cover
Contact Name
Firdaus Noor
Contact Email
jurnalurban@pascasarjanaikj.ac.id
Phone
+6221-3159687
Journal Mail Official
jurnalurban@pascasarjanaikj.ac.id
Editorial Address
Jl. Cikini Raya No. 73 Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Urban : Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya
ISSN : 26142767     EISSN : 28283015     DOI : -
Urban: Jurnal Seni Urban is published twice a year (Apr and October) issued by the Postgraduate School of the Jakarta Institute of the Arts. Urban provides open access to the public to read abstract and complete papers. Urban focuses on creation and research of urban arts and cultural industries. Each edition, Urban receives a manuscript that focuses on the following issues with an interdisciplinary and multidisciplinary approach, which are: 1. Film 2. Television 3. Photograph 4. Theatre 5. Music 6. Dance 7. Ethnomusicology 8. Interior Design 9. Fine Arts 10. Art of Craft 11. Fashion Design 12. Visual Communication Design 13. Literature
Articles 88 Documents
Menyelisik Tradisi dan Budaya Melalui Karya Seni Sandra, Wili
Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 7, No.1: April 2023
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v7i1.160

Abstract

Imitasi Instrumen Kacapi Sunda Pada Aransemen Gitar Klasik Tunggal: Studi Kasus Terhadap Aransemen “Bubuy Bulan” Karya Iwan Tanzil Priscilla, Birgita
Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 7, No.1: April 2023
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v7i1.116

Abstract

Iwan Tanzil merupakan komposer gitar klasik Indonesia yang cukup banyak menggunakan idiom musik tradisional Indonesia dalam karya-karyanya. Salah satu karya aransemennya “Bubuy Bulan”, menggunakan idiom musik tradisional yaitu kacapi dan bas betot, dan diolah menggunakan teknik komposisi musik barat serta dieksekusi dengan berbagai teknik gitar klasik yang unik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan imitasi kacapi sunda pada aransemen gitar klasik “Bubuy Bulan” karya Iwan Tanzil. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah art based research, dengan pendekatan musikologi Beard and Gloag. Hasil dari penelitian ini adalah pengimitasian kacapi Sunda pada aransemen gitar klasik “Bubuy Bulan” karya Iwan Tanzil dicapai melalui mengimitasi aspek-aspek musik pada instrumen kacapi Sunda (yang meliputi melodi, harmoni, tekstur, ritmis dan warna suara), mengubah penalaan, serta menggunakan teknik-teknik gitar klasik yang disesuaikan untuk menghasilkan suara yang menyerupai kacapi Sunda. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Iwan Tanzil menyajikan karya aransemen gitar klasik tunggal yang  sarat dengan asimilasi budaya, serta dapat merepresentasikan idiom instrument kacapi Sunda melalui teknik imitasi dengan baik. -------------- Iwan Tanzil is an Indonesian classical guitar composer who uses quite a lot of Indonesian traditional music idioms in his works. One of his arranged works, "Bubuy Bulan", uses traditional musical idioms, namely kacapi and bas betot, and is processed using western music composition techniques and executed with various unique classical guitar techniques. This study aims to find out how the imitation of Sundanese kacapi is applied to Iwan Tanzil's arrangement of "Bubuy Bulan". The method used in this research is art based research, with the Beard and Gloag musicology approach. The result of this study is that the imitation of Sundanese Kacapi to the classical guitar arrangement by Iwan Tanzil's on "Bubuy Bulan" is achieved through applying the musical aspects of the Sundanese Kacapi instrument (which includes melody, harmony, texture, rhythm and tone colour), changing the tuning, and using some adapted classical guitar techniques to reproduce the sound of kacapi Sunda. The conclusion of this study is that Iwan Tanzil presents a solo classical guitar arrangement that is full of cultural assimilation, and can represent the Sundanese kacapi instrument idiom well through imitation technique.
Kriya Tekstil Rumahan dalam Bingkai Dekolonisasi Limono, Lusiana
Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 7, No.1: April 2023
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v7i1.48

Abstract

Cloth is one of the artistic expressions of man. The practice of weaving, knitting, and embroidering is a home craft practice dominated by women in various parts of the world, including Indonesia. The research was conducted by observing the practice of using natural dyes carried out by weaver mamas in East Nusa Tenggara, especially Lomblen, Southwest Sumba, and Flores. The search for this practice, taking a woman’s perspective through a deep observation of the studio practices I did. Using the approach of decolonial feminism, this writing aims to reclaim awareness of knowledge that originated in the domestic space. The search results offer discourse related to the decolonization of women’s thought in producing knowledge and maintaining culture.------------------------------------------------------------------------------------------------Kain merupakan salah satu ekspresi artistik manusia. Praktik menenun, merajut, menyulam adalah praktik kriya rumahan yang didominasi perempuan di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Meskipun dilakukan oleh perempuan di ruang domestik yaitu rumah, praktik tersebut tidak serta merta mengurung atau mendomestikasi perempuan di Indonesia. Pemahaman tersebut sama sekali berbeda dengan konstruksi budaya yang telah menyusup dalam kehidupan modern. Penelusuran praktik ini, mengambil perspektif perempuan melalui pengamatan yang mendalam melalui praktik studio yang saya lakukan. Tulisan ini bertujuan merebut kembali kesadaran atas pengetahuan yang berawal dari ruang domestik. Hasil penelusuran yang menawarkan wacana terkait dekolonisasi pemikiran perempuan dalam memproduksi pengetahuan dan memelihara kebudayaan.
Karya Seni Instalasi dan Grafiti (Instagraf) yang Ramah Lingkungan Sebagai Media Alternatif Promosi Luar Ruang Fauzie, Achmad
Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 7, No.1: April 2023
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v7i1.158

Abstract

The massive installation of outdoor media, such as banners and the like in a conventional form often leads to boredom. In addition, the materials used for the manufacture of banners and other promotional media also use plastic or flexy banners which are not environmentally friendly. Referring to this phenomenon, the main thing raised in this paper is a creative process in making installation art and graffiti (Instagraf) as an alternative medium for outdoor promotion that is environmentally friendly. All raw materials in the manufacture of this work will consistently use raw materials originating from nature by utilizing organic waste and using flour as an adhesive so that it is easily decomposed by nature. The method for creating Instagram uses an artistic creation method which is carried out in two stages, namely (1) conducting research using an ethical and emic approach; and (2) the stages of creating works in the form of experimentation, contemplation, and formation. The author hopes that Instagraf can become an alternative outdoor promotional media that contributes to reducing the volume of waste while at the same time encouraging public awareness of organic waste management so that it becomes a product that has high use value.------------------------------------------------------------------------------------------------Masifnya pemasangan media luar ruang, seperti spanduk dan sejenisnya dalam bentuk yang konvensional seringkali menimbulkan kejenuhan. Selain itu, bahan yang digunakan untuk pembuatan spanduk dan media promosi lainnya pun menggunakan material dasar plastik atau flexy banner yang tidak ramah lingkungan. Mengacu pada fenomena tersebut, yang menjadi topik dalam jurnal ini adalah sebuah proses kreatif dalam pembuatan karya seni instalasi dan grafiti (Instagraf) sebagai media alternatif promosi luar ruang yang ramah lingkungan. Semua bahan baku dalam pembuatan karya ini akan konsisten menggunakan bahan baku yang berasal dari alam dengan memanfaatkan sampah organik dan menggunakan tepung sebagai perekat sehingga mudah terurai oleh alam. Metode dalam penciptaan Instagraf ini menggunakan metode kreasi artistik yang dilakukan dengan dua tahap, yaitu (1) melakukan riset dengan pendekatan etik dan emik; dan (2) tahapan penciptaan karya berupa eksperimen, perenungan, dan pembentukan.Hasil yang didapatkan memperlihatkan bahwa Instagraf dapat menjadi alternatif media promosi luar ruang yang berkontribusi dalam menurunkan volume sampah sekaligus mendorong kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik agar menjadi produk yang memiliki nilai guna yang tinggi. 
Fenomena Sinestesia pada Seniman Multimedia Firmansyah, Ades Adrian
Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 7, No.1: April 2023
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v7i1.110

Abstract

The popular phenomenon known as the “twilight child (anak senja)” among urban youth has sparked debate about synesthesia, a special condition in which the human brain is capable of experiencing a cross of the senses. This research will discuss the synesthesia phenomenon. The method used in this paper is art-based research. This method was chosen based on the view that research results can be known through artistic activities, especially creative practices. To discuss this, the author uses Kandinsky’s theory, which emphasizes the close relationship between colors and certain shapes to support this concept of synesthesia. Apart from synesthesia, there is also the term intuition which relates to a person’s ability to understand something without going through rational and intellectual reasoning. Synesthesia, Kandinsky’s theory, and intuition are three concepts that are interrelated and explain how the human brain works in the process of creating, enjoying, and understanding works of art, so these three approaches are used in this research. The results of the study show that the ability of the brain of someone with synesthesia can make the two senses cross when processing information. Therefore, he can see colors when he hears music or vice versa, he can see colors in shapes, letters, and numbers. a synesthete or people with synesthesia abilities benefit greatly in creative processes such as in music video production and virtual choirs because they are able to quickly come up with ideas just by listening to music.------------------------------------------------------------------------------------------------Fenomena populer yang dikenal sebagai “anak senja” di kalangan remaja perkotaan telah memicu perdebatan tentang sinestesia, yaitu suatu kondisi istimewa ketika otak manusia mampu mengalami persilangan indra. Riset ini akan membahas mengenai fenomena sinestesia tersebut. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah riset berbasis seni (art base research). Metode ini dipilih berdasarkan pandangan bahwa hasil penelitian dapat diketahui melalui aktivitas seni, terutama praktik berkarya. Untuk membahas itu, penulis menggunakan teori Kandinsky, yang menekankan hubungan erat antara warna dan bentuk-bentuk tertentu untuk mendukung konsep sinestesia ini. Selain sinestesia, terdapat juga istilah intuisi yang berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektual. Sinestesia, teori Kandinsky, dan intuisi adalah tiga konsep yang saling terkait dan menjelaskan bagaimana otak manusia bekerja dalam proses menciptakan, menikmati, dan memahami karya seni sehingga ketiga pendekatan tersebut digunakan dalam riset ini. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kemampuan otak seseorang dengan sinestesia bisa membuat kedua indranya bersilangan saat memproses sebuah informasi. Oleh karena itu, ia bisa melihat warna ketika mendengar musik atau sebaliknya, ia mampu melihat warna dalam sebuah bentuk, huruf, dan angka. seorang synesthete atau orang dengan kemampuan sinestesia sangat diuntungkan dalam proses kreatif seperti dalam produksi musik video dan virtual choir karena ia mampu dengan cepat mendapatkan ide hanya dengan mendengarkan musik saja. 
Konsep Sakti dalam Novel Kecubung Wulung Karya Han Gagas: Representasi Bentuk dan Pemerolehan Kesaktian pada Dukun Jawa Wasono, Sunu; Mustofa, Yatin Nurul
Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 7, No.1: April 2023
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v7i1.78

Abstract

Javanese culture often deals with magical things, including the concept of magic contained in shamanic activities. This sacred concept relates to various forms and processes of acquisition. As a means of documenting the social reality of society, literature can also contain the concept of magic in Javanese culture. In short, this paper examines the various concepts of magic in Javanese culture through the novel Kecubung Wulung by Han Gagas. The two central characters in this novel, namely Suro and Wujil, are narrated as figures who have supernatural powers. The concept of sacredness is studied through these two figures. The supernatural powers represented by the two characters in this novel have contrasting differences, both in terms of the form, acquisition, and continuity of the supernatural powers. This sacred concept is basically a form and example of a phenomenon that occurs in society. To examine the concept of magic contained in the novel Kecubung Wulung, a literary sociology approach is used, while the research method used is descriptive qualitative. From this research, the results show that supernatural powers in the Javanese can be obtained from heredity and/or tirakat performed by a person, supernatural powers can take the form of visible and invisible mediums, and literature can be used as a medium for evaluation and education.------------------------------------------------------------------------------------------------Budaya Jawa kerap kali bersinggungan dengan hal magis, termasuk konsep sakti yang terdapat di dalam aktivitas perdukunan. Konsep sakti ini berkaitan dengan bentuk dan proses pemerolehan yang beragam. Sebagai sarana dokumentasi realitas sosial masyarakat, sastra juga dapat memuat konsep sakti di dalam budaya suku Jawa. Secara singkat, tulisan ini mengkaji konsep sakti yang beragam dalam budaya Jawa melalui novel Kecubung Wulung karya Han Gagas. Kedua tokoh sentral di dalam novel ini, yaitu Suro dan Wujil, dinarasikan sebagai sosok yang memiliki kesaktian. Konsep sakti dikaji melalui dua tokoh tersebut. Kesaktian yang direpresentasikan melalui kedua tokoh dalam novel ini memiliki perbedaan yang kontras, baik dari segi bentuk, pemerolehan, dan keberlangsungan kesaktian tersebut. Konsep sakti ini pada dasarnya menjadi bentuk dan contoh fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. Untuk mengkaji konsep sakti yang terdapat di dalam novel Kecubung Wulung, digunakan pendekatan sosiologi sastra. Sementara itu, metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Dari penelitian ini, diperoleh hasil bahwa kesaktian dalam suku Jawa dapat diperoleh dari keturunan dan atau tirakat yang dilakukan seseorang. Kesaktian dapat berbentuk medium yang kasatmata dan tidak kasatmata, serta sastra dapat digunakan sebagai media evaluasi dan edukasi
Pemanfaatan Servo SG 90 dalam Pembuatan Karya Seni Kinetik Bertema Kupu-Kupu Prasetyo, Dwi Budi
Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 7, No.2: Oktober 2023
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v7i2.156

Abstract

Kinetic art is a style of art that developed in the mid-20th century. Presenting movement as an aesthetic element makes kinetic works unique. The movement shown is also to strengthen the theme of the work. Creating a butterfly-themed kinetic work requires up and down movement as a visual of the flapping of the wings. Utilizing the Sg 90 servo motor can be the choice of the driving motor. Therefore research is needed on the Sg 90 servo. Servo 90 requires supporting components to be able to realize the desired butterfly wing flapping motion. The final result of the research is a mechanical module that can be applied in butterfly-themed kinetic works.Seni kinetik merupakan gaya seni rupa yang berkembang di pertengahan abad ke- 20. Dengan menampilkan gerakan sebagai salah satu elemen estetis, menjadikan karya kinetik memiliki keunikan tersendiri. Gerakan yang ditampilkan juga untuk memperkuat tema karya. Menciptakan karya kinetik bertema kupu-kupu, memerlukan gerakan naik turun sebagai visual kepak sayap. Memanfaatkan motor servo Sg 90 dapat menjadi pilihan motor penggerak. Oleh karena itu, diperlukan penelitian/riset terhadap servo Sg 90. Servo 90 membutuhkan komponen pendukung untuk dapat mewujudkan gerak kepak sayap kupu-kupu yang di inginkan. Hasil akhir penciptaan karya ini berupa modul mekanik yang dapat diaplikasikan dalam karya kinetik bertema kupu-kupu. TRANSLATE with x EnglishArabicHebrewPolishBulgarianHindiPortugueseCatalanHmong DawRomanianChinese SimplifiedHungarianRussianChinese TraditionalIndonesianSlovakCzechItalianSlovenianDanishJapaneseSpanishDutchKlingonSwedishEnglishKoreanThaiEstonianLatvianTurkishFinnishLithuanianUkrainianFrenchMalayUrduGermanMalteseVietnameseGreekNorwegianWelshHaitian CreolePersian //  TRANSLATE with COPY THE URL BELOW Back EMBED THE SNIPPET BELOW IN YOUR SITE Enable collaborative features and customize widget: Bing Webmaster PortalBack//  
Eksploitasi Anak di Ranah Budaya: Studi Kasus Tradisi Pacu Kuda di Gayo Mashury, Davi abdullah
Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 8, No.1: April 2024
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v8i1.193

Abstract

The tradition of horse racing has been going on for a long time in several regions of the archipelago. One of them is in the Gayo Highlands, Aceh. Child exploitation in the cultural realm of horse racing traditions has been going on for a long time and generations. Forms of exploitation experienced by child jockeys include social exploitation, economic exploitation, and physical exploitation. This research focuses on the exploitation of children in the realm of traditional culture, especially horse racing in Gayo Highlands. The research method used is an ethnographic method with a cultural studies approach. This study aims to analyze cultural traditions that are considered no longer by current values and are no longer relevant to current conditions. By documenting problems in the racehorse tradition, it is hoped that it can answer the anxiety and problems of children in the cultural realm who experience exploitation with the hope of having an impact on the sense of security for child jockeys, Avoiding exploitation, and remaining part of the preservation and promotion of cultural traditions, arts, and folk games.________________________________________________________Tradisi pacu kuda sudah berlangsung lama di sejumlah daerah di Nusantara. Salah satunya di daerah Dataran Tinggi Gayo, Aceh. Eksploitasi anak di ranah budaya tradisi pacuan kuda sudah terjadi lama dan secara turun-temurun. Bentuk eksploitasi yang dialami oleh para joki anak meliputi, eksploitasi sosial, eksploitasi ekonomi serta eksploitasi fisik. Penelitian ini terfokus pada eksploitasi anak di ranah kebudayaan tradisi, khususnya pacuan kuda di Dataran Tinggi Gayo. Metode penelitian yang digunakan adalah metode etnografi dengan pendekatan cultural studies. Penelitian ini bertujuan menganalisis budaya tradisi yang dianggap sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku sekarang dan tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang. Dengan mendokumentasikan masalah dalam tradisi kuda pacu, 17 diharapkan dapat menjawab kegelisahan dan persoalan anak di ranah budaya yang mengalami eksploitasi dengan harapan mampu memberikan dampak terhadap rasa aman bagi para joki anak, terhindar dari eksploitasi, serta tetap menjadi bagian dalam pelestarian dan pemajuan kebudayaan tradisi, seni dan permainan rakyat.
Efektivitas Board Game Ranah Minang sebagai Media Edukasi melalui Focus Group Discussion (FGD) Mayang Sari, Riska
Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 7, No.2: Oktober 2023
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v7i2.99

Abstract

Minangkabau culture is a culture that is owned by the Minangkabau people and develops throughout the Minangkabau area and overseas areas. This culture is one of the two major cultures in the archipelago which are very prominent and influential. Minangkabau culture must continue to be preserved by the Minang community so that it does not fade with the times. In the past, BAM was a subject that had to be in class, especially in West Sumatra. Applied at the elementary level by exploring the original Minangkabau culture. However, along with the times and the change of the Education Unit Level curriculum (KTSP) to the 2013 Curriculum (K13) curriculum, BAM subjects were no longer studied in schools in West Sumatra, especially Padang Pariaman. Departing from this condition, an educational media was created in the form of the Minang Ranah board game which was specifically designed as a strategy to maintain Minangkabau natural culture so that children can still get to know the culture in a fun and not monotonous way. And a study was conducted which aimed to determine the effectiveness of the Minang Ranah Board Game which consisted of board game design, language, material and effective gameplay for the application of the educational board game. The method used in research on the application of board games as a media for Minangkabau culture education is qualitative and Focus Group Discussion (FGD). From the Focus Group Discussion (FGD) that has been conducted, it was found that Minangkabau educational board games are effective as an attraction for children to learn Minangkabau natural culture in terms of material, design and gameplay that make children happy while learning while playing. Budaya Minangkabau adalah kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau dan berkembang di seluruh kawasan dan daerah perantauan Minangkabau. Budaya ini merupakan salah satu dari dua kebudayaan besar di Nusantara yang sangat menonjol dan berpengaruh. Budaya Minangkabau harus terus dilestarikan oleh masyarakat minang agar tidak pudar oleh perkembangan zaman. Dulu BAM ini merupakan mata pelajaran yang harus ada di kelas terutama daerah Sumatera Barat. Diterapkan pada jenjang SD dengan mendalami budaya asli minangkabau. Namun seiring perkembangan zaman serta  pergantian kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP ) menjadi kurikulum Kurikulum 2013 (K13) mata pelajaran BAM sudah tidak dipelajari di sekolah-sekolah Sumatera Barat khususnya Padang pariaman. Berangkat dari kondisi ini diciptakan sebuah media edukasi dalam bentuk board game Ranah Minang yang dirancang khusus sebagai strategi mempertahankan budaya alam minangkabau agar anak anak bisa tetap mengenal budaya dengan cara yang menyenangkan dan tidak monoton. Dan dilakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui efektifitas dari Board Game Ranah Minang  yang terdiri dari Desain Board game, Bahasa, materi dan alur permainan yang efektif untuk pengaplikasian board game edukasi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian penerapan board game sebagai media edukasi budaya Minangkabau ini adalah kualitatif dan Focus Group Discussion (FGD). Dari Focus Group Discussion (FGD) yang telah dilakukan ditemukan bahwa board game edukasi Minangkabau efektif sebagai daya Tarik anak-anak untuk belajar budaya alam Minangkabau dari segi materi, desain serta alur permainan yang membuat anak-anak senang saat belajar sambil bermain. TRANSLATE with x EnglishArabicHebrewPolishBulgarianHindiPortugueseCatalanHmong DawRomanianChinese SimplifiedHungarianRussianChinese TraditionalIndonesianSlovakCzechItalianSlovenianDanishJapaneseSpanishDutchKlingonSwedishEnglishKoreanThaiEstonianLatvianTurkishFinnishLithuanianUkrainianFrenchMalayUrduGermanMalteseVietnameseGreekNorwegianWelshHaitian CreolePersian //  TRANSLATE with COPY THE URL BELOW Back EMBED THE SNIPPET BELOW IN YOUR SITE Enable collaborative features and customize widget: Bing Webmaster PortalBack//  
Eksposisi Artistik Berbasis Seni Partisipatif “Konferensi Kampung Kota”: Mencari Imajinasi dalam Hegemoni Bandung ‘Kota Kreatif’ Darwis, Taufik
Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 8, No.1: April 2024
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v8i1.151

Abstract

The Exposition of the Kampung Kota Conference is the introductory phase of a participatory art-based research project titled “Kampung Kota Conference: A Experimental Institution.” This research aims to be a space for nurturing imagination and developing new arenas and expressions in opposing the Bandung ‘Creative City’ hegemony, impacting the gentrification and discrimination of Kampung Kota residents. The exposition of this research combines two people in an exclusive constellation (one-on-one encounter) between the Creative Class and the Kampung Kota Residents. They talk to each other and act together as a pair to speculate with each other and produce knowledge in different subjectivities. I made three pairs of participants considering the specificity of the background location and situation of Kampung Kota and the diversity of professions and disciplines of the Creative Class/creative workers in Bandung. The three pairs of participants took a walk, each getting a maximum duration of one day at Kiara Artha Park, which was built on the former eviction land of Kampung Kota. I use the ‘walking’ method to unlock the potential of the one-on-one encounter research format because it focuses on the direct/living and sensory dimensions between participants and the ground on which they walk. I believe that the meeting of affective and immaterial work engaged in the creative class/ creative workers and Kampung Kota residents has the potential to radicalize the concept of ‘creativity’ itself in the face of the destructive policies of the Creative Cities.___________________________________________________Eksposisi Konferensi Kampung Kota merupakan fase perkenalan proyek penelitian berbasis seni partisipatif dengan judul yang sama, “Konferensi Kampung Kota: Sebuah Lembaga Uji Coba.” Penelitian ini bertujuan menjadi ruang untuk merawat imajinasi dan mengembangkan arena dan ekspresi baru dalam menentang hegemoni Bandung ‘Kota Kreatif’ yang berdampak pada gentrifikasi dan diskriminasi warga Kampung Kota. Eksposisi penelitian ini menggabungkan dua orang dalam konstelasi eksklusif (one-on-one encounter) antara Kelas Kreatif dan Warga Kampung Kota. Mereka berbicara satu sama lain dan bertindak bersama sebagai satu pasangan untuk saling berspekulasi dan memproduksi pengetahuan di dalam subjektifitas yang berbeda. Saya membuat tiga pasang partisipan dengan mempertimbangkan kekhususan latar belakang lokasi dan situasi Kampung Kota, serta keragaman profesi dan disiplin Kelas Kreatif/pekerja kreatif di Bandung. Ketiga pasang partisipan ini berjalan-jalan, setiap pasang partisipan mendapatkan durasi maksimal satu hari di Kiara Artha Park yang dibangun di tanah bekas penggusuran Kampung Kota. Saya menggunakan metode ‘berjalan’ untuk menggerakkan potensi dari format penelitian one-on-one encounter karena mempunyai fokus perhatian terhadap dimensi langsung/yang hidup dan sensorik yang ada di antara partisipan dan tanah tempat mereka berjalan. Saya percaya pertemuan kerja afektif dan kerja immaterial yang bergerak di kelas kreatif/pekerja kreatif dan warga Kampung Kota berpotensi untuk meradikalisasi konsep ‘kreativitas’ itu sendiri dalam menghadapi kebijakan destruktif Kota Kreatif.