cover
Contact Name
Fenansus Ngoranmele
Contact Email
ngoranmelefenan@gmail.com
Phone
+6285244171956
Journal Mail Official
fides_ratio@yahoo.com
Editorial Address
Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon, Jl. Pakatora Pohon Mangga, Kole-kole Pante, RT 001/RW 06 – Poka Rumah Tiga
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon
ISSN : 25487043     EISSN : 27217566     DOI : 10.47025
ilsafat Etika Teologi Kontekstual Hukum Gereja Sosio Religius Antropologi Komunikasi Pastoral Ajaran Sosial Gereja Pastoral
Articles 92 Documents
Budaya Leles Orang Manggarai Sebagai Suatu Fenomena Sosial Dalam Terang Filsafat Metafisika Heidegger Awur, Raimundus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 9, No 2 (2024): December
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v9i2.128

Abstract

Fokus penelitian ini membahas fenomena (sosial) budaya Leles Orang Manggarai dalam konteks perubahan sosial yang disebabkan oleh pengaruh teknologi modern. Kondisi saat ini menunjukkan penurunan kebersamaan dan kerja sama dalam budaya ini. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode telaah pustaka, wawancara, dan pendekatan filosofis Heidegger untuk menjelaskan perubahan dalam budaya kerja sama ini. Hasil telaah pustaka dan wawancara mengungkapkan dinamika budaya Leles yang telah mengalami transformasi akibat interaksi dengan teknologi modern. Hal ini berdampak pada penurunan nilai-nilai kebersamaan dan kerja sama yang sebelumnya kuat dalam masyarakat Manggarai. Dalam konteks filosofis Heidegger, penelitian ini mengkaji implikasi metafisika terhadap budaya Leles yang telah mengalami perubahan tersebut. Hasil penelitian kualitatif ini memberikan wawasan tentang bagaimana teknologi modern telah memengaruhi budaya dan nilai-nilai sosial, serta bagaimana pemikiran Heidegger dapat digunakan untuk merenungkan perubahan dalam masyarakat. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami dampak teknologi terhadap budaya dan kerja sama dalam masyarakat Manggarai. Yang perlu digarisbawahi di sini bahwa kajian ini tidak dimaksudkan, meneliti Masyarakat manggarai seluruhnya (siapa itu masyarakat Manggarai), dan juga tidak mengulas fenomena sosial secara universala seperti halnya teori sosiologi. Tetapi lebih menekankan manfaat sosial dari budaya Leles. Fenomena sosial hadir sebagai wadah refleksi dalam konteks ini.
Konsili Trente: Upaya Gereja Katolik Menjawab Tantangan Martin Luther Marsianus, Marsianus Marsianus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 9, No 2 (2024): December
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v9i2.141

Abstract

The focus of this discussion is to explore the Catholic Church's efforts to answer Martin Luther's challenge based on the Council of Trent.  The Church was in a dilapidated situation, where there were many irregularities in the life of the Church. Martin Luther came as a reformer, by issuing 95 propositions or theses, which contained a rejection of doctrine, theology and authority in the Church. He also criticized the lives of priests who were thirsty for worldly things. The Church through the Council of Trent tried to answer the challenge of Martin Luther and carry out internal reforms.  To deepen this discussion, the author uses a descriptive qualitative method in the form of a literature study by referring to sources such as books and articles.  The aim is to find out the teachings that were straightened out by the Church in response to Martin Luther's challenge. From this, the author finds that the Church has an open attitude towards Luther's criticism. The Church realized that there were many weaknesses that arose within the Church, and for this reason the Church carried out reforms. However, the Church still maintains its doctrine and teaching of faith, rejecting sola scriptura, sola gratia and sola fidei. 
ISLAM YANG WELAS ASIH: Studi Historis dan Hermeneutis Compassion Muslim Perdana El, Joseph
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i1.146

Abstract

Jahiliyah mewakili krisis iman, pengetahuan, etika-moralitas, dan krisis sosial masyarakat pra-Islam di Jazirah Arab. Hanif Nabi Ibrahim 'alaihis salam dan Ismail 'alaihis salam redup dalam  krisis manusia Arab-Makkah di Hijaz pra-islam. Efek sosialnya adalah cinta dan belas kasih atau compassion tereleminasi dalam lingkup komunal secara menyeluruh melalui praktik politeisme, keuntungan ekonomi dan politik parsial dan perbudakan. Manusia sezaman terpenjara namun Allah tidak kehilangan belas kasihnya. Dia Maha Pengasih (Rahman) yang telah menciptakan manusia, Dia jugalah Maha Penyayang (Rahim) yang menyelamatkannya dari “penjara dunia”. Islam lahir di tengah krisis manusia untuk menjawabnya bukan dengan kekerasan, tetapi dengan cinta dan belas kasih. Di dalam diri Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, agenda pembaharuan dimulai dan menggerakkan lahirnya komunitas Muslim perdana dengan ciri primordialnya, yaitu compassion. Keutamaan hidup ini menjadi rahmatan lil alamin (perennial wisdom) bagi semua umat Muslim dan dunia. Oleh karena itu, studi ini berbasis analisis historis dan hermeneutika untuk menemukan esensi Islam yang ber-welas asih dan menyelami karakteristiknya dalam pribadi Rasulullah dan komunitas Muslim perdana yang menginspirasi manusia di segala zaman. 
TRANSMISI HABITUS RELIGIUS DI DALAM KELUARGA KATOLIK: ANALISIS INTERAKSIONISME SIMBOLIK ATAS PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK Refo, Ignasius
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i1.156

Abstract

Catholic families hold a central role in transmitting religious values to children from an early age. Amid the growing challenges of modernization, secularization, and digital disruption, this role has become increasingly complex and urgently requires scholarly attention. This article aims to analyse how religious habitus is transmitted within Catholic families and how this process influences the development of children's personalities. The study employs a qualitative approach using a case study method involving Catholic families in various parishes across Ambon. Herbert Mead’s theory of symbolic interactionism serves as the analytical lens to examine the symbolic dynamics within the family—through language, actions, prayer, and Catholic religious symbols—that shape the child's self and religious identity. The findings indicate that the transmission of religious habitus occurs through intense relationships between parents and children, expressed in shared prayer, faith-based discussions, parental role modelling, and participation in ecclesial activities. This process contributes to the development of a religious, empathetic, and resilient personality in children. The study underscores the significance of the family as the primary social space for constructing religious identity and affirms that religious habitus is not merely a legacy of inherited values but a socially enacted practice that is continuously renewed in response to the changing context of the times
MENJALIN PERSAUDARAAN DALAM TERANG IMAN: SEMANGAT GOTONG ROYONG DAYAK WEHEA DI TENGAH PELAYANAN UMAT PAROKI ST. MARIA RATU DAMAI NEHAS LIAH BING Junior, Gre Rivaldo
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i1.152

Abstract

Tulisan berjudul "Menjalin Persaudaraan dalam Terang Iman: Semangat Gotong Royong Dayak Wehea di Tengah Pelayanan Umat Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing" mengangkat keterpaduan antara nilai-nilai budaya lokal dan semangat iman Kristiani dalam kehidupan menggereja. Gotong royong, sebagai warisan budaya suku Dayak Wehea, bukan hanya menjadi pola hidup bermasyarakat, tetapi juga menjadi kekuatan kolektif yang menopang pelayanan dan keterlibatan umat dalam berbagai kegiatan pastoral di paroki. Melalui pendekatan reflektif dan kontekstual, tulisan ini menyoroti bagaimana Gereja hadir tidak hanya sebagai pewarta iman, tetapi juga sebagai pelindung nilai-nilai luhur budaya yang mendukung terwujudnya persaudaraan sejati. Integrasi antara gotong royong dan ajaran kasih Kristus memperlihatkan bahwa budaya dan iman dapat berjalan selaras, saling memperkaya, dan menjadi dasar spiritualitas hidup bersama. Dengan demikian, umat diajak untuk membangun Gereja yang hidup, berakar dalam budaya, dan berlandaskan pada kasih, pelayanan, dan solidaritas sebagai wujud nyata dari persaudaraan dalam terang iman.
YESUS SEBAGAI AIR HIDUP DAN IMPLIKASINYA BAGI UMAT BERIMAN (Yoh. 4:1-26) Batvin, Julianus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i1.157

Abstract

Perjumpaan Yesus dan Perempuan Samaria di Sumur Yakub, membawa manfaat yang besar bagi perempuan Samaria yakni pertobatan sejati, ia yang dulunya tidak mengenal Yesus, akhirnya menjadi percaya bahwa Yesus adalah Mesias sumber air hidup, hanya melalui Dia segala permasalahan dan persoalan hidup dapat teratasi. Penulis melakukan penelitian terhadap Yesus sebagai air hidup dan implikasinya bagi umat beriman dalam Yohanes 4:1-26. Dalam jurnal ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian literatur atau kepustakaan. Penulis menemukan bahwa perjumpaan Yesus dan Perempuan Samaria bukanlah suatu perjumpaan biasa tetapi perjumpaan yang berisi tentang pewartaan yang mendatangkan keselamatan bagi perempuan Samaria itu sendiri dan juga bagi semua orang. Dalam perjumpaan itu Yesus memberikan diri-Nya sebagai Air Hidup, barangsiapa yang meminumnya tidak akan haus lagi, melainkan akan memperoleh hidup yang kekal. Tidak ada sesuatu pun yang ada di dunia ini dapat memberikan kepuasan atau dahaga yang kekal, sekalipun itu minum-minuman keras (miras) atau praktek perdukunan tidak dapat memberikan jaminan apa-apa, hanya Yesus saja yang  dapat memberikan kepuasaan dan kebahagiaan kekal bagi semua yang membutuhkannya.  
Dialog Antar Umat Beragama dalam Pandangan Kristen Protestan Romario, Thobias Romario
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i1.162

Abstract

Dialog antar umat beragama adalah Solusi yang diperlukan untuk mengurangi ketegangan dan meningkatkan saling pengertian. Dialog antar agama ini, memungkinkan umat beragama untuk mengenal dan menghargai perbedaan tanpa mengorbankan identitas agama masing-masing. Seorang teolog Protestan John Hick berpendapat bahwa pluralisme agama bukanlah sebuah hambatan, tetapi sebuah kesempatan untuk menyelami kedalam dan kebenaran yang ada. Agama Protestan sendiri memiliki peran yang sangat penting dalam memperkaya dialog antar umat beragama. Sejak zaman reformasi, ajaran-ajaran Protestantisme lebih menekankan pentingnya misi dan penginjilan. Sedangkan, dalam era modern ini, banyak Gereja Protestan telah beralih untuk melihat dialog agama sebagai kesempatan untuk membangun kerja sama international dalam masalah-masalah sosial, sambil tetap setia pada ajaran Kristiani.
Etika Niat Abelard dan Agensi Moral dalam Pluralisme Keagamaan Indonesia Neonnub, Patricius
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i2.176

Abstract

This article explores Pierre Abelard’s ethics of intention (intentio and consensus) and its relevance for interfaith moral agency in contemporary Indonesia. While much of medieval ethics emphasized external law and ritual compliance, Abelard placed the moral weight on inner disposition of the will. Such a framework allows ethical recognition beyond confessional boundaries, affirming that individuals outside the Christian faith may act morally through natural law (lex naturalis). Using philosophical hermeneutics inspired by Gadamer and Ricoeur, the study engages Abelard’s Scito te ipsum, Collationes, and Commentaria in Romanos, alongside Indonesian debates on moderasi beragama and the works of Nurcholish Madjid and Yudi Latif. The findings reveal that Abelard’s emphasis on intention aligns with Indonesian concepts of civil religion and shared humanity, while also highlighting tensions with theological exclusivism. The conclusion argues that Abelard’s ethics can serve as a conceptual bridge between particular religious identities and universal values, enriching moral education, interfaith dialogue, and policy on religious moderation.
No Harm Principle: Reconstructing John Stuart Mill’s Thought in On Liberty to Foster Epistemic Responsibility in Addressing the Ethical Consequences of Post-Truth Sugianto, Yohanis Elia
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i2.181

Abstract

The post-truth era, marked by disinformation, hate speech, and algorithmic polarization, poses significant ethical and epistemic challenges to democratic societies. This article examines the relevance of John Stuart Mill’s Harm Principle in On Liberty (1859) as a normative framework for addressing these challenges. Through a philosophical analysis, the study reconstructs the Harm Principle to encompass epistemic, psychological, and democratic harms caused by unchecked freedom of expression in digital spaces. By analyzing phenomena such as filter bubbles, echo chambers, and disinformation campaigns, the article proposes practical solutions—digital literacy, ethical communication, and algorithmic transparency—to foster epistemic responsibility. Case studies, including the 2016 U.S. election misinformation and COVID-19 vaccine disinformation, illustrate the real-world implications of these harms. Empirical data on digital literacy and algorithmic bias further support the proposed framework. The findings highlight the enduring relevance of Mill’s thought while acknowledging limitations, such as implementation challenges and the need for complementary perspectives. This study contributes to political philosophy and communication ethics by offering a reconstructed Millian framework to navigate the complexities of digital public spheres, with implications for policy, education, and democratic deliberation.
THE METAPHYSICAL CONCEPT OF THE DAYAK KANAYATN PEOPLE IN TERMS OF SABAYA DIRI’ BASED ON THE PHILOSOPHY OF GABRIEL MARCEL Piter, Romanus -
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i2.180

Abstract

This study aims to explain the metaphysical concept contained in the term Sabaya Diri’ in the Dayak Kanayatn community in West Kalimantan. Sabaya Diri’ is a human recognition of the existence of others as part of oneself that should not be hurt, hated and belittled. The perspective used in this study is the concept of Metaphysics of Hope from the French philosopher Gabriel Marcel. The method used in this study is a qualitative study method with a literature review. The author collected data on Gabriel Marcel’s thoughts, both physical and digital sources. Meanwhile, the idea of Sabaya Diri’ was elaborated from the author's meaning as a native Dayak Kanayatn. This study found that the term Sabaya Diri’ contains three elements of affirmation of the existence of others as the human self itself. The first, fellow Dayaks are the most solid recognition of Sabaya Diri’ because of the similarity of ethnicity. The second, non-Dayak tribes are Sabaya Diri’ because they are dignified and noble humans. The third, the natural environment is Sabaya Diri’ because of the closeness of the Dayak people's relationality to the universe.

Page 9 of 10 | Total Record : 92