cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsp@unisba.ac.id
Phone
+6289691247094
Journal Mail Official
bcsp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28282116     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Bandung Conference Series: Pharmacy (BCSP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Farmasi dengan ruang lingkup Airlock system Kanker, Alcohol, Antelmintik, Antigastritis drugs, Antioksidan, Artemia franciscana, Ascaris suum, Cacing babi (Ascaris suum Goeze), Contact Bioautography TLC, Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers), Daun kelor (Moringa oleifera Lam), Diabetes mellitus, DPPH Flavonoid, Fenilpropanolamin, Fermentasi, Flavonoid, Flavonol,Iles-iles, Isolasi, Lichen, Malassezia furfur, Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Obat antidiabetes (OAD) Propionibacterium acnes, Obat tradisional, Parkia Speciosa Antibakteri, Pektin, Propionibacterium Acnes, Pseudoefedrin, Saccharomyces Cerevisiae, Spektrofotometri uv sinar tampak, Staphylococcus epidermidis, uji aktivitas antibakteri, Uji sitotoksik, Usnea baileyi. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 416 Documents
Kajian Literatur Efek Farmakologi Biji dan Buah Anggur (Vitis vinifera L.) Kamilia Ayu Khairunnisa; Siti Hazar; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.747 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4462

Abstract

Abstract. Grapes are divided into two types that are commonly cultivated and can be consumed, namely Vitis vinifera and Vitis Labrusca. The vine (Vitis vinifera L) is one of the fruit plants with a high production rate, which has an important function in health. This study aims to determine the pharmacological potential of grape seeds and fruit from several research results and to find out what types of secondary metabolite compounds are contained in grape seeds and fruit. The research method used is SLR with two keywords using several databases. The results of the literature search showed pharmacological activities as antibacterial, antifungal, anticancer, antioxidant, and antihyperlipidemic. Antibacterial activity obtained from the inhibition zone produced strong activity, activity as antifungal obtained from the inhibition zone resulted in moderate activity, activity as a strong anticancer with an LC50 value produced with some cancer cells, activity as an antioxidant with an IC50 value of 11.3998 g/mL and activity as antihyperlipidemia obtained from a significant decrease in total cholesterol values. The secondary metabolite compounds contained in seeds and grapes are alkaloids, flavonoids, carotenoids, saponins, tannins and terpenoids. Abstrak. Tanaman anggur dibagi menjadi dua jenis yang umum dibudidayakan dan bisa dikonsumsi, yakni Vitis vinifera dan Vitis Labrusca. Tanaman anggur (Vitis vinifera L) merupakan salah satu tanaman yang buah dengan tingkat produksi yang tinggi, yang memiliki fungsi penting dalam kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi biji dan buah anggur secara farmakologi dari beberapa hasil penelitian dan mengetahui apa saja golongan senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam biji dan buah anggur. Metode penelitian yang digunakan adalah SLR dengan dua kata kunci menggunakan beberapa basis data. Hasil pencarian literatur menunjukkan aktivitas farmakologi sebagai antibakteri, antifungi, antikanker, antioksidan, dan antihiperlipidemia. Aktivitas antibakteri diperoleh dari zona hambat dihasilkan aktivitas yang kuat, aktivitas sebagai antifungi diperoleh dari zona hambat dihasilkan aktivitas yang sedang, aktivitas sebagai antikanker kuat dengan nilai LC50 yang dihasilkan dengan beberapa sel kanker, aktivitas sebagai antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 11,3998 µg/mL dan aktivitas sebagai antihiperlipidemia diperoleh dari penurunan nilai kolesterol total yang signifikan. Golongan senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam biji dan buah anggur yaitu alkaloid, flavonoid, karotenoid, saponin, tanin dan terpenoid.
Penelusuran Pustaka Potensi Genus Camellia sebagai Antikanker Salma Azizah; Kiki Mulkiya Yuliawati; Indra Topik Maulana
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.768 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4473

Abstract

Abstract. Cancer is the third most common cause of death in Indonesia after heart disease and stroke. One of the causes of cancer is the presence of excess free radicals in the body. Antioxidants are compounds that can counteract free radicals in the body. Antioxidants are plant activities produced by compounds such as phenols, polyphenols, flavonoids, vitamins C and E, catechins and carotenes. It has been studied phytochemically that the genus Camellia contains compounds such as tannins, alkoloids, terpenoids, flavonoids and other phenolics. Antioxidants have been shown to be beneficial in the prevention of cancer cells. Based on the antioxidant chemical content in plants of the Camellia genus, this literature search was carried out with the aim of knowing, collecting information and analyzing whether the Camellia genus has potential as an anticancer. And any type of cancer cells whose growth can be inhibited by the genus Camellia. There are 5 species of plants from the Camellia genus that have antioxidant and anticancer activities. Based on the literature search, several studies have proven that plants of the Camellia genus have antioxidant and anticancer activities with the identified compounds being phenol derivative compounds and genus Camellia can inhibit breast cancer cells MCF-7, MDA-MB-231, and prostate cancer PC3. Abstrak. Kanker merupakan penyakit penyebab kematian ketiga terbanyak di Indonesia setelah jantung dan stroke. Salah satu penyebab kanker yaitu adanya radikal bebas berlebih yang ada ditubuh. Antioksidan adalah suatu senyawa yang dapat menangkal radikal bebas didalam tubuh. Antioksidan adalah aktivitas tanaman yang dihasilkan oleh suatu senyawa seperti fenol, polifenol, flavonoid, vitamin C dan E, katekin dan karoten. Telah dipelajari secara fitokimia bahwa genus Camellia mempunyai kandungan senyawa seperti tanin, alkoloid, terpenoid, flavonoid dan fenolat lainnya. Antioksidan sudah terbukti bermanfaat dalam pencegahan sel kanker. Berdasarkan kandungan kimia antioksidan dalam tanaman genus Camelliadilakukan penelusuran pustaka ini bertujuan untuk mengetahui, mengumpulkan informasi dan menganalisis apakah genus Camellia memiliki potensi sebagai antikanker. Dan jenis sel kanker apa saja yang pertumbuhannya dapat dihambat oleh genus Camellia. Terdapat 5 spesies tanaman dari genus Camellia yang memiliki aktivitas antioksidan dan antikanker. Berdasarkan penelusuran pustaka bahwa beberapa penelitian membuktikan tanaman dari genus Camellia memiliki aktivitas antioksidan dan antikanker dengan senyawa yang teridentifikasi yaitu senyawa turunan fenol.. dan genus Camellia dapat menghambat sel kanker payudara MCF-7, MDA- MB-231, dan kanker prostat PC3.
Uji Aktivitas Penghambatan Tirosinase Ekstrak Etanol Biji Buah Kupa (Syzygium polycephalum (Miq.) Merr. & L.M.Perry) dan Formulasinya dalam Bentuk Sediaan Essence Sheet Mask Rafanisa Apriansah; Ratih Aryani; Sani Ega Priani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.348 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4478

Abstract

Abstract. Hyperpigmentation occurs due to the production of melanin in the body in excess, which is characterized by the presence of black or brown patches. In this study, a tyrosinase inhibitory activity was tested and an essence sheet mask was made from natural ingredients, namely the seeds of the kupa fruit. Kupa fruit seeds are known to contain flavonoid compounds which generally have tyrosinase inhibitory activity. The purpose of this study was to determine the tyrosinase inhibitory activity and to make an essence sheet mask formulation that meets pharmaceutical requirements. In this research, ethanol extract of kupa fruit seeds was made using 95% ethanol as solvent by maceration method. Then tested the tyrosinase inhibitory activity of the ethanol extract of the kupa fruit seeds and the formulation of the essence sheet mask preparation of the ethanol extract of the kupa fruit seeds. The results of the tyrosinase inhibitory activity test of the ethanol extract of kupa fruit seeds of 1,019.35 g/mL were categorized as very weak. The results of the essence sheet mask formulation using ethanol extract of kupa fruit seeds with a concentration variation of 1%; 3%; and 5% had good physical properties based on organoleptic testing, homogeneity, pH, viscosity, drying time and stability met the requirements. Abstrak. Hiperpigmentasi terjadi akibat produksi melanin pada tubuh dalam jumlah berlebih, yang ditandai dengan adanya bercak hitam atau coklat. Pada penelitian ini dilakukan uji aktivitas penghambatan tirosinase dan dibuat sediaan essence sheet mask dari bahan alami yaitu biji buah kupa. Biji buah kupa diketahui mengandung senyawa flavonoid yang umumnya memiliki aktivitas penghambatan tirosinase. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui aktivitas penghambatan tirosinase dan membuat formulasi sediaan essence sheet mask yang memenuhi persyaratan farmasetika. Pada penelitian ini dibuat ekstrak etanol biji buah kupa menggunakan pelarut etanol 95% dengan metode maserasi. Kemudian dilakukan uji aktivitas penghambatan tirosinase ekstrak etanol biji buah kupa dan formulasi sediaan essence sheet mask ekstrak etanol biji buah kupa. Hasil dari uji aktivitas penghambatan tirosinase ekstrak etanol biji buah kupa sebesar 1.019,35 µg/mL termasuk kategori sangat lemah. Hasil dari formulasi sediaan essence sheet mask yang menggunakan ekstrak etanol biji buah kupa dengan variasi konsentrasi sebesar 1%; 3%; dan 5% memiliki sifat fisik yang baik berdasarkan pengujian organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, waktu sediaan mengering dan stabilitas memenuhi persyaratan.
Sistem Vesikular sebagai Penghantaran Baru pada Obat Rute Perkutan Mega Suryani Putri; Fitrianti Darusman; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.348 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4535

Abstract

Abstract. Vesicles are colloidal particles in the form of bilayers from ampiphilic molecules or surfactants that have a role as drug carriers so that they can help increase drug penetration. The success of the formulation of the vesicular carrier system is influenced by the characteristics of a stable vesicle system. This study aims to find out how the vesicular system as a new delivery system in percutaneous route drugs to increase percutaneous penetration. The research conducted systematic literature of National and International articles from leading publishers. The results showed that liposomes can increase percutaneous penetration whose characteristics are stable with a vesicular size of 260.9±44.9 nm, PDI of 0.272±0.04 and a potential of zeta of 35.6±0.03 mV. The vesicular carrier system is able to increase percutaneous penetration marked an increase in the value of flux and percent penetration. The test results showed that the vesicles size of the vesicular carrier system affects the increase in percutaneous penetration. The highest increase in penetration is indicated by a vesicular carrier system that has a vesicle size of <300 nm. Abstrak. Vesikel merupakan partikel koloid berupa bilayer dari molekul ampifilik atau surfaktan yang memiliki peran sebagai pembawa obat sehingga dapat membantu meningkatkan penetrasi obat. Keberhasilan formulasi sistem pembawa vesikuler dipengaruhi oleh karakteristik sistem vesikel yang stabil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sistem vesikular sebagai sistem penghantaran baru pada obat rute perkutan untuk meningkatkan penetrasi perkutan. Penelitian ini dilakukan literatur sistematis artikel Nasional dan Internasional dari penerbit terkemuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa liposom dapat meningkatkan penetrasi perkutan yang karakteristiknya stabil dengan ukuran vesikuler 260,9±44,9 nm, PDI 0,272±0,04 dan potensi zeta sebesar 35,6±0,03 mV. Sistem pembawa vesikuler mampu meningkatkan penetrasi perkutan ditandai peningkatan nilai fluks dan penetrasi persen. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ukuran vesikel sistem pembawa vesikuler mempengaruhi peningkatan penetrasi perkutan. Peningkatan penetrasi tertinggi ditunjukkan oleh sistem pembawa vesikuler yang memiliki ukuran vesikel <300 nm.
Studi Literatur Potensi Sediaan Topikal Sarang Burung Walet (Aerodramus fuciphagus) sebagai Penyembuh Luka Halijah Putriyani; Sri Peni Fitrianingsih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.532 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4545

Abstract

Abstract. A wound is a damage or partial loss of body tissue that is accompanied by a loss of continuity of epithelial tissue due to several factors. Wounds can be classified based on their anatomical structure, nature, healing process and duration of healing. One of the natural material that has the potential to heal wound closure is swallow's nest (Aerodramus fuciphagus). The purpose of this literature review is to determine the potential of swallow's nest (Aerodramus fuciphagus) topical preparations as a wound healer and the content of compounds in swallow's nest (Aerodramus fuciphagus). The research method is used the Systematic Literature Review (SLR). The results of this literature study indicate that gel, cream and ointment preparations containing swallow's nest (Aerodramus fuciphagus) have potential as wound healers. Swallow's nest (Aerodramus fuciphagus) has an epiderdermal growth factor that function as the formation of new acid and tissue texture. Moreover, it contains compounds such as sialic acid, glycosaminoglycans, N-acetylgalactosamine, N-acetylglucosamine, N-acetylneuramin, galactose, fucose, essential amino acids, non-essential amino acids and 53-amino acid polypeptides that act as a healing process in wound closure. Abstrak. Luka merupakan rusaknya ataupun hilangnya sebagian dari jaringan tubuh yang di sertai hilangnya kontinuitas jaringan epitel dikarenakan beberapa faktor. Luka dapat diklasifikasikan berdasarkan struktur anatomis, sifat, proses penyembuhan dan lamanya penyembuhan. Salah satu bahan alam yang memiliki potensi pada penyembuhan dalam penutupan luka yaitu sarang burung walet (Aerodramus fuciphagus). Tujuan dari kajian studi literatur ini yaitu untuk mengetahui potensi dari sediaan topikal sarang burung walet (Aerodramus fuciphagus) sebagai penyembuh luka dan kandungan senyawa dalam sarang burung walet (Aerodramus fuciphagus). Metode penelitian yang dilakukan yaitu dengan menggunakan Systematic Literature Review (SLR). Hasil studi literatur ini menunjukkan bahwa sedian gel, krim dan salep yang mengandung sarang burung walet (Aerodramus fuciphagus) memiliki potensi sebagai penyembuh luka. Sarang burung walet (Aerodramus fuciphagus) memiliki faktor pertumbuhan epidermal yang berfungsi sebagai pembentukan tekstur kulit dan jaringan baru, serta terdapat kandungan senyawa seperti asam sialat, glikosaminoglikan, N-asetilgalaktosamin, N-asetilglukosamin, N-asetilneuraminat, galaktosa, fukosa, asam amino esensial, asam amino nonesensial dan polipeptida asam 53-amino yang berperan sebagai proses penyembuhan dalam penutupan luka.
Uji Aktivitas Antelmintik Infusa Biji Semangka (Citrullus lanatus (Thunb.) Matsum. & Nakai) terhadap Cacing Gelang Babi Dewasa (Ascaris suum Goeze.) dan Telurnya Secara In Vitro Rifa Nabilla Ruswandi; Suwendar; Sri Peni Fitrianingsih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.431 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4546

Abstract

Abstract. Worm infections are spread throughout the world, including in Indonesia. Deworming disease is treated using synthetic anthelmintic. Indonesia is rich in plants that are useful as medicine, one of the plants that can be used to treat intestinal worms is watermelon seeds (Citrullus lanatus (Thunb.) Matsum. & Nakai). This study aims to determine whether watermelon seeds have anthelmintic activity and to determine the effective concentration of watermelon seeds on the anthelmintic activity of pork round worm (Ascaris suum Goeze.) and their eggs in vitro. The test was divided inti 3 groups, the test group (10%, 5% and 2,5% w/v concentration), the comparison group (Pirantel pamoate, Piperazine citrate for pork roundworms, albendazole for helminth eggs), a negative control group (0,9% NaCl solution, disitilled water and Hank salin solution for pork roundworms). Parameters observed in round worms were to determine the type of paralysis and death of worms, as well as the percent inhibition of worm eggs. The results showed that watermelon seed infusion had anthelmintic activity by causing flaccid paralysis in pork roundworms and had an ovicidal effect on worm eggs. Watermelon seed infusion with concentrations of 10%, 5%, and 2,5% w/v had anthelmintic activity against pork roundworms and their eggs. The best activity shown at a concentration of 10% because the active compound contained more than the concentration of 5% and 2,5% w/v. Abstrak. Infeksi cacingan tersebar di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Penyakit cacingan diobati menggunakan antelmintik sintesis. Indonesia kaya akan tanaman yang bermanfaat sebagai obat, salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit cacingan adalah biji semangka (Citrullus lanatus (Thunb.) Matsum. & Nakai). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah biji semangka memiliki aktivitas antelmintik serta mengetahui konsentrasi efektif biji semangka pada aktivitas antelmintik cacing gelang babi dewasa (Ascaris suum Goeze.) serta telurnya secara in vitro. Pengujian dibagi dalam 3 kelompok, kelompok uji (konsentrasi 10&, 5%, dan 2,5% b/v), kelompok pembanding (Pirantel pamoat, piperazin sitrat untuk cacing gelang babi dewasa, albendzole untuk telur cacing). Parameter pengamatan pada cacing gelang babi dewasa yaitu mengetahui tipe paralisis dan kematian cacing dewasa, serta persen inhibisi terhadap telur cacing. Hasil penelitian menunjukkan infusa biji semangka memiliki antivitas antelmintik dengan menyebabkan paralisis flasid pada cacing gelang babi dewasa dan memiliki efek ovisidal pada telur cacing. Infusa biji semangka dengan konsentrasi 10%, 5%, dan 2,5% b/v memiliki aktivitas antelmintik terhadap cacing gelang babi dewasa serta telurnya. Aktivitas yang paling baik ditunjukkan pada konsentrasi 10% karena senyawa aktif yang terkandung lebih banyak dibandingkan dengan konsentrasi 5% dan 2,5% b/v.
Studi Literatur Aktivitas Antidiabetes pada Tanaman Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) dan Belimbing Manis (Averrhoa carambola) Yuan Vani Puspita Rachma; Umi Yuniarni; Ratu Choesrina
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.405 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4547

Abstract

Abstract. Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease characterized by high blood glucose levels than normal values. Wuluh starfruit (Averrhoa bilimbi) and sweet starfruit (Averrhoa carambola) plants from the Averrhoa genus, Oxalidaceae tribe are known to have antidiabetic activity. The purpose of this literature study was to determine which parts of the wealth starfruit and sweet starfruit have antidiabetic activity as well as the active compounds that play a role in these activities and their mechanism of action. The method used is to search for literature from articles that have been published in National Journals and International Journals. The results of the literature study showed that the leaves, fruit, and stems of the star fruit had antidiabetic activity. The mechanism of the wealth starfruit fraction etil asetat is by increasing insulin secretion in pancreatic cells which is thought to be due to the presence of quercetin compounds. The leaves and roots of the sweet star fruit have antidiabetic activity. The mechanism of the ethanolic extract of sweet star fruit root is to protect against the occurrence of cell damage in the pancreas which is thought to be due to the presence of compounds 2-Methoxy-6-nonylcyclohexa-2,5-diene-1,4-dione (MNDD) and 2-dodecyl-6- methoxycyclohexa-2,5-diene-1,4-dione (DMDD). The active compound in sweet star fruit that can play a role in antidiabetic activity is apigenin-6-C-β-fucopyranoside in the leaves by increasing glucose absorption in the soleus muscle which works through the insulin signaling pathway. Another compound is DMDD in the roots by weakening the expression of AGEs that play a role in the occurrence of nephropathy. Abstrak. Diabetes melitus (DM) adalah suatu penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah dari nilai normal. Tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dan belimbing manis (Averrhoa carambola) yang berasal dari marga Averrhoa, suku oxalidaceae diketahui memiliki aktivitas antidiabetes. Tujuan dari studi literatur ini untuk mengetahui bagian tanaman dari belimbing wuluh dan belimbing manis yang memiliki aktivitas antidiabetes serta senyawa aktif yang berperan dalam aktivitas tersebut dan mekanisme kerjanya. Metode yang digunakan yaitu dengan mencari pustaka dari artikel yang telah dipublikasikan dalam Jurnal Nasional dan Jurnal Internasional. Hasil dari studi literatur menunjukkan bahwa bagian daun, buah dan batang pada tanaman belimbing wuluh memiliki aktivitas antidiabetes. Mekanisme pada fraksi etil asetat buah belimbing wuluh yaitu dengan meningkatkan sekresi insulin pada sel β pankreas yang diduga karena adanya kandungan senyawa kuersetin. Daun dan akar pada tanaman belimbing manis memiliki aktivitas antidiabetes. Mekanisme pada ekstrak etanol akar belimbing manis yaitu dengan melindungi terjadinya kerusakan sel di pankreas yang diduga karena adanya kandungan senyawa 2-Methoxy-6-nonylcyclohexa-2,5-diene-1,4-dione (MNDD) dan 2-dodecyl-6-methoxycyclohexa-2,5-diene-1,4-dione (DMDD). Kandungan senyawa aktif pada belimbing manis yang dapat berperan dalam aktivitas antidiabetes yaitu apigenin-6-C-β-fucopyranoside pada bagian daun dengan meningkatkan penyerapan glukosa pada otot soleus yang bekerja melalui jalur pensinyalan insulin. Senyawa lain yaitu DMDD pada bagian akar dengan melemahkan ekspresi AGE yang berperan dalam terjadinya nefropati.
Studi Literatur Potensi Pengembangan Produk Biosimilar untuk Pengobatan Penyakit Tidak Menular di Indonesia Gizca Ratna Tazkia; Dina Mulyanti
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.94 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4559

Abstract

Abstract. The development of the era of globalization in Indonesia has resulted in an epidemiological transition that has led to an increase in the prevalence of cases of non-communicable diseases. One of the biotechnology-based treatments that can be used as a treatment for non-communicable diseases is biosimilar products. Biosimilars are products made from biological materials that have a high similarity with the originator’s biologic drugs. The purpose of this study was to determine biosimilar products that have the potential to be developed in Indonesia as a treatment for non-communicable diseases based on the highest prevalence of disease. The research method was carried out in the form of SLR (Systematic Literature Review). The results of the study indicate that there are fifteen biosimilar products that have the potential to be developed in Indonesia as the treatment of non-communicable diseases, including bevacizumab, trastuzumab, pegfilgrastim, filgrastim, epoetin alfa, insulin glargine, etanercept, infliximab, rituximab and adalimumab, teriparatide, follitropin alfa, ranibizumab, somatropin and IFN beta 1-α. Each of these biosimilar products is used for the treatment of lung cancer, HER-2 positive breast cancer, neutropenia, anemia due to chronic kidney disease, diabetes mellitus, rheumatoid arthritis, osteoporosis, infertility, neovascular age-related macular degeneration, growth hormone deficiency and multiple sclerosis. Abstrak. Berkembangnya era globalisasi di Indonesia mengakibatkan terjadinya transisi epidemiologi yang menyebabkan peningkatan prevalensi kasus-kasus penyakit tidak menular. Salah satu pengobatan berbasis bioteknologi yang dapat digunakan sebagai pengobatan penyakit tidak menular yaitu produk biosimilar. Biosimilar adalah produk yang dibuat dari bahan biologis yang memiliki kemiripan tinggi dengan obat biologis yang sudah memiliki izin atas penggunaannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui produk biosimilar yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia sebagai pengobatan penyakit tidak menular berdasarkan prevalensi penyakit tertinggi. Metode penelitian dilakukan dalam bentuk SLR (Systematic Literature Review). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima belas produk biosimilar yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia sebagai pengobatan penyakit tidak menular, diantaranya adalah bevacizumab, trastuzumab, pegfilgrastim, filgrastim, epoetin alfa, insulin glargine, etanercept, infliximab, rituximab dan adalimumab, teriparatide, follitropin alfa, ranibizumab, somatropin dan IFN beta 1-α. Masing-masing produk biosimilar tersebut digunakan untuk pengobatan kanker paru-paru, kanker payudara HER-2 positif, neutropenia, anemia akibat penyakit ginjal kronik, diabetes melitus, rheumatoid arthritis, osteoporosis, infertilitas, degenerasi makula terkait usia neovaskular, defisiensi hormon pertumbuhan dan sklerosis multipel.
Uji Sitotoksik Fraksi dan Ekstrak Batang Kayu Bajakah (Uncaria sp.) Menggunakan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) Mochamad Farhan Fadilah Zein; Siti Hazar; Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1128.074 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4567

Abstract

Abstract. The Bajakah Tampala plant is known by another name Uncaria sp. empirically by the people of the interior of the island of Borneo, the Bajakah tampala plant (Uncaria sp.) is used as a stamina enhancer and is often used as a cure for gout, diabetes, hypertension and other diseases. The plant is also used as an anticancer drug. The trunk of Bajakah tampala (Uncaria sp.) is thought to contain secondary metabolites that can be used as anticancer. This research was conducted with the aim to determine the secondary metabolite content of the tampala bajakah trunk (Uncaria sp.) and to determine the cytotoxic activity and the Lethal Concentration (LC50) value of the fraction and extract of the Bajakah stem (Uncaria sp.) against Artemia franciscana Kellogg shrimp larvae. using the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method. The LC50 value was calculated using the probit analysis method. Furthermore, to prove this, it is necessary to conduct experiments and analyzes of the ethanol extract of the stems and the fraction of the stems. The cytotoxic effect of each extract and fraction was identified on the mortality percentage of Artemia franciscana Kellogg nauplii. and calculated the value of LC50 by probit analysis. The results showed that the ethanol extract was more toxic than the fraction with an LC50 value of 23.8416 ppm. Abstrak. Tumbuhan Bajakah Tampala dikenal dengan nama lain Uncaria sp. secara empiris oleh masyarakat pedalaman pulau Kalimantan, tumbuhan bajakah tampala (Uncaria sp.) untuk penggunaan sebagai peningkat stamina dan sering digunakan sebagai obat asam urat, diabetes, hipertensi dan penyakit lainnya. Tumbuhan tersebut juga dimanfaatkan sebagai obat antikanker. Batang kayu bajakah tampala (Uncaria sp.) diduga mengandung senyawa metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai antikanker. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dari batang kayu bajakah tampala (Uncaria sp.) dan mengetahui aktivitas sitotoksik serta nilai Lethal Concentration (LC50) dari fraksi dan ekstrak batang kayu bajakah(Uncaria sp.) terhadap larva udang Artemia franciscana Kellogg. dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Nilai LC50 dihitung menggunakan metode analisis probit. Selanjutnya untuk pembuktian ini perlu dilakukan percobaan dan analisis ekstrak etanol batang kayu dan fraksi batang kayu. Efek sitotoksik dari masing-masing ekstrak dan fraksi diidentifikasi terhadap persentase kematian nauplii Artemia franciscana Kellogg. dan dihitung nilai LC50 dengan analisa probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol lebih toksik daripada fraksi dengan nilai LC50 sebesar 23,8416 ppm.
Skrining Fitokimia dan Karakterisasi Simplisia Buah Apel Hijau (Malus sylvestris (L.) Mill) Adinda Dewani Soetadipura; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.777 KB)

Abstract

Abstract. Indonesia is one of the mega biodiversity countries in the world that has high diversity, consisting of 30,000 plant species. WHO has recommended the use of traditional medicine including herbal medicine for the maintenance of public health, prevention and treatment of disease. In Indonesia, the use of medicinal plants has often been used by people from ancient times. Currently, the lifestyle of returning to nature (back to nature) is increasingly in demand by the public. According to the Basic Health Research (Riskesdas) in 2018, the percentage of Indonesians who consume traditional medicine is 38.7%. Apple is one type of fruit that is efficacious as a medicinal plant that is very popular in the community. Green apple (Malus sylvestris(L.) Mill) is a rich source of antioxidant compounds because it contains quercetin which is a flavonoid compound. Green apples have benefits for the prevention of cardiovascular disease, diabetes, inflammation, cancer, and asthma. A use of natural materials in health efforts must meet the criteria of safety, efficacy and quality. To meet these criteria, phytochemical screening and simpliciacharacterization were carried out. The results of the phytochemical screening showed that the simplicia of green apples contained a class of flavonoid compounds, polyphenols and tannins. The results of the simplicia characterization were the watersoluble extract content of 9.01 % ± 1.22; ethanol soluble extract content 22.31 % ±0.04; drying shrinkage 7.30 % ± 0.22; water content 5.5 % ± 0.7, total ash content 7 % ± 0.09; acid insoluble ash content 6.95 % ± 0.06. Abstrak. Indonesia merupakan salah satunegara mega biodiversitas di dunia yang memiliki keanekaragaman tinggi, terdiri30.000 jenis tumbuhan. WHO telahmerekomendasikan penggunaan obattradisional termasuk obat herbal untukpemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit. Di Indonesia sendiri pemanfaatan tumbuhanberkhasiat obat sudah sering digunakanoleh masyarakat dari jaman dahulu. Saatini, gaya hidup kembali ke alam (back to nature) semakin diminati oleh masyarakat. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, persentasependuduk Indonesia yang mengkonsumsiobat tradisional adalah 38,7%. Apelmerupakan salah satu jenis buah yang berkhasiat sebagai tumbuhan obat yang sudah sangat popular di masyarakat. Buahapel hijau (Malus sylvestris (L.) Mill) merupakan sumber yang kaya akansenyawa antioksidan karena mengandungquercetin yang merupakan senyawaflavonoid. Buah apel hijau memilikimanfaat sebagai pencegahan penyakitkardiovaskular, diabetes, inflamasi, kanker, dan asma. Suatu pemanfaatanbahan alam dalam upaya kesehatan harusmemenuhi kriteria keamanan, khasiat dan mutu. Untuk memenuhi kriteria tersebut, maka dilakukan skrining fitokimia dan karakterisasi simplisia. Hasil skriningfitokimia yang diperoleh menunjukkanbahwa simplisia buah apel hijaumengandung golongan senyawa flavonoid, polifenol dan tannin. Hasil darikarakterisasi simplisia yaitu kadar sari larut air 9,01 % ± 1,22; kadar sari larutetanol 22,31 % ± 0,04; susut pengeringan7,30 % ±0,22; kadar air 5,5 % ± 0,7, kadarabu total 7 % ± 0,09; kadar abu tidak larutasam 6,95 % ± 0,06.

Page 11 of 42 | Total Record : 416