cover
Contact Name
-
Contact Email
historia@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
historia@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung C5 Lantai 1 Sekaran Gunungpati Semarang 50229 Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Historia Pedagogia
ISSN : 2301489X     EISSN : 26849771     DOI : https://doi.org/10.15294/hp
Core Subject : Education,
This journal contains manuscripts from research or conceptual articles in the field of historical education, including studies of the history of historical education, historical education policies, processual aspects of historical learning, and learning innovations.
Articles 40 Documents
Agresi Militer Belanda I Dalam Perspektif Sejarah Lokal Untuk Pembelajaran Sejarah di SMA Dumadi, Slamet; Romadi, Romadi
Historia Pedagogia Vol 12 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/hisped.v12i1.68726

Abstract

Pembelajaran sejarah akan menarik perhatian peserta didik manakala dapat memberikan keberartian terhadap topik yang sedang dibahas. Salah satu strategi yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan mengaitkan dan ”membidik” materi dari sisi sejarah lokal atau kedaerahan. Peristiwa-peristiwa yang jauh dalam pemahaman peserta didik didekatkan oleh guru dengan tinggalan yang terdapat di daerah sekitar. Materi sejarah tentang Mempertahankan Kemerdekaan dan Agresi Militer Belanda di kelas XI semester 1 dapat diupayakan oleh guru dengan tinjauan Sejarah Lokal. Langkah yang dapat dilakukan oleh seorang guru agar dapat melakukan ini adalah memperbanyak literasi dengan membaca dan menggali informasi dari orang-orang di lingkungan sekitar, karena dimungkinkan peristiwa-peristiwa itu belum tertulis pada buku-buku paket. Dengan strategi ini peserta didik akan merasakan keberartian dan sekaligus memberikan kebanggaan terhadap daerahnya. Kata Kunci: mempertahankan kemerdekaan, agresi militer, sejarah lokal The teaching of history will capture the attention of students when it can provide significance to the topics being discussed. One strategy that teachers can employ is by connecting and “targeting” the material from a local or regional historical perspective. Distant events that may be difficult for students to grasp are brought closer by the teacher through artifacts found in the surrounding area. The history curriculum on the Defense of Independence and Dutch Military Aggression in the first semester of eleventh grade can be approached by teachers with a focus on Local History. To accomplish this, a teacher can increase literacy by reading and gathering information from individuals in the local community, as it is possible that these events have not been documented in textbooks. Through this strategy, students will experience the significance of the subject matter and simultaneously develop pride in their region. Keywords: defense of independence, military aggression, local history
Inovasi Media Pembelajaran Sejarah Lokal Ki Gede Sebayu Melalui Platform TikTok Septiyaningsih, Imada Cahya; Waskito, Hibatullah Habil
Historia Pedagogia Vol 12 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/hisped.v12i1.68755

Abstract

Kabupaten Tegal memiliki cukup banyak peristiwa masa lampau yang bersemayam di dalamnya. Namun sayangnya, kini banyak generasi muda yang belum mengetahui mengenai sejarah lokal yang berada di daerahnya, sehingga nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalam sejarah masih belum tersampaikan secara maksimal. Dalam pembelajaran sejarah, khusunya mengenai Ki Gede Sebayu, erat kaitannya dengan pendidikan karakter, sehingga dengan mempelajari sejarah Ki Gede Sebayu harapannya dapat menyampaikan nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya. Namun, anggapan bahwa belajar sejarah itu membosankan masih sering ditemui di sebagian generasi muda, sehingga hal ini bisa yang kerap menjadi penghambat generasi muda untuk mempelajari sejarah Ki Gede Sebayu. Maka dari itu, Penulis ingin membuat sebuah inovasi pembelajaran sejarah yang lebih menarik. Berdasarkan konteks permasalahan yang dikaji peneliti, penelitian ini menggunakan metode kualitatif berdasarkan kajian kepustakaan serta bersifat eksploratif dan evaluatif. Penelitian eksploratif dilakukan dengan tujuan mengetahui informasi yang lebih jauh dan lebih dalam mengenai sejarah Ki Gede Sebayu yang akan diimplementasikan dalam platform TikTok. Hasil dari inovasi media pembelajaran tersebut dapat memotivasi peserta didik untuk mempelajari sejarah lokal Ki Gede Sebayu. Kata kunci: sejarah lokal, pendidikan karakter, platform TikTok Tegal Regency has a rich history with numerous past events embedded within it. Unfortunately, many young people are currently unaware of the local history in their area. As a result, the valuable lessons and wisdom encompassed in this history are not being optimally conveyed. Learning about history, particularly regarding Ki Gede Sebayu, is closely intertwined with character education. By studying the history of Ki Gede Sebayu, it is hoped that the character values embedded therein can be effectively communicated. However, the notion that studying history is boring remains prevalent among some of the younger generation, thereby hindering their exploration of Ki Gede Sebayu's history. Consequently, the authors aim to introduce a more captivating approach to history education. In accordance with the research problems, this study employs qualitative methods based on a literature review, encompassing exploratory and evaluative aspects. The exploratory research phase was conducted to gather comprehensive and in-depth information about the history of Ki Gede Sebayu, which will be implemented on the TikTok platform. The outcome of this innovative learning media is expected to motivate students to engage with the local history of Ki Gede Sebayu. Keywords: local history, character education, TikTok platform
Penanaman Nilai-Nilai Ketokohan Soekarno dalam Pembelajaran Sejarah di SMA Kesatrian 1 Semarang Nikmah, Isma Nurfaizatin; Atmaja, Hamdan Tri
Historia Pedagogia Vol 12 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/hisped.v12i1.57227

Abstract

Penanaman nilai merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran sejarah. Melalui penanaman nilai, kita dapat membentuk kepribadian bangsa yang unggul dan berkarakter. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menggali peran guru dalam menanamkan nilai-nilai kepemimpinan Soekarno, mengingat memori siswa tentang kepemimpinan Soekarno, dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari di SMA Kesatrian 1 Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran guru dalam menanamkan nilai-nilai kepemimpinan Soekarno dapat dilihat dari segi pengetahuan yang disampaikan melalui ceramah dan penayangan video, nilai-nilai yang ditanamkan pada siswa, media yang digunakan, serta metode dan evaluasi pembelajaran. Salah satu memori siswa yang paling diingat tentang Soekarno adalah perannya sebagai proklamator. Namun, pada era liberal, siswa sulit mengingat kepemimpinan Soekarno, namun mereka mengingat tentang demokrasi terpimpin di mana Soekarno memiliki kekuasaan penuh. Nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari termasuk kepemimpinan yang tegas dan bijaksana, semangat nasionalisme yang ditunjukkan melalui partisipasi dalam upacara, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sikap sosial yang tinggi seperti toleransi, menghargai pendapat orang lain, dan tidak egois. Saran bagi para guru adalah memberikan pengetahuan kepada siswa yang tidak hanya terfokus pada satu topik, melakukan evaluasi terhadap materi yang diajarkan, menyediakan fasilitas ruang sejarah di sekolah, dan mendorong siswa untuk meningkatkan literasi membaca materi sejarah. Kata kunci: penanaman nilai, ketokohan Soekarno, pembelajaran sejarah The cultivation of values is an important aspect of history education. By instilling values, it can contribute to shaping the nation's character and fostering superior individuality. The purpose of this writing is to explore the role of teachers in instilling the values of Soekarno's leadership, students' memory of Soekarno's leadership, and the implementation of these values in daily life at SMA Kesatrian 1 Semarang. The method used in this study is the qualitative descriptive method. The research findings indicate that the role of teachers in instilling the values of Soekarno's leadership can be seen through aspects such as knowledge conveyed through lectures and video presentations, the values instilled in students, the media used, and the teaching methods and evaluation. The most remembered memory of students about Soekarno is his role as the proclaimer of independence. However, in the liberal era, students cannot recall Soekarno's leadership, but they do remember the guided democracy period when Soekarno had full authority. The values that can be implemented in daily life include firm and wise leadership, nationalism manifested through participating in ceremonies, singing the Indonesian national anthem, and having a high sense of social spirit displayed through tolerance, respect for opinions, and lack of selfishness. Suggestions for teachers include providing students with knowledge that goes beyond a single topic, evaluating the taught material, schools providing historical spaces, and students enhancing their literacy in reading historical materials. Keywords: values cultivation, Soekarno’s leadership, history learning
Pengaruh Model Discovery Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Materi Manusia dan Sejarah Kelas X IPS di MA Al Asror Tahun Pelajaran 2022/2023 Ainiyyah, Zahra Fitri; Saraswati, Ufi
Historia Pedagogia Vol 12 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/hisped.v12i1.65118

Abstract

Kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan hasil belajar adalah sebagian hasil yang dicapai. Model pembelajaran discovery learning menekankan pada peserta didik untuk belajar mencari dan menemukan sendiri suatu konsep permasalahan yang ada dalam pembelajaran. Adapun dalam berpikir kritis dapat diterapkan melalui materi pelajaran yang sudah disiapkan. Proses memecahkan masalah diperlukan waktu dan juga melewati tahapan, yaitu pendidik harus mengenali tiap unsur permasalahan dalam materi, sehingga diperoleh hasil yang maksimal. Tujuan penelitian ini yaitu untuk: mengetahui penerapan model discovery learning pembelajaran dalam materi manusia dan sejarah di MA Al Asror, untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa dalam materi manusia dan sejarah di MA Al Asror, untuk mengetahui pengaruh model discovery learning terhadap kemampuan berpikir siswa dalam materi manusia dan sejarah di MA Al Asror. Hasil menunjukkan bahwa hipotesis yang dilakukan pada uji bahwa penggunaan model pembelajaran discovery learning ditinjau lebih efektif daripada menggunakan metode ceramah. Selain itu, pembelajaran ini digunakan untuk memperhatikan cara berpikir kritis dalam meningkatkan mutu pembelajaran sejarah. Kata Kunci: model pembelajaran discovery learning, pembelajaran sejarah, berpikir kritis Learning activities are a process, while learning outcomes represent the results achieved. The discovery learning model emphasizes students' ability to independently find and understand concepts related to the problems encountered in their learning. Critical thinking skills can be fostered through well-prepared subject matter. The process of problem-solving requires time and involves various stages, during which educators must recognize each element of the problem within the material to ensure optimal results. The objectives of this study are as follows: 1) To examine the application of the discovery learning model in teaching Human and History subjects at MA Al Asror; 2) To assess students' critical thinking skills in the context of Human and History subjects at MA Al Asror; 3) To investigate the impact of the discovery learning model on students' thinking abilities in Human and History subjects at MA Al Asror. The results of the study indicate that, compared to the lecture method, the use of the discovery learning model was found to be more effective. Furthermore, this approach enhances the quality of historical learning by promoting critical thinking skills. Keywords: discovery learning model, history learning, critical thinking
Kreativitas Guru Sejarah dalam Mengembangkan Media Pembelajaran pada SMA Negeri 1 Karangtengah dan SMA Negeri 1 Mranggen sebagai Sekolah Penggerak di Kabupaten Demak Khasanah, Nur Aini; Purnomo, Arif
Historia Pedagogia Vol 12 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/hisped.v12i1.58931

Abstract

Kemampuan lebih dari seorang guru dituntut dalam pembelajaran ketika sekolah itu ditetapkan sebagai Sekolah Penggerak karena manajemen yang dilakukan oleh sekolah itu lebih dibandingkan dengan sekolah lain. Guru harus bisa menggunakan dan mengembangkan media pembelajaran sejarah dengan kreativitas yang dimiliki agar pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui media pembelajaran sejarah yang digunakan guru (2) menganalisis pengembangan media pembelajaran sejarah (3) menganalisis kendala-kendala yang dihadapi guru sejarah dalam mengembangkan media pembelajaran di SMA N 1 Karangtengah dan SMA N 1 Mranggen sebagai Sekolah Penggerak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan strategi studi kasus. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa bahwa (1) Dalam penggunaan media guru sejarah memperhatikan beberapa kriteria dalam pemilihan media yang akan digunakan (2) kreativitas guru sejarah dalam pengembangan media pembelajaran dilakukan dengan mencari di internet serta dengan dua pola yaitu pola sendiri dan pola kelompok. Media yang digunakan dalam pembelajaran sejarah mempunyai banyak manfaatnya (3) Kendala-kendala yang dialami dalam menggunakan media pembelajaran adalah sarana prasarana yang kurang mendukung, serta kendala-kendala dalam pengembangan media adalah waktu, penyesuaian media dengan karakteristik siswa, dan faktor keterbatasan penggunaan teknologi. Kata kunci: pengembangan media pembelajaran, pembelajaran sejarah, Sekolah Penggerak The ability of a teacher is demanded more in learning when the school is designated as a "Sekolah Penggerak" (Driving School) due to its management being more advanced compared to other schools. Teachers must be able to use and develop historical learning media with their creativity so that learning can be achieved to the maximum extent. The objectives of this research are (1) to identify the historical learning media used by teachers, (2) to analyze the development of historical learning media, and (3) to analyze the challenges faced by history teachers in developing learning media at SMA N 1 Karangtengah and SMA N 1 Mranggen as Sekolah Penggerak. The research method used is a qualitative method with a case study strategy. The results of the research show that (1) History teachers consider several criteria in selecting media for their use, (2) the creativity of history teachers in developing learning media is done by searching on the internet and using two patterns: individual pattern and group pattern. The media used in historical learning has many benefits, (3) The challenges experienced in using learning media are the lack of supportive facilities and infrastructure, and the challenges in media development are related to time, adjusting the media to the students' characteristics, and limited use of technology. Keywords: learning media development, historical learning, Sekolah Penggerak
Penanaman Nilai-Nilai Sejarah Lokal Kabupaten Kudus Dalam Pembelajaran Sejarah di SMA NU Al Ma’ruf Kudus Rofiqoh, Anna; Atmaja, Hamdan Tri
Historia Pedagogia Vol 12 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/hisped.v12i2.56863

Abstract

Pemaparan sejarah lokal dapat menjembatani peserta didik dalam memahami peristiwa sejarah di masyarakat sekitar dan menunjang minat peserta didik terhadap pembelajaran sejarah. Tujuan dari penulisan ini adalah mendeskripsikan cara guru menanamkan nilai- nilai kesejarahan Kabupaten Kudus kepada siswa, mendeskripsikan memori siswa terhadap kesejarahan Kabupaten Kudus, dan menganalisis sejauh mana kesadaran sejarah siswa terhadap peninggalan-peninggalan sejarah Kabupaten Kudus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan lokasi penelitian ini di SMA NU Al Ma’ruf Kudus. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa dalam menanamkan nilai-nilai sejarah lokal kabupaten Kudus, strategi awal yang dipakai guru adalah menarik minat siswa terlebih dahulu dan memberikan pengetahuan-pengetahuan meliputi tokoh penyebar agama Islam di Kudus, dakwah dan ajarannya, serta peninggalan kesejarahan di Kudus. Ingatan siswa terhadap kesejarahan lokal kabupaten Kudus identik dengan kesejarahan Islam. Siswa yang merupakan anak pondok pesantren lebih paham akan nilai toleransi dengan memahami makna larangan penyembelihan sapi sebagai ajaran yang berkembang di Kudus saat masuknya Islam, dan siswa lainnya cukup mengetahui tokoh penyebar agama Islam di Kudus dan cara dakwah setiap tokoh tersebut. Kata Kunci: Nilai Sejarah Lokal, Memori Siswa, Kesadaran Sejarah Exposure to local history can help students bridge their understanding of historical events in the surrounding community and foster their interest in learning history. The purpose of this paper is to describe how teachers instill historical values in Kudus Regency among students, delineate students' memories of the history of Kudus Regency, and analyze the extent of students' historical awareness regarding the historical heritage of Kudus Regency. This study employs a descriptive qualitative approach, with the research conducted at SMA NU Al Ma'ruf Kudus. The findings of this paper suggest that, in instilling local historical values in Kudus district, the initial strategy employed by teachers is to capture students' interest first and then provide knowledge, including information about key figures who spread Islam in Kudus, da'wah, teachings, and historical heritage in Kudus. Students' memory of the local history of Kudus district is closely associated with Islamic history. Children from Islamic boarding schools, in particular, have a better understanding of the value of tolerance, as they grasp the meaning behind the prohibition of slaughtering cows—a teaching that originated in Kudus when Islam entered the region. Other students are familiar with the figures who spread Islam in Kudus and the methods employed by each of these figures in their preaching. Keywords: Local history value, student memory, historical awareness
Peranan Pembelajaran Sejarah dalam Penanaman Pendidikan Karakter Religius pada Siswa MA Darul Amanah Satrio, Arianto Adi; Atno, Atno
Historia Pedagogia Vol 12 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/hisped.v12i2.56866

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui pelaksanaan pembelajaran sejarah dalam proses penanaman pendidikan karakter religius, (2) menganalisis peran dan fungsi pembelajaran sejarah dalam penanaman pendidikan karakter religius pada siswa MA Darul Amanah, (3) Merumuskan hambatan dan kendala yang dihadapi guru dan siswa dalam penanaman pendidikan karakter religius pada pembelajaran sejarah di MA Darul Amanah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan strategi studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik keabsahan data dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian serta verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) pelaksanaan pembelajaran sejarah MA Darul Amanah terdapat perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, namun perlu ditingkatkan kembali, (2) peranan pembelajaran sejarah dalam penanaman pendidikan karakter religius di MA Darul Amanah melalui materi sejarah Hindu, Budha, dan Islam, serta keteladanan tokoh sejarah yang kental dengan nilai religius. Peningkatan kepercayaan tersebut memberikan nilai keteladanan religius dan memberitahukan pentingnya menghargai antar umat beragama, dan (3) hambatan dalam proses penanaman pendidikan karakter religius pada pembelajaran sejarah adalah sarana prasarana yang kurang tersedia disetiap kelasnya, padatnya jadwal kegiatan pesantren, dan beragamnya karakteristik siswa. Kata kunci: pembelajaran sejarah, pendidikan karakter religius, peranan The aims of this study were (1) to determine the implementation of history learning in the process of inculcating religious character education, (2) to analyze the role and function of history learning in the cultivation of religious character education in MA Darul Amanah students, and (3) to formulate obstacles faced by teachers and students in planting religious character education in history learning at MA Darul Amanah. This study uses qualitative research methods with a case study strategy. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation studies. The data validity technique in this research is triangulation of sources, techniques, and time. The data analysis used is interactive analysis, which includes data collection, data reduction, presentation, and verification. The results showed that: (1) the implementation of history learning at MA Darul Amanah, including planning, implementation, and evaluation of learning, can be carried out well but needs improvement; (2) the role of history learning in inculcating religious character education in MA Darul Amanah is evident through historical materials of Hinduism, Buddhism, and Islam, as well as the examples of historical figures who embody religious values. This approach enhances religious exemplary values and emphasizes the importance of respecting inter-religious communities; and (3) obstacles in the process of inculcating religious character education in history learning include the lack of infrastructure facilities in each class, the tight schedule of pesantren activities, and the diversity of student characteristics. Keywords: history learning, religious character education, role
Design of the INARA (Inclusive and Gender Responsive Historia) Application: Accentuating Inclusive and Gender-Responsive History Learning Khoeronisa, Kemala; Wahid, Uswanur Rachman F.; Bashori, Muzakki; Siregar, Vriska Nanda Putri
Historia Pedagogia Vol 12 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/hisped.v12i2.77164

Abstract

This article aims to elaborate on the initial development of the historical learning application design, INARA (Inclusive and Gender Responsive Historia). The authors gathered data from literature reviews, including journal articles and online media, which were analyzed using a SWOT approach. The study's results showcase examples of inclusive and gender-responsive features in this application, such as games, quizzes, QR codes, and comics focusing on female heroes in Indonesia. The application is also designed with specific features to support differently-abled students in learning history. It is hoped that INARA can become a creative, engaging, and critical medium for history learning at school levels. Its innovative design and inclusive features make a valuable contribution to the scholarly discourse in education. This article is expected to enrich the understanding of utilizing technology to support inclusive and gender-responsive history learning. As part of further development efforts, INARA is anticipated to become a progressive educational solution supporting various learning needs. Keywords: history, application, learning, inclusive, gender responsive
Way Out Labirin Ki Gede Sebayu sebagai Game Edukasi Pendidikan Karakter Juniswara, Aghnunizza Fadhillah; Septiyaningsih, Imada Cahya
Historia Pedagogia Vol 12 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/hisped.v12i2.78863

Abstract

Indonesia saat ini sudah berada di era Revolusi Industri 4.0, dimana pelajar sudah tidak asing lagi dengan kemajuan teknologi khususnya game. Namun sayangnya, pelajar masih belum bisa menempatkan diri dan menggunakan teknologi secara bijak. Akibatnya, banyak pelajar yang “kecanduan game”. Jika hal ini dibiarkan maka pendidikan karakter pelajar akan terancam. Melalui pendidikan sejarah, diharapkan mampu memberikan angin segar bagi para pelajar karena sejarah merupakan salah satu bagian penting untuk menjadi identitas dan penguat bangsa. Tetapi faktanya, pembelajaran sejarah masih dianggap membosankan bahkan dianggap tidak penting. Realita ini tentu menggeser keberadaan sejarah lokal yang masih belum jelas kedudukannya di dalam kurikulum. Padahal, nilai-nilai yang terkandung di dalam sejarah lokal dapat dijadikan acuan guna mengimplementasikan pendidikan karakter. Salah satu contohnya adalah sejarah Lokal Ki Gede Sebayu yang merupakan bupati pertama dan memiliki peran penting dalam sejarah Kabupaten Tegal. Berdasarkan konteks permasalahan yang dikaji, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif berdasarkan kajian kepustakaan dan observasi, dengan tujuan untuk mengetahui lebih jauh mengenai sejarah Ki Gede Sebayu. Game Edukasi Way Out Labirin Ki Gede Sebayu diharapkan menjadi solusi alternatif agar pelajar mengenal sejarah lokal di daerahnya sendiri. Melaui game labirin yang sudah familiar di kalangan pelajar, dapat menjadi pemantik tersendiri agar mereka tetap mempelajari sejarah dengan cara yang asik dan tidak membosankan. Kata Kunci: Game Edukasi, Pendidikan Karakter, Sejarah Lokal Indonesia is currently experiencing the era of Industrial Revolution 4.0, wherein students are no longer unfamiliar with technological advances, especially in the realm of gaming. Unfortunately, many students struggle to position themselves and use technology wisely, leading to a significant number becoming "addicted to games." If this trend is allowed to persist, it poses a threat to students' character education. It is hoped that through history education, a breath of fresh air can be provided for students, as history plays a crucial role in shaping identity and strengthening the nation. In reality, however, learning history is still often considered boring and even deemed unimportant. This perception, in turn, affects the status of local history in the curriculum, which remains unclear. The values embedded in local history can serve as a reference for implementing character education. One illustrative example is the local history of Ki Gede Sebayu, the first regent who played a significant role in the history of Tegal Regency. Given the context of the problem under study, this research adopts a qualitative descriptive method based on literature review and observation to delve deeper into the history of Ki Gede Sebayu. The "Way Out: Labirin Ki Gede Sebayu" educational game is proposed as an alternative solution, aiming to engage students in learning about their local history. Leveraging the popularity of labyrinth games among students, this educational game is designed to stimulate interest in history in a fun and non-boring manner. Keywords: educational games, character education, local history
MONOGAYENG (Permainan Monopoli Berwawasan Cagar Budaya Jawa Tengah): Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Bagi Siswa Sekolah Menengah Kejuruan Bashori, Muzakki
Historia Pedagogia Vol 12 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/hisped.v12i2.78864

Abstract

Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terkenal akan keragaman cagar budayanya. Hal ini terbukti dengan banyak ditemukannya peninggalan-peninggalan bangunan kuno zaman penjajahan, relief hewan-hewan purba, serta terdapat beberapa tempat yang bahkan diakui secara internasional sebagai warisan dunia. Lebih lanjut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga berpartisipasi aktif dalam upaya melestarikan berbagai cagar budaya yang ada, sehingga eksistensi atau keberadaan cagar budaya tersebut masih dapat disaksikan dan dinikmati sampai sekarang. Namun, besarnya potensi cagar budaya yang dimiliki oleh Provinsi Jawa Tengah ini ternyata tidak diimbangi dengan besarnya minat atau keinginan para pelajar untuk mempelajari dan ikut serta melestarikan cagar budaya yang ada. Adapun salah satu bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian cagar budaya yang masih minim adalah melalui pendidikan formal. Saat ini kegiatan pembelajaran mengenai cagar budaya, khususnya yang berada di Provinsi Jawa Tengah, di sekolah-sekolah belum banyak menyentuh tataran praktis (research-based), masih cenderung textbook-oriented (media pembelajaran yang monoton), hanya menekankan pada kemampuan menghafal siswa, teacher-centered, dan membosankan. Konsekuensi dari kondisi di atas adalah para pelajar, khususnya di Jawa Tengah, menjadi apatis dan jenuh, sehingga akhirnya mereka akan semakin awam dan tidak mengetahui besarnya potensi cagar budaya yang dimiliki oleh provinsi tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan yang optimal dari sektor pendidikan formal agar nantinya para pelajar di provinsi Jawa Tengah dapat memperoleh informasi yang memadai tentang cagar budaya, khususnya yang ada di Jawa Tengah, dan melakukan praktik atau riset sederhana dengan bimbingan dari guru pendamping. Salah satu bentuk solusi yang ditawarkan oleh Penulis adalah dengan mengusulkan MONOGAYENG atau Permainan Monopoli Berwawasan Cagar Budaya Jawa Tengah sebagai inovasi media pembelajaran berbasis kearifan lokal bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), khususnya di Provinsi Jawa Tengah. MONOGAYENG dapat dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu tahap pra pembelajaran, tahap pelaksanaan dan tahap pasca pembelajaran. Kendala internal yang berupa tingkat pemahaman siswa yang berbeda, banyaknya instruksi dalam permainan dan beban penilaian oleh guru dapat diatasi dengan mengoptimalkan tahap pra pembelajaran untuk menjelaskan tata cara permainan kepada siswa, mendorong siswa untuk saling membantu menjelaskan konsep permainan dan mengatur ritme penilaian guru agar tidak overload. Kendala eksternal dapat diatasi dengan menyesuaikan materi permainan dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang sejalan dengan silabus mata pelajaran serta me-laminating atau memberikan bingkai plastik pada properti permainan agar tahan lama. Adanya inovasi media pembelajaran ini diharapkan dapat merangsang kesadaran siswa akan pentingnya mengetahui potensi cagar budaya daerah, khususnya Provinsi Jawa Tengah, dan kemudian melakukan praktik terbimbing untuk menerapkan pengetahuan cagar budaya yang telah didapat agar dapat dimanfaatkan sebagai wawasan dalam kehidupan sehari-hari demi menjaga keberlangsungan cagar budaya yang ada di Jawa Tengah. Kata Kunci: monopoli, cagar budaya, jawa tengah, media pembelajaran The Central Java Province is renowned in Indonesia for its diverse cultural heritage. This is evidenced by the numerous relics of ancient colonial-era buildings, prehistoric animal reliefs, and internationally recognized heritage sites found within the region. Furthermore, the Central Java Provincial Government actively participates in preserving various cultural heritage sites, ensuring their continued existence and enjoyment to this day. However, the substantial cultural potential of Central Java is not matched by a corresponding interest or desire among students to learn about and contribute to the preservation of these cultural treasures. One form of support that remains underutilized in the conservation efforts is through formal education. Currently, educational activities concerning cultural heritage, particularly those within Central Java, lack practical (research-based) components in schools. The predominant approach is still textbook-oriented, monotonous in terms of learning media, emphasizing rote memorization, teacher-centered, and often dull. The consequence of this situation is that students, particularly in Central Java, become apathetic and disinterested, ultimately leading to their ignorance of the immense cultural potential within the province. Therefore, optimal support from the formal education sector is crucial to providing students in Central Java with adequate information about cultural heritage, especially within the province. This includes engaging them in practical activities or simple research under the guidance of supervising teachers. One proposed solution to address this issue is the introduction of "MONOGAYENG" or the Cultural Heritage Monopoly Game of Central Java as an innovative, locally grounded educational media for Vocational High School (SMK) students, specifically in Central Java. MONOGAYENG can be implemented in three stages: pre-learning, implementation, and post-learning. Internal challenges, such as varying levels of student understanding, numerous game instructions, and the assessment burden on teachers, can be addressed by optimizing the pre-learning stage to explain the game rules, encouraging students to help each other understand the concepts, and regulating the teacher's assessment pace to prevent overload. External challenges can be mitigated by aligning the game content with Competence Standards and Basic Competencies in line with the curriculum and laminating or providing plastic frames for game properties to ensure durability. The introduction of this educational media innovation is expected to stimulate students' awareness of the importance of understanding the cultural potential of their region, specifically in Central Java. Furthermore, it aims to encourage guided practical application of acquired cultural knowledge for everyday life, contributing to the preservation of cultural heritage in Central Java. Keywords: monopoly, cultural heritage, Central Java, educational media

Page 4 of 4 | Total Record : 40