cover
Contact Name
ROBERT PURBA
Contact Email
jurnalpneumatikos@stapin.ac.id
Phone
+6281329494800
Journal Mail Official
jurnalpneumatikos@stapin.ac.id
Editorial Address
Linkungan Pasir Asih No. 802-821 RT. 03 RW. 10 Majalengka 45411
Location
Kab. majalengka,
Jawa barat
INDONESIA
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi/Kependetaan
ISSN : 22524088     EISSN : 26858002     DOI : https://doi.org/10.56438
PNEUMATIKOS merupakan wadah untuk memublikasikan hasil penelitian teologi, baik penelitian literatur maupun lapangan, yang dilakukan oleh para dosen Sekolah Tinggi Teologi STAPIN Majalengka dan STT lain di seluruh Indonesia. Focus dari Jurnal ini ialah: Biblika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) Dogmatika Kristen Historika Gereja Pentakostalisme Teologi Praktika
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 66 Documents
Keselamatan dalam Persimpangan Tafsir: Kritik Historis dan Refleksi Teologis atas Isu-Isu Soteriologi Christian Bayu Marhendra
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan Vol. 16 No. 1: Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56438/pneuma.v16i1.145

Abstract

The doctrine of salvation is one of the central teachings in Christianity. The entire message of the Gospel essentially proclaims salvation for sinners through the redemptive blood of Christ. However, throughout church history, differing interpretations of Scripture have led to theological disputes regarding this doctrine. Soteriological controversies notably emerged in the 4th century through the debate between Augustine and Pelagius, and continued during the Protestant Reformation initiated by Martin Luther. These debates intensified as followers of Calvinism and Arminianism defended their respective understandings of salvation. This study aims to examine the historical and theological dynamics of the doctrine of salvation. The research employs a qualitative descriptive method with a literature review approach. Data are collected through the analysis of theological literature, empirical sources, and previously published scholarly works related to soteriological issues. This study is expected to provide a comprehensive understanding of the development and debates surrounding the doctrine of salvation throughout church history.
Analisis eksegetis 1 Kor. 13:4 mengenai makna kasih dalam frasa tidak memegahkan diri dan tidak sombong Kariani Giawa; Aji Suseno
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan Vol. 16 No. 2: Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil (STAPIN) Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56438/pneuma.v16i2.149

Abstract

This study presents an exegetical analysis of the phrases “does not boast” (περπερεύεται) and “is not arrogant” (φυσιόω) in 1 Corinthians 13:4. Through linguistic and contextual analysis, it distinguishes two dimensions of pride: perpereuetai denotes external, boastful behavior seeking public recognition, while physioō refers to an internal attitude of superiority. The findings reveal Paul’s intentional critique of self-centered spirituality in the honor-driven Corinthian community. Theologically, love (ἀγάπη) emerges as a transformative principle grounded in Christ’s humility. This study offers relevant insights for contemporary churches navigating digital-age tendencies toward self-promotion and spiritual narcissism.
Peran Orang Tua Dalam Pembentukan Karakter Disiplin, Bertanggung Jawab, Dan Jujur Pada Generasi Alpa Berdasarkan 2 Timotius 3:14-16 Asta Becina Bayfeto; Herminayu; Verry Willyam
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan Vol. 16 No. 2: Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil (STAPIN) Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56438/pneuma.v16i2.151

Abstract

Orang tua berperan sentral dalam penanaman nilai dan karakter disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran pada generasi alfa berdasarkan nilai-nilai Alkitabiah dalam 2 Timotius 3:14–16. Generasi Alfa, yaitu anak-anak kelahiran setelah 2010, hidup dalam konteks era digital yang berkembang pesat sehingga menghadirkan tantangan tersendiri dalam pendidikan karakter di dalam keluarga Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi cara orang tua menerapkan nilai-nilai Alkitabiah tersebut, menganalisis efektivitasnya dalam membentuk karakter anak, serta merancang model pendidikan karakter berbasis Alkitab yang relevan dengan karakteristik generasi Alfa. Pendekatan kajian yang diterapkan adalah mengadopsi metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh keluarga Kristen yang terlibat aktif dalam pelayanan Sekolah Minggu di Gereja PIBI Jemaat Filadelfia Banan Laek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran Alkitab sejak dini, keteladanan hidup orang tua, serta penerapan pendidikan karakter yang konsisten melalui disiplin dengan kasih, pembiasaan tanggung jawab melalui tugas harian, dan kejujuran melalui teladan nyata terbukti efektif dalam membentuk karakter anak.
Konseling pastoral dalam membangun karakter kejujuran: Psikospiritualitas dalam bingkai iman Kristen Yefta Yan Mangoli; Lie Ja Hwe
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan Vol. 16 No. 2: Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil (STAPIN) Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56438/pneuma.v16i2.152

Abstract

Penelitian ini membahas kejujuran sejati sebagai salah satu nilai moral dan spiritual yang fundamental dalam kehidupan manusia, dengan fokus pada relasi dengan Tuhan. Masalah utama yang diangkat adalah tingginya tingkat ketidakjujuran dalam kehidupan sosial dan bagaimana kejujuran yang autentik dapat diwujudkan melalui pengalaman iman yang mendalam. Urgensi penelitian ini terletak pada pemahaman kejujuran tidak hanya sebagai norma etis, tetapi sebagai hasil dari hubungan spiritual yang otentik dengan Allah, yang selama ini kurang mendapat perhatian. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi perspektif teologis, psikologis, dan konseling pastoral untuk menggambarkan kejujuran sebagai panggilan holistik yang menghubungkan aspek pribadi, relasional, dan komunitas dalam kehidupan iman. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif, yang mencakup sumber-sumber Alkitab, teori perkembangan moral, dan praktik konseling pastoral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejujuran sejati mencerminkan karakter Allah yang terwujud melalui transformasi Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Kejujuran ini bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga ekspresi iman yang mendalam, yang memungkinkan integritas hidup dan pemulihan dalam konseling pastoral serta menjadi kesaksian profetis dalam gereja dan masyarakat.
Teologi Etika tentang kerukunan dan moderasi beragama dalam konteks Indonesia: Indonesia Sahat Lambok Sihombing; Otieli Harefa
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan Vol. 16 No. 2: Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil (STAPIN) Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56438/pneuma.v16i2.154

Abstract

Penelitian ini merekonstruksi teologi etika kerukunan dan moderasi beragama di Indonesia sebagai refleksi normatif-kritis, bukan sekadar instrumen kebijakan publik. Menggunakan metode kualitatif studi kepustakaan, studi ini mengintegrasikan teologi lintas agama dengan Teologi Pancasila dan Trilogi Kerukunan sebagai basis normatif moderasi beragama. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai universal seperti martabat manusia, keadilan, dan kasih merupakan fondasi etis bagi kerukunan berkelanjutan. Teologi Pancasila diposisikan sebagai teologi publik inklusif yang menjembatani iman dan kehidupan berbangsa. Penelitian menyimpulkan bahwa moderasi beragama harus dipahami sebagai praksis teologis transformatif yang melampaui harmoni formal menuju pembelaan keadilan sosial. Studi ini berkontribusi pada pengembangan etika teologis kontekstual untuk memperkuat kerukunan di tengah tantangan intoleransi.
Konsistensi dalam pelayanan belajar dari keteladanan rasul Paulus menurut 2 Korintus 6:1-10 Aprianus Simanungkalit
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan Vol. 16 No. 2: Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil (STAPIN) Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56438/pneuma.v16i2.155

Abstract

Penelitian ini mengkaji makna dan relevansi konsistensi dalam pelayanan Kristen berdasarkan keteladanan Rasul Paulus dalam 2 Korintus 6:1-10. Dengan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan eksegetis-hermeneutik, hasil penelitian menunjukkan bahwa konsistensi Paulus termanifestasi melalui ketekunan paradoksal di tengah penderitaan, yang didasarkan pada kesetiaan pada kasih karunia Allah. Faktor internal dan eksternal yang memengaruhi konsistensi pelayanan juga dianalisis. Kajian ini menyimpulkan bahwa teladan Paulus memberikan paradigma pelayanan yang relevan untuk memperkuat ketahanan dan integritas pelayan Tuhan masa kini.
Militansi pelayan Kristus: Dasar pembentukan pemimpin dan Gereja yang tangguh di era digital Markus Kusni
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan Vol. 16 No. 2: Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil (STAPIN) Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56438/pneuma.v16i2.156

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran militansi pelayan Kristus—yang dimaknai sebagai keteguhan iman, disiplin rohani, kesetiaan pelayanan, dan keberanian moral—dalam membentuk kepemimpinan dan gereja yang tangguh di era digital. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui kajian literatur dan refleksi kontekstual atas realitas gereja Indonesia, penelitian mengidentifikasi tantangan utama seperti banjir informasi, budaya populer yang sekuler, serta kebutuhan pemimpin yang cakap digital dan kokoh spiritual. Hasil penelitian menunjukkan militansi relevan sebagai solusi atas krisis kepemimpinan yang ditandai integritas lemah, pragmatisme pelayanan, dan disiplin rohani yang rendah. Gereja yang tangguh di era digital berhasil mengintegrasikan militansi iman dengan inovasi digital, menjadikan teknologi bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang spiritual bagi persekutuan dan misi. Simpulan penelitian menegaskan bahwa pembentukan pemimpin dan gereja di Indonesia perlu mengintegrasikan disiplin spiritual, literasi digital, dan kepemimpinan transformatif. Kontribusi penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pengembangan teologi praktis dalam konteks Indonesia serta wacana akademik global tentang kepemimpinan Kristen di era digital.
Efektivitas Komunikasi Organisasi dalam Kepemimpinan Menurut Keluaran 18:17–27 dan Implikasinya bagi Pelayanan Jemaat GPdI Betania Sidoarjo Danny Jekson Kalangie; Jefri Wungow
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan Vol. 17 No. 1: Juli 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil (STAPIN) Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56438/pneuma.v17i1.159

Abstract

This study is motivated by the occurrence of miscommunication, limited understanding of organizational communication, and suboptimal delegation in congregational ministry at GPdI Betania Sidoarjo. The aim of this study is to analyze the effectiveness of organizational communication in leadership based on Exodus 18:17–27 and its implications for congregational ministry. The method used is descriptive qualitative, with primary data obtained from interviews with church administrators, and ministry workers, and secondary data derived from the Bible and academic literature. The results show that ineffective communication and leadership lead to unintegrated ministry practices. In conclusion, the effectiveness of ministry is largely determined by the implementation of clear organizational communication and delegation-based leadership in accordance with biblical principles.
Pengharapan Kosmis Dan Pneumatology dalam Penderitaan: Analisis Eskatologi “Sudah dan Belum” Roma 8:18-30 Wenny Kartika Susanto
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan Vol. 17 No. 1: Juli 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil (STAPIN) Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56438/pneuma.v17i1.162

Abstract

Faith in Jesus Christ constitutes the foundation of justification and salvation in Christianity. Nevertheless, believers continue to live within the reality of a world that remains under the influence of sin. This article aims to examine cosmic hope and the role of the Holy Spirit in suffering through the framework of the "already and not yet" eschatology in Romans 8:18–30. The study employs a qualitative method with a biblical exegetical approach, utilizing grammatical and theological analyses of the key terms within the passage. The findings indicate that Paul understands Christ's redemptive work as having secured victory over sin and inaugurated the reality of salvation, while its ultimate fulfillment still awaits the restoration of all creation at the end of the age. During this period of anticipation, suffering is understood as an integral part of the process leading to the future revelation of glory. The Holy Spirit functions as the mediator, helper, and guarantee of the eschatological inheritance, sustaining the faith of believers and directing them toward enduring hope. Therefore, the concept of the "already and not yet" eschatology demonstrates that Paul's understanding of cosmic hope and pneumatology provides a theological foundation for perseverance, hope, and Christian living amid suffering.
Analisis naratif tindakan Yesus mengusir roh jahat di Gerasa dalam perspektif etika Utilitarianisme Romasi Maska Hutagalung
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan Vol. 17 No. 1: Juli 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil (STAPIN) Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56438/pneuma.v17i1.184

Abstract

The account of Jesus casting out Legion in Mark 5:1–20 is generally understood as a narrative of deliverance. However, Jesus' action, which resulted in the death of a herd of pigs, also raises ethical questions concerning its consequences for the various parties involved. This study aims to analyze the narrative through a dialogue between narrative criticism and utilitarian ethics. Employing a qualitative method with an interdisciplinary approach, the study uses narrative criticism to examine the narrative structure, characterization, conflict, and consequences of Jesus' action, while the principles of utility developed by Jeremy Bentham and John Stuart Mill are employed to evaluate those consequences from a utilitarian perspective. The findings reveal that Jesus' action generated significant utility for the individual who was restored, while simultaneously causing economic loss and rejection from the community. These findings suggest that utilitarianism helps explain the moral tension embedded in the narrative but is insufficient to fully account for the theological significance of Jesus' action, which centers on liberation, restoration, and the manifestation of the authority of the Kingdom of God.