cover
Contact Name
Muhammad Rizki
Contact Email
m.rizki8787@gmail.com
Phone
+6285219941987
Journal Mail Official
admin@jurnal-tmit.com
Editorial Address
Jalan Padang Bolak, No. 1B, Labuh Baru Timur, Pekanbaru-Riau
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
ISSN : 28290232     EISSN : 28290038     DOI : -
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan (JTMIT) adalah journal blind peer-review yang bersifat open access yang memungkinkan artikel tersedia secara online tanpa berlangganan apapun. JTMIT didedikasikan untuk publikasi hasil penelitian, artikel teknis, konseptual dan laporan studi kasus dalam bidang Teknologi dan Manajemen secara umum, namun tidak terbatas secara implisit. Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan (JTMIT) dikelola secara professional dan diterbitkan oleh Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual dalam membantu para akademisi, peneliti, dan praktisi untuk menyebarkan hasil penelitiannya
Arjuna Subject : -
Articles 754 Documents
Model Intergrasi AHP-COPRAS dan Clustering Untuk Analisis Penugasan: (Studi Kasus: PLTS Berbasis Gap Kompetensi) Rouly Manurung; Udisubakti Ciptomulyono
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2122

Abstract

Transisi energi nasional menuntut transformasi kompetensi SDM PLN, khususnya pada proyek strategis PLTS Terapung Cirata. Penelitian ini mengembangkan model penugasan terintegrasi yang menggabungkan Analisis Gap Kompetensi (AGK), Analytic Hierarchy Process (AHP), Complex Proportional Assessment (COPRAS), K-Means Clustering, dan Canonical Variate Analysis (CVA). Data dikumpulkan dari 55 responden karyawan dan 4 pakar melalui expert judgment. Hasil menunjukkan defisit terbesar pada Safety Management System/SMS (gap 2,145) dan Environmental Impact Assessment/EIA (2,091), yang secara fundamental disebabkan oleh pergeseran DNA operasional dari pembangkit konvensional ke lingkungan akuatik. Agregasi AHP menghasilkan bobot konsisten (CR = 0,0016) dengan dominasi Sertifikasi EBT (0,358). COPRAS, yang diunggulkan dalam menangani kriteria cost dibandingkan metode kompromi lain, mengidentifikasi K-08 dan K-36 sebagai talenta puncak. Segmentasi k-means menghasilkan tiga klaster yang diterjemahkan menjadi strategi penugasan diferensial: fast-track (6 orang), bridging (36 orang), dan reskilling (13 orang). Validasi CVA (Wilks' Lambda = 0,154, p < 0,001) mengonfirmasi SMS dan EIA sebagai diskriminator utama. Model ini menghasilkan fungsi klasifikasi yang diintegrasikan ke dalam HXMS PLN untuk screening real-time, mendukung transisi energi nasional.
Evaluasi Intensitas Kontribusi Komponen Teknologi pada Kawasan Sains dan Teknologi Menggunakan Ordinal Priority Approach Rizal Kurniawan; Udisubakti Ciptomulyono
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2140

Abstract

Kawasan Sains Teknologi (KST) atau Science and Technology Park (STP) di Indonesia menghadapi tantangan keterbatasan sumber daya, sehingga memerlukan strategi prioritisasi kapabilitas internal yang tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menetapkan urutan prioritas pengembangan komponen-komponen kapabilitas internal KST berdasarkan pendekatan teknometrik. Kerangka kerja Technology Component System Framework (TCSF) digunakan untuk mengklasifikasikan sistem teknologi KST ke dalam lima komponen (Technoware, Humanware, Inforware, Orgaware, dan Cysnetware). Evaluasi multi-kriteria dilakukan menggunakan metode Ordinal Priority Approach (OPA) berbasis linear programming untuk mengakomodasi 3 unsur pengambilan keputusan termasuk hierarki expert di dalam KST. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa komponen Humanware mendominasi sebagai prioritas utama dengan nilai intensitas kontribusi sebesar 0,4054. Komponen Technoware (0,1874), Orgaware (0,1780), dan Inforware (0,1772) berada pada tingkatan tengah dengan nilai kontribusi relatif seimbang, sementara Cysnetware memiliki tingkat prioritas terendah (0,0520). Temuan ini mengonfirmasi teori siklus hidup organisasi di mana pengembangan human capital harus dibangun sebagai fondasi utama sebelum pemenuhan infrastruktur fisik dan digital. Konfigurasi bobot yang dihasilkan dapat menjadi panduan dan acuan prioritas alokasi sumber daya bagi pengelola KST maupun pembuat kebijakan dalam perencanaan pengembangan kawasan menuju fase operasional penuh.
Ergonomic Work Posture Assessment Using REBA to Identify Musculoskeletal Disorder Risks among Modern Retail Employees Syahreen Nurmutia; Wahyu; Esa Pratiwi; Safira Amanda Tama
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2177

Abstract

The modern retail sector exposes employees to the risk of musculoskeletal disorders due to non-ergonomic working postures, particularly during repetitive activities such as item scanning, goods lifting, and cashier service. This study aims to analyse employees' working posture conditions at a modern retail store in Bekasi, identify potential contributing factors associated with ergonomic risks, and formulate ergonomic improvement recommendations. A descriptive ergonomic assessment study was conducted using purposive sampling involving cashiers, warehouse staff, and shelf attendants. The study used the Rapid Entire Body Assessment (REBA) method to assess body segments including the neck, trunk, legs, upper arms, lower arms, and wrists. The assessment results showed a final REBA score of 9, indicating that the observed work activities were categorized as high risk with an action level of 3. The high-risk posture was associated with excessive neck flexion exceeding 20°, trunk bending at 37°, and unacceptable coupling conditions. Repetitive work patterns without adequate job rotation further influenced these conditions. Based on the identified ergonomic risks, recommended improvements include optimizing workplace layout, adjusting work equipment dimensions according to employee anthropometric characteristics, and implementing structured job rotation and rest programs to reduce musculoskeletal disorder risks and improve employee comfort.
Prioritas Pemeliharaan Berbasis Risiko pada Sistem Genset 350 KVA Menggunakan Integrasi Reliability Centered Maintenance (RCM), Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), dan Analisis Keandalan Surasa; Wuguh Pitono
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2188

Abstract

PT. PMI Sarana Utama menggunakan dua unit generator set (genset) berkapasitas masing-masing 350 KVA sebagai sumber listrik cadangan ketika terjadi gangguan suplai listrik PLN. Berdasarkan data operasional periode September 2024 hingga Agustus 2025, sistem genset mengalami gangguan dengan total waktu operasi sebesar 5.880 menit dan downtime sebesar 395 menit yang berdampak terhadap kontinuitas operasional gedung. Penelitian ini bertujuan menentukan prioritas pemeliharaan berbasis risiko pada sistem genset menggunakan integrasi Reliability Centered Maintenance (RCM), Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), dan analisis keandalan. Metode RCM digunakan untuk mengidentifikasi fungsi sistem, mode kegagalan, konsekuensi kegagalan, serta strategi pemeliharaan, sedangkan FMEA digunakan untuk menentukan tingkat risiko berdasarkan parameter Severity, Occurrence, dan Detection. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Automatic Voltage Regulator (AVR) memiliki kontribusi downtime terbesar sebesar 190 menit (48%), diikuti Automatic Mains Failure (AMF) sebesar 90 menit dan ACCU sebesar 70 menit. Hasil FMEA menunjukkan bahwa failure mode AVR berupa ketidakstabilan tegangan output memiliki nilai RPN individual tertinggi sebesar 140, sedangkan failure mode lainnya pada AVR memiliki RPN 96, AMF sebesar 128, dan ACCU sebesar 27. Analisis keandalan menunjukkan nilai availability sistem genset sebesar 93,7%. Berdasarkan integrasi RCM dan FMEA, AVR ditetapkan sebagai komponen prioritas utama dengan strategi condition-directed maintenance untuk meningkatkan keandalan sistem genset.