cover
Contact Name
Dhini Dewiyanti
Contact Email
jlbi@iplbijournals.id
Phone
+628122184048
Journal Mail Official
dhinijlbi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Antropologi 20. Komp. UNPAD. Cigadung. Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia
ISSN : 23019247     EISSN : 26220954     DOI : https://doi.org/10.32315/jlbi
Jurnal ini menerima tulisan ilmiah dalam bentuk artikel hasil penelitian, artikel diskursus, dan artikel metode penelitian. Ruang lingkup keilmuan yang diwadahi oleh jurnal ini meliputi bidang arsitektur lanskap, arsitektur perilaku dan lingkungan, pengelolaan pembangunan dan pengembangan kebijakan, perancangan arsitektur, perencanaan dan perancangan kota, perencanaan wilayah dan perdesaan, perumahan dan permukiman, sains dan teknologi bangunan, sejarah dan teori arsitektur dan kota, sistem infrastruktur wilayah dan kota, serta bidang keilmuan lingkungan binaan lainnya.
Articles 237 Documents
Pengaruh Badan Air pada Iklim Mikro di Kota Pontianak Andina Syafrina; Mochamad Donny Koerniawan
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 4 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.4.209

Abstract

Badan air merupakan salah satu potensi softscape pada lingkungan perkotaan yang dapat mempengaruhi ligkungan termal disamping fungsi hidrologis. Beberapa penelitian terdahulu telah mengukur sejauh mana badan air mempengaruhi iklim mikro, sehingga keberadaan badan air dapat menjadi pertimbangan dalam perencanaan suatu kawasan di perkotaan. Namun, saat ini belum banyak diteliti untuk iklim tropis lembab khususnya di Indonesia. Penelitian ini mengambil Kota Pontianak sebagai studi kasus. Penelitian menggunakan metode kuantitatif yang bersifat deskriptif dengan pengumpulan data melalui pengukuran lapangan dan observasi. Data pengukuran lapangan dan observasi kemudian dianalisis menggunakan analisis anova dan regresi. Hasil analisis menunjukkan jarak terhadap badan air, orientasi koridor badan air dan zona waktu memiliki pengaruh yang berbeda terhadap iklim mikro di koridor jalan yang terdapat badan air. Temuan juga menunjukkan pengaruh badan air pada koridor jalan menimbulkan nilai temperatur udara yang bervariasi (dapat lebih tinggi dan lebih rendah).
Efektivitas Pencahayaan Alami pada Bangunan 2 Tingkat dan Kaitannya dengan Kebutuhan Penghuni Imaniar Sofia A
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.1.76

Abstract

Bangunan yang dirancang agar pencahayaan alami dapat masuk akan mempertimbangakan intensitas cahaya yang diperlukan oleh setiap penghuninya. Salah satu cara untuk mendistribusikan cahaya untuk bangunan 2 tingkat ialah menggunakan void. Kebutuhan penghuni akan besarnya intensitas cahayadapat berbeda-beda sesuai jenis kegiatannya. Dengan terpenuhinya kebutuhan pencahayaan di siang hari menggunakan cahaya alami, maka akan menghemat konsumsi energy. Dalam tulisan ini dipaparkan bahasan tentang koreksi suatu bangunan di Bandung tentang efektivitas keberadaan void untuk solusi penyaluran sumber cahaya alami. Data diperoleh dengan melakukan pengamatan selama 1 minggu untuk memperoleh data sampel. Analisis dilakukan dengan melakukan perbandingan data-data tersebut. Hasil pengamatan mengindikasikan bahwa adanya void belum tentu berhasil mendistribusikan cahaya dengan baik, tergantung dari tipe bukaan yang dirancang. Perbedaan jenjang dan sektor pendidikan penghuni kamar memiliki pengaruh terhadap kebutuhan cahaya dan persentase masuknya cahaya alami ke dalam kamar.
Efektifitas Fasad Selubung Ganda dalam Mengurangi Beban Panas pada Dinding Luar Bangunan Rosady Mulyadi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.1.70

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian eksperimental melalui simulasi numerik berbantuan komputer untuk mengetahui efektifitas fasad selubung ganda dalam mengurangi beban panas pada dinding luar. Model fasad selubung ganda yang digunakan terdiri atas selubung luar, selubung dalam, elemen peneduh, bukaan bawah dan bukaan atas sebagai gerbang masuk dan keluarnya udara melalui rongga udara yang tercipta antara selubung luar dan selubung dalam. Simulasi dilakukan untuk mendapatkan data temperatur pada rongga selubung, temperatur kaca, temperatur elemen peneduh, transfer panas radiasi, transmittansi termal, dan jumlah exhaust-heat. Data tersebut digunakan untuk menghitung besaran u-value dan SC dari fasad selubung ganda. Hasil perhitungan besaran beban panas dengan MicroHASP/TES menunjukkan bahwa lebih dari 57.7% dari beban panas pada zona perimeter di waktu puncak dapat direduksi pada selubung barat dan timur. Sebanyak 11% dari total load dapat direduksi jika dibandingkan dengan fasad kaca tunggal 8mm dan 10% dari total load dapat dikurangi jika dibandingkan dengan fasad kaca ganda 6mm.
Studi Penerapan Solarleaf – The Bioreactor Facade sebagai Solusi Alternatif Arsitektur Tanggap Iklim dan Energi Nur Zahrotunnisaa Zagi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.1.65

Abstract

Aspek pembangunan merupakan sektor dengan andil terbesar dalam pemanasan global dibandingkan sektor transportasi dan energi. Situasi ini memaksa peneliti dan arsitek untuk selalu menemukan inovasi dalam desain untuk bangunan yang berkelanjutan, dengan lebih memperhatikan desain hemat energi. Pencapaian desain hemat energi dalam perancangan arsitektur salah satunya dapat dicapai dengan menerapkan teknologi yang berkelanjutan, seperti desain shading (kisi-kisi). Parameter desain kisi-kisi pun dapat berupa orientasi, besaran, maupun lokasi bangunan. Teknologi yang berkembang memungkinkan penggunaan shading sebagai salah satu elemen energi yang terbarukan. Beberapa bangunan mengkombinasikan shading bangunannya dengan solar panel, bahkan dengan tanaman. Dengan kemajuan tekologi saat ini, kisi-kisi bangunan juga dapat dibentuk menyerupai akuarium mini yang dapat memungkinkan makhluk hidup berkembangbiak di dalamnya untuk menghasilkan energi terbarukan. Teknologi fasad tersebut dikenal dengan teknologi biofacade. Dengan prinsip fotosintesis sederhana dan siklus CO2, pengaplikasian fasad ini tidak hanya berdampak postif bagi bangunan, namun juga turut andil dalam kelestarian lingkungan.
Pengaruh Desain Fasade Bangunan terhadap Distribusi Pencahayaan Alami pada Gedung menara Phinisi UNM Syavir Latif; Nurul Jamala; Syahriana
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.1.59

Abstract

Desain pencahayaan merupakan salah satu prioritas dalam merancang bangunan gedung dan pemanfaatan pencahayaan alami dapat menurunkan pemakaian energi, namun perlu memperhatikan produktifitas kerja pengguna ruang dengan mempertimbangkan rekomendasi standard iluminasi (level of illuminance), kesilauan(glare), tingkat kecermelangan (brightness) dan efek penghawaan (thermal). Gedung Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar menggunakan fasade bangunan berbentuk Hiperbolic Paraboloid sehingga desain gedung ini menjadi panduan dalam menganalisis pengaruh fasade bangunan terhadap pencahayaan alami. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh fasade bangunan terhadap tingkat iluminasi, distribusi cahaya alami dan aplikasi bentuk fasade. Metode penelitian kwantitatif dengan menggunakan program Autodesk Echotech untuk mengetahui tingkat iluminasi dalam dan luar bangunan. Hasil penelitian meyimpulkan bahwa terjadi penurunan distribusi cahaya apabila menggunakan fasade bangunan dan bentuk fasade juga berpengaruh terhadap tingkat iluminasi dalam ruang.
Kinerja Sistem Ventilasi Alami Ruang Kuliah Baharuddin Hamzah; M. Ramli Rahim; Muhammad taufik Ishak; Sahabuddin
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.1.51

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi performa ventilasi (kondisi existing) ruang kuliah yang ada di tiga kampus yaitu Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (FT-Unhas), Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia (FT-UMI), dan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar (FT-Unismuh). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen dan survei, analisis menggunakan metode simulasi CFD (Computational Fluid Dynamics). Parameter input dalam simulasi diperoleh melalui pengukuran di lapangan berupa dimensi ruang kuliah, luas bukaan ventilasi, dan parameter iklim mikro. Simulasi dilakukan pada kondisi bukaan maksimum pada sistem ventilasi existing dengan perlakuan pintu kelas terbuka dan tertutup. Perlakuan terhadap kecepatan angin untuk input (v) adalah 0,25m/det, 0,5m/det, 0,75m/det dan 1,00m/det. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ventilasi eksisting ruang-ruang kuliah dari tiga kampus yang diteliti, hasil terbaik diperoleh di ruang kuliah FT-Unhas Gowa. Dengan rasio bukaan 16,59-22,76% dari luas lantai, sistem ventilasi ruang kelas ini cukup baik untuk mengalirkan dan mendistribusikan pergerakan udara yang nyaman di dalam ruang terutama pada kecepatan angin di atas 0,5m/det.
Kinerja Fasad Selubung Ganda dalam Menurunkan Konsumsi Energi untuk Pendingin pada Bangunan Gedung Rosady Mulyadi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.1.45

Abstract

Artikel ini membahas tentang kinerja fasad selubung ganda dalam menurunkan tingkat konsumsi energi pada bangunan gedung. Model bangunan berlantai banyak disimulasi menggunakan MicroHASP untuk mendapatkan beban pendinginan pada bangunan. Selanjutnya, sistem pengkondisian udara didisain dan disimulasi menggunakan LCEM (LifeCycle Energy Management) Tool. Hasil simulasi menunjukkan bahwa penggunaan fasad selubung ganda mampu menurunkan tingkat konsumsi energi pada bangunan gedung. Hasil simulasi tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan fasad selubung ganda pada bangunan gedung juga mampu meningkatkan COP (Coefficient of Performance) dari sistem pengkondisian udara yang digunakan.
Persepsi Masyarakat dalam Penerapan Rumah hemat Energi Tri Amartha Wiranata
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.1.22

Abstract

Saat ini, isu penggunaan energi yang berlebihan telah mewabah di masyarakat. Penggunaan energi yang berlebihan banyak ditemukan pada lingkungan rumah tangga. Penerapan rumah yang hemat energi dapat dijadikan solusi dalam mengatasi masalah tersebut. Namun, beberapa masyarakat tidak memprioritaskan konsep tersebut. Penelitian ini dimaksudkan untuk menentukan bagaimana persepsi masyarakat mengenai kepentingan menerapkan konsep rumah hemat energi pada rumah tinggal sehari – hari dan menentukan hal – hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan konsep rumah hemat energi. Metode pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner ke beberapa responden lapisan masyarakat baik itu karyawan, wiraswasta, maupun mahasiswa. Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan analisis kualitatif data teks. Hasil dari analisis tersebut akan menghasilkan faktor – faktor yang menjadi alasan kepentingan menerapkan konsep rumah hemat energi dan kriteria dalam penerapan rumah hemat energi.
Konsentrasi Co2 pada Ruang Kelas dengan Sistem Ventilasi Alami sebuah Penelitian Awal Basaria Talarosha
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.1.16

Abstract

Konsentrasi CO2 di atas 1000 ppm mengganggu kesehatan dan konsentrasi yang berdampak pada penurunan performa belajar siswa. Penelitian sebelumnya menyimpulkan konsentrasi CO2 udara di dalam ruang kelas dengan sistem ventilasi alami berhubungan dengan tipe jendela yang digunakan. Disebutkan juga bahwa jendela gantung atas memiliki performa paling buruk dalam menetralkan konsentrasi CO2. Studi bermaksud memonitor konsentrasi CO2 pada sebuah ruang kelas sekolah dasar di kota Medan yang menggunakan tipe jendela tersebut. Monitoring dilakukan pada kondisi jendela sisi koridor ruang kelas dibuka dengan sudut 10, 30 (jendela sisi berlawanan ditutup untuk keamanan) dan pintu terbuka penuh, masing-masing tiga (3) hari sepanjang waktu belajar. Seluruh jendela dan pintu dilengkapi dengan ventilasi jalusi horisontal di atasnya. Hasil studi menunjukkan konsentrasi CO2 rata-rata udara ruang kurang dari 1000 ppm pada semua kondisi. Hal ini menunjukkan sistem ventilasi alami dengan tipe jendela sebagaimana disebutkan di atas memiliki performa yang baik dalam mempertahankan kualitas udara ruang kelas.
Optimasi WWR untuk Penghawaan dan Pengendalian Kebisingan Lingkungan dalam Hunian Tropis Lembab FX Teddy Badai Samodra
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v8i4.140

Abstract

Dalam lingkungan perkotaan, penghawaan dan kebisingan merupakan faktor yang paling penting dalam mempengaruhi lingkungan dalam bangunan. Penelitian ini mengkaji WWR (Window to Wall Ratio) sebagai kompromi kebutuhan penghawaan dan pengendalian kebisingan rumah Jawa yang menjadi studi kasus dari hunian tropis lembab. Kebutuhan luas bukaan (WWR) memiliki perilaku yang kontradiktif, yaitu antara kebutuhan bukaan maksimal untuk aliran angin dan minimum untuk mengurangi kebisingan. Lokasi penelitian ini berada di dataran rendah (Surabaya, 0-50 m msl) dan di dataran tinggi (Malang, 440-667 m msl). Kedua kota besar tersebut dipilih karena memiliki kemiripan budaya dan arsitektur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rentang WWR sebagai bentuk integrasi pemenuhan kebutuhan penghawaan dan pengendalian kebisingan, yaitu dataran rendah/siang hari: 0.13-100% (standar survei), 0.13-5.24% (standar WHO); dataran rendah/malam hari: 0-100% (standar survei), 0-3.24% (standar WHO); dataran tinggi/siang hari: 0.24-100% (standar survei), 0.24-70.48% (standar WHO); dan dataran tinggi/malam hari: 0-100% (standar survei/standar WHO).