cover
Contact Name
Akbar Tanjung
Contact Email
ijitp@radenintan.ac.id
Phone
+6282176178991
Journal Mail Official
ijitp@radenintan.ac.id
Editorial Address
Jl. Letkol H. Endro Suratmin, Sukarame, Bandar Lampung, Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy
ISSN : 26568748     EISSN : 26864304     DOI : 10.24042
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy is primarily intended for the publication of scholarly works in the field of Islamic Theology and Islamic Philosophy, school of Islamic Theological thought, Islamic Theology Figure, Modern and Contemporary Islamic Theology, Classical Islamic Philosophy, History of Islamic Philosophy, Ontology, Epistemology, Axiology, Ethics and others. IJITP accepts articles in both English and Indonesia, as well as maintains a double-blind peer-review process. The Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy (IJITP) invites participation and contributions from researchers and academics in accordance with the field of science.
Articles 59 Documents
Muhammad Iqbal's Philosophy of Khudi (A Critical Analysis of Modern Science) Hidayat, Alfan; Alamsah, Johan
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i1.20742

Abstract

Abstract;Science is one of the most significant factors in approaching and identifying objects. It requires the foundation of actual self-awareness, such as understanding Khudi. The path of modernity and the increasing spirit of the Western Renaissance forced modern science to behave fragmentarily. As a result, the physical dimension is distinct from the metaphysical dimension, which is defined by values and morals. Therefore, this research aims to examine specific characteristics and perspectives of modern science, which will then be critiqued through the perspective of Muhammad Iqbal's Khudi philosophy. The study is library research with a philosophical approach, assessing the data critically. According to the findings of this study, Muhammad Iqbal's Khudi has a comprehensive-integral effect on a person by reviewing his consciousness. Thus, this philosophy provides universality, wise judgment, and a positive life connection from a philosophical standpoint, particularly for our era of scientific developments that serve as a reference for modern living.Keywords:Khudi; Modern; Renaissance; Science; Universal. Abstrak;Sains merupakan salah satu hal yang penting dalam upaya mendekati, dan mengenal objek-objek yang ada, maka perlu dasar kesadaran diri yang benar sepeti pemahaman khudi. Sebab, arah kemodernan dengan semangat Renaisans Barat yang berkembang menjadikan Sains Modern berprilaku fregmentatif.  Sehingga dimensi fisik terlepas dari dimensi metafisik yang syarat akan nilai, serta moral. Maka, penelitian ini berusaha menganalisa aspek dan sisi tertentu pada sains modern, untuk kemudian dikritisi dengan perspektif dari khudi Muhammad Iqbal Penelitian merupakan library research dengan menggunakan pendekatan filosofis secara analisis-kritis, atas data-data. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Khudi Muhammad Iqbal memiliki pengaruh yang komperhensif-Integral pada diri seseorang dengan tinjauan kesadarannya. Sehingga, itu membawa keuniversalan, pertimbangan bijak, dan keterkaitan hidup yang baik dari basis filosofis, terutama bagi tren sains era ini yang dipakai sebagai rujukan hidup yang modern.Kata Kunci:   Khudi; Modern; Renaisans; Sains; Universal.
Tauhid Sebagai Dasar Prinsip Pengetahuan Dalam Pandangan Ismail R. al-Faruqi Habibi, M. Dani
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i1.22023

Abstract

Abstract;This study explores the concept of Tawhid in the thoughts of Ismail R. al-Faruqi as a basic principle of knowledge in his view. Tauhid, a core concept in Islam which emphasizes the unity and oneness of Allah, is a deep foundation in understanding the universe and human life according to al-Faruqi. In his perspective, the concept of Tawhid is not only theological, but also has significant epistemological implications. This research highlights how al-Faruqi links Tawhid with Islamic epistemology, reinforcing the idea that the unity of knowledge and existence is a reflection of the unity of Allah. The research method used is qualitative (literature review). By expanding the scope of Islamic epistemology through the concept of Tawhid, al-Faruqi offers a solid foundation for understanding the relationship between knowledge, religion and human life in a holistic framework. Through a text and contextual analysis approach, this study outlines al-Faruqi's contribution in bringing a new understanding of the role of Tawhid in building sustainable and comprehensive knowledge principles in contemporary society.Keywords:Ismail R. al-Faruqi; Knowledge; Tauhid. AbstrakKajian ini mengeksplorasi konsep Tauhid dalam pemikiran Ismail R. al-Faruqi sebagai dasar prinsip pengetahuan dalam pandangannya. Tauhid, konsep inti dalam Islam yang menekankan kesatuan dan keesaan Allah, merupakan fondasi yang mendalam dalam memahami alam semesta dan kehidupan manusia menurut al-Faruqi. Dalam perspektifnya, konsep Tauhid tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga memiliki implikasi epistemologis yang signifikan. Penelitian ini menyoroti bagaimana al-Faruqi menghubungkan Tauhid dengan epistemologi Islam, memperkuat gagasan bahwa kesatuan ilmu dan keberadaan adalah refleksi dari kesatuan Allah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif (Kajian Pustaka). Dengan memperluas cakupan epistemologi Islam melalui konsep Tauhid, al-Faruqi menawarkan landasan yang kokoh untuk memahami relasi antara pengetahuan, agama, dan kehidupan manusia dalam kerangka yang holistik. Melalui pendekatan analisis teks dan kontekstual, kajian ini menguraikan kontribusi al-Faruqi dalam membawa pemahaman baru tentang peran Tauhid dalam membangun prinsip-prinsip pengetahuan yang berkelanjutan dan menyeluruh dalam masyarakat kontemporer.Kata Kunci:   Tauhid, Knowledge, Ismail R. al-Faruqi.
Etika Islam: Telaah buku “Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam” Abbas, Faiz Musthofa
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i1.22100

Abstract

Abstract;This article is a critical review of a book entitled "Between Al-Ghazali and Kant: The Philosophy of Islamic Ethics" written by M. Amin Abdullah and published by Mizan in 2002. Humans have become more creative and imaginative thanks to science. It is this power of thinking that allows man to discover new disciplines: people depend not only on the success of their predecessors. However, as humans become more creative and their intelligence advances, they sometimes fall into the valley of arrogance. At this time, traditional moral values and standards are increasingly lost. This research method uses qualitative descriptive with M. Amin Abdullah's work Antara Al-Ghazali and Kant: Etka Islam Philosophy as the main source. The results showed that the foundations of the thought systems of two prominent intellectual figures who had a significant influence, namely about ethics. And the similarities between the ethical concepts of al-Ghazali and Immanuel Kant.Keywords:Al-Ghazali; Ethics; Kant. Abstrak;Artikel ini merupakan telaah kritis dari sebuah buku yang berjudul “Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam” yang ditulis oleh M. Amin Abdullah dan diterbitkan oleh Mizan pada tahun 2002. Manusia telah menjadi lebih kreatif dan imajinatif berkat ilmu pengetahuan. Daya berpikir inilah yang memungkinkan manusia untuk menemukan disiplin ilmu baru: orang tidak hanya bergantung pada kesuksesan para pendahulunya. Namun, ketika manusia menjadi lebih kreatif dan kecerdasannya semakin maju, mereka kadang-kadang jatuh ke lembah kesombongan. Pada saat ini, nilai-nilai moral dan standar tradisional semakin hilang.Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan karya M. Amin Abdullah yaitu Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etka Islam sebagai sumber utamanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dasar-dasar sistem pemikiran dua tokoh intelektual terkemuka yang memiliki pengaruh yang signifikan, yaitu tentang etika. Dan persamaan antara konsep etika al-Ghazali dan Immanuel Kant adalah keduanya menolak metafisika spekulatif dogmatik, sedangkan etika al-Ghazali bersifat wahyu—berdasarkan al-Quran dan Sunnah—sementara etika Immanuel Kant bersifat rasial—yakni sesuai dengan kehendak manusia.Kata Kunci:   Al-Ghazali; Etika; Kant.
Analisis Konsep Persahabatan Aristoteles Pada Siswa Kelas XII MAN 1 Palembang Aulia, Deta; Syefriyeni; Ahmad Saleh Sakni
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v7i1.22861

Abstract

Abstract; This thesis is entitled Analysis of Aristotle’s Concept of friendship in class XII MAN 1 Palembang. The objecttives of this research are first, to understand Aristotle’s concept of friendship in thebook of Nichomachean Ethics. Second, to find out Aristotle’s friendship patterns among class XII students at MAN 1 Palembang. The research method in thesis based on field research, while the research approach method used qualitative research. The data sources used are primary data sources and secondary data sources are books, journals and other scientific works. Furthermore, data collection includes observation, interview, and documentation. Last, data analysis techniques use inductive-descriptive. As for the results of this research, it can be found that Aristotle’s friendship pattern in class XII students at MAN 1 Palembang is more inclined towards a friendship pattern based on kindness, on the 14 boys and 7 girls, each of them has different friendship pattern. It can be seen that 8 students who are ranked in the top of the class and also take art in school extracurriculars, and more competent in one of the subjects are more inclined toward friendship patterns based on kindness, while the 4 students who are in friendship patterns based on pleasure, and 2 students are inclined toward friendship patterns based on needs. Keywords: Class XII Students; Friendship Patterns; Aristotle’s.   Abstrak; Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep persahabatan Aristoteles di dalam buku Etika Nikomakea serta pola pertemanan Aristoteles pada siswa kelas XII MAN 1 Palembang. Metode penelitian ini berdasarkan pada penelitian lapangan dan pustaka, sedangkan metode pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer siswa kelas XII MAN 1 Palembang dan yang menjadi sumber data sekunder yaitu buku, jurnal, serta karya ilmiah lainnya. Selanjutnya teknik pengumpulan data yaitu mencakup observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan induktif-deskriptif. Adapun hasil dari penelitian ini dapat ditemukan bahwa pola pertemanan Aristoteles pada siswa kelas XII MAN 1 Palembang lebih condong ke arah pola pertemanan berdasarkan kebaikan, dari 14 siswa kelas XII MAN 1 Palembang, yang terdiri dari 7 laki- laki dan 7 perempuan masing-masing memiliki pola pertemanan yang berbeda. Dapat diketahui bahwa siswa yang termasuk ke dalam peringkat 10 besar di kelas dan juga mengikuti ekstrakulikuler sekolah serta berkompeten dalam salah satu mata pelajaran lebih condong ke pola pertemanan berdasarkan kebaikan, sedangkan 4 siswa yang mendapatkan peringkat di luar 10 besar lebih condong ke arah pola pertemanan berdasarkan kesenangan, dan adapun siswa 2 lebih condong ke arah pola pertemanan berdasarkan kebutuhan Kata Kunci:   Aristoteles; Pola Persahabatan; Siswa Kelas XII.
Wahabisme dalam Perspektif Teologi Hassan Hanafi Rasyidin, Yusafrida; Nofrizal, Nofrizal; Ajid, Abdul Husna
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i2.22938

Abstract

Abstract;Wahabism as a reform movement in Islam has proven to be politically successful, and as a teaching, this movement has puritanical characteristics or seeks to purify Islamic teachings which it considers to have been distorted to suit the version of the teachings it brings. In this article, researchers will analyze Wahhabism from the perspective of a contemporary theologian, Hassan Hanafi. This research is literature-based (library research) and uses interpretive, philosophical descriptive methods. In Hassan Hanafi's view, Wahhabism is a theocentric and textualist theological school, their orientation is to submit and obey religious laws/texts which do not necessarily have any relevance to the reality of the Islamic world.Keywords:Hasan Hanafi; Theology; Wahabisme. Abstrak;Wahabisme sebagai suatu gerakan pembaharuan dalam Islam terbukti sukses secara politik, dan sebagai sebuah ajaran, gerakan ini memiliki karakteristik puritan atau berusaha memurnikan ajaran Islam yang ia anggap telah menyimpang agar sesuai dengan versi ajaran yang ia bawa. Dalam artikel ini, peneliti akan menganalisa Wahabisme dalam perspektif seorang teolog kontemporer, Hassan Hanafi. Penelitian ini tergolong dalam jenis penelitian kepustakaan, (library research) dan menggunakan metode interpretatif, deskriptif filosofis. Dalam pandangan Hassan Hanafi, Wahabisme adalah aliran teologi teosentris dan tekstualis, orientasi mereka ialah tunduk dan patuh terhadap turats/teks-teks keagamaan yang belum tentu ada relevansinya dengan realitas dunia Islam.Kata Kunci:   Hasan Hanafi; Teologi; Wahabisme. 
Teorisasi Dan Identitas Nalar Arab: Telaah atas Pemikiran Muhammad Abed Al-Jabiri Pratama, Aunillah Reza
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v4i2.23970

Abstract

Abstract;This research discusses Muhammad Abed Al-Jabiri's thoughts on the theory and identity of Arabic reason. Al-Jabiri, a prominent Moroccan philosopher and intellectual, offers an in-depth analysis of the history and structure of Arabic reason. Through his work, he explores how the Arab intellectual tradition developed and how the identity of that reason was shaped by the complex interaction between cultural, social, and political factors. This study focuses on the key concepts introduced by Al-Jabiri, such as “bayani reason,” “irfani reason,” and “burhani reason,” and how these concepts play a role in the formation and evolution of contemporary Arabic thought. Through a literature review, the study also highlights the relevance of Al-Jabiri's thought in the modern context and how this theorization can provide new insights into intellectual identity and dynamics in the Arab world.Keywords:Abed al-Jabiri; Arabic reasoning; Theorization. Abstrak;Penelitian ini membahas pemikiran Muhammad Abed Al-Jabiri tentang teori dan identitas nalar Arab. Al-Jabiri, seorang filsuf dan intelektual terkemuka dari Maroko, menawarkan analisis mendalam tentang sejarah dan struktur nalar Arab. Melalui karyanya, ia mengeksplorasi bagaimana tradisi intelektual Arab berkembang dan bagaimana identitas nalar tersebut dibentuk oleh interaksi kompleks antara faktor-faktor budaya, sosial, dan politik. Penelitian ini memfokuskan pada konsep-konsep utama yang diperkenalkan oleh Al-Jabiri, seperti "nalar bayani," "nalar irfani," dan "nalar burhani," serta bagaimana konsep-konsep ini berperan dalam pembentukan dan evolusi pemikiran Arab kontemporer. Memalui kajian pustaka, studi ini juga menyoroti relevansi pemikiran Al-Jabiri dalam konteks modern dan bagaimana teorisasi ini dapat memberikan wawasan baru tentang identitas dan dinamika intelektual di dunia Arab.Kata Kunci:   Abed al-Jabiri; Nalar Arab; Teorisasi.
Mohammed Arkoun's Islamology: Applications of Humanities and Social Sciences in Islamic Studies Pratama, Aunillah Reza; Masruchin, Masruchin
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i2.23972

Abstract

Abstract;This study focuses on Arkoun's thoughts on the idea of Applied Islamology. Arkoun has anxiety about the treasures of Islamic turats (heritage of tradition, culture, knowledge) which tend to be passive towards advanced civilization in thought. Such stagnation, according to Arkoun, is caused by the hegemony of dogmatic orthodoxy that shackles knowledge into the old episteme. Arkoun's Applied Islamology is a scientific practice in an epistemology of thought. By using the literature method, this study found that the reading of QS. At-Taubah: 5 there is a fairly strong normative foundation about jihad and today's problems regarding it. The results of the reading with several perspectives, namely: from the semiotic side, all vocabulary in Surah At-Taubah is related to the meaning of taubah, including prayer, zakat, faith and disbelief.Keywords:Applied Islamology; Arkoun; Episteme; Socio-Humanities Applications. Abstrak;Kajian ini berfokus pada pemikiran Arkoun tentang gagasan Islamologi Terapan. Arkoun memiliki kegelisahan terhadap khazanah turats Islam (warisan tradisi, kebudayaan, pengetahuan) yang cenderung pasif untuk menuju peradaban maju dalam pemikiran. Kejumudan demikian menurut Arkoun disebabkan oleh hegemoni ortodoksi-dogmatis yang membelenggu pengetahuan ke dalam episteme lama. Islamologi Terapan yang dicetus oleh Arkoun merupakan suatu praktik ilmiah dalam suatu epistemologi pemikiran. Dengan menggunakan metode pustaka, penelitian ini menghasilkan bahwa pembacaan terhadap QS. At-Taubah terdapat landasan normative yang cukup kuat tentang jihad dan problem dewasa ini mengenai hal tersebut. Dalam kasus at-Taubah ini, ayat payung ini adalah ayat saif atau pedang. Ayat pedang yang dimaksud adalah QS. At-Taubah: 5. Hasil pembacaannya dengan beberapa perspektif yaitu: dari sisi semiotik, semua kosa kata dalam surat at-Taubah berkaitan dengan makna taubah, termasuk salat, zakat, iman, kafir.Kata Kunci:   Aplikasi Ilmu Sosial-Humaniora; Arkoun; Episteme; Islamologi Terapan.
Epistemologi Positivisme Auguste Comte Jubaedah, Siti; Hayati, Ela Hikmah
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i2.24108

Abstract

Abstract;The purpose of this research is to examine Auguste Comte's postivism epistemology consisting of social positivism, evolutionary positivism and critical positivism, all of which will be discussed with ethical values in science. This research uses literature method with epistemology approach. This research shows that Auguste Comte has shown that in the development of the human soul, both individually and as a whole, there is progress. That progress will be achieved, when the development comes, at the time called positive.Keywords:Auguste Comte; Critical; Epistemology; Evolutioneri; Social Positivism. Abstrak;Tujuan penelitian ini untung mengkaji Epistemologi postivisme Auguste Comte yang terdiri dari positivisme sosial, positivisme evolusioner dan positivisme kritis yang ketiganya akan dibahas dengan nilai-nilai etis dalam ilmu sains. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekataan epistemology. Dari penelitian ini menunjukkan hasil bahwa Aguste Comte telah menunjukkan bahwa didalam perkembangan jiwa manusia, baik secara individual maupun secara keseluruhan, terdapat suatu kemajuan. Kemajuan itu akan dicapai, pada saat perkembangan datang, pada saat yang disebut positif. Kata Kunci:   Auguste Comte; Epistemologi; Positivisme Sosial; Evolusioner; Kritis.
The Role of Muhammad Iqbal in Islamic Thought Amir, Ahmad Nabil; Rahman, Tasnim Abdul
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i2.24287

Abstract

Abstract;Since the middle of 19th century, Muslims have made their ways to variously response to the ideas of modernity, many of which were markedly inspired by the pan-Islamist activist, Jamal al-Din al-Afghani, who started to espouse modern aspiration and inaugurate the Islamic reform movement throughout the Muslim world. This paper highlights the role of Muhammad Iqbal (1879-1938) in Islamic thought, through his philosophical premises to awaken the new Islamic consciousness in the Indian subcontinent, in continuing the tradition of al-Afghani and his religious struggle. The study was qualitative in nature designed based on documentary survey and analysis. It reviews related materials from normative and inductive perspectives. The data were analysed using scientific, descriptive, analytical and historical approaches to reach the final conclusion. The finding shows that Iqbal had formulated unprecedented ideas toward reconstruction and modernization in political, economic and social aspect. His works manifested broad and cohesive philosophical arguments and influences that largely impacted Muslim thought which help to develop their rational and dynamic framework to reconstruct the significance dimension of ijtihad and renewed their profound spiritual and metaphysical consciousness of the perennial and transcendental values of religion and its relevance to the modern context.Keywords:Applied Islamology; Arkoun; Episteme; Socio-Humanities Applications. Abstrak;Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam telah memberikan berbagai bentuk respon terhadap kemodenan, yang banyak diilhamkan dari pemikiran Sayyid Jamal al-Din al-Afghani, pencetus idea pan-Islam. Artikel ini menyorot peranan Muhammad Iqbal (1879-1938) ahli falsafah dan pujangga Islam dari Selatan India dalam melanjutkan perjuangan al-Afghani dalam membangkitkan kefahaman baru Islam yang progresif. Premis falsafah yang dibangunkan dalam karya-karyanya memperlihatkan idea-idea pembaharuan yang mendalam tentang aspek-aspek perubahan dan pemodenan dalam konstruk politik, ekonomi dan sosial. Kajian ini dirangka berasaskan metode normatif dan induktif dari jenis penelitian kualitatif. Ia menerapkan metode dokumentasi historis dan analisis dalam peninjauan bahan yang kemudiannya dianalisis secara saintifik, analitis, dan deskriptif bagi mendapatkan rumusan dan kesimpulan akhir. Penemuan mendapati bahawa Iqbal telah melontarkan ide-ide pembaharuan dan rekonstruksi dalam karyanya The Reconstruction of Religious Thought in Islam berasaskan pertimbangan-pertimbangan falsafah yang rasional dan dinamik dalam rangka membangun kembali alam fikiran Islam dan memulihkan struktur hukum, moral dan budayanya. Ia menunjukkan pengaruh yang meluas dari karyanya yang memberi impak yang mendalam terhadap upaya pembaharuan dan pengembangan ijtihad dan kesedaran metafizik yang transenden dan perenial.Kata Kunci:   Aplikasi Ilmu Sosial-Humaniora; Arkoun; Episteme; Islamologi Terapan.
Analisis Dekonstruksi Jacques Derrida Dalam Pergeseran Makna Pakaian Mubarok, Achmad Sofiyul; Pratama, Yuda; Liansi, Tomi
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i2.24351

Abstract

Abstract;This article will explore the essence of clothing in the era of disruption that has a function as a body protector and becomes the identity of a human being. However, the clothes referred to in this article are not physical clothes, but inner/pious clothes. The quality of clothing that is dhohir reflects a person's identity. So that the capitalization of clothing in modern times is prone to occur. Unlike the inner clothes, the quality of human piety is determined by their own hearts. So that the behavior that is done has profane values and a piety cannot be capitalized. Because, the best clothes for Muslims are the clothes of piety. This research uses a qualitative method and this research aims to reveal the meaning and interpretation with Jacques Derrida's Deconstruction theory. Deconstruction aims to dismantle a single meaning and produce infinite meanings. The results of this study reveal that the interpretation in the classical era was limited to understanding takwa clothing as faith in God and the recommendation to cover the veil. Meanwhile, in modern interpretations, this verse is understood as a form of servitude to Allah Swt and highlights the active role of humans in wearing clothes.Keywords:Al-A’raf:26; Clothing; Dekonstruksi. Abstrak;Artikel ini akan mengeksplorasi esensi pakaian dalam era disrupsi yang memiliki fungsi sebagai pelindung badan dan menjadi identitas seseorang manusia. Namun pakaian yang dimaksud pada artikel ini bukanlah pakaian secara dhohir, tetapi pakaian batin/takwa. Kualitas pakaian yang sifatnya dhohir mencermikan sebuah identitas seseorang. Sehingga kapitalisasi pakaian di zaman modern ini rentan terjadi. Berbeda dengan pakaian batin/takwa, kualitas takwa manusia ditentukan oleh hati mereka sendiri. Sehingga perilaku yang diperbuat memiliki nilai-nilai profan dan sebuah ketakwaan tidak akan bisa dikapitalisasi. Karena, sebaik-baiknya pakaian bagi orang muslim adalah pakaian takwa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan penelitian ini bertujuan mengungkap makna dan penafsiran dengan teori Dekonstruksi Jacques Derrida. Dekonstruksi bertujuan untuk membongkar makna tunggal dan menghasilkan makna yang tak terbatas. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa penafsiran pada era klasik terbatas pada pemahaman pakaian takwa sebagai iman kepada Tuhan dan anjuran untuk menutup aurat. Sementara itu, dalam tafsir modern, ayat ini dipahami sebagai bentuk penghambaan kepada Allah Swt dan menyoroti peran aktif manusia dalam pemakaian pakaian.Kata Kunci:   Al-A’raf: 26; Dekontruksi; Pakaian.