cover
Contact Name
Erna Meiliana
Contact Email
ernameiliana@trisakti.ac.id
Phone
+6287840093703
Journal Mail Official
jurnal_dimensi@trisakti.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti Jl.Kyai Tapa No.1 Grogol Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 25275666     EISSN : 25497782     DOI : https://doi.org/10.25105/dim
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain diterbitkan oleh Fakultas seni Rupa dan Desain. Jurnal ini terbit 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu Februari dan September. Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain merupakan jurnal bidang seni dan desain yang terbilang aktif sejak pertama kali diterbitkan dari tahun 2003 sampai sekarang. Menjadi salah satu jurnal seni dan desain yang banyak diminati oleh para penulis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia
Articles 376 Documents
ESTETIKA PADA FRAME SEPEDA BALAP MERLIN TIPE CYRENE Awang Eka Novia Rizali
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 11 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1689.461 KB) | DOI: 10.25105/dim.v11i1.1897

Abstract

AbstractThe Aesthetic of Type Cyrene Merlin Road Race Frame. Type Cyrene Merlin road race frame is one of the innovative designs of Tom Kellogg and produced by Merlin Metal Work, known as one of the best bike production in Tennessee, USA. Produce uniquely with laser engraved motif on the frame pipe, this bike won The Best Titanium Bike in North American Handmade BicycleShow. This paper explained about the aesthetic analysis of the product design with the formalistic aspect, the technical aspect, and the ergonomic aspect which affect the function of the product. The formalistic analysis instruments consistof intra-aesthetic factors. From the analysis concluded that the aesthetic value of the product is not a single value but blended with technology. The Type Cyrene Merlin road race frame is becoming the high value product that produced withhigh accuracy and craftsmanship when still focused on functional aspect and the user comfort.AbstrakEstetika pada Frame Sepeda Balap Merlin Tipe Cyrene. Frame sepeda balap Merlin tipe Cyrene merupakan salah satu karya inovatif dari Tom Kellogg yang diproduksi oleh Merlin Metal Work, salah satu produsen sepeda terbaik di dunia yang berlokasi di Tennessee, Amerika Serikat.Diproduksi secara khusus dengan motif hiasan grafir laser dipermukaan pipa frame, frame sepeda ini memenangkan The Best Titanium Bike di North American Handmade Bicycle Show. Makalah ini memaparkan analisis estetika pada desain produk dengan analisis aspek formalistik dan instrumen analisis yang meliputi faktor-faktor intraestetik, dilanjutkan dengan analisis aspek teknis dan ergonomis yang mempengaruhi fungsi produk. Dari analisis tersebut disimpulkan bahwa nilai estetis suatu produk pada akhirnya tidak lagi menjadi satu nilai murni tetapi berbaur dengan teknologi. Frame sepeda balap Merlin tipe Cyrene menjadi produk bernilai tinggi yang diproduksi denganketelitian dan craftsmanship serta tetap memperhatikan aspekfungsional dan kenyamanan pada penggunaanya.
BENTUK DAN FUNGSI ODONG-ODONG DI JAKARTA Awang Eka Novia Rizali
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.284 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i1.2324

Abstract

AbstractOdong-odong is a middle to low urban society means of play and loved by children in dense urban housing area. Odong-odong formally developed in Jakarta, and spread out to other cities. Odong-odong as a means of play is becoming urban economy commodity as temporary entrepreneur and related to design. This research is upbringing odong-odong trend and the g owth of technology usage that give impact in odong-odong's design development in urban society. The aim of this research is to understand the variety of form and function of odong-odong caused by user demandside and to understand the impact of technology development to odong-odong's design, form, and function. The method of this research is qualitative description with design approach. This research is done by design development analysis and odongodong's technology in relation to urban social cultural and economy. The result of this research is 5 (five) main form of odong-odong which are (1) Komedi Putar form, (2)Kereta Api form, (3) Becak form, (4) Kincir form of Wind Mollen, (5) Jungkat Jungkit form. Odong-odong design formed to fulfilled product functions, which are primary function, secondary function, and tertiary function. Form follows function concept is becoming the base of odong-odong and related to product function and need of the user. AbstrakOdong-odong merupakan sarana permainan masyarakat urban kalanganmenengah ke bawah, dan banyak digemari oleh anak-anak di sekitarlingkungan padat perumahan di perkotaan. Odong-odong yang padaawalnya muncul di kota Jakarta, kemudian dalam perkembangannya meluas ke pinggiran kota dan daerah-daerah lain. Sarana permainan odong-odong menjadi komoditi ekonomi masyarakat urban sebagai wiraswasta musiman serta berelasi dengan desain. Penelitian ini mengangkat perkembangan tren permainan odong-odong dan perkembangan pemanfaatan teknologi yang menyebabkan adanya perubahan desain sarana permainan odong-odong yang digemari masyarakat urban di perkotaan. Tujuannya adalah mengetahuiragam bentuk dan fungsi sarana permainan odong-odong yang dipengaruhi oleh kebutuhan masyarakat urban sebagai penggunanya dan memahami pengaruh teknologi dan pemanfaatannya terhadap perubahan bentuk desain dan fungsi sarana permainan odong-odong. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan pendekatan desain. Dengan pendekatan ini, kajian dilakukan melalui analisis perkembangan desain dan teknologi sarana permainan odong-odong dalam relasinya dengan situasi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat urban. Hasil dari penelitian ini adalah adanya 5 (lima) bentuk utama odong-odong yaitu; (1) Berbentuk komedi putar, (2) Berbentuk kereta api, (3) Berbentuk becak, (4) Berbentuk kincir atau wind mollen, (5) Berbentuk jungkat jungkit. Desain sarana permainan odong-odong dibuat untuk pemenuhan fungsi produk, baik fungsi primer, fungsi sekunder, dan fungsi tersier. Konsep form follows function menjadi dasar desain sarana permainan odong-odong ini, sehingga bentuk berkaitan langsung dengan fungsi dan kegunaan produk untuk mencapai tujuan kegunaan bagipengguna semaksimal mungkin.
PENELITIAN SECANG SEBAGAI PEWARNA ALAMI ROTAN DAN APLIKASINYA PADA PRODUK HOME DECOR Susi Hartanto; Tanu Rudyanto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1913.066 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i1.2325

Abstract

AbstractSynthetic colorants (lacquer or nitro-based clear finishes, cellulose acetate butyrate - CAB, polyurethane, acid catalyst clear lacquers, polyester, waterbased colorants, etc) are commonly used to produce colors on various rattan products. Although water based colorants are claimed to be environmentally friendly, but many industry stakeholders still continue using other synthetic colorants due to cost consideration.As an effect, environmental cost is inevitable. Prior experiment shows that natural colorant like sappanwood produce red color on rattan peel, though color adhesiveness is not stable. This re search maintains focus on sappanwood as natural red colorant, but type of rattan is shifted to rattan flat core, presumed to produce higher color adhesiveness and stability. Result of research is applied on home décor products, using small to medium home industry quantity to test the stability and uniformity of colors on one production batch. Future research may use this reference to investigate other natural rattan colorants. Keywords: sappanwood, rattan, natural colorant, red AbstrakProduk rotan pada umumnya diberi pewarna sintetis (NC, Stain, Fancy Colors, pewarna water based, dan lainnya) untuk menghasilkan berbagai macam warna. Walaupun pewarna water based diklaim lebih ramah lingkungan, tetapi masih banyak pelaku industri yang menggunakan pewarna sintetis lainnya karena harganya yang lebih ekonomis, dan akibatnya, pasti ada pencemaran lingkungan. Sesuai eksperimen sebelumnya, pewarna alami seperti secang bisa menghasilkan warna alami merah pada rotan peel (kulit), walaupun daya rekat warnanya belum maksimal. Penelitian kali ini berfokus tetap pada secang, namun jenis rotan sesuai asumsi dialihkan menjadi jenis fitrit agar daya rekat dan ketahanan warna lebih tinggi. Hasil penelitian diaplikasikan pada produk dekorasi/ aksesoris dengan kuantitas produksi kecil-menengah untuk menguji kestabilan hasil pewarnaan pada satu kali produksi.Diharapkan penelitian ini bisa menjadi referensi untuk penelitian pewarnaalami rotan lainnya.
PENGAPLIKASIAN RAGAM HIAS BUDAYA SOLO PADA DESAIN INTERIOR DAPUR SOLO DI JAKARTA Polniwati Salim; Amarena Nediari Nediari; Grace Hartanti
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1010.702 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i1.2326

Abstract

AbstractNusantara ornament is one of culture activities that requires protection, development and utilization in order to preserve them. Solo has become the center of Javanese culture where the ritual of life at Keraton Solo also became part of everyday life of the surrounding community and this makes Solo culture continued to survive until today.Solo's ornaments had influence from Javanese Hindu with specific meaning and symbolism, and this ornament found on the architecture and interior as decorative part of the building. This is a qualitative research focused on documentating Solo's ornaments application in Dapur Solo Restaurant. The objectives of this research is to support the nation's cultural preservation for nusantara's ornament, well in addition this research is also done to prevent the different meaning of ornaments that does not match its placement. Dapur Solo restaurant has Solo's ornaments that applied inmodern technique as interior elements. The collected data from Dapur Solo restaurant compared with the literature study for Solo's ornament. Some findings found the existence of mismatch of suitability of meaning will be delivered in the conclusion of this study.  AbstrakRagam hias Nusantara merupakan salah satu hasil budaya yangmembutuhkan kegiatan pelestarian berupa melakukan perlindungan,pengembangan dan pemanfaatan. Solo telah menjadi salah satu pusat budaya Jawa Tengah dimana ritual kehidupan di Keraton Solo juga menjadi bagian dari keseharian masyarakat di sekitarnya dan hal inilah yang menjadikan budaya Solo terus bertahan hingga saat ini. Ragam hias Solo dihasilkan dari pengaruh budaya Hindu Jawa yang memiliki perlambangan dan makna tertentu, dan ragam hias ini dapat dijumpai pada arsitektur maupun interior dari bangunan Solo. Penelitian terhadap ragam hias ini merupakan penelitian kualitatif dengan kegiatan berupa pendokumentasian secara khusus pada Restoran Dapur Solo. Diharapkan aplikasi dari tujuan penelitian yang dilakukan terhadap ragam hias Indonesia sebagai pelestarian dari budaya bangsa dapat tercapai dengan baik selain itu penelitian ini juga dilakukan untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan terhadap makna ragam hias yang tidak sesuai penempatannya sehingga memiliki arti yang berbeda. Di Restoran Dapur Solo terlihat adanya perpaduan antara ragam hias budaya Solo yang diaplikasikan secara modern pada elemen interior restoran.Sehingga kegiatan penelitian berupa pendokumentasian fokus dilakukanpada aplikasi ragam hias budaya Solo pada interior Restoran Dapur Solo. Dari data yang diperoleh di lapangan selanjutnya hasil pendokumentasiandibandingkan dengan data literatur terhadap jenis ragam hias budaya Solo, beberapa temuan yang dijumpai adanya ketidaksesuaian ataupun kesesuaian makna akan disampaikan dalam kesimpulan dari penelitian ini.
APROPRIASI DAN REKONTEKSTUALISASI HISTORIS STUDIDASAR RUPA SEBAGAI BAGIAN DARI PENDIDIKAN DASAR DESAIN Ferdinand Indrajaya
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1849.992 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i1.2328

Abstract

AbstractThe paper is an attempt to show a form of appropriating and recontextualizing the fondational study of art and design traditionally with our contemporary life. The content of this paper is mostly based on basic design study class learning activities, in Visual Communication Design department, Pelita Harapan University. The in class activities are considered as a simulation of the mentioned attempt. The attempt isdirected towards the basic design study tradition which has been established since Bauhaus. It tries to show how the significance of Bauhausian tradition is still relevant in the contemporary life; the life which has been driven mostly by digital technology. Digital technology is no longer understood as merely an ensemble of devices but it hasbecome the worldview of contemporary life. Intertwining the Bauhausian tradition with that of worldview may contribute greatly to the way we understand both technology and art & design.  AbstrakMakalah ini disusun sebagai wujud upaya untuk menunjukkan apropriasidan rekontekstualisasi pemahaman tradisional dari studi dasar rupa dengan kehidupan kontemporer sejauh ini. Penyusunan makalah ini sendiri bertolak dari aktivitas perkuliahan studi dasar rupa di jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan dan merupakan simulasi praktis dari upaya apropriasi dan rekontekstualisasi tersebut. Upaya apropriasi dan rekontekstualisasi diarahkan kepada tradisi studi dasar rupa yang secara historis telah terpancang semenjak era Bauhaus. Isi makalah akan berupaya untuk menunjukkan bagaimana pendidikan dalam tradisi Bauhausian tetap relevan di era kehidupan kontemporer yang sebagian besar dimensinya telah didaya-gerakkan oleh teknologi digital. Teknologi digital yang tidak hanya dipahami sebatas ansambel alat-alat, namun telah menjadi pandangan dunia dominan kehidupan itu sendiri. Menjalin tradisi historis pendidikan dasar seni dan desain dengan lingkup kehidupan masa kini yang serba digitalteknologis dapat berkontribusi bagi kita untuk memahami baik teknologi  ataupun seni dan desain itu sendiri.
KONSERVASI BANGUNAN BERGAYA ART DECO DI KOTA BANDUNG (Studi Kasus: Hotel Preanger dan Hotel Savoy Homann) Sri Rachmayanti; Christianto Roesli; Mila A. Savitri
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2023.293 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i1.2329

Abstract

AbstractPreanger Hotel and Savoy Homann Hotel in Bandung, are two historical building that has established since long time ago. They were historical Dutch heritage building that interesting as a research object, where these hotels are the first hotel in Bandung city.Historically, this hotel was originally owned and run by a Germany family, Homann. Hotel Savoy Homan then reconstructed to Neogothik Romantik style that was popular at the time. Furthermore, in the year 1937-1939 a Dutch architect A.F. Aalbers was assigned to redesign and brought the Art Deco style. During his trip, the hotel had a chance to witness history in the important events of Asian and African Conference that held in Bandung in 1955. As the overview of the history of Grand Hotel Preanger,which is located on Jl. Asia Afrika 81, Bandung. This hotel is built in the early 1884. In 1929 the hotel's style was Indische Empire Stijl then renovated and redesigned in 1929 by C.P. Wolff Schoemaker and by his student assisted, Ir. Soekarno (former first President of Indonesia) to be in Art Deco style. In this research, documentation, which hope will be useful and utilized for anyone in need. The data will be grouped based onthe history, the development of the style and the characteristic style that is consistent their conservation process. The research objective is to analyzed their conservation and preservation of the Art Deco style that is the hallmark of the Savoy Homan hotel and Preanger Hotel. It has been quite successful conservation efforts in preserving historic buildings in Indonesia, through documentation and study of the interior elements andarchitecture can be generated complete documentation on the historic building.  AbstrakBangunan Hotel Preanger dan Hotel Savoy Homann di kota Bandung, sebagai bangunan bersejarah yang telah berdiri dari tahun. Salah satu bangunan bersejarah warisan Belanda yang menarik untuk dijadikan objek penelitian, yang mana hotel ini merupakan hotel pertama di kota Bandung. Dalam sejarahnya, hotel ini pada awalnya dimiliki dan dijalankan oleh keluarga asal Jerman, Homann. Hotel Savoy Homann kemudian direkonstruksi ke gaya Neogothik Romantik yang sedang populer kala itu. Selanjutnya di tahun 1937- 1939 seorang arsitek Belanda A.F. Aalbers ditugaskan mendesain ulang dengan mengusung gaya Art Deco. Selama perjalanannya, hotel ini sempat menjadi saksi sejarah dalam peristiwa penting Konferensi Asia dan Afrika yang diselenggarakan di Bandung tahun 1955. Sekilas sejarah Grand Hotel Preanger, yang berlokasi di kawasan Jl. Asia Afrika No.81, Bandung. Hotel ini pada masa awalnya di tahun 1884. Pada tahun 1929 hotel yang bergayaIndische Empire Stijl ini kemudian direnovasi dan didesain ulang pada tahun 1929 oleh C.P. Wolf Schoemaker dibantu oleh muridnya, Ir. Soekarno (mantan Presiden RI-1) dengan gaya Art Deco. Dalam penelitian ini dilakukan pendokumentasian, yang diharapkan dapat dimanfaatkan bagi siapa saja yang memerlukan. Data akan dikelompokan berdasarkan sejarahnya, berkembangnya gaya tersebut dan karakteristik gaya yang ada sejalan dengan proses konservasi yang dilakukan oleh kedua hotel tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk mengalisa upaya konservasi dan pelestarian gaya Art Deco yang merupakan ciri khas pada hotel Savoy Homann dan Preanger. Pada  akhirnya diharapkan upaya konservasi yang berhasil dalam melestarikan bangunan-bangunan bersejarah di Indonesia, melalui pendokumentasian dan melakukan studi terhadap elemen-elemen interior dan arsitektur dapat dihasilkan dokumentasi lengkap mengenai bangunan bersejarah tersebut.
PASAR LEGI KOTAGEDE YOGYAKARTA Perancangan Alternatif Perangkat Jualan di Pasar Legi Kotagede Yayah Rukiah; M. Sjafei Andrijanto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2010.08 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i1.2330

Abstract

AbstractKotagede market has been established since the 16th century. This market is also often called the legi market, because the peak of the crowd always happens on the days of the lgi market (Legi is the name of one of these in the Java calender). Various kinds of merchandise (commodity merchandise) tools, various live poultry birds such as birds are good at chirping, fodder, plant seeds, knick-knacks accessories household, agate,various traditional medicinal herbs until the furniture can be found in this market. This research is based on the ability to create a product design that can serve to organize the interaction of traders, while also providing an orderly, clean room that still maintains the traditional market identity context. From the results of the identification of market problems taht exist in yard kotagede Yogyakarta market, the researchers found two fundamental problems that exist in the region that is the problem berween the merchant shop and street vendors or “emperan”. The secondexistence of this trader who became the masis of the researcher to create a useful design work for yard legi kotagede Yogyakarta is the creation of trading devices for the traders who do not have a trading room or store, especially for street vendors.  AbstrakPasar Kotagede telah berdiri sejak abad 16. Pasar ini juga kerap disebut Pasar Legi, karena puncak keramaiannya selalu terjadi pada hari-hari pasaran Legi (Legi adalah nama salah satu hari dalam kalender Jawa). Berbagai jenis barang dagangan (komoditas dagangan) yaitu dari sayur-sauran, alat-alat pertanian, berbagai hewan unggas hidup seperti burung yang pandai berkicau, pakan ternak, bibit tanaman, pernak-pernik aksesoris kebutuhan rumah tangga, batu akik, berbagai ramuan obat tradisional hingga mebel dapat ditemui di pasar ini. Penelitian ini didasari untuk mampu menciptakan suatu desain produk yang dapat berfungsi untuk menata tatanan interaksi para pedagang, sekaligus juga memberikan ruang yang tertib, bersih yang masih mempertahankan konteks identitas pasar tradisional. Dari hasil identifikasi persoalan Pasar yang ada di Pasar Legi Kotagede Yogyakarta, peneliti menemukan dua persoalan mendasar yang ada diwilayah tersebut yaitu persoalan antara pedagang toko dan pedagang kaki lima atau “emperan”.Kedua keberadaan pedagang inilah yang menjadi dasar peneliti untukmenciptakan karya desain yang bermanfaat untuk Pasar Legi KotagedeYogyakarta adalah Penciptaan Perangkat Dagang Bagi kalangan Parapedagang yang tidak mempunyai ruang dagang atau toko khususnya bagipara pedagang kaki lima.
PERUBAHAN TATA LETAK DAN FUNGSI DAPUR PADA RUMAH TINGGAL (TIPE 90M2 - 160M2) DI JAKARTA SELATAN (Studi Kasus : Wilayah Tebet Barat) Susy Irma Adisurya
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1677.611 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i1.2331

Abstract

AbstractTo have a house in Jakarta, for people with middle income is not easy, because the price of the land offered is high and the land in the center of the city are limited. Land area mapping for houses is not as large as in the 1980s. For the area of Tebet Barat, the available land which also has a higher demand is an area of about 90 m2 - 120 m2, with length and width as follows: 15 m x 6 m, 15 m x 7 m and 15 x 9 m. Limited land area forhouses resulted in the number of houses built in the form of terraced (vertical) on the ground that a necessary space for a family could be fulfilled. The limited area of the house resulted in the layout of space undergoing significant changes. The kitchen has variety of activities. The main activities is to process ingredients into a fine dish, so the kitchen become one of the important place in the designing process. Limited land area is also caused another problems. Does the kitchen layout changed? Or does the resident's perspective about kitchen change as well?To overcome the problem, we will conduct a research by using qualitative method. The result of this research is that there are lot of changes in the kitchen layout of the house and changes the perspective related to function and activities of the residents while in the kitchen.   AbstrakUntuk memiliki rumah tinggal di Jakarta, bagi masyarakat dengan tingkatekonomi menengah tidak mudah, karena harga tanah yang ditawarkan tinggi dan lahan perumahan di pusat kota yang sedikit. Pemetaan luas tanah untuk rumah tinggal tidak besar seperti pada tahun 1980-an. Untuk daerah Tebet Barat luas tanah yang tersedia dan banyak diminati adalah tanah yang memiliki luas sekitar 90m2 -120m2, dengan ukuran panjang dan lebar sebagai berikut : 15m x 6m, 15m x 7m dan 15 x 9m. Luas tanah yang terbatas untuk rumah tinggal mengakibatkan banyaknya rumah yang dibangun dengan bentuk bertingkat (vertical) dengan alasan agar kebutuhan ruang yang diperlukan sebuah keluarga dapat tercapai.Luas rumah yang terbatas mengakibatkan tata letak ruangnya mengalamiperubahan. Dapur memiliki kegiatan yang beragam, kegiatan utamanyamengolah bahan makanan menjadi masakan, karena itu dapur menjadi salah satu ruang penting dalam proses perancangan tempat tinggal. Lahan yang terbatas ini menimbulkan permasalahan, apakah tata letak dapur mengalami perubahan dan apakah cara pandang penghuni terhadap keberadaan dapur pada rumah tinggal mengalami perubahan juga? Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka daUntuk menjawab permasalahan tersebut, maka dalam penelitian ini, kamiakan melakukan penelitian dengan menggunakan metode Kualitatif. Hasilyang di dapat adalah adanya perubahan tata letak dapur pada lay out rumah tinggal dan adanya perubahan cara pandang yang berhubungan dengan fungsi dan kegiatan penghuni saat berada di dapur.Kata kunci: dapur, rumah tinggal, tata letak
WARNA TENUN DOYO SEBAGAI EXPRESI MASYARAKATNYA (TANJUNG ISUY - KUTAI BARAT) Mita Purbasari; Anita Rahardja
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1179.806 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i2.2864

Abstract

AbstractTenun Doyo is a type of woven connective made by a live fibers doyo (Curliglia Latifolia). Doyo is a plant kind of a strong pandanus fibrous and growing wild in the Kalimantan’svillage, such as in Tanjung Isuy, Jempang-West Kutai. Weaving is famous not only forusing a basic source of some natural fibers, but also because it tinged with a natural dye.The research focus on experiment composition a variaton of color based on a naturaldye of West Kutai and new motives or patterns based on the surrounding environment.Used qualitative method that based on Research Through Design method. Design as research is known more as Practice Based Research or Action Research, involvingsystimatic research through practical activity. By using the Practice Based Research,the results could be some new things in infomation form to open the insight, possibilityof forms, process, concept and knowledge. The outcome intended to create the colorsvariantions for the pattern or motive, which comes from the nature objects in WestKutai, so the woven doyo’s colors have had more range and finally they have had manyvarioations. Hopefully, the colors’s variations have the meaning that reflecting the valueand culture of West Kutai in general and villages nearby in particular. The existence ofcolors and motives are expected to revitalise the Dayak Benuaq tribe in West Kutai toincrease the willing for weaving in order that the expertise not extinct and sustainableheredity. It can maintain the Tanjung Isuy local indigous and increase the communityproductivity.  AbstrakTenun doyo merupakan jenis tenun ikat berbahan serat daun doyo (Curliglia latifolia). Doyo adalah tanaman jenis pandan yang berserat kuat dan tumbuh liar di pedalaman Kalimantan, diantaranya di desa Tanjung Isuy, Jempang, Kutai Barat. Tenun doyo tidak hanya terkenal karena menggunakan bahan dasar serat alami, namun juga karena diwarnai dengan pewarna alami. Penelitian ini fokus pada eksperimen komposisi variasi warna berdasarkan pewarna alami dari Kutai Barat sendiri dan motif baru berdasarkan lingkungan sekitarnya. Menggunakan metode kualitatif di mana metode research through design menjadi dasarnya. Design as research lebih dikenal dengan nama practice based research atau action research, melibatkan riset sistimatis melalui aktivitas praktis. Di manahasilnya dapat merupakan hal-hal baru dalam bentuk informasi untuk membuka wawasan, kemungkinan bentuk-bentuk, proses, konsep, dan pengetahuan. Hasil penelitian ditujukan untuk membuat variasi warna-warna bagi motif yang bersumber dari objek-objek alam di Kutai Barat, sehingga warna tenun doyo
IDENTIFIKASI KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN UMKM BANTEN BERBASIS PRODUK KRIYA Devanny Gumulya
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1138.695 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i2.2865

Abstract

AbstractSmall micro enterprise is one of the important factor in Indonesia economy, due to its capability to employ high number of workers. Product design is one of disciplines that really close to SME in particular handicraft SME. This study is started because product design students often find difficult in looking for artisans near Pelita Harapan University. As a result, they go to Bogor, Bandung, Cirebon and Jakarta for making product. Wira Multi Agung, Bamboo Hat Community, Pelangi Crochet, Pak BudhyWorkshop are the four SMEs studied in this paper. They’re many other handicraft SMEs in Banten. From the study, founded that SMEs really need product designer’s expertise, because mostly the SMEs’ design is from buyers that come to them. Therefore, a system need to be made to connect product design student in Universitas Pelita Harapan danhandicraft SMEs in Banten.  AbstrakUsaha kecil mikro menengah adalah salah satu motor perekonomian negara Indonesia, karena mampu menyerap tenaga kerja yang demikian banyak. Desain Produk adalah salah satu ilmu yang sangat dekat dengan UMKM .khususnya UMKM berbasis Kriya. Kajian ini dilatar belakangi karena kesulitan mahasiswa desain produk untuk mencari pengrajin sekitar kampus Universitas Pelita Harapan, sehingga mereka sering kali harus pergi ke Bogor, Bandung, Cirebon, Jakarta untuk pembuatan produk. UMKM yang distudi adalah Wira Multi Agung, Komunitas Topi Bambu, Rajutan Pelangi, Bengkel Pak Budhy. Mereka adalah sebagian kecil dari UMKM yang ada di Banten. Di dapatkan hasil bahwa UMKM sangat memerlukan bantuan desain produk, karena desain sepenuhnya masih bergantung pada customer yang datang. Rekomendasi daristudi ini adalah perlu dibuat mekanisme terstuktur yang menghubungkandesain produk di Universitas Pelita Harapan dan UMKM Banten berbasis kriya.