cover
Contact Name
Fenansus Ngoranmele
Contact Email
ngoranmelefenan@gmail.com
Phone
+6285244171956
Journal Mail Official
fides_ratio@yahoo.com
Editorial Address
Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon, Jl. Pakatora Pohon Mangga, Kole-kole Pante, RT 001/RW 06 – Poka Rumah Tiga
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon
ISSN : 25487043     EISSN : 27217566     DOI : 10.47025
ilsafat Etika Teologi Kontekstual Hukum Gereja Sosio Religius Antropologi Komunikasi Pastoral Ajaran Sosial Gereja Pastoral
Articles 92 Documents
MOTIF-MOTIF DAN MASALAH-MASALAH PERKAWINAN BEDA AGAMA DI KOTA AMBON PROVINSI MALUKU Titirloloby, Benediktus; Refo, Ignasius S.S.
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 2 (2022): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v7i2.98

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan dan menjawab berbagai persoalan pra perkawinan maupun pasca perkawinan dari pasangan nikah beda agama di Ambon –Provinsi Maluku yang kendati telah memahami konsekuensi dan kesulitan dalam melansungkan pernikahan beda agama, namun tetap berani mengambil keputusan untuk menikah beda agama. Beberapa motif dan kemampuan adaptasi yang ditemukan dari penelitian ini menjadi dasar bagi para pasangan nikah beda agama untuk dapat mengatasi segala persoalan dan hidup sebagai keluarga yang harmonis. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatis dalam bentuk observasi dan wawancara. Tulisan ini dibuat dalam beberapa bagian yakni memperlihatkan hasil penelitian seperti temuan dan pembahasan. Salah satu keunikan atau kebaruan dari penelitian adalah terdapat salah satu motif yang melatarbelakangi pasangan nikah untuk menikah beda agama yakni kemendesakan faktor usia.The purpose of this study is to show and answer the various pre marriage and post marriage problems of different religions married couples in Ambon – Maluku Province who, despite understanding the consequences and difficulties in carrying out different religions marriages, still dare to take the decision to marry different religions. Some of the motives and adaptability found from this research become the basis for different religions married couples to be able to overcome all problems and live as a harmonious family. The method used is qualitative research in the form of observation and interviews. This paper is made in several parts, namely showing the results of research such as findings and discussion. One of the uniqueness or novelty of the research is that there is one motive behind married couples to marry between different religions, is the urgency of the age factor. 
Pengalaman Hidup Mistik Santa Teresa Dari Avila Serta Relevansinya Bagi Penghayatan Hidup Imamat Zaman Ini Lolowang, Ray Legio Angelo
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 2 (2022): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v7i2.102

Abstract

Abstrak Pengenalan akan Allah Bapa dan Putera-Nya melalui Roh Kudus dipahami dalam teologi Katolik sebagai hidup mistik. Kehidupan mistik dalam scope ajaran Gereja Katolik itu nyata dalam kesucian hidup para kudus. Salah satunya ialah Santa Teresa dari Avila. Pengalaman hidup Sta. Teresa dari Avila telah banyak memberi sumbangan berarti bagi perkembangan hidup spiritual banyak orang terlebih bagi seorang imam Kristus. Seorang imam sebagai promotor kehidupan spiritual sejatinya berkaca dari pengalaman Sta. Teresa dari Avila ini. Secara eksplisit gambaran tentang hidup saleh, suci dan yang berkenan kepada Allah seperti yang Sta. Teresa dari Avila hidupi itu ditunjukkan dalam berbagai ajaran Gereja. Telaah tentang Teologi Mistik dari sudut pandang Gereja Katolik dalam artikel ini didasarkan pada pengalaman pribadi orang kudus Gereja, Santa Teresa dari Avila bersama dengan Allah dalam hidup doa. Semakin Ia mengenal-Nya dalam kehidupan doa yang mendalam, semakin ia mengalami persatuan cinta mesra dengan Allah. Hidup dan Karyanya menjadi acuan hidup bagi imam di zaman sekarang dalam hidup spiritual dan usaha membangung keakraban yang mesra dengan Allah. Hidup doa dan relasi dengan Allah akan membawa pada keakraban dengan sesama sebagai wujud kesatuan tubuh mistik Kristus. AbstractThe knowledge of God the Father and His Son through the Holy Spirit is understood in Catholic theology as mystical life. The mystical life within the scope of the teachings of the Catholic Church is embodied in the sanctity of the life of the saints. One of them is Saint Teresa of Avila. The life experience of S. Teresa of Avila has made many important contributions to the spiritual development of many people, especially for a priest of Christ. The pastor as a mover of spiritual life actually reflects the experience of S. Teresa from Avila. A clear description of a pious, holy and pleasant life as stated by S. Teresa Avila's life is featured in various Church teachings. The study of mystical theology from the point of view of the Catholic Church in this article is based on the personal experience of the saint of the Church, S. Teresa of Avila with God in the life of prayer. The more she knows Him in a life of deep prayer, the more she experiences a passionate union of love with God. His life and work become a reference for priest this era in their spiritual life and efforts to build intimacy with God. A life of prayer and relationship with God will lead to intimacy with others as a manifestation of the unity of the mystical body of Christ.
EUTHANASIA DALAM PERSPEKTIF MORAL DAN AGAMA: SUATU TINJAUAN REFLEKTIF TERHADAP KODRAT MANUSIA DALAM TERANG GAUDIUM ET SPES Nifanngelyau, Martinus; Koisin, Edoardus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 8, No 1 (2023): JUNI 2023
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v8i1.106

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana euthanasia dalam perspektif moral dan agama: Suatu Tinjauan Reflektif Terhadap Kodrat Manusia   Dalam Terang Gaudium Et Spes. Penelitian ini mengunakan jenis pendekatan library research atau riset kepustakaan untuk euthanasia dalam perspekrif moral dan agama yang dimana kajian tentang euthanasia memiliki makna untuk mengakhiri hidup dengan cara mudah, tanpa rasa sakit atau kematian yang baik. Dari sudut pandang etika/moral dan agama, euthanasia berhadapan dengan suatu prinsip yang sangat mendasar, yaitu keharusan menghormati kehidupan manusia bagaimana pun keadaannya, bahkan seandainya ia berada dalam keadaan klinis “status vegetatif” sekalipun. Untuk melihat euthanasia dalam perspektif moral terlihat jelas bahwa euthanasia sangat bertentangan dengan dengan moral, yang dimana moral merupakan nilai-nilai dalam kehidupan yang mengatur tentang tindakan dan tingkah laku baik seseorang maupun kelompok dalam masyarakat. Oleh karena itu menghilangkan nyawa orang atau membunuh merupakan suatu pelanggaran terhadap nilai-nilai moral, dan tindakan itu tidak dapat dibenarkan dan tak dapat diterima dengan alasan dan dalam keadaan apapun. AbstractThis study aims to find out how euthanasia is from a moral and religious perspective: A Reflective Review of Human Nature in the Light of Gaudium Et Spes. This research uses a type of library research approach or library research for euthanasia in a moral and religious perspective where the study of euthanasia has the meaning of ending life in an easy way, without pain or good death. From an ethical/moral and religious point of view, euthanasia deals with a very basic principle, namely the obligation to respect human life no matter what the circumstances, even if he is in a clinical state of "vegetative status". To see euthanasia in a moral perspective it is clear that euthanasia is very contrary to morality, where morals are values in life that govern the actions and behavior of both individuals and groups in society. Therefore killing people or killing is a violation of moral values, and that action cannot be justified and cannot be accepted for any reason and under any circumstances. 
Urgensi Dialog Dalam Menjembatani Hidup Beragama di Indonesia (Telaah Filosofis menurut Armada Riyanto) Bandung, Sonideritus -
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 8, No 1 (2023): JUNI 2023
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v8i1.116

Abstract

Tulisan ini meletakkan fokus pada dimensi dialogalitas, persahabatan dan pluralisme agama di Indonesia. Dialogalitas menjadi jembatan yang baik untuk menyeberangi manusia menuju kesadaran baru akan pentingnya membangun persaudaraan yang sejati antara satu dengan yang lain. Cetusan dari persahabatan itu akan dibuktikan dalam situasi, relasi, dan cara hidup manusia sehari-hari. Daya pikat persahabatan kiranya juga diidentikkan sebagai obat penenang bagi segala perbedaan yang melekat dalam diri manusia, baik dari segi  budaya, agama, ras, dan sebagainya. Negara Indonesia yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, mesti memerankan persahabatan yang baik untuk merangkul segenap perbedaan yang ada dan tak terkecuali mengenai agama. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode kepustakaan dengan dielaborasi dari berbagai macam buku sumber. Terutama berkaitan dengan tema persahabatan dan pluralisme agama. Diinterpretasi secara spesifik dari buku “Relasionalitas.” Studi ini menemukan bahwa persahabatan adalah hal yang mutlak untuk terus digemakan di tengah arus perbedaan yang semakin kental. Disaat ada agama yang masih primitif, tidak mau berdialog atau membuka diri terhadap agama-agama lain, justru saat itulah kesempatan yang paling baik untuk menengok, berintrospeksi diri mengenai kepercayaan yang sedang dianut.
MENGINTEGRASIKAN KEARIFAN LOKAL PELA-GANDONG DALAM NILAI-NILAI KOMITMEN KEBANGSAAN Rumlus, Amandus Natalio Rento
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 8, No 1 (2023): JUNI 2023
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v8i1.122

Abstract

 Negara Indonesia merupakan negara dengan banyak kebudayaan lokal, salah satu kebudayaan lokal yang ada yakni, budaya pela gandong masyarakat Maluku. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mendalami kearifan lokal pela gandong sebagai kekayaan kultural masyarakat Maluku, dan mengintegrasikannya dengan komitmen kebangsaan. Penelitian ini juga bertujuan untuk memaknai kebudayaaan Maluku pela gandong sebagai pedoman hidup masyarakat Maluku yang bisa dijadikan sebagai suatau patokan atau prinsip dalam kerangka komitmen kebangsaan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Adapun temuan yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa pela gandong merupakan sebuah kekayaan kultural yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Maluku yang di dalamnya terkandung nilai persekutuan, kesetiakwanan sosial keseteraan dan damai. Nilai-nilai ini merupakan nilai-nilai penting dalam menjaga keutuhan kebangsaan. Budaya pela gandong dipercayai sebagai sebuah solusi dal menyelesaikan konflik dan masalah yang ada dalam hidup masyarakat Maluku. Budaya pela gandong merupakan prinsip kebudayaan lokal sebagai tanda perdamian dalam kehidupan masyarakat Maluku. Budaya pela gandong membuat masyarakat Maluku hidup dalam persatuan dan persaudaraan, dan menciptakan perdamaian dalam hidup masyarakat. Nilai-nilai dalam budaya pela gandong dapat di integrasikan ke dalam hidup masyarakat negara Indonesia dan menciptakan rasa tanggung jawab dan setia dalam diri mayarakat. [IR1]    [IR1]Terjelamhkan dalam bahasa Inggris
Ensiklik Fratelli Tutti Sumbangsinya Bagi Kehidupan Persaudaraan Antar Sesama di Keuskupan Amboina Songbes, Leo; Refo, Ignasius Samson Sudirman
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 8, No 1 (2023): JUNI 2023
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v8i1.119

Abstract

Setiap perjalanan kehidupan selalu diwarnai dengan berbagai peristiwa, entah peristiwa yang baik dan peristiwa yang tidak baik. Peristiwa yang baik memberi harapan untuk keharmonisan dapat tercipta. Sedangkan peristiwa yang tidak baik sering menjadi potensi terjadinya suatu koflik. Dalam konteks untuk menjaga keharmonisan tetap continue dalam hidup bermasyarakat, persahabatan dan persaudaraan menjadi hal penting yang harus diperhatikan dan dikembangkan. Tahta Suci telah menguluarkan salah satu dokumen resmi Gereja yaitu ensiklik Fratelli Tutti (FT) sebagai pedoman bagi umat beriman agar senantiasa mengusahakan suatu kehidupan yang diliputi dengan rasa persahabatan dan persaudaraan demi meciptakan suatu keharmonisan dalam hidup berdampingan dengan sesama lain. FT menjadi sarana untuk menemukan dasar iman yang jelas yang mana mengarahkan umat beriman untuk senantiasa mengusahakan dan memperjuangkan persaudaraan dan persahabatan sosial terutama melalui kasih, dialog, dan toleransi secara nyata.   
PERAN GEREJA KATOLIK DALAM MEMPERJUANGKAN KEMANUSIAAN DI MALUKU (Suatu Studi atas Konflik Kemanusiaan Maluku, tahun 1999-2003/3004) Larat, Innocentius
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 8, No 1 (2023): JUNI 2023
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v8i1.110

Abstract

AbstrakKemanusiaan merupakan sifat, karakter atau nilai tertinggi yang harus dihargai dan diperjuangkan sepanjang hidup. Menyangkut dengan kemanusiaan berarti menyangkut dengan hidup, hak dan kewajiban seorang manusia yang secara alami sudah ada padanya semenjak dilahirkan ke dalam dunia. Timbulnya berbagai konflik dalam dunia tidak terlepas dari kerugian yang menimpa bahkan merengut nilai kemanusiaan bahkan manusia itu sendiri. Di Indonesia khususnya di Maluku, dalam sejarahnya telah melalui banyak bentuk konflik, dan yang paling terkenal pada konflik dehumanisasi pada tahun 1999 hingga 2003/2004. Akar masalah yang kecil menjadi besar hingga membawa label agama yang merugikan sebagian besar masyarakat Maluku, oleh oknum-oknum yang tidak menghormati kemanusiaan. Konflik ini memberikan dampak negatif yang signifikan entah dari segi keamanan, ekonomi, sosial, pendidikan dan sebagainya. Melalui konflik yang berkepanjangan ini, Gereja Katolik yang juga menjadi bagian dari masyarakat Maluku berani tampil kedepan untuk menyuarakan kemanusiaan yang telah dihancurkan. Gereja Katolik dibawah pimpinan sang Gembala Keuskupan Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC, berupaya keras untuk memperjuangkan dan mengangkat kembali nilai kemanusiaan yang telah direngut terutama dari kaum minoritas dengan cara mendukung upaya perdamaian dan toleransi, dialog perdamaian, meningkatkan mutu pendidikan yang telah merosot, membantu meningkatkan ekonomi, dan membantu memperjuangkan stabilitas keamanan, sosial, politik dan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat Maluku. Penulis menggunakan metode kualitatif yang mana mengumpulkan data berdasarkan studi kepustakaan atas masalah kemanusiaan di Maluku.Kata kunci: Kemanusiaan, Gereja Katolik, Toleransi, Konflik Maluku.
MENGATASI KRISIS LINGKUNGAN HIDUP BERDASARKAN NILAI-NILAI PAÑCA SILA: PERSPEKTIF ETIKA BUDDHISME Fatlolon, Costantinus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 9, No 1 (2024): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v9i1.131

Abstract

Krisis lingkungan hidup telah menjadi bagian dari malapetaka umat manusia secara global. Dari perspektif etika Buddhisme, krisis ini dapat dilihat sebagai buah karmatik dari degradasi moral manusia yang dimotivasi oleh keserakahan, kebencian, dan delusi. Pertanyaan yang muncul ialah: “Bagaimana jalan keluar yang ditawarkan etika Buddhisme untuk mengatasi krisis lingkungan hidup saat ini?” Tulisan ini menawarkan konsep Pañca sila dalam etika Buddhisme sebagai dasar-dasar moral praktis untuk merenovasi lingkungan hidup dan membangun alam menjadi tempat tinggal yang damai dan adil.
DISRUPSI MENURUT FRANCIS FUKUYAMA DAN IMPLIKASINYA PADA TATANAN SOSIAL Pita Roja, Williams Flavian
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 8, No 2 (2023): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v8i2.125

Abstract

Technology is advancing faster than humans can regulate it. All around us, we can see the positive and negative developments brought about by the ever-evolving technology. Experts refer to these modifications as disruptions. This article will examine disruption through the eyes of Francis Fukuyama. Fukuyama, who views disruption from a more complicated social perspective, does not share Christensen's view that it has a positive influence, particularly economically. Fukuyama called this change The Great Disruption. A significant change that led to a significant shift in the social order. Fukuyama breaks it down into three main categories: rising crime or criminality, deteriorating family dynamics, and a growing circle of distrust. To deal with this shift, people must recognize that they are social beings with the ability to organize themselves, which is a return to human nature. In practical terms, social capital and the social order provide two grounds for support. The first is biological support, which comes from the very essence of humanity. The second is human reasoning ability, which comes up with solutions to issues of social collaboration on its own.
ANALISIS PERAN KAUM MUDA DALAM GEREJA BERDASARKAN DOKUMEN CHRISTUS VIVIT PAUS FRANSISKUS Refo, Ignasius
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 9, No 1 (2024): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v9i1.132

Abstract

The role of youth within the Church is pivotal yet currently challenged by various factors impacting their active participation in religious activities. Significant decline in youth attendance at mass and low engagement in church and Catholic organizations are becoming pressing issues for the Church, which seeks to remain relevant to younger generations. This study, guided by the document Christus Vivit by Pope Francis, aims to analyze the challenges faced by youth and the opportunities for their empowerment within the Church. A qualitative approach, particularly library research, was employed to conduct an in-depth analysis of Christus Vivit alongside other relevant Church documents and academic literature. Data were organized into key themes including the role of youth, challenges of secularization, identity crisis, and the influence of social media. The findings reveal that secularization and social media significantly shape the youth's perception of religion, often leading to a sense of detachment from Church values. However, Christus Vivit highlights that youth are not just the future but the present of the Church, capable of bringing innovation and vitality if adequately supported. Effective pastoral care, inclusive mentorship, and leveraging technology for evangelization are essential strategies for empowering youth. The study concludes that the Church must adopt a responsive and inclusive approach to engage youth, addressing their unique challenges while fostering their active involvement in Church life. This requires collaborative efforts between Church leaders, parents, and educators to create an environment that supports the spiritual and personal growth of the youth, ensuring their integral role in the Church today and in the future.

Page 7 of 10 | Total Record : 92