengenai prinsip dan implementasi pertanian organik berbasis eco green. Kesimpulan: Workshop pertanian organik berbasis eco green efektif meningkatkan kapasitas Kelompok Wanita Tani dalam memahami dan menerapkan praktik pertanian berkelanjutan. Kegiatan ini berpotensi mendukung penyediaan pangan sehat, memperkuat pemberdayaan masyarakat, dan mendorong pengembangan ekonomi hijau berbasis desa. Kata kunci: eco green, ekonomi hijau, kelompok wanita tani, pertanian organik, pertanian berkelanjutan _______________________________________________________________________ Abstract Background: Organic farming based on eco-green principles has emerged as a promising strategy for improving food security while reducing environmental degradation and supporting climate-resilient agriculture. However, limited knowledge and practical skills among rural women farmers remain a major barrier to the adoption of sustainable agricultural practices in Aceh Besar, Indonesia. Objective: This study evaluated the effectiveness of an eco-green organic farming workshop in improving the knowledge and practical capacity of members of a Women Farmers Group. Method: A pre-experimental study employing a one-group pretest–posttest design was conducted involving 40 participants. The intervention consisted of interactive lectures, hands-on demonstrations of greenhouse cultivation and hydroponic systems, group discussions, and practical training. Participants' knowledge was assessed before and after the intervention using a seven-item validated questionnaire. Result: The workshop substantially improved participants' knowledge, with the mean score increasing from 3.43 to 6.00, corresponding to an increase in achievement from 49.0% to 85.7%. These findings indicate that integrating theoretical instruction with experiential learning effectively strengthened participants' understanding of sustainable organic farming practices and enhanced their readiness to adopt environmentally friendly agricultural technologies. Conclusion: The eco-green organic farming workshop effectively strengthened the capacity of rural women farmers to implement sustainable agricultural practices. This community-based educational model has the potential to support healthy food production, promote women's empowerment, and accelerate the transition toward a village-based green economy. Future programs should incorporate long-term follow-up to evaluate behavioral change and the sustainability of technology adoption. Keywords: eco-green, green economy, organic farming, sustainable agriculture, women farmers
Peningkatan Pengetahuan Karies Gigi melalui Penyuluhan Interaktif pada Siswa Arlina Nurhapsari; Irma Dewi Ratnawati; Erdianto Setya Wardhana
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Karies gigi merupakan penyakit infeksi kronis dengan prevalensi yang masih sangat tinggi di Indonesia, yaitu mencapai 88,8%. Namun, hanya 10,2% penderita yang memanfaatkan layanan perawatan gigi. Rendahnya pemanfaatan layanan tersebut dipengaruhi oleh persepsi yang keliru bahwa gigi berlubang yang tidak menimbulkan nyeri tidak memerlukan perawatan serta tingginya kecemasan terhadap perawatan gigi pada remaja. Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya edukasi untuk meningkatkan pengetahuan mengenai sifat progresif karies gigi, konsekuensi penundaan perawatan, dan pentingnya intervensi dini. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan siswa mengenai sifat progresif karies gigi, konsekuensi penundaan perawatan, dan pentingnya intervensi dini. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan melalui program edukasi interaktif SI PETUALANG pada 16 Juli 2025 selama 120 menit dengan metode ceramah, media visual, diskusi, dan tanya jawab. Peserta terdiri atas 30 siswa berusia 16–18 tahun. Tingkat pengetahuan diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah edukasi, sedangkan kepuasan peserta dievaluasi setelah kegiatan. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan korelasi Spearman. Hasil: Sebanyak 27 peserta (90%) mengalami peningkatan pengetahuan setelah mengikuti edukasi. Proporsi peserta dengan kategori pengetahuan tinggi dan sangat tinggi meningkat dari 23,3% sebelum intervensi menjadi 76,7% setelah intervensi. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang bermakna antara skor pre-test dan post-test (p<0,001). Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kepuasan peserta dan peningkatan pengetahuan (r=0,381; p=0,038), dengan 90% peserta menyatakan puas atau sangat puas terhadap pelaksanaan program. Kesimpulan: Program edukasi SI PETUALANG efektif meningkatkan pengetahuan siswa mengenai karies gigi dan pentingnya penanganan dini. Program ini berpotensi diimplementasikan secara berkelanjutan sebagai salah satu strategi promosi kesehatan gigi di lingkungan sekolah. Kata kunci: edukasi kesehatan gigi, karies gigi, perawatan dini, pengetahuan, remaja ______________________________________________________________________ Abstract Background: Dental caries remains one of the most prevalent chronic infectious diseases worldwide. In Indonesia, its prevalence reaches 88.8%, yet only 10.2% of affected individuals utilize dental care services. This treatment gap is partly attributed to the misconception that asymptomatic carious lesions do not require treatment and to the high prevalence of dental anxiety among adolescents. Educational interventions that improve awareness of the progressive nature of dental caries and the importance of early treatment are therefore needed. Objective: This community-based educational program aimed to improve students' knowledge of the progressive nature of dental caries, the consequences of delaying treatment, and the importance of early intervention. Method: An interactive educational program entitled SI PETUALANG was implemented on July 16, 2025, through visual presentations, discussions, and question-and-answer sessions over a 120-minute period. Thirty students aged 16–18 years participated in the program. Knowledge was assessed using a five-category ordinal questionnaire administered before and after the intervention. Participant satisfaction was evaluated following the program. Changes in knowledge were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test, while the association between participant satisfaction and knowledge improvement was examined using Spearman's correlation. Result: Knowledge scores improved in 27 of the 30 participants (90.0%) following the intervention. The proportion of students with high or very high knowledge increased from 23.3% at baseline to 76.7% after the program. Wilcoxon analysis demonstrated a statistically significant improvement in knowledge (p<0.001). Participant satisfaction was positively associated with knowledge improvement (r=0.381, p=0.038), and 90.0% of participants reported being satisfied or very satisfied with the educational program. Conclusion: The SI PETUALANG educational program effectively improved adolescents' knowledge of dental caries and the importance of early treatment. These findings support the integration of interactive, school-based oral health education into preventive oral health promotion programs to enhance adolescents' oral health literacy and encourage timely dental care utilization.  Keywords: adolescents, early treatment, dental caries, knowledge, oral health education
Peningkatan Literasi Kualitas Udara melalui Program Smart School Health Ernyasih Ernyasih; Munayah Fauziah; Dwi Putri Cahyawati; Anwar Mallongi; Donita Lutfia Hasanah; Audi Afan Syakh; Bella Mutiara Duratun Nafizah
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kualitas udara merupakan salah satu determinan penting kesehatan lingkungan sekolah karena remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap paparan polusi udara, khususnya particulate matter (PM₂.₅), yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan menurunkan derajat kesehatan. Rendahnya literasi mengenai kualitas udara serta belum optimalnya perilaku perlindungan diri di lingkungan sekolah menjadi dasar pelaksanaan Program Smart School Health di SMA Muhammadiyah Sawangan, Depok. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi kualitas udara siswa melalui edukasi mengenai polusi udara, dampak kesehatan, penggunaan masker, ventilasi ruang kelas, dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Metode: Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan edukasi partisipatif melalui ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, dan simulasi pengambilan keputusan terkait aktivitas luar ruang berdasarkan kondisi kualitas udara. Sasaran kegiatan adalah 55 siswa SMA Muhammadiyah Sawangan, Depok. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan peserta. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa setelah mengikuti edukasi. Skor pengetahuan meningkat dari 76% pada pre-test menjadi 89% pada post-test. Selain itu, siswa menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai bahaya PM₂.₅, dampak kualitas udara terhadap kesehatan, penggunaan masker yang tepat, serta pentingnya ventilasi ruang kelas dalam mendukung kesehatan lingkungan sekolah. Kesimpulan: Program Smart School Health efektif meningkatkan literasi kualitas udara siswa dan berpotensi menjadi strategi edukasi kesehatan lingkungan berbasis sekolah untuk meningkatkan kesadaran serta mendorong perilaku perlindungan diri terhadap risiko paparan polusi udara. Kata kunci: kualitas udara, literasi kesehatan, PM₂.₅, sekolah sehat, smart school health ___________________________________________________________________________ Abstract Background: Air quality is a critical determinant of a healthy school environment because adolescents are particularly vulnerable to exposure to air pollution, especially fine particulate matter (PM₂.₅), which is associated with adverse respiratory outcomes and reduced overall health. Limited air quality literacy and inadequate self-protective behaviors among students highlight the need for school-based educational interventions. In response, the Smart School Health Program was implemented at Muhammadiyah Senior High School Sawangan, Depok, Indonesia. Objective: This community-based educational program aimed to improve students' air quality literacy through interactive education on air pollution, its health impacts, appropriate mask use, classroom ventilation, and the implementation of clean and healthy living behaviors. Method: The program employed a participatory educational approach consisting of interactive lectures, group discussions, question-and-answer sessions, and simulation-based decision-making exercises related to outdoor activities under different air quality conditions. A total of 55 students participated in the program. Participants' knowledge was evaluated using structured pre-test and post-test questionnaires to assess changes in air quality literacy following the educational intervention. Result: The educational intervention resulted in a marked improvement in students' air quality literacy. The mean knowledge score increased from 76% in the pre-test to 89% in the post-test, representing a 13-percentage-point (17.1%) improvement. In addition, students demonstrated a better understanding of the health risks associated with PM₂.₅ exposure, the adverse health effects of poor air quality, appropriate mask use, and the importance of adequate classroom ventilation. Conclusion: The Smart School Health Program effectively improved students' air quality literacy and has the potential to serve as an effective school-based environmental health education strategy for promoting awareness and encouraging self-protective behaviors against the health risks associated with air pollution. Keywords: air quality, health literacy, healthy schools, PM₂.₅, smart school health
Deteksi Keberadaan Jentik Nyamuk melalui Strategi Kunjungan Rumah di Lingkungan Tempat Tinggal Kader Posyandu Srisawahan Nurmala Dewi; Novia Nurliana; Kalissing Pangudi Rahayu; Irfanul Chakim; Rahayu Astuti
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Keberhasilan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di tingkat rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan, tetapi juga oleh konsistensi penerapan praktik pencegahan dan pemantauan lingkungan. Kader Posyandu memiliki peran strategis dalam mendukung edukasi dan surveilans berbasis masyarakat. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan mendeteksi keberadaan jentik Aedes aegypti di rumah kader Posyandu serta menilai perubahan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mendukung penerapan PSN berbasis rumah tangga. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat melibatkan 17 kader di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Srisawahan melalui edukasi interaktif, observasi tempat penampungan air (TPA), kunjungan rumah, dan pemeriksaan jentik. Pengetahuan diukur menggunakan pre-test dan post-test yang terdiri atas 10 soal dengan skala 0–100, sedangkan keterampilan identifikasi jentik dinilai menggunakan lembar observasi dengan lima indikator. Kondisi lingkungan dan keberadaan jentik dicatat menggunakan formulir pemeriksaan TPA. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil: Seluruh rumah kader (100%) berada dalam kondisi bersih secara visual, tetapi jentik ditemukan pada 6 dari 17 rumah (35,3%) dan 8 dari 73 TPA (11,0%). Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 59,29 pada pre-test menjadi 81,00 pada post-test, sedangkan proporsi kader dengan skor pengetahuan ≥70 meningkat dari 29,4% menjadi 88,2%. Sebanyak 14 kader (82,4%) mencapai kategori kompeten dalam identifikasi jentik. Kesimpulan: Pemeriksaan langsung menunjukkan bahwa kondisi rumah yang tampak bersih belum sepenuhnya mencerminkan terbebasnya rumah dari potensi perkembangbiakan vektor. Edukasi yang dipadukan dengan praktik lapangan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam identifikasi jentik. Keberlanjutan PSN berbasis kader perlu diperkuat melalui praktik pemeriksaan jentik secara rutin, supervisi, dan monitoring untuk meningkatkan konsistensi penerapan pencegahan DBD di tingkat rumah tangga. Kata kunci: demam berdarah dengue, jentik Aedes aegypti, kader posyandu, kunjungan rumah, pemberantasan sarang nyamuk ____________________________________________________________ Abstract Background: Dengue remains a persistent public health challenge in Indonesia, where sustained household implementation of mosquito nest eradication is essential for reducing vector breeding opportunities. Posyandu cadres play a strategic role in community-based prevention, yet the cleanliness of household environments does not necessarily indicate the absence of mosquito breeding sites. Objective: This community-based intervention aimed to detect Aedes aegypti larvae in Posyandu cadres’ households and assess changes in cadres’ knowledge and larval-identification skills following practice-based education. Method: The intervention involved 17 Posyandu cadres in the Srisawahan Auxiliary Community Health Center service area and comprised interactive education, water-container inspection, household visits, and direct larval surveillance. Knowledge was assessed using 10-item pre- and post-tests scored on a 0–100 scale, while larval-identification skills were assessed using a five-indicator observation checklist. Household environmental conditions and larval occurrence were documented using a water-container inspection form. Data were analyzed descriptively. Result: Although all cadre households (100%) were visually classified as clean, larvae were detected in 6 of 17 households (35.3%) and in 8 of 73 inspected water containers (11.0%). Mean knowledge scores increased from 59.29 at pre-test to 81.00 at post-test, while the proportion of cadres achieving a knowledge score ≥70 increased from 29.4% to 88.2%. Fourteen cadres (82.4%) achieved the predefined competency criterion for independent larval identification. Conclusion: Direct larval surveillance revealed that visual household cleanliness did not fully reflect the absence of potential Aedes breeding sites. Practice-based education was accompanied by improvements in cadre knowledge and larval-identification skills. Sustaining community-based dengue prevention requires routine household larval surveillance integrated with continued practical training, supervision, and monitoring to translate increased cadre capacity into consistent PSN practices at the household level. Keywords: Aedes aegypti larvae, community-based prevention, dengue, posyandu cadres, household larval surveillance, mosquito nest eradication
Peningkatan Keselamatan Kerja Driver AmbulanMu melalui Penyuluhan K3 Sutaryono Sutaryono; Nuraeni Hartati
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Driver ambulans memiliki peran strategis dalam pelayanan kegawatdaruratan, tetapi menghadapi berbagai risiko kerja, termasuk kecelakaan lalu lintas, kelelahan, serta paparan bahaya lingkungan dan biologis. Pemahaman dan kesadaran terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi komponen penting dalam membangun perilaku kerja yang aman. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran driver ambulans Muhammadiyah mengenai penerapan prinsip K3 dalam pelayanan ambulans. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 4 Januari 2026 di Universitas Muhammadiyah Klaten dengan melibatkan 51 driver yang tergabung dalam Ambulans Layanan Umat Muhammadiyah (LautMu) Kabupaten Klaten. Intervensi menggunakan pendekatan participatory training melalui ceramah interaktif dan diskusi partisipatif. Pengetahuan K3 peserta dinilai sebelum dan setelah intervensi berdasarkan kategori baik dan cukup. Hasil: Sebelum intervensi, sebanyak 34 peserta (66,7%) memiliki pengetahuan K3 dalam kategori baik dan 17 peserta (33,3%) dalam kategori cukup. Setelah intervensi, proporsi peserta dengan pengetahuan kategori baik meningkat menjadi 42 peserta (82,4%), sedangkan kategori cukup menurun menjadi 9 peserta (17,6%). Kesimpulan: Pendekatan participatory training melalui ceramah interaktif dan diskusi partisipatif berpotensi meningkatkan pengetahuan dan memperkuat kesadaran terhadap budaya keselamatan kerja pada driver ambulans. Pendekatan ini dapat dipertimbangkan sebagai strategi edukasi K3 yang aplikatif dalam mendukung keselamatan dan kualitas layanan ambulans. Kata kunci: ambulans, driver, edukasi, keselamatan kerja, participatory training _____________________________________________________________ Abstract Background: Ambulance drivers play a critical role in emergency medical services but are exposed to multiple occupational hazards, including road traffic accidents, work-related fatigue, and environmental and biological risks. Adequate occupational safety and health (OSH) knowledge and awareness are therefore essential to support safe and effective ambulance operations. Objective: This study aimed to improve OSH knowledge and safety awareness among Muhammadiyah ambulance drivers through a participatory training approach. Method: The intervention was conducted on January 4, 2026, at Universitas Muhammadiyah Klaten, Indonesia, involving 51 drivers affiliated with Ambulans Layanan Umat Muhammadiyah (LautMu) in Klaten Regency. The training employed a participatory approach combining interactive lectures and facilitated group discussions. Participants' OSH knowledge was assessed before and after the intervention and classified into good and moderate categories. Result: Before the intervention, 34 participants (66.7%) demonstrated good OSH knowledge, while 17 (33.3%) were classified as having moderate knowledge. Following the training, the number of participants with good knowledge increased to 42 (82.4%), whereas those in the moderate category decreased to 9 (17.6%). Conclusion: Participatory training incorporating interactive lectures and discussions was associated with improved OSH knowledge among Muhammadiyah ambulance drivers. Integrating participatory OSH education into ambulance driver capacity-building programs may help strengthen a safety-oriented work culture and support safer emergency ambulance services. Keywords: ambulance drivers; occupational safety and health; participatory training; safety awareness; emergency medical services