cover
Contact Name
Fenansus Ngoranmele
Contact Email
ngoranmelefenan@gmail.com
Phone
+6285244171956
Journal Mail Official
fides_ratio@yahoo.com
Editorial Address
Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon, Jl. Pakatora Pohon Mangga, Kole-kole Pante, RT 001/RW 06 – Poka Rumah Tiga
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon
ISSN : 25487043     EISSN : 27217566     DOI : 10.47025
ilsafat Etika Teologi Kontekstual Hukum Gereja Sosio Religius Antropologi Komunikasi Pastoral Ajaran Sosial Gereja Pastoral
Articles 92 Documents
MEMAKNAI SEKSUALITAS KATOLIK DALAM KONTEKS SKANDAL SEKSUAL PARA IMAM Kowarin, Petrus Fransiskus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 1 (2022): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.575 KB) | DOI: 10.47025/fer.v7i1.86

Abstract

Purpose of this study is to find out meaning, reality and impact of sexual scandals. It is also to examine reaction of the Catholic church in facing this issue. The method used in this research is a qualitative method with a phenomenological study approach. The phenomenological study approach used as a scalpel to understand the problem of sexual abuse, and to interpret sexuality in that context, as well as to look at response of the Church in this case.This study underlines several points. First, sexual abuse by priests is an emerging currently topic. Priests committed many sexual scandals and it is exposed in public. The Church apparently tends to protect priests, the perpetrators of crimes than victims. Second, the problem of sexual abuse has a negative impact on victims physically, biologically, psychologically, and spiritually. Third, the Church takes wrong step in resolving the sexual abuse by priests. The church seem protects the victim, but at the same time saves its priest, and even intimidates victims who dare to expose the case in public. Fourth, sex and human instinctive life are good. God gives it to us, and human uses it with the consciousness of the human person. In addition, clergy needs to realize and reflect more on vow of chastity as a pastoral minister. They also have to see value of life, dignity and freedom of the human person.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang realitas dan dampak dari skandal seksual; untuk mengetahui sikap atau tindakan Gereja menyikapi persoalan ini serta untuk mengetahui makna seksualitas dalam konteks realitas skandal tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi. Pendekatan studi fenomenologi ini digunakan sebagai pisau bedah untuk melihat dan memahami permasalahan sexual abuse serta sikap Gereja Katolik dalam menanggapi kasus tersebut dan mencoba untuk memaknai seksualitas dalam persoalan tersebut. Adapun hasil dari penelitian ini adalah pertama, sexual abuse oleh para imam menjadi suatu topik yang mengemuka saat ini. Hal ini disebabkan lewat terungkapnya banyak kasus skandal seksual. Kasus ini menjadi suatu pukulan untuk Gereja Katolik karena dipandang tidak mampu melindungi mereka yang menjadi korban dari kejahatan para imam sebaliknya melindungi para imam sebagai pelaku kejahatan. Kedua, permasalahan sexual abuse membawa dampak untuk korban yang mengalami gangguan secara fisik-biologis, tetapi juga secara psikologis dan spiritual. Ketiga, dengan melihat persoalan ini, sikap Gereja yakni umumnya melindungi korban dari sexual abuse ini, tetapi langkah diambil dipandang keliru dan menimbulkan banyak pertanyaan lagi sehingga otoritas Gereja mengambil tindakan yang dipandang di satu sisi Gereja tegas dengan menjerat pelaku, tetapi juga di pihak lain melindungi pelaku pelecehan seksual. Para korban berani tampil di depan publik, maka Gereja mencabut kerahasiaan tersebut. Keempat, seks dan kehidupan naluriah manusia itu baik. Tuhan memberikannya untuk disalurkan sesuai dengan kesadaran pribadi manusia. Sehingga perlu untuk menyadari kembali kaul kemurnian sebagai pelayan pastoral. Tetapi juga menyadari kembali akan kehidupam, martabat dan kebebasan pribadi manusia.
PENGALAMAN PERSATUAN CINTA AKAN ALLAH PADA SANTO YOHANES DARI SALIB DAN INSPIRASINYA BAGI PENGEMBANGAN HIDUP ROHANI CALON IMAM DIOSESAN SEMINARI TINGGI PINELENG Ratuanik, S. Fils, Damianus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 2, No 2 (2017): Fides et Ratio
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v2i1.16

Abstract

Malam Gelap merupakan istilah popular dari Santo Yohanes dari salib. Situasi ini mengantarnya mengalami “Persatuan Cinta dengan Allah. Bagi Santo Yohanes dari Salib kegelapan tidak selamanya berhubungan dengan kuasa kejahatan dan penderitaan tidak selamanya berhubungan dengan akibat dosa. Dalam kegelapan ternyata Tuhan bisa ditemukan dan dalam penderitaan ternyata bisa mencapai kesatuan dengan Allah. Perjalanan ini secara ringkas terlihat dalam pola hidup yang ditempu oleh St. Yohanes dari Salib yakni melalui ; jalan cinta, jalan kelepasan dan jalan salib.
Mistisme Jalan Menuju Cahaya Ilahi Epo, Nobertus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 6, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.608 KB) | DOI: 10.47025/fer.v6i2.47

Abstract

In pre-religious times, primitive humans were aware of the cosmic power that governed the contents of the universe and human destiny. They offer various rituals such as songs, dances, offerings, sacrifices and prayers to worship their god. In a new chapter after people received revelation they began to look for the meaning of life that what we get in this world is only temporary. The question of what will happen to our bodies after death provides room for new reflections on the existence of a realm where death exists. Until the era of the development of philosophy, people were increasingly looking for identity by using their minds. Some people begin to think that what is material is false, impermanent and just an illusion. Finally those who received the ban withdrew and began to concentrate on finding a path to the divine for the sake of living a holy life. Mystics have succeeded in expressing the presence of divine love pouring out in their bodies and even that which is divine in the form of our daily actions.
TANTANGAN SEGREGASI BAGI HIDUP BERSAMA DI KOTA AMBON Refo, MA, Ignasius Samson Sudirman
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 3, No 1 (2019): Fides et Ratio
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v3i2.32

Abstract

Tulisan ini adalah sebuah usaha untuk merefleksikan realitas segregasi masyarakat Kota Ambon, yang disadarkan pada agama. Akibat dari situasi ini adalah 1) individu-individu komunitas agama akan berpotensi menekankan identitas keagamaannya, yang ditandai dengan kecenderungan untuk membela, menjaga dan mempromosikan kepositifan agamanya; 2) Individu-individu ini dapat menjadi sangat sensitif dalam mengidentifikasi dan mendefinisikan ancaman-ancaman dari komunitas agama lain; dan 3) Jika salah satu komunitas beragama saja berorientasi segregasi, maka hubungan yang terjadi dapat bersifat konfliktual. Untuk meminimalisir akibat situasi segregatif ini: 1) Pemerintah perlu menyikapi segregasi dengan terus memperbanyak ruang-ruang publik demi terciptanya perjumpaan dan komunikasi antar individu dari komunitas yang berbeda; 1) pemerintah perlu mengusahakan penyadaran tentang multikulturalisme; 3) para pemimpin dan para pemuka agama harus berwawasan inklusif; dan 4) Kesetaraan sesama warga kota harus tetap dipertahankan, yang tampak dalam sikap saling menghormati.
STEREOTIP IMAM DIOSESAN DALAM KONTEKS UMAT KATOLIK WILAYAH KOTA AMBON Ngutra, Seno; Tharob, Max James
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 1, No 1 (2017): Fides et Ratio
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v1i2.11

Abstract

The Diocesan priests are the main ministers of the apostolic ministry and faith development of the people in every diocese. The effort to implement the spiritual apostolate in the midst of the people of God, the diocesan priests are often received the negative assessment from the people. The history has noted that from of old the people of the compare the life style and the ministry of the diocesan priests and the religious priests. The religious priests are assessed to be better than the diocesan priests. This common assessment also takes place in the diocese of Amboina. However, if we are wise enough, this assesements become the input for the betterment of the spiritual grouth of the diocesan priests.
Peran Orang Tua dalam Pendidikan Hikmat Bagi Anak di Era Revolusi Industri 4.0 dalam Perspektif Amsal 4:1-9 Edison, Hironimus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 6, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.65 KB) | DOI: 10.47025/fer.v6i1.52

Abstract

AbstrakTulisan ini memberikan fokus pada tugas dan peran penting orang tua dalam mendidik hikmat bagi anak menurut Amsal 4:1-9. Pendidikan hikmat menjadi hal yang sangat krusial saat ini. Kebijaksanaan menjadi keutamaan hidup yang sangat penting untuk dimiliki setiap pribadi. Tempat pertama bagi pendidikan hikmat untuk tiap-tiap orang ialah keluarga. Tulisan ini menggunakan metodologi hermeneutka Ricoeurian. Temuannya ialah orang tua menjadi pengajar pertama dan utama bagi setiap anak untuk bertumbuh dan berkembang dalam hikmat. Oleh karena itu, kehadiran dan campur tangan orang tua dalam mendidik dan mengajari hikmat kepada anak adalah sebuah keniscayaan.  AbstractThis paper focuses on the duties and important roles of parents in educating wisdom for children according to Proverbs 4: 1-9. Wisdom education is very crucial today. Wisdom is a virtue of life that is very important for every person to have. The first place for wisdom education for individuals is the family. This paper uses the Ricoeurian hermeneutical methodology. The finding is that parents become the first and foremost teachers for every child to grow and develop in wisdom. Therefore, the presence and intervention of parents in educating and teaching wisdom to children is a necessity. 
SEMANGAT HIDUP MISKIN BEATA TERESA DARI KALKUTA Inspirasi bagi Pengembangan Penghayatan Hidup Miskin Para Imam Diosesan di Indonesia Tharob, Max James
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 2, No 2 (2018): Fides et Ratio
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v2i2.27

Abstract

Perkembangan dunia yang pesat di era postmodern ini oleh imam diosesan Indonesia patut disyukuri karena membawa berbagai kemudahan dalam pelaksanaan reksa pastoral. Namun serentak dengannya disadari pula bahwa perkembangan tersebut membawa serta tantangan dalam menghayati kemiskinan Injil sebagaimana dijanjikan imam diosesan di depan uskup diosisnya sewaktu ditahbiskan. Menyikapi dasyatnya tantangan penghayatan hidup miskin seorang imam diosesan di era globalisasi ini, maka kesaksian hidup miskin Beata Teresa dari Kalkuta bisa menjadi jawabannya. Inspirasi semangat hidup miskin Beata Teresa, yakni kemampuan untuk mengubah pola pikir dan tingkah laku bak oase yang memberi kekuatan dan semangat baru bagi para imam diosesan Indonesia untuk mau bersyukur dan bahagia melayani Kristus melalui janji hidup miskin.
Personalisme Karol Wojtyła Lesomar, Antonius Alex
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 2 (2022): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v7i2.97

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mempresentasikan kekhususan personalisme Karol Wojtyła. Personalisme yang dikembangkan oleh Wojtyła adalah personalisme substantial. Personalismenya adalah kombinasi dari pendekatan metafisika dan fenomenologi. Melalui kedua pendekatan ini ditemukan bahwa manusia adalah suppostium sekaligus sebagai personal being (pengada personal).  Kekhususan dari manusia sebagai personal being yaitu ia menjadi sumber atau subjek dari eksistensinya dan semua bentuk dinamisme (apa yang terjadi pada manusia dan tindakan sadar) yang pantas bagi manusia. Person tidak hanya sebagai subjek dalam arti objektif, dalam ranah metafisika, tetapi juga subjek dalam arti subjektif atau subjek dari pengalaman, dalam ranah fenomenologi, dimana ia menyadari dan mengalami dirinya sebagai subjek.  Dan secara khusus dalam dan melalui tindakan sadar sebagai dinamisme khas person ditampakkan nilai personalistik, dimana dalam dan melalui tindakan ia memenuhi dirinya dalam arti moral sebagai seorang yang baik atau jahat. Untuk mencapai maksud dari penulisan ini maka metode yang digunakan yaitu analisa teks dan ekplanasi.
KONSEP MULTIKULTURALISME WILL KYMLICKA BAGI KEHIDUPAN BANGSA INDOSESIA Solilit, Fidelis
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 2 (2022): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v7i2.90

Abstract

AbstrakKonsep Multikulturalisme Will Kymlicka dan ditinjau dari sudut pandang filsafat politik. Persoalan yang diangkat adalah bagaimana Kymlicka mengupayakan agar ada kesetaraan dalam diri setiap orang baik itu mayoritas maupan minoritas, di mana setiap orang harus mendapat perlakuan yang sama tanpa membeda-bedakan kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Kesetaraan yang dimaksudkan adalah sikap penerimaan baik dalam minoritas dan mayoritas. Minoritas dalam konteks Kanada adalah masyarakat asli di dalam daerah tersebut. Sedangkan mayoritas dalam konteks ini adalah para imigran yang datang kemudian tinggal di daerah tersebut, di mana karena mereka memiliki kekuasaan sehingga menindas minoritas bangsa. Dengan demikian, konsep multikulturalisme pertama-tama membantu kita untuk mengerti betapa berharganya perbedaan dan membantu menyadarkan kita untuk terbuka serta toleran bagi perbedaan itu.Kata Kunci: Multikulturalisme, Minoritas, Mayoritas, Toleransi. AbstractWill Kymlicka's concept of Multiculturalism and viewed from the point of view of political philosophy. The issue raised is how Kymlicka strives for equality in everyone, be it a majority or a minority, where everyone must receive the same treatment without discriminating from one group to another. Equality is meant is an attitude of acceptance in both the minority and the majority. Minorities in the Canadian context are the indigenous peoples within the area. While the majority in this context are immigrants who came later to live in the area, where because they have the power to oppress the nation's minorities. Therefore, the concept of multiculturalism first of all helps us to understand the value of differences and helps make us aware of being open and tolerant of those differences.Kata Kunci: Multiculturalism, Minority, Majority, Tolerance.
KRISTUS AKTOR FLEXING YANG MEMPERJUANGKAN NILAI TANGGAPAN ATAS FENOMENA FLEXING Hananto, Dwi
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 2 (2022): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v7i2.89

Abstract

Flexing adalah fenomena pamer pencapaian di media sosial. Dewasa ini, figur publik yang melakukan flexing di masa pandemi mendapatkan kritik dengan berbagai alasannya. Dalam tulisan ini, flexing tidak melulu dilihat dalam sudut pandang negatif. Flexing dikaji berdasarkan kajian filsafat, biblis, maupun teologis. Pemikiran Guy Debord tentang Society of Spectakce digunakan untuk mengkaji filsafat fenomena flexing.  Dasar biblis yang digunakan yaitu kisah penyembuhan Yesus, untuk melihat tindakan flexing Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah di masa lampau.  Sedangkan Dokumen Etika dalam Berinternet digunakan sebagai pisau bedah teologis fenomena ini.

Page 6 of 10 | Total Record : 92