cover
Contact Name
I Putu Udiyana Wasista
Contact Email
udiyanawasista@isi-dps.ac.id
Phone
+628123970292
Journal Mail Official
igel_journal@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Jalan Nusa Indah, Banjar Abiankapas Tengah, Denpasar, Bali, 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Igel: Journal of Dance
ISSN : -     EISSN : 28023245     DOI : https://doi.org/10.59997/journalofdance
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal IGEL : Journal Of Dance memiliki makna kolaboratif berbagai elemen serta usaha kerja keras dalam membangun ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni tari secara luas, baik dalam matra lokal, regional, nasional maupun global.
Articles 173 Documents
Tari Kreasi Natyaning Kawangen Sindi, kadek; Ruspawati, Ida Ayu Wimba; Adnyana, Anak Agung Ketut Oka
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 1 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 1 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i1.3281

Abstract

TARI KREASI NATYANING KAWANGENOleh : Kadek Sindi NIM. 202001031Tari Kreasi Natyaning Kawangen adalah tari kreasi baru yang menceritakan tentang wujud dari salah satu sarana persembahyangan yaitu Kawangen yang merupakan salah satu wujud nyata (pengamalan) sujud bakti yang ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Alasan pencipta mengangkat tema ini karena pencipta ingin menampilkan keagungan atau keindahan Kawangen yang diwujudkan oleh seorang wanita karena memiliki penampilan yang indah. Pada proses penciptaannya, pencipta bekerjasama dengan Sanggar Warini dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka dengan mengambil program Studi/Projek Independen. Penciptaan Tari Kreasi Natyaning Kawangen menggunakan metode penciptaan Angripta Sasolahan (menciptakan tari-tarian) oleh I Kt. Suteja dalam buku Catur Asrama Pendakian Spiritual Masyarakat Bali Dalam Sebuah Karya Tari. Di dalam buku tersebut dijelaskan lima tahapan penciptaan yaitu ngerencana, nuasen, makalin, nelesin, dan ngebah. Tari Kreasi Natyaning Kawangen merupakan tari kreasi yang dibawakan secara kelompok yang ditarikan oleh 6 orang penari wanitadengan struktur tarinya yaitu pepeson, pengawak, pengecet, pekaad yang berdurasi 12.16 menit. Pencipta berharap nilai-nilai yang terkandung dalam karya ini dapat menampilan keagungan dan keindahan Kawangen.Kata Kunci: Tari Kreasi, Natyaning Kawangen, Sarana Persembahyangan
Tari Sang Hyang Penyalin Putratama, I Kadek Renanda Satria; Suryani, Ni Nyoman Manik; Wahyuni, Ni Komang Sri
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 1 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 1 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i1.3286

Abstract

Karya tari yang yang berjudul Sanghyang Penyalin merupakan salah satu karya tari  yang  disuguhkan dalam bentuk tari yang bersifat religious dan secara khusus berfungsi sebagai tarian penolak bala atau wabah penyakit. Karya tari SangHyang Penyalin disajikan dalam bentuk tari kelompok yang berjumlah enam orang penari laki-laki. Metode yang digunakan pada karya ini, yaitu Angripta Sesolahan (menciptakan tari-tarian),  menggunakan musik iringan midi (musical instrument digital interface) dengan durasi karya 12 menit 
Tari Tunjung Biru Pertiwi, Ni Wayan Eka Sri; Arshiniwati, Ni Made; Gunarta, I Wayan Adi
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 2 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 2 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i2.3373

Abstract

Tunjung Biru is a dance creation that originating from Sang Hyang Dedari in Br. Pujung Kaja, Sebatu, Tegallalang, Gianyar. Tunjung Biru has a beautiful appearance with strong characteristics, creatively expressed in the New Creation Dance with a magical religious theme. The purpose of creating Tunjung Biru is to preserve and also introduce the art in Br. Pujung Kaja, Sebatu, Tegallalang, Gianyar, especially Sang Hyang Dedari. The creation of this dance creation utilizes the angripta-sasolahan method by I Kt. Suteja, involving stages: planning (ngarencana), ritual ceremony (nuasen), selection and improvisation (makalin), formation (nelesin), and first performance (ngebah). Ngerencana involves observation, thinking, and imagination about the creative sources used. Nuasen is a ritual ceremony before improvising movements, including a prayer performed by all dancers. Makalin involves selecting supporting elements and improvising movements. Nelesin is the formation stage, summarizing the obtained improvisations. Ngebah is the first performance to reveal the work and receive feedback. The creation process incorporates the theories of imagination, symbols, and aesthetics. Tunjung Biru is presented as a New Creation Dance performed by 7 female dancers with kekereb properties, minimalistic makeup, and attire inspired by Sang Hyang Dedari in black and white tones. Accompanied by Gamelan Selonding to enhance the atmosphere of each presented structure. The novelty in this work can be seen from the costumes used, the music, to the new movement patterns to get the characteristic movements such as the Nyapuh Movement, the Dedari Tunjung Biru Movement, and the Tenget Movement so that this work becomes beautiful, supported by chanting hymns and lighting which helps the artist to create convey the desired atmosphere.
Karya Tari Kontemporer Butterfly Hug Tanalepy, Nada Lunetta Laura; Padmini, Tjok. Istri Putra; Kustiyanti, dyah
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 2 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 2 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i2.3377

Abstract

The contemporary dance named Butterfly Hug is a type of dance study that originated from the creator's fascination with psychology that combined with art of dance. The inspiration behind this dance stems from the butterfly hug psychotherapy method. This dance emphasizes movements that the cross-shaped actions and the essence of embracing and patting, while doing the butterfly hug method. For the pursuit of the Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) Study/Project Independent program, the creator partnered with the Wayan Geria Foundation (GEOKS). The creation process of this dance adheres to the Alma Hawkins method, progressing through three distinct stages: exploration, improvisation, and forming. Comprising seven female dancers, the group performance spans a duration of 12 minutes. Crafting movements that exude creativity and sensitivity posed challenges in composing a piece that avoids monotony. Through this work, the creator aspires to offer a fresh perspective, especially within the artistic realm, by amalgamating two diverse disciplines to produce a unique artwork.
MOGO GAPII WINARKO, GALANG BIMA PUTRA WINDURA; Artati, Anak Agung Ayu Mayun; Widnyana, Kompiang Gede
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 2 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 2 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i2.3385

Abstract

The Mogo Gapii dance work started from a creative idea, namely Bakar Batu. It is necessary to pay attention to the limitations in order to clarify the extent of the ideas being discussed. Bakar Batu is a Papuan tradition in the form of a cooking ritual carried out together by village residents which aims to express gratitude, permission, death, bersilahturahmi (gathering of relatives and relatives, welcoming happiness (birth, traditional marriage, coronation of tribal chief), as well as to gather soldiers who died due to inter-tribal wars. This stone burning tradition is believed to have been going on for hundreds of years and is the oldest tradition in Papua. Stone burning is an original tradition of mountain tribe communities including the Agmungme, Dani, Lani, Damal, Nduga, Moni and Ekari tribes. The way to differentiate the Burning Stone Ceremony after burning between tribes from others is at the beginning of the Burning Stone ceremony itself. If the ceremony begins with men shooting pigs, then dancing together with jumping movements and circular patterns filled with shouts. which is interpreted as encouragement, it means the Stone Burning Ceremony after the tribal war. If at the beginning of Bakar Batu the men do not shoot arrows at the pig but instead immediately slaughter the pig as usual, it means that the Bakar Batu Ceremony is a ceremony such as marriage, birth, thanksgiving after the harvest and so on.
Megumi Chaksu: Sebuah Transformasi Kecantikan Sinar Matahari Dalam Bentuk Karya Tari Devi, Putu Rismayuni; Sariada, I Ketut; Satyani, Ida Ayu Wayan Arya
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 1 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 1 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i1.3391

Abstract

Tari Megumi Chaksu adalah sebuah tari kreasi baru dengan menjadikan Amaterasu, Dewi Matahari dalam Mitologi Jepang sebagai sumber kreatif penciptaan. Penata mencoba mentransformasikan mengenai akulturasi budaya antara Jepang dan Bali dengan mengimplementasikan sudut pandang penata dalam hal gerak, musik, tata rias, dan tata busana. Penciptaan Tari Megumi Chaksu menggunakan metode penciptaan Panca Sthiti Ngawi Sani yang dibuat oleh Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST, MA. yang meliputi: Ngawirasa, Ngawacak, Ngarencana, Ngawangun, dan Ngebah. Tari ini dibawakan secara kelompok dengan karakter putri halus menggunakan 7 orang penari perempuan dengan struktur tari, bagian 1 menggambarkan kecantikan Amaterasu, bagian 2 menggambarkan sinar matahari yang dipancarkan oleh Amaterasu, dan bagian 3 menggambarkan pemujaan terhadap Amaterasu. Durasi karya ini adalah 11 menit dengan menggunakan pendekatan persandingan laras utama pada gamelan Semarandana yang dikolaborasikan dengan beberapa instrumen Jepang dan efek dari sample bunyi dengan media aplikasi Musical Instrumen Digital Interface (MIDI). Menggunakan tata rias dan tata  busana dari perpaduan antara Jepang dan Bali. Properti payung dan kipas panjang  led juga sangat berperan penting untuk mendukung kesuksesan dan menunjang estetika dari karya Tari Megumi Chaksu.
Rekonstruksi tari Penasar, wijil, dan Topeng Tua dalam Dramatari Topeng Panca di Desa Adat Batur Kintamani, Bangli Suanditha, Kadek Rai; Suteja, I Ketut; Negara, I Gede Oka Surya
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 2 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 2 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i2.3392

Abstract

Topeng Panca is a traditional dance form, and it is one of the mask performances performed by five dancers, each assuming different characters or roles: Topeng Keras, Topeng Tua, Topeng Dalem Arsa Wijaya, Topeng Penasar, and Topeng Sidakarya. The village of Batur was chosen as the partner by the author for the Merda Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) program, specifically the Thematic Community Service Learning (KKNT). The reconstruction process of the Topeng Panca dance in the Batur village employed the Demonstration learning method, which involves presenting the material through demonstration or using movement media, making it easier for students to comprehend the presented content. The author's hope in reconstructing the Topeng Panca dance is to revitalize the art of Topeng dance, particularly in the endangered context of the Adat Batur village. In the future, during ceremonial events like odalan or Yandya ceremonies in the Batur village, the dancers can perform the Topeng Panca dance to enhance the flow of the Yandya ceremony in the village.  
Sapta nayaka putra pradnyana, I made bramastya; Sulistyani, Sulistyani; Sutirtha, I Wayan
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 2 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 2 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i2.3397

Abstract

Karya tari bebarisan sapta nayaka merupakan karya tari tradisi yang mengambil jenre bebarisan, karya tari ini berdurasi 12 menit 5 detik. Karya tari bebarisan sapta nayaka terinspirasi dari salah satu prosesi upacara yang ada didesa Semanik yaitu upacara neduh ayu yang didalamnya terdapat tari baris sumbu sebagai salah satu prosesi upacara neduh ayu. Dari tari baris sumbu inilah pencipta terinspirasi untuk menjadikan sebuah karya tari yang baru, dengan mengangkat nilai-nilai spirit atau kekuatan dari tari baris sumbu itu sendiri. Karya tari bebarisan sapta nayaka menjadi media ungkap proses ketubuhan pencipta dari beberapa tahun yang lalu hingga saat ini, karya tari ini berangkat dari gerak nengkleng sebagai identitas spesifik dan unik lalu dikembangkan dan dikemas berdasarkan kreatifitas penata sehingga mendapatkan sesuatu bentuk yanbg baru tanpa meninggalkan spritit dari tari baris sumbu itu sendiri.
Representasi Kekuatan Dewa Brahma, Wisnu, dan Iswara melalui Penciptaan Tari Kreasi Solah Sura Dewi, Kadek Diah Mutiara; Negara, I Gede Oka Surya; Sutirtha, I Wayan
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 1 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 1 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i1.3757

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai penciptaan sebuah karya seni tari kreasi baru yang bersumber dari Lontar Tutur Barong Swari, menggambarkan pembawaan 3 tokoh yang bersumber dari Dewa Brahma, Wisnu, dan Iswara dalam perwujudannya yakni sebagai penari Telek, Topeng Bang, dan Barong Swari. Ide karya tari ini dilatarbelakangi oleh fenomena minimnya karya tradisi yang dikembangkan oleh para seniman khususnya seniman muda serta “Gender Issue” yang ada di lingkungan mitra studi. Tujuan dari penciptaan karya tari Solah Sura ini adalah: (1) Mengajak masyarakat untuk menumbuhkembangkan daya kreatifitas dan meningkatkan kemampuan diri dalam seni tari, untuk menciptakan sebuah karya kreatif yang original melalui pengolahan maupun pengembangan gerak.; (2) Menjadi sumber refrensi untuk karya-karya baru yang akan diciptakan dikemudian hari; (3) Untuk berkontribusi terhadap kemajuan dan kecemerlangan cipta tari yang bekerja sama dengan Sanggar Seni Taksu Murti Kemanisan. Proses atau tahapan penciptaan yang dilalui meliputi: (1) Ngarencana, (2) Nuasen, (3) Makalin, (4) Nelesin, dan (5) Ngebah. Karya ini diwujudkan dalam bentuk tari kreasi baru yang terdiri dari tiga orang penari putri dengan fokus menggambarkan karakter dari Dewa Brahma, Wisnu, dan Iswara. Struktur karya ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu awal, isi dan akhir. Iringan tari yang digunakan pada karya ini adalah Gamelan Selonding dengan penambahan beberapa instrumen seperti kendang, suling, gentorag, cengceng ricik, dan gong. Tari Solah Sura ini menggunakan tata rias tari Bali modifikasi dan konsep tata busana yang terinsiprasi dari Lukisan Wayang Kamasan. Hasil dari proses penciptaan tari solah Sura dipentaskan di Gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia Denpasar.
Tari Sesandaran Di Griya Delod Pasar Desa Adat Intaran; Kajian Bentuk, Fungsi Dan Makna. Sidhi, I Putu Gede Serana Asta; Trisnawati, Ida Ayu; Widnyana, Kompiang Gede
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 1 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 1 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i1.4196

Abstract

The Sesandaran dance at Griya Delod Pasar is a bebali dance that is sacred to the people and was born in the Intaran Traditional Village. This Sesandaran Dance is the same as the Telek Dance which uses a white tapel or mask and has a subtle character. Of course, the Sesandaran Dance which is located at Griya Delod Pasar is created with its own characteristics and identity. These characteristics exist at the beginning, the form of the dance. This Sesandaran Dance Research uses a qualitative research method with a descriptive qualitative approach. The research data was obtained through several stages, namely observation, structured and unstructured interviews, and indirectly through library research and documentation studies. The final task of the independent learning program in the dance study program this time the researcher chose the object of the Sesandaran Dance at Griya Delod Pasar as the object of research.ance, the function and meaning of the dance. The research results obtained that the Sesandaran Dance at Griya Delod Pasar is a group dance danced by ten dancers. The ten dancers are divided into four lean dancers, four jauk omang dancers, one telek dancer “Ni Swarni” and one jauk lingsir or Gore dancer. The Sesandaran dance at Griya Delod Pasar is built with eight dance structures, namely: Pepeson/Bebarisan, crewman, Pepeson Telek “Ni Swarni”, Pengecet, Pepeson Jauk Omang, Pepeson Gore/Jauk Lingsir, Pesiat and Pekaad. This dance has a function as an accompaniment to sacred performances or opening during the procession of mepajar or Ida Sesuhunan napak pertiwi. This Sesandaran dance contains four meanings, namely, religious meaning, creative meaning, aesthetic meaning and identity meaning