cover
Contact Name
Heribertus Dwi Kristanto
Contact Email
dwikris@driyarkara.ac.id
Phone
+6221-4247129
Journal Mail Official
admin.diskursus@driyarkara.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jl. Cempaka Putih Indah 100A Jembatan Serong, Rawasari, Jakarta 10520
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
DISKURSUS Jurnal Filsafat dan Teologi
ISSN : 14123878     EISSN : 25801686     DOI : https://doi.org/10.36383/diskursus.v18i2
Founded in 2002 DISKURSUS is an academic journal that publishes original and peer-reviewed works in the areas of philosophy and theology. It also welcomes works resulting from interdisciplinary research at the intersections between philosophy/theology and other disciplines, notably exegesis, linguistics, history, sociology, anthropology, politics, economics, and natural sciences. Publised semestrally (in April and October), DISKURSUS aims to become a medium of publication for scholars to disseminate their novel philosophical and theological ideas to scholars in the same fields, as well as to the wider public.
Articles 182 Documents
Hermeneutika Kesaksian dan Keterbacaan Transendensi dalam Filsafat Paul Ricœur: The Hermeneutics of Testimony: the Readability of Transcendence in Paul Ricœur’s Philosophy Setyadi, Fransiskus Wawan
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 20 No. 2 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v20i2.610

Abstract

Transcendence plays an important role in Paul Ricœur’s philosophical reflections. In the philosophy of the will that marks the beginning of his career, Transcendence serves to reconcile the conflictual relationship between human freedom and the inherent conditions that limit it and to offer liberation of man from his fault. The same theme persisted in his later works, in his exploration of the role of Transcendence for forgiveness in the book on memory, history and forgetting. However, Ricœur never systematically wrote this role of Transcendence in a work because the third book of the trilogy of the philosophy of the will that was meant to elaborate on the role of Transcendence was never written. This provides an opportunity for Ricœur’s commentators to interpret the presence of Transcendence in Ricœur’s philosophy. This article argues that the hermeneutics of testimony is one of the gateways to understand Transcendence in Ricœur’s philosophy. Abstrak Transendensi memegang peranan penting di dalam refleksi filosofis Paul Ricœur. Di dalam filsafat kehendak yang menandai awal kariernya, Transendensi berperan untuk mendamaikan relasi konfliktual antara kebebasan manusia dan kondisi-kondisi absolut yang membatasinya dan lebih lagi untuk membebaskan manusia dari kesalahannya. Peran yang sama ditekankan Ricœur lagi di karya pada periode kematangan filosofisnya, yaitu peran Transendensi untuk pengampunan di buku tentang ingatan, sejarah dan pelupaan. Namun demikian, Ricœur tidak pernah menulis secara sistematis peran Transendensi ini dalam sebuah karya karena buku ketiga dari trilogi fillsafat kehendak yang dimaksudkan untuk mengurai peran Transendensi tidak pernah ditulisnya. Hal ini membuka peluang bagi para komentator Ricœur untuk menginterpretasi kehadiran Transendensi di dalam filsafat Ricœur. Artikel ini berargurmen bahwa hermeneutika kesaksian menjadi salah satu tempat keterbacaan Transendensi di dalam filsafat Ricœur. Kata-kata kunci: filsafat kehendak, puitik kehendak, pengampunan, Transendensi, kesaksian, referensi metaforis, apropriasi
Multiply-Situated Self and the Role of Community: Reimagining Identity Based on the Communitarian Perspective of Michael Sandel: Diri Yang Terkondisi oleh Kemajemukan dan Peran Komunitas: Meninjau Kembali Identitas berdasarkan Perspektif Komunitarisme Michael Sandel Tan, Petrus
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 21 No. 1 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v21i1.667

Abstract

Under the influence of unencumbered-self anthropology of liberalism, the role of community in forming individual identity in modern society is declining. Michael Sandel proposes a fundamental criticism of liberalism anthropology as the trigger for the tyranny of meritocracy, solidarity crisis, and social polarization in various democratic countries today. This research aims to analyze further the reimagination of identity in contemporary society using Sandel’s thoughts on the multiply-situated self and the role of community. The research uses a qualitative approach, namely a literature review and content analysis. This research indicates that each individual can realize freedom only in a community with shared values ​​and projects of the common good. As a formative project, the common good is impossible to achieve through solitary reflection but rather through shared ethical reasoning and involvement within a community. The research concludes that multiply-situated self and community are the two elements of moral foundation in building a culture of cooperation and solidarity in democratic and plural society. Abstrak Akibat konsep ununcumbered-self dalam antropologi filosofis liberalisme, peran komunitas dalam mengkonstruksi identitas individu pada masyarakat modern kian merosot. Michael Sandel mengajukan kritik fundamental terhadap konsep liberalisme tersebut. Menurutnya, antropologi filosofis liberal adalah akar tirani meritokrasi, krisis solidaritas, dan polarisasi sosial dalam berbagai masyarakat demokratis hari ini. Penelitian ini bertujuan menggunakan perspektif filsafat komunitarian Sandel untuk menganalisis lebih lanjut tentang reimajinasi identitas dalam masyarakat kontemporer. Melalui pendekatan kualitatif, yaitu lewat review literatur dan analisis kritis, penelitian ini menunjukkan bahwa setiap individu dapat mewujudkan kebebasannya hanya dalam suatu komunitas yang memiliki nilai bersama dan komitmen pada kebaikan umum. Sebagai sebuah proyek formatif, kebaikan umum tidak mungkin dicapai melalui refleksi soliter melainkan hanya melalui penalaran etis secara kolektif dan tindakan bersama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa multiply-situated self dan komunitas adalah fondasi moral dari budaya kerja sama dan solidaritas dalam setiap masyarakat demokratis dan plural, termasuk Indonesia. Kata-kata kunci: komunitarianisme, liberalisme, multiply-situated self, komunitas, demokrasi
The God Letter Albert Einstein. Ateisme Ilmiah: Meyakinkan? Albert Einstein's God Letter. Is Scientific Atheism Convincing? Magnis-Suseno, Franz
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 21 No. 1 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v21i1.681

Abstract

This article questions Einstein’s famous statement that God is just the expression of human weakness and that religion is nothing more than a primitive superstition. The author agrees that the development of the universe should, indeed, be explained by laws of nature, without any recourse to God. It will be argued that Einstein’s explanation has overlooked the fact that he cannot explain the belief in “The Beyond” itself. That people appeal to “The Beyond” to explain experiences they cannot understand presupposes that they already believe that there is a “Beyond”. Where does this belief in “The Beyond” come from? Drawing on the thoughts of Emmanuel Levinas, the author will show that it is moral consciousness, conscience, that opens humans’ horizon to “The Beyond”. The article concludes by pointing to the fact that both the emergence of the universe and the development of life on earth are extremely improbable. This improbability, however, would disappear if the universe were created by God. Abstrak Tulisan ini mempertanyakan pernyataan termasyhur Einstein bahwa Allah adalah ungkapan kelemahan manusia dan agama tak lain merupakan penjelmaan takhayul primitif. Dibenarkan bahwa perkembangan-perkembangan di alam raya dapat dijelaskan dengan hukum alam, bukan dengan campur tangan Allah. Tulisan ini fokus pada pengandaian dalam argumentasi Einstein, yaitu bahwa kepercayaan kepada “Yang-Di-Seberang“ merupakan penjelasan manusia atas pengalaman-pengalaman yang tidak/belum dapat mereka jelaskan. Namun, bahwa manusia mengacu kepada “Yang-Di-Seberang“ mengandaikan bahwa ia sudah percaya pada adanya “Yang-Di-Seberang“. Dari mana kepercayaan itu? Dengan bertolak dari pemikiran Levinas, akan ditunjukkan bahwa kiranya kesadaran moral, hati nurani, itulah yang membuka horizon manusia akan “Yang-Di-Seberang“. Sebagai penutup akan ditunjukkan fakta bahwa munculnya alam raya dan perkembangan kehidupan di bumi secara ekstrem tidaklah probabel. Andai kata alam raya ini diciptakan oleh Allah, ketidakprobabelan itu hilang. Kata-kata kunci: ateisme, Einstein, Levinas, Yang-di-Seberang, hati nurani, probabilitas
Ricoeur's Hermeneutics as A Method for Liturgical Theology according to Zimmerman: Hermeneutika Ricoeur sebagai Sebuah Metode bagi Teologi Liturgi menurut Zimmerman Firmansyah, Antonius
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 21 No. 1 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v21i1.682

Abstract

This paper investigates the extent to which the application of Ricoeur's hermeneutics according to Joyce Ann Zimmerman can be a method for Liturgical Theology to understand the process of communication of faith during the Liturgy for the Church in the postmodern era. With the need to deepen the interdisciplinary dialogue between liturgy and other branches of science, this paper aims to delineate the point of convergence between Liturgical Theology and hermeneutics to create a more relevant application for Christians today. For this purpose, the methodology used in this paper is a literature study to dialogue Zimmerman’s thoughts with other thinkers focusing on the application of hermeneutics in Liturgical Theology. This paper finds that the application of Ricoeur’s hermeneutics according to Zimmerman can map the linguistic dynamics of liturgical celebrations to enable the transformation of the entire narrative of their life experiences into a narrative of faith. Nevertheless, this method needs to be complemented by the hermeneutics of real dialogical actions with the mystery of God action as a trigger for a deeper transformation of mystical experience in the liturgy towards social ethics. Abstrak Makalah ini mempertanyakan sejauh mana penerapan hermeneutika Ricoeur menurut Joyce Ann Zimmerman bisa menjadi metode bagi Teologi Liturgi untuk memahamai proses komunikasi iman dalam Liturgi di era postmodern. Dengan adanya kebutuhan untuk memperdalam dialog interdisipliner antara liturgi dan cabang-cabang ilmu lainnya, makalah ini bertujuan memperuncing titik temu antara Teologi Liturgi dan hermeneutika demi aplikasi yang lebih relevan bagi umat di masa kini. Metodologi yang digunakan dalam makalah ini adalah studi pustaka dengan mendialogkan pemikiran Zimmerman dengan pemikir-pemikir lainnya yang berfokus pada penerapan hermeneutika di bidang Teologi Liturgi. Ditemukan bahwa penerapan hermeneutika Ricoeur menurut Zimmerman dapat memetakan dinamika linguistik dari perayaan liturgi yang memungkinkan tranformasi seluruh narasi pengalaman hidup mereka menjadi narasi iman. Meski demikian, menurut penulis metode ini perlu dilengkapi dengan hermeneutika tindakan dialogal liturgis konkret dengan misteri ilahi sebagai pemicu transformasi pengalaman mistik dalam liturgi yang lebih mendalam, menuju ke etika sosial. Kata-kata kunci: hermeneutika, dinamika linguistik, partisipasi, distansiasi, apropriasi, pemahaman
The Face-to-Face Encounter: Embodiment and Ethical Responsibility in Levinas' Phenomenology: Perjumpaan Tatap Muka: Kebertubuhan dan Tanggung Jawab Etis dalam Fenomenologi Levinas Patrick, Arokiaraj Joseph
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 21 No. 1 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v21i1.683

Abstract

This article shows how Emmanuel Levinas’s ethical philosophy departs from traditional Western metaphysics by rooting moral responsibility in the embodied encounter between corporeal subjects. Embodiment is key for both the ethical subject and the Other, with ethical consciousness arising from shared corporeal vulnerability. For Levinas, ethical obligation emerges in concrete, physical encounters with the Other, rather than abstract principles. Ethical responsibility arises in the face-to-face encounter with the embodied Other, where vulnerability and need are revealed. Ethical response involves embodied acts of goodness and substitution, where the subject takes on the suffering and needs of the Other. By orienting itself toward the Other, the being can break free from self-centeredness and the dangers of the ‘there is’, establishing its identity outside itself and experiencing liberation. Ultimately, Levinas's ethics demands a shift from abstract moral reasoning to an embodied, practical response to the Other's call, unfolding in the immediacy of human encounters and grounded in the corporeal reality of our existence. Abstrak Artikel ini hendak menunjukkan bagaimana etika Emmanuel Levinas yang menjangkarkan tanggung jawab moral pada perjumpaan antar subjek yang bertubuh melepaskan diri dari metafisika tradisional Barat. Kebertubuhan menjadi kunci dalam perjumpaan antara seorang subjek moral dengan Yang Lain, di mana kesadaran moral tumbuh dari kerentanan fisik mereka. Alih-alih dari prinsip-prinsip abstrak, kewajiban moral muncul dari perjumpaan fisik yang konkret. Dalam perjumpaan antar wajah tersebut, kerapuhan dan kebutuhan masing-masing tersingkap. Tanggung jawab moral terwujud dalam respons baik yang menubuh dan dalam substitusi, melalui mana subjek merengkuh penderitaan dan kebutuhan Yang Lain sebagai miliknya. Lewat keterarahan pada Yang Lain, ‘ada’ membebaskan diri dari ‘ada-di-sana’ (il y a) dan dari keterpusatan diri seraya menegaskan identitasnya di luar diri sendiri. Etika Levinas menuntut pergeseran dari penalaran moral yang abstrak menuju kepekaan praktis pada panggilan Yang Lain, yang hadir dalam perjumpaan langsung dan melibatkan realitas kebertubuhan manusia. Kata-kata kunci: kebertubuhan, tanggung jawab moral, Emmanuel Levinas, Yang Lain, perjumpaan tatap muka, substitusi
Antropologi Karl Rahner dan Moral Eksistensial: Karl Rahner's Anthopology and Moral Existential Gions, Frumensius
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 21 No. 1 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v21i1.684

Abstract

The truth of man’s existence consists in the ontological fact that human person is a relational being. Karl Rahner (1904-1984) formulates this relationality by articulating “The Hearer of the Message” as the essence of human existence. What Rahner wants to show is that human being cannot be comprehended correctly outside his transcendental relationship with God and with his neighbors. The aim of the following article is to elaborate the questions of who we are and what we are to do as “The Hearer of the Message”. Within Rahner’s thought of the human person, Christian morality can be understood primarily as an existential mode of living, rather than as a system of doctrines. Abstrak Kebenaran mengenai keberadaan manusia terletak dalam fakta ontologis bahwa pribadi manusia adalah makhluk relasional. Karl Rahner (1904-1984) merumuskan relasionalitas itu dengan mengartikulasikan “Sang Pendengar Sabda” sebagai hakikat dari keberadaan manusia. Apa yang hendak Rahner tunjukkan adalah bahwa manusia tidak dapat dipahami secara benar kecuali dengan melibatkan relasi transendentalnya dengan Allah dan dengan sesamanya. Artikel berikut ini bermaksud menguraikan pertanyaan mengenai siapakah kita dan apa yang dapat kita lakukan sebagai “Sang Pendengar Sabda”. Melalui pemikiran Rahner mengenai pribadi manusia itu, Moral Kristiani dapat dipahami pertama-tama sebagai cara hidup yang sifatnya eksistensial ketimbang suatu perangkat doktrin atau ajaran. Kata-kata kunci: Pendengar Sabda, subjektivitas, transendensi, kebebasan, keselamatan, moralitas Kristiani
Challenging Meritocracy: Michael Sandel's Critical Perspective on Social Inequality in Modern Society: Menggugat Meritokrasi: Pandangan Kritis Michael Sandel tentang Ketimpangan Sosial dalam Masyarakat Modern Holivil, Ernestus; Haryatno, Yulius Rudi
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 21 No. 2 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v21i2.686

Abstract

This article examines Michael Sandel’s critique of meritocracy and its relevance to the Indonesian context, particularly in relation to educational inequality and the rise of populism. While meritocracy is often celebrated as a system of fairness and equal opportunity, this study demonstrates that it exacerbates structural disparities, reinforces stigma against disadvantaged groups, and fuels resentment that populist leaders can mobilize. Drawing on Sandel’s The Tyranny of Merit and related literature, this article employs a qualitative approach with critical theory to analyze how meritocratic ideology deepens social divisions by overlooking structural constraints on achievement. The findings reveal that Indonesia’s reliance on merit-based educational policies disadvantages rural and marginalized communities, while the resulting frustrations contribute to populist narratives that oppose political and educational elites. As an alternative, Sandel’s principle of the common good provides a normative framework for reform, emphasizing solidarity, collective responsibility, and shared welfare. By applying these principles to Indonesian social and educational policies, this article highlights a pathway toward reducing inequality, mitigating populist discontent, and strengthening democratic cohesion. Abstrak Artikel ini mengkaji kritik Michael Sandel terhadap meritokrasi dan relevansinya dalam konteks Indonesia, khususnya terkait ketimpangan pendidikan dan bangkitnya populisme. Meskipun meritokrasi sering dipandang sebagai sistem yang adil karena memberikan kesempatan yang setara, penelitian ini menunjukkan bahwa meritokrasi justru memperburuk ketimpangan struktural, memperkuat stigma terhadap kelompok marjinal, serta memicu rasa frustrasi yang kemudian dimanfaatkan oleh para pemimpin populis. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis teori kritis, artikel ini menganalisis karya Sandel The Tyranny of Merit beserta literatur terkait untuk menyoroti bagaimana ideologi meritokrasi memperdalam fragmentasi sosial dengan mengabaikan keterbatasan struktural dalam pencapaian individu. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia pada kebijakan pendidikan berbasis merit cenderung merugikan komunitas pedesaan dan kelompok tertinggal, sementara kekecewaan yang muncul memperkuat narasi populis yang menentang elit politik dan pendidikan. Sebagai alternatif, prinsip kebaikan bersama yang ditawarkan Sandel memberikan kerangka normatif untuk reformasi, dengan menekankan solidaritas, tanggung jawab kolektif, dan kesejahteraan umum. Dengan menerapkan prinsip ini dalam kebijakan sosial dan pendidikan di Indonesia, artikel ini menyoroti jalan menuju pengurangan ketimpangan, meredam ketidakpuasan populis, serta memperkuat kohesi demokratis. Kata-kata kunci: ketidaksetaraan sosial, populisme, Michael Sandel, meritokrasi, kebaikan bersama
Imago Dei dan Kercerdasan Buatan: Membaca Ulang Antropologi Kristologis Calvin dalam Konteks Kepribadian Digital: Imago Dei and Artificial Intelligence: Re-reading Calvin's Christological Anthropology in the Context of Digital Personhood Sibagariang, Julius Stefanus
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 21 No. 2 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v21i2.746

Abstract

The rapid development of artificial intelligence (AI), which is capable of mimicking human cognitive and affective functions, raises a fundamental question: can digital entities be considered persons deserving of human dignity? This study aims to re-reading the concept of the soul as substantia within the framework of John Calvin’s Christological anthropology, to provide a solid theological foundation for the discourse on the imago Dei in the age of artificial intelligence. This study employs a qualitative methods, including a literature review of Calvin’s major works—Institutes of the Christian Religion, Psychopannychia, and biblical commentaries—as well as a systematic theological approach and dialogue with contemporary technological issues. The findings reveal that, for Calvin, human personhood is rooted in the soul as the true seat of the imago Dei, not in cognitive or performative capacities. The human soul, as God’s creation, is restored to unity with Christ through the work of the Holy Spirit. This understanding establishes a clear ontological boundary between humans and digital entities, which are artifactual. Thus, Calvin’s Christological anthropology offers an important contribution to building a reflective and ethical framework for the church and society in responding to the advancement of human-like artificial intelligence. Abstrak Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang mampu meniru fungsi kognitif dan afektif manusia, memunculkan pertanyaan mendasar: apakah entitas digital dapat dikategorikan sebagai person dengan martabat setara manusia? Penelitian ini bertujuan melakukan pembacaan ulang konsep jiwa sebagai substantia dalam kerangka antropologi Kristologis John Calvin, guna memberikan landasan teologis yang kokoh dalam diskursus imago Dei di era kecerdasan buatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan terhadap karya-karya utama Calvin—Institutes of the Christian Religion, Psychopannychia, dan tafsiran Alkitab—serta pendekatan teologi sistematik dan dialog dengan isu teknologi kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi Calvin, kepribadian (personhood) manusia berakar pada jiwa sebagai tempat hakiki imago Dei, bukan pada kapasitas kognitif atau performatif. Jiwa manusia, sebagai ciptaan Allah, dipulihkan dalam kesatuan dengan Kristus melalui karya Roh Kudus. Pemahaman ini menegaskan batas ontologis yang jelas antara manusia dan entitas digital, yang bersifat artefaktual. Dengan demikian, antropologi Kristologis Calvin menawarkan kontribusi penting dalam membangun kerangka reflektif dan etis bagi gereja dan masyarakat dalam merespons kemajuan kecerdasan buatan yang menyerupai manusia. Kata-kata kunci: imago Dei, kecerdasan buatan, substantia, kepribadian digital, Calvin, antropologi
Pneuma sebagai Dasar Kosmopolitanisme: Mencari Titik Temu dan Pisah Etika Kosmopolitanisme Stoa dan Paulus Dalam Surat Galatia 3:28: Pneuma as the Basis of Cosmopolitanism: Finding Common Ground and Differences between Stoic and Pauline Cosmopolitan Ethics in Galatians 3:28 Taolin, Remigius; Theo, Yohanes
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 21 No. 2 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v21i2.782

Abstract

This paper examines the discourse between the Apostle Paul and Stoic philosophy, with a focus on the concept of cosmopolitanism rooted in the idea of Pneuma. Rather than determining the direction of influence, the study aims to trace the points of convergence and divergence between these two centers of thought. For the Stoics, Pneuma is the rational spirit that unites all human beings regardless of status, ethnicity, or gender. With a similar vision, Paul interprets Pneuma as the Holy Spirit, which unites all people in Christ by transcending the boundaries of Jewish law and custom. Galatians 3:28 illustrates how Paul adapted the spirit of Hellenistic-Roman cosmopolitanism to affirm the collective identity of “children of God” for all believers. This concept of universal brotherhood is particularly relevant in Indonesia, a country known for its pluralism. Abstrak Tulisan ini mengkaji hubungan intelektual antara Rasul Paulus dan filsafat Stoikisme, dengan fokus pada konsep kosmopolitanisme yang didasari gagasan Pneuma. Studi ini tidak bertujuan menetapkan arah pengaruh, melainkan menelusuri titik temu dan perbedaan prinsip kedua pusat pemikir ini. Bagi Stoa, Pneuma adalah roh rasional yang menyatukan seluruh manusia tanpa membedakan status, etnis, atau gender. Paulus, dengan visi serupa, menafsirkannya sebagai Roh Kudus yang mempersatukan semua orang dalam Kristus, melampaui batas hukum dan adat Yahudi. Ayat Galatia 3:28 menyoroti bagaimana Paulus mengadaptasi semangat kosmopolitanisme Helenis-Romawi untuk menegaskan identitas kolektif “anak Allah” bagi semua orang beriman. Pada akhirnya, gagasan persaudaraan universal ini penting bagi kita di Indonesia dengan ciri pluralitasnya. Kata-kata kunci: Paulus, Stoikisme, Pneuma, Kosmopolitanisme
Kritik Janicaud pada Kelokan Teologis Fenomenologi Michel Henry: Menimbang suatu Fenomenologi Baru: Janicaud's Critique of Michel Henry's Theological Turn in Phenomenology: Considering a New Phenomenology Arif, Iman Setiadi
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 21 No. 2 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v21i2.786

Abstract

This article examines Dominique Janicaud’s critique of the “theological turn” in contemporary French phenomenology, focusing specifically on Michel Henry. Janicaud accuses Henry of abandoning Husserlian principles by incorporating metaphysical essentialism rooted in theology into his phenomenology, thus succumbing to ontotheology. In contrast, this paper argues that Janicaud’s criticism stems from his strict adherence to traditional phenomenology and overlooks Henry’s innovative contributions. By exploring Henry’s concepts of radical immanence, clandestine subjectivity, auto-affection, and Life as pre-ecstatic phenomenality, the study highlights the fundamental differences between traditional phenomenology, which centers on Being, and Henry’s phenomenology, which centers on Life. For Henry, Life precedes and transcends Being. Rather than a deviation, Henry’s approach renews phenomenology by broadening its scope and opening new perspectives. The article further engages with supportive and critical responses to Henry and showing that his reading of Christian texts as phenomenological reading. Ultimately, the paper defends Henry’s phenomenology as a legitimate and radical continuation of the phenomenological project. It offers fertile ground for the future exploration of subjectivity, phenomenality, and the final horizons of manifestation. Abstrak Artikel ini menanggapi kritik kelokan teologis pada fenomenologi Prancis kontemporer, dengan sorotan khusus pada fenomenologi Michel Henry. Janicaud menuduh Henry telah meninggalkan prinsip-prinsip Husserl dengan mengusung suatu esensialisme metafisik yang berakar pada teologi, sehingga fenomenologinya jatuh pada ontoteologi. Contra Janicaud, tulisan ini berargumentasi bahwa kritik Janicaud bersumber dari kekakuan Janicaud dalam menerapkan fenomenologi tradisional sehingga mengabaikan kontribusi inovatif Henry. Dengan mengeksplorasi konsep-konsep Henry tentang imanensi radikal, subjektivitas rahasia, autoafeksi dan Hidup sebagai fenomenalitas pra-ekstasis, studi ini menyoroti perbedaan mendasar antara fenomenologi tradisional yang berpusat pada Ada, dan fenomenologi Hidup Michel Henry yang berpusat pada Hidup yang melampaui dan mendahului Ada. Pendekatan Henry bukanlah suatu penyimpangan, melainkan suatu pembaruan fenomenologi, memperluas jangkauannya dan membuka perspektif baru. Artikel ini juga membahas sekilas berbagai dukungan maupun kritik yang ditunjukkan pada Henry, memperlihatkan bahwa pembacaannya akan teks Kristiani merupakan pembacaan fenomenologis. Fenomenologi Henry adalah proyek yang sahih, suatu kelanjutan dan perkembangan radikal dari proyek fenomenologis, yang memberikan lahan subur bagi penjelajahan lebih lanjut tentang subjektivitas, fenomenalitas dan horizon akhir penampakan. Kata-kata kunci: kelokan teologis, subjektivitas, fenomenalitas, Ada, Michel Henry, fenomenologi

Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 2 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 21 No. 1 (2025): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 20 No. 2 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 20 No. 1 (2024): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 19 No. 2 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 19 No. 1 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 2 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 18 No. 1 (2022): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 2 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 17 No. 1 (2018): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 2 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 16 No. 1 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 2 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 15 No. 1 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 2 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 14 No. 1 (2015): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 2 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 13 No. 1 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 2 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 2 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 2 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 10 No. 1 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara Vol. 9 No. 2 (2010): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara More Issue