cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 1,528 Documents
Sosial determinan kesehatan kasus HIV/AIDS pada pegawai negeri sipil di kabupaten Nunukan tahun 2017 Eka Putri Rahayu
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.876 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37596

Abstract

Berdasarkan laporan kasus HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kab. Nunukan di Provinsi Kalimantan Utara mencatat bahwa ada penemuan kasus baru sebanyak 12 kasus di sepanjang tahun 2016. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang berjumlah 10 kasus pada tahun 2015. Dari seluruh penderita yang dimaksud, teridentifikasi ada yang berprofesi sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil), 12 persennya PNS. Mereka yang tertular penyakit tersebut rata-rata ibu rumah tangga dan kepala rumah tangga, yang berusia produktif. Peningkatan kasus HIV/AIDS justru dari kalangan masyarakat umum sedangkan dari tempat lokalisasi, Dinas Kesehatan Kab. Nunukan tak menjumpai adanya peningkatan. Bahkan kasusnya ditemukan di pedesaan jauh seperti di Krayan, Kab.Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi sosial determinan kesehatan kasus HIV/AIDS pada pegawai negeri sipil di kabupaten Nunukan tahun 2017. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam. Informan yang diwawancarai diantaranya adalah peneliti HIV/AIDS, penanggung jawab program KPAI serta dosen bidang promosi kesehatan. Instrumen yang digunakan diantaranya panduan wawancara mendalam dan dilengkapi dengan alat perekam suara. Hasil yang didapat adalah adanya pengetahuan masyarakat yang minim akan HIV/AIDS memunculkan stigma yang terbentuk di masyarakat, adanya akses ke pelayanan “plus-plus” meskipun berada di daerah terisolir, adanya dominan penyebab kasus HIV/AIDS pada PNS adalah akibat gonta ganti pasangan. Hal ini tidak terlepas dari perilaku seksual. Rata-rata penderita HIV/AIDS berada di usia produktif. Dibutuhkan kerjasama dengan stakeholder terkait untuk melaksanakan program penanggulangan kasus HIV/AIDS. Fungsi pengawasan dan penindakan juga harus ditingkatkan dalam hal pelaksanaan kebijakan program HIV/AIDS.
Peningkatan jumlah tenaga kerja Indonesia, human trafficking dan kematian tenaga kerja Indonesia Florida Agata Suni
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.37597

Abstract

Globalisasi dapat memberikan kemajuan dan dampak positif bagi banyak orang. Hidup dalam era globalisasi mempermudah manusia untuk mendapatkan segala sesuatu. Namun dibalik itu ada dampak negative yang juga dirasakan oleh banyak kalangan salah satunya adalah kalangan orang berpenghasilan rendah. Dengan penghasilan yang rendah tidak dapat menjawab permasalahan yang ada di era global ini sehingga mereka rela menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negara asing yang sebagian besarnya menjadi pembantu rumah tangga untuk membantu keluarga di Indonesia. Jumlah pengiriman TKI terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, jumlah ini juga sebanding dengan jumlah TKI tidak berdokumen serta illegal. Hal ini akan mempersulit TKI untuk mendapatkan akses ke layanan kesehatan dan layanan sosial lainnya. Apabila TKI tidak mendapatkan layanan kesehatan maka dapat mengancam nyawa mereka. Penelitian ini bertujuan menunjukkan tingginya angka kematian, human trafficking dan determinant penyebab kematian TKI. Metode penelitian mencakup analisis data dan Jurnal. Sejak tahun 2012 – 2017 tercatat sebanyak 1.267 kasus TKI meninggal di tempat pengabdian. Lebih dari separuh penyebab kematian TKI dikarenakan sakit dan pemulangan jasad tidak utuh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang sebagian besarnya adalah ibu rumah tangga dan anak perempuan (perekrutaan illegal) yang seharusnya mengambil peran penting dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa tetapi tidak mendapatkan perhatian yang khusus dari pemerintah terutama dalam mendapatkan layanan kesehatan di negara tempat mereka mengabdi sehingga berakhir dengan kematian. Pemerintah harus meneggakkan kebijakan yang telah dikeluarkan sehingga tidak ada lagi perekrutan TKI illegal yang berakhir dengan kematian serta memastikan para TKI mendapatkan Hak Asasi Manusia secara penuh salah satunya adalah dengan mempermudah TKI untuk mengakses layanan kesehatan di wilayah kerja mereka masing-masing.
The effect of residential ecosystem zone with stunting event in Kupang Joice Deby Nafi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1257.342 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37598

Abstract

Stunting in children was one of malnutrition due to the limitations of overall socioeconomic conditions in the past. As a height, stunting was indexed by the age of less than minus two standard deviations (<-2 SD) or height of children under five was shorter than should be achieved at a certain age (Kemenkes 2010). Based on Riskesdas in 2013, the incidence of stunting in Indonesia tends to increase. The prevalence of under-fives stunting in 2013 was 37.2%. It was higher than in 2010 at 35.6%. The prevalence of stunting in East Nusa Tenggara was the highest nationally by 58.4% in 2010 and 51.7% in 2013 while in Kupang district the stunting incidence was still around 46.3% (Kemenkes 2013). The aims of this study were on determine the effect of residential ecosystem zone on the occurrence of stunting. Based on the results of the study, it conducted on 132 subjects spread in the highlands and low, known that environmental sanitation, intake of energid an infectious disease in fact be the determining factor of stunting events in children. The hilly area of NTT took care of the availability of food and health services. People in upland areas had more difficult access to health services, access to information, and the availability of primary needs than lowland communities. Poor people were faced with the fact that infrastructure does not support so they cannot obtain optimal health services. Communities were very limited with information about health and are further aggravated by cultural practices that do not support a healthy lifestyle. Stunting problems would cause problems in the future, if it was not handled early. It because of stunting not only inhibits physical growth alone, but also affected the mental and intelligence of children who could lead to poverty. Therefore, the stunting problem must get a quick intervention in order to save the nation's grater.
“Person with disabilities” and their “social determinants of health”- the neglected paradigm of public health Mohammad Monjurul Karim
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.999 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37600

Abstract

This study was conducted to aware the audience to be more concern about “person with disabilities” and their “social determinants of health” as an emerging area in public health. WHO mentioned, 15% of the global populations are suffering from some form of disabilities and the number is higher comparing the report of 1970s. Public health aim to prevent mortality, morbidity and disability in different sectors (Donald, Lollar & John, 2003). But its alarming that disability preventive program often neglected in public health programs. Even the link between diseases and disability is often overlooked in several cases like GBS, encephalitis, transverse myelitis etc. Reduced inflow and increased outflow of finance and social determinants of health impact negatively on the life of the person with disabilities. Continuous effort to improve the social determinants of health worked tremendously over the last few decades to improve the life of human being globally, which is unfortunately sometimes worked as predisposing factor to the increased number of disabilities. But effort to reduce burden of disability and to improve SDH is just negligible. The 67th World Health Assembly adopted a resolution endorsing the WHO global disability action plan 2014–2021: Better health for all people with disability. It reflects the major shift in global understanding and responses towards disability. It could be concluded that it’s the high time to look more precisely in this neglected area whiting various discourse of SDH which will be a big burden of the public health in coming days. More research is required to minimize number of disability as well the after math of disability.
Permasalahan Klasik Surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi: Evaluasi di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah cahyadin cahyadin
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1028.096 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37610

Abstract

Latar Belakang. Surveilans merupakan salah satu ujung tombak dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Dalam pelaksanaannya, surveilans penyakit masih memiliki permasalahan pada beberapa persoalan klasik tertentu. Penelitian ini merupakan studi evaluatif terhadap pelaksanaan surveilans penyakit di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah.Metode. Evaluasi dilakukan pada surveilans PD3I. Data dikumpulkan pada 26 petugas surveilans puskesmas dan satu orang petugas surveilans Dinas Kesehatan Blora menggunakan kuesioner terstruktur dan lembar observasi. Evaluasi dilakukan pada bulan November 2016 sampai Januari 2017.Hasil. Surveilans memberikan laporan tentang jumlah kasus dan tidak tersedia data populasi sebagai denominator dalam menghitung prevalensi atau insidensi penyakit. Surveilans hanya fokus pada pusat pelayanan kesehatan. Petugas yang melakukan analisis dan interpretasi data hanya 36,5%. Ketepatan laporan surveilans; mingguan (74,0%) dan bulanan (69,2%) sedangkan kelengkapan laporan; mingguan (92,0%) dan bulanan (84,9%). Integrasi pelaporan penyakit dengan pelayanan swasta belum dilakukan. Jumlah SDM yang terbatas sehingga semua petugas bertanggungjawab pada beberapa program kesehatan lainnya dan 61,5% diantanya bertanggungjawab pada 3 - 4 program kesehatan. Petugas yang mendapatkan pelatihan hanya sebesar 23,1%. Sedangkan supervisi, feedback dan diseminasi informasi belum dilaksanakan secara rutin.Kesimpulan. Pelaksanaan surveilans pada tingkat puskesmas membutuhkan pembenahan terutama tugas pokok surveilans; pengumpulan, analisis dan interpretasi data serta diseminasi informasi. Petugas surveilans sebaiknya tenaga terlatih dan fokus pada pelaksanaan surveilans sehingga dapat maksimal pada semua komponennya.
Tuberculosis research in ASEAN countries: a bibliometric analysis cahyadin cahyadin; Ade Kartikasari Sebba; Vivin Fitriana
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1457.48 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37611

Abstract

Introduction. Research on TB is a fundamental key in the process to eliminate this bacterial infection as a threat to global health and the analysis of the scientific output provides valuable information related to trends in time and the epidemiology of the disease.Objective. Describing scientific output of TB research in ASEAN countries.Method. Searches were completed on August 11, 2017, using the Pubmed database, filtered by ASEAN countries. Terms related to TB were used to perform a title keyword search. The number of publications by year, research trends, top productive countries, citation analysis, and most dominant journals were analyzed by Scopus platform.Results. ASEAN countries produced 2,630 TB publications. Majority of the publications in ASEAN (63,78%) appeared in the last decade. The average annual growth rate was 9.11%. Thailand was the most productive country that contributes about 28.52% (751), followed by Singapore (432; 16.42%), Malaysia (281; 10.68%) Vietnam (231; 8.78) and Indonesia (177; 6.73%). The top two most highly cited articles were published in the Journal of Clinical Biology and The Lancet. The top three productive journals were International Journal of TB and Lung Disease (231 papers; 8.78%), Southeast Asian Journal of Tropical Medicine and Public Health (148 papers; 5.62%) and Journal of The Medical Association Thailand (112 papers; 4.25%). Top ten journal of TB contained 33.53% papers. Emerging research topics in the last years include co-infection, latent tuberculosis, interferon-gamma release tests, emigrants and immigrants, thoracic radiography, and tuberculin test.Conclusion. There was increasing research activity of TB in ASEAN region over the last decade. Thailand, Singapore, and Malaysia are the leading countries that contribute around 55.66% of total TB research in ASEAN countries.
Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah Tahun 2017 Cahyadin Cahyadin; Henny Indriyanti
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.94 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37613

Abstract

Tujuan: Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) merupakan upaya memantau secara terus menerus penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) yang membutuhkan respon cepat. SKDR mengamati 23 penyakit berpotensi KLB melalui portal online yang sewaktu-waktu dapat memberikan sinyal KLB jika melebihi nilai ambang batas pada masing-masing penyakit. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan laporan SKDR dan penilaianpada proses pelaksanaannya. Metode: Data yang dianalisis adalah laporan mingguan SKDR Kabupaten Blora tahun 2017. Analisis dilakukan secara deskriptif. Penilaian proses pelaksanaan SKDR dilakukan melalui wawancara dengan petugas surveilans Puskesmas dan Dinas Kesehatan Blora. Hasil: Jumlah peringatan dini KLB selama tahun 2017 adalah 83. Semua peringatan dini tersebut telah direspon dan dikonfirmasi dalam waktu kurang dari 24 jam. Ketepatan laporan adalah 82,0% dan kelengkapan 97,0%. Penyakit dengan laporan SKDR tertinggi adalah ILI, diare akut, suspek demam tifoid dan pneumonia. Permasalahan SKDR adalah perbedaan sumber laporan setiap puskesmas dan jumlah layanan kesehatan desa atau Pustu yang mengumpulkan laporan mingguan tidak selalu sama. Simpulan: SKDR Kabupaten Blora cukup baik dalam kelengkapan dan ketepatan laporan. Puskesmas dan Dinas Kesehatan perlu memaksimalkan monitoring pada layanan kesehatan dalam mengumpulkan laporan.
Provider initiative test and counseling (PITC) sebagai upaya perluasan tes HIV pada populasi khusus Sitti Sudrani
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.613 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37615

Abstract

Latar belakang: Prevalensi HIV di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara terus meningkat dan menyebar hingga di populasi ibu rumah tangga. Dalam 7 tahun terakhir 21.6 % pasien HIV adalah ibu rumah tangga. Meski masih dalam level concentrated epidemic, angka ini telah menunjukkan meluasnya infeksi HIV pada masyarakat umum dan terlambatnya upaya pengendalian. Tes HIV sukarela untuk diagnosa tidak sebanding dengan laju epidemi HIV yang sangat cepat. PITC menjadi pilihan untuk menemukan sebanyak mungkin orang yang telah terinfeksi HIV pada populasi khusus dan memfasilitasi mereka untuk mendapatkan perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP). Tujuan: Mengevaluasi input, proses dan output layanan PITC dalam meningkatkan jumlah orang di populasi khusus yang dites HIV dan mengetahui hasilnya. Hasil: Sasaran program adalah populasi khusus yang terdiri dari ibu hamil dan pasien dengan penyakit terkait HIV yang berkunjung ke puskesmas atau berada di wilayah kerja puskesmas yang mendapat pelayanan di posyandu atau kunjungan rumah pada 13 wilayah kerja puskesmas di Kota Kendari. Kegiatan meliputi: pemberian informasi tentang HIV, penawaran tes, tes HIV, penyampaian hasil tes dan konseling serta rujukan ke PDP jika hasil HIV positif. Pelaksana PITC adalah tim yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, laboran dan Petugas RR. Simpulan: Terjadi peningkatan yang signifikan pada jumlah orang yang dites HIV dan mengetahui hasilnya melalui PITC di 15 puskesmas di Kota Kendari.
Penyelidikan KLB keracunan makanan acara ruwahan di desa Mulo, Gunung Kidul provinsi DIY Mur Prasetyaningrum; Z. Chomariyah; Trisno Agung Wibowo
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.843 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37616

Abstract

Tujuan: Studi ini untuk mengetahui gambaran KLB keracunan pangan yang terjadi di desa Mulo menurut deskripsi epidemiologi, faktor risiko dan penyebab KLB keracunan makanan. Metode: Studi ini menggunakan studi analitik case control, dimana kasus adalah orang yang mengalami sakit pada tanggal 7 - 8 Mei 2017, tinggal di desa Mulo dan mengkonsumsi makanan olahan dari bapak S dan K. Instrument menggunakan kuesioner. Hasil: KLB terjadi di Desa Mulo RT 5 dan 6 dengan jumlah kasus sebanyak 18 orang dari total population at risk 112 orang dengan gejala utama diare (100%), mual (72,2%), demam (66,6%), pusing (66,6%) dan muntah (50%). Dari diagnosa banding menurut gejala, masa inkubasi dan agent penyebab keracunan, kecurigaan kontaminasi bakteri mengarah pada E. Coli (ETEC). Masa inkubasi 1-16 jam (rata-rata 9 jam) dan common source curve. Penyaji makanan ada dua (pak K dan pak S). Dari perhitungan AR, berdasarkan sumber makanan mengarah pada makanan dari pak S (AR=42,8%). Bedasarkan menu, perhitungan OR dan CI 95 % jenis makanan yang dicurigai sebagai penyebab KLB adalah urap/gudangan (OR=4,33; p value0,0071) dan sayur lombok (OR=6,31; p value 0,0071). Sampel yang didapatkan adalah sampel air bersih, feses, dan muntahan penderita, sampel makanan tidak didapatkan karena keterlambatan informasi dari masyarakat. Hasil laboratorium, Total Coliform sampel air bersih melebihi ambang batas, sampel feses dan muntahan mengandung bakteri Klebsiella pneumonia.Simpulan: Terdapat 3 (tiga) faktor yang diduga sebagai penyebab keracunan pada warga Desa Mulo yaitu air bersih untuk mengolah makanan tercemar bakteri patogen, pengolahan makanan tidak hygienis dan penyajian makanan pada suhu ruang lebih dari 1 jam.
Kejadian luar biasa makan siang di PT X Indonesia kecamatan Kalasan kabupaten Sleman Yogyakarta tahun 2017 Vivin Fitriana; Rieski Prihastuti; Adi Isworo; Riris Andono Ahmad
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.11 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37617

Abstract

Tujuan: Tanggal 17 Mei 2017 Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menerima laporan dari Rumah Sakit Islam Yogyakarta adanya pasien yang mengalami gejala mual, muntah, diare, lemas, nyeri perut dari PT. X Indonesia sebanyak 36 orang. Penyelidikan dilakukan untuk mengkonfirmasi KLB, menentukan faktor risiko dan upaya pengendalian. Metode: Penyelidikan ini menggunakan cohort retrospektif. Kasus adalah karyawan PT. X Indonesia yang mengkonsumsi makan siang tanggal 16 Mei 2017 pukul 12:00 WIB dan mengalami dua atau lebih gejala; diare atau mual atau keringat dingin atu pusing disertai gejala lainnya mulai tanggal 16-18 Mei 2017 setelah mengkonsumsi makan siang. Penemuan kasus secara active case finding dan pengumpulan data melalui wawancara di PT X Indonesia dan observasi. Sampel makanan dan fases dilakukan pemeriksaan mikrobiologi. Hasil: Penyelidikan menemukan 218 kasus keracunan makanan. Kasus terbanyak pada laki-laki (73,36%) dengan dominasi umur <20 tahun (80%). Gejala yang dirasakan diare (80,73%), mual (59,17%),  dan keringat dingin(50,45%). Keracunan makan terjadi 16-18 Mei 2017 dan puncaknya 17 Mei 2017 pukul 04.01-08.00 WIB. Penularan keracunanan makanan terjadi secara common soure. Analisis menunjukkan bahwa makanan penyebab KLB yaitu ayam bumbu bali (RR=4,02; p= 0,000; CI= 1,0-3,1). Hasil observasi diketahui suplayer ayam merupakan suplayer baru. Dan hasil pemeriksaan laboratorium ayam bumbu bali positif Stapyloccocus aureus. Simpulan: Terjadi KLB keracunaan makanan di PT X Indonesia 16-18 Mei 2017 disebabkan oleh ayam bumbu bali yang terkontaminasi oleh bakteri Stapyloccocus aureus. Proses memasak, kebersihan dan penyimpanan makanan pada suhu ruangan menjadi penyetus keracuanan makanan. Rekomdasi yang dapat dilakukan dengan monitoring berkala dalam proses pembuatan makanan.

Page 60 of 153 | Total Record : 1528


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue