Articles
648 Documents
Pola Perkembangan Slump dan Squatters di Desa Banyudono
Hadinagoro, Endra Rizky Gemellio;
Qomarun, Q
Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur 2021: Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kondisi pemukiman yang tidak terkendali di bantaran sungai Kelurahan Banyudono membuat pemukiman di bantaran sungai menjadi kumuh. Seluruh bantaran sungai Kalimati dikategorikan kumuh sehingga sebenarnya bantaran sungai merupakan aset Desa Banyudono, sebaliknya justru hal ini merupakan wajah buruk bagi Desa. Program dan penataan struktur permukiman kumuh di Kelurahan Banyudono memang sudah dilakukan, namun pada dasarnya belum berhasil dikelola secara utuh. Identifikasi karakteristik permukiman kumuh bantaran sungai perlu dilakukan untuk mengetahui aspek dan variabel yang mempengaruhi permukiman kumuh bantaran sungai untuk kemudian dirumuskan konsep penataan yang sesuai dan dapat diimplementasikan pada permukiman kumuh bantaran sungai di lokasi penelitian. Terbentuknya permukiman liar di sempadan sungai Kalimati dukuhKaligoro desa Bayudono Boyolali berawal bantuan pembangunan rumah di sekitar bantaran sungai lalu warga memiliki inisiatif sendiri dan berlangsung lambat. Mengurangi permukiman liar dapat dilakukan dengan: lebih mawas pada lahan-lahan kosong yang berpotensi menjadi permukiman, penyediaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pembangunan desa secara maksimal untuk menekan angka urbanisasi.
Eksplorasi Permukiman Kumuh di Kelurahan Tanjungsari Kabupaten Rembang
Amalia, Nur Rizki;
Saputra, Andika
Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur 2021: Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Permukiman kumuh yang terdapat di kawasan Kabupaten Rembang mengalami perkembangan pada kurun waktu tahun 2006-2016. Adapun pemukiman kumuh yang terdapat di kawasan pusat Kota Rembang yaitu Di Kelurahan Tanjungsari dengan luas 21,43 Ha. Kelurahan Tanjungsari memiliki karakteristik yang beragam dalam bermasyarakat mulai dari jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, hingga kondisi tempat hunian yang berbeda sehingga memicu Kelurahan Tanjungsari menjadi salah satu permukiman kumuh di Kota Rembang. Untuk mengetahui lebih dalam penyebab dari adanya permukiman kumuh di Kelurahan Tanjungsari maka dibutuhkan kajian yang lebih mendalam untuk mendeteksi kesamaan karakteristik penyebab dari permukiman kumuh. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan identifikasi permukiman kumuh di kawasan kota Rembang terkhususnya Kelurahan Tanjungsari berdasarkan karakteristik dan faktor penyebab kekumuhannya. Dalam penelitian ini menggunakan metode deduktif kuantitatif, yaitu merupakan metode kuantitatif yang bersifat deduktif (dari umum ke khusus) karena berawal dari sebuah teori, dimana penelitian berawal dari adanya karakteristik sebuahpermukiman kumuh dan akan lebih dijabarkan pada karakteristik permukiman kumuh yang terjadi di kelurahan Tanjungsari Kabupaten Rembang. Pendekatan ini bertujuan untuk mengujihipotesis dan menegakkan fakta-fakta atau kebenaran-kebenaran dari suatu teori permukiman kumuh.
Identifikasi Penghawaan Alami yang Baik Dimasa Pandemi pada Masjid Jannatul Firdaus
Rahmawati, Rizki Fitria;
Suharyani, S
Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur 2021: Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sirkulasi udara yang baik di dalam bangunan dapat memberikan kenyamanan dan menyehatkan bagi pengguna. Penghawaan yang baik dapat dicapai dengan cara merancang bentuk elemen-elemen dan detail arsitektur yang bertujuan mengoptimalkan aliran udara yang sejuk. Objek penelitian ini adalah Masjid Jannatul Firdaus yang berada di Kampung Batik Laweyan yang merupakan kawasan yang terkenal dengan tempat wisata yang telah berkembang dengan pesat. Dalam masa new normal ini tidak sedikit pengunjung yang menyambangi Kawasan Kampung Batik untuk berwisata, maka dibutuhkan fasilitas penunjang yang salah satunya adalah masjid yang memenuhi syarat kenyamanan termal dan protokol kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui standar penghawaan alami yang baik dimasa pandemi pada Masjid Jannatul Firdaus. Penelitian menggunakan metode kuantitatif – kualitatif diskriptif dalam menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Jannatul Firdaus memiliki suhu rata-rata sebesar 28,3°C, dengan kelembaban sebesar 76,2% dan kecepatan angin 0 m/s. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi termal pada Masjid Jannatul Firdaus belum memenuhi standar kanyamanan termal yang mempunyai suhu melebihi 27,1°C, dan tingkat kelembaban lebih dari 70% serta harus mempunyai kecepatan angin sebesar 0,2m/s – 2m/s. Dengan kondisi ini maka Masjid Jannatul Firdaus tidak memenuhi standar penghawaan alami yang baik dimasa pandemi dan memiliki penghawaan alami yang tidak baik bagi kesehatan penggunanya.
Studi Kesesuaian Fungsi Pedestrian Kawasan Budaya Jetayu Kota Pekalongan Ditinjau dari Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL)
Marjani, Rizqina;
Priyatmono, Alpha Febela
Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur 2021: Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kawasan budaya Jetayu sudah dilengkapi pedestrian untuk mendukung kegiatan pariwisatanya, serta sebagai kawasan sejarah kawasan budaya Jetayu diberlakukan aturan bebas PKL berdasarkan Perwal No 15 Tahun 2006. Namun pada kenyataannya para pedagang kaki lima tetap berjualan di area pedestrian, hal ini dapat mengganggu fungsi pedestrian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian fungsi pedestrian pada kawasan budaya Jetayu, persepsi serta kenyamanan pejalan kaki terhadap adanya PKL di pedestrian kawasan budaya Jetayu. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode kualitatif dan metode kuantitatif. Hasil aspek fisik pengukuran lapak pedagang kaki lima yang diperoleh dari penelitian ini terdapat ketidaksesuaian fungsi pedestrian berdasarkan Permen PUPR No 03/PRT/M/2014 mengenai ketentuan pemanfaatan prasarana jalur pejalan kaki sebagai kegiatan usaha dan Perwal No 15 Tahun 2006 mengenai lokasi ijin dagang PKL di kota Pekalongan. Aspek perilaku responden pada kuesioner menunjukan hasil bahwa tingkat kenyamanan pejalan kaki belum terpenuhi dan merasa terganggu dengan adanya PKL, meskipun PKL di pedestrian kawasan budaya Jetayu mendukung segala aktivitas yang berlangsung disana. Beberapa responden setuju bahwa PKL di pedestrian kawasan budaya Jetayu perlu dilakukan penataan ulang dikarenakan kurangnya optimalisasi pengelolaan dan pengawasan fungsi pedestrian di kawasan budaya Jetayu.
Identifikasi Kelayakan Bumi Perkemahan Area Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti Surakarta
Pamungkas, Angga Haryo;
Qomarun, Q
Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur 2021: Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Bumi perkemahan merupakan tempat dialam terbuka, dimana para pemakai dapat mendirikan kemah-kemah untuk keperluan bermalam dan melakukan kegiatan sesuai dengan motivasinya. Waterfront (tepian air) merupakan daerah yang berhadapan dan berbatasan langsung dengan perairan baik sungai, danau, pantai, maupun perairan lainnya, seperti halnya Bumi Perkemahan Kawasan Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti Surakarta sehingga yang sangat strategis dan menarik. Penelitian ini bertujuan mengetahui Standar kelayakan bumi perkemahan di taman makam pahlawan Kusuma bhakti, dan mengidentifikasi kebutuhan lahan bumi perkemahan di kota surakarta. Penelitian ini dilakukan melalui metode kualitatif dalam artian pengamatan secara langsung atau survei untuk mengetahui kondisi fisik di lapangan, data survei yang diperoleh kemudian di uji kelayakannya dengan standart yang ada. Kesimpulan penelitian ini adalah produk, pelayanan, dan pengelolaan pada Bumi Perkemahan Kawasan Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti Surakarta menyokong penilaian 23,21 % dalam kondisi yang sesuai standar operasional prosedur, dengan kondisi tersebut maka kawasan bumi perkemahan ini masih kurang dan perlu lebih dikelola sehingga sesuai dengan SOP pada Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 25 Tahun 2015 tentang Standar Usaha Bumi Perkemahan.
Evaluasi Jalur Akses Pejalan Kaki dengan Tod Standart Metrik Berjalan Kaki pada Stadion Manahan, Surakarta
Nusantara, Nahla Putra;
Nurhasan, N
Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur 2021: Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Stadion Manahan Solo merupakan sebuah objek vital yang berada pada tengah kota Solo. Banyak orang yang mengunjungi stadion ini untuk menunjang aktivitas sehari-hari seperti berolahraga, berdagang, berbelanja, makan dan sekedar bersantai. Dengan banyaknya kegiatan yang terjadi di stadion ini, maka fasilitas yang tersedia harus lengkap, khususnya untuk fasilitas pejalan kaki.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kenyamanan pada fasilitas pejalan kaki berdasarkan Metrik 1 Transit Oriented Development – Walk dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dengan kondisi Stadion Manahan yang sekarang, stadion ini memperoleh poin 8 dari 18 poin maksimal dalam Metrik Berjalan Kaki. Dari hasil penghitungan skor tersebut disarankan untuk lebih memperhatikan fasilitas pejalan kaki dengan cara memperbaiki fasilitas yang ada sehingga mencapai titik optimal agar para pejalan kaki merasa nyaman dan aman.
Kajian Arsitektur Profetik : Dampak Pembangunan di Sekitar Jembatan Kalianyar bagi Masyarakat Bawah
Wiralaksono, Suryo Satrio Aji;
Saputra, Andika
Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur 2021: Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Solo dikenal sebagai kota yang kental dengan budayanya, hal ini memicu adanya penataan dan pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah kota Solo dalam menciptakan ruang sesuai dengan image tersebut, tak terkecuali dengan adanya pembangunan di daerah Solo Utara, munculnya pembangunan meliputi jembatan keris, waterfront kalianyar dan Hotel Swiss-Belllin, yang menimbulkan pertanyaan mengenai dampak yang dialami oleh warga sekitar jembatan kalianyar yang didominasi oleh masyarakat bawah, dan bagaimanakah pelibatan masyarakat bawah dalam pembangunan di kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan Arsitektur Profetik dalam mengelompokkan dampak pembangunan dengan kaidah etika profetik yaitu liberasi, humanisasi, dan transendensi memiliki tujuan utama menciptakan pembangunan yang memihak pada kalangan masyarakat bawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak pembangunan di sekitar jembatankalianyar melalui paradigma Arsitektur Profetik. Metode yang digunakan adalah kualitatif yaitu dampak yang dialami oleh warga sekitaran jembatan kalianyar melalui wawancara dan observasi fisik, dan data sekunder melalui analisa kebijakan menggunakan matriks LFA untuk menarik benang merah munculnya perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di solo utara. Hasil temuan penelitian ini adalah adanya ketimpangan pada proses perencanaan, pelaksanaan, dan pembangunan yang tidak sesuai dengan kaidah arsitektur profetik, unsur pemihakan pada masyarakat bawah juga tidak terpenuhi sebagai dampak utama pembangunan yang menyejahterakan justru potensi seperti dampak spiritual tidak terwadahi dalam pembangunan di sekitaran Jembatan Kalianyar.
Evaluasi Purna Huni Taman Cerdas Jebres sebagai Ruang Publik Ramah Anak di Surakarta
Permatasari, Nurharlisah Faudiyah;
Saputra, Andika
Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur 2021: Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kota Surakarta merupakan satu dari lima Kota/Kabupaten yang dipilih oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai pionir pengembangan model KLA di Indonesia. Terdapat 13 taman cerdas yang telah dibangun oleh pemerintah Kota Surakarta, Taman Cerdas Jebres merupakan salah satu yang sudah cukup sesuai dengan konsep KLA. Namun, berdasarkan evaluasi Menteri tahun 2017 Taman Cerdas Jebres belum memenuhi standar dalam penyediaan ruang bermain ramah anak dan perlu ditingkatkan lagi. Hal ini menjadi tinjauan peneliti terkait dengan evaluasi purna huni Taman Cerdas Jebres sebagai ruang public ramah anak. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dimana tinjauan dilakukan berdasarkan standar yaitu Perwali Surakarta No.6 Tahun 2008 dan Pergub DKI No.123 Tahun 2017 serta persepsi pengguna dalam melakukan pengevaluasian. Hasil yang didapatkan berupa standar minimal penyediaan prasarana di luar bangunan yang tercantum dalam Pergub DKI No.123 Tahun 2017 dapat diterapkan di Taman Cerdas Jebres dan melengkapi Perwali Surakarta No.6 Tahun 2008 sebagai acuan pengembangan dan pembangunan taman cerdas di Kota Surakarta
Fasad Arsitektur Cina pada Kawasan Pecinan Masa Kini
Asriyanti, Chintya Dinni;
Isnaini, Rizqi Fajar;
Utomo, Joko Prasetyo
Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur 2020: Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kawasan Kampung Pecinan berada di wilayah komersial dimana lingkungannya terdapat banyak pasar-pasar lama. Pada zaman pemerintahan Hindia-Belanda berusaha mengatur penduduk dengan cara mengelompokkan mereka berdasarkan RAS, yang mana nantinya akan terbentuk beberapa kawasan salah satunya dinamakan Kampung Cinaatau Pecinan. Kampung Pecinan bagi masyarakat Cina merupakan ruangsosial sekaligus ruang-fisik tempat dimana warga berinteraksi/beraktivitas bersama, tempat diadakannya kegiatan bisnis ekonomi mulai dari produksi, distribusi hingga konsumsi. Metode penelitian ini menitikberatkan pada metode deskriptif kualitatif dengan memilih data primer sebagai perolehan data Kawasan Pecinan ini. Dengan data-data yang telah diperoleh maka ruang-ruang tersebut menandakan bahwa Kampung Pecinan masih tetap dikenal oleh masyarakat meskipun terdapat perubahan pada masa lalu dan masa kini.
Pengaruh Pola Perilaku Civitas Sekolah Unifikasi terhadap Standar Program Ruang
Rahmawati, Hanny;
Saputra, Andika
Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur 2020: Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Perkembangan dibidang ilmu pendidikan saat ini sangatlah pesat, hal ini dibuktikan dengan munculnya jurusan-jurusan baru hingga banyak sekolah dengan model kejuruan seperti yang telah dicetuskan oleh Agus Purwanto yaitu SMA Trensains Sragen. Trensains merupakan pesantren dengan sekolah berkurikulum unifikasi, yang memiliki karakter kuat dalam integrasi sains islam dan menjadi terobosan baru pendidikan islam di Indonesia bahkan di dunia, ayat kauniyah menjadi pedoman dasar merujuk pada ilmu sains kealaman dengan fokus ilmu semesta .Karena nantinya akan banyak sekolah sejenis yang muncul mengingat perkembangan jaman berjalan wujud korelasi dari kompleksnya ilmu pengetahuan yang akan terus meningkat. Dengan beragam kegiatan di dalam proses pembelajaran, SMA Trensains memiliki kebutuhan ruangyang tentunya berbeda dengan sekolah konvensional lain. Hal ini berpengaruh terhadap idealnya kebutuhan ruang yang ditimbulkan dari kegiatan civitas. Metode kualitatif digunakan dengan cara melakukan interview dan survei lapangan untuk memperoleh data. Hasil yang didapatkan adalah SMA Trensains membutuhkan ruang lebih pada kegiatan kepesantrenan khususnya riset dan observasi sebagai kegiatan yang menjadi ciri khas dari kurikulum unifikasi. Agar seluruh santri dapat melaksanakan kegiatan tersebut SMA Trensains menyediakan ruang sesuai dengan kebutuhan dan membentuk organisasi ruang yang menciptakan beberapa titik temu antara ikhwan dan akhwat yang tentu hal ini tidak dapat ditemui pada pesantren tradisional.