cover
Contact Name
Saifuddin Zuhri Qudsy
Contact Email
esensia.fusapuin@gmail.com
Phone
+6281804192371
Journal Mail Official
esensia.fusapuin@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Ushuluddin dan Islamic Thought, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 698W+C49, Jalan Laksda Adi Sucipto, Papringan, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55281.
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : 14113775     EISSN : 25484729     DOI : https://doi.org/10.14421/esensia
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin is a multidisciplinary journal that publishes articles of the highest quality and significance in all areas of Islamic theology (uṣūl al-dīn). The journal covers research on the immense significance of Islam in the context of religious life to which it has delivered unique perspectives, approaches, and ranges of contributions that are of abiding interest. ESENSIA encourages the exchange of ideas between experts, scholars, researchers, practitioners, clerics, and students who are active in all areas of Islamic theology and the multidisciplinary field. Research areas covered in the journal: 1. Comparative religions and socio-religious dynamics 2. Digital culture among Muslim cyber-communities 3. Islamic philosophy and mysticism 4. Islamic-theological literature and literary criticism 5. Islamism, communal discernment, and indigenous spiritual practices 6. Muslim minorities and religious citizenship ESENSIA offers authors and readers high visibility, broader readership, clear copyediting, rigorous peer-review, and independence from competing interests. In addition to research articles, ESENSIA also covers research in the form of fieldwork investigations or ongoing reports. In this way, the journal aims to be the voice of the worldwide Islamic-theological community.
Articles 240 Documents
Resistensi Penobatan Putri Mahkota untuk Kesultanan Yogyakarta Ulya Fuhaidah
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 2 (2015)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v16i2.995

Abstract

Sultanate of Yogyakarta, which became one of the special region is undergoing tumultuous internal politics of the ruling. because the king did not have sons as successor to power. King the title of Sultan HB X has five children, all of whom are women. As is known to the heir to the throne outlined in Yogyakarta sultanate was never headed by a queen. Since the establishment of this sultanate until now only ruled by the king, which means a man. So when the Sultan HB X announced his throne heir who falls on his eldest daughter, an immediate reaction resistance even internally and externally. To that end, this article would like to examine some aspects of the Sultanate of Yogyakarta and resistance of women’s political leadership in the empire by using an Islamic perspective.[Kesultanan Yogyakarta, menjadi salah satu kawasan khusus dalam keputusan aturan politik internal kesultanan Kraton. Karena raja tidak memiliki anak laki-laki sebagai penerus kekuasaan. Raja Sultan HB X memiliki lima anak, semuanya adalah perempuan. sebagaimana dipahami bersama bahwa Pewaris Tahta di Kasultanan Yogyakarta tidak pernah dipimpin oleh seorang ratu. Mulai sejak berdirinya kesultanan ini sampai sekarang hanya diperintah oleh raja, yakni seorang pria. Jadi, ketika Sultan HB X mengumumkan pewaris tahtanya yang jatuh pada putri sulungnya, maka terjadi resistansi bahkan secara internal dan eksternal .Atas dasar itulah, artikel ini ingin menganalisis beberapa aspek dari Kesultanan Yogyakarta dan ketahanan kepemimpinan politik perempuan di kerajaan dengan menggunakan perspektif Islam.]
Rekonstruksi Kritik Sanad dan Matan dalam Studi Hadis Suryadi Suryadi
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 2 (2015)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v16i2.996

Abstract

As part of the science , the study of hadith needs to get development and innovation. Therefore, it is necessary for the reconstruction of critical studies chains and Matan. This article will discuss the possibility of reconstruction critical studies chains and Matan hadith. Sanad criticism (kritik sanad) needs to be developed on the use of data derived from the book in addition to the books of Rijal that conclusion on levels of integrity and intellectual person can be formulated more accurately and emphasize objectivity. Meanwhile, critical studies of matan also need to be developed by applying the hermeneutical method in understanding the text of the Prophet, in order to reject the mindset of tasâhul in the weakness of traditions as well as traditions that gave birth to the meaning of its as shâlih likulli zamân wa makân.[Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, studi hadis perlu mendapatkan pengembangan dan inovasi. Oleh karena itu, diperlukan adanya rekonstruksi atas kajian kritik sanad dan matan. Artikel ini akan membahas kemungkinan rekonstruksi kriitk sanad dan matan hadis.  Kritik sanad perlu dikembangkan pada pemanfaatan data-data yang berasal dari kitab selain kitab-kitab rijâl agar konklusi atas kadar integritas dan intelektualitas seseorang bisa diformulasikan secara lebih akurat dan menekankan aspek objektivitas. Sementara itu, kritik matan juga perlu dikembangkan dengan menerapkan metode hermenetika dalam memahami teks Nabi, supaya bisa menolak pola pikir tasâhul dalam pendhaifan hadis sekaligus juga melahirkan makna hadis yang shâlih likulli zamân wa makân.]
Logika Keilmuan Kalam: Tinjauan Filsafat Ilmu Imam Iqbal
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 2 (2015)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v16i2.997

Abstract

Some contemporary scholars consider that the logical science of Kalam was patterned apologetic, and dogmatic. This kind of scientific logic makes the Science of Kalam less responsive to developments and changing times. This paper therefore  intended to assist the reader in understanding to the assessment. it can be traced through a review of philosophy of science, especially the distinction context of discovery and the context of justification a science. At Science of Kalam, the context of the invention relates to the formulation of science of Kalam based on al-Qur’an and as-Sunnah and residues historicity attached to it. This context shows this pattern of subjective knowledge that actually assessed objectively by the Muslim majority. While the context of justification Kalam can be observed in denial and rejection of the belief that different Mutakallimun using dialectic (al-manhaj al-jadalî; jadaliyyah)and strengthened by evidence demonstrative rational method (al-manhaj al- bahtsî;bahtsiyyah). There are two forms of demonstrative methods commonly used by Mutakallimun, namely analogy and syllogism. The linkage of two kinds of basically a form of scientific logic of Kalam with a pattern on top.[Beberapa sarjana kontemporer menilai bahwa logika keilmuan Kalam itu bercorak apologetik, dan dogmatik. Logika keilmuan semacam ini menjadikan Ilmu Kalam kurang responsif terhadap perkembangan dan perubahan zaman. Tulisan ini bermaksud membantu pembaca dalam memahami penilaian tersebut. Logika keilmuan dapat ditelusuri melalui tinjauan filsafat ilmu, terutama dari distingsi konteks penemuan (the context of discovery) dan konteks justifikasi (the context of justification) sebuah ilmu. Pada Ilmu Kalam, konteks penemuan ilmu ini berkenaan dengan perumusan kalâm berdasarkan al-Quran dan as- Sunnah serta residu-residu historisitas yang melekat padanya. Konteks ini menunjukkan corak subyektif ilmu ini yang justru dinilai obyektif oleh mayoritas Muslim. Sementara konteks justifikasi kalâm dapat dicermati dalam penyangkalan dan penolakan mutakallimûn terhadap kepercayaan yang berbeda dengan menggunakan metode dialektika (al-manhaj al-jadalî; jadaliyyah) dan diperkuat dengan pembuktian rasional yang menggunakan metode demonstratif (al-manhaj al-bahtsî; bahtsiyyah). Ada dua bentuk metode demonstratif yang biasa digunakan oleh mutakallimûn, yaitu qiyâs (analogi) dan silogisme. Keterkaitan dua macam konteks itulah yang pada dasarnya membentuk logika keilmuan Kalam dengan corak di atas.]
“Kesarjanaan Revisionis” dalam Studi Al-Qur’an (Upaya Merekonstruksi Sumber Awal Kemunculan Teks al-Qur’an) Muzayyin Muzayyin
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 2 (2015)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v16i2.998

Abstract

The challenge on the Qur’anic studies will never be end. For many centuries, The Qur’an always attracted many people attention all over the world, to treat or to examine the truth; whether the Qur’an as the word of God or the word of Muhammad ?. This is therefore, starting from that point, This paper particularly will attempt to explores a new trend of Qur’anic studies by the emerging of Revisionist Western scholarship theories of Islamic origins. In their analysis shown that the documentary sources or the beginnings of historical writing in the Islamic tradition must be considered in controversies. One might argues that the Qur’an contains several different kinds of material, hypothesizes that different parts of the Qur’an originated in different communities, some or all of which, were located not in Arabia, but in Iraq or Syria. Moreover, the analysis come to the conclusion  that the Qur’anic text as we now know coalesced only slowly and does not assume final form until the late second/eighth century or even later. Taking the notion that the traditions about Islamic origins are the products of long and partly oral evolution. The aim of this paper then will describe the fact on how the revisionist western scholarship try to reconfigurate the reliable information about Islamic origin.[Tantangan studi al-Qur’an tidak akan pernah berakhir. Selama berabad-abad lamanya, al-Qur’an selalu menjadi perhatian banyak orang di seluruh penjuru dunia. Guna menguji kebenaran, yakni apakah ia benar-benar firman Tuhan atau kah perkataan Muhammad ? oleh karena itu, berangkat dari point ini, tulisan ini secara spesifik akan mengeksplorasi tren terkini tentang studi al-Qur’an dengan memunculkan teori kemunculan Islam oleh kesarjanaan Barat Revisionis. Dalam analisis mereka menunjukkan bahwa sumber documenter atau sejarah awal penulisan al-Qur’an mengalami kontroversi. Ada yang beranggapan bahwa al- Qur’an berisi beberapa macam perbedaan materi atau redaksi, sebagian dari itu berasal dari perbedaan komunitas. Sebagian lainnya berargumen bahwa al-Qur’an turun bukan di jazirah Arab, melainkan di Iraq dan Syria. analisis sampai pada kesimpulan bahwa teks Al-Qur’an seperti yang kita tahu sekarang perlahan-lahan mengalami bentuk fibalnya kecuali pada akhir abad kedua/kedelapan atau bahkan kemudian. Atas dasar itu, kemunculan Islam (al-Qur’an) adalah produk evolusi yang berasal dari manusia jauh belakangan. Singkatnya, Tulisan ini akan mendeskripsikan realitas tentang bagaimana kesarjanaan Revisionis mencoba menata ulang data yang tersedia tentang kemunculan Islsam (al-Qur’an).]
Ibn ‘Arabī, Fiqh, and a Literal Reading of the Qur’an: Approaching the Outward Divine Commands as a Spiritual Realization Lien Iffah Naf'atu Fina
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v19i2.1135

Abstract

Ibn ‘Arabī is sometimes regarded as unorthodox, refusing the outward aspects of religion. In fact, Ibn ‘Arabī writes hundreds of pages on the topics of fiqh and is a serious proponent of Sharī’ah as the only way to gain the divine Truth or spiritual realization. He proposes to read the text literally (spiritual literalism). This paper discusses fiqh and an approach of reading Qur’anic commands from a spiritual perspective through his lens. Ibn ‘Arabī believes that each ḥukm has both its outer and inner or spiritual dimensions, which is uncovered through a literal reading. He criticizes the use of ra’y and qiyas as a method of legal reasoning. His spiritual approach results in a democratization of ijtihād and authority. While this paper discusses its application of this approach to verses on ‘ibādāt, as mainly conducted by Ibn ‘Arabī himself in the Futūḥāt, it also touches on how this approach be applied and useful in the modern context.[Ibn ‘Arabī terkadang dianggap menolak aspek luar agama. Kenyataannya, Ibn ‘Arabī menulis ratusan halaman tentang topik fikih dan berpandangan bahwa Sharī’ah adalah satu-satunya jalan menuju Kebenaran atau realisasi spiritual. Dia mengusulkan untuk membaca teks secara harfiah (literalisme spiritual). Tulisan ini membahas pemikiran fikih dan pendekatan yang ditawarkan Ibn ‘Arabī dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an dari perspektif sufistiknya. Ibn 'Arabī meyakini bahwa setiap “hukum” dalam al-Qur ’an memiliki dimensi luar dan dimensi dalam, yang ditemukan melalui pembacaan literal. Dia mengkritik penggunaan ra‘y dan qiyās sebagai metode penalaran hukum. Pendekatan spiritualnya menghasilkan demokratisasi ijtihad. Penerapan pendekatan Ibn ‘Arabī terhadap ayat-ayat tentang ‘ibādāt, seperti ditemukan di Futūḥāt, akan dibahas di tulisan ini. Selain itu, artikel ini akan mendiskusikan bagaimana pendekatan literalisme spiritual ini diterapkan dan bermanfaat untuk konteks modern.]
Sufisme-Persia dan Pengaruhnya Terhadap Ekspresi Budaya Islam Nusantara Fahruddin Faiz
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v17i1.1274

Abstract

There are numerous religious and cultural ethnic groups worldwide, many of which have mutual interactions with each other. For hundreds of years, Persian as well as Shi‘a communities have been known as minority groups with considerable influence on some Eastern and Western societies. The following article try to uncover modes of Indonesian Islamic culture, which have influenced by Persian Sufism, along with its Syi’ah tendencies. The purpose of this essay is to display the influence of Persian Sufism in the cultural expressions of Moslems in Indonesia in early Islam era. With this purpose in mind, a comprehensive bibliography of works published related to the issues is presented. An attempt is also made to present the influence of Persian Sufism figures and elements on the historical and modern Indonesian Islam.[Terdapat beragam kelompok religius dan etnis yang tersebar di berbagai belahan dunia yang memiliki interaksi timbal balik satu sama lain. Selama ratusan tahun, Bangsa Persia, sebagaimana halnya komunitas Syi’ah, telah dikenal sebagai kelompok minoritas yang memiliki pengaruh yang patut diperhitungkan bagi masyarakat dunia, baik di belahan Barat maupun Timur. Artikel berikut ini mencoba untuk mengungkap modus budaya Islam Indonesia yang telah terpengaruh oleh sufisme Persia bersamaan dengan kecenderungan Syi’ah. Tujuan tulisan ini adalah menampilkan pengaruh sufisme Persia dalam ekspresi kultural umat Islam Indonesia di masa awal. Dengan demikian, karya-karya bibliografi komprehensif terkait hal tersebut akan disajikan. Sebuah upaya juga dibuat untuk menyajikan pengaruh dari figur-figur sufi Persia dan beberapa unsur historis dan modern dalam Islam Indonesia.]
Filsafah Nusantara sebagai Jalan Ketiga Antara Falsafah Barat dan Falsafah Timur Ahmad Sulton
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v17i1.1275

Abstract

This study is started from the unique phenomena-phenomena shared by most people Nusantara. There are various tendencies some communities in Nusantara: Besides advanced in creating and linking entities with new things, on the other turned out to the Nusantara are also less confident in the ability of his own people. Nusantara people prefer to goods made in foreign than itself production country. Not to mention the problem of ideology, education and other issues refern to foreign. This paper provides an other alternative knowledge related studies philosophy that not only Western philosophy and Eastern philosophy and prove the existence of the philosophy of Nusantara from document finded. This paper has concluded that there is a philosophical thoughts expressed by philosopher of Nusantara line with questions theris or not philosophy of Nusantara. It proved to be good based on the principle of identity or a perspective of human nature.[Penelitian ini berawal dari fenomena-fenomena unik yang dimiliki oleh sebagian masyarakat Nusantara. Ada berbagai kecenderungan sebagian masyarakat Nusantara: Selain mahir dalam menciptakan dan mengaitkan entitas dengan hal baru, di sisi lain ternyata orang Nusantara juga kurang percaya diri terhadap kemampuan bangsanya sendiri. Orang Nusantara lebih suka barang-barang buatan luar negeri daripada hasil produksi bangsannya sendiri. Belum lagi masalah ideologi, pendidikan dan persoalan lain mengkiblat ke luar negeri. Tulisan ini memberikan perbendaharan pengetahuan dan alternatif lain terkait kajian falsafah yang tidak hanya falsafat Barat dan falsafah Timur dan membuktikan eksistensi falsafah Nusantara dari data-data yang tertemukan. Tulisan ini memiliki kesimpulan bahwa terdapat pemikiran-pemikiran filosofis yang dikemukakan oleh filsuf Nusantara sejalan dengan pertanyaan ada-tidak falsafah Nusantara. Hal ini terbukti baik berdasarkan prinsip identitas ataupun berdasarkan sudut pandang hakikat kemanusiaan.]
Reinterpretasi Makna Al-Islām dalam Al-Qur’an (Menuju Keagamaan yang Etis dan Dialogis) Arif Nuh Safri
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v17i1.1276

Abstract

Re-interpretation of the term al-islām in al-Qur’an is still very relevant today. Especially if it is associated with increasing extreme religious movement, which emphasizes the angry face of Islam, rather than the” friendly Islam”. At the same time, radical ideology that carries the motto ‘back to the Qur’an and Sunnah,’ often emphasizes the claim of truth and takfīr. Therefore, the authors noticed that one of the ways to erode the radical ideology is the re-interpretation of the meaning of al-islām in al-Qur’an. Many view considers that the interpretation of the term al-Islam is final and raw. Especially if linked with the traditions of the Prophet narrated by ‘Umar bin Khattab. Often interpretations al-Islam has always been associated with all forms of formal worship, and only associated with the teachings brought by Prophet Muhammad. In fact, of the hundreds of verses that speak of al-islam and various derivatives, there is no verse that is associated with formal worship such as prayer, fasting, zakat and hajj. The verses of al-islam always talk about spiritual values, nature, and all of Islam’s various predecessor prophets before Prophet Muhammad. Through this article, the author tries to give a new interpretation on the term al-Islam to create a more inclusive religious, ethical, and dialogic.[Interpretasi ulang atas term al-islām dalam al-Qur’an masih sangat relevan hingga saat ini. Khususnya jika dikaitkan dengan semakin meningkatnya pergerakan keagamaan ekstrim, yang lebih mengedepankan wajah Islam marah, daripada Islam ramah. Pada saat yang sama, ideology radikal yang membawa motto ‘kembali pada al-Qur’an dan Sunnah,’seringkali mengedepankan klaim kebenaran, atau meng-kafir-kan. Oleh sebab itu, penulis melihat bahwa salah satu cara untuk mengikisideologi radikal tersebut adalah dengan interpretasi ulang makna al-islam dalam al-Qur’an. Banyak pandangan menganggap bahwa interpretasi atas term al-islam sudah final dan baku. Apalagi jika dikaitkan dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh ‘Umar bin Khattab. Seringkali interpretasi al-islam selalu dikaitkan dengan segala bentuk ibadah formal, dan hanya dikaitkan dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Nyatanya, dari ratusan ayat yang berbicara tentang al-islam dan berbagai derivasinya, tidak ada ayat yang dikaitkan dengan ibadah formal seperti salat, puasa, zakat dan haji. Ayat-ayat tentang al-islam selalu berbicara tentang nilai-nilai spiritual, fitrah, dan ke-islam-an dari berbagai nabi-nabi pendahulu sebelum Nabi Muhammad. Melalui artikel ini, penulis mencoba untuk memberikan interpretasi baru atas term al-islam untuk menciptakan keagamaan yang lebih inklusif, etis, dan dialogis.]
Menyikapi Pluralisme Agama Perspektif Al-Qur’an Azhari Andi; Ezi Fadilla
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v17i1.1277

Abstract

Nowadays, the discourses of religion pluralism is one of the frequently-discussed issue among muslim. This case appears along with the emergence of books, works, writings in the mass media, congress, seminars, discussions, and dialogue which are focusing on the religion pluralism. One of the factors causing the emergence of this discourse is a number of conflicts that happened among different religious adherents which was often began by an excessive truth claim. The discourse presented in this paper aims to create harmony life and peace among different religion adherents. Al-Qur’an both admits the existence of other religions and commands its followers to live in harmony as well as respect each other. Islam is “rahmah lil ’ālamīn”, but yet the reality that happens in muslim world is not in line with the ideality. So the question arises in our minds; where is Islam as rahmah lil ’ālamīn? the fact is there are still many muslim who can’t wisely face the plurality as it has been taught by the Qur’an. So how is the Qur’anic guidance to face the plurality? Based on this reason, this article would like to discuss on the Qur’anic guidance in facing the religion pluralism using descriptive-analysis method.[Dewasa ini, wacana tentang pluralisme agama merupakan isu yang sangat hangat diperbincangkan, terutama di kalangan muslim. Hal ini bisa dilihat dari lahirnya buku-buku, karya-karya, tulisan-tulisan di media masa, kongres, seminar- seminar, diskusi, dan dialog-dialog yang membahas tentang pluralime agama. Faktor yang melatarbelakangi munculnya wacana ini antara lain adalah konflik-konflik yang marak terjadi antar umat beragama yang sering kali bermula dari klaim kebenaran yang berlebihan. Wacana ini bertujuan untuk mewujudkan kerukunan dan perdamaian antar umat beragama. al-Qur’an sendiri mengakui keberadaan agama-agama lain dan menyeru umatnya agar hidup berdampingan dan saling menghormati antar sesama. Islam datang sebagai rahmah lil’almin, namun realitas yang terjadi tidak singkron dengan idealitas. Lalu timbul pertanyaan, di manakah letak Islam yang rahmah lil’alamin itu? Faktanya, disana sini banyak umat Islam yang tidak bisa menyikapi keanekaragaman dengan bijaksana, sebagaimana yang diajarkan dalam al-Qur’an. Lalu bagaimanakah tuntunan al-Qur’an untuk menyikapi perbedaan? Berdasarkan itu, tulisan ini akan mendiskusikan tentang tuntunan al-Qur’an dalam menyikapi pluralisme agama dengan metode deskriptif-analitis.]
Konsep Waḥy dalam Kajian Semantik Arif Nursihah
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v17i1.1278

Abstract

Waḥy an important term in Islam, has previously used by the Arabs before the advent of Islam. Waḥy, with various derivations, has a very strong character of meaning. It represents a form of communication related to two persons. The media can be either verbal or non-verbal, and it always has mysterious elements as well as some secrets. No matter how many lexical or derivation forms (isytiqāq) of this word, all of them are connected to the meaning of disclosure something quickly.[Waḥy sebuah istilah penting dalam agama Islam, sejatinya sudah digunakan orang-orang Arab sebelum kedatangan Islam. Waḥy dengan berbagai derivasinya, memiliki karakter makna yang sangat kuat. Ia merupakan bentuk komunikasi yang berhubungan dengan dua orang, medianya bisa berupa verbal ataupun non-verbal, dan kandungannya senantiasa mengandung unsur misteri dan rahasia. Betapapun banyak bentuk isytiqāq dari kata ini, akan tetapi kesemuanya terhubung dalam relasi makna pengungkapan sesuatu secara cepat.]

Page 9 of 24 | Total Record : 240