cover
Contact Name
I Putu Udiyana Wasista
Contact Email
udiyanawasista@isi-dps.ac.id
Phone
+628123970292
Journal Mail Official
igel_journal@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Jalan Nusa Indah, Banjar Abiankapas Tengah, Denpasar, Bali, 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Igel: Journal of Dance
ISSN : -     EISSN : 28023245     DOI : https://doi.org/10.59997/journalofdance
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal IGEL : Journal Of Dance memiliki makna kolaboratif berbagai elemen serta usaha kerja keras dalam membangun ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni tari secara luas, baik dalam matra lokal, regional, nasional maupun global.
Articles 173 Documents
TARI LEGONG TINUT Ni Made Ayu Kesuma Dewi; I Ketut Sariada; Ida Ayu Wayan Arya Satyani
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 5 No 2 (2025): Jurnal IGEL: Journal Of Dance VOL.5 NO.2, Oktober 2025
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v5i2.6073

Abstract

Abstrak Tari Legong Tinut merupakan tari kreasi palegongan yang dikembangkan dari gerak tari legong dan kisah mitos awal mula Pura Peti Tenget, di Desa Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Pemilihan mitos sebagai sumber kreatif mengantarkan proses kreatifnya pada kebaruan lakon dan kebaruan gerak yang terinspirasi dari tokoh dalam mitos serta jejak artefak yang ada di Pura Petitenget. Penciptaan Tari Legong Tinut mengacu pada rumusan masalah penciptaan: 1) bagaimana proses kreatif penciptaannya, 2) bagaimana wujud karyanya, 3) apa pesan yang disampaikan. Tujuan penciptaanya untuk memperkenalkan dan melestarikan mitos dalam bentuk karya seni tari kreasi palegongan dan mengayakan khasanah penciptaan tari legong kreasi di Bali. Metode penciptaan yang digunakan adalah angripta sasolahan dikemukakan oleh I Kt Suteja. Tahapannya meliputi ngerencana (merancang), nuasen (ritual awal), makalin (pemilahan gerak dan improvisasi), nelesin (merapikan), dan ngebah (pementasan perdana). Tema karya mengangkat kesetiaan dan ketaatan Bhuto Ijo terhadap janji tugasnya untuk menjaga peti pacanangan Dang Hyang Dwijendra. Tari ini dibawakan oleh tujuh orang penari putri dengan iringan tari gamelan semar pagulingan saih pitu. Karya berdurasi 13 menit dengan struktur: pangawit (penokohan Dang Hyang Dwijendra di tengah hutan), batel maya (penyerahan peti pecanangan), papeson (menggambarkan perawakan Bhuto Ijo, terinspirasi dari sikap togog Bhuto Ijo di Pura Petitenget), pangawak (menonjolkan keagungan Bhuto Ijo), pangecet (menggambarakan gerak-gerik kewaspadaan dan kedatangan masyarakat) dan pakaad (menggambarkan grubug yang disebabkan oleh kekuatan Bhuto Ijo dan pesan Dang Hyang Dwijendra untuk masyarakat Desa Adat Kerobokan). Terciptanya Tari Legong Tinut diharapkan kearifan lokal dan kesakralan lingkungan Pura Petitenget dapat terjaga dari generasi ke generasi. Kata Kunci: Legong Tinut, Kesetiaan, Bhuto Ijo
MEMBANGUN DAN MEWUJUDKAN POTENSI KESENIAN GENERASI MUDA DALAM MASYARAKAT DESA CARANGSARI MELALUI SENI TARI Ni Putu Selvy Pradnyani; I Wayan Sutirtha; Made Ayu Desiari
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 5 No 2 (2025): Jurnal IGEL: Journal Of Dance VOL.5 NO.2, Oktober 2025
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v5i2.6074

Abstract

AbstrakPenciptaan Tari Rejang Maparisudha Jagat berangkat dari ide tentang kesucian alam semesta yang kemudiandirefleksikan melalui gerak tubuh manusia dalam bentuk koreografi. Kata Maparisudha berasal dari Bahasa Sansekerta,yang berarti “penyucian” sedangkan “Jagat” berarti “alam semesta beserta isinya.” Dengan demikian, MaparisudhaJagat dapat dimaknai sebagai upaya penyucian terhadap alam semesta dan seluruh isinya. Tarian ini dibawakan secaraberkelompok oleh sembilan penari putri yang disusun sesuai dengan arah mata angin. Pada karya Tari RejangMaparisudha Jagat, metode penciptaan yang digunakan dalam mewujudkan karya tari, berpijak pada metode AngriptaSasolahan (menciptakan tari-tarian). Metode penciptaan tersebut di dalamnya meliputi lima tahapan penting, yaitungarencana, nuasen, makalin, nelesin, dan ngebah. Dalam penyajiannya, digunakan iringan barungan Gamelan GongKebyar karena sifat fleksibelnya mampu menghadirkan suasana religius dan tenang sesuai dengan tujuan karya.Kata Kunci: Tari Maparisudha Jagat, Alam Semesta, Religi
KARYA TARI NGRAJANG AYUN I Gede Surya Yoga; I Kt. Suteja; Ni Komang Sri Wahyuni
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 5 No 2 (2025): Jurnal IGEL: Journal Of Dance VOL.5 NO.2, Oktober 2025
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v5i2.6076

Abstract

Abstrak Upacara tradisi kearifan lokal di Desa Pupuan yaitu Tari Rejang Ayunan memiliki nilai kesakralan, serta diyakini sebagai media persembahan atas rasa syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan keberlimpahan anugrah terhadap masyarakat yang tinggal di kawasan kaki Gunung Batukaru. Gerak-geraknya lincah simbol kebersamaan yang gembira, namun esensinya sangat spiritual mengajak pikiran melayang ke alam mistis, sehingga pencipta terobsesi untuk mentransformasi ke dalam karya tari kontemporer berjudul Karya Tari Ngrajang Ayun bermakna ungkapan rasa kegembiraan. Metode penciptaan yang digunakan dalam karya tari Ngrajang Ayun, berpijak pada metode Angripta Sasolahan (menciptakan tari-tarian) yaitu; Ngarencana adalah tahapan paling awal dalam proses penataan sebuah karya tari. Nuasen adalah suatu tahapan ritual yang dilakukan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dapat mempermudah proses penciptaan. Makalin adalah tahapan yang dilakukan untuk memilih material yang mendukung terciptanya karya tari Ngrajang Ayun. Nelesin adalah proses pembentukan, hasil dari proses improvisasi gerak yang telah dipastikan mendapatkan motif gerak, pengorganisasian ke dalam bentuk. Ngebah adalah pementasan perdana dari sebuah hasil karya tari, bertujuan untuk mengevaluasi atau mengadakan perubahan-perubahan. Karya ini, diharapkan mampu memberi penyegaran terhadap pengembangan tari tradisi yang bersifat sakral ke dalam tari kontemporer. Karya tari Ngrajang Ayun adalah karya tari berbentuk kontemporer menggambarkan tentang ritual perayaan kesuburan untuk masyarakat, ditarikan oleh 19 orang penari yang terdiri dari 8 orang penari laki-laki dan 11 orang penari perempuan yang diiringi dengan Musical Instrument Digital Interface (MIDI). Kata Kunci: Rejang, Gembira, Spiritual, Kontemporer.
KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI TARI REJANG NYUTRI DESA BEDULU, KECAMATAN BLAHBATUH, KABUPATEN GIANYAR Cahyani, Ida Ayu Ari Dwi; Suandewi, Gusti Ayu Ketut; Widnyana, Kompiang Gede
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/journalofdance.v3i1.2880

Abstract

Abstrak Bali memiliki bermacam – macam jenis tari rejang khususnya di Kabupaten Gianyar, salah satunya Desa Bedulu. Tari Rejang Nyutri Meayunan di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Tari Rejang Nyutri Meayunan merupakan salah satu tarian sakral yang berasal dari Desa Bedulu dan ditarikan di Pura Gunung Sari Desa Bedulu setiap satu tahun sekali. Tari ini memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri sehingga tarian ini layak untuk dijadikan objek penelitian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tiga landasan teori yaitu, teori fungsional, teori estetika, dan teori semiotika. Data – data mengenai tari ini diperoleh dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Tari Rejang Nyutri Meayunan merupakan sebuah tari sakral yang berada di Desa Bedulu dan ditarikan di Pura Gunung Sari setiap satu tahun sekali. Tari ini berbentuk tari sakral yang ditarikan secara berkelompok. Tarian ini hanya boleh ditarikan oleh jero permas atau wanita yang telah mengalami proses penyucian secara niskala. Para jero permas menggunakan kebaya putih, kamen hitam, dan selendang hitam saat menari. Kemudian pada bagian kepala, para jero permas menggunakan pusung tagel dan diisi bunga pucuk merah atau bunga berwarna merah. Tari Rejang Nyutri Meayunan memiliki gerak yang sederhana dan diiringi dengan gamelan angklung atau gong gede dengan lelambatan tabuh pisan. Masyarakat setempat memfungsikan tarian ini sebagai tari sakral. Selain itu, masyarakat setempat juga mengaitkan tarian ini dengan perekonomian masyarakat di Desa Bedulu. Adapun beberapa aspek dari Tari Rejang Nyutri Meayunan ini jika diselami memiliki makna keseimbangan. Kata kunci : Tari Rejang Nyutri Meayunan, Bentuk, Fungsi
Tari Lila Mahayu Ni Wayan Mirah Mayra Mentari; A.A Ayu Mayun Artati; Ni Nyoman Kasih
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Karya tari Lila Mahayu merupakan garapan tari baru yang terinspirasi dari tradisi yang berada di Desa Bantiran yaitu Rejang Ayunan. Dalam garapan ini tradisi Rejang Ayunan dikaitkan dengan proses kehidupan manusia dalam suatu pencapaian sehingga mencapai suatu kegembiraan. Kata Lila berasal dari bahasa Bali yang berarti senang sedangkan Mahayu berasal dari bahasa jawa kuno yang berarti gembira. Karya ini memiliki tema kegembiraan sesuai dengan makna dari rejang ayunan. Tari Lila Mahayu berbentuk tari kelompok dengan enam orang penari putri. Dalam penciptaan tari Lila Mahayu,metode yang digunakan adalah metode Anggripta Sesolahan. Karya tari Lila Mahayu berdurasi 10 menit dengan iringan tari Gong kebyar. adapun strukturnya terdiri dari Pepeson, Pengawak, Pengecet, Pekaad. Estetika dalam karya tari Lila Mahayu mengacu pada teori Estetika oleh A.A.M. Djelantik. Nilai yang terkandung dalam garapan tari Lila Mahayu adalah nilai perjuangan. Kata kunci : Lila Mahayu, Rejang Ayunan, perjuangan
Karya Tari Sona I Putu Pande Surya Pramana; Sulistyani; I Putu Bagus Bang Graha Saputra
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Karya Tari Sona adalah karya yang mengambil sumber kreatif dari epos mahabharata bagian terakhir yaitu kesetiaan seekor anjing (Asu) kepada yudhistira yang terkandung dalam buku swargarohanaparwa. Dalam penciptaan karya Tari Sona ini pencipta jadikan kesetiaan seekor anjing kepada tuanya sebagai pemantik ide koreografi. Sona dalam bahasa jawa kuna yang artinya anjing, judul ini menjelaskan karakter seekor anjing yang setia kepada manusia. Pada proes penciptaanya, pencipta bekerja sama dengan Sanggar Seni Dharmawangsa dalam program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka dengan mengambil program studi proyek independen. Penciptaan Karya Tari Sona menggunakan metode Alma M. Hawkins terjemahan I wayan Dibia pada tahun 2003. Di dalam buku tersebut dijelaskan tiga tahapan penciptaan antara lain Tahap Penjajagan (eksplorasi), Tahap Percobaan (improvisasi), danTahap Pembentukan (forming). Karya Tari Sona merupakan tari kontemporer yang dibawakan secara kelompok dengan struktur tarianya terdiri dari tiga bagian yang berdurasi 12 menit. Musik karya tari ini menggunakan instrumen Logic Pro Digital seperti marimba, stringquartet, syntizer, drum pad, drum synth kit, bass, cymbal. Tata rias yang digunakan dalam karya tari ini memilih bentuk wajah anjing yang dipadukan dengan kostum bernuansa hitam yang terdiri dari strait stoking full body, kalung dan hiasan kepala yaitu rambut gimbal. Pencipta berharap nillai-nilai yang terkandung dalam garapan ini dapat diimplementasikan ke pribadi dan masyarakat untuk selalu menanamkan rasa kesetiaan sesama mahkluk hidup dan sekitarnya. Kata kunci: Anjing, Manusia, Kesetiaan
Tari Nampi, perubahan diri untuk masa depan I Wayan Gede Artha Saputra; I Gusti Ngurah Sudibya; I Wayan Adi Gunarta
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengalaman empiris adalah sesuatu yang dirasakan secara individual dan biasa terjadi pada saat indera merasakan, melihat, mendengar, serta melaksanakan sesuatu. Pengalaman selalu ada pada setiap individu guna memberikan pengetahun baru serta menjadi guru utama dalam menjalani kehidupan. “Pengalaman adalah guru yang terbaik” yang diutarakan oleh Julius Cesar. Pengalaman empiris yang penata rasakan dan menghancurkan perasaan penata saat bersekolah di SMK N 3 Sukawati menjadi ide dalam menciptakan sebuah karya tari, dengan judul Nampi. Karya tari Nampi merupakan karya tari dengan pola garap kontemporer, berbentuk kelompok besar dengan penari berjumlah 10 orang yang diantaranya 6 orang penari laki-laki dan 4 orang penari perempuan. Kata Nampi berasal dari bahasa Bali yaitu menerima, dalam sebuah pengalaman atau proses yang dilalui setiap individu selalu mendapatkan sesuatu guna menjadi senjata ataupun wawasan. Karya tari Nampi memiliki struktur yang digunakan adalah awal, isi dan akhir. Setiap bagian struktur memiliki pembicaran yang berbeda, pesan serta tujuan yang memiliki keinginan yang sama. Dalam pembicaraan setiap struktur terdiri dari pengalam pahit, proses, dan perjuangan. Dalam menciptakan karya tari Nampi penata menggunakan metode Alma M. Hawkins yang terdiri dari 3 tahap yaitu tahap eksplorasi, improvisasi, dan forming. Melalui tahap-tahap yang telah dilakukan penata menemukan sebuah gerakan- gerakan yang berasal dari kegiatan sehari-hari dan menjadi sumber dari gerak yang digunakan. Terciptanya karya tari Nampi memiliki pesan serta tujuan untuk memberikan pemikiran baru atau sudut pandang baru dalam menjalani perjalanan hidup. Kata Kunci: pengalaman, kehidupan, proses
Karya Tari Same Plin I Wayan Tisna Dana; I Kt Suteja; Ni Nyoman Kasih
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Charlie Chaplin adalah seorang tokoh dunia yang inspiratif dikenal sebagai pemain film, sutradara, dan komposer pada tahun 1889-1977. Dalam film-film yang diciptakan dan diperankan Chaplin, selalu menampilkan kelucuan, kebahagiaan, dan kekonyolan. Walaupun dikenal dengan karakter yang demikian, ternyata Chaplin mengalami keterpurukan dalam hidupnya, sejak Ia kecil hingga dewasa. Melalui fenomena tersebut, pencipta tertarik untuk menciptakan karya tari yang berjudul Same Plin. Proses penciptaan karya tari Same Plin menggunakan metode Bergerak Menurut Kata Hati Metoda Baru dalam Mencipta Tari oleh I Wayan Dibia. Metode Penciptaan tersebut didalamnya meliputi lima tahapan penting, yaitu merasakan, menghayati, mengkhayalkan, mengejawantahkan, dan memberi bentuk, serta menggunakan teori imaji dan imajinasi oleh Tedjoworo. Karya tari Same Plin adalah karya tari yang mengisahkan kebahagiaan dan kelucuan Charlie Chaplin di depan orang banyak atau di atas panggung, namun sebenarnya memiliki kehidupan yang sulit dan terpuruk. Karya ini bertemakan kehidupan sosial yang ditarikan oleh 8 (delapan) orang penari dengan menggunakan iringan musical instrument digital interface (MIDI) yang berisikan instrument dari plugin orkestra. Kata kunci: same plin, kebahagiaan, keterpurukan, kontemporer
Edukasi Dasar Tari Bali Perempuan oleh Ni Ketut Arini Komang Indah Parasari; I Ketut Sariada; Ni Nyoman Manik Suryani
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Judul penelitian ini adalah Edukasi Dasar Tari Bali Perempuan oleh Ni Ketut Arini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara penerapan edukasi dasar tari Bali perempuan kepada anak-anak di Sanggar Warini. Untuk mendapatkan ilmu tentang edukasi dasar tari Bali perempuan setelah pelaksanaan magang di Sanggar Warini. Ingin membagikan ilmu tentang edukasi dasar tari Bali perempuan di masyarakat. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif, yaitu memperoleh data secara objektif sehingga mampu mendeskripsikan objek yang diteliti. Selain menggunakan metode deskriptif penulis juga menggunakan pendekatan kualitatif yaitu, menjelaskan dan menganalisis fenomena, peristiwa dengan menuangkannya ke dalam tulisan. Pelaksanaan edukasi dasar tari Bali perempuan oleh Ni Ketut Arini melalui beberapa tahapan sebagai berikut, tahap pertama melakukan gerak-gerak dasar tari Bali perempuan seperti agem, tandang, tangkis dan tangkep. Tahap kedua menarikan jenis tari yang diajarkan seperti Tari Pendet, Tari Panyembrama, Tari Legong Keraton Lasem, Tari Margapati, Tari Puspanjali, Tari Baris Tunggal, Tari Gopala, Tari Wirayuda dan Tari Oleg Tamulilingan. Adapun faktor pendukung edukasi dasar tari Bali perempuan oleh Ni Ketut Arini yaitu peran aktif pendiri Sanggar Warini, adanya interaksi yang baik antara pelatih dengan peserta didik, proses pembelajaran yang berkualitas, sarana dan prasarana yang memadai. Faktor penghambat edukasi dasar tari Bali oleh Ni Ketut Arini yaitu pola perilaku pelatih dengan peserta didik yang terkadang sulit diatur. Kata Kunci : Edukasi, Ilmu, Metode, Pelaksanaan
Artikel Hasil Riset/Penelitian Skripsi Menganalisis Makna Gerak Tari Terang Bulan Di Sanggar Seni Nggara Simbelin Desa Lingga Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo Miranti Br Sembiring; Tjok. Istri Putra Padmini; Made Ayu Desiari
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tari Terang Bulan merupakan tarian kreasi tradisi yang berasal dari Tanah Karo, tarian ini diperkirakan lahir disekitar tahun 1965. Makna dari tarian ini adalah pertemuan muda mudi di tempat menumbuk padi yang disebut lesung pada saat terang bulan dari situlah tercipta Tari Terang Bulan. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan analisis makna gerak, kostum yang digunakan, pola lantai, dan instrumen yang digunakan dalam Tari Terang Bulan di Sanggar Seni Nggara Simbelin Desa Lingga. Metode penelitian yang digunakan yakni metode kualitatif, metode kuantitatif serta observasi partisipasi. Dan teknik pengumpulan data dengan observasi, observasi partisipasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerak Tari Terang Bulan terdiri dari lima ragam gerak, kelima ragam gerak mengarah bagaimana seharusnya tahap-tahap untuk mendekati seorang gadis yang disukai oleh laki-laki. Kostum yang digunakan dalam Tari Terang Bulan bermakna kesopanan dan perlindungan dari pandangan masyarakat yang melihat. Pola lantai yang digunakan bermakna sebagai cara sepasang kekasih untuk menyampaikan rayuan-rayuan kepada lawan jenis. Dan untuk instrumen yang digunakan ada lima jenis yang disebut dengan Gendang Lima Sada Perarih. Kata kunci : Sanggar, Simbelin, Terang Bulan.