cover
Contact Name
Dhini Dewiyanti
Contact Email
jlbi@iplbijournals.id
Phone
+628122184048
Journal Mail Official
dhinijlbi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Antropologi 20. Komp. UNPAD. Cigadung. Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia
ISSN : 23019247     EISSN : 26220954     DOI : https://doi.org/10.32315/jlbi
Jurnal ini menerima tulisan ilmiah dalam bentuk artikel hasil penelitian, artikel diskursus, dan artikel metode penelitian. Ruang lingkup keilmuan yang diwadahi oleh jurnal ini meliputi bidang arsitektur lanskap, arsitektur perilaku dan lingkungan, pengelolaan pembangunan dan pengembangan kebijakan, perancangan arsitektur, perencanaan dan perancangan kota, perencanaan wilayah dan perdesaan, perumahan dan permukiman, sains dan teknologi bangunan, sejarah dan teori arsitektur dan kota, sistem infrastruktur wilayah dan kota, serta bidang keilmuan lingkungan binaan lainnya.
Articles 237 Documents
Anyaman Bambu Sebagai Tulangan Panel Beton Pracetak Gustav Anandhita
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.2.130

Abstract

Bambu merupakan material bangunan yang murah, mudah diperoleh, mudah dikerjakan sendiri oleh masyarakat, terutama di daerah pedesaan, serta ramah lingkungan karena merupakan material alami yang dapat diperbaharui. Selain itu dari hasil penelitian menunjukan bahwa bambu memiliki kuat-tarik cukup tinggi yang setara dengan kuat-tarik baja lunak, sehingga memungkinkan dimanfaatkan sebagai pengganti tulangan baja pada beton. Di Indonesia, salah satu pemanfaatan bambu paling kuno oleh masyarakat adalah dengan cara menganyam bilah-bilah bambu menjadi sebuah bidang atau bentuk tertentu. Proses membuat anyaman oleh masyarakat yang telah berlangsung selama berabad-abad silam tersebut saat ini telah menghasilkan berbagai macam jenis, pola dan motif yang beragam. Selain dari faktor estetika, motif anyaman yang berbeda satu sama lain memunculkaan dugaan bahwa anyaman memiliki fungsi lain yang menarik untuk dikaji lebih lanjut, terutama dari sisi teknik atau engineering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan pola anyaman terhadap kekuatan yang dihasilkan. Pengujian dilakukan dengan cara mengaplikasikan anyaman bambu sebagai tulangan panel beton pracetak, dari hasil yang diperoleh nantinya, dapat diketahui pengaruh pola anyaman terhadap pengurangan defleksi atau lendutan yang terjadi pada panel beton pracetak tersebut. Eksperimen akan dilakukan secara simulasi dengan menggunakan software SAP2000.
Keberlanjutan Arsitektur Tradisonal Makassar Sebagai Hunian Ramah Lingkungan di Perkotaan Imriyanti
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.2.123

Abstract

Arsitektur tradisional dihasilkan oleh latar belakang budaya dan lingkungan masing-masing dimana determinasinya adalah alami, manusia masih tunduk kepada alam. Arsitektur tradisional diwakili oleh rumah panggung, dimana bagi masyarakat Makassar konsep rumah tradisional tersebut tidaklah lahir begitu saja, namun syarat dengan philosophinya antara lain, konsistensi hidup penghuninya terhadap nilai-nilai tradisi, dan bersandar kepada kepercayaan yang dianut. Mengingat bentuk hunian diperkotaan yang mengarah pada bentuk modern dan tidak sesuai dengan iklim daerah sebagai daerah tropis maka penerapan arsitektur tradisional Makassar sebagai hunian diperkotaan dapat memberikan penjelasan permasalahan, yaitu bagaimanakah penerapan arsitektur tradisional Makassar sebagai hunian diperkotaan dan dari segi manakah arsitektur tradisional Makassar dapat dikatakan sebagai bangunan yang berkelanjutan. Dengan mengetahui keberlanjutan arsitektur tradisioanal Makassarsebagai hunian diperkotaan yang sejalan dengan perkembangan arsitektur hunian dalam bentuk modern diperkotaan. Serta dapat mengidentifikasi sejauh mana arsitektur tradisional Makassar sebagai hunian diperkotaan dapat menyatu dengan perubahan iklim.Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskrptif yang bersifat kualitatif yaitu, berusaha untuk menghasilkan data yang berupa gambaran yang sistematis dan akurat dari objek kajian. Melihat permasalahan yang dikemukakan maka hasilnya dapat diketahui melalui segi makro dan mikro struktur. Makro mengemukakan tentang lingkungan sekitar rumah tradisional Makassar yang berada di pusat kota Makassar cenderung menyatu dengan alam sehingga interaksi penghuni dengan lingkungannnya dapat dirasakan dan dinikmati melalui penempatan ruang publik diarea siring (kolong rumah) dan area ini tidak diberi pembatas ruang. Mikro yaitu bentuk rumah tradisional Makassar berbentuk panggung dan terbagi dunia bawah/siring (kolong) yang difungsikan sebagai area publik, dunia tengah/kale’ balla difungsikan sebagai tempat beraktifitas bagi penghuni rumah, dunia atas/pammakkangdifungsikan sebagai tempat penyimpanan. Struktur bangunan dominan menggunakan material kayu yang ditiap bagiannya dapat menghasilkan pencahayaan dan penghawaan secara alami. Material bangunan terdiri material yang bersumber dari alam sehingga antara lingkungan dengan bangunan tradisional Makassar dapat menyatu secara menyeluruh. Unsur keberlanjutan pada rumah tradisional Makassar diketahui pada lingkungan dan material bangunan.
Belajar dari Kearifan Lokal Masyarakat Perdesaan di Jawa dalam Membangun Permukiman pada Kawasan Lereng Gunung VG Sri Rejeki; Yovita Indrajati; Krisprantono
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.2.118

Abstract

Masyarakat Indonesia khususnya pada permukiman perdesaan memiliki kearifan lokal yang masih dapat ditemui hingga saat ini. Kearifan lokal tersebut tercermin antara lain dalam teknologi membangun dan menata permukiman. Penelitian ini telah dilaksanakan pada kawasan permukiman yang berada pada lereng gunung pada Kabupaten Temanggung di Provinsi Jawa Tengah. Pada Kabupaten Temanggung lokasi penelitian dilaksanakan pada kawasan Desa Ngemplak, tepatnya di Dusun Gedongan, Dusun Ngemplak, dan Dusun Banjarsari yang berada pada kawasan lereng gunung akan tetapi relatif datar pada Kabupaten Wonosobo. Kearifan lokal tersebut tercermin dalam tata spatial desa dan norma lokal oleh masyarakat berdasarkan pada penelitian pada lokasi desa Kandangan di wilayah Kabupaten Temanggung tersebut terlihat adanya kearifan lokal yang memiliki karakteristik yang spesifik, berupa sikap masyarakat terhadap alam lereng gunung. Masyarakat pada lereng gunung Sindoro masih memegang teguh nilai-nilai tradisi dalam penempuh kehidupan di lereng gunung.
Analisis Pencahayaan Alami pada Ruang Kuliah Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Samsuddin Amin; Nurul Jamala; Jacklyn Luizjaya
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.1.33

Abstract

Desain pencahayaan merupakan salah satu faktor dalam perencanaan pembangunan gedung. Para Arsitek mendesain pencahayaan ruang hanya mengacu pada standar iluminasi yang telah direkomendasikan oleh SNI, sehingga perlu menganalisis pencahayaan pada ruang perkuliahan Fakultas Teknik Unhas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tingkat iluminasi dalam ruang kuliah, apakah berpengaruh terhadap orientasi bangunan dan bagaimana intensitas cahaya pada area bukaan selubung bangunan. Metode penelitian kwantiatif dengan menganalisis data secara deskriptif statistik . Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tingkat iluminasi pada ruang kuliah belum memenuhi rekomendasi standar iluminas, namun pengguna ruang masih dapat beraktifitas dengan baik. Selanjutnya tingkat iluminasi berpengaruh terhadap orientasi bangunan dan area pada selubung bangunan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam merumuskan rekomendasi standar iluminasi, khususnya pada ruang kuliah.
Arsitektur Hijau pada Morfologi Permukiman Tepi Sungai Tallo Edward Syarif; Nurmaida Amri
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.2.82

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan pola permukiman tepi sungai Tallo dan pengaruhnya terhadap konsep arsitektur hijau. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik analisis synchronic reading yang didukung oleh metode space syntax dan dianalisis berdasarkan konsep arsitektur hijau. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola permukiman Tallo awalnya membentuk pola menyebar di atas air, kemudian berkembang menjadi pola memanjang dan pola mengelompok. Pola menyebar dan memanjang dipengaruhi oleh kegiatan masyarakat yang terkait dengan perariran, sedangkan pola mengelompok dipengaruhi oleh sistem kekerabatan dalam masyarakat. Pola memanjang merupakan pola yang susunan ruangnya paling terintegrasi, sedangkan pola menyebar merupakan pola yang paling sesuai dengan konsep arsitektur hijau.Tulisan ini dapat menjadi konsep untuk mengembangkan permukiman di tepian air yang sesuai dengan karakteristik lingkungan dan kondisi sosial masyarakat setempat.
Arsitektur Rumah Berpanggung Terapung yang “Sustainable” di Lahan Berair Syarif Beddu
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.2.113

Abstract

Arsitektur rumah terapung merupakan salah satu bentuk hunian diberbagai pelosok tanah air Indonesia, khususnya bagi masyarakat yang berdiam di perairan. Perairan adalah kawasan pantai, sungai, danau, rawa dan lain sebagainya. Bertempat tinggal mengapung di atas air mewatakkan penghuninya familiar serta akrab dengan lingkungan sekitarnya. Air telah menjadi ruang kehidupan dan penghidupan keseharian untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Masyarakat nelayan di Kampung Salo Mate, Kelurahan Limpomajang, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng Provinsi Sulawesi Selatan; telah mengalokasikan zoning permukiman mereka di perairan Danau Tempe. Bentuk permukiman berupa rumah berpanggung terapung yang disebut “bola rai” (rumah yang dibangun di atas tumpukan bambu). Menghuni cara terapung merupakan solusi untuk mendekatkan mereka dengan tempat kerjanya; selaku nelayan air tawar. Rumah panggung terapung memiliki fleksibilitas dan mobilitas, sehingga perletakan kaplingnya dapat berubah-ubah. Penelitian ini bertujuan untuk meng-identifikasi nilai-nilai arsitektur “sustainable” (berkelanjutan), yang telah dimiliki rumah panggung terapung (bola rai) tersebut. Metoda penelitian adalah secara analisis sintesa dan kualitatif deskriktif. Sampelnya dipilih secara acak berdasarkan nilai-nilai arsitektur sustainable. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2015.
Mitigasi Emisi Pengawetan Bambu sebagai Material Konstruksi Berkelanjutan Dewi Larasati ZR; Siswanti Zuraida
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.2.107

Abstract

Proses konstruksi dengan menggunakan pendekatan pembangunan berkelanjutan merupakan sebuah keniscayaan, yang dibutuhkan dalam mengurangi dampak buruk pembangunan bagi generasi yang akan datang. Penggunaan material bambu sebagai material berkelanjutan, merupakan salah satu upaya implementasi pembangunan berkelanjutan. Namun demikian, akibat rendahnya daya tahan bambu, pengawetan bambu dibutuhkan untuk memperpanjang usia, namun hasil studi menunjukkan beberapa jenis pengawetan oleh masyarakat menggunakan bahan pengawet yang memiliki efek negatif pada lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai teknik pengawetan bambu oleh masyarakat yang ada saat ini serta menganalisis pengaruhnya pada lingkunga. Metode yang digunakan dengan cara menghitung besarnya emisi yang dikeluarkan oleh setiap jenis teknik pengawetan bambu yang ada di masyarakat, kemudian meninjau besarnya biaya lingkungan (eco-cost) atas besarnya emisi yang dikeluarkan tersebut. Adapun dampak lingkungan yang diidentifikasi antara lain adalah dampaknya pada kesehatan (human health), racun bagi lingkungan sekitar (ecotoxicity) dan penggunaan sumber daya dalam proses pengawetan (resource depletion). Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu teknik pengawetan melalui perendaman dengan kapur barus dan diterjen memiliki tingkat emisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan teknik pengawetan bambu lainnya. Dengan adanya hasil identifikasi ini, diharapkan dapat dimanfaatkan dalam menentukan pilihan teknik pengawetan bambu yang lebih ramah lingkungan, sehingga dampak negatif bagi lingkungan yang lebih besar dapat dicegah.
Pengembangan Industri Konstruksi Rumah Prapabrikasi Lokal Berbasis Komunitas (Kasus: Komunitas Kampung Naga) Dewi Larasati ZR; Anjar Primasetra
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.2.101

Abstract

Pemenuhan Kebutuhan rumah di Indonesia masih sangat jauh dari harapan, mengingat kekurangan pemenuhan kebutuhan (backlog) mencapai 13.6 juta rumah hingga akhir tahun 2013. Hal ini disebabkan lambatnya proses pembangunan rumah. Salah satu solusi untuk mengatasinya melalui pembangunan dengan metode prapabrikasi. Pendekatan membangun prefabrikasi telah dilakukan oleh masyarakat lokal sejak ratusan tahun yang lalu. Salah satunya adalah metode prapabrikasi oleh masyarakat adat Kampung Naga. Hingga saat ini masyarakat Kampung Naga telah mengembangkan produksi rumah prafabrikasi tidak hanya untuk kebutuhan internal, bahkan telah memproduksi untuk kebutuhan masyarakat yang lebih luas. Kelebihan rumah prfabrikasi masyarakat adat adalah mengandung kearifan lokal sehingga memiliki karakter yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi profil dan proses pelaksanaan metode prafabrikasi oleh masyarakat Kampung Naga, untuk mengambil pelajaran penerapan pembangunan prafabrikasi, serta melihat proyeksi pengembangannya secara lebih luas. Hal ini dimaksud untuk mengetahui arah konsep pengembangan industri prapabrikasi agar dapat meluas sehingga dapat mendukung pembangunan berkelanjutan. Hasil penelitian mengindikasikan adanya industri lokal berbasis komunitas yang telah berjalan baik. Pada aspek kemampuan produksi, industri prapabrikasi lokal ini telah mampu memproduksi 60% produk yang direncanakan dengan tingkatan prapabrikasi cukup tinggi. Rekomendasi arah pengembangan industri prapabikasi dibagi dalam dua hal, yaitu rekomendasi aspek produk dan rekomendasi aspek sistem produksi yang diarahkan pada upaya modernisasi industri dengan alat bantu tepat guna dengan memberdayakan sumber daya alam secara arif dan melestarikan ketrampilan teknis sumber daya manusia lokal.
Penerapan Aspek Green Material Pada Kriteria Bangunan Rumah Lingkungan Di Indonesia Dewi Rachmaniatus Syahriyah
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.2.95

Abstract

Perkembangan bangunan merupakan salah satu sektor penyumbang terbesar terjadinya pemanasan global. Hal ini terlihat pada penggunaan material bangunan yang berasal dari sumber daya alam yang tak terbaharukan, serta penggunaan Bahan Perusak Ozon (BPO). Untuk itu, diperlukan aturan yang jelas mengenai penggunaan material pada bangunan yang mengarahkan pada keberlanjutan lingkungan dan disesuaikan dengan tahapan pengadaaan bangunan. Aturan ini kemudian dapat mengarah pada kriteria bangunan hijau/green bulding. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis hubungan penerapan aspek material ramah lingkungan (green material) pada kriteria green building dengan siklus pengadaan material bangunan (building material life cycle). Metode analisis dilakukan dengan membandingkan kriteria green material yang berasal dari peran kebijakan pemerintah serta peran Green Building Council Indonesia (GBCI) yang didasarkan pada siklus pengadaan material bangunan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagai salah satu aspek penting dalam pembangunan ramah lingkungan, pemilihan material pada kriteria green material dari kedua peran sebaiknya diterapkan secara berkesinambungan guna mewujudkan keberlanjutan lingkungan dari material tersebut.
Kebermanfaatan Angin di Kawasan Perkotaan Juhana; Sungkono; Nashrah
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 3 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.3.141

Abstract

Kota Makassar berada pada wilayah iklim tropis panas-lembap yang dipengaruhi oleh laut. Kota ini memiliki bentuk wilayah yang unik karena panjang garis pantainya mencapai 7 kali lipat dari lebarnya, sehingga angin laut masih sangat kuat berpengaruh sampai di daratan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kebermanfaatan angin laut di kawasan kota Makassar. Kawasan kota Makassar yang menjadi kasus studi adalah kawasan kota disekitar Jl. G. Bawakaraeng (± 1 km dari garis pantai), Jl. A.P. Pettrani (± 4 km dari garis pantai/ ditengah kota), dan Jl. Perintis Kemerdekaan (± 20 km dari garis pantai). Untuk mendukung penelitian ini telah dikumpulkan data kecepatan dan arah angin dari Stasiun Meteorologi dan Geofisika Maritim Potere Makassar selama lima tahun berturut-turut (2012-2016). Pengukuran dilakukan lima kali dari pagi sampai sore saat cuaca cerah dalam waktu yang bersamaan pada semua titik ukur. Analisis dilakukan secara kuantitatif menggunakan formula dari Edward Ng (2006) sebagai indikator. Hasil analisis menunjukkan bahwa angin laut Makassar sangat poternsial dimanfaatkan untuk perencanaan lingkungan binaan.