cover
Contact Name
I Putu Udiyana Wasista
Contact Email
udiyanawasista@isi-dps.ac.id
Phone
+628123970292
Journal Mail Official
igel_journal@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Jalan Nusa Indah, Banjar Abiankapas Tengah, Denpasar, Bali, 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Igel: Journal of Dance
ISSN : -     EISSN : 28023245     DOI : https://doi.org/10.59997/journalofdance
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal IGEL : Journal Of Dance memiliki makna kolaboratif berbagai elemen serta usaha kerja keras dalam membangun ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni tari secara luas, baik dalam matra lokal, regional, nasional maupun global.
Articles 173 Documents
Proses Kreatif Tari Eling Bhumi Di Sanggar Pancer Langit Desa Kapal Kabupaten Badung Ni Komang Ari Andayani; I Kt. Suteja; Kompiang Gede Widnyana
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 1 (2023): Terbitan Kesatu Bulan Juni tahun 2023
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/journalofdance.v3i1.2380

Abstract

Tujuan penciptaan berjudul Proses kreatif tari Eling Bhumi di Sanggar Pancer Langit adalah untuk kreatifitas karya tari kontemporer. Sanggar Pancer Langiit merupakan salah satu sanggar yang terletak di Desa Kapal Kabupaten Badung, yang juga memiliki makna sebagai pusat atau sumber dari segala kekuatan dan langit/lelangit yang berarti leluhur simbol pelindung yang abadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode kualitatif, karena data yang diperoleh berupa wawancara yang kemudian hasil dari wawancara tersebut dideskripsikan melalui tulisan dengan kalimat yang detail serta menggunakan teknik dokumentasi dan teknik studi pustaka. Tari kontemporer Eling Bhumi menggambarkan atau menanggapi fenomena pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia saat ini, fenomena ini juga membuat segala sektor kehidupan menjadi terdampak. Konsep garap Eling Bhumi ini mencoba untuk mengolah secara kreatif beberapa unsur gerak tubuh dalam tari dan musik serta mengolahnya dengan memadukan aspek visual permainan properti lontar sehingga menjadi karya seni yang utuh.   Kata Kunci: Proses Kreatif, Tari Eling Bhumi, Pancer Langiit
PERKEMBANGAN SANGGAR TARI WARINI PADA SAAT PANDEMI COVID-19 Kadek Ayu Mira Subandi; I.A Wimba Ruspawati; I Wayan Budiarsa
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 1 (2023): Terbitan Kesatu Bulan Juni tahun 2023
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/journalofdance.v3i1.2381

Abstract

Sanggar Warini is one of the famous studios in Denpasar City, formed on March 15, 1973, chaired by Ni Ketut Arini, SST which is located on Jl. Kecubung Gang Soka No. 1, Banjar Lebah, Sumerta Kaja Village, East Denpasar. Sanggar Warini has been in the art world for a long time. This studio is engaged in the arts, especially dance. This studio is a place for children's creativity to develop, and this studio and Ms. Arini have produced many young generations who will develop and preserve art. and culture in Bali, besides that many works of art have been born from the Sanggar Warini. Sanggar Warini has hundreds of students consisting of girls and boys. This studio has developed to date, but in the last 2 years there have been obstacles due to the Covid-19 Pandemic which is not allowed to carry out activities that trigger crowds. Keywords: Sanggar Warini, Covid-19, Development, Dance Art
Estetika Tari Lango Dewi di Pura Beji Langon Ni Luh Putu Erika Yulianti; Ida Ayu Trisnawati; Sulistyani Sulistyani
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 1 (2023): Terbitan Kesatu Bulan Juni tahun 2023
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/journalofdance.v3i1.2382

Abstract

ABSTRACT Lango Dewi dance, inspired by a group of nymphs who came to Beji Langon to take Toya Amertha. Beji Langon, also known as Pancoran Dedari, is located in Kapal Village, Mengwi, Badung. Beji Langon Temple is a temple that serves as the location of Ida Bhatara's purification which is located at the Kahyangan Temple in the Three Traditional Ship Villages, namely Pura Desa, Pura Puseh and Pura Dalem. The manifestation of Ida Sang Hyang Widhi who is worshiped at Beji Langon Temple is Dewi Gangga, as the Goddess of water who is in charge of purifying this universe. Goddess Gangga is worshiped at Beji Langon Temple because at this temple a statue of the goddess was found sitting in the middle of the main pool of Beji Langon Temple. Thus, this Beji temple functions as a place of purification and cleansing on a scale and no basis). Beji Langon Temple is one of the relics of an old site in Badung that has recorded traces of water civilization in the Badung area. On this occasion the researcher took the MBKM policy for the Research or Research program with the object of research being the Lango Dewi Dance. The purpose of this study was to analyze the aesthetics contained in the Lango Dewi Dance. The method used in this research is qualitative method. The research method includes observation, interviews, literature study, and documentation. The function and meaning can be seen, the primary and secondary functions of the Lango Dewi Dance and the meaning to society and the Lango Dewi Dance studio. Keywords: Lango Dewi, Beji Langon Temple, Form, Aesthetics, Meaning and Function.
KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI TARI REJANG NYUTRI DESA BEDULU, KECAMATAN BLAHBATUH, KABUPATEN GIANYAR Ida Ayu Ari Dwi Cahyani; Gusti Ayu Ketut Suandewi; Kompiang Gede Widnyana
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/journalofdance.v3i1.2880

Abstract

Abstrak Bali memiliki bermacam – macam jenis tari rejang khususnya di Kabupaten Gianyar, salah satunya Desa Bedulu. Tari Rejang Nyutri Meayunan di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Tari Rejang Nyutri Meayunan merupakan salah satu tarian sakral yang berasal dari Desa Bedulu dan ditarikan di Pura Gunung Sari Desa Bedulu setiap satu tahun sekali. Tari ini memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri sehingga tarian ini layak untuk dijadikan objek penelitian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tiga landasan teori yaitu, teori fungsional, teori estetika, dan teori semiotika. Data – data mengenai tari ini diperoleh dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Tari Rejang Nyutri Meayunan merupakan sebuah tari sakral yang berada di Desa Bedulu dan ditarikan di Pura Gunung Sari setiap satu tahun sekali. Tari ini berbentuk tari sakral yang ditarikan secara berkelompok. Tarian ini hanya boleh ditarikan oleh jero permas atau wanita yang telah mengalami proses penyucian secara niskala. Para jero permas menggunakan kebaya putih, kamen hitam, dan selendang hitam saat menari. Kemudian pada bagian kepala, para jero permas menggunakan pusung tagel dan diisi bunga pucuk merah atau bunga berwarna merah. Tari Rejang Nyutri Meayunan memiliki gerak yang sederhana dan diiringi dengan gamelan angklung atau gong gede dengan lelambatan tabuh pisan. Masyarakat setempat memfungsikan tarian ini sebagai tari sakral. Selain itu, masyarakat setempat juga mengaitkan tarian ini dengan perekonomian masyarakat di Desa Bedulu. Adapun beberapa aspek dari Tari Rejang Nyutri Meayunan ini jika diselami memiliki makna keseimbangan. Kata kunci : Tari Rejang Nyutri Meayunan, Bentuk, Fungsi
Tari Lila Mahayu Ni Wayan Mirah Mayra Mentari; A.A Ayu Mayun Artati; Ni Nyoman Kasih
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Karya tari Lila Mahayu merupakan garapan tari baru yang terinspirasi dari tradisi yang berada di Desa Bantiran yaitu Rejang Ayunan. Dalam garapan ini tradisi Rejang Ayunan dikaitkan dengan proses kehidupan manusia dalam suatu pencapaian sehingga mencapai suatu kegembiraan. Kata Lila berasal dari bahasa Bali yang berarti senang sedangkan Mahayu berasal dari bahasa jawa kuno yang berarti gembira. Karya ini memiliki tema kegembiraan sesuai dengan makna dari rejang ayunan. Tari Lila Mahayu berbentuk tari kelompok dengan enam orang penari putri. Dalam penciptaan tari Lila Mahayu,metode yang digunakan adalah metode Anggripta Sesolahan. Karya tari Lila Mahayu berdurasi 10 menit dengan iringan tari Gong kebyar. adapun strukturnya terdiri dari Pepeson, Pengawak, Pengecet, Pekaad. Estetika dalam karya tari Lila Mahayu mengacu pada teori Estetika oleh A.A.M. Djelantik. Nilai yang terkandung dalam garapan tari Lila Mahayu adalah nilai perjuangan. Kata kunci : Lila Mahayu, Rejang Ayunan, perjuangan
Karya Tari Sona I Putu Pande Surya Pramana; Sulistyani; I Putu Bagus Bang Graha Saputra
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Karya Tari Sona adalah karya yang mengambil sumber kreatif dari epos mahabharata bagian terakhir yaitu kesetiaan seekor anjing (Asu) kepada yudhistira yang terkandung dalam buku swargarohanaparwa. Dalam penciptaan karya Tari Sona ini pencipta jadikan kesetiaan seekor anjing kepada tuanya sebagai pemantik ide koreografi. Sona dalam bahasa jawa kuna yang artinya anjing, judul ini menjelaskan karakter seekor anjing yang setia kepada manusia. Pada proes penciptaanya, pencipta bekerja sama dengan Sanggar Seni Dharmawangsa dalam program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka dengan mengambil program studi proyek independen. Penciptaan Karya Tari Sona menggunakan metode Alma M. Hawkins terjemahan I wayan Dibia pada tahun 2003. Di dalam buku tersebut dijelaskan tiga tahapan penciptaan antara lain Tahap Penjajagan (eksplorasi), Tahap Percobaan (improvisasi), danTahap Pembentukan (forming). Karya Tari Sona merupakan tari kontemporer yang dibawakan secara kelompok dengan struktur tarianya terdiri dari tiga bagian yang berdurasi 12 menit. Musik karya tari ini menggunakan instrumen Logic Pro Digital seperti marimba, stringquartet, syntizer, drum pad, drum synth kit, bass, cymbal. Tata rias yang digunakan dalam karya tari ini memilih bentuk wajah anjing yang dipadukan dengan kostum bernuansa hitam yang terdiri dari strait stoking full body, kalung dan hiasan kepala yaitu rambut gimbal. Pencipta berharap nillai-nilai yang terkandung dalam garapan ini dapat diimplementasikan ke pribadi dan masyarakat untuk selalu menanamkan rasa kesetiaan sesama mahkluk hidup dan sekitarnya. Kata kunci: Anjing, Manusia, Kesetiaan
Tari Nampi, perubahan diri untuk masa depan I Wayan Gede Artha Saputra; I Gusti Ngurah Sudibya; I Wayan Adi Gunarta
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengalaman empiris adalah sesuatu yang dirasakan secara individual dan biasa terjadi pada saat indera merasakan, melihat, mendengar, serta melaksanakan sesuatu. Pengalaman selalu ada pada setiap individu guna memberikan pengetahun baru serta menjadi guru utama dalam menjalani kehidupan. “Pengalaman adalah guru yang terbaik” yang diutarakan oleh Julius Cesar. Pengalaman empiris yang penata rasakan dan menghancurkan perasaan penata saat bersekolah di SMK N 3 Sukawati menjadi ide dalam menciptakan sebuah karya tari, dengan judul Nampi. Karya tari Nampi merupakan karya tari dengan pola garap kontemporer, berbentuk kelompok besar dengan penari berjumlah 10 orang yang diantaranya 6 orang penari laki-laki dan 4 orang penari perempuan. Kata Nampi berasal dari bahasa Bali yaitu menerima, dalam sebuah pengalaman atau proses yang dilalui setiap individu selalu mendapatkan sesuatu guna menjadi senjata ataupun wawasan. Karya tari Nampi memiliki struktur yang digunakan adalah awal, isi dan akhir. Setiap bagian struktur memiliki pembicaran yang berbeda, pesan serta tujuan yang memiliki keinginan yang sama. Dalam pembicaraan setiap struktur terdiri dari pengalam pahit, proses, dan perjuangan. Dalam menciptakan karya tari Nampi penata menggunakan metode Alma M. Hawkins yang terdiri dari 3 tahap yaitu tahap eksplorasi, improvisasi, dan forming. Melalui tahap-tahap yang telah dilakukan penata menemukan sebuah gerakan- gerakan yang berasal dari kegiatan sehari-hari dan menjadi sumber dari gerak yang digunakan. Terciptanya karya tari Nampi memiliki pesan serta tujuan untuk memberikan pemikiran baru atau sudut pandang baru dalam menjalani perjalanan hidup. Kata Kunci: pengalaman, kehidupan, proses
Karya Tari Same Plin I Wayan Tisna Dana; I Kt Suteja; Ni Nyoman Kasih
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Charlie Chaplin adalah seorang tokoh dunia yang inspiratif dikenal sebagai pemain film, sutradara, dan komposer pada tahun 1889-1977. Dalam film-film yang diciptakan dan diperankan Chaplin, selalu menampilkan kelucuan, kebahagiaan, dan kekonyolan. Walaupun dikenal dengan karakter yang demikian, ternyata Chaplin mengalami keterpurukan dalam hidupnya, sejak Ia kecil hingga dewasa. Melalui fenomena tersebut, pencipta tertarik untuk menciptakan karya tari yang berjudul Same Plin. Proses penciptaan karya tari Same Plin menggunakan metode Bergerak Menurut Kata Hati Metoda Baru dalam Mencipta Tari oleh I Wayan Dibia. Metode Penciptaan tersebut didalamnya meliputi lima tahapan penting, yaitu merasakan, menghayati, mengkhayalkan, mengejawantahkan, dan memberi bentuk, serta menggunakan teori imaji dan imajinasi oleh Tedjoworo. Karya tari Same Plin adalah karya tari yang mengisahkan kebahagiaan dan kelucuan Charlie Chaplin di depan orang banyak atau di atas panggung, namun sebenarnya memiliki kehidupan yang sulit dan terpuruk. Karya ini bertemakan kehidupan sosial yang ditarikan oleh 8 (delapan) orang penari dengan menggunakan iringan musical instrument digital interface (MIDI) yang berisikan instrument dari plugin orkestra. Kata kunci: same plin, kebahagiaan, keterpurukan, kontemporer
Edukasi Dasar Tari Bali Perempuan oleh Ni Ketut Arini Komang Indah Parasari; I Ketut Sariada; Ni Nyoman Manik Suryani
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Judul penelitian ini adalah Edukasi Dasar Tari Bali Perempuan oleh Ni Ketut Arini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara penerapan edukasi dasar tari Bali perempuan kepada anak-anak di Sanggar Warini. Untuk mendapatkan ilmu tentang edukasi dasar tari Bali perempuan setelah pelaksanaan magang di Sanggar Warini. Ingin membagikan ilmu tentang edukasi dasar tari Bali perempuan di masyarakat. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif, yaitu memperoleh data secara objektif sehingga mampu mendeskripsikan objek yang diteliti. Selain menggunakan metode deskriptif penulis juga menggunakan pendekatan kualitatif yaitu, menjelaskan dan menganalisis fenomena, peristiwa dengan menuangkannya ke dalam tulisan. Pelaksanaan edukasi dasar tari Bali perempuan oleh Ni Ketut Arini melalui beberapa tahapan sebagai berikut, tahap pertama melakukan gerak-gerak dasar tari Bali perempuan seperti agem, tandang, tangkis dan tangkep. Tahap kedua menarikan jenis tari yang diajarkan seperti Tari Pendet, Tari Panyembrama, Tari Legong Keraton Lasem, Tari Margapati, Tari Puspanjali, Tari Baris Tunggal, Tari Gopala, Tari Wirayuda dan Tari Oleg Tamulilingan. Adapun faktor pendukung edukasi dasar tari Bali perempuan oleh Ni Ketut Arini yaitu peran aktif pendiri Sanggar Warini, adanya interaksi yang baik antara pelatih dengan peserta didik, proses pembelajaran yang berkualitas, sarana dan prasarana yang memadai. Faktor penghambat edukasi dasar tari Bali oleh Ni Ketut Arini yaitu pola perilaku pelatih dengan peserta didik yang terkadang sulit diatur. Kata Kunci : Edukasi, Ilmu, Metode, Pelaksanaan
Artikel Hasil Riset/Penelitian Skripsi Menganalisis Makna Gerak Tari Terang Bulan Di Sanggar Seni Nggara Simbelin Desa Lingga Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo Miranti Br Sembiring; Tjok. Istri Putra Padmini; Made Ayu Desiari
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tari Terang Bulan merupakan tarian kreasi tradisi yang berasal dari Tanah Karo, tarian ini diperkirakan lahir disekitar tahun 1965. Makna dari tarian ini adalah pertemuan muda mudi di tempat menumbuk padi yang disebut lesung pada saat terang bulan dari situlah tercipta Tari Terang Bulan. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan analisis makna gerak, kostum yang digunakan, pola lantai, dan instrumen yang digunakan dalam Tari Terang Bulan di Sanggar Seni Nggara Simbelin Desa Lingga. Metode penelitian yang digunakan yakni metode kualitatif, metode kuantitatif serta observasi partisipasi. Dan teknik pengumpulan data dengan observasi, observasi partisipasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerak Tari Terang Bulan terdiri dari lima ragam gerak, kelima ragam gerak mengarah bagaimana seharusnya tahap-tahap untuk mendekati seorang gadis yang disukai oleh laki-laki. Kostum yang digunakan dalam Tari Terang Bulan bermakna kesopanan dan perlindungan dari pandangan masyarakat yang melihat. Pola lantai yang digunakan bermakna sebagai cara sepasang kekasih untuk menyampaikan rayuan-rayuan kepada lawan jenis. Dan untuk instrumen yang digunakan ada lima jenis yang disebut dengan Gendang Lima Sada Perarih. Kata kunci : Sanggar, Simbelin, Terang Bulan.

Page 10 of 18 | Total Record : 173