cover
Contact Name
Sudianto
Contact Email
info.sudianto@gmail.com
Phone
+6285317777552
Journal Mail Official
polinomial.papanda@gmail.com
Editorial Address
https://ejournal.papanda.org/index.php/jp/editorial-team
Location
Kab. majalengka,
Jawa barat
INDONESIA
Polinomial : Jurnal Pendidikan Matematika
Published by Papanda Publisher
ISSN : -     EISSN : 28300378     DOI : https://doi.org/10.56916/jp.v1i1
Core Subject : Education,
Polinomial : Jurnal Pendidikan Matematika (ISSN : 2830-0378) is a scientific journal published by Papanda (Paguyuban Panalungtik Sunda). This aims to provide a national forum for researchers and professionals to share their ideas on all topics related to mathematics education, specifically focuses on Method / Model / Strategy / Media and Multimedia for Learning Mathematics, Curriculum in Mathematics Teaching, Assessment and Evaluation, Development of Mathematics Teacher Professionals, Ethnomatematics, and ICT in learning mathematics. Jurnal Polinomial is an open-access journal published twice a year (May and November). We accept articles of the author can be derived various countries, with the scientific field of Mathematics Education.
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2026)" : 4 Documents clear
Systematic Literature Review: Miskonsepsi Pembelajaran Matematika pada Materi Himpunan Dahlan, Haryanti; Saharuddin, Saharuddin
Polinomial : Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Papanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56916/jp.v5i2.3108

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi miskonsepsi pembelajaran matematika pada materi himpunan dan faktor penyebab miskonsepssi serta strategi meminimalisir miskonsepsi yang terjadi pada siswa ataupun mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian systematic literature review. Langkah pencarian data systematic literature review melalui aplikasi publish or perish 8 di google scholar, semantic scholar, dan scopus. Kriteria inklusi dengan menggunakan kata kunci miskonsepsi pembelajaran matematika pada materi himpunan rentang tahun 2020-2025. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh tiga miskonsepsi yaitu miskonsepsi teoritikal, miskonsepsi klasifikasional, dan miskonsepsi korelasional. Miskonsepsi teoritikal diantaranya miskonsepsi menerjemahkan ataupun menuliskan tanda >, <, ≤, dan ≥. Miskonsepsi dalam membedakan selisih dua himpunan seperti P – Q ≠ Q – P. Miskonsepsi dalam membedakan jenis-jenis bilangan. Miskonsepsi klasifikasional yaitu miskonsepsi dalam membedakan dan menentukan irisan dan gabungan baik dalam bentuk himpunan ataupun diagram venn, miskonsepsi akibat belum memahami himpunan bagian, dan belum memahami komplement. Miskonsepsi korelasional yaitu belum bisa memahami soal delam bentuk cerita. Miskonsepsi yang paling sering terjadi adalah miskonsepsi teoritikal dan miskonsepsi klasifikasional. Faktor penyebab miskonsepsi yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Adapun strategi meminimalisir miskonsepsi dengan menjelaskan konsep yang abstrak secara konkrit dan memotivasi siswa ataupun mahasiswa agar berlatih mengerjakan soal secara konsisten.
Eksplorasi Etnomatematika Tradisi Makanan Ketupat Lepet di Kota Kudus Zalzidan, Qeila Putri Zahri; Nurcahyo, Roffy; Farokhah, Innalatul; Zuliana , Eka
Polinomial : Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Papanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56916/jp.v5i2.3415

Abstract

Budaya lokal memiliki potensi yang besar sebagai sumber kajian matematika yang kontekstual melalui pendekatan etnomatematika. Salah satu bentuk budaya yang sarat unsur matematis adalah tradisi pembuatan ketupat dan lepet yang berkembang di Kudus. Penelitian ini bertujuan menggali dan mendeskripsikan konsep-konsep matematika yang terkandung dalam tradisi pembuatan ketupat dan lepet serta menilai potensi pemanfaatannya dalam konteks pembelajaran matematika di sekolah dasar. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnomatematika. Proses pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, serta dokumentasi terhadap pembuat ketupat dan lepet, tokoh masyarakat, dan guru sekolah dasar. Tahapan analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ketupat memuat konsep geometri datar seperti bentuk belah ketupat, simetri, pola anyaman, serta pengukuran luas dan keliling, sementara tradisi lepet mengandung konsep bangun ruang berupa tabung, volume, luas permukaan, dan perbandingan. Temuan ini mengindikasikan bahwa praktik budaya masyarakat Kudus secara alami memuat nilai-nilai matematis yang terinternalisasi. Dengan demikian, tradisi ketupat dan lepet dapat dijadikan objek kajian etnomatematika yang relevan untuk mendukung pengembangan matematika kontekstual yang bermakna.
Kurikulum Matematika di New South Wales dan Implikasinya bagi Indonesia Karimah, Nurul Ikhsan
Polinomial : Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Papanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56916/jp.v5i2.3590

Abstract

Penelitian ini bertujuan melakukan analisis komparatif terhadap kurikulum matematika jenjang SMP di New South Wales (NSW), Australia, dan Indonesia, dengan menelaah persamaan serta perbedaan pada aspek struktur kurikulum, pendekatan pedagogis, dinamika kebijakan pendidikan, dan standar asesmen yang diterapkan pada kedua sistem. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-komparatif. Metode yang diterapkan adalah studi kepustakaan (library research), yang bertujuan untuk mengkaji, membandingkan, dan mengevaluasi secara kritis dokumen kebijakan kurikulum serta hasil penelitian relevan terkait pendidikan matematika di New South Wales dan Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa kurikulum matematika di NSW memiliki keunggulan pada kesinambungan struktur antartingkat, kejelasan capaian pembelajaran (syllabus outcomes), serta pendekatan pedagogis berbasis inkuiri dan pemecahan masalah kontekstual yang berfokus pada pengembangan kemampuan Understanding, Fluency, Problem Solving, dan Reasoning. Pendekatan pembelajaran yang diterapkan di NSW menekankan pada konstruktivisme, pemecahan masalah, dan asesmen autentik yang menilai proses sekaligus hasil belajar. Sementara itu, kurikulum di Indonesia, khususnya Kurikulum Merdeka, memiliki fleksibilitas tinggi dan relevansi kontekstual, namun masih menghadapi kendala implementasi akibat keterbatasan sumber daya, pelatihan guru, dan inkonsistensi kebijakan. Rekomendasi penelitian ini menekankan penguatan kesinambungan kurikulum, optimalisasi asesmen formatif, peningkatan kompetensi guru berbasis eksplorasi dan teknologi, serta konsistensi kebijakan jangka panjang untuk mewujudkan kurikulum matematika yang adaptif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Pendekatan Deep Learning dalam Problem Based Learning pada Pengurangan Pecahan Beda Penyebut Jannah, Roikhatul; Nuraini, Latifah; Jauhari, Mohamad Agus; Dakiroh, Nila
Polinomial : Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Papanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56916/jp.v5i2.3691

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menguji efektivitas penerapan pendekatan Deep Learning dalam Problem-Based Learning (PBL) terhadap peningkatan pemahaman konseptual siswa dalam mengurangkan pecahan dengan penyebut yang berbeda. Dilaksanakan sebagai penelitian tindakan kelas di MI Salafiyah Kajen, Pati, yang melibatkan 20 siswa kelas lima, penelitian ini menggunakan observasi, kuesioner, dan tes untuk menilai hasil belajar siswa dalam dua siklus. Temuan menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam pemahaman konseptual siswa, dengan rata-rata skor meningkat dari 63,25 pada siklus I menjadi 82,5 pada siklus II, serta ketuntasan belajar meningkat dari 40% menjadi 100%. Integrasi Deep Learning dalam PBL mendorong keterlibatan aktif siswa, berpikir kritis, serta kemampuan mengaitkan konsep matematika dengan situasi kehidupan nyata. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan Deep Learning dalam PBL merupakan strategi yang menjanjikan untuk meningkatkan pendidikan matematika, terutama dalam memperkuat pemahaman siswa terhadap konsep pecahan.

Page 1 of 1 | Total Record : 4