cover
Contact Name
Akbar Tanjung
Contact Email
ijitp@radenintan.ac.id
Phone
+6282176178991
Journal Mail Official
ijitp@radenintan.ac.id
Editorial Address
Jl. Letkol H. Endro Suratmin, Sukarame, Bandar Lampung, Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy
ISSN : 26568748     EISSN : 26864304     DOI : 10.24042
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy is primarily intended for the publication of scholarly works in the field of Islamic Theology and Islamic Philosophy, school of Islamic Theological thought, Islamic Theology Figure, Modern and Contemporary Islamic Theology, Classical Islamic Philosophy, History of Islamic Philosophy, Ontology, Epistemology, Axiology, Ethics and others. IJITP accepts articles in both English and Indonesia, as well as maintains a double-blind peer-review process. The Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy (IJITP) invites participation and contributions from researchers and academics in accordance with the field of science.
Articles 59 Documents
Book Review Lived Islam: Agama Koloqial dalam Tradisi Kosmopolitan Damanhuri, Damanhuri
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v4i2.17577

Abstract

Dua fakta yang tampak seolah-olah kontradiktif selalu muncul ketika peneliti mencoba mengkaji Islam: pertama, adanya keberbagaian variasi yang menakjubkan dari praktik-praktik dan keyakinan-keyakinan Islam; kedua, kaum muslim, terlepas dari beragam perbedaan nyata dalam praktik maupun keyakinan tersebut, tetap saling memperlakukan dan menganggap satu dengan lainnya sebagai sesama pemeluk Islam yang berbeda dari pemeluk agama lain. Buku ini merupakan hasil ikhtiar akademik A. Kevin Reinhart yang mencoba menyodorkan sebuah tawaran pendekatan dalam mengkaji dua realitas keislaman yang kerap membingungkan sebagian para peneliti tersebut sembari tak lupa mengklarifikasi dan menjernihkan ulang makna sesungguhnya terma “Islam” ketika para peneliti menggunakannya. Sebab, menurut Kevin Reinhart, ada kecenderungan umum di kalangan sebagian para pengkaji Islam untuk meletakkan “Islam” sebagai kata yang kabur, samar, dan bahkan tanpa makna. Padahal, kajian Islam sangat bergantung pada pemahaman ihwal kata “Islam” tersebut: apakah Islam yang dikaji adalah yang dianggap sebagai suatu esensi yang stabil, atau Islam yang merupakan sesuatu yang berbeda sesuai dengan tempat di mana dan untuk siapa ia hadir, atau Islam sebagai “diskursus” dalam pengertian yang ditawarkan Talal Asad,  misalnya? Saat dihadapkan pada ekspresi praktik dan keyakinan Islam yang sangat majemuk pada tempat dan waktu yang berbeda-beda, sebagian peneliti, di satu sisi, menilai praktik-praktik tertentu sebagai sesuatu yang benar-benar islami (authentically or essentially Islamic); di sisi lain, sebagian praktik-praktik keislaman kaum muslim mereka nilai sebagai sesuatu yang tidak islami karena terkontaminasi aspek-aspek asing dari keyakinan maupun kebudayaan lokal. Para peneliti, pada titik ini, sebenarnya sedang mengambil alih peran dan tugas para agamawan atau teolog.
Konsep Kerakyatan Dalam Filsafat Politik Ibnu Rusyd (Studi Kasus Di Desa Kadibolo Klaten) emy, dwy
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i1.17700

Abstract

Abstract;This research will discuss issues regarding democracy in the view of Ibn Rushd's political philosophy. He is one of the figures who discusses democracy. In this context, Ibnu Rushd puts forward democracy as a concept of independence and freedom. However, according to him, independence and liberty are not without regulatory actions, but freedom and freedom according to religious principles. Ibnu Rushd promoted the concept of democracy, a system which according to him was more in line with the basic laws of human nature. As a realization of the popular ideas he promoted, Ibnu Rushd offered the concept of sovereignty (as-Siyadah) which contained three basic popular principles, namely freedom or independence (al-Huriyyah), equality (al-Musawah), and diversity (pluralism). This research uses quantitative methods with data collection techniques and interviews with several people in Kadibolo village who apply the populist concept based on Ibnu Rushd's thoughts. The research findings are that in Kadibolo village itself, in running its government, it uses popular principles which give its people independence in expressing opinions and also in carrying out activities. However, this does not mean that independence frees them to act as they please, there are still applicable regulations that must be obeyed so that Kadbiolo village remains well organized.Keywords:Democracy; Freedom; Ibn Rushd; Politics. Abstrak;Penelitian ini akan membahas permasalahan mengenai kerakyatan dalam pandangan filsafat politik Ibnu Rusyd. Ia merupakan salah satu tokoh yang membahas tentang kerakyatan. Dalam konteks ini Ibnu Rusyd lebih mengemukkan kerakyatan sebagai konsep kemerdekaan dan kebebasan. Namun kemerdekaan dan kebebasan menurutnya bukanlah tanpa adanya perbuatan yang mengatur, akan tetapi merdeka dan bebas sesuai prinsip agama. Ibnu Rusyd mengusung konsep kerakyatan, sebuah sistem yang menurutnya lebih sesuai dengan hukum-hukum dasar fitriyah manusia. Sebagai realisasi ide kerakyatan yang diusungnya, Ibnu Rusyd menawarkan konsep kedaulatan (as-Siyadah) yang di dalamnya terkandung tiga prinsip dasar kerakyatan, yakni kebebasan atau kemerdekaan (al-Huriyyah), persamaan (al-Musawah), dan keberagaman (pluralisme). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data dan wawancara beberapa orang di desa Kadibolo yang menerapkan konsep kerakyatan atas pemikiran Ibnu Rusyd. Temuan penelitian bahwa di desa Kadibolo sendiri dalam menjalankan pemerintahannya menggunakan prinsip kerakyatan yang memberikan kemerdekaan masyarakatnya dalam menyampaikan pendapat dan juga dalam berkegiatan. Akan tetapi bukan berarti kemerdekaan tersebut membebaskan mereka untuk bertindak semaunya, tetap ada peraturan yang berlaku untuk ditaati agar desa Kadbiolo tetap tertata dengan baik.Kata Kunci:   Ibnu Rusyd; Kerakyatan; Kebebasan; Politik.
Wacana Tubuh Di Media Sosial Instagram: Studi Pendekatan Sosiologi Pengetahuan Karl Mannheim Anita, Ningsih; ., Fauzan; Lisari, Melva Veronika
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v5i1.17750

Abstract

Abstract;This research aims to examine body problems that are often displayed on social media. where the body should not be for public consumption or spectacle, should not be changed and modified properly so that it becomes a discourse on Instagram social media. This research wants to examine how people's discourse and knowledge about the body on Instagram social media. This research is a type of library research, with the nature of the research being a deductive qualitative method in the field of philosophy with Karl Mannheim's sociology of knowledge approach. In this research it was found that first; body discourse on Instagram social media is produced by the capitalist system. Second; Public knowledge based on objective meaning is always characterized by physical beauty, white skin, sexy body, long hair, and being able to attract attention. Expensive meaning, tattoos in modern culture or popular culture have become art which is actually presented as aesthetic beauty. Based on the meaning of the documentary, there are three forms of discourse that are discussed regarding the body, namely, the discourse on the commodification of women's bodies (capitalist system) which includes, the body being used as an advertising model and product icon, women's bodies being exploited as well as discourse on the objectification of women's sexuality, and the discourse on tattoos and body modification.Keywords:Body discourse; Instagram; Social Media. Abstrak;Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji problematika tubuh yang sering dipertontonkan pada media social. dimana tubuh yang tidak seharusnya menjadi konsumsi atau tontonan publik, tidak seharusnya dirubah dan dimodifikasi sebagaimana mestinya sehingga menjadi wacana dalam media sosial instagram. Penelitian ini ingin mengkaji bagaimana wacana dan pengetahuan masyarakat tentang tubuh di media sosial Instagram. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research), dengan sifat penelitian berupa metode kualitatif deduktif pada bidang filsafat dengan pendekatan sosiologi pengetahuan Karl Mannheim. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pertama; wacana tubuh di media sosial instagram di produksi oleh sistem kapitalisme Kedua; pengetahuan masyarakat berdasarkan makna objektif selalu ditandai dengan kecantikan fisik, berkulit putih, bertubuh seksi, rambut panjang, dan dapat menarik perhatian. makna ekspensive, tato dalam budaya modern atau budaya populer menjadi seni yang justru ditampilkan sebagai estetika keindahan. Berdasarkan makna dokumenter, terdapat tiga bentuk wacana yang diperbincangkan terkait tubuh yaitu, wacana komodifikasi tubuh perempuan (sistem kapitalis) yang meliputi, tubuh dijadikan sebagai model iklan dan icon produk, tubuh perempuan dieksploitasi serta wacana tubuh objektifikasi seksualitas perempuan, dan wacana tato dan modifikasi tubuh.Kata Kunci:   Instagram; Media Sosial; Wacana Tubuh.
Aktualisasi Tasawuf Buya Hamka Di Era Postmodern Nurjana, Siti; Tanjung H., Akbar
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v5i1.18108

Abstract

Abstract;Modern Buya Hamka Sufism is very popular, even wrong a reference for Muslims in terms of moral improvement. The attraction of Buya Hamka's thinking lies in his ability to understand the state of society and its needs based on religion, social theory and philosophy. As we already know, Buya Hamka Sufism has greatly contributed to answering the problems of the modern era. This research aims to find out how Buya Hamka Sufism thinks and whether Buya Hamka Sufism can be actualized in the postmodern era. This type of research is library research and is philosophically descriptive. The results of this research are: Firstly, for Buya Hamka Sufism is to cleanse the soul, educate and raise spiritual levels, suppress all greed and gluttony, fight lust especially for self-pleasure. Secondly, Buya Hamka's actualization of Sufism aims to maintain human behavior and reason based on balanced Islamic nature. Humans must work hard to form a good character, avoiding evil and madness. Buya Hamka's Sufism thoughts that must be actualized in the postmodern era are the Concept of Tauhid, the Concept of Zuhud and the Concept of Tawakal and Qona'ah.Keywords:Buya Hamka; Postmodern Era; Sufism. Abstrak;Tassawuf modern Buya Hamka sangat populer, bahkan menjadi salah satu referensi bagi umat islam dalam hal peningkatan moral. Daya tarik pemikiran Buya Hamka terletak pada kemampuannya dalam memahami keadaan masyarakat dan kebutuhannya berdasarkan agama, teori sosial dan juga filsafat. Sebagaimana yang sudah kita ketahui, bahwa tasawuf Buya Hamka sangat berkontribusi dalam menjawab persoalan-persoalan di era modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemikiran tasawuf Buya Hamka dan apakah tasawuf Buya Hamka bisa diaktualisasikan di era postmodern. Jenis penelitian ini adalah kepustakaan (Library Research) dan bersifat deskriptif filosofis. Hasil dari penelitian ini adalah: Pertama Bagi Buya Hamka Tasawuf adalah membersihkan jiwa, mendidik dan menaikkan taraf spiritual, menekan semua keserakahan dan kerakusan, melawan hawa nafsu terlebih untuk kesenangan diri. Kedua aktualisasi tasawuf Buya Hamka bertujuan untuk mempertahankan perilaku dan akal manusia berdasarkan fitrah Islam yang seimbang. Manusia harus bekerja keras untuk membentuk karakter yang baik, menghindari kejahatan dan kegilaan. Pemikiran tasawuf Buya Hamka yang harus diaktualisasikan di era postmodern yaitu Konsep Tauhid, Konsep Zuhud serta Konsep Tawakal dan Qona’ah.Kata Kunci:   Buya Hamka; Era Postmodern; Tasawuf. 
Teologi Ahmadiyah di Indonesia Monica, adelia; Nur, Aidia Lailika; Fauzi, Alfin Mahfudz; Sajari, Dimyati
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v5i2.19754

Abstract

Abstract;Ahmadiyah is one of the many organizations that emerged from existing ideas. Ahmadiyah is an organization founded by Mirza Ghulam Ahmad in India. Currently the spread of the Ahmadiyah organization has been prohibited in Indonesia in accordance with the Decree of the 3 Ministerial Decree and Governor's Regulation Number 12 of 2011 concerning the Prohibition of Ahmadiyah Teachings in West Java Province as well as with the MUI fatwa regarding the misdirection of the Ahmadiyah organization. Therefore, this journal will discuss the background to the emergence of the Ahmadiyah organization, theology and the existence of Ahmadiyah in Indonesia. This research uses a qualitative description approach and collects data using a literature review method. The doctrines that often give rise to misunderstandings spread by the Ahmadiyah movement include those regarding revelation, prophethood, and the Mahdi and the Messiah. This doctrine then gave rise to controversy regarding the Ahmadiyah organization and caused it to receive discrimination in various places.Keywords:Ahmadiyya; Doctrine; Existence. Abstrak;Ahmadiyah merupakan salah satu dari banyaknya organisasi yang muncul dari hasil pemikiran-pemikiran yang ada. Ahmadiyah ialah organisasi yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di India. Saat ini penyebaran organisasi Ahmadiyah telah dilarang di Indonesia sesuai dengan kuputusan SKB 3Menteri dan Peraturan Gubernur Nomor 12 Tahun 2011 tentang Larangan Ajaran Ahmadiyah di Provinsi Jawa Barat serta dengan fatwa MUI mengenai penyesatan organisasi Ahmadiyah. penelitian ini akan membahas mengenai latar belakang munculnya organisasi Ahmadiyah, Teologi dan eksistensi Ahmadiyah di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskripsi kulitatif dan dalam pengumpulan data menggunakan metode kajian pustaka. Doktrin yang sering menimbulkan kesalah fahaman yang disebarkan oleh gerakan Ahmadiyah diantaranya ialah mengenai wahyu, kenabian, dan Al Mahdi dan Al-Masih. Doktrin inilah yang kemudian memunculkan kontroversi mengenai organisasi Ahmadiyah serta membuatnya menerima diskriminasi di berbagai tempat.Kata Kunci:   Ahmadiyah; Doktrin; Eksistensi.
Perselisihan Tasawuf Di Nusantara: Perspektif Teori Konflik Karl Marx Salapudin, Moh
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v5i2.19809

Abstract

Abstract;Islam Nusantara is an Islam that is very strong with nuances of Sufism (Sufism). The process of spreading Sufism in the archipelago turned out to be colored by feuds between the figures. In Java there was a feud between Walisongo and Sheikh Siti Jenar and in the Sultanate of Aceh there was a feud between Nuruddin Ar-Raniri and followers of Hamzah Fansuri and Syamsuddin Sumatrani. This article attempts to explain the feuds and disputes over Sufism in the archipelago using Karl Marx's conflict theory. In this theory, conflicts that occur in society, including the conflict over Sufism in the archipelago, proceed through a dialectical process: thesis, antithesis and synthesis. The conflicts over Sufism in the archipelago, which proceeded in a thesis-antithesis pattern, then produced a synthesis in the form of Islam which, on the one hand, was very strong with nuances of Sufism, but on the other hand did not ignore aspects of the Shari'a or Fiqh, namely tarekat. This article also concludes that the emergence of the concept of Nusantara Islam is a product of the dialectic of conflict over Sufism in the archipelago. At first it was Islam (without frills, as a thesis), but Islam without frills was apparently deemed unable to differentiate between what was Islam and what was Arab custom, so that Islam was considered Arabian Islam (antithesis). Then Islam Nusantara was born (as a synthesis), namely Islam that was not Arabian and accommodating to local values.Keywords:Abdul Qadir al-Jailani; Akhlaqi Sufism; Modernity. Abstrak;Islam Nusantara adalah Islam yang sangat kental dengan nuansa tasawuf (sufisme). Proses penyebaran tasawuf di Nusantara ternyata diwarnai perseteruan-persetruan para tokohnya. Di Jawa terjadi perseteruan antara Walisongo dengan Syekh Siti Jenar dan di Kesultanan Aceh terjadi perseteruan antara Nuruddin Ar-Raniri dengan pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani. Artikel ini berupaya menjelaskan perseteruan dan perselisihan tasawuf di Nusantara tersebut menggunakan teori konflik Karl Marx. Dalam teori ini konflik-konflik yang terjadi di masyarakat, termasuk perseteruan tasawuf di Nusantara, berjalan melalui proses dialektika: tesis, antitesis, dan sintesis. Pertentangan-pertentangan tasawuf di Nusantara, yang berjalan dalam pola tesis-antitesis kemudian menghasilkan sintesis berupa Islam yang di satu sisi sangat kental dengan nuansa tasawuf namun di sisi lain tidak mengabaikan aspek syariat atau fikih, yaitu tarekat. Artikel ini juga menyimpulkan bahwa kemunculan konsep Islam Nusantara merupakan produk dialektika perseteruan tasawuf di Nusantara. Pada mulanya Islam (tanpa embel-embel, sebagai tesis), namun Islam yang tanpa embel-embel tersebut ternyata dinilai tidak dapat memilah mana yang Islam dan mana yang adat Arab, sehingga Islam tersebut dianggap Islam kearab-araban (antitesis). Kemudian lahirlah Islam Nusantara (sebagai sintesis), yakni Islam yang tidak kearab-araban dan akomodatif terhadap nilai-nilai lokal.Kata Kunci:   Abdul Qadir al-Jailani; Modernitas; Tasawuf Akhlaqi.
Seputar Antropologi Agama; Pandangan Tentang Islamologi Aplikatif Muhammad Arkoun Prakoso, Tjahyo Adji
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v5i2.19810

Abstract

Abstract;Islam has various dimensions, one of the dimensions in the Islamic religion is the anthropological dimension. This dimension is the main point of development of Islam in society and is carried out through patterns that are interrelated and cause and effect, namely doctrinal patterns and discursive patterns. In an applied context, the study of Islamic Anthropology forms a religious identity that guarantees the continued function and role of religion for its adherents. On the other hand, in a discursive context, Islamic studies form a religious rationality that guarantees the construction of arguments on the substance, function and role of religion for society. For Arkoun, the problem of West and East is a problem of methodology and epistemology. Therefore, to build contemporary Islamic reasoning, Arkoun invites cooperation between West and East, in an applied form. This research also uses a conceptual approach that includes: Anthropology and Applicative Islamology. The conclusion is that applicable Islamology is the result of Arkoun's thinking about the shortcomings in classical Islamic scholarship contained in the occasional discourse (discourse or way of Western Islamology towards Islam), a discourse that tries to understand Islam rationally, but is less critical. Or another term that is more general but less liked by Arkoun is orientalism.Keywords:Abdul Qadir al-Jailani; Modernity; Moral Interpretation. Abstrak;Islam memiliki ragam dimensi, salah satu dimensi yang ada di dalam agama Islam adalah dimensi antropologi. Dimensi ini menjadi titik utama pengembangan Islam di masyarakat dan dilakukan melalui pola yang saling terkait dan menimbulkan sebab-akibat, yaitu pola doktrinasi dan pola diskursif. Dalam konteks aplikatif, studi Antoropologi Islam membentuk identitas keagamaan yang menjamin keberlangsungan fungsi, dan peran agama bagi penganutnya. Sebaliknya dalam konteks diskursif, studi Islam membentuk rasionalitas keagamaan yang menjamin tegaknya konstruksi argumentasi subtansi, fungsi dan peran agama bagi masyarakat. Permasalahan Barat dan Timur ini bagi Arkoun adalah permasalahan metodologi dan epistemologi. Oleh karena itu, untuk membangun nalar Islam kontemporer Arkoun mengajak kerjasama antara Barat dan Timur, dalam bentuk aplikatif. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan konsep yang mencakup: Antropologi dan Islamologi Aplikatif. Kesimpulannya adalah Islamologi aplikatif adalah hasil pemikiran Arkoun atas kekurangan-kekurangan di dalam keilmuan-keilmuan Islam klasik yang termuat dalam discours occidental (wacana atau cara Islamologi Barat terhadap Islam), sebuah wacana yang mencoba memahami Islam secara rasional, namun kurang kritis. Atau istilah lain yang lebih umum namun kurang disukai oleh Arkoun adalah orientalisme.Kata Kunci:   Abdul Qadir al-Jailani; Modernitas; Tasawuf Akhlaqi. 
God in the Perspective of Mawlana Abu Al-Kalam Azad Pratama, Aunillah Reza; Arminsa, Muhammad Lytto Syahrum
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v5i2.19811

Abstract

Abstract;The article explores Mawlana Abu Al-Kalam Azad's viewpoint that God cannot be understood using human reason. This study is categorized as library research. The study's findings suggest that the essence of all religions is fundamentally obedience to God and the need to do good. With God's and religion's unity, it is necessary for all human beings, regardless of religion, to appreciate and treat one another kindly.Keywords:God; Mawlana Abu Al-Kalam Azad. Abstrak;Tulisan ini mengkaji tentang pandangan Mawlana Abu Al-Kalam Azad tentang Tuhan, dimana menurutnya Tuhan tidak pernah dicapai oleh akal manusia. Penelitian ini tergolong dalam penelitian pustaka (Library Research). Hasil penelitian menybutkan bahwa esensi semua agama pada dasarnya adalah penghambaan kepada Tuhan dan keharusan berbuat baik. Dengan kesatuan Tuhan dan kesatuan agama tersebut, ada keharusan bagi seluruh umat manusia, apa pun agamanya untuk saling menghormati dan saling berbuat baik satu sama lain.Kata Kunci:   Tuhan; Mawlana Abu Al-Kalam Azad.
Book Review Muḥammad ʿAbduh: Islam Modern dan Budaya Ketaksaan Damanhuri, Damanhuri
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v5i1.20060

Abstract

Para pengkaji khazanah intelektual muslim sering kali menemukan kontradiksi dan inkonsistensi dalam karya-karya yang diwariskan seorang intelektual muslim. Warisan intelektual yang kompleks dari tokoh pembaharu muslim seperti Muhammad ‘Abduh (1849-1905) yang dikaji oleh Oliver Scharbrodt dalam buku ini merupakan salah satu contoh terbaiknya. Oliver Scharbrodt menunjukkan, akibat nyata dari pelbagai kontradiksi dan inkonsistensi dalam karya-karya Muhammad ‘Abduh tidak saja menghasilkan kajian kesarjanaan tentang Muhammad ‘Abduh menjadi tidak tunggal dan satu suara; tapi bahkan para pengikut dan murid Muhammad ‘Abduh pun secara jelas menunjukkan aliran pemikiran serta trajektori intelektual mereka secara berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Buku ini menyuguhkan cara-baca baru atas legasi intelektual Muhammad ‘Abduh yang, berbeda dari kesarjanaan tentang Muhammad ‘Abduh sebelumnya, meneroka seluruh karya-karyanya tanpa mengabaikan karya-karya awalnya yang umumnya tidak diperhitungkan.
Kritik Teologis Terhadap Institusi Agama di Abad Pertengahan (Telaah Atas Kitab Talbis Iblis karya Ibn Al-Jawzi) Kusroni, Kusroni
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v5i2.20636

Abstract

Abstract;This article describes the various criticisms made by Ibn al-Jawzi of religious institutions (ulama) from various scientific disciplines in his time, in the Middle Ages, through his book Talbis Devil. Ibn al-Jawzi's criticism was not justificatory by referring to the personal, but rather was institutional self-criticism. This self-criticism was a response to the spiritual-intellectual reality of his time. According to the author, Ibn al-Jawzi's criticism is relevant and actual to bring back to earth in the present era, where many figures have emerged who are considered ustaz or ulama, but whose daily lives do not reflect the values of piety. Today's scholars need to read and understand Ibn al-Jawzi's criticism, so as not to fall into the devil's abyss and trap (talbis) as explained by Ibn al-Jawzi in this book.Keywords:Ahmadiyya; Doctrine; Existence. Abstrak;Tulisan ini mendeskripsikan berbagai kritikan yang dilakukan oleh Ibn al-Jawzi atas Institusi Agama (ulama) dari berbagai disiplin ilmu di zamannya, di abad pertengahan, melalui kitabnya Talbis Iblis. Kritik Ibn al-Jawzi tidak bersifat justifikatif dengan merujuk kepada personal, namun lebih bersifat otokritik institusional. Otokritik ini merupakan respon atas realitas spiritual-intelektual di masanya. Menurut penulis, kritikan Ibn al-Jawzi ini relevan dan altual untuk kembali dibumikan di masa sekarang, di mana banyak bermunculan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai ustaz atau ulama, akan tetapi kesehariaannya tidak mencerminkan nilai-nilai kesalehan. Melalui analisis deskriptis-filosofis, penelitian ini menemukan bahwa, ada delapan kelompok ulama yang dikritik oleh Ibn al-Jawzi, yaitu, 1) ahli Qiraat, 2), ahli hadis, 3), ahli fikih, 4) ahli kalam, 5) penceramah, 6) ahli bahasa, 7) ahli syair, 8) ulama sufi. Oleh karenya, para ulama pada masa kini perlu membaca dan memahami kritikan Ibn al-Jawzi ini, agar tidak terjebak ke dalam jurang dan jebakan (talbis) Iblis.Kata Kunci:   Ibn al-Jawzi; Kritik; Talbis Iblis; Teologis; Ulama.