cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsp@unisba.ac.id
Phone
+6289691247094
Journal Mail Official
bcsp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28282116     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Bandung Conference Series: Pharmacy (BCSP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Farmasi dengan ruang lingkup Airlock system Kanker, Alcohol, Antelmintik, Antigastritis drugs, Antioksidan, Artemia franciscana, Ascaris suum, Cacing babi (Ascaris suum Goeze), Contact Bioautography TLC, Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers), Daun kelor (Moringa oleifera Lam), Diabetes mellitus, DPPH Flavonoid, Fenilpropanolamin, Fermentasi, Flavonoid, Flavonol,Iles-iles, Isolasi, Lichen, Malassezia furfur, Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Obat antidiabetes (OAD) Propionibacterium acnes, Obat tradisional, Parkia Speciosa Antibakteri, Pektin, Propionibacterium Acnes, Pseudoefedrin, Saccharomyces Cerevisiae, Spektrofotometri uv sinar tampak, Staphylococcus epidermidis, uji aktivitas antibakteri, Uji sitotoksik, Usnea baileyi. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 416 Documents
Kajian Pustaka Formulasi Sediaan Edible Film sebagai Antihalitosis Berbahan Aktif Herbal Fia Siti Nopalia; Ratih Aryani; Fitrianti Darusman
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.85 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4573

Abstract

Abstract. Halitosis is an oral health problem that is characterized by bad breath and many people complain about it, which has an impact on self-image and social problems. The main cause of halitosis is the activity of anaerobic bacteria such as Streptococcus mutans which produce Volatile Sulfur Compounds (VSCs) in the oral cavity. Edible film is a pharmaceutical preparation developed to prevent halitosis, has a thin transparent layer cut to a certain length and width, is practical, and is biodegradable. The purpose of this article review is to provide information related to extracts as antihalitosis against Streptococcus mutans bacteria which are formed in edible film preparations from various types of film forming agents used with manufacturing methods that are in accordance with the characteristics of an active substance. The research method was carried out using a Systematic Literature Review (SLR). The results of the literature review show that the extracts that have the potential as antihalitosis against Streptococcus mutans bacteria are celery extract, gedi leaf extract, betel leaf extract, rosella flower petal extract, water henna leaf extract, basil leaf extract, cat whiskers leaf extract, binahong leaf extract, sustainable live stem extract, and extracts of leilem leaves. The extract can be formulated into edible films with the type of film forming agent in the form of polysaccharides and proteins as well as composites which are a mixture of polysaccharides, proteins, and lipids made using the solvent casting method. Abstrak. Halitosis termasuk masalah kesehatan mulut yang ditandai dengan keadaan nafas bau tidak sedap dan banyak dikeluhkan masyarakat, berdampak terhadap citra diri dan masalah sosial. Penyebab utama halitosis yaitu adanya aktivitas bakteri anaerob seperti Streptococcus mutans yang memproduksi Volatile Sulfur Compounds (VSCs) dalam rongga mulut. Edible film merupakan sediaan farmasi yang dikembangkan untuk mencegah halitosis, memiliki lapisan tipis transparan yang dipotong dengan panjang dan lebar tertentu, praktis, dan bersifat biodegradable. Tujuan review artikel ini untuk memberikan informasi terkait ekstrak sebagai antihalitosis terhadap bakteri Streptococcus mutans yang dibentuk dalam sediaan edible film dari berbagai jenis film forming agent yang digunakan dengan metode pembuatan yang sesuai dengan karakteristik suatu zat aktif. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan Systematic Literature Review (SLR). Hasil kajian pustaka menunjukan bahwa ekstrak yang berpotensi sebagai antihalitosis terhadap bakteri Streptococcus mutans yaitu, ekstrak seledri, ekstrak daun gedi, ekstrak daun sirih, ekstrak kelopak bunga rosella, ekstrak daun pacar air, ekstrak daun kemangi, ekstrak daun kumis kucing, ekstrak daun binahong, ekstrak batang sambung nyawa, dan ekstrak daun leilem. Ekstrak tersebut dapat diformulasikan kedalam sediaan edible film dengan jenis film forming agent berupa polisakarida dan protein serta komposit yang merupakan campuran dari polisakarida, protein, dan lipid yang dibuat dengan menggunakan solvent casting method.
Penetapan Kadar Sari Larut Air dan Kadar Sari Larut Etanol Simplisia Buah Tin (Ficus carica L.) Nabila Nur Latifa; Lanny Mulqie; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.002 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4575

Abstract

Abstract. Fig fruits (Ficus carica L.) is one of the plants found in the Al-Quran Surah At-tin have many function as medicine. Raw material of fig fruit (Ficus carica L.) need to be standardized as one of the important stages in development of Indonesian medicine. Standardization of the simplicia of fig fruits (Ficus carica L.) was tested for water soluble extract content and ethanol soluble extract content to determine the amount of compound content in simplicial that can be attracted by solvent. A simplicia cannot be said to be of good quality if it does not meet the quality requirements stated in the simplicia monograph. However, the requirements for the standardization of the simplicia of fig fruits have not been listed in the general monograph. The purpose of this research was to determine of the water soluble extract content and ethanol soluble extract content of the simplicia of fig fruits (Ficus carica L.). The method used in this research is experimental at the Laboratory of the Islamic University of Bandung. Based on the results simplicia standardization of fig fruits (Ficus carica L.) water soluble extract content of 3.70% and ethanol soluble extract content of 39.25%. Abstrak. Buah Tin (Ficus carica L.) merupakan salah satu tanaman yang terdapat di dalam Al- Quran Surat At-tin yang memiliki banyak manfaat dalam pengobatan. Bahan baku buah Tin (Ficus carica L.) perlu dilakukan standardisasi sebagai salah satu tahapan dalam pengembangan obat di Indonesia. Standardisasi simplisia buah Tin (Ficus carica L.) dilakukan uji kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol untuk mengetahui jumlah kandungan senyawa dalam simplisia yang dapat tertarik oleh pelarut. Suatu simplisia tidak dapat dikatakan bermutu jika tidak memenuhi persyaratan mutu yang tertera dalam monografi simplisia. Namun, persyaratan kadar sari larut air dan etanol simplisia buah Tin belum tercantum dalam monografi umum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penetapan uji kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol simplisia buah Tin (Ficus carica L.). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah secara eksperimental di Laboratorium Universitas Islam Bandung. Berdasarkan hasil standardisasi simplisia buah Tin (Ficus carica L.) maka diperoleh kadar sari larut air sebesar 3,70% dan kadar sari larut etanol sebesar 39,25%.
Penelusuran Pustaka Potensi Aktivitas Antioksidan dan Serat Pangan Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) serta Pemanfaatannya dalam Pangan Fungsional Anggrilina Fitria; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.288 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4583

Abstract

Abstract. The popularity of a healthy lifestyle in today's society is one of them is the consumption of functional foods. Red dragon fruit peel can be used as a functional food because it is known to contain high antioxidants and abundant nutrients. The purpose of this study was to examine the activity of antioxidants and compounds that play a role, to examine the dietary fiber contained in the skin of red dragon fruit, and to examine its functional food preparations. This research was conducted by searching the literature by searching for articles through digital databases, namely pubmed, sciencedirect, iopscience, and google scientist. Based on these searches, it is known that red dragon fruit peel has antioxidant activity. By using the parameter IC50 value, the IC50 value of red dragon fruit peel is 2.6949 g/mL. The IC50 value states that the smaller the value, the higher the antioxidant power. Another parameter is %inhibition, obtained %inhibition of red dragon fruit peel is 64.40%. The total antioxidant capacity of red dragon fruit peel is 102.69 mol FE(II)SE/g. The main bioactive compounds are betalains, flavonoids, phenolics, and other isomeric parts. The highest total dietary fiber in red dragon fruit skin is 70.3%. Utilization of red dragon fruit peel in functional food can be processed into fermented milk, beef sausage, ice cream, noodles, and marmalade. Abstrak. Kepopuleran pola hidup sehat di masyarakat masa kini satu diantaranya adalah konsumsi pangan fungsional. Kulit buah naga merah dapat dimanfaatkan menjadi pangan fungsional, karena diketahui mengandung antioksidan yang tinggi dan nutrisi yang melimpah. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji aktivitas antioksidan beserta senyawa yang berperan, mengkaji serat pangan yang terdapat dalam kulit buah naga merah, serta mengkaji olahan pangan fungsionalnya. Penelitian ini dilakukan dengan penelusuran pustaka dengan mencari artikel melalui database digital yaitu pubmed, sciencedirect, iopscience, dan google scholar. Berdasarkan penelusuran tersebut diketahui bahwa kulit buah naga merah memiliki aktivitas antioksidan. Menggunakan parameter nilai IC50 didapatkan nilai IC50 kulit buah naga merah paling tinggi sebesar 2,6949 μg/mL. Nilai IC50 menyatakan bahwa semakin kecil nilai maka semakin tinggi kekuatan antioksidannya. Parameter lain yaitu %inhibisi, didapatkan %inhibisi kulit buah naga merah sebesar 64,40%. Total kapasitas antioksidan kulit buah naga merah sebesar 102,69 μmol FE(II)SE/g. Senyawa bioaktif utamanya betalain, flavonoid, fenolik, dan bagian isomer lainnya. Total serat pangan pada kulit buah naga merah paling tinggi adalah sebesar 70,3%. Pemanfaatan kulit buah naga merah pada pangan fungsional dapat diolah menjadi susu fermentasi, sosis sapi, es krim, mi, dan marmalade.
Kajian Pustaka Aktivitas Antidiabetes Kapuk Randu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn) In Vivo vini nur alfaeni; Lanny Mulqie; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.099 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4671

Abstract

Abstract. Diabetes Mellitus is a chronic disease that occurs when the body is unable to produce enough insulin or cannot use insulin (insulin resistance). One of the plants that have anti-diabetic activity is kapuk randu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn). The purpose of this article review is to determine the plant parts of kapuk randu plant that have antidiabetic activity seen from the decrease in blood glucose levels in vivo and also to determine the class of compounds found in kapuk randu as antidiabetic. The method used is in the form of a systematic literature review with the stages of library research, filtering based on inclusion and exclusion criteria and data extraction. Based on the results of a literature review, the parts of the kapok plant that have antidiabetic activity are seeds, bark, root bark, stem bark and also leaves. The highest percent (%) decrease in blood glucose levels was found in the seed plant, which was 65.31%. The group of compounds found in kapok plant parts that have antidiabetic activity are alkaloids, flavonoids, saponins, tannins and terpenoids. Abstrak. Diabetes Melitus adalah suatu penyakit kronik yang timbul saat tubuh tidak mampu memproduksi insulin yang cukup atau tidak dapat menggunakan insulin (resistensi insulin). Salah satu tumbuhan yang memiliki aktivitas antidiabetes adalah tumbuhan kapuk randu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn). Tujuan dari review artikel ini adalah untuk mengetahui bagian tanaman dari kapuk randu yang memiliki aktivitas antidiabetes dilihat dari penurunan kadar glukosa darah secara in vivo dan juga untuk mengetahui golongan senyawa yang terdapat pada tumbuhan kapuk randu sebagai antidiabetes. Metode yang digunakan yaitu berupa kajian pustaka secara sistematis dengan tahapan penelusuran pustaka, penyaringan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta ekstrasi data. Berdasarkan hasil kajian pustaka bagian tanaman kapuk randu yang meiliki aktivitas antidiabetes yaitu biji, kulit kayu, kulit akar, kulit batang dan juga daun. Persen (%) penurunan kadar glukosa darah paling tinggi terdapat pada bagian tanaman biji yaitu 65,31%. Golongan senyawa yang terdapat pada bagian tanaman kapuk randu yang memiliki aktivitas antidiabetes yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, tannin dan terpenoid.
Studi Literatur Aktivitas Antibakteri Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) Resti Fauziyah; Lanny Mulqie; Ratu Choesrina
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.975 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4673

Abstract

Abstract. Infectious diseases are still occur in Indonesia. The most common microorganisms that cause infection are bacteria. Several pathogenic bacteria that can cause infection in humans include Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, Shigella dysenteriae, Shigella flexneri, Bacillus subtilis, Klebsiella pneumonia, Proteus mirabilis, Salmonella typhi, and Pseudomonas sp. In general, infectious diseases can be cured by taking antibiotics. However, uncontrolled use of antibiotics can lead to resistance. So it is necessary to use natural ingredients that can be used as a support for the treatment of infections. One of the plants that can be used as medicine is noni fruit (Morinda citrifolia). The purpose of this review article was to determine the antibacterial activity of the Noni fruit (Morinda citrifolia) and to determine the active compounds contained in the Noni fruit (Morinda citrifolia). The method used is a systematic literature review with the stages of literature study, screening based on inclusion and exclusion criteria and data extraction. Based on the results of a literature study, Noni (Morinda citrifolia) has antibacterial activity against Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, Shigella dysenteriae, Shigella flexneri, Bacillus subtilis, Klebsiella pneumonia, Proteus mirabilis, Salmonella typhi, and Pseudomonas sp. The active compounds contained in the noni fruit (Morinda citrifolia) are acubin, L.asperuloside, alizarin, anthraquinone, limonene, quercetin, acids in the form of ascorbic acid, carpitic acid and caproic acid, anticancer substances in the form of xeronin and others nutrients needed by the body such as carbohydrates, proteins, vitamins, and minerals Abstrak. Penyakit infeksi masih banyak terjadi di Indonesia. Mikroorganisme yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri. Beberapa bakteri patogen yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia diantaranya Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, Shigella dysenteriae, Shigella flexneri, Bacillus subtilis, Klebsiella pneumonia, Proteus mirabilis, Salmonella typhi, dan Pseudomonas sp. Secara umum penyakit infeksi dapat disembuhkan dengan mengkonsumsi antibiotik. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol dapat memicu terjadinya resistensi. Sehingga perlu digunakan bahan alam yang dapat dijadikan sebagai penunjang pengobatan infeksi. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat yaitu buah Mengkudu (Morinda citrifolia). Tujuan dari review artikel ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada buah Mengkudu (Morinda citrifolia) dan mengetahui senyawa aktif yang terkandung pada buah Mengkudu (Morinda citrifolia). Metode yang digunakan yaitu berupa kajian pustaka secara sistematis dengan tahapan penelusuran pustaka, penyaringan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta ekstrasi data. Berdasarkan hasil studi literatur, buah mengkudu (Morinda citrifolia) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus,Shigella dysenteriae, Shigella flexneri, Bacillus subtilis, Klebsiella pneumonia, Proteus mirabilis, Salmonella typhi, dan Pseudomonas sp. Senyawa aktif yang terkandung dalam buah mengkudu (Morinda citrifolia) adalah acubin, L.asperuloside, alizarin, antraquinon, limonen, kuersetin, zat asam berupa asam askorbat, asam karpitat dan asam kaproat, zat antikanker berupa xeronin dan zat-zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral.
Kajian Potensi Penyebaran Mikroorganisme Patogen Penyebab ISPA dan Diare Berdasarkan Kondisi Geografis dan Demografis Wilayah Indonesia Erica Yola Pramana Putri; Dina Mulyanti; Evi Umayah
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.609 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4676

Abstract

Abstract. Infectious diseases are the biggest cause of death in Indonesia after degenerative diseases. In Indonesia, the types of infectious diseases with the highest prevalence are Acute Respiratory Tract Infections (ARI) and diarrhea with prevalences of 9.3% and 8.0%, respectively. Infectious disease is a condition in which an infectious agent enters the body accompanied by clinical symptoms. Infecting agents can be pathogenic microorganisms such as bacteria, viruses, fungi and parasites. These infectious agents can be transmitted from sufferers to susceptible individuals, either directly or indirectly. Based on this background, this literature study aims to determine the most common pathogenic microorganisms that cause ARI and diarrhea and to determine the pattern of transmission based on the geographical and demographic conditions of Indonesia. The method used in this study is a Systematic Literature Review, the search for articles is carried out through reputable online journal publication sites. The results of this study showed that the most common pathogenic microorganisms found as the cause of ARI were influenza virus and Streptococcus pneumoniae bacteria with an indirect transmission pattern, namely through the air, while the most common pathogenic microorganism found as a cause of diarrhea was Escherichia coli bacteria with its transmission pattern. is indirectly, namely through water. Abstrak. Penyakit infeksi merupakan penyakit penyebab kematian terbesar di Indonesia setelah penyakit degeneratif. Di Indonesia jenis penyakit infeksi dengan prevalensi tertinggi adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare dengan prevalensinya 9,3% dan 8,0%. Penyakit infeksi merupakan kondisi adanya agen penginfeksi yang masuk kedalam tubuh dengan disertai adanya gejala klinik. Agen penginfeksi dapat berupa mikroorganisme patogen seperti bakteri, virus, jamur dan parasit. Agen penginfeksi tersebut dapat ditransmisikan dari penderita kepada individu yang rentan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan latar belakang tersebut studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui mikroorganisme patogen yang paling banyak ditemukan sebagai penyebab ISPA dan diare serta untuk mengetahui pola transmisinya berdasarkan kondisi geografis dan demografis Indonesia. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah Systematic Literature Review, pencarian artikel dilakukan melalui situs publikasi jurnal online yang bereputasi. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa mikroorganisme patogen yang paling banyak ditemukan sebagai penyebab ISPA adalah virus influenza dan bakteri Streptococcus pneumoniae dengan pola transmisinya adalah secara tidak langsung, yaitu melalui udara (air borne), sedangkan mikroorganisme patogen yang paling banyak ditemukan sebagai penyebab diare adalah bakteri Escherichia coli dengan p
Penetapan Kadar Abu Total dan Bobot Jenis Buah Tin (Ficus carica L.) Aghnia Nurzahra; Lanny Mulqie; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.892 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4677

Abstract

Abstract. The fig plant is one of the plants that can be used as medicine, starting from the fruit, roots, and leaves which have benefits for treating various diseases, diseases such as digestion, respiratory disorders, cardiovascular disorders empirically and is thought to have anti-inflammatory effect, antispasmodic, antibacterial, antioxidant, antivirus, anthelmintic and others. To be able to be used as a medicinal plant that is not only efficacious, but also guaranteed safety and quality, it is necessary to standardize which is an effort to maintain the quality of medicinal raw materials that come from plants. Standardization consists of specific and non-specific parameters. Standardization that will be carried out in this study is non-specific parameters, namely total ash content and specific gravity. The purpose of this study was to determine the total ash content and types contained in figs (Ficus carica L.). The research method used is experimentally in the laboratory of the Islamic University of Bandung. The results obtained for the total ash content of 3.87% and specific gravity of 0.83 Abstrak. Tanaman tin merupakan salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai tanaman obat, mulai dari buah, akar, dan daunnya memiliki manfaat untuk mengobati berbagai penyakit, seperti penyakit pada pencernaan, gangguan pernafasan, gangguan kardiovaskular secara empiris dan diduga memiliki efek antiinflamasi, antispasmodik, antibakteri, antioksidan, antivirus, antelmintik dan lainnya. Untuk dapat dijadikan suatu tanaman obat yang bukan hanya berkhasiat, tapi juga terjamin keamanan dan mutunya, maka perlu dilakukan standardisasi yang merupakan upaya dalam menjaga kualitas bahan baku obat yang sumbernya dari tanaman. Standardisasi terdiri dari parameter spesifik dan non spesifik. Standardisasi yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah parameter non spesifik yaitu kadar abu total dan bobot jenis. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui nilai kadar abu total dan bobot jenis yang terdapat pada buah tin (Ficus carica L.). Metode penelitian yang digunakan adalah secara eksperimental di laboratorium Universitas Islam Bandung. Hasil yang diperoleh untuk nilai kadar abu total sebesar 3,87% dan bobot jenis sebesar 0,83. Kata Kunci: Bobot jenis, kadar abu total, buah tin.
Studi Literatur Aktivitas Antioksidan Senyawa Antosianin dalam Ekstrak Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) serta Aktivitas Farmakologinya terhadap Penyakit Diabetes Melitus Selyatul Amaliah; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.534 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4678

Abstract

Abstract. Antioxidants are compound that have the ability netralize free radicals by donating electrons to free radical compounds. Antioxidant compounds can prevent damage caused by free radicals. Increased oxidateive stress plays an important role in the occurence of various degenerative disease such as diabetes mellitus. Plants that have antioxidant and antidiabetic activity are telang flower (Clitoria ternatea L.) because the telang flower contains anthocyanin compounds. The purpose of this literature study was to determine the potential of the anthicyanin compounds in the telang flower extract (Clitoria ternatea L.) as antioxidants, determine the potential of anthocyanin compound in the telang flower extract (Clitoria ternatea L.) as antidiabetic, and to determine the types of anthocyanins that have antidiabetic activity. The research metode used is to search for literature from articles that have been published in National Journals and International Journals. The result of the study show that the telang flower has a good potential ability to scavenging DPPH free radicals which can be seen from the IC50 value produce in the range of 23.75 ppm – 106,863 ppm in the medium – very strong category. In addition, telang flowers has antidiabetic activity with various mechanisms of lowering blood glucose, including triggering insulin secretion from β-pancreatic cells. Inhibiting the formation of advanced glycation end products (AGEs), and increasing blood glucose absorption. Types of anthocyanin compounds that have antidiabetic activity are cyanidin-3-glucoside dan delfinidin 3-glucoside. Abstrak. Antioksidan adalah senyawa yang memiliki kemampuan untuk menetralkan radikal bebas dengan cara mendonorkan elektronnya pada senyawa radikal bebas. Senyawa antioksidan dapat mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal bebas. Peningkatan stres oksidatif sangat berperan pada terjadinya berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes melitus. Tanaman yang memiliki aktivitas antioksidan dan antidiabetes yaitu bunga telang (Clitoria ternatea L.) karena pada bunga telang terkandung senyawa antosianin. Tujuan dari studi literatur ini untuk mengetahui potensi senyawa antosianin yang dihasilkan ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L) sebagai antioksidan, mengetahui potensi senyawa antosianin dalam ekstrak bunga telang (Cltoria ternatea L.) sebagai antidiabetes, serta mengetahui jenis antosianin yang memiliki aktivitas antidiabetes. Metode penelitian yang dilakukan yaitu mencari pustaka dari artikel yang telah dipublikasikan dalam Jurnal Nasional maupun Jurnal Internasional. Hasil studi literatur menunjukkan bunga telang memiliki potensi kemampuan yang baik dalam menangkap radikal bebas DPPH yang dapat diketahui dari nilai IC50 yang dihasilkan berada pada kisaran 23,75 ppm – 106,863 ppm dengan kategori sedang – sangat kuat. Selain itu, bunga telang memiliki aktivitas antidiabetes dengan berbagai mekanisme penurunan gula darah, diantaranya merangsang seksresi insulin dari sel β-pankreas, menghambat pembentukan produk akhir glikasi lanjut (Advanced glycation end product- AGEs), serta meningkatkan penyerapan gula darah. Jenis senyawa antosianin yang memiliki aktivitas antidiabetes adalah Sianidin-3-Glukosida dan Delfinidin 3-Glukosida.
Kajian Pustaka Potensi Antibakteri Kombinasi Ekstrak Tanaman Sawo Manila (Manilkara zapota (L.) P. Royen) dengan Antibiotik Sintetik terhadap Bakteri Resisten Dwiratnasari; Vinda Maharani Patricia; Indra Topik Maulana
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.903 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4683

Abstract

Abstract. Infection is a type of disease that mostly affects developing countries, including Indonesia. One of the causes of infectious diseases is bacteria. To reduce the population of bacteria in general use antibiotics. However, irregular use of antibiotics can lead to antibiotic resistance. Manila sapodilla plant (Manilkara zapota (L.) P. Royen) has many health benefits. One of the properties of the sapodilla manila plant is as an antibacterial. This study aims to determine the effect of the combination of synthetic antibiotics with manila sapodilla extract in inhibiting the growth of resistant bacteria. This research was conducted using a literature review study method. Then the data were analyzed related to the potential antibacterial activity of the Brown manila leaves, seeds, and pericarp. The literature study showed that the sapodilla manila plant extract produced a synergistic effect when combined with antibiotics such as tetracycline, erythromycin, ciprofloxacin, chloramphenicol, streptomycin, and kanamycin which was characterized by a decrease in antibiotic MIC when combined. In addition, an antagonistic effect was also produced when combined with the antibiotic ciprofloxacin, which was characterized by an increase in the antibiotic MIC when combined. Abstrak. Infeksi merupakan jenis penyakit yang banyak diderita oleh negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit infeksi dapat disebabkan salah satunya yaitu bakteri. Untuk mengurangi populasi bakteri pada umumnya menggunakan antibiotik. Akan tetapi, jika penggunaan antibiotik secara tidak teratur dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik. Tanaman sawo manila (Manilkara zapota (L.) P.Royen) memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Salah satu khasiat dari tanaman sawo manila adalah sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kombinasi antibiotika sintetik dengan ekstrak sawo manila dalam menghambat pertumbuhan bakteri yang resisten. Penelitian ini dilakukan dengan metode studi literatur review. Kemudian data tersebut dianalisis terkait dengan potensi aktivitas antibakteri dari bagian daun, biji, dan perikarp sawo manila. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa ekstrak tanaman sawo manila diketahui menghasilkan efek sinergis saat dikombinasikan dengan antibiotik seperti tetrasiklin, eritromisin, siprofloksasin, kloramfenikol, streptomisin, dan kanamisin terhadap bakteri Escherichia coli, Enterobacter aerogenes, dan Pseudomonas aeruginosa yang ditandai dengan adanya penurunan KHM antibiotik saat dikombinasikan. Selain itu, dihasilkan juga efek antagonis terhadap bakteri Staphylococcus aureus saat dikombinasikan dengan antibiotik siprofloksasin yang ditandai dengan adanya kenaikan KHM antibiotik saat dikombinasikan.
Perbandingan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Bunga Brokoli (Brassica oleracea var. italica Plenck) dan Kembang Kol (Brassica oleracea var. botrytis DC.) terhadap Propionibacterium acnes salsabila soedradjat; Livia Syafnir; Indra Topik Maulana
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.162 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4686

Abstract

Abstract. Acne is a skin disease that often occurs in all circles that causes inflammation. The main cause of acne is the bacteria Propionibacterium acnes. This study aims to compare the antibacterial activity ethanol extract of broccoli flower and ethanol extract of cauliflower to the acne-causing bacteria P. acnes measured from the diameter of the resulting inhibition zone, as well as to compare the parameters and characteristics of each materials. The study began with standard parameter determination test, then phytochemical screening and antibacterial activity test for P. acnes. The results showed that broccoli contains alkaloids, flavonoids, phenolic compounds, tannins, quinones, saponins, steroids, monoterpenes and sesquiterpenes. Cauliflower contains alkaloids, flavonoids, phenolic compounds, tannins, quinones, saponins, steroids, triterpenoids, monoterpenes and sesquiterpenes. The results of the comparison test of antibacterial activity of ethanol extract broccoli flower and ethanol extract cauliflower to P. acnes with test concentrations of 1%, 5%, 10%, 15% and 20% using the well method showed negative results, where the two ingredients were not able to inhibit the growth rate of bacteria P. acnes. In the positive control, namely clindamycin, which showed an average diameter of the inhibition zone of 32.65 mm, the antibiotic produced antibacterial activity against the growth of P. acnes. This could be due to the fact that the two extracts were not active at all as antibacterial P. acnes, but had other antibacterial activities. Abstrak. Jerawat adalah penyakit kulit yang sering terjadi pada semua kalangan yang menyebabkan inflamasi. Penyebab utama terjadinya jerawat adalah bakteri Propionibacterium acnes. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antibakteri antara ekstrak etanol bunga brokoli dengan ekstrak etanol kembang kol terhadap bakteri penyebab jerawat P. acnes diukur dari diameter zona hambat yang dihasilkan, serta untuk membandingkan parameter dan karakteristik dari masing-masing bahan. Penelitian diawali dengan uji penetapan parameter standar lalu penapisan fitokimia dan dilakukan uji aktivitas antibakteri terhadap P. acnes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada brokoli mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, tanin, kuinon, saponin, steroid, monoterpen dan seskuiterpen. Pada kembang kol mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, tanin, kuinon, saponin, steroid, triterpenoid, monoterpen dan seskuiterpen. Hasil uji perbandingan aktivitas antibakteri ekstrak etanol bunga brokoli dan kembang kol terhadap P. acnes pada konsentrasi uji 1%, 5%, 10%, 15% dan 20% menggunakan metode sumuran menunjukkan hasil negatif, dimana kedua bahan tersebut tidak mampu menghambat laju pertumbuhan dari bakteri P. acnes. Pada kontrol positif yaitu klindamisin menunjukkan rata-rata diameter zona hambat sebesar 32,65 mm maka antibiotik tersebut menghasilkan aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan P. acnes. Hal tersebut dapat disebabkan karena kedua ekstrak tidak aktif sama sekali sebagai antibakteri P. acnes, melainkan aktivitas antibakteri lain.