cover
Contact Name
Fitriah Ayu Magfirah Yunus
Contact Email
ayumagfirah1603@gmail.com
Phone
+6282259572915
Journal Mail Official
jond@poltekkesgorontalo.ac.id
Editorial Address
Taman Pendidikan Street, Moodu, Gorontalo, Indonesia 96113
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Journal of Noncommunicable Diseases (JOND)
ISSN : 27763161     EISSN : 27763161     DOI : http://dx.doi.org/10.52365/JOND
Core Subject : Health, Science,
Journal of Non Communicable Diseases (JOND) merupakan jurnal bidang kesehatan yang mempublikasi karya ilmiah tentang penyakit tidak menular (noncommunicable diseases) dalam kajian bidang keperawatan, kebidanan, gizi, farmasi, sanitasi lingkungan serta disiplin ilmu kesehatan lainya. Jurnal yang berada dibawah naungan institusi Poltekkes Kemenkes Gorontalo ini menerbitkan artikel secara reguler 2 kali dalam satu tahun yakni April dan November. Artikel yang dapat dipublikasi pada jurnal ini dapat berupa hasil penelitian eksperimental di laboratorium maupun penelitian klinis berupa hasil uji klinik, case report, case series, cohort, dan crossectional mengenai noncommunicable diseases. Selain artikel penelitian, jurnal ini juga menerbitkan karya ilmiah lain berupa hasil pengabdian kepada masyarakat, review artikel, mini review dan Short Communication. Jurnal ini adalah jurnal akses terbuka dan tidak memungut biaya publikasi untuk berlangganan, submisi, dan penerbitan jurnal. Scope Journal of Non Communicable Diseases (JOND) antara lain penyakit tidak menular (noncommunicable diseases) dalam kajian bidang keperawatan, kebidanan, gizi, farmasi, sanitasi lingkungan serta disiplin ilmu kesehatan lainya
Articles 66 Documents
Pemberdayaan Kelompok Keluarga dalam memenuhi Protein Hewani (Ikan Lele) untuk Pencegahan dan Penanganan Balita Stunting di Huntu Utara Paulus Pangalo; Wenny Ino Ischak; Ahmad Aswad; Zulfiayu Zulfiayu; Sri Susanti Papuke
JOURNAL OF NONCOMMUNICABLE DISEASES Vol 5, No 2 (2025): November 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jond.v5i2.1429

Abstract

Prevalensi stunting di Provinsi Gorontalo tahun 2021 sebesar 29% dan tahun 2022 terjadi penurunan menjadi 23,8%. Di Kabupaten Bone Bolango prevalensi stunting tahun 2021 sebesar 25,1% dan pada tahun 2022 terjadi penurunan menjadi 22,3%. Hasil penimbangan pada bulan Maret 2023 menunjukkan bahwa dari 65 balita, sebanyak 8 balita (12%) tergolong sangat pendek berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur (TB/U), dan 10 balita (15%) mengalami gizi kurang berdasarkan indikator berat badan menurut umur (BB/U). Temuan ini menunjukkan bahwa proporsi balita stunting di Desa Huntu Utara masih berada di bawah angka rata-rata Kabupaten Bone Bolango. Stunting di desa tersebut terutama disebabkan oleh rendahnya asupan nutrisi, khususnya protein hewani, yang berkaitan dengan keterbatasan pendapatan keluarga. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menurunkan prevalensi stunting, meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai pencegahan dan penanganan stunting, serta memperkuat pemahaman keluarga tentang peran mereka dalam bidang kesehatan, dan tersedianya 1 unit kolam budidaya ikan lele dengan metode bioflok. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sasaran mengenai pencegahan dan penanganan stunting, dari < 80% sebelum intervensi menjadi > 85% setelah intervensi. Selain itu, terjadi pula peningkatan pengetahuan sasaran tentang peran keluarga di bidang kesehatan, dari < 75% sebelum intervensi menjadi > 85% setelah intervensi. Terjadi penurunan kasus balita stunting dari 8 balita menjadi 4. Tersedia kolam sudah terisi ikan lele sebanyak 1.300 ekor dan dapat dipanen bulan Januari 2025.The prevalence of stunting in Gorontalo Province in 2021 was 29%, and it declined to 23.8% in 2022. In Bone Bolango Regency, the prevalence of stunting was 25.1% in 2021 and decreased to 22.3% in 2022. Anthropometric assessments conducted in March 2023 showed that among 65 children under five, 8 children (12%) were classified as severely stunted based on the height-for-age (H/A) indicator, and 10 children (15%) were identified as underweight according to the weight-for-age (W/A) indicator. These findings indicate that the proportion of stunted children in Huntu Utara Village remains below the average prevalence in Bone Bolango Regency. Stunting in this village is primarily attributed to inadequate nutritional intake, particularly animal protein, which is associated with limited household income. This community engagement program aimed to reduce stunting prevalence, improve family knowledge regarding stunting prevention and management, strengthen family understanding of their roles in maintaining health, and establish one unit of a biofloc-based catfish aquaculture pond. The results demonstrated an increase in participants’ knowledge of stunting prevention and management, from <80% prior to the intervention to >85% after the intervention. In addition, knowledge related to family roles in health increased from <75% before the intervention to >85% afterward. A reduction in stunting cases was also observed, from eight children to four. One aquaculture pond stocked with 1,300 catfish was successfully established and is expected to be ready for harvest in January 2025.
Pengaruh Senam Dismenorea terhadap Nyeri Dismenorea pada Komunitas Remaja Putri di SMP IT LHI Banguntapan Daerah Istimewa Yogyakarta Arita Murwani; Imam Ikhsanudin; Ani Mashunatul; Riza Yulina A; Anna Nur H; Juda Julia K
JOURNAL OF NONCOMMUNICABLE DISEASES Vol 5, No 2 (2025): November 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jond.v5i2.1434

Abstract

Dismenorea adalah menstruasi yang disertai dengan rasa nyeri, hal ini terjadi karena terjadinya pelepasan prostaglandin yang berlebihan dan mengakibatkan kenaikan kontraksi uterus sehingga terjadi rasa nyeri saat menstruasi. Dismenorea terjadi dikarenakan peningkatan jumlah prostaglandin F2a berlebihan pada saat menstruasi sehingga merangsang hiperaktivitas uterus serta kejang otot uterus. Tujuan penelitian untu mengidentifikasi pengaruh senam dismenorea terhadap penurunan dismenorea pada siswi SMP IT LHI Banguntapan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian Pre Eksperimen dengan desain penelitian one grup pretest posttest design yaitu penelitian eksperimen yang hanya melibatkan satu kelompok sebagai kelas eksperimen tanpa ada kelompok kontrol. Desain penelitian ini diukur dengan menggunakan kuesioner Numeric Rating Scale (NRS) dengan pre test dan post test sebelum dan sesudah senam. Hasil penelitian menunjukan bahwa skala nyeri sebelum senam 4,93 dan sesudah senam 2,27 dengan nilai p value= 0,00. Hal ini menunjukan adanya penurunan nyeri dismenorea antara sebelum dan sesudah senam dismenorea pada siswi SMP IT LHI Banguntapan.Dysmenorrhea refers to menstruation accompanied by pain, which occurs due to excessive release of prostaglandins that increases uterine contractions, thereby causing discomfort during menstruation. Dysmenorrhea arises from an elevated level of prostaglandin F2α during menstruation, which stimulates uterine hyperactivity and uterine muscle spasms. The aim of this study was to determine the effect of dysmenorrhea exercise on reducing dysmenorrheic symptoms among female students at SMP IT LHI Banguntapan. This study employed a pre-experimental research design with a one-group pretest–posttest approach, in which a single group served as the experimental unit without a control group. The assessment was conducted using the Numeric Rating Scale (NRS) questionnaire administered before and after the intervention. The findings indicated that the mean pain score prior to the exercise was 4.93, which decreased to 2.27 following the exercise, with a p-value of 0.00. These results demonstrate a significant reduction in dysmenorrheic pain after the implementation of dysmenorrhea exercise among the participating students.
Penerapan Terapi Relaksasi Genggam Jari pada Keluarga Lansia dengan Masalah Keperawatan Nyeri Akut Arita Murwani; Aida Malahayati; Riza Yulina Amry
JOURNAL OF NONCOMMUNICABLE DISEASES Vol 5, No 2 (2025): November 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jond.v5i2.1567

Abstract

Keluarga lanjut usia merupakan tahap perkembangan keluarga ketika pasangan suami istri telah memasuki usia ≥60 tahun. Salah satu masalah kesehatan yang sering dialami lansia adalah hipertensi, yaitu kondisi peningkatan tekanan darah secara kronis yang kerap disertai keluhan nyeri kepala. Penatalaksanaan nyeri pada pasien hipertensi dapat dilakukan melalui pendekatan farmakologis dan nonfarmakologis. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diterapkan dalam asuhan keperawatan adalah terapi relaksasi genggam jari, yang bertujuan membantu relaksasi otot dan menurunkan persepsi nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis asuhan keperawatan keluarga dengan penerapan terapi relaksasi genggam jari pada klien lansia dengan hipertensi yang mengalami nyeri akut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Partisipan penelitian terdiri atas dua keluarga lansia dengan hipertensi yang mengalami nyeri akut dengan skala ringan hingga sedang. Analisis data dilakukan secara deskriptif naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah diberikan intervensi keperawatan berupa terapi relaksasi genggam jari secara rutin selama tiga hari, terjadi penurunan nyeri yang ditandai dengan berkurangnya ekspresi meringis, perbaikan kualitas tidur, serta penurunan skala nyeri dari 6 menjadi 3 pada Klien I dan dari 5 menjadi 2 pada Klien II. Terapi relaksasi genggam jari efektif dalam menurunkan nyeri pada lansia dengan hipertensi.The elderly family represents a stage of family development in which married couples have entered older adulthood, defined as aged ≥60 years. One of the most common health problems experienced by the elderly is hypertension, a condition characterized by a chronic increase in blood pressure that is often accompanied by complaints of headache. Pain management in patients with hypertension can be carried out through pharmacological and non-pharmacological approaches. One non-pharmacological intervention that can be applied in nursing care is finger-grip relaxation therapy, which aims to promote muscle relaxation and reduce pain perception. This study aimed to analyze family nursing care through the application of finger-grip relaxation therapy in elderly clients with hypertension experiencing acute pain. This study employed a descriptive design with a case study approach. Data were collected through interviews, observations, and documentation studies. The participants consisted of two elderly families with hypertension who experienced acute pain with mild to moderate intensity. Data analysis was conducted using a descriptive narrative approach. The results showed that after routine nursing interventions in the form of finger-grip relaxation therapy for three consecutive days, there was a reduction in pain, as indicated by decreased grimacing, improved sleep quality, and a reduction in pain scale from 6 to 3 in Client I and from 5 to 2 in Client II. Finger-grip relaxation therapy was effective in reducing pain in elderly patients with hypertension.
Penetapan Kadar Fenolik, dan Flavonoid Total Ekstrak Etanol Biji Trembesi (Albizia saman (Jacq.) Merr.) dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis Yunita Al Azzahra; Andi Ika Julianti Handayani; Shabrina Kurnia Sari
JOURNAL OF NONCOMMUNICABLE DISEASES Vol 5, No 2 (2025): November 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jond.v5i2.1590

Abstract

Trembesi merupakan tanaman pelindung yang secara empiris dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional, antara lain untuk flu, sakit kepala, dan gangguan saluran pencernaan. Hasil skrining fitokimia sebelumnya menunjukkan bahwa biji trembesi mengandung senyawa fenolik, flavonoid, dan alkaloid, namun data kuantitatif mengenai kadar senyawa fenolik dan flavonoid masih terbatas. Senyawa fenolik dan flavonoid diketahui berperan sebagai antioksidan dan berpotensi dalam pencegahan berbagai penyakit degeneratif, seperti kanker, diabetes, serta gangguan sistem imun. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar total fenolik dan flavonoid dalam ekstrak etanol biji trembesi. Metode penelitian meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%, identifikasi kualitatif senyawa berdasarkan reaksi perubahan warna, serta penetapan kadar total fenolik dan flavonoid menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji trembesi mengandung senyawa fenolik dengan kadar total sebesar 395,416 mg GAE/g ekstrak dan flavonoid total sebesar 372,569 mg QE/g ekstrak. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol biji trembesi memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif, dengan kandungan fenolik sebagai komponen dominan.Trembesi is a shade tree that has been empirically used in traditional medicine, particularly for treating flu, headaches, and intestinal disorders. Previous phytochemical screening has shown that trembesi seeds contain phenolic, flavonoid, and alkaloid compounds; however, quantitative data on phenolic and flavonoid contents remain limited. Phenolic and flavonoid compounds are known to exhibit antioxidant activity and play an important role in the prevention of degenerative diseases, such as cancer, diabetes, and immune system disorders. This study aimed to determine the total phenolic and flavonoid contents in the ethanolic extract of trembesi seeds. The research methods included the preparation of simplicia, extraction using the maceration method with 70% ethanol as the solvent, qualitative identification of compounds based on color reaction tests, and quantitative determination using UV–Visible spectrophotometry at specific wavelengths. The results showed that the ethanolic extract of trembesi seeds contained a total phenolic content of 395.416 mg GAE/g extract and a total flavonoid content of 372.569 mg QE/g extract. Based on these findings, it can be concluded that the ethanolic extract of trembesi seeds has potential as a source of bioactive compounds, with phenolic compounds being the predominant constituents.
Optimalisasi Peran Kader Posyandu melalui Inovasi Cookies Fortifikasi Daun Kelor dan Tulang Ikan Lele sebagai Upaya Pencegahan Stunting di Kelurahan Hunggaluwa Wiwit Zuriati Uno; Aqymnastiar R. Djakaria; Beby Triana A.Z. Muis; Novriani Amran; Rifka Anggraini Anggai; Lisa Efriani Puluhulawa; Yanti Menu; Cahniar Djamil
JOURNAL OF NONCOMMUNICABLE DISEASES Vol 5, No 2 (2025): November 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jond.v5i2.1613

Abstract

Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi kronis yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Provinsi Gorontalo, khususnya di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto. Rendahnya asupan zat gizi makro dan mikro, terutama protein dan kalsium, menjadi faktor risiko utama terjadinya stunting pada anak. Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) ini bertujuan untuk memberdayakan kader Posyandu melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam memproduksi cookies fortifikasi berbasis daun kelor (Moringa oleifera) dan tulang ikan lele (Clarias gariepinus) sebagai upaya pencegahan stunting dengan memanfaatkan bahan pangan lokal bernilai gizi tinggi. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi tahap observasi, sosialisasi, pelatihan, pendampingan produksi, uji organoleptik, serta evaluasi peningkatan pengetahuan kader menggunakan metode pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan kader sebesar 42% setelah pelatihan, disertai kemampuan kader dalam memproduksi cookies fortifikasi secara mandiri. Uji organoleptik menunjukkan bahwa produk cookies memiliki karakteristik sensori yang baik dengan tingkat penerimaan sebesar 85% responden. Selain meningkatkan kapasitas kader Posyandu, kegiatan ini juga berpotensi mendorong pengembangan wirausaha pangan lokal bergizi di masyarakat. Program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan kader Posyandu yang berkelanjutan dalam mendukung pencegahan stunting melalui inovasi pangan lokal dan edukasi gizi keluarga.Stunting is a chronic nutritional problem that remains a major public health challenge in Gorontalo Province, particularly in Hunggaluwa Village, Limboto District. Insufficient intake of macro- and micronutrients, especially protein and calcium, is a key risk factor for stunting in children. This Student Creativity Program in Community Service (PKM-PM) aimed to empower Posyandu cadres by improving their knowledge and skills in producing fortified cookies made from moringa leaves (Moringa oleifera) and catfish bones (Clarias gariepinus) as an effort to prevent stunting through the utilization of locally available, nutrient-rich food sources. The program methods included observation, socialization, training, production assistance, organoleptic testing, and evaluation of cadres’ knowledge improvement using pre-test and post-test assessments. The results demonstrated a 42% increase in cadres’ knowledge following the training, along with enhanced skills in independently producing fortified cookies. Organoleptic evaluation indicated that the developed cookies had favorable sensory characteristics, with an acceptance rate of 85% among respondents. In addition to strengthening the capacity of Posyandu cadres, this activity also has the potential to promote the development of community-based nutritious local food entrepreneurship. This program is expected to serve as a sustainable model for empowering Posyandu cadres in supporting stunting prevention through local food innovation and family nutrition education.
Analisis Hubungan Fear of Missing Out (FoMO) dan Cyberbullying dengan Kualitas Tidur pada Generasi Z di Kalimantan Selatan Indra Haryanto Ali; Musafaah Musafaah; Dian Rosadi; Najwa Femilia Andini; Dyna Ariva Maulidya
JOURNAL OF NONCOMMUNICABLE DISEASES Vol 6, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jond.v6i1.1625

Abstract

Meningkatnya paparan media sosial dan penggunaan smartphone pada generasi Z berkontribusi pada munculnya fenomena Fear of Missing Out (FoMO) dan risiko cyberbullying yang berpotensi menurunkan kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan FoMO dan cyberbullying dengan kualitas tidur pada generasi Z. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh generasi Z yang lahir antara tahun 1997–2012 yang berada di Kalimantan Selatan. Berdasarkan penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Lemeshow maka jumlah sampel minimun yang dibutuhkan sebanyak 384 responden. Penelitian ini menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode convenience sampling. Total responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini sebanyak 408 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Pengukuran variabel FoMO menggunakan Fear of Missing Out Scale (FoMOS), variabel cyberbullying menggunakan Cyberbullying and Online Aggression Survey Instrument, dan variabel kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan untuk variabel kualitas tidur dengan kategori buruk sebanyak 376 responden (92,2%) dan hanya 32 responden (7,8%) yang memiliki kualitas tidur baik. Variabel FoMO sebanyak 189 responden (46,3%) berada pada kategori FoMO tinggi, sedangkan 219 responden (53,7%) berada pada kategori FoMO rendah. Variabel cyberbullying sebanyak 127 responden (31,1%) teridentifikasi sebagai korban cyberbullying, sedangkan mayoritas responden yaitu 281 responden (68,9%) bukan korban cyberbullying. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang siginifikan antara FoMO dengan kualitas tidur (POR = 2,347) dan terdapat hubungan antara cyberbullying dengan kualitas tidur (POR = 3,403) pada generasi Z di Kalimantan Selatan.The increasing exposure to social media and smartphone use among Generation Z has contributed to the rise of Fear of Missing Out (FoMO) and cyberbullying, both of which have the potential to impair sleep quality. This study aims to analyze the relationship between FoMO and cyberbullying with sleep quality among Generation Z. A quantitative method with a cross-sectional design was employed. The study population included all individuals born between 1997 and 2012 residing in South Kalimantan. Based on the sample size calculation using the Lemeshow formula, the minimum required sample size was 384 respondents. This study employed a non-probability sampling technique using a convenience sampling method. A total of 408 respondents who met the inclusion criteria participated in this study. Data were collected using a questionnaire. FoMO was measured using the Fear of Missing Out Scale (FoMOS), cyberbullying was assessed using the Cyberbullying and Online Aggression Survey Instrument, and sleep quality was measured using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data were analyzed using the chi-square test. The findings showed that 376 respondents (92,2%) had poor sleep quality, while only 32 respondents (7,8%) had good sleep quality. A total of 189 respondents (46,3%) had high FoMO, while 219 respondents (53,7%) had low FoMO. Additionally, 127 respondents (31,1%) were identified as victims of cyberbullying, whereas the majority 281 respondents (68,9%) were not victims. The results indicate a significant association between FoMO sleep quality (POR = 2,347) and cyberbullying with sleep quality (POR = 3,403) among Generation Z in South Kalimantan.