cover
Contact Name
Praditya Firmansyah
Contact Email
p3gipasuruanok@gmail.com
Phone
+6285231484696
Journal Mail Official
p3gipasuruanok@gmail.com
Editorial Address
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia Jl.Pahlawan Nomor 25 Pasuruan 67126, Indonesia
Location
Kab. pasuruan,
Jawa timur
INDONESIA
Indonesian Sugar Research Journal
ISSN : 27752100     EISSN : 27985415     DOI : https://doi.org/10.54256/isrj.v1i1.2
Indonesian Sugar Research Journal contains original articles of research results, findings, and ideas from various fields of science, especially fields related to sugar plantations and its processes, from researchers, lecturers, students, and related parties. The scope of the Indonesian Sugar Research Journal are: agronomics, agribusiness, plantation management of sugar and sweetener-producing crops, processing of sugar products and materials, post-harvest technology and basic research related to sugar and sweeteners.
Articles 55 Documents
Pengaruh Kombinasi Pupuk Hayati dan Pupuk Anorganik Terhadap Pertumbuhan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) Varietas Bululawang di Kebun Bugul Kidul Siti Komariyah; Cahyo Prayogo; Arinta Rury Puspitasari
Indonesian Sugar Research Journal Vol 6, No 1 (2026): Indonesian Sugar Research Journal
Publisher : Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54256/isrj.v6i1.174

Abstract

Penurunan produktivitas tebu di Indonesia kerap berkaitan dengan rendahnya kualitas tanah, terutama akibat minimnya bahan organik dan dominasi pemupukan anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pupuk hayati dan pupuk anorganik terhadap sifat kimia-biologi tanah serta pertumbuhan tanaman tebu varietas Bululawang. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) nonfaktorial yang terdiri dari 12 kombinasi perlakuan dosis pupuk anorganik (0%, 50%, 100%) dan jenis pupuk hayati (tanpa pupuk hayati, Fertomax, Bioneensis, serta kombinasi keduanya). Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) taraf 5% dan apabila berpengaruh nyata dilakukan uji lanjut BNT pada taraf 5% . Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang, pH tanah, N-total, P-tersedia, dan total populasi bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk hayati dan anorganik berpengaruh nyata terhadap pH tanah, P-tersedia, dan populasi bakteri tanah, namun tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan N-total tanah. Perlakuan PA100FB (pupuk anorganik 100% + Fertomax + Bioneensis) merupakan perlakuan terbaik karena menghasilkan P-tersedia tertinggi (40,86 ppm) dan populasi bakteri tertinggi (9,58 log CFU g⁻¹).
Peningkatan Sifat Kimia dan Biologi Tanah Vertisol pada Budidaya Tebu Melalui Aplikasi Berbagai Jenis Bahan Organik Sinta Ali Khusnadewi; Cahyo Prayogo; Arinta Rury Puspitasari
Indonesian Sugar Research Journal Vol 6, No 1 (2026): Indonesian Sugar Research Journal
Publisher : Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54256/isrj.v6i1.175

Abstract

Produksi gula nasional belum mampu memenuhi kebutuhan gula dalam negeri sehingga Indonesia masih bergantung pada impor. Sementara itu, produktivitas tebu, terutama di Jawa Timur masih fluktuatif. Kondisi ini tidak sejalan dengan peningkatan luas lahan tebu yang terus meningkat. Salah satu faktor pembatas produktivitas tebu adalah kondisi vertisol yang umumnya memiliki bahan organik rendah. Hal ini mempengaruhi kualitas tanah terutama sifat kimia dan biologi tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai jenis bahan organik tunggal dan kombinasi terhadap sifat kimia dan biologi vertisol. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok non-faktorial dengan sembilan perlakuan, yang terdiri dari tanpa bahan organik, sekam bakar, abu ketel, blotong, seresah tebu, serta kombinasi antar ketiganya pada dosis setara 20 t ha⁻¹. Parameter yang diamati meliputi C-organik, N-total, rasio C/N, pH H2O, serta populasi bakteri dan jamur tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi sekam bakar 10 t ha⁻¹ + abu ketel 10 t ha⁻¹ (P5) memberikan peningkatan terbaik terhadap C-organik dan populasi jamur. Sementara itu, kombinasi sekam bakar 7 t ha⁻¹ + abu ketel 7 t ha⁻¹ + blotong 7 t ha⁻¹ (P8) merupakan perlakuan paling efektif dalam meningkatkan populasi bakteri.
Kajian Kehilangan Fermentable Sugar Selama Penyimpanan Tetes Latifah Miko Febrianty; Simping Yuliatun; Linda Mustikaningrum; Opal Priya Wening; Retno Widowati; Aditya Yoga Kusuma; Risvan Kuswurjanto
Indonesian Sugar Research Journal Vol 6, No 1 (2026): Indonesian Sugar Research Journal
Publisher : Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54256/isrj.v6i1.178

Abstract

Kualitas tetes tebu dapat mengalami penurunan seiring dengan masa simpannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kualitas tetes dari pabrik gula tebu dan kehilangan fermentable sugar selama penyimpanan tetes pada variasi suhu. Tetes tebu yang diambil sebagai sampel merupakan tetes tebu segar dari produksi sebelum masuk tangki penyimpanan.  Sampel merupakan tetes campuran yang diambil dari 6 wilayah kerja pabrik gula di lingkup PT Sinergi Gula Nusantara. Sampel tetes dianalisis karakter fisikokimia awal dan disimpan pada 4 suhu berbeda (suhu ambient, 35, 40, dan 45℃) selama 6 bulan dengan analisis fisikokimia setiap bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tetes dari masing-masing pabrik gula memiliki kualitas yang sesuai sebagai bahan baku fermentasi. Namun semakin lama waktu penyimpanan dan semakin tinggi suhu penyimpanan menyebabkan kerusakan tetes semakin meningkat. Penurunan TSAI, fermentable sugar, dan sukrosa tetes paling tinggi terjadi pada waktu simpan 6 bulan dengan suhu 45℃ yaitu berturut-turut 16,75%, 22,77%, dan 29,12%. Pengaruh variasi waktu dan suhu penyimpanan terhadap nilai TSAI, fermentable sugar, sukrosa, gula reduksi menunjukkan penurunan yang berbeda nyata. Pengaruh peningkatan suhu dan waktu simpan terhadap  nilai nonfermentable sugar menunjukkan peningkatan yang berbeda nyata. Penyimpanan tetes pada suhu  ≥40℃  selama 4 bulan dapat menyebabkan penurunan fermentable sugar hingga 10%.     
Keragaan Hasil Sepuluh Varietas Tebu pada Dua Pola Tanam dengan Distribusi Curah Hujan Berbeda di Pasuruan Cahya Nurcahya; Wiwit Budi Widyasari; Nurika Aini Yuniasari; Adam Maulana Prasetya; Pujiono Pujiono
Indonesian Sugar Research Journal Vol 6, No 1 (2026): Indonesian Sugar Research Journal
Publisher : Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54256/isrj.v6i1.179

Abstract

Distribusi curah hujan selama pertumbuhan tanaman merupakan salah satu faktor lingkungan yang memengaruhi produktivitas dan hasil gula tebu. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh dua pola tanam dengan distribusi curah hujan berbeda terhadap produktivitas tebu, rendemen, dan hasil hablur pada sepuluh varietas tebu. Penelitian dilaksanakan di Kebun Bugul, Pasuruan, Jawa Timur, pada tanah Inceptisol dengan tipe iklim D3 menurut Oldeman selama November 2021 hingga Juli 2023. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas sepuluh varietas tebu yang ditanam pada pola tanam awal musim hujan dan awal musim kemarau. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pola tanam, varietas, dan interaksi keduanya berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap produktivitas tebu, rendemen, dan hasil hablur. Pola tanam awal musim kemarau menghasilkan produktivitas tebu (119,60 ton ha⁻¹), rendemen (10,53%), dan hablur (12,57 ton ha⁻¹) yang lebih tinggi dibandingkan pola tanam awal musim hujan, masing-masing sebesar 94,24 ton ha⁻¹, 8,09%, dan 7,59 ton ha⁻¹. Varietas PSKA 086 menghasilkan produktivitas dan hablur tertinggi, sedangkan PSKA 942 menunjukkan penurunan hablur paling kecil antar pola tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian waktu tanam dengan distribusi curah hujan berperan penting dalam meningkatkan produksi gula.
Assessement of Glifosat herbicide to viability of decomposer B Com T isolate in vitro Donny Nugroho Kalbuadi; Muhammad Abdul Azis; Aris Lukito; Lydia Ayu Utami; Salsa Bila Alzahra; Khansa Destiandani; Happy Widiastuti
Indonesian Sugar Research Journal Vol 6, No 1 (2026): Indonesian Sugar Research Journal
Publisher : Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54256/isrj.v6i1.162

Abstract

Sugarcane plantation produces approximately 10 to 12 tons of trash per hectare in a single growing season. The high content of lignin and cellulose in the litter necessitates the use of decomposers to accelerate the decomposition process, thereby enhancing the benefits of trash application to soil fertility and plant growth. However, decomposers are microorganisms whose effectiveness is influenced by their viability in the field. In sugarcane land management practices, herbicide application is performed to control weeds during the 1-2 month growth phase of sugarcane/ratoon. This study aimed to evaluate the in vitro resistance of the B-Comp T decomposer isolate to glyphosate herbicide. B-Comp T is a microbial consortium comprising one cellulolytic fungus (Trichoderma sp.), two lignolytic fungi (LGT1 and Omphalina sp), one lignolytic bacteria (LT5), and two cellulolytic bacteria (S sereh and SPC 5). The experiment was conducted using Petri dishes with PDA medium for fungi and NA medium for bacteria. Glyphosate herbicide concentrations tested were 0%, 0.03%, 0.06%, 0.12%, and 0.15%, which were incorporated into the medium during sterile medium pouring into Petri dishes. Fungi incubation was carried out for 7 days while 5 days for bacteria. Microbial growth was observed visually. The observation results demonstrated that the effect of glyphosate on microbial growth varied among species, as did their tolerance limits. At low concentrations, glyphosate generally stimulated microbial growth, whereas at high concentrations, it inhibited microbial growth. Among the tested decomposer isolates, the bacterial isolates LPC 2 and SPC 5 exhibited resistance to glyphosate, while the most susceptible isolate was lignolytic wite rot fungi Omphalina sp and cellulolytic bacteria S. sere.