cover
Contact Name
Dhini Dewiyanti
Contact Email
jlbi@iplbijournals.id
Phone
+628122184048
Journal Mail Official
dhinijlbi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Antropologi 20. Komp. UNPAD. Cigadung. Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia
ISSN : 23019247     EISSN : 26220954     DOI : https://doi.org/10.32315/jlbi
Jurnal ini menerima tulisan ilmiah dalam bentuk artikel hasil penelitian, artikel diskursus, dan artikel metode penelitian. Ruang lingkup keilmuan yang diwadahi oleh jurnal ini meliputi bidang arsitektur lanskap, arsitektur perilaku dan lingkungan, pengelolaan pembangunan dan pengembangan kebijakan, perancangan arsitektur, perencanaan dan perancangan kota, perencanaan wilayah dan perdesaan, perumahan dan permukiman, sains dan teknologi bangunan, sejarah dan teori arsitektur dan kota, sistem infrastruktur wilayah dan kota, serta bidang keilmuan lingkungan binaan lainnya.
Articles 237 Documents
Kota Kupang sebagai Heritage City Wilson M.A. Therik
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 3 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.3.161

Abstract

Kota Kupang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata sejarah kota mengingat usia Kota Kupang tidak muda lagi jika dilihat dari keberadaan benteng fort concordia yang didirkan pada Tahun 1640. Kota Kupang membutuhkan revitalisasi agar pengelolaan aset heritage tetap berkelanjutan berbasis pada pariwisata dan ekonomi kreatif.. Artikel ini bertujuan untuk merumuskan policy (kebijakan) tentang pengelolaan Kota Kupang sebagai Heritage City yang akan disampaikan kepada Pemerintah Kota Kupang dengan harapan dapat dimanfaatkan untuk mempopulerkan image Kota Kupang sebagai salah satu Heritage City di Indonesia. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, studi dokumentasi/kearsipan. Untuk analisis data digunakan metode triangulasi dari berbagai sumber dan teknik spiral analisis data. Temuan dari penelitian ini adalah.masih banyak bangunan bersejarah (berusia lebih dari 50 Tahun) yang tidak terawat/terlantar selain tidak tercatat sebagai Bangunan Cagar Budaya, status kepemilikan gedung juga masih menjadi masalah tersendiri yang dicari jalan keluarnya oleh para pengambil kebijakan mulai dari Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kota Kupang dan Pemerintah Kabupaten Kupang agar Kawasan Kota Lama Kupang (KKLK) tetap lestari.
Evaluasi Kenyamanan Audial Ruang Gereja Lanraki Biringkanaya Makassar Dwi Retno Sulistyowati; Asniawaty Kusno; Muhammad Taufik Ishak
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 3 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.3.135

Abstract

Kenyamanan audial merupakan salah satu faktor dalam perencanaan bangunan, khususnya bangunan ibadah seperti gereja. Dalam mencapai kenyamanan audial ruang, arsitek hanya mengacu pada standar yang telah direkomendasikan oleh para ahli tanpa mengetahui pendapat dari pengguna ruang tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dan menyajikan saran desain agar kenyamanan audial pada ruang gereja bisa tercapai. Metode penelitian kuantitatif dengan menganalisis data secara statistik-deskriptif. Alat Sound Level Meter digunakan untuk mengetahui distribusi tingkat tekanan bunyi dalam ruang gereja dan bising latar belakang yang dapat mengganggu suasana khidmat gereja. Waktu dengung dihitung dengan rumus Sabine, redesain dilakukan dengan simulasi menggunakan program Autodesk Ecotect Analysis 2011, serta kuesioner diolah dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 25. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa distribusi tingkat tekanan bunyi telah merata, sedangkan bising latar belakang dan waktu dengung dalam ruang gereja masih melebihi standar. Namun secara keseluruhan, pengguna telah merasa nyaman dengan kondisi audial ruang gereja tersebut. Selanjutnya, jarak dari sumber bunyi dapat mempengaruhi tingkat tekanan bunyi, kebocoran suara dapat mempengaruhi bising latar belakang, serta penggunaan material dan perabot dapat mempengaruhi nilai waktu dengung ruang. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam mendesain gereja selanjutnya atau bangunan sejenisnya.
Disiplin Keilmuan Arsitektur Nusantara Riwayatmu Nanti Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 3 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.4.235

Abstract

Arsitektur bertalian erat dengan budaya. Dalam kategori pokok budaya itu sendiri, arsitektur bukan salah satu pensubstansinya. Tidak pula bisa dipungkiri bahwa kajian arsitektur (vernakular Nusantara) masih menggunakan perspektif sosiologis, antropologis, arkeologis, etnografis, maupun fenomenologis secara masif. Posisi ini menjadikan disiplin arsitektur bukan sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Disiplin arsitektur harus menggandeng atau bahkan meminjam bidang studi lain sebagai sarana bidang studinya. Di sisi lain, diskursus dan kesadaran membangun Arsitektur Nusantara terbaca semakin menguat, hingga seolah menjadi gerakan dekonstruktif untuk menemukan wajah disiplin keilmuan atau bidang studi baru. Persoalannya adalah, apakah disiplin atau bidang studi Arsitektur Nusantara itu sudah dan/atau sedemikian genting sehingga harus bangkit sebagai disiplin keilmuan baru saat ini? Artikel ini mendeskripsikan bagaimana perspektif sosiologis, antropologis, arkeologis, etnografis, maupun fenomenologis bekerja di seputar arsitektur vernakular. Dengan meninjau cara kerja perspektif tersebut, diperoleh posisi melihat Arsitektur Nusantara yang lebih jernih.
Tantangan dalam Desain Arsitektur Nusantara Ch. Koesmartadi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 3 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.4.203

Abstract

Arsitektur Nusantara saat ini menarik perhatian. Selain publikasi yang gencar, juga kesadaran masyarakat akan potensi anak bangsa semakin meningkat. Geliat kegiatan arsitektur Nusantara merata di beberapa sektor, diantaranya minat penelitian dan pengembangannya di perguruan tinggi. Banyaknya sayembara yang menarik perhatian peserta, terutama arsitek muda, bahkan Pemerintrah gencar mengusung arsitektur Nusantara dalam program pembangunan di wilayah Indonesia. Usaha yang gencar ini, memiliki tantangan tersendiri, yakni siapkah pemangku kepentingan dari pendidikan hingga penjaga peraturan bangunan mencapai satu kata. Pengumpulan data dalam tulisan ini dilakukan berdasarkan data primer dalam penelitian tentang atap empyak. Analisis dilakukan secara menyeluruh sehingga tercapai kesamaan pandangan tentang arsitektur nusantara. Temuan dari pembahasan ini adalah keunikan arsitektur karya anak bangsa yang layak ditempatkan sebagai karakter arsitektur bangsa kita sendiri, sehingga tantangan kepada kita semua adalah, beranikah membuat desain dengan mengikuti kaidah-kaidah kearsitekturan di Indonesia.
Arsitektur Nusantara bukan Arsitektur Tradisional maupun Arsitektur Vernakular Linda Octavia; Josef Prijotomo
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 4 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.4.249

Abstract

Di dalam pembahasan tentang tentang arsitektur di Indonesia sebelum kedatangan Belanda/Eropa, selain istilah arsitektur nusantara, terdapat juga istilah lain seperti arsitektur tradisional dan arsitektur vernakular. Ada kalangan yang menganggap ketiganya sama saja, bisa dipertukarkan satu sama lain. Padahal ketiganya tidak berangkat dari logika dan awal-mula yang sama, sehingga tidak bisa disamakan secara serampangan. Maka kajian ini akan menelusuri ruang lingkup, latar belakang keberadaan dan ranah pengetahuan dari masing-masing: arsitektur tradisional, arsitektur vernakular dan arsitektur nusantara. Hasilnya kemudian bisa dijejerkan untuk diidentifikasi ciri dan esensi pokoknya. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa ketiga label istilah itu ternyata berbeda ranah dan bidang garapnya. Yang paling esensial adalah bahwa hanya arsitektur nusantara yang memiliki pemahaman akan perancangan arsitektur, sedangkan yang lain tidak memiliki pemahaman itu, karena dua yang lain (arsitektur tradisional dan arsitektur vernakular) diturunkan dari bidang ilmu yang ‘bukan’ arsitektur. Dengan demikian, label arsitektur nusantara-lah yang patut dikedepankan untuk menamai arsitektur tersebut, bahkan pengembangannya di masa kini dan masa depan.
Karakter Arsitektur Rumah dan Permukiman Abdi Dalem Kampung Dhondhongan Kotagede Marchelia Gupita Sari; Inas Nur Atika
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 4 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.4.242

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter arsitektur rumah dan permukiman abdi dalem juru kunci di Kampung Dhondhongan Kotagede Yogyakarta. Kampung Dhondhongan adalah permukiman abdi dalem di dekat gapura paduraksa Masjid Mataram Islam Kotagede yang terbagi menjadi dua, yaitu abdi dalem Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan rasionalistik. Setelah peninjauan teori, dilakukan observasi lapangan, meliputi dokumentasi, pengukuran, dan wawancara. Analisis karakter arsitektur rumah tinggal dan permukiman spatial system, physical system, dan stylistic system (sesuai Habraken,1988). Hasil penelitian menunjukkan arsitektur rumah tinggal masih memiliki karakter tradisional Jawa, walau telah terjadi perubahan elemen arsitekturnya. Para abdi dalem masih berusaha mempertahankan norma arsitektur abdi dalem dari kraton, kesederhanaan, dan keseragaman fasad rumah tinggal mereka. Permukiman abdi dalem mempertahankan garis pembagian wilayah kerajaan yang berpengaruh pada perkembangan rumah, orientasi bangunan, dan ruang untuk interaksi sosial. Hal ini merujuk pada posisi abdi dalem sebagai ‘kawula’ bagi Kraton.
Dominasi Konsep Lokal pada Rancangan Karsten Albertus Sidharta Muljadinata; Antariksa; Purnama Salura
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 4 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.8.1.1

Abstract

Di dalam perkembangan kota pada era globalisasi ini, terjadi fenomena yang menarik, banyak bagian kota yang chaos dalam perkembangannya, namun terdapat kota yang tetap, tidak berubah. Kota Semarang yang dirancang oleh Herman Thomas Karsten sebagai kota modern mulai tahun 1916, merupakan kota yang tidak berubah karena perkembangan jaman. Sejarah menunjukkan, karya arsitektur yang bertahan adalah yang memiliki aspek lokal dalam konsep rancangannya. Melalui telaah literatur tentang teori kota, arsitektur dan aspek lokal, dan dengan mengambil kasus pada Kota Semarang sebagai kota modern hasil rancangan Karsten, akan didapat dominasi aspek lokal dalam karya Karsten, serta relasi antara aspek lokal dan elemen kota rancangan Karsten. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap konsep Karsten, mengupas semua aspek lokal dalam arsitektur dan kota yang mempengaruhi Karsten, mengungkap dominasi aspek lokal yang terdapat pada kasus studi. Penelitian ini akan memberi manfaat bagi pengembangan keilmuan arsitektur, dan akan memberi wawasan baru kepada para masyarakat akademisi tentang pentingnya aspek lokal pada rancangan kota dan arsitektur. Penelitian ini akan memberi kejelasan, bahwa suatu kota akan tetap bertahan bila arsitektur kotanya memiliki relasi dengan aspek lokal yang ada. Sedangkan bagi masyarakat, penelitian ini akan memberi kontribusi dalam membantu penciptaan lingkungan binaan baru pada artefak benda cagar budaya melalui strategi kerja konservasi arsitektur yang baik.
Investigasi Kinerja Gaya Angin pada Rumah Tradisional Nias Irfan Irwanuddin
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 4 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.4.229

Abstract

Rumah tradisional Nias memiliki sifat yang adaptif terhadap konteks iklim geografis. Meski mulanya rumah ini didesain sebagai bentuk pertahanan, namun secara adaptasi iklim bangunan ini memiliki faktor desain yang unik. Studi kasus dalam kajian ini menggunakan dasar tiga tipologi rumah tradisional Nias (Utara, Tengah, dan Selatan). Masing-masing tipologi tersebut memiliki kesamaan faktor desain, namun dengan perbedaan posisi dan ukuran bukaan, serta geometri massanya masing-masing. Kajian ini berupaya menginvestigasi kinerja gaya angin yang dihasilkan dari rumah tradisional Nias. Metode dalam kajian ini menggunakan analisis deskriptif berbasis simulasi CFD. Hasil penelitian mengungkap adanya perbedaan pola gaya angin pada tiap studi kasus. Selain itu, ditemukan pula korelasi antara faktor geometri denah, geometri atap, posisi, dan jumlah bukaan terhadap gaya angin yang bekerja di dalam ruangan. Perubahan variasi dari bukaan yang bertahap pada faktor desain ketiga studi kasus (Nias Utara-Tengah-Selatan) berdampak pula secara bertahap terhadap kinerja gaya angin pada masing-masing studi kasus.
Pembentukan Pola Jalan dan Pengaruhnya terhadap Konfigurasi Ruang Permukiman Suku Bajo Bone Edward Syarif
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 4 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.4.224

Abstract

Permukiman suku Bajo terletak di pesisir laut Bone, terbentuk karena keterkaitan masyarakat pada perairan. Awalnya permukiman suku Bajo terletak di atas laut pesisir Bone, tetapi akibat terbentuknya jalan lingkar menyebabkan perubahan letak permukiman menjadi di daratan. Hal ini mengakibatkan perubahan konfigurasi ruang permukiman. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh terbentuknya jalan lingkar terhadap konfigurasi ruang permukiman tepi laut suku Bajo Bone. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik analisis diachronic reading yang didukung oleh metode space syntax. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa permukiman suku Bajo Bone berkembang memanjang mengikuti arah perairan. Awalnya terbentuk konfigurasi ruang tidak menyebar (non-distributed) dan membentuk susunan ruang yang terintegrasi, kemudian berkembang membentuk konfigurasi ruang menyebar (distributed) dan membentuk susunan ruang yang tersegregasi. Permukiman suku Bajo akan membentuk susunan ruang yang terintegrasi apabila langsung terhubung dengan laut. Tulisan ini dapat menjadi konsep pengembangan permukiman tepian air yang beradaptasi dengan lingkungan, sosial dan budaya setempat.
Tingkat Keberlanjutan Masyarakat Kampung Biru “AREMA” di Kota Malang Sri Utami; Syamsun Ramli; Fenny Widiana; Dian Kartika Santoso; Andi Finaldi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 4 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.4.216

Abstract

Kota Malang merupakan salah satu kota besar di Jawa Timur. Sebagai ciri kota besar maka di Malang juga bermunculan kampung-kampung berciri khas kota, salah satunya Kampung Rembuyung Embong Brantas. Keberadaan Kampung lama dibantaran Sungai Brantas ini telah bermetamorfosa dari kampung berpenampilan heterogen menjadi Kampung yang homogen dengan penampilan “Biru Arema”. Hal ini menjadi menarik karena keberagaman telah menjadi keseragaman penampilan beridentitas klub sepak bola Arema. Sementara perubahan penampilan ini masih mampu menjadi daya tarik wisatawan. Namun perlu dilakukan penilaian terkait tingkat keberlanjutan masyarakatnya. Sesuai format Community Sustainability Assessment (CSA), bagaimana hasil penilaian terhadap tingkat keberlanjutan masyarakat (PKM) Kampung Biru Arema ditinjau dari aspek sosial, spiritual dan ekologis. Lokasi kampung berada di RW 04 dan RW 05, Kelurahan Kidul Dalem, Kota Malang. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan secara yuridis normatif dan pendekatan secara yuridis empiris. Hasil penelitian berupa rekomendasi untuk meningkatkan tingkat kemampuan masyarakatnya.