cover
Contact Name
Rio Era Deka
Contact Email
turatsunaunisma@gmail.com
Phone
+6282198932510
Journal Mail Official
turatsunaunisma@gmail.com
Editorial Address
Jl. MT Haryono 193 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan
ISSN : -     EISSN : 27470717     DOI : -
Jurnal Turatsuna ini terbit untuk memberikan tempat berkreasi dan berinovasi bagi para peneliti, penulis, atau pemerhti yang berhasil “membaca “ sebagian realitas pergulatan dan dinamika kehidupan keberagamaan dan kependidikan di tengah masyarakat. Perkembangan kehidupan institusi edukasi, khususnya di lembaga-lembaga pendidikan keislaman yang menangani atau mengelola subyek didik, menjadi substansi utama dalam penerbitan jurnal Turatsuna ini.
Articles 77 Documents
INTERNALISASI NILAI-NILAI TOLERANSI MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) SELAMAT PAGI INDONESIA KOTA BATU Navila El Kamila Ali
Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan Vol 3, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.056 KB)

Abstract

ABSTRAKKata kunci: Internalisasi, ToleransiTujuan Penelitian ini adalah: (1) Analisa Nilai toleransi yang ada di SMA Selamat Pagi Kota Batu (2) Analisa Proses internalisasi nilai-nilai toleransi pada pelajaran PAI di SMA Selamat Pagi Kota Batu. (3)Analisa Sikap toleransi peserta didik setelah internalisasi melalui pembelajaran PAI di SMA Selamat Pagi Kota Batu.Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekataan studi kasus. Teknik Pengumpulan Datanya menggunakan beberapa metode: (1) Metode Observasi; (2) Metode Wawancara; (3) Metode Dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif oleh Spradley.Hasil temuan penelitian dalam penelitian ini adalah: 1) Nilai-nilai Toleransi yang ada dan berkembang di SMA SPI Kota Batu adalah: (1) Nilai toleran dalam bentuk menerima perbedaan latar belakang agama dan saling menghormati dan menghargai perbedaan; (2) Nilai Kejujuran dalam bentuk: mengakui kesalahan, Mengakui dan menyadari sebuah pelanggaran yang memang dilakukan, dan Menjalankan tanggung jawab dengan baik dan benar; (3) Nilai Kedamaian dan kemanusian dalam bentuk rukun dalam perbedaan dan tidak terlalu mengedepankan perbedaan; (4) Nilai Kepedulian dalam bentuk: menggantikan tugas teman yang berhalangan atau sedang melaksanakan ibadah dan senantiasa memikirkan kondisi orang lain; (5) Nilai Keadilan dalam bentuk penerapan peraturan asrama yang merata dan tidak pandang bulu, dan memepertimbangkan tingkat pelanggaran dan kondisi peserta didik dalam memberlakukan hukuman; (6) Nilai Sosial / Kerjasama dalam bentuk: peserta didik yang tidak seagama bertindak sebagai panitia dalam suatu peringatan hari Besar Agama tertentu. 2) Proses Internalisasi Nilai-nilal Toleransi pada Pelajaran PAI di SMA SPI Kota Batu dapat dilihat melalui ranah (a) moral knowing, dapat dilihat dalam hal: (1) Strategi Kelembagaan, yang diwujudkan dalam visi, misi, dan tujuan sekolah, serta disampaikan dalam orientasi; (2) Pendekatan Pembelajaran; yang diimplementasikan melalui pendekatan kontekstual, pendekatan konstruktivisme, pendekatan deduktif-induktif, pendekatan proses dan pendekatan saintifik. 3) Metode Pembelajaran, melalui metode nasehat dan diskusi. 4) Strategi Pembelajaran dalam bentuk: strategi tradisional, strategi bebas, dan strategi evaluasi/refleksi. (b) moral feelling dalam bentuk: a) Membentuk lingkungan moral yang demokratis, dengan ditandai adanya fasilitas tempat ibadah bagi semua agama, Pembelajaran yang komunikatif, b) Membentuk disiplin moral yang tinggi, yang ditandai dengan adanya peraturan yang dilaksanakan, diawasi dan dilakukan penindakan secara ketat dan disiplin. (c) moral action yang diwujudkan dalam bentuk: (1) memberikan pengajaran dan keteladanan; dan (b) strategi integratif antara efektifitas pembelajaran, penerapan dalam kehidupan sehari-hari, dan pemberdayaan alumni. 3) Sikap Toleransi Peserta Didik Setelah Internalisasi Nilai-nilai Toleransi Melalui Pembelajaran PAI di SMA SPI Kota Batu dapat terlihat beberapa fakta: (1) Kualitas Wawasan Toleransi; (2) Kualitas Kepedulian terhadap sesama; (3) Kualitas Interaksi Sosial; dan (4) Kualitas Rasa Persatuan (Ukhuwwah)  ABSTRACTKeywords: Internalization, ToleranceThe aim of this study are: (1) Analysis of tolerance values in SMA Selamat Pagi Kota Batu (2) Analysis of the process internalizing the values of tolerance in Islamic Education lessons at SMA Selamat Pagi Kota Batu. (3) Analysis of students' tolerance attitudes after internalization through PAI learning at SMA Selamat Pagi Indonesia Kota BatuIn this study, the method used is a type of qualitative research with a case study approach. The data collection technique uses several methods: (1) Observation Method; (2) Interview Method; (3) Documentation Method. The data analysis technique used is the qualitative data analysis technique by Spradley.The results of the research findings in this study are: 1) The values of tolerance that exist and develop in SMA SPI Kota Batu are: (1) Tolerance values in the form of accepting differences in religious backgrounds and mutual respect and respect for differences; (2) The value of honesty in the form of: admitting mistakes, acknowledging and realizing a violation that was indeed committed, and carrying out responsibilities properly and correctly; (3) The value of Peace and humanity in the form of harmony in difference and not putting too much emphasis on differences; (4) Caring value in the form of: replacing the duties of a friend who is absent or currently performing worship and always thinks about the condition of others; (5) The value of Justice in the form of application of boarding rules that is evenly distributed and indiscriminate, and takes into account the level of violations and the conditions of students in imposing punishment; (6) Social Value / Cooperation in the form of: students who are not of the same religion act as a committee in commemoration of certain religious holidays. 2) The Internalization Process of Tolerance Values in Islamic Education in SMA SPI Batu City can be seen in the realm of (a) moral knowing, which can be seen in terms of: (1) Institutional Strategy, which is manifested in the vision, mission and goals of the school, as well as delivered in orientation; (2) Learning Approach; which is implemented through a contextual approach, constructivism approach, deductive-inductive approach, process approach and scientific approach. 3) Learning Method, through the method of advice and discussion. 4) Learning strategies in the form of: traditional strategies, free strategies, and evaluation / reflection strategies. (b) moral feelling in the form of: a) Establishing a democratic moral environment, marked by the existence of facilities for places of worship for all religions, communicative learning, b) Forming high moral discipline, which is marked by the existence of regulations that are implemented, supervised and taken action strictly and discipline. (c) moral action in the form of: (1) providing teaching and modeling; and (b) an integrative strategy between the effectiveness of learning, its application in everyday life, and empowerment of alumni. 3) Students' Tolerance Attitude After Internalizing Tolerance Values through PAI Learning at SMA SPI, Batu City can be seen from the facts: (1) Quality of Tolerance Insights; (2) Quality of care for others; (3) Quality of Social Interaction; and (4) Quality Sense of Unity (Ukhuwwah) 
PELAKSANAAN PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA PADA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERPADU DI SMA NEGERI 4 KOTA PROBOLINGGO Luqman Abdurrahman Shaleh
Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan Vol 1, No 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.988 KB)

Abstract

  (1) Strategi Pendidikan Agama Islam yang dipakai tidak terlepas dari pendekatan yang dipergunakan oleh guru., pembentukan kelompok-kelompok belajar, dan inkuri dan keteladan. Keterpaduan Pendidikan Agama Islam dengan Pendidikan Karakter dimulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Dalam tahap evaluasi inilah akan terlihat efektif atau tidaknya pembentukan karakter siswa yang diharapkan. Selain itu ada beberapa kegiatan ekstra kurikuler yang sangat membantu dalam membentuk karakter siswa. (2) Pendidikan Agama Islam terpadu cukup efektif dalam membentuk karakter siswa di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo. (3) Faktor yang mendukung pembentukan karakter siswa di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo, bisa dibedakan menjadi dua. Yakni factor internal dan factor eksternal. Faktor yang mendukung Pendidikan Agama Islam dalam membentuk karakter siswa, adalah motivasi untuk selalu menjadi lebih baik, kerja sama yang baik antara sekolah, wali siswa, dan masyarakat, dan peran guru. Adapun faktor-faktor yang menghambat pendidikan karakter di SMA 4 Kota Probolinggo adalah kurangnya luas bangunan musolla. Kata kunci: pendidikan agama Islam terpadu, pembentukan karakter.
INTERNALISASI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMK NEGERI 1 SINGOSARI Moch Choirul Anam
Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan Vol 3, No 2 (2021): AGUSTUS
Publisher : Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.318 KB)

Abstract

 AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi karena situasi negara saat ini mencerminkan bahwa Pancasila dirasakan belum sepenuhnya diimplementasikan secara langsung. Bahkan belakangan ini, Pancasila hanya menjadi ungkapan simbolis kenegaraan yang tidak jelas implementasinya, baik dalam kehidupan bernegara maupun bermasyarakat. Ditambah lagi maraknya aksi tawuran antar pelajar yang sudah meramban hingga ke wilayah Malang Raya. Hal ini disebabkan karena rendahnya pemahaman peserta didik akan nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu sangat penting adanya internalisasi nilai-nilai Pancasila oleh semua guru mata pelajaran, termasuk guru Pendidikan Agama Islam untuk diterapkankan minimal di dalam sekolah dan terus dikembangkan.Fokus penelitian yang timbul adalah: (1) Nilai-nilai Pancasila apa yang diinternalisasikan melalui pendidikan agama Islam di SMK Negeri 1 Singosari (2) Bagaimana proses internalisasi Nilai-nilai Pancasila tersebut? (3) Apa saja dampak internalisasi Nilai-nilai Pancasila terhadap peserta didik?Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian etnografi. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Sedangkan analisis datanya menggunakan model interaktif dengan model: pengumpulan data, kondensasi data, data display, serta penarikan kesimpulan.Dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa: (1) Semua nilai-nilai yang ada di dalam Pancasila telah diinternalisasikan melalui mata pelajaran pendidikan agama Islam. Hal ini karena adanya banyak materi yang searah dengan nilai-nilai tersebut. Dan didukung dengan adanya budaya-budaya positif yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila. (2) Beberapa pendekatan yang biasa diterapkan oleh guru pendidikan agama Islam dalam menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila, diantarnya adalah pendekatan pembelajaran, pelatihan, fungsional, pembiasaan dan keteladanan. (3) Dampaknya dinilai telah membantu, khususnya terhadap pembentukan karakter peserta didik melalui perubahan tingkah laku mereka pada kehidupan sehari-hari di sekolah.Kata kunci: Internalisasi, Nilai-nilai Pancasila, Pendidikan Agama Islam AbstractThis research is motivated because the current state of the nation reflects that Pancasila is felt to have not been practiced directly. Even for a while, Pancasila seemed to only be a symbolic expression of the state without a clear implementation, both in state and social life. In addition, there are rampant brawls between students who have penetrated to the Greater Malang area. This is due to the low understanding of students about the values of Pancasila. So the internalization of Pancasila values by all subject teachers, including Islamic Religious Education, is very important to be implemented and continue to be developed in schools. The research focuses that arise are: (1) What Pancasila values are internalized through Islamic religious education at SMK Negeri 1 Singosari (2) What is the process of internalizing the Pancasila values? (3) What are the impacts of internalizing Pancasila values on students?The research approach used in this study is a descriptive qualitative approach with an ethnographic type of research. Methods of data collection using the method of observation, in-depth interviews and documentation. While the data analysis uses an interactive model with the following models: data collection, data condensation, data display, and drawing conclusions.From the results of the study, it was concluded that: (1) All the values contained in Pancasila have been internalized through Islamic religious education subjects. This is because there are many materials that are in line with these values. And supported by the existence of positive cultures that reflect the values of Pancasila. (2) Several approaches used by Islamic religious education teachers in internalizing the values of Pancasila, including learning, training, functional, habituation and exemplary approaches. (3) The impact is considered to have helped, especially in shaping the character of students through changes in their behavior in everyday life at school.Keywords: Internalization, Pancasila Values, Islamic Religious Education
Kiai dan Pengembangan Nilai-nilai Multicultural di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet Mojokerto saifuddin saifuddin
Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan Vol 2, No 2 (2020): AGUSTUS
Publisher : Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.802 KB)

Abstract

ABSTRACTMulticulturalism is highly relevant to Islam.  Multicultural values go alongside Islamic values.  The implementation and practice of multiculturalism in Islamic education has been running in the natural life of the pesantren community.  However, multiculturalism in pesantren cannot be separated from the participation of a kiai as the highest leader. This paper reveals the multicultural values found in the natural life of the pesantren community;  when the students study, in the dormitory, the Koran, when they eat, pray, read wirid and so on.  In addition, this paper reveals the existence of a kiai figure who is the actor behind the development of multicultural values.  Multicultural values are revealed by examining the daily life of students, which in the grounding of multicultural values runs naturally.  Behind all that, there are patterns or models developed by the kiai, namely;  building multicultural communities — avoiding sectarian conflicts — fostering moderate Islam and countering radical ideologies. Keywords: Kiai, Islamic Boarding School, Multicultural ValuesABSTRAKMultikulturalisme sesungguhnya sangat dekat dengan Islam. Nilai-nilai multicultural berjalan beriringan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Implementasi dan praktik multikulturalisme di dunia pendidikan Islam telah berjalan dalam kehidupan alamiah masyarakat pesantren. Namun, multikulturalisme di pesantren tidak dapat dipisahkan dari peran serta seorang kiai sebagai pimpinan tertinggi. Tulisan ini mengungkap nilai multikultural yang terdapat dalam kehidupan alamiah masyarakat pesantren; ketika santri belajar, di asrama, mengaji, ketika santri makan, shalat, membaca wirid dan sebagainya. Selain itu, tulisan ini mengungkap keberadaan sosok kiai yang menjadi aktor dibalik berkembangnya nilai multikultural. Nilai-nilai multicultural diungkap dengan menelisik kehidupan sehari-hari santri, yang dalam pembumian nilai-nilai multicultural berjalan dengan alami. Dibalik itu semua, terdapat pola atau model yang dikembangkan oleh kiai yaitu; membentuk komunitas multikultural—menghindari konflik sektarian—menumbuhkan Islam moderat dan menangkal ideologi radikal.Kata Kunci: Kiai, Pondok Pesantren, Nilai-nilai Multikultural
MEWUJUDKAN PENDIDIKAN JIHAD UNTUK MELAWAN TERORIS Muzamil Muzamil
Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan Vol 1, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.687 KB)

Abstract

Education is one of fields that determine the national personality. The good of the nation can be seen from the implementation of education that affects it. Antiterrorism jihad education is a way of forming and strengthening the thinking patterns and attitudes of students towards the belief development and religious understanding of a person or group of people. Such methods have to be educational activities that continue to be carried out wherever and whenever the potential for radicalism exists and develops. The influence of social environment or the network of local radicalism to global power can be muted or it is possible that it will fail to grow due to the ongoing anti-terrorism jihad education. Keywords: education, jihad, anti-terrorism, society, state  Pendidikan merupakan salah satu bidang yang menentukan kepribadian bangsa. Baik buruknya bangsa dapat dilihat dari penyelenggaraan pendidikan yang mempengaruhinya.  Pendidikan jihad anti terorisme merupakan cara membentuk dan menguatkan pola berfikir dan sikap subyek didik terhadap perkembangan aliran dan pemahaman keagamaan seseorang atau sekelompok orang. Cara demikian haruslah menjadi aktifitas edukatif yang bisa terus dijalankan dimanapun dan kapanpun  potensi radikalisme  ada dan berkembang. Pengaruh dari lingkungan pergaulan atau jaringan kekuatan radikalisme lokal hingga global dapat diredam atau kemunginan akan gagal tumbuh berkembang akibat  berlangsungnya pendidikan jihad anti terorisme. Kata kunci: pendidikan, jihad, anti terorisme, masyarakat, negara
KEPEMIMPINAN MASKURI DALAM MENGEMBANGKAN UNISMA MENUJU KAMPUS KELAS DUNIA Raudatul Jannah
Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan Vol 3, No 2 (2021): AGUSTUS
Publisher : Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.666 KB)

Abstract

AbstrakEsensi pemimpin sebagai orang pertama dan utama dalam sebuah organisasi sangat urgen, oleh karena itu perannya sangat menentukan sepak terjang suatu lembaga/organisasi yang dibawahinya. Tugas seorang pemimpin bukan hanya membuat kebijakan tetapi juga harus bisa mempengaruhi semua anggotanya untuk mewujudkan visi dan misi yang telah disepakati serta dapat mengayomi dan merangkul semua pihak untuk bisa menjalankan kebijakan yang sudah ditetapkan. Pemimpin ibarat pondasi bagi sebuah bangunan, apabila ia kuat maka apapun yang akan dibangun di atasnya akan kuat, sebaliknya apabila pondasi itu lemah maka bangunannya pun akan goyah. Untuk bisa melakukan perannya dengan tepat seorang pemimpin harus mempunyai jiwa kepemimpinan agar ia berhasil dalam membawahi dan mengayomi anggotanya.Kepemimpinan dipandang sangat penting karena dua hal, pertama adanya kenyataan bahwa pergantian pemimpin seringkali mengubah kinerja suatu unit, instansi atau organisasi; kedua, hasil penelitian bahwa salah satu faktor internal keberhasilan suatu organisasi adalah kepemimpinan. Dengan memiliki jiwa kepemimpinan diharapkan seorang pemimpin bisa mendorong gairah kerja anggota, menumbuhkan kepercayaan, membangkitkan motivasi serta dapat menanamkan rasa tanggung jawab mereka sehingga tujuan dan tugas berjalan dengan maksimal.Kata Kunci: Kepemimpinan, Kampus kelas Dunia. The essence of a leader as the first and foremost person in an organization is very urgent, therefore his role is very subtantial in determining the actions of an institution or organization that is under him. The task of a leader is not only to make policies but also to be able to influence all members to realize the vision and mission that has been agreed upon to protect and embrace all parties to be able to carry out the policies that have been determined. The leader is like a foundation for a building, if he is strong then whatever will be built on it will be strong. on the other hand, if the foundation is weak then the building will be shaky. To be able to carry out their role properly, a leader must have a leadership spirit so that he can succeed in supervising and protecting his members.Leadership is seen as very crucial for two reasons, first is the fact, the change of leaders often changes the performance of a unit, agency, or organization; second, the results of research which is one of the internal factors for the success of an organization is leadership. By having a leadership spirit, it is hoped that a leader can encourage members' work passion, foster trust, generate motivation and can instill a sense of their responsibility therefore goals and tasks can run optimally.Keywords: Leadership, World Class University 
PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN HAK ASUH ANAK (HADHANAH) KEPADA SUAMI DI PENGADILAN AGAMA KAB. MALANG NOMOR 1285/Pdt.G/2019/PA. KAB. MLG Muhammad Hambali
Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan Vol 2, No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.83 KB)

Abstract

The author wishes to know the judge's considerations that make child custody holders (hadhanah) to her husband based on child protection law number 23 of 2003, Compilation of Islamic Law Article 105 letter a in several laws that it is the mother who is more entitled to babysit. a mother takes care of the child before the age of baliq or age 12 years, the panel of judges who try, examine the hadhanah claim, the decision of the Malang district religious court gives Hadhanah to the husband for the sake of the child based on the case ruling 1285 / Pdt.G / 2019 / PA.Kab Mlg. A research result shows that the judgment of the judges' most fundamental consideration is to think about the best interests of the child. Through the efforts of the judges to examine witnesses who know the social life of the child custody holder. Islamic law puts forward those who will make child custody holders are those who are responsible for carrying out as a present. Even though mothers have more rights in childcare, they are not yet mumayyiz, if they cannot take responsibility, custody can be given to their husbands for their children's interests.Keywords: Judges' Considerations, Hadhanah, VerdictPenulis berkeinginan untuk mengetahui pertimbangan hakim yang menjadikan pemegang hak asuh anak (hadhanah) kepada suami berdasarkan undang-undang perlindungan anak nomor 23 tahun 2003, Kompilasi Hukum Islam Pasal 105 huruf a dalam beberapa undang-undang bahwasanya ibu lah yang kebih berhak mengasuh anak. seorang ibu menjaga anak sebelum usia baliq atau umur 12 tahun, majelis hakim yang mengadili, memeriksa terhadap gugatah hadhanah, putusan majelis pengadilan agama kabupaten malang memberikan Hadhanah kepada suami demi kepentingan anak berdasarkan amar putusan perkara 1285/Pdt.G/2019/PA.Kab.Mlg. sebuah Hasil penelitian menunjukkan bahwa putusan pertimbangan majelis hakim paling fundamental adalah memikirkan  kepentingan terbaik bagi anak. Melalui upaya-upaya majelis hakim memeriksa saksi-saksi yang mengetahui kehidupan sosial pemegang hak asuh anak. Hukum islam mengedepankan orang-orang yang akan menjadikan pemegang hak asuh anak adalah orang yang bertanggung jawab untuk melaksanakan sebagai hadin. Meskipun ibu lebih berhak dalam pengasuhan anak belum mumayyiz, apabila tidak bisa bertanggung jawab maka hak asuh dapat diberikan kepada suami untuk kepentingan anak.Kata kunci: Pertimbangan Hakim, Hadhanah, Putusan
GERAKAN POSYANDU REMAJA (GPR) SEBAGAI UPAYA KETAHANAN KELUARGA Zainal Anwar
Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan Vol 3, No 2 (2021): AGUSTUS
Publisher : Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.092 KB)

Abstract

 AbstrakSalah satu tantangan terbesar oleh keluarga ialah menghadapi kenakalan remaja. Modal dasar pencegahan kenakalan remaja ialah ilmu pengetahuan dalam membina akhlak remaja. Melalui Gerakan Posyandu Remaja, pembinaan akhlak remaja di kelurahan Tanjungrejo kota Malang dapat tercipta sebagai upaya ketahanan keluarga. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembinaan akhlak remaja melalui GPR sebagai upaya peningkatan ketahanan keluarga. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui metode wawancara, dokumentasi, dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pembinaan akhlak remaja melalui GPR di Pos Bina Rohani berupa akhlak kepada Allah, akhlak pada sesama manusia, dan lingkungan. Pembinaan akhlak kepada Allah dengan melatih tata cara sholat, mengaji, tadarusan disertai dengan kegiatan ceramah agama serta menghafal asmaul husna. Akhlak kepada sesama manusia melalui ceramah agama guna mempererat tali silahturahmi. Kegiatan nasyid dan rabana berfungsi belajar bekerja sama dalam menyalurkan pendapat dan ide-ide mereka. Selain itu, pada hari minggu pagi diadakan olahraga seperti jogging agar mereka bertambah semangat kembali menjaga imun untuk mencegah covid. Akhlak terhadap lingkungan adanya kerja bakti, gotong royong membersihkan masjid, menjaga kerapian seperti buku iqro’, yasin, dan Al-Quran. Faktor pendukung dalam pembinaan akhlak remaja di GPR adalah adanya bimbingan yang tekun oleh penyuluh agama Islam dalam mensukseskan GPR.Kata kunci: Akhlak Remaja, GPR, Ketahanan Keluarga   AbstractOne of the biggest challenges for families is dealing with juvenile delinquency. The basic capital for preventing juvenile delinquency is knowledge in fostering adolescent morals. Through the called “Gerakan Posyandu Remaja (GPR)”, youth moral development in the Tanjungrejo village, Malang city can be created as an effort to family resilience. The purpose of this study was to describe the development of adolescent morals through GPR as an effort to increase family resilience. This study uses a qualitative desciptives method and data collection techniques through observation, interviews and documentation. The results of this study indicate that Adolescent moral development through GPR at Pos Bina Rohani is in the form of morals to God, morals to fellow humans, and the environment. Moral development to Allah by practicing the procedures for praying, reading the Al-Qur’an, it means “tadarusan” is equipped with religious lectures and memorizing Asmaul Husna. Morals to others include religious lectures aimed at strengthening friendship. The rabana and nasyid activities aim to learn to work together in channeling their opinions and ideas, on Sunday mornings, sports such as jogging are held so that they get more enthusiastic about maintaining their immunity to prevent covid. Morals towards the environment include community service, mutual cooperation in cleaning mosques, maintaining neatness such as Yasin books, Iqro’, and Al-Qur’an. The supporting factor in fostering youth morals in GPR is the diligent guidance by Islamic religious educators in making GPR successful. Keywords: morals for youth, GPR, family resilience
STRATEGI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA ISLAM Miftachul Huda
Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan Vol 3, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.695 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan: (1) Perencanaan penguatan pendidikan karakter, (2) Pelaksanaan penguatan pendidikan karakter (3) Evaluasi penguatan pendidikan karakter berbasis pendidikan agama Islam Malang di SMA Islam Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, baik melalui wawancara, observasi maupun dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru PAI, guru mata pelajaran umum, guru bimbingan karier (BK), karyawan, siswa dan Alumni SMA Islam Malang. Penelitian menggambarkan bahwa: (1) Kepala sekolah dan pimpinan serta guru agama melakukan persiapan perencanaan penguatan pendidikan karakter (2) Kepala sekolah dan pimpinan serta guru agama melakukan pengamatan dengan menggunakan lembaran observasi untuk merekam dan menjaring data pada pelaksanaan   penguatan pendidikan karakter (3) Kepala sekolah dan pimpinan serta guru agama membangun kerja sama untuk merealisasikan strategi  penguatan pendidikan karakter berbasis pendidikan agama Islam di SMA Islam Malang.Kata Kunci : Strategi, Pendidikan, Karakter
PANDANGAN FUQOHA’ TENTANG PUTUS KHITBAH (Studi Komparasi Antar Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah Dan Hanabilah) faris el amin
Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan Vol 1, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Turatsuna : Jurnal Keislaman dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.742 KB)

Abstract

Fuqoha 'four schools have different opinion on law of breaking up khitbah and the main cause of this difference was due to differences in understanding the text and rules of covenant fiqh and the absence of the qath'i text on this issue. Fuqoha four schools also differed regarding the status of the goods given before breaking the khitbah and the researchers prioritized the opinion of Malikiyah which distinguishes between the parties decide from both sides. Keywords: Fuqoha, breaking up khitbah, marriage  Fuqoha’ empat madzhab berbeda pendapat tentang hukum putus khitbah dan penyebab utama perbedaan ini dikarenakan perbedaan dalam memahami nash dan kaidah fiqih perjanjian serta tidak adanya nash yang qath’i dalam masalah ini. Fuqoha empat madzhab juga berbeda pendapat mengenai status barang-barang yang diberikan sebelum putus khitbah dan peneliti mengutamakan pendapat Malikiyah yang membedakan antara ketika yang memutus dari dua belah pihak. Kata kunci: Fuqoha, putus khitbah, perkawinan