cover
Contact Name
Octavia Dwi Wahyuni
Contact Email
octaviaw@fk.untar.ac.id
Phone
+6282122010570
Journal Mail Official
tmj@fk.untar.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Gedung J Lt. 2 Jl. Letjen S.Parman No. 1, Grogol, Jakarta Barat Kode Pos: 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Tarumanagara Medical Journal
ISSN : 26547147     EISSN : 26547155     DOI : https://doi.org/10.24912/tmj
Core Subject : Health, Science,
Tarumangara Medical Journal adalah jurnal kedokteran dan kesehatan yang dikaji oleh pakar yang ahli dalam bidangnya. Tarumangara Medical Journal berfokus meningkatkan wasasan dan pengetahuan ilmu kedokteran dasar, kedokteran klinis dan kedokteran komunitas dengan pendekatan Evidence-Based Medicine berupa artikel asli. Konten Tarumanagara Medical Journal meliputi artikel-artikel terkini dalam bidang Biologi Molekuler, Histopatologi, Alergi dan Imunologi, Studi Sel Punca, Gizi, Geriatri, Farmakologi, Herbal, Infeksi dan Penyakit Tropis, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Obstetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Bedah, Neurologi, Oftalmologi, Otolaringologi, Dermatovenerologi, Psikiatri, Radiologi, Forensik, Rehabilitasi Medik dan Kedokteran Olah Raga.
Articles 421 Documents
Perbandingan metode penyuluhan kesehatan pada pengetahuan, sikap dan perilaku cuci tangan siswa SMAN 05 Bengkulu Titania, Soffie Yayazucah; Drew, Clement
Tarumanagara Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v7i1.34127

Abstract

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan perilaku yang harus diterapkan setiap individu. Cuci tangan yang baik merupakan salah satu penerapan PHBS. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang tepat dan konsisten akan membantu masyarakat untuk terhindar dari berbagai penyakit menular dan tidak menular seperti diare hingga hipertensi. Metode edukasi memiliki peran penting untuk memastikan baiknya pengetahuan, sikap dan perilaku mengenai PHBS, salah satunya mencuci tangan. Pemberian edukasi dengan media flyer dengan video dihipotesiskan akan lebih menarik untuk diperhatikan oleh murid-murid tingkat SMA. Studi ini merupakan studi eksperimental yang menilai pengaruh beda jenis media edukasi terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku mengenai cuci tangan pada siswa SMAN 05 Bengkulu. Metode edukasi yang dibandingkan ialah flyer dibandingkan dengan demonstrasi dan flyer. Responden studi dipilih berdasarkan randomisasi kelas sebanyak 130 responden. Rata-rata pengetahuan, sikap dan perilaku sebelum edukasi didapatkan berurutan ialah 54,92; 90,77; 81,03. Rata-rata pengetahuan, sikap dan perilaku setelah edukasi berurutan sebesar 65,60; 92,31; 93,46. Selisih pengetahuan, sikap dan perilaku secara berurutan sebesar 10,58; 1,54; 12,44. Hasil uji Mann-Whitney untuk pengetahuan dan perilaku diperoleh p-value <0.05 yang artinya signifikan secara statistik. Sedangkan untuk sikap diperoleh p-value >0.05 yang artinya tidak signifikan secara statistik. Pada mereka yang hanya mendapatkan flyer saja menunjukkan peningkatan terhadap pengetahuan dan perilakunya dibandingkan dengan mereka yang mendapatkan demonstrasi dan flyer. Sedangkan pada sikap tidak ada perbedaan antara mereka yang hanya mendapatkan flyer saja dengan mereka yang mendapatkan demonstrasi dan flyer.
Kekuatan dukungan psikologis orang tua dalam meningkatkan literasi kesehatan reproduksi remaja sekolah menegah atas Enike, Syilvia Cendy; Ernawati
Tarumanagara Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v7i1.34128

Abstract

Kesehatan reproduksi, salah satu komponen yang sangat penting dalam kehidupan remaja, harus dipahami dengan baik. Hal tersebut tidak hanya membantu remaja menjaga dirinya dari risiko penyakit menular seksual, tetapi juga mendukung pengambilan keputusan yang sehat, bertanggung jawab, dan sesuai nilai sosial budaya yang dianut. Salah satu faktor yang diyakini memiliki pengaruh besar dalam membentuk pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi ialah dukungan psikologis dari orang tua. Dukungan ini mencakup perhatian emosional, komunikasi yang terbuka, serta penyampaian informasi yang akurat dan sesuai dengan perkembangan usia remaja. Tujuan dari studi ini untuk menentukan hubungan antara tingkat dukungan psikologis orang tua dengan tingkat pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi di SMAN 84 Jakarta. Studi kuantitatif ini dilakukan pada Januari 2025 dan menggunakan pendekatan potong lintang. Sebanyak 247 siswa dilibatkan sebagai responden melalui teknik consecutive non-random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil studi menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 16 tahun (59,9%), mendapatkan dukungan psikologis dari orang tua (74,9%), dan memiliki pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi (69,6%). Pada studi ini didapatkan hubungan signifikan antara dukungan psikologis orang tua dan pengetahuan remaja (p = 0,000; PR = 3,930; CI 2,125–7,269).
Asupan makanan dengan konsentrasi belajar pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Massie, Tamara Esther Virginia; Silaban, Dorna Yanti Lola
Tarumanagara Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v7i1.34130

Abstract

Sarapan merupakan makanan pertama di pagi hari mulai pukul 06.00 hingga 10.00. Sarapan memiliki peranan penting terhadap proses belajar mengajar dan berfungsi memberikan nutrisi bagi otak. Melewatkan sarapan pagi yang berarti perut dalam keadaan kosong akan berdampak negatif terhadap fungsi kognitif karena berkurangnya konsentrasi selama kegiatan pembelajaran. Tujuan dilakukan studi ialah untuk mengetahui pengaruh asupan sarapan terhadap tingkat konsentrasi pada mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara. Studi ini menggunakan desain penelitian potong lintang, dengan jumlah sampel 158 orang. Cara pengumpulan data dilakukan dengan pengisian lembar kuesioner data identitas, food recall, symbol digit test, serta pengukuran tinggi badan dan berat, kemudian data tersebut akan dianalisis melalui perangkat lunak SPSS. Analisis penelitian menunjukkan sebagian besar responden (76 orang; 75,2%) yang melakukan sarapan memiliki tingkat konsentrasi baik dibandingkan responden yang tidak sarapan. Uji analisis chi-square menunjukkan hubungan bermakna antara sarapan pagi dan tingkat konsentrasi belajar (nilai p<0,05). Nilai Prevalence Rate Ratio sebesar 7,054 menunjukkan responden yang tidak melewatkan sarapan berpotensi 7,054 kali lipat lebih besar terhadap tingkat konsentrasi baik dibandingkan responden yang melewatkan sarapan. Kesimpulan dari studi ini ialah melakukan sarapan akan memengaruhi konsentrasi belajar pada mahasiswa Kedokteran Universitas Tarumanagara.
Pola penggunaan lactogogue pada ibu menyusui di RS Hermina Jakarta Alifia, Tosya Putri; Yunita, Fenny
Tarumanagara Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v7i1.34133

Abstract

Bayi mendapatkan nutrisi penting dari air susu ibu (ASI). Menyusui memberikan manfaat dalam jangka pendek dan panjang, termasuk mengurangi risiko morbiditas dan mortalitas infeksi. Cakupan ASI eksklusif selama enam bulan di seluruh dunia masih belum optimal. Di Indonesia, cakupan ASI eksklusif mencapai 69,7% pada tahun 2021, namun di beberapa provinsi seperti Papua, Papua Barat, dan Sulawesi Barat masih di bawah target. Berbagai faktor, termasuk produksi ASI yang tidak memadai, akses yang mudah ke susu formula, dan faktor hormonal, fisik, dan emosional ibu, berkontribusi pada rendahnya tingkat pemberian ASI eksklusif. Penggunaan laktogogue alami dan sintetis merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah ini. Studi deskriptif cross-sectional ini bertujuan untuk menilai pola penggunaan laktogogue oleh ibu menyusui di salah satu rumah sakit di Jakarta. Total responden yang mengikuti studi sebanyak 211 orang. Hasil studi mendapatkan daun kelor (71,6%), daun katuk (80,6%), dan kelabat/fenugreek (70,1%) ialah tiga laktogogue alami yang paling banyak digunakan. Hasilnya ialah ibu menyusui bervariasi dalam penggunaan laktogogue, bahan alami lebih disukai karena aman dan efektif, sementara laktogogue sintetis digunakan untuk hasil yang cepat dengan pengawasan medis. Ibu yang menghadapi kesulitan saat menyusui harus menggunakan laktogogue, berkonsultasi dengan tenaga medis, dan memilih metode menyusui yang tepat.
Analisis kadar vitamin D dengan kekuatan genggaman tangan sebagai penanda sarkopenia pada lansia di Panti Wreda Bina Bhakti Pamulang Lumintang, Valentino Gilbert; Santoso, Alexander Halim
Tarumanagara Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v7i1.34135

Abstract

Sarkopenia ialah kondisi yang ditandai dengan penurunan massa dan fungsi otot yang umum terjadi pada lanjut usia (lansia). Pengukuran kekuatan genggaman tangan merupakan salah satu pengukuran untuk mendeteksi sarkopenia. Vitamin D memiliki peran penting dalam fungsi otot melalui rangkaian mekanisme yang menyebabkan terjadinya sintesis protein otot. Tujuan studi ini ialah untuk mengetahui korelasi antara kadar vitamin D dengan kekuatan genggaman tangan sebagai pengukur sarkopenia pada lansia. Studi ini menggunakan desain cross-sectional pada 82 subjek yang berusia ≥ 60 tahun dengan metode total sampling di Panti Wreda Bina Bhakti Pamulang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kadar vitamin D (25(OH)D) diukur menggunakan metode Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA) pada darah vena yang diambil. Kekuatan genggaman tangan diukur menggunakan alat handgrip dynamometer. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS dengan uji spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif lemah antara kadar vitamin D dan kekuatan genggaman tangan dengan nilai p-=0,035 dan nilai r=0,233. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa kekuatan genggaman tangan dapat dijadikan sebagai pengukur sarkopenia sederhana untuk menilai terjadinya sarkopenia pada lansia sehingga dimungkinkan untuk dilakukannya intervensi dini.
Survei tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien hipertensi terhadap penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Kaduhejo Pandeglang tahun 2025 Ghyna Aulia Rozak; Johan
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.34423

Abstract

Hipertensi, “the silent killer”, menjadi tantangan besar dalam dunia kesehatan global karena prevalensinya yang luas serta kontribusinya terhadap angka kematian yang tinggi. Prevalensi hipertensi mencapai angka 31% di Puskesmas Kaduhejo pada bulan Agustus 2024. Keberhasilan terapi hipertensi sangat dipengaruhi oleh kedisiplinan pasien dalam mengonsumsi obat. Sayangnya, banyak kendala yang muncul, seperti ketidak teraturan minum obat, minimnya informasi serta pemahaman yang kurang mengenai terapi yang dijalani. Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan rancangan observasional potong lintang untuk mengevaluasi seberapa baik pemahaman dan kepatuhan pasien di Puskesmas Kaduhejo dalam penggunaan obat antihipertensi. Pengambilan 104 pasien hipertensi dilakukan menggunakan metode consecutive sampling. Instrumen studi berupa kuesioner yang terdiri dari dua bagian: 8 pertanyaan mengenai pemahaman seputar hipertensi dan obat antihipertensi dan 8 pertanyaan mengenai perilaku kepatuhan dalam konsumsi obat antihipertensi. Dari hasil yang diperoleh, mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup (55,8%), namun masih banyak yang belum memahami secara mendalam risiko komplikasi dari hipertensi (59,6%) serta efek samping obat antihipertensi (62,5%) dan sebagian besar responden menunjukkan kepatuhan yang rendah dalam menjalankan terapi pengobatan hipertensi (73,1%). Secara umum, studi ini menyimpulkan bahwa keterbatasan informasi tentang komplikasi dan efek samping obat, serta rendahnya kepatuhan dalam menjalani pengobatan menjadi isu utama dalam penanganan hipertensi di Puskesmas Kaduhejo.
Mekanisme koping terhadap stres dan hubungannya dengan academic burnout pada mahasiswa kedokteran Meylia Amanda; Yoanita Widjaja
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.34424

Abstract

Mahasiswa kedokteran rentan mengalami stres akibat tingginya tuntutan akademik. Apabila tidak dikelola dengan mekanisme koping yang adaptif, stres dapat berkembang menjadi academic burnout, yang berdampak pada penurunan performa akademik dan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara mekanisme koping terhadap stres dengan academic burnout pada mahasiswa kedokteran. Penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional dilakukan terhadap 222 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Mekanisme koping diukur menggunakan Brief-Coping Orientation to Problems Experienced Inventory (Brief-COPE), sedangkan academic burnout dinilai menggunakan Maslach Burnout Inventory–Student Survey (MBI-SS) versi Bahasa Indonesia yang telah tervalidasi. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0,05. ebagian besar responden menggunakan problem-focused coping (90,54%) dan mengalami academic burnout (63,51%). Mahasiswa yang menggunakan problem-focused coping mengalami academic burnout sebesar 60,70%, sedangkan pada kelompok emotion-focused coping sebesar 90,48%. Analisis Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara mekanisme koping terhadap stres dengan academic burnout (p=0,014). Penggunaan problem-focused coping dikaitkan dengan risiko academic burnout yang lebih rendah dibandingkan emotion-focused coping (PR=0,671; IK95%: 0,562–0,801). Penggunaan problem-focused coping berhubungan dengan risiko academic burnout yang lebih rendah sehingga perlu dikembangkan melalui program pembinaan dan dukungan psikologis bagi mahasiswa kedokteran.
Gambaran pH sabun wajah dan kadar hidrasi kulit wajah mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara dengan atau tanpa akne vulgaris Ati Zakia Turrahmah; Linda Julianti Wijayadi
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.34425

Abstract

Akne vulgaris merupakan penyakit kulit inflamasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk gangguan fungsi skin barrier. Pemilihan sabun wajah dengan pH yang sesuai dan hidrasi kulit yang optimal diduga berperan dalam menjaga kesehatan kulit serta memengaruhi kejadian akne. Studi ini bertujuan menggambarkan pH sabun wajah yang digunakan dan kadar hidrasi kulit wajah pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara dengan dan tanpa akne. Studi deskriptif dengan pendekatan potong lintang dilakukan pada Agustus–November 2024 terhadap 148 mahasiswa menggunakan teknik consecutive sampling. Data diperoleh melalui kuesioner, pengukuran pH sabun wajah menggunakan pH meter, pengukuran hidrasi kulit menggunakan Skin Analyzer CR-302, serta penilaian derajat akne berdasarkan jumlah lesi. Sebanyak 71 (48%) responden mengalami akne vulgaris dan 77 (52%) tidak mengalami akne. Mayoritas penderita akne memiliki derajat ringan (77,5%). Sebagian besar responden menggunakan sabun wajah dengan pH asam (62,8%), mencuci wajah kurang dari tiga kali sehari (64%), serta menggunakan pelembap wajah (68,9%). Hidrasi kulit normal merupakan kondisi yang paling banyak ditemukan (32,4%), terutama pada responden tanpa akne dan akne ringan, sedangkan hidrasi sangat kering lebih banyak ditemukan pada akne sedang hingga berat. Mayoritas mahasiswa menggunakan sabun wajah dengan pH asam dan memiliki hidrasi kulit normal. Hidrasi kulit yang lebih rendah cenderung ditemukan pada subjek dengan derajat akne yang lebih berat. Pemilihan sabun wajah dengan pH mendekati fisiologis kulit serta pemeliharaan hidrasi kulit yang optimal berpotensi mendukung kesehatan skin barrier dan membantu pengelolaan akne vulgaris.
Karakteristik dan mortalitas pada pasien henti jantung di RS Royal Taruma Jakarta di tahun 2022-2024 Farendy Gusti Syahputra; David Dwi Ariwibowo
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.34426

Abstract

Henti jantung merupakan kondisi medis serius yang ditandai dengan berhentinya fungsi pemompaan jantung secara tiba-tiba, sehingga menyebabkan hilangnya denyut nadi serta penghentian aliran darah ke otak dan organ vital. Kejadian ini dapat terjadi di dalam maupun di luar rumah sakit, dengan angka insiden dan mortalitas yang tinggi terutama kasus yang terjadi di rumah sakit. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik dan mortalitas pada pasien henti jantung di Rumah Sakit Royal Taruma Jakarta di tahun 2022 - 2024. Data diambil dari 80 rekam medis pasien henti jantung dan mencakup informasi mengenai waktu kematian setelah masuk rumah sakit, lokasi kejadian, serta faktor risiko seperti usia, jenis kelamin, riwayat hipertensi, diabetes, dislipidemia, dan status gizi. Faktor reversibel berdasarkan mnemonik “5H5T” seperti hipovolemia, hipoksia, H+ (asidosis), hipo/hiperkalemia, hipotermia, tension pneumotoraks, tamponade, toksin, trombosis koroner, dan trombosis paru ikut dianalisis. Hasil studi ini menunjukkan tingginya angka mortalitas, terutama pada pasien yang meninggal > 48 jam setelah masuk rumah sakit, dan sebagian besar kejadian terjadi di ruang rawat intensif. Pasien kebanyakan berusia lanjut dengan rerata usia 69 tahun, dan mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki dengan setidaknya memiliki salah satu atau lebih faktor risiko kardiovaskular. Faktor reversibel seperti hipovolemia, hipoksia, H+ (asidosis), hipo/hiperkalemia, hipotermia, tension pneumotoraks, trombosis koroner, dan trombosis paru juga ditemukan di sebagian pasien.
Hubungan tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua mengenai stunting di Puskesmas Marisa Annisa Maharani Paryoko; Naomi Esthernita Fauzia Dewanto
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.34449

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satu faktor yang berperan dalam pencegahannya ialah pengetahuan orang tua, yang diduga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Namun, hubungan keduanya masih menunjukkan hasil yang bervariasi sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Studi ini merupakan studi analitik observasional dengan desain cross-sectional yang dilakukan di Puskesmas Marisa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo pada Desember 2024–Januari 2025. Sebanyak 184 orang tua dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Tingkat pendidikan dikategorikan menjadi SMP, SMA, dan sarjana, sedangkan tingkat pengetahuan mengenai stunting diukur menggunakan kuesioner tervalidasi yang terdiri atas 15 pertanyaan dan dikategorikan menjadi baik, cukup, dan kurang. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (77,7%), berusia 31–40 tahun (37,5%), berpendidikan SMA (50,5%), dan bekerja (62,5%). Tingkat pengetahuan mengenai stunting terbanyak berada pada kategori kurang (43,5%). Responden dengan pendidikan sarjana cenderung memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik dibandingkan responden berpendidikan SMP dan SMA. Studi ini menyimpulkan hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua mengenai stunting di wilayah kerja Puskesmas Marisa (p=0,019). Meskipun demikian, pendidikan formal bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi pengetahuan. Upaya edukasi kesehatan mengenai stunting perlu ditingkatkan pada seluruh kelompok masyarakat melalui penyuluhan yang berkelanjutan dan pemanfaatan media informasi agar pengetahuan orang tua dapat meningkat.