cover
Contact Name
Heribertus Dwi Kristanto
Contact Email
dwikris@driyarkara.ac.id
Phone
+6221-4247129
Journal Mail Official
admin.diskursus@driyarkara.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jl. Cempaka Putih Indah 100A Jembatan Serong, Rawasari, Jakarta 10520
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
DISKURSUS Jurnal Filsafat dan Teologi
ISSN : 14123878     EISSN : 25801686     DOI : https://doi.org/10.36383/diskursus.v18i2
Founded in 2002 DISKURSUS is an academic journal that publishes original and peer-reviewed works in the areas of philosophy and theology. It also welcomes works resulting from interdisciplinary research at the intersections between philosophy/theology and other disciplines, notably exegesis, linguistics, history, sociology, anthropology, politics, economics, and natural sciences. Publised semestrally (in April and October), DISKURSUS aims to become a medium of publication for scholars to disseminate their novel philosophical and theological ideas to scholars in the same fields, as well as to the wider public.
Articles 182 Documents
Denise Ferreira da Silva. Toward a Global Idea of Race Paramehta, Teraya
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 19 No. 2 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v19i2.456

Abstract

"Epistemologi Moluska" Bruno Latour dan Paradigma Non-Modern Pengetahuan: Bruno Latour's 'Molluscan Epistemology' and the Non-Modern Epistemic Paradigm Juwono, Kevin
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 20 No. 1 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v20i1.462

Abstract

Due to the impression that Bruno Latour rejects epistemology, his thought is often considered as part of postmodernism and relativism. This essays will show that this impression is misleading. The target of Latour's critique is the modern paradigm that dichotomizes absolutely between ontology and epistemology, as in subject—object and nature—society. Latour succeeded in showing that modern epistemology is not absolute. To do so, he included a two-dimensional variable in one-dimensional insertions, with the example of a generic scheme created by a variant of the SSK school. The consequence is a priori ontological postponement, with various models of possible scales of values on the schema. For this reason, the principle of symmetry and the use of neutral language that can include (suspend) various ontologies so that epistemic knowledge can be obtained in reality (such as the alignment of humans—non-humans, and actors—actants), becomes important in scientific practice. This essay draws a conclusion with some critical notes and provides a kind of offer as a further consequence of the examination of Bruno Latour’s epistemology Abstrak Kesan bahwa Bruno Latour menolak epistemologi telah membuat pemikirannya kerap dimasukkan ke kategori pascamodernisme dan relativisme. Tulisan ini hendak menunjukkan bahwa kesan tersebut keliru. Sebetulnya sasaran kritik Latour adalah paradigma modern yang mendikotomikan secara absolut antara ontologi dan epistemologi, seperti pada subjek–objek dan alam–masyarakat. Latour memperlihatkan bahwa epistemologi modern itu tidaklah absolut. Caranya, ia memasukkan variabel dua dimensi pada pengutuban satu dimensi, dengan contoh skema generik yang dibuat oleh varian dari mazhab SSK. Konsekuensinya adalah penundaan apriori ontologis, dengan beraneka model kemungkinan skala nilai pada skema. Untuk itu, prinsip simetri dan penggunaan bahasa netral yang dapat mencakupi (penangguhan) pelbagai ontologi agar pengetahuan epistemik dapat diperoleh senyata-nyatanya (seperti kesejajaran manusia—non-manusia, dan aktor—aktan) menjadi penting dalam praktik keilmuan. Di akhir tulisan, penulis memberikan beberapa catatan kritis, serta semacam tawaran sebagai konsekuensi lebih jauh atas pemeriksaan epistemologi Bruno Latour. Kata-kata kunci: epistmeologi, paradigma non-modern, epistemologi moluska, prinsip simetri, meta-modern, aktor-aktan
Epistemic Injustice and Digital Disinformation: Addressing Knowledge Inequities in the Digital Age: Ketidakadilan Epistemik dan Disinformasi Digital: Mempersoalkan Ketidakadilan Pengetahuan di Era Digital Sugeng, Sugeng; Fitria, Annisa; Bastomi, Selam
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 20 No. 1 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v20i1.483

Abstract

This research scrutinizes the repercussions of digital disinformation on knowledge disparities and delves into strategies aimed at fostering epistemic justice. The examination of the findings will involve a comprehensive exploration of various ethical frameworks and theories. This analytical approach seeks to identify the underlying ethical issues that may be inherent in the results. Ethical frameworks provide a structured lens through which we can evaluate the implications of the findings on different stakeholders, ensuring a thorough understanding of potential ethical dilemmas. For this purpose, the research integrates philosophical, social, and technological perspectives. Firstly, through philosophical perspective this research explores the concept of epistemic justice and its conditions in the digital era. Secondly, this research will investigate the role of digital disinformation in creating knowledge inequities, especially the disparities in knowledge access and distribution. By understanding the mechanisms through which false or misleading information spreads in digital spaces, the research seeks to identify strategies and interventions that can eliminate the roots of epistemic injustice and foster a more just and enlightened knowledge landscape for everyone, regardless of their backgrounds. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengkaji dampak disinformasi digital terhadap disparitas pengetahuan dan memeriksa strategi yang diterapkan untuk memajukan keadilan epistemik. Pemeriksaan temuan akan melibatkan eksplorasi komprehensif terhadap berbagai kerangka teori dan etika. Lewat pendekatan analitis akan diidentifikasi dan diperiksa isu-isu etis yang mungkin melekat dalam hasil penelitian. Kerangka etika menyediakan lensa terstruktur melalui mana kita dapat mengevaluasi implikasi temuan terhadap pemangku kepentingan yang berbeda, memastikan pemahaman menyeluruh terhadap potensi dilema etis. Penelitian ini menggunakan pendekatan lintas disiplin dengan mengintegrasikan perspektif filosofis, sosial, dan teknologis. Pertama-tama, lewat perspektif filosofis akan diperiksa konsep keadilan epistemik dan implikasinya dalam era digital. Kedua, penelitian ini akan menyelidiki peran disinformasi digital dalam menciptakan ketidaksetaraan pengetahuan, khususnya bagaimana disinformasi digital berkontribusi pada disparitas dalam akses dan distribusi pengetahuan. Dengan memahami mekanisme melalui mana informasi palsu atau menyesatkan menyebar di ruang digital, penelitian ini berusaha mengidentifikasi pelbagai strategi dan intervensi yang dapat mengeliminasi akar ketidakadilan epistemik dan memajukan lanskap pengetahuan yang lebih adil dan mencerahkan bagi semua orang. Kata-kata kunci: keadilan epistemik, disinformasi digital, ketidakadilan pengetahuan
Kritik terhadap Filsafat Pendidikan Jacques Rancière: Criticisms against Jacques Rancière's Philosophy of Education Clemens Dion Yusila Timur
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 20 No. 1 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v20i1.485

Abstract

This article contains four criticisms against Jacques Rancière's philosophy of education, insofar as his philosophy is written in his work The Ignorant Schoolmaster. In the first criticism, Rancière's presupposition of equality of intelligence would be framed as a truth claim and to the extent that it can be treated as such, Rancière's argument contains a number of defects. The second criticism underscores the distinction between inequality of intelligence and inequality of knowledge Rancière confuses. The third criticism concerns the contradiction between what Rancière has written and what he practiced and also the weakness of the defense provided by his supporters on this point. Fourth, Rancière's redefinition of “emancipation” as verification of the equality of intelligence turns out to strip away the very idea of emancipation of what makes it meaningful for many people. Abstrak: Tulisan ini berisi empat kritik terhadap filsafat pendidikan Jacques Rancière sebagaimana tertuang dalam karyanya The Ignorant Schoolmaster. Dalam kritik pertama, pengandaian kesetaraan akal budi Rancière akan dikemas sebagai klaim kebenaran dan sejauh itu dapat diperlakukan sebagai klaim kebenaran, argumen Rancière mengandung sejumlah kecacatan. Kritik kedua menggarisbawahi perbedaan antara ketidaksetaraan akal budi dan ketidaksetaraan pengetahuan yang dirancukan Rancière. Kritik ketiga berkaitan dengan adanya kontradiksi antara apa yang Rancière tuliskan dan apa yang ia praktikkan serta kelemahan pendukung Rancière dalam membela butir ini. Keempat, pendefinisian ulang Rancière atas “emansipasi” sebagai verifikasi atas kesetaraan akal budi justru melucuti ide emansipasi dari apa yang membuatnya bagi banyak orang berarti.
χάρις: Ketika Pemberian Ditanggapi dengan Rasa Syukur (Membaca Kisah Paulus dan Lidia dalam Kis. 16:13-15 melalui Lensa Gift of Exchange Repertoire): χάρις: When a Gift is Reciprocated by Gratitude (Reading the Encounter of Paul and Lidya in Acts 16:13-15 through the Lens of Gifts of Exchange Repertoire Loba, Klementius Anselmus; Antonius Galih Arga Wiwin, Aryanto
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 20 No. 1 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v20i1.515

Abstract

This article analyzes the encounter story of Paul and Lydia (Acts 16:13-15) as a concrete example of the practice of reciprocal gift exchange. The exchange of “gifts” between the two took place when Paul preached the Christian faith and baptized Lydia, and she reciprocated by giving Paul a ride. This study employs a social science approach by taking a repertoire of gift exchanges from the ancient Greco-Roman world to be applied to this story, and biblical studies for interpretation. From the repertoire of exchanges available, we chose χάρις to apply to this story. The concept of χάρις reflects a reciprocal exchange that involves two actions at once, namely the giving of a “gift” and the receiving of it with gratitude in return. The reciprocal gift exchange between Paul and Lydia shows that a gift demands a response (reciprocity). However, the reciprocal exchange between the two was not exploitative, as it took place within the framework of Christ’s χάρις. Through the gift of Christ’s χάρις, they concretely share χάρις with one another. In this context, Paul and Lydia not only demonstrated their identity as followers of Christ but also strengthened their bonds as brothers and sisters. Abstrak Artikel ini menganalisa kisah pertemuan Paulus dan Lidia (Kis. 16:13-15) sebagai sebuah contoh konkret dari praktik pertukaran hadiah atau pemberian timbal balik. Pertukaran “hadiah” antara keduanya terjadi ketika Paulus mengajarkan iman Kristen dan membaptis Lidia, dan Lidia membalasnya dengan memberikan tumpangan kepada Paulus. Studi ini menggunakan pendekatan ilmu sosial dengan memakai repertoar pertukaran hadiah atau pemberian timbal balik dari tradisi dunia Yunani-Romawi kuno untuk diterapkan dalam penafsiran biblis. Dari repertoar pertukaran yang tersedia, studi ini memilih χάρις untuk diterapkan dalam kisah tersebut. Konsep χάρις mencerminkan pertukaran timbal balik yang melibatkan dua tindakan sekaligus, yakni pemberian “hadiah” dan penerimaan dengan rasa syukur sebagai balasannya. Pertukaran hadiah timbal balik antara Paulus dan Lidia menunjukkan bahwa sejatinya sebuah pemberian menuntut tanggapan (resiprositas). Namun pertukaran timbal balik antara keduanya tidak bersifat eksploitatif, karena terjadi dalam bingkai χάρις Kristus. Melalui pemberian χάρις Kristus, mereka secara konkret berbagi χάρις terhadap satu sama lain. Dalam konteks ini, Paulus dan Lidia tidak hanya menunjukkan identitas mereka sebagai pengikut Kristus, tetapi juga memperkuat ikatan mereka sebagai saudara seiman. Kata-kata kunci: Paul, Lidya, χάρις, pertukaran timbal-balik, Kis 16: 13-15, budaya Yunani-Romawi
Becoming Chinese with the Chinese: The Missionary Contribution of Matteo Ricci: Menjadi Tionghoa bersama Orang Tionghoa: Kontribusi Matteo Ricci dalam Evangelisasi Duraj, Jaroslaw
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 20 No. 1 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v20i1.543

Abstract

Matteo Ricci is one of the most important Christian missionaries in China whose groundbreaking method of accommodation in the context of the Chinese culture was paradigmatic and influenced the history of relationship between China and the West. Ricci’s work had a profound impact on Chinese culture. He introduced new ideas in astronomy, mathematics, cartography, and other fields. He also helped to spread Christianity in China through the means of science and dialogue built on authentic friendship. In this article we offer a discussion about his missionary work that left mark on the history of evangelization of China by considering his scientific contribution, his missionary spirituality and accommodation method resulting in his personal experience of intercultural encounter leading to his profound self-transformation. As the Catholic church already officially recognized his “heroic virtues” putting Matteo Ricci on the path to sainthood, it is important to reflect about contribution of this great Jesuit to the dialogue between China and the West. Abstrak Matteo Ricci adalah salah seorang misionaris Kristen terpenting di Tiongkok, karena membuat terobosan berupa metode akomodasi yang akan menjadi paradigma kultural yang memengaruhi sejarah relasi antara Tiongkok dan Barat. Pengaruh Ricci terhadap kebudayaan Tiongkok sangat dalam karena ia memperkenalkan astronomi, matematika, kartografi, dan bidang ilmu lainnya. Ia membantu penyebaran Kristianitas di Tiongkok lewat jalan ilmu pengetahuan serta lewat dialog berdasarkan persahabatan tulus. Artikel ini mendiskusikan karya Ricci yang menandai sejarah evangelisasi di Tiongkok dengan secara khusus menyoroti kontribusinya dalam bidang sains dan dengan menelisik metode akomodasi beserta spiritualitas penginjilannya yang berakar pada perjumpaan interkultural yang membuahkan transformasi mendalam dalam kehidupan pribadinya. Mengingat Gereja Katolik telah secara resmi mengakui keutamaan-keutamaan heroik Matteo Ricci serta telah memulai proses kanonisasinya, penting kiranya merefleksikan kontribusi misionaris Yesuit ini dalam hal dialog antara Tiongkok dan Barat. Kata-kata kunci: Matteo Ricci, Tiongkok, spiritualitas, akomodasi, misi, dialog
Does Ethics Presuppose Religion? A Levinasian Perspective: Apakah Etika Mengandaikan Agama? Perspektif Emmanuel Levinas Tjaya, Thomas Hidya
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 20 No. 2 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v20i2.577

Abstract

Levinas’s fundamental thought about ethics as the questioning of the I by the other earns him a unique position among moral philosophers who usually analyze the good-and-bad principles of a moral action. Levinas places such questioning on the idea of metaphysics as desire for the InÞnite that leads to the responsibility for the Other. With such an idea about ethics, one may ask whether Levinas’s thought is rooted in religion. This article purports to analyze the question by analyzing how Levinas understands the relationship between ethics and religion and whether his ethics is nothing but religion. Using the phenomenological method and textual analysis, the author shows that the answer to these questions is inherently complex. For Levinas, true ethics is fundamentally religious, and conversely, a true religion is fundamentally ethical. All this is manifested, among others, in the acknowledgment of the transcendence of the Other and the refusal to all forms of totalization. Abstrak Pemikiran fundamental Levinas mengenai etika sebagai pemertanyaan atas sang Aku oleh Yang Lain menempatkannya pada posisi unik di kalangan Þlsuf moral yang biasanya membahas prinsip baik-buruk sebuah tindakan moral. Levinas menempatkan pemertanyaan ini pada gagasan metaÞsika seperti hasrat terhadap Yang Tak Terbatas yang membawa kepada rasa tanggung jawab terhadap orang lain. Gagasan demikian dengan mudah menimbulkan pertanyaan apakah etika Levinas berakar pada agama. Artikel ini hendak menjawab pertanyaan tersebut dengan mendalami bagaimana Levinas memahami hubungan antara etika dan agama serta apakah etikanya tak lain merupakan sebuah agama. Menggunakan metode fenomenologi dan analisis tekstual, penulis menunjukkan bahwa jawaban atas pertanyaan tersebut secara inheren bersifat sangat kompleks. Bagi Levinas, etika sejati secara fundamental bersifat religius, dan demikian pula, agama sejati secara fundamental bersifat etis. Hal ini terungkap antara lain dalam pengakuan atas transendensi Yang Lain dan penolakan atas segala bentuk totalisasi. Kata-kata Kunci: etika, agama, transendensi, Yang Lain, totalisasi, Yang Tak Terbatas.
Hiposubjektivitas Timothy Morton: Sebuah Tawaran Filsafat Manusia di Era Antroposen: Timothy Morton's Hyposubjectivity: An Alternative Philosophy of Man in the Anthropocene Epoch Rafiq, Devananta
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 20 No. 2 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v20i2.591

Abstract

This article proposes a new alternative account to anthropocentric explanations of the philosophy of man through Timothy Morton’s view of ‘hyposubjectivity’. Anthropocentrism is a paradigm that privileges human beings in cosmology, epistemology, and axiology. An alternative view is important because large-scale changes are threatening and may lead to the extinction of life in the biosphere, which results in a new proposed geological time classiÞcation that shifts the Holocene epoch to the Anthropocene. Ironically, while the anthropocentric view proves its premise on human dominance over non-human conditions, this change has in fact made humans powerless in the face of the change itself. Through the concept of hyposubjectivity, Morton offers an explanation of the relationship between humans and nonhumans as a symbiotic collective that should work together through solidarity between ‘species beings’. This article wants to emphasize the meaning that human being does not constitute the totality of the universe. Abstrak Melalui pandangan Timothy Morton tentang ‘hiposubjektivitas’, artikel ini mencoba memberikan alternatif baru terhadap filsafat manusia yang tidak antroposentris. Antroposentrisme sendiri merupakan paradigma yang memberikan keistimewaan bagi manusia secara kosmologis, epistemik, dan aksiologis. Pandangan alternatif penting karena krisis lingkungan skala besar sedang terjadi dengan akibat kehidupan pada biosfer terancam punah hingga memunculkan usulan klasifikasi waktu geologis baru: dari kala Holosen menjadi Antroposen. Secara ironis, kala Antroposen menunjukkan di satu sisi kebenaran premis antroposentris bahwa kedigdayaan manusia telah berhasil mengintervensi kondisi non-manusia, tetapi di sisi lain perubahan ini kemudian justru membuat manusia tidak berdaya di hadapan krisis yang diakibatkannya sendiri. Melalui konsep hiposubjektivitas, Morton menawarkan penjelasan relasi antara manusia dan non-manusia sebagai suatu kolektif simbiotis yang seharusnya saling bekerja sama melalui solidaritas antara ‘makhluk spesies’. Dengan demikian, artikel ini menekankan pemaknaan bahwa manusia bukanlah segala-galanya di semesta ini. Kata-kata kunci: hiposubjektivitas, hiperobjektivitas, materialisme baru, antroposentrisme, Antroposen, Timothy Morton, ekologi
Ritus Pewartaan Injil dalam Misa: Komparasi Missale Romanum Pius V (1570) dan Missale Romanum Paulus VI (2008): The Rite of Proclaiming the Gospel: A Comparative Study of Missale Romanum Pius V (1570) and Missale Romanum Paul VI (2008) Watu, Christianus
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 20 No. 2 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v20i2.596

Abstract

This study explores the evolution and history of the rite of proclaiming the Gospel as found in the Ordo Missae of the Missale Romanum of Pius V (1570) and the Missale Romanum of Paul VI (2008). The objective is to facilitate a deeper understanding of how this rite has been celebrated in different contexts over time. The liturgical renewal of the Second Vatican Council has brought changes to the rite, simplifying some elements and removing unnecessary repetitions from the old Ordo Missae. Therefore, a comparative study of these two Ordines is necessary to fully comprehend the changes that have occurred in this rite. This study uses a descriptive-qualitative approach, focusing on comparative and historical analysis. It concludes that understanding the current rite of proclaiming the Gospel in the Ordo Missae is best achieved through comparison with the previous rite. The new Ordo Missae was not created abruptly or in a completely new way, but was compiled based on extensive liturgical study while retaining the essentials. Although the rite is expressed in two different forms of Ordines Missae, this does not mean that the Roman Catholic Church celebrates the Eucharist using “two rites,” but only with one rite, namely the Roman rite. Abstrak Studi ini menunjukkan evolusi dan sejarah dari ritus pewartaanInjil yang terdapat dalam Ordo Missae dari Missale Romanum Pius V (1570) dan Missale Romanum Paulus VI (2008). Tujuannya adalah untuk membantu pembaca agar dapat mengenal dan memahami bagaimana ritus pewartaan Injil ini dirayakan dalam konteks zaman yang berbeda. Pembaruan liturgi Konsili Vatikan II telah menampilkan wajah baru dari ritus ini. Beberapa unsur dari Ordo Missae yang lama telah disederhanakan dan bahkan segala bentuk pengulangan yang tidak perlu telah dihapus. Maka, penting melakukan studi komparatif terhadap kedua Ordines ini, agar segala bentuk perubahan yang terjadi pada ritus ini dapat dipahami dengan baik. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-kualitatif, yang berfokus pada analisis komparatif dan historis. Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa ritus pewartaan Injil dalam Ordo Missae saat ini akan dapat dipahami dengan baik jika ritus ini dikonfrontasikan dengan ritus dari Ordo Missae sebelumnya. Ordo Missae yang baru tidak diciptakan secara tiba-tiba atau baru sama sekali, melainkan telah disusun berdasarkan studi liturgi yang panjang, sambil mempertahankan hal-hal yang pokok. Meski ritus ini diungkapkan dalam dua bentuk Ordines Missae yang berbeda, tetapi ini tidak berarti bahwa Gereja Katolik Roma merayakan Ekaristi dengan menggunakan “dua ritus”, melainkan hanya dengan satu ritus, yakni ritus Romawi. Kata-kata kunci: Pewartaan Injil, Liturgi Sabda, Ordo Missae, Missale Romanum, Perayaan Ekaristi, Pembaruan Liturgi
Dari Sultan ke Santri: Konsep Kuasa dan Perubahan Otoritas Keagamaan dalam Masyarakat Jawa: From Sultan to Santri: Power and Changing Religious Authority in Javanese Society Soesilo, Teilhard
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 20 No. 2 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v20i2.603

Abstract

Despite having been successfully “Islamized” since the XVII century, the way Islam was practiced in general during that period undeniably differs from the current. In this essay, the shift from a society that leaned stronger on the side of adat (custom) towards one that is more orthodox and orthopraxical is connected with the change of religious authority in Javanese society. This essay argues that the traditional religious authority based on the notion of Power (as defined by Benedict Anderson) declined along with the weakening of the Javanese courts during the colonial era, thus making it possible for a new Islamic religious authority based on Scripture and prophetic teaching/tradition to take over. Abstrak Meski sebagian besar masyarakat Jawa sudah “terislamkan” sejak abad XVII, cara Islam dihayati dan dipraktikkan pada zaman itu tentu tidak sama persis dengan masa kini. Dalam makalah ini, perubahan dari masyarakat yang lebih condong para adat menuju masyarakat yang lebih agamis dan menghayati Islam secara lebih ortodoks dan ortopraktis dikaitkan dengan perubahan otoritas keagamaan dalam masyarakat Jawa. Argumen makalah ini adalah bahwa otoritas tradisional masyarakat Jawa yang sebelumnya berpusat pada konsep Kuasa (menurut pengertian Benedict Anderson) perlahan melemah seiring memudarnya pamor kerajaan-kerajaan Jawa pada masa kolonial sehingga pada tahap selanjutnya tergantikan oleh otoritas keagamaan Islam yang berorientasi pada Kitab Suci dan ajaran kenabian. Kata-kata Kunci: Jawa, Mataram, Kuasa, Islam, Otoritas Keagamaan

Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 2 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 21 No. 1 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 20 No. 2 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 20 No. 1 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 19 No. 2 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 19 No. 1 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 2 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 2 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 1 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 2 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 1 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 2 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 1 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 1 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 2 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 1 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 2 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 2 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 2 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 1 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 9 No. 2 (2010): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara More Issue