cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsms@unisba.ac.id
Phone
+6282321980947
Journal Mail Official
bcsms@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series : Medical Science
ISSN : -     EISSN : 28282205     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsms.v2i2
Core Subject : Humanities, Health,
Bandung Conference Series: Medical Science (BCSMS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Kedokteran dengan ruang lingkup Age, ASI, BPJS Kesehatan, CGT, Dokter layanan primer, Fungsi diastolic, Gender, Hepatitis A dan B, Interval Anak Balita, ISPA, JKN, Nyeri leher, Origin, Paritas, Pasien, Denyut Nadi, Imunisasi, Perawat, Phlebitis, PHBS, pneumonia Abortus Spontan, Pola Menstruasi, rumah sakit Pendidikan, Sektor Informal Pengetahuan, Shift kerja malam, sindrom koroner akut, Status Gizi Mahasiswa kedokteran, status sosio ekonomi, Tekanan Darah, Tingkat Stres, Troponin T , Type of occupation, ventrikel kiri, dan Wanita Premenopause. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 494 Documents
Hubungan Tingkat Stres Sebelum Ujian Masuk Perguruan Tinggi dengan Tingkat Kelulusannya pada Murid SMA Windyanarum Wibawani; Nuzirwan Acang; Widhy Yudistira Nalapraya
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6882

Abstract

Abstract. Stress is a body's reaction to changes that require physical, psychological, and emotional responses, regulation, and/or adaptation. Stress can come from situations, thoughts, and any circumstances that can cause frustration, nervousness, and anxiety. The purpose of this study was to determine the relationship that occurs with stress levels and graduation in high school students. It can also be seen that UTBK can be one of the triggers of stress which can affect a third-grade high school student in preparing for UTBK and can result in a decrease in concentration. This can have an impact on the graduation rate of admission to public universities. This research is a analitic observational study with a cohort design method. The sample for this study used a stratified random sampling technique, totaling 66 third-grade students and the respondents were taken using the sample size formula, obtaining a minimum of 58 third-grade students. The data for this study were taken from primary data which was filled out in the Google form and from secondary data which was the UTBK graduation announcement from the third-grade students of the relevant high school. The results of the research obtained were based on conducting a chi-square test so that a value of 0.485 (p> 0.05) was obtained, which means that there was no relationship between the level of stress before UTBK and the graduation rate of state universities in-class students. Abstrak. Stress adalah Suatu reaksi tubuh terhadap perubahan yang memerlukan respon, regulasi dan atau adaptasi fisik, psikologis dan emosional. Stres dapat besumber dari situasi, pemikiran dan keadaan apapun yang dapat menyebabkan frustasi, kegugupan dan kecemasan. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui hubungan yang terjadi terhadap tingkat stress dengan kelulusan pada siswa SMA. Dapat diketahui juga UTBK bisa saja menjadi salah satu pemicu dari stress yang dapat memengaruhi dari seorang murid kelas tiga SMA dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi UTBK dan dapat mengakibatkan penurunan konsentrasi. Hal ini dapat berdampak kepada tingkat kelulusan masuk ke perguruan tinggi negeri. Penelitian ini rupakan penelitian observasional analitik dengan metode desain cohort. Pengambilan sampel penelitian ini menggunakan tektik stratified random sampling yang berjumlah 66 murid kelas tiga dan dilakukan perhidungan responden dengan rumus sample size, didapatkan minimal responden 58 murid kelas tiga. Data penelitian ini diambil dari data primer yang dilakukan pengisian google form dan dari data sekunder yang merupakan pengumuman kelulusan UTBK dari murid kelas tiga SMA terkait. Hasil dari penelitian yang didapatkan berdasarkan dengan melakukan uji chi-square sehingga, didapatkan nilai 0,485 (p>0,05) yang berarti tidak ada hubungan antara tingkat stress sebelum UTBK dan tingkat kelulusan perguruan tinggi negeri pada murid kelas.
Faktor-Faktor yang Dapat Memengaruhi Keterlambatan Diagnosis Kanker Payudara Stadium III di RSUD AL-Ihsan Bandung Fauzia Azzahra; Nurhalim Shahib; Yusuf Heriady
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6933

Abstract

Abstract. Breast cancer is a malignant proliferation originating from breast epithelial cells lining the ducts of the breast lobules. Southeast Asia has a higher prevalence of breast cancer than other continents, with an incidence of 13.5% and a mortality rate of 9.7%. Meanwhile, the incidence of breast cancer in Indonesia reaches 16.7%, with a mortality rate of 21.4%. Stage III cancer has a higher risk of recurrence than other types of cancer – a delay in diagnosis when the patient enters stage III results in a lower prognosis and survival rate. Several factors cause delays in diagnosing cancer patients, including the patient's education level, economic status, and their preference for alternative treatments. This study aims to see if there is a link between education level, economic status, and a history of alternative medicine and a late diagnosis of stage III breast cancer at Al-Ihsan General Hospital in Bandung.This study used an observational analytic study design with a cross-sectional approach. The sample in this study was 47 patients with stage III cancer at Al-Ihsan Hospital, Bandung City. The results of the analysis using Chi-square showed that there was no meaningful relationship between educational level (p-value = 0.271), there was a significant relationship between economic status (p-value = 0.049), and there was an important relationship between alternative therapy (p-value = 0.012). The results of this study indicate that there is an important relationship between economic status and alternative therapies and delays in the diagnosis of stage III breast cancer at Al-Ihsan Hospital in Bandung, but there is no significant relationship with education level. Abstrak. Kanker payudara merupakan proliferasi ganas yang berasal dari sel epitel payudara yang melapisi saluran lobulus payudara. Asia Tenggara memiliki prevalensi kanker payudara lebih tinggi dari benua lain yaitu insidensinya mencapai 13,5% dengan mortalitas 9,7%. Sedangkan insidensi kanker payudara di Indonesia mencapai 16,7% dengan tingkat mortalitas sebanyak 21,4%. Kanker stadium III memiliki risiko kekambuhan yang tinggi dari jenis kanker lainnya. Keterlambatan dalam diagnosis pada saat pasien memasuki stadium III menyebabkan prognosis dan tingkat ketahanan hidupnya lebih rendah. Beberapa faktor yang menyebabkan keterlambatan dalam mendiagnosis pasien kanker tersebut antara lain rendahnya tingkat pendidikan pasien, status ekonomi, dan pasien lebih memilih pengobatan alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan, status ekonomi, riwayat pengobatan alternatif dengan keterlambatan diagnosis kanker payudara stadium III di RSUD Al – Ihsan Bandung. Penelitian ini menggunakan rancangan studi analitik observatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini yaitu 47 pasien penderita kanker stadium III di RSUD Al-Ihsan Kota Bandung. Hasil analisis menggunakan Chi-square menunjukan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan (p-value=0,173), terdapat hubungan yang bermakna antara status ekonomi (p-value=0,049) dan terapi alternatif (p-value=0,012). Hasil penelitian ini menunjukan terdapat hubungan yang bermakna antara status ekonomi dan terapi alternatif dengan keterlambatan diagnosis kanker payudara stadium III di RSUD Al-Ihsan Kota Bandung akan tetapi tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan tingkat pendidikan.
Rokok sebagai Faktor Risiko terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru pada Dewasa Ari Susanti; yuniarti; Nugraha Sutadipura
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6942

Abstract

Abstract. Pulmonary tuberculosis is a disease of the lower respiratory disease caused by Mycobacterium tuberculosis. Smoking behavior is a risk factor for infection with Mycobacterium tuberculosis. Smoking can weaken the lungs and make the lungs more easily infected with tuberculosis germs. Inhaled large amounts of cigarette smoke can increase the risk of tuberculosis severity. This scoping review aims to determine the relationship between smoking behavior and the incidence of pulmonary tuberculosis based on research in the last 10 years. The research method was carried out by scoping review articles published by the Pubmed, Springerlink, and Science Direct databases, published from 2012 to 2022. From 21,254 articles, 411 articles were filtered based on inclusion criteria, then followed by filtration using exclusion criteria were obtained 402 articles. and there were 6 articles of duplication, so the articles that met the eligibility criteria based on PICOS are 3 articles. The results of the analysis of all articles show that individuals with smoking habits have a higher risk of suffering from pulmonary tuberculosis than non-smokers which is characterized by positive smear results more likely to be found in smokers than non-smokers. This is because exposure to cigarette smoke can cause immunological changes, acting on alveolar macrophages, by reducing the production of TNF-α, IFN-γ, and mucociliary clearance, resulting in promoting the development of pulmonary tuberculosis. Abstrak. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit saluran pernapasan bagian bawah yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis. Kebiasaan merokok merupakan faktor risiko untuk terinfeksi Mycobacterium tuberkulosis. Merokok dapat memperlemah paru dan menyebabkan paru lebih mudah terinfeksi kuman tuberkulosis. Asap rokok dalam jumlah besar yang dihirup dapat meningkatkan risiko keparahan tuberkulosis. Scoping review ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian tuberkulosis paru berdasarkan penelitian 10 tahun terakhir. Metode penelitian ini dilakukan dengan cara scoping review artikel yang dipublikasikan oleh database Pubmed, Springerlink, dan Science direct, diterbitkan pada tahun 2012 sampai 2022. Dari 21.254 artikel dilakukan filtrasi berdasarkan kriteria inklusi terdapat 411 artikel, kemudian dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan kriteria ekslusi didapat sebanyak 402 artikel dan terdapat duplikasi sebanyak 6 artikel sehingga artikel yang memenuhi kriteria kelayakan berdasarkan PICOS yaitu 3 artikel. Hasil analisis semua artikel menunjukan bahwa individu dengan kebiasaan merokok mempunyai risiko lebih tinggi menderita tuberkulosis paru dibandingkan bukan perokok yang ditandai dengan hasil BTA positif lebih cenderung ditemukan pada perokok dibandingkan bukan perokok. Hal ini disebabkan karena paparan asap rokok dapat menyebabkan perubahan imunologi, bekerja pada makrofag alveolar, dengan menurunkan produksi TNF-α, IFN-γ, pembersihan mukosiliar, sehingga mendorong perkembangan penyakit tuberkulosis paru.
Faktor - Faktor yang Dapat Memengaruhi Mortalitas Pasien Stroke Perdarahan Muhammad Fauzan Setiawan; Alya Tursina; Tryando Bhatara
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6952

Abstract

Abstract. Stroke is the second leading cause of death worldwide. According to the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, stroke is reported to be one of the top 10 non-communicable diseases causing the most deaths in Indonesia, with mortality reaching 50% in the first 30 days increase. A routine test for people with intracerebral hemorrhage is a CT scan. This examination can describe the location of lesions as well as the amount of bleeding that can affect patient mortality. The aim of this study was to analyze the relationship between lesion location and bleeding volume with mortality in patients with hemorrhagic stroke. This study used an analytical observational research technique with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 53 patients diagnosed with stroke in 2021 at Salaman Hospital, Bandung. The results of the analysis using the chi-square test showed the relationship between mortality in hemorrhagic stroke patients and lesion location and bleeding volume, with p = 0.006 (p < 0.05) and p = 0.004 (p < 0.05). Conclusions from the results of this study show that there is a significant association between lesion location and bleeding volume and mortality in hemorrhagic stroke patients at Salaman General Hospital. This can occur because intracranial pressure increases with greater hemorrhage, causing spatial pressure effects, midline shift, herniation, and ischemia, which damage brain anatomy and causing death. Keywords: Location of lesion, Hemorrhagic stroke, Bleeding volume Abstrak. Stroke merupakan penyebab kedua kematian tertinggi di dunia. Menurut data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dinyatakan bahwa stroke intraserebral termasuk ke dalam sepuluh penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian terbanyak di Indonesia dengan mortalitas dalam 30 hari pertama mencapai angka 50%. Pemeriksaan yang rutin dilakukan untuk pasien dengan stroke perdarahan intraserebral adalah pemeriksaan CT-scan, pemeriksaan tersebut dapat menggambarkan letak terjadinya lesi juga besarnya volume perdarahan yang dapat memengaruhi mortalitas pasien. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis hubungan letak lesi dan volume pendarahan pada mortalitas pasien stroke perdarahan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini yaitu 53 pasien yang terdiagnosis stroke pada tahun 2021 di RSAU Salamun Bandung. Hasil analisis menggunakan uji Chi-Square menunjukkan hubungan letak lesi dan volume perdarahan dengan mortalitas pada pasien stroke perdarahan didapatkan nilai p=0,006 (p<0,05) dan p=0,004 (p<0,05). Simpulan dari hasil penelitian ini adanya hubungan signifikan antara letak lesi dan volume perdarahan dengan mortalitas pada pasien stroke perdarahan di RSAU Salamun. Hal ini dapat terjadi karena semakin besar volume perdarahan, tekanan intrakranial akan semakin meningkat dan menyebabkan terjadinya efek desak ruang, midline shift, herniasi, dan iskemia yang berujung pada kerusakan struktur anatomis otak sehingga menyebabkan kematian Kata Kunci: Letak lesi, Stroke perdarahan, Volume perdarahan
Terdapat Perbedaan Antara Hasil Pembelajaran Luring dan Daring Primia Fauzia; herri s. sastramihardja; ajeng kartika sari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6953

Abstract

abstract Oral exams that assess aspects of analytical thinking, critical thinking, clinical reasoning, and can assess communication and presentation skills. During a pandemic, learning that was initially offline (face to face) changed to online (virtual). This can be a risk factor for changes in student grades. The purpose of this study was to determine differences in academic achievement results of regular oral examinations (SOOCA) between online and offline learning in FK UNISBA students Batch 2019. This research is an observational study with a cross-sectional design. Subjects in this study totaled 197 people selected by total sampling who met the inclusion criteria. Data obtained from secondary data were analyzed univariately and bivariately using the chi-square relationship test. The results of the study found that the average value of the regular oral exams for students was more that scored 76-100 offline (32.4)% and when online students scored more 64-75 (27.9%). Interaction in the process of learning and teaching is an important factor that influences the success of learning. When offline students will find it easier to get in touch with lecturers than when online. Therefore, the test results with offline learning are better than online learning. Abstrak. Ujian lisan yang menilai aspek berpikir analisis, berpikir kritis, clinical reasoning, dan dapat menilai kemampuan komunikasi dan presentasi. Pada saat pandemi pembelajaran yang awalnya luring (tatap muka) berubah menjadi daring (virtual) hal ini dapat menjadi faktor risiko perubahan nilai pada mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil capaian akademik ujian lisan regular (SOOCA) antara pembelajaran daring dan luring pada mahasiswa FK UNISBA Angkatan 2019. Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan desai cross sectional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 197 orang dipilih secara total sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Data didapatkan dari data sekunder yang dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan chi-square uji hubungan. Hasil penelitian didapatkan bahwa nilai rata-rata ujian lisan reguler mahasiswa lebih banyak yang mendapatkan nilai 76-100 pada saat luring (32,4)% dan pada saat daring mahasiswa lebih banyak mendapatkan nilai 64-75 (27,9%). Interaksi dalam proses belajar dan mengajar adalah faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan belajar. Pada saat luring mahasiswa akan lebih mudah untuk berhubungan dengan dosen dibandingkan pada saat daring. Oleh karena itu hasil ujian dengan pembelajaran luring lebih baik dibandingkan pembelajaran secara daring.
Apakah Tingkat Pengetahuan Pola Nutrisi merupakan Faktor Risiko Status Gizi pada Mahasiswa Baru Muhamad Akbar Ramadhan; M Ahmad Djojosugito; Noormartany
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6959

Abstract

Abstract. Nutritional problems can occur during the transition into university life. This period is a critical period because they begin to independently make food choices. The level of knowledge of nutritional patterns can affect nutritional status indirectly so that knowledge of poor nutritional patterns will cause nutritional problems. The purpose of this study was to analyze the relationship between the level of knowledge of nutritional patterns and the nutritional status of new students of Faculty of Medicine 2022. The method used in this study used an analytic observational design with a cross-sectional type. The research was conducted with a total sample of 213 people selected by consecutive sampling. Primary data on the level of knowledge of nutritional patterns and nutritional status were taken via Google form directly with a questionnaire that had been tested for validity and reliability and then carried out using weight scales and height gauges for nutritional status. Processing data for univariate and bivariate analysis using the chi-square test. The results showed that the level of knowledge of nutritional patterns indicated that 12 people (5.6%) had insufficient knowledge, 82 people (38.5%) had sufficient knowledge and 119 people (55.9%) had good knowledge and obtained p = 0.171. (p>0.05). It was concluded that the level of knowledge of nutritional patterns among new students had no relationship to nutritional status or the level of knowledge of nutritional patterns was not a risk factor for nutritional status. Abstrak. Masalah gizi dapat terjadi selama transisi ke dalam kehidupan universitas. Masa ini merupakan periode kritis karena mereka memulai kemandirian membuat pilihan makanan. Tingkat pengetahuan pola nutrisi dapat memengaruhi status gizi secara tidak langsung sehingga pengetahuan pola nutrisi yang buruk akan menyebabkan masalah gizi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan pola nutrisi dengan status gizi pada mahasiswa baru FK 2022. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan jenis cross-sectional. Penelitian dilakukan dengan jumlah sampel sebanyak 213 orang yang dipilih dengan consecutive sampling. Data primer tingkat pengetahuan pola nutrisi dan status gizi diambil melalui google form secara langsung dengan kuesioner yang telah diuji validitas dan relaibilitas kemudian dilakukan menggunakan timbangan berat badan dan pengukur tinggi badan untuk status gizi. Pengolahan data analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan pola nutrisi bahwa subjek memiliki tingkat pengetahuan yang kurang sebanyak 12 orang (5.6%), tingkat pengetahuan cukup sebanyak 82 orang (38.5%) dan tingkat pengetahuan yang baik sebanyak 119 orang (55.9%) dan didapatkan nilai p= 0.171 (p>0,05). Disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan pola nutrisi pada mahasiswa baru tidak memiliki hubungan terhadap status gizi atau tingkat pengetahuan pola nutrisi bukan merupakan faktor risiko status gizi.
Gambaran Energy Expenditure Berdasarkan Aplikasi Google Fit pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Angkatan 2022 Muhammad Jordan; Fajar Awalia Yulianto; Widhy Yudistira Nalapraya
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6963

Abstract

Abstract. Energy expenditure is the process of energy production from the burning of energy substrates (carbohydrates, fats and proteins), consumption of oxygen and production of carbon dioxide. Factors that affect energy expenditure are body weight, height, body composition, age, gender, physical activity, and other factors such as hormones and genetics. The level of physical activity in medical students is low so that the energy expenditure is also low. This energy expenditure is said to be low compared to the Mifflin-St Jeor energy expenditure recommendation formula. This research is a descriptive study with a survey method to see an overview of energy expenditure based on the Google Fit application. The subjects in this study were students of the Faculty of Medicine at the Islamic University of Bandung year 2022 with a total of 39 respondents. The results of this study indicate that the average energy expenditure is 1,301.04 calories/day. The results of this study indicate that the average energy expenditure of students at the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University class of 2022 is still below the value of the recommended Miffline-St Jeor formula. Abstrak. Pengeluaran energi adalah proses produksi energi dari pembakaran substrat energi (karbohidrat, lemak, dan protein), konsumsi oksigen, dan produksi karbon dioksida. Faktor yang mempengaruhi pengeluaran energi adalah berat badan, tinggi badan, komposisi tubuh, usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, dan faktor lainnya seperti hormonal dan genetik. Tingkat aktivitas fisik pada mahasiswa kedokteran termasuk rendah sehingga pengeluaran energi juga rendah. Pengeluaran energi ini dikatakan rendah dibandingkan dengan rumus rekomendasi pengeluaran energi Mifflin-St Jeor. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode survey untuk melihat gambaran pengeluaran energi berdasarkan aplikasi Google Fit. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung angkatan 2022 dengan jumlah 39 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran energi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung angkatan 2022 masih di bawah nilai rumus rekomendasi pengeluaran energi Mifflin-St Jeor.
Hipertensi sebagai Komorbid Tunggal Merupakan Faktor Risiko Kematian COVID-19: Case-Control Study Zenia Salha; Endang Suherlan; Heni Muflihah
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6966

Abstract

Abstract. The mortality of Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is associated with elderly age, gender, and comorbid hypertension. Studies examining the relationship between comorbid hypertension and COVID-19 mortality by controlling for age and gender is limited. This study aimed to analyze hypertension as a risk factor for the mortality of COVID-19 by controlling age and gender. This case-control study medical records. The subjects were confirmed COVID-19 patients who were hospitalized at dr. Slamet Garut period December 2020 – December 2021. The case group was COVID-19 patients who died following hospitalisation. The control group was survived COVID-19 patients who were individually matched with the case group in the age and sex. Comorbid hypertension is hypertension was defined as alone without other comorbidities. A total of 322 subjects consisting of 161 patients in the case group and 161 patients in the control group. In the case group, 151 patients (93.8%) were elderly people, 83 patients (51.5%) were female, and 87 patients (54%) had comorbid hypertension. Comorbid hypertension was present in 87 people (54.0%) of the case group dan 24 people (14.9%) of the control. Hypertension has a significant relationship with the mortality of COVID-19 (p=0.000) with OR 6.711. This study concludes that COVID-19 patients with hypertension as a single comorbid have a 6 times higher risk of death than patients in the same age and sex. Abstrak. Kematian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) berhubungan dengan usia lansia, jenis kelamin, dan komorbid hipertensi. Penelitian yang mengkaji hubungan hipertensi dengan kematian COVID-19 dengan mengendalikan faktor usia dan jenis kelamin masih jarang. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor resiko hipertensi pada kematian COVID-19 dengan mengendalikan usia dan jenis kelamin. Penelitian case control ini menggunakan rekam medis. Subjek penelitian adalah pasien terkonfirmasi COVID-19 yang dirawat inap di RSUD dr. Slamet Garut periode Desember 2020 – Desember 2021. Kelompok case adalah pasien COVID-19 yang meninggal. Kelompok control adalah pasien COVID-19 tidak meninggal yang sesuai usia dan jenis kelamin pada setiap subjek (individual matched) kelompok case. Komorbid hipertensi didefinisikan penyakit hipertensi saja tanpa disertai komorbid lain. Subjek penelitian berjumlah 322 orang yang terdiri dari 161 kelompok case dan 161 kelompok control. Pasien COVID-19 meninggal berusia lansia sebanyak 151 orang (93.8%), perempuan 83 orang (51.5%) dan memiliki komorbid hipertensi 87 orang (54%). Komorbid hipertensi pada kelompok case sebanyak 87 orang (54.0%), sedangkan kelompok control 24 orang (14.9%). Hipertensi memiliki hubungan dengan kematian COVID-19 secara signifikan (p=0.000) dengan OR 6.711. Kesimpulan penelitian ini pasien COVID-19 adalah komorbid tunggal hipertensi memiliki resiko 6 kali lebih tinggi untuk meninggal dibandingkan pasien lain pada usia dan jenis kelamin sama.
Hubungan Pediculosis Capitis dengan Tingkat Konsentrasi pada Murid Kelas V SD Qoshrul Muhajirin Singaparna Harisha Auliya Yasyfa; Ismawati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6973

Abstract

Pediculosis capitis is a scalp disease caused by an infestation of mites/lice of the Pediculus humanus capitis species which is an ectoparasite in humans. Pediculosis capitis infestation often occurs in elementary school-age children. In children, the symptoms obtained from head lice bites can cause irritation, sores and infection if scratched intensively so that it can interfere with children's learning concentration. This study aims to determine the relationship between Pediculosis capitis and the level of learning concentration in fifth grade students conducted at SD Qoshrul Muhajirin Singaparna. The number of samples taken was 47 people using simple random sampling technique. The type of research used is analytic observational with a cross sectional approach. Assessment of the level of learning concentration in students is measured using the stroop test. The results of the stroop test showed that 44 students had an interference score > 13, which means bad. After statistical analysis using the chi-square method, it was found that the value of p = 0.198 (p> 0.05), which means that there is no relationship between Pediculosis capitis and learning concentration in fifth grade students at SD Qoshrul Muhajirin Singaparna. The conclusion of this study showed that the concentration level was not affected by Pediculosis capitis infestation. Factors that may affect the results of this inconsistent research are caused by the use of the stroop test which is difficult for elementary students to carry out and other factors such as the phase of head lice and the environment. Pediculosis capitis adalah penyakit kulit kepala akibat infestasi tungau/lice spesies yang merupakan ektoparasit pada manusia. Infestasi Pediculosis capitis terjadi sering pada anak usia sekolah dasar. Di Indonesia diperkirakan 15% anak usia belajar yang mengalami Pediculosis capitis. Gejala dari gigitan kutu kepala pada anak yaitu iritasi, luka serta infeksi sekunder jika menggaruk secara intensif sehingga mengganggu konsentrasi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Pediculosis capitis dengan tingkat konsentrasi pada murid kelas V yang dilakukan di SD Qoshrul Muhajirin Singaparna. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Jumlah sampel yang diambil yaitu 47 responden dengan menggunakan teknik simple random sampling. Penilaian tingkat konsentrasi murid diukur menggunakan stroop test. Hasil penelitian stroop test menunjukan 44 murid memiliki nilai interference score >13 yang berarti buruk. Setelah dilakukan analisis statistik menggunakan metode chi-square didapatkan nilai p=0,198 (p>0,05) yang berarti tidak terdapat hubungan Pediculosis capitis dengan konsentrasi pada murid kelas V SD Qoshrul Muhajirin Singaparna. Kesimpulan penelitian ini menunjukan bahwa tingkat konsentrasi tidak dipengaruhi oleh infestasi Pediculosis capitis. Faktor yang dapat mempengaruhi hasil dari penelitian yang tidak sejalan ini yaitu disebabkan oleh penggunaan stroop test yang sulit dilakukan oleh murid SD dan faktor lain seperti fase dari kutu kepala dan lingkungan.
Hipertensi Sebagai Komorbid Tunggal Merupakan Faktor Risiko Kematian COVID-19: Case-Control Study Zenia Salha; Heni Muflihah; Endang Suherlan
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6975

Abstract

Abstract. The mortality of Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is associated with elderly age, gender, and comorbid hypertension. Studies examining the relationship between comorbid hypertension and COVID-19 mortality by controlling for age and gender is limited. This study aimed to analyze hypertension as a risk factor for the mortality of COVID-19 by controlling age and gender. This case-control study medical records. The subjects were confirmed COVID-19 patients who were hospitalized at dr. Slamet Garut period December 2020 – December 2021. The case group was COVID-19 patients who died following hospitalisation. The control group was survived COVID-19 patients who were individually matched with the case group in the age and sex. Comorbid hypertension is hypertension was defined as alone without other comorbidities. A total of 322 subjects consisting of 161 patients in the case group and 161 patients in the control group. In the case group, 151 patients (93.8%) were elderly people, 83 patients (51.5%) were female, and 87 patients (54%) had comorbid hypertension. Comorbid hypertension was present in 87 people (54.0%) of the case group dan 24 people (14.9%) of the control. Hypertension has a significant relationship with the mortality of COVID-19 (p=0.000) with OR 6.711. This study concludes that COVID-19 patients with hypertension as a single comorbid have a 6 times higher risk of death than patients in the same age and sex. Abstrak. Kematian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) berhubungan dengan usia lansia, jenis kelamin, dan komorbid hipertensi. Penelitian yang mengkaji hubungan hipertensi dengan kematian COVID-19 dengan mengendalikan faktor usia dan jenis kelamin masih jarang. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor resiko hipertensi pada kematian COVID-19 dengan mengendalikan usia dan jenis kelamin. Penelitian case control ini menggunakan rekam medis. Subjek penelitian adalah pasien terkonfirmasi COVID-19 yang dirawat inap di RSUD dr. Slamet Garut periode Desember 2020 – Desember 2021. Kelompok case adalah pasien COVID-19 yang meninggal. Kelompok control adalah pasien COVID-19 tidak meninggal yang sesuai usia dan jenis kelamin pada setiap subjek (individual matched) kelompok case. Komorbid hipertensi didefinisikan penyakit hipertensi saja tanpa disertai komorbid lain. Subjek penelitian berjumlah 322 orang yang terdiri dari 161 kelompok case dan 161 kelompok control. Pasien COVID-19 meninggal berusia lansia sebanyak 151 orang (93.8%), perempuan 83 orang (51.5%) dan memiliki komorbid hipertensi 87 orang (54%). Komorbid hipertensi pada kelompok case sebanyak 87 orang (54.0%), sedangkan kelompok control 24 orang (14.9%). Hipertensi memiliki hubungan dengan kematian COVID-19 secara signifikan (p=0.000) dengan OR 6.711. Kesimpulan penelitian ini pasien COVID-19 adalah komorbid tunggal hipertensi memiliki resiko 6 kali lebih tinggi untuk meninggal dibandingkan pasien lain pada usia dan jenis kelamin sama.