cover
Contact Name
Muhammad Rizki
Contact Email
m.rizki8787@gmail.com
Phone
+6285219941987
Journal Mail Official
admin@jurnal-tmit.com
Editorial Address
Jalan Padang Bolak, No. 1B, Labuh Baru Timur, Pekanbaru-Riau
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
ISSN : 28290232     EISSN : 28290038     DOI : -
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan (JTMIT) adalah journal blind peer-review yang bersifat open access yang memungkinkan artikel tersedia secara online tanpa berlangganan apapun. JTMIT didedikasikan untuk publikasi hasil penelitian, artikel teknis, konseptual dan laporan studi kasus dalam bidang Teknologi dan Manajemen secara umum, namun tidak terbatas secara implisit. Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan (JTMIT) dikelola secara professional dan diterbitkan oleh Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual dalam membantu para akademisi, peneliti, dan praktisi untuk menyebarkan hasil penelitiannya
Arjuna Subject : -
Articles 754 Documents
Identifikasi Hambatan Utama Pengembangan Eksplorasi Panas Bumi di Indonesia Menggunakan Metode Grey Delphi Gilang Ardi Pratama; Mairizal; Syahreen Nur Mutia; Wahyu; Esa Pratiwi
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2171

Abstract

Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar, namun realisasi pemanfaatannya masih jauh dari target nasional, terutama karena tingginya risiko dan hambatan pada tahap eksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan hambatan teknis utama dalam eksplorasi panas bumi di Indonesia menggunakan metode Grey Delphi. Melalui tinjauan literatur yang komprehensif, dua belas variabel hambatan teknis diidentifikasi, kemudian divalidasi oleh panel ahli menggunakan kuesioner berbasis grey number untuk menangani ketidakpastian informasi. Data yang terkumpul diolah melalui proses whitening untuk menentukan nilai crisp bagi setiap variabel, dengan ambang batas (threshold) sebesar 0,65 sebagai kriteria penentu signifikansi hambatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua hambatan teknis yang paling kritis, yaitu "Kelanjutan proses" dengan nilai crisp 0,720 dan "Metode Eksplorasi" dengan nilai crisp 0,700. Temuan ini mengindikasikan bahwa ketidakpastian dalam keberlanjutan investasi setelah perolehan data awal serta ketepatan metodologi eksplorasi menjadi tantangan krusial yang memerlukan perhatian segera. Sepuluh variabel lainnya, seperti kelayakan sumber panas, teknologi pelacakan, dan survei mikro-seismik, dinilai kurang signifikan oleh panel ahli pada tahap ini. Hasil penelitian ini memberikan rekomendasi strategis bagi pengembang dan pemerintah untuk lebih fokus pada perbaikan regulasi alur proses dan validitas teknik eksplorasi guna memitigasi risiko kegagalan sumur serta mempercepat pengembangan kapasitas panas bumi di Indonesia.
Optimalisasi Moda Transportasi Laut pada Pengiriman Ekspor Komoditas Perishable dari P4S Lembang Agri ke Taiwan Rosalira Putria Nurluthfiani
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.1996

Abstract

Indonesia memiliki potensi besar dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional bahkan mendorong berkembanganya perdagangan internasional melalui sumber daya alamnya yang melimpah. Saat ini P4S Lembang Agri tengah mengekspor komoditas head lettuce ke Taiwan dengan volume 30 ton per minggu, namun mereka menghadapi kendala dimana tingkat kerusakan mencapai 10% yang diakibatkan oleh keterbatasan cold chain pada pengiriman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perusahaan logistik jalur laut yang sekiranya paling optimal melalui metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan kriteria biaya logistik, waktu pengiriman, dan keandalan serta alternatif perusahaan Mediterranean Shipping Company (MSC), Maersk Line, dan CMA CGM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria keandalan menjadi priroritas utama dengan bobot 0,38 dan Maersk Line memperoleh bobot alternatif tertinggi dengan bobot 0,48 sehingga direkomendasikan menjadi pilihan yang optimal guna pengiriman ekspor komoditi head lettuce ke Taiwan.
Comparative Value Chain Analysis of Coffee, Tofu, and Gethuk Pisang in East Java, Indonesia Maria Anityasari; Putu Dana Karningsih; Faiqoh Agustin; Rivaldo Indrawijaya
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2082

Abstract

Rantai nilai pertanian sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi pedesaan karena memiliki kemampuan untuk menghasilkan nilai melalui proses produksi, pengolahan, dan pemasaran. Tetapi hasil ekonomi dari setiap komoditas pertanian atau agro-pangan mungkin akan berbeda karena distribusi rantai nilai, koordinasi pemangku kepentingan, dan struktur tata kelola setiap komoditas berbeda satu sama lain. Studi ini menggunakan observasi lapangan dan wawancara semi-terstruktur untuk menganalisis rantai nilai pada kopi tahu, dan gethuk pisang di Jawa Timur, Indonesia. Selain itu, penelitian ini menyelidiki bagaimana berbagai tindakan, sistem tata kelola, dan pemangku kepentingan dapat meningkatkan nilai bisnis agro-pangan. Tujuan pemetaan pemangku kepentingan dan analisis rantai nilai adalah untuk menemukan perbedaan dan peluang untuk memperbaiki rantai nilai. Berdasarkan hasil studi, rantai nilai gethuk, kopi, dan tahu memiliki konfigurasi pemangku kepentingan dan kerangka tata kelola yang berbeda. Rantai nilai tahu dan gethuk pisang dipengaruhi oleh kondisi dan hubungan di pasar domestik, sementara rantai nilai kopi terdiri dari standar kualitas yang didorong oleh pembeli dan pasar yang berorientasi ekspor. Namun, kekuatan tawar produsen yang terbatas, pembagian nilai yang tidak merata, dan batasan akses ke pasar yang lebih luas adalah masalah yang dihadapi oleh ketiga komoditas ini. Studi ini kemudian menekankan bahwa strategi khusus untuk pengembangan rantai nilai komoditas harus diterapkan untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan sektor agro-pangan di Jawa Timur melalui peningkatan koordinasi pemangku kepentingan.
Efektivitas Hydrochar Serbuk Kayu Sengon sebagai Adsorben dalam Menurunkan Kadar Antibiotik Enrofloxacin pada Limbah Cair Islamiyatur Rosida; Muchammad Tamyiz
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2092

Abstract

Enrofloxacin merupakan antibiotik yang berpotensi mencemari lingkungan perairan karena bersifat persisten dan sulit terdegradasi secara alami. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas hydrochar berbahan serbuk kayu sengon sebagai adsorben untuk menyisihkan enrofloxacin serta menentukan kondisi optimum berdasarkan ukuran partikel, waktu kontak, pH, konsentrasi awal, dan dosis adsorben. Hydrochar diproduksi melalui hidrotermal karbonisasi pada suhu 200°C selama 10 jam, kemudian dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Konsentrasi sisa enrofloxacin dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis untuk menghitung efisiensi penyisihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hydrochar berukuran 160 mesh memiliki kemampuan adsorpsi terbaik dan digunakan pada pengujian lanjutan. Variasi waktu kontak memperlihatkan bahwa efisiensi adsorpsi meningkat hingga mencapai nilai maksimum 48,69% pada menit ke-30. Kondisi pH netral, yaitu pH 7, menghasilkan penyerapan terbaik. Pada variasi konsentrasi awal, konsentrasi 5 mg/L memberikan persentase penyisihan tertinggi, sedangkan peningkatan konsentrasi menurunkan efisiensi akibat keterbatasan situs aktif adsorben. Peningkatan dosis hydrochar meningkatkan efisiensi adsorpsi hingga mencapai kondisi kesetimbangan. Pengujian triplo menunjukkan hasil yang konsisten dan presisi. Analisis FTIR mengidentifikasi gugus hidroksil, karbonil, aromatik, C–O, dan C–O–C yang berperan dalam adsorpsi melalui ikatan hidrogen, interaksi elektrostatik, dan interaksi π–π. Temuan ini menunjukkan bahwa karakteristik permukaan, ketersediaan gugus fungsi, dan kondisi operasional secara bersama-sama memengaruhi kapasitas penyerapan, sehingga optimasi parameter diperlukan untuk memperoleh kinerja pengolahan limbah antibiotik yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan. Dengan demikian, hydrochar serbuk kayu sengon berpotensi menjadi adsorben alternatif yang ramah lingkungan untuk menyisihkan enrofloxacin dari larutan.
Analisis Pengendalian Persediaan Spare Part MRO melalui Integrasi ABC-FSN dan Min-Max Kansa Tsaqifa Azzahra; Bambang Darmawan; Saskia Kanisaa Puspanikan
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2102

Abstract

Pengendalian persediaan spare part pada fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) diperlukan untuk menjamin ketersediaan material sekaligus meminimalkan risiko kelebihan stok. PT XYZ belum menerapkan pengelompokan spare part berdasarkan nilai konsumsi dan tingkat pergerakan sebagai dasar penetapan kebijakan persediaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi spare part prioritas melalui integrasi klasifikasi ABC dan FSN serta menyusun rekomendasi pengendalian persediaan menggunakan metode Min–Max. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan data primer berupa observasi dan wawancara serta data sekunder berupa histori persediaan, issued date, harga satuan, dan lead time terhadap 248 jenis spare part. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klasifikasi ABC menghasilkan 8 item kategori A dengan kontribusi 79,22% terhadap total nilai konsumsi persediaan, sedangkan klasifikasi FSN menghasilkan 81 item (33%) kategori fast moving dan 167 item (67%) kategori slow moving. Integrasi ABC–FSN mengidentifikasi lima spare part kategori A–Slow Moving sebagai prioritas pengendalian. Perhitungan metode Min–Max menghasilkan parameter safety stock, minimum stock, maximum stock, dan order quantity sesuai karakteristik kebutuhan dan lead time setiap item. Integrasi klasifikasi ABC–FSN dan metode Min–Max dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pengendalian persediaan yang lebih efektif untuk menjaga ketersediaan material dan mengurangi potensi dead stock.
Pengaruh Windlass Pada Proses Hibob Jangkar: (Studi Kasus: Kapal MT. Rhone) Chelvin Putra Pamungkas; Damoyanto Purba; Femmy Asdiana; Firdaus Sitepu
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2111

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh windlass terhadap proses hibob jangkar di kapal serta tindakan awak kapal selama proses tersebut. Windlass adalah peralatan mekanis yang digunakan untuk mengendalikan tali dan rantai pada saat pengangkatan dan penurunan jangkar. Penggunaan windlass yang efisien dan tepat sangat penting untuk memastikan operasi yang aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh windlass pada proses hibob jangkar dan tindakan crew kapal pada proses hibob jangkar untuk meminimalisir kesalahan saat proses hibob jangkar terjadi. Salah satunya human error  saat melakukan proses hibob jangkar membuat terhambatnya proses kapal untuk berolah gerak. Selain itu, tindakan awak kapal yang tepat, seperti pemantauan kondisi windlass dan koordinasi yang baik selama operasi, juga menjadi faktor kunci dalam kesuksesan dan keselamatan proses hibob jangkar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan praktis bagi industri maritim dalam mengoptimalkan penggunaan windlass dan meningkatkan prosedur operasi awak kapal. Metodologi yang digunakan meliputi observasi, wawancara secara langsung pada crew kapal, dan dokumentasi yang berkaitan dengan judul karya ilmiah terapan ini. Penelitian ini menemukan bahwa windlass memiliki peran signifikan dalam menentukan kecepatan dan ketepatan proses hibob jangkar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan praktis bagi crew kapal untuk meningkatkan keefektivan dan kelancaran dalam proses hibob jangkar agar olah gerak kapal dalam berjalan dengan baik.Penelitian ini dilaksanakan ketika praktek laut selama 12 bulan diatas kapal untuk menunjukkan bahwa pengetahuan, kemampuan, dan kesadaran diri dalam menjalankan prosedur hibob jangkar  yang sangat penting untuk memperhatikan setiap langkah standar yang seharusnya dilakukan.
Optimalisasi Penerapan Ship Security Plan Dalam Implementasi ISPS Code: (Studi Kasus: Kapal MV. Meratus Project 1) Muhammad Rachmad Wicaksono; Dety Sutralinda; Frita Ayu Sistyana Putri; Arleiny
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2112

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penerapan Ship Security Plan dalam implementasi ISPS Code untuk menjaga keamanan kapal, awak kapal, muatan, dan kelancaran operasional pelayaran. MV. Meratus Project 1 sebagai kapal general cargo dengan muatan loose cargo berupa fabrikasi baja beroperasi pada rute domestik antara Jetty PT. IHI POWER SERVICE Serang, Banten dan Jetty PT. AMMAN MINERAL International Tbk Benete, Sumbawa. Mulai tanggal 29 Juli 2024 – 29 Juli 2025 praktik laut, kapal beroperasi pada security level 1 dan tidak mengalami ancaman keamanan dan kendala, namun tetap melaksanakan prosedur keamanan serta drill secara konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prosedur pelaksanaan Ship Security Plan dalam implementasi ISPS Code di kapal serta Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan Chief Officer sebagai perwakilan crew deck dan Masinis 1 sebagai perwakilan crew engine. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dan diperkuat dengan triangulasi regulasi internasional dan nasional terkait keamanan kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pelaksanaan Ship Security Plan di MV. Meratus Project 1 telah berjalan dengan baik, konsisten, dan bersifat preventif melalui pengawasan akses ke kapal, pengamanan area terbatas, pengawasan muatan dan ship’s stores, serta pelaksanaan drill keamanan. di kapal MV.Meratus Project 1, prosedur keamanan juga berjalan normal dan stabil sesuai security level 1 melalui pengendalian akses, pengawasan kegiatan operasional, dan koordinasi keamanan pada antarmuka kapal-pelabuhan. Dengan demikian, penerapan Ship Security Plan di MV. Meratus Project 1 telah mendukung implementasi ISPS Code secara baik dalam menjaga stabilitas keamanan kapal dan kelancaran operasional pelayaran.
Analisis Waste Overproduction dan Inventory Pada Proses Produksi Braket AC Menggunakan Metode Lean Manufacturing : (Studi Kasus: UD. Raja Ring) Moh. Fatchur Rohman; M. Nushron Ali Mukhtar
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2116

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sumber pemborosan akibat produksi berlebih dan penumpukan inventaris dalam proses produksi braket AC di UD. Raja Ring, serta mengusulkan strategi perbaikan berbasis *Lean Manufacturing* menggunakan pendekatan Kanban dan 5S. Value Stream Mapping (VSM) digunakan untuk mengidentifikasi pemborosan produksi dan mengevaluasi kinerja proses, sementara sistem Kanban dua kartu dirancang untuk mengendalikan inventaris Work-in-Process (WIP) dan mendukung transisi dari sistem produksi push ke sistem pull. Selain itu, metode 5S diusulkan untuk memperbaiki penataan tempat kerja dan efisiensi operasional di area pelapisan coating. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses produksi awal memiliki lead time sebesar 2.602 detik dan Process Cycle Efficiency (PCE) sebesar 53,9%, dengan rata-rata WIP sebanyak 233 set. Sistem Kanban yang diusulkan (permintaan 124 set/hari, kapasitas wadah 10 set, dan 18 kartu Kanban) berpotensi mengurangi rata-rata WIP sebesar 61,4% menjadi 90 set, sedangkan perbaikan 5S yang diusulkan meningkatkan efisiensi area pelapisan dari 33,3% menjadi 70,0% (p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi Kanban dan 5S secara efektif mengurangi pemborosan produksi, memperbaiki aliran material, dan meningkatkan efisiensi operasional pada UKM pengolahan logam.
Predictive Maintenance of Government Official Vehicles Using Linear Regression and Decision Tree Machine Learning Models Esa Fauzi; Hervin Avionilova
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2119

Abstract

Penerapan teknologi machine learning dalam predictive maintenance kendaraan dinas bertujuan meningkatkan produktivitas dalam memprediksi biaya dan jadwal pemeliharaan, serta penggantian suku cadang kendaraan. Penelitian ini menggunakan machine learning untuk menganalisis data historis pemeliharaan kendaraan dinas dan memprediksi kebutuhan pemeliharaan di masa mendatang. Model machine learning yang digunakan untuk memprediksi tanggal dan biaya servis adalah regresi linier, sedangkan decision tree digunakan untuk prediksi suku cadang. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data, prapemrosesan data, pelatihan model, evaluasi model, dan implementasi model. Model yang dihasilkan diharapkan dapat memberikan prediksi yang akurat mengenai biaya dan jadwal pemeliharaan, serta penggantian suku cadang kendaraan, sehingga membantu mengoptimalkan pengelolaan kendaraan dinas. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengoptimalkan manajemen pemeliharaan dan alokasi anggaran pemeliharaan kendaraan dinas.
Perancangan Pemilihan Lokasi Gudang Pendukung Dalam Pengelolaan Material Pemeliharaan Pembangkit Listrik Tersebar Berdasarkan Analytic Hierarchy Process Dan Goal Programming: (Studi Kasus : PT. PLN Nusantara Power Up Pandan) Erwan Aprianto; Udisubakti Ciptomulyono
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2121

Abstract

PT PLN Nusantara Power’s Pandan Generation Unit (UP Pandan) manages various Hydropower Plants (PLTA) and Mini-Hydropower Plants (PLTMH) distributed across ten regencies in North Sumatra Province. Ensuring the availability of spare parts for maintenance activities is crucial for maintaining the continuity of the electrical system. However, the dispersed nature of these power plants presents challenges regarding distribution distances, travel risks, transit times, and logistics costs. These complexities are compounded by a storage structure split between a central warehouse and stock points at individual generation units. Establishing a sub-warehouse offers a potential solution to minimize distance, time, risk, and cost through strategic location selection. This study aims to determine the optimal sub-warehouse location by evaluating criteria such as distance, travel time, transportation costs, and risk, utilizing the Analytic Hierarchy Process (AHP) and Goal Programming (GP) methods. AHP results indicate that risk is the highest-priority criterion (0.67427 or 67.43%), followed by distance from the central warehouse (0.12602 or 12.60%), transportation costs (0.12099 or 12.10%), and travel time (0.07871 or 7.87%). These weights were subsequently integrated into a GP model to evaluate three potential locations. The optimization results identified the Renun Hydropower Plant (X₂) as the best location for the sub-warehouse. Sensitivity analysis, involving a ±20% variation in risk weights, confirmed that the results remained consistent and feasible. Consequently, the Renun Hydropower Plant can effectively support the central warehouse in distributing spare parts to the dispersed power plants, thereby enhancing the reliability of maintenance and operational services across all managed generation units.