cover
Contact Name
Octavia Dwi Wahyuni
Contact Email
octaviaw@fk.untar.ac.id
Phone
+6282122010570
Journal Mail Official
tmj@fk.untar.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Gedung J Lt. 2 Jl. Letjen S.Parman No. 1, Grogol, Jakarta Barat Kode Pos: 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Tarumanagara Medical Journal
ISSN : 26547147     EISSN : 26547155     DOI : https://doi.org/10.24912/tmj
Core Subject : Health, Science,
Tarumangara Medical Journal adalah jurnal kedokteran dan kesehatan yang dikaji oleh pakar yang ahli dalam bidangnya. Tarumangara Medical Journal berfokus meningkatkan wasasan dan pengetahuan ilmu kedokteran dasar, kedokteran klinis dan kedokteran komunitas dengan pendekatan Evidence-Based Medicine berupa artikel asli. Konten Tarumanagara Medical Journal meliputi artikel-artikel terkini dalam bidang Biologi Molekuler, Histopatologi, Alergi dan Imunologi, Studi Sel Punca, Gizi, Geriatri, Farmakologi, Herbal, Infeksi dan Penyakit Tropis, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Obstetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Bedah, Neurologi, Oftalmologi, Otolaringologi, Dermatovenerologi, Psikiatri, Radiologi, Forensik, Rehabilitasi Medik dan Kedokteran Olah Raga.
Articles 395 Documents
Kata Pengantar Redaksi Octavia Dwi Wahyuni
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2018): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i1.2516

Abstract

Perbedaan rerata fraksi ejeksi ventrikel kiri pasca Intervensi Koroner Perkutan di RSUD Cengkareng periode 2011 - 2014 Dona Christin Victe; David Dwi Ariwibowo
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2018): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i1.2517

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyakit yang masih menjadi permasalahan terbesar kesehatan di dunia termasuk di Indonesia. Prevalensi PJK di indonesia tahun 2013 sebesar 0,5% atau diperkirakan sekitar 883.447 orang sedangkan berdasarkan diagnosis dokter atau gejala sebesar 1,5% atau diperkirakan sekitar 2.650.340 orang. PJK juga dapat mengakibatkan penurunan fraksi ejeksi khususnya fraksi ejeksi ventrikel kiri karena fungsi ventrikel kiri yang terganggu akibat arteri koroner yang menyempit atau terblokir. Salah satu tatalaksana untuk PJK adalah Intervensi Koroner Perkutan (IKP). Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui perubahan nilai fraksi ejeksi ventrikel kiri sesudah IKP pada pasien PJK di RSUD Cengkareng tahun 2011-2014. Studi yang digunakan adalah analitik cross-sectional pada pasien yang menjalani IKP pada tahun 2011-2014 di RSUD cengkareng dan menggunakan non-random consecutive sampling. Hasilnya didapatkan ada 88 tindakan IKP di RSUD Cengkareng tahun 2011 – 2014, dan 69 data di eksklusi karena tidak memiliki data yang lengkap, yang tidak terdapat data fraksi ejeksi ventrikel kiri sebelum tindakan IKP sebanyak 21, yang tidak terdapat data fraksi jeksi ventrikel kiri sesudah tindakan IKP sebanyak 14 data, dan yang tidak terdapat keduanya sebanyak 34 data. Didapatkan 19 data subjek penelitian data diuji menggunakan Uji t berpasangan diperoleh p =0,022 dan Mean ± SD = 8,9 ± 15,6. Kesimpulannya Terdapat perubahan bermakna fraksi ejeksi ventrikel kiri sesudah IKP pada pasien PJK di RSUD Cengkareng.
Identifikasi senyawa kimia ekstrak metanol buah naga merah (hylocereus polyrhiz) dengan kromatografi gas Elsiana Laurencia; Oentarini Tjandra
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2018): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i1.2518

Abstract

Indonesia kaya akan berbagai macam tanaman, salah satunya adalah buah naga merah (Hylocereus polyrhizu). Untuk mengidentifikasi buah naga merah (Hylocereus polyrhizu) dapat dilakukan dengan berbagai metode diantaranya uji fitokimia, kromatografi lapis tipis, GC-MS. Pada hasil uji fitokimia buah naga merah (Hylocereus polyrhizu) didapatkan senyawa alkaloid, steroid, flavonoid, tepenoid dan fenolik. Pada kromatografi lapis tipis tidak didapatkan bercak noda pada plat. Sedangkan pada GC-MS, terdapat beberapa struktur yang mirip dengan 5-eicosene, 1-nonadecene, 1,2-benzenedicarboxylic acid, n-henecosane dan .gamma.-sisterol. Senyawa kimia yang mirip dengan struktur diatas, memiliki beberapa manfaat dalam bidang kesehatan, antara lain sebagai antibakteri, antioksidan, antijamur, anti-inflamasi.
Prevalensi soil-transmitted helminths di tanah taman perumahan Kecamatan Grogol, Cengkareng, dan Kalideres Jakarta Barat Fandi Apriyan; Chrismerry Song
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2018): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i1.2519

Abstract

Tanah merupakan sumber penularan Soil-Transmitted Helminths (STH). Namun penelitian tentang tanah dalam kaitannya dengan infeksi STH masih sangat sedikit. Perumahan Grogol, Cengkareng, dan Kalideres banyak memiliki taman perumahan yang beralaskan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi STH di tanah taman perumahan Kecamatan Grogol, Cengkareng, dan Kalideres Jakarta Barat. Studi potong lintang ini dilakukan dari bulan Januari sampai dengan Desember 2015. Sampel dipilih secara convenience non-random sampling. Total 92 sampel dikumpulkan, yang terdiri dari 4 sampel dari Kecamatan Grogol, 36 sampel dari Kecamatan Cengkareng, dan 52 sampel dari Kecamatan Kalideres. Sampel diproses dengan metode flotasi Brine dan dilanjutkan dengan pemeriksaan mikroskopik secara langsung. Hasil penelitian didapatkan prevalensi STH adalah 14%. Dari prevalensi tersebut, 1% STH ditemukan di Kecamatan Grogol, 5,4% di Kecamatan Cengkareng, dan 7,6% di Kecamatan Kalideres.
Hubungan sarapan dengan status gizi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2013 Hendry Agustian; Meilani Kumala
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2018): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i1.2520

Abstract

Obesitas pada remaja merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia pada abad 21. Prevalensi obesitas pada remaja meningkat secara tajam dari tahun ke tahun. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) pada tahun 2013, Indonesia mengalami peningkatan prevalensi obesitas pada dewasa sejak tahun 2010. Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian observasional dengan disain cross-sectional melibatkan 136 subyek penelitian. Data asupan gizi diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner 24-hour recall dan food frequency questionnaire, status gizi diklasifikasikan menggunakan indeks massa tubuh. Hubungan sarapan dengan status gizi diuji menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 62 subyek (45,6%) tidak rutin sarapan dan 33 subyek (53,2%) di antaranya memiliki status gizi berlebih sedangkan, dari 38 subyek yang melakukan sarapan hanya 21 subyek (28,4%) yang mengalami status gizi berlebih. Penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara sarapan dengan status gizi yang bermakna secara statistik dengan p-value <0,005, di mana tidak sarapan dapat meningkatkan 1,83 kali terjadinya gizi berlebih. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sarapan bermanfaat untuk mempertahankan status gizi normal.
Gambaran histopatologi pada pasien - pasien dengan diagnosis apendisitis di Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta tahun 2013 – 2014 Indra Kurniawan; Sony Sugiharto
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2018): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i1.2521

Abstract

Apendisitis merupakan kasus gawat di bagian bedah abdomen yang tersering dan memerlukan tindakan segera. Ketepatan diagnosis tergantung dari kemampuan dokter menganalisis saat anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Selain itu pemeriksaan penunjang lainnya yang tidak kalah penting adalah pemeriksaan histopatologi, karena apendiks sering sekali menjadi tempat peradangan akut, kronik dan dapat di temukan parasit, tuberkulosis dan tumor. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah pasien dengan diagnosis klinis apendisitis memerlukan terapi lebih lanjut berdasarkan pemeriksaan histopatologi di Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta periode 2013-2014. Ini adalah penelitian deskriptif dengan desain studi cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah semua pasien apendisitis yang menjalani pemeriksaan histopatologi apendik. Jumlah data yang terkumpul sebanyak 202, yang kemudian diolah menggunakan statistik. Dari 202 data ditemukan apendisitis akut 32,7%, apendisitis kronik 1%, apendisitis akut perforasi 26,2%, apendisitis tuberkulosa 0,5%, adenokarsinoma apendiks 0,5% dan apendisitis kronik eksaserbasi akut 39,1%. Dapat disimpulkan bahwa prevalensi apendisitis lebih sering pada perempuan 53% dan orang dewasa lebih sering terkena apendisitis dibandingkan anak-anak.
Hubungan susu formula dan MP-ASI terhadap kejadian diare pada anak usia 6 bulan sampai 2 tahun di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan periode 1 Juli – 31 Agustus 2014 Inggerit Inggerit; Ernawati Ernawati
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2018): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i1.2522

Abstract

Di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan pada periode Januari – Desember 2012, jumlah balita yang datang berobat ke puskesmas dan didiagnosa diare sebanyak 1.843. Berdasarkan hasil mini survei yang dilakukan pada 65 responden, didapatkan adanya variasi pemberian asupan yang berbeda yaitu pemberian ASI atau susu formula dan MP-ASI di antara anak usia 6 bulan hingga 2 tahun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adakah pengaruh susu formula dan MP-ASI dengan terjadinya diare pada anak usia 6 bulan sampai 2 tahun. Dimana variabel tergantung (dependent) adalah diare dan sebagai variabel bebas (independent) adalah susu formula dan MP-ASI. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional survei untuk mengetahui faktor risiko susu formula dan MP-ASI terhadap diare. Pemilihan sampel menggunakan Consecutive Non-random Sampling dan didapatkan subjek sebanyak 208 responden. Penelitian dilakukan dengan menggunakan wawancara kuesioner. Pada penelitian ini didapatkan adanya hubungan antara susu formula dan MP-ASI terhadap terjadinya diare pada anak usia 6 bulan sampai 2 tahun dengan nilai p-value = 0,001 dan pemberian susu formula dan MP-ASI memiliki risiko PR = 2,299 kali lebih besar terkena diare.
Hubungan status gizi terhadap anemia pada balita di Kelurahan Tomang Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Januari 2015 Janice Fredlina; Rebekah Malik
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2018): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i1.2523

Abstract

Di Indonesia masalah gizi masih menjadi hal yang perlu diperhatikan. Prevalensi anak dengan gizi kurang mencapai 18,0% diantaranya 4,9% prevalensi untuk anak dengan gizi buruk. Anak – anak dengan status gizi kurang cenderung akan mengalami anemia defisiensi gizi dengan kadar hemoglobin dibawah 11 gr/dL. Prevalensi anemia gizi pada anak usia 2 samapi 5 tahun mencapai 17,6%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan anemia umum pada anak usia 1 sampai 5 tahun di Tomang Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan jumlah sampel 78 anak. Penentuan status gizi menggunakan Z score BB/TB sedangkan kadar haemoglobin diukur menggunakan haemometer. Pada penelitian ini didapatkan anak dengan status gizi buruk sebesar 30.8% menderita anemia. Data dianalisa menggunakan uji chi Square Kendall’s tau-C diperoleh nilai p >0.02 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara status gizi dengan anemia umum yang terjadi pada anak usia 1 sampai 5 tahun di Kecamatan Grogol Petamburan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi anemia gizi pada anak adalah dengan meningkatkan pengetahuan memalui penyuluhan dan sangat penting bagi pemerintah untuk membuat kebijakan dalam mengatasi gizi buruk pada anak- anak Indonesia.
Overview of Rheumatoid Arthritis therapy: Management options in Indonesia Fia Fia; Johanna Westra
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2018): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i1.2524

Abstract

Rheumatoid arthritis (RA) is chronic disease characterized by inflammation of the synovium, affecting small joints and many other tissues. RA patients experienced loss of functionality, reduced quality of life, and increased morbidity and mortality. The prompt treatment is very important to alleviate sign and symptoms, reduce disability, increase quality of life and halt the progression of joint damage. Pathogenesis of rheumatoid arthritis involves complex interaction of host immunity, environmental factors and genetic predisposition. Treatment strategy for RA has changed over the past 20 years. Traditional approach as administration of non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) for acute disease had been abandoned. Current strategy includes administration of disease-modifying antirheumatic drugs (DMARDs) as first line therapy. “Treat to target” approach in RA management is directed to achieve clinical remission or at least low-disease activity for RA patients. Unfortunately, many factors are limiting DMARDs therapy for RA patients in Indonesia. Methotrexate should be first line treatment for patients with RA who have access to this agent. Patients who can afford biologic DMARDs could benefit from these agents. However, biologic agents are reported to increased risk of infections, including opportunistic infections. For an endemic country as Indonesia, administration of biologic agents requires a careful observations and screening. In Indonesia, conventional DMARDs as chloroquine and glucocorticoids are the most accessible and cheapest for patients and primary health provider as general practitioners. Hence, for patients that do not have access to rheumatologists and internists, these drugs could be an option.
Peran anamnesis dan tes alergi yang cermat dalam menentukan diagnosis Rinitis Alergi Mira Amaliah
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2018): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i1.2526

Abstract

Rinitis alergi adalah penyakit hipersensitifitas yang diperantarai Imunoglobulin-E (IgE) yang ditandai dengan beberapa gejala hidung, seperti bersin-bersin, hidung gatal, hidung berair dan hidung buntu. Anamnesis yang cermat dan pemeriksaan THT disertai tes diagnostik yang sesuai, dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis yang tepat. Pilihan tes diagnostik yang paling sering dipergunakan adalah uji kulit cukit, serum total IgE, serum spesifik IgE, apusan dari sekret hidung, kerokan epitel hidung, dan tes pacuan hidung yang lebih sering digunakan untuk keperluan penelitian.

Page 2 of 40 | Total Record : 395