cover
Contact Name
Tri Mei Khasana
Contact Email
trimeikh@gmail.com
Phone
+6289686000300
Journal Mail Official
medika.respati@respati.ac.id
Editorial Address
Universitas Respati Yogyakarta Kampus 2 Jl. Raya Tajem KM.1,5, Maguwoharjo, Depok, Kenayan, Wedomartani, Kec. Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55282
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan
ISSN : 19073887     EISSN : 26851156     DOI : 10.35842/mr.vxxixx.xxx
Core Subject : Health,
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan welcome submission in the area of health sciences and practices. Focus and Scope: Medicine Nursing Midwifery Public Health Nutrition Physiotherapy Health technology The manuscript must be Original Article
Articles 340 Documents
PENGARUH SENAM KAKI DIABETIK TERHADAP ANKLE BRACHIAL INDEX PADA PENGIDAP DIABETES MELLITUS DI KELOMPOK PERSADIA DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Deka Saputra; Mohamad Judha; Santi Damayanti
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan 2017: Suplemen Medika Respati Februari 2017 Volume 12
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.273 KB) | DOI: 10.35842/mr.v0i0.87

Abstract

Latar Belakang : Diabetes Mellitus dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang disebabkan oleh peningkatan kadar glukosa dalam darah. Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perubahan patologis anggota gerak bagian bawah yang disebut diabetic foot, neuropati, vaskulopati dan Pheripheral Artery Disease (PAD). Untuk mengetahui apakah seorang pengidap DM mengalami PAD adalah dengan cara melakukan pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI). Salah satu upaya penatalaksanaan untuk menjaga peredaran darah adalah dengan senam kaki diabetik. Senam kaki diabetik sangat bermanfaat bagi pengidap DM karena dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah di kaki dan mengurangi keluhan neuropathy sensorik. Berdasarkan hasil studi pendahuluan  didapatkan 6 orang mengidap PAD dari 75% pengidap DM di kelompok PERSADIA RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh senam kaki diabetik terhadap Ankle Brachial Index pada pengidap Diabetes Melitus di kelompok PERSADIA RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Metode Penelitian : Desain penelitian yang digunakan adalah quasy experiment pre and post test without control. Populasi dalam penelitian ini adalah pengidap DM di kelompok PERSADIA RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.  Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 24 sampel dengan teknik consecutive sampling. Analisa data penelitian menggunakan uji Wilcoxon dengan α <0.05. Hasil : Nilai ABI sebelum senam kaki diabetik, nilai mean ABI 1.27, nilai minimal 0.72 dan nilai maksimal 1.85. Nilai ABI setelah dilakukan senam kaki diabetic, nilai mean ABI 1.14, nilai minimal 0.91 dan nilai maksimal 1.30. Hasil uji Wilcoxon perbedaan ABI sebelum dan sesudah senam kaki diabetik  diperoleh p value 0.02 (p value <0.05). Kesimpulan : Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh senam kaki diabetik terhadap Ankle Brachial Index pada pengidap Diabetes Melitus di kelompok PERSADIA di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Kata Kunci : Senam Kaki Diabetik, Ankle Brachial Index, Diabetes Mellitus
PENGARUH USIA, TINGGI BADAN DAN RIWAYAT PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF TERHADAP STUNTING PADA BALITA Sumardiyono Sumardiyono
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 15, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.621 KB) | DOI: 10.35842/mr.v15i1.269

Abstract

Background: Stunting is a chronic condition that describes stunted growth due to long-term malnutrition. Stunting can be influenced by the lack of nutrition, low birth weight exclusive breastfeeding, duration of exclusive breastfeeding. Objective: to analyze the effect of age, height, and history of exclusive breastfeeding on stunting using multiple logistic regression tests and the presentation of the regression equation model followed by the probability of stunting in toddlers. Methods: The study population was toddlers who had medical record data at the public health center "X" in Banyuanyar Surakarta in October 2019. By using a consecutive sampling technique, a sample of 30 children was obtained. Results: age, height, and history of exclusive breastfeeding together affected stunting (F = 25,676, p = 0,000), with a joint effect of 71.9%. Age, height, and history of exclusive breastfeeding individually also affected stunting, respectively age (t = 3,656, p = 0.001), height (t = -4,499, p = 0,000), and history of breastfeeding exclusive (t = 3.207, p = 0.004). Conclusion: exclusive breastfeeding for toddlers can improve nutritional status, thereby reducing the chances of toddlers experiencing stunting.
UPAYA BERHENTI MEROKOK PADA PEROKOK WANITA DI KLINIK BERHENTI MEROKOKDI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU PARU (BP4) YOGYAKARTA Ignatius Gonggo Prihatmono; Lutfi Ayu Arifiyani
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 10, No 4 (2015)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.62 KB) | DOI: 10.35842/mr.v10i4.107

Abstract

Pendahuuan : Merokok merupakan  masalah kesehatan   yang sulit dipecahkan telah menjadi masalah global. Merokok  dapat menyebabkan  90% kematian karena kanker paru pada pria dan sekitar 8% pada wanita . Di seluruh dunia, 10 persen wanita dewasa adalah perokok, dan negara Indonesia menduduki peringkat ke-13 merupakan prevalensi tertinggi di Asia Tenggara.  Hail survei nasional tahun 2007, diketahui  60% pria dan 5% wanita di Indonesia merokok. Kebiasaan merokok semakin meningkat terutama pada wanita di perkotaan besar. Tujuan penelitian:  untuk mendapatkan gambaran yang mendalam tentang upaya berhenti merokok pada perokok wanita di klinik berhenti merokok di Balai Pengobatn Penyakit Paru-Paru Yogyakarta.Metode Penelitian : Penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan desain studi kasus multi kasus terpancang. Subjek penelitian ini adalah dua responden perokok wanita yang mengikuti program berhenti merokok di klinik berhenti merokok di Balai Pengobatn Penyakit Paru-Paru Yogyakarta. Hasil Penelitian dan Pembahasan : Pengumpulan data dilakukan di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru Yogyakarta selama tiga hari, Responden yang diambil dua orang  yaitu Ny.N dan Nn.T Hasil studi kasus yang didapatkan  empat kegiatan untuk upaya berhenti merokok yaitu program konseling, terapi perilaku, hipnoterapi dapat dilaksanakan sedangkan rehabilitasi medik tidak dilaksanakan. Pada kunjungan pertama dilakukan program konseling ikuti oleh Ny.N dan Nn.T.  Faktor penghambat dalam program ini adalah bahan candu yang terkandung dalam rokok dan lingkungan yang permisif terhadap perilaku merokok. Faktor pendukung dalam program ini adalah niat dari dalam diri sendiri, dukungan dari keluarga dan mengikuti strategi yang telah di jelaskan pada tahap konseling.Kesimpulan : Upaya berhenti merokok meliputi program konseling, terapi perilaku dan hipnoterapi. Saran untuk Ny.N dan Nn.T adalah menghindari tempat atau lingkungan perokok dan rutin mengikuti program berhenti merokok. Untuk perawat dan dokter diharapkan melakukan  rujukan kepada semua pasien yang merokok untuk mengikuti program berhenti merokok .  Untuk konselor diharapkan lebih memantau dan memotivasi klien untuk mengikuti terapi selanjutnya agar proses upaya berhenti merokok tidak berhenti di tengah perjalanan.Kata  Kunci : Upaya berhenti merokok, perokok wanita
ANALISIS DEMAND BPJS KESEHATAN PADA PEDAGANG DI PASAR KLATEN KABUPATEN KLATEN JAWA TENGAH Regina Claudine Pramugita Sayekti; Jati Untari; Markus Gelar Kumara Agni
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 15, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.389 KB) | DOI: 10.35842/mr.v15i3.289

Abstract

Analysis of Demand for BPJS Health Traders in Klaten Market, Klaten Regency, Central JavaBackground: The biggest challenge for the implementation of National Health Insurance is participation in the informal sector. Various backgrounds in the informal sector are reluctant to join BPJS Health membership because because they have never got dissemination of information on BPJS, have irregular monthly income, and object to monthly premium.Objective: Determining factors influencing demand for Health BPJS Kesehatan among merchants in Klaten Market, Klaten District, Central Java. Methods: The study was conducted in Klaten Market on 3-8 September 2019. The research design was cross sectional with a sample of 170 respondents. The sampling technique is accidental sampling. The analysis used was the Kendall Tau test (⍺ = 0.05). Results: Based on the Kendall Tau test results obtained income factors (p-value 0,000), premium amount (p-value 0,000), age (p-value 0.643), education (p-value 0.042) and information exposure (p-value 0.010). Conclusion: There is an influence of income, premium amount, education and information exposure on BPJS Health demand and there is no effect of age on BPJS Health demand.
PENGARUH PEMBERIAN TABURIA TERHADAP KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN BALITA UMUR 25 – 59 Bulan DI LOLANTANG, KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN PROPINSI SULAWESI TENGAH Silvia Dewi Styaningrum; Yuanita Carolyn; Priyanto Madya Satmaka
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.855 KB) | DOI: 10.35842/mr.v13i1.125

Abstract

 Latar Belakang: Defisiensi zat gizi makro berdampak pada penurunan status gizi balita. Taburia berisi Mikronutrien Powder (MNP) atau Bubuk Tabur Gizi (BTG) yang dikembangkan untuk mengatasi masalah defisiensi zat gizi mikro yang diharapkan dapat mendongkrak konsumsi zat gizi makro dan meningkatkan status gizi balita.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian taburia terhadap konsumsi energi dan protein balita gizi kurang dan gizi baik umur 25-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Lolantang Kabupaten Banggai Kepulauan Propinsi Sulawesi Tengah.Metode Penelitian: Penelitian eksperimen, rancangan pra eksperimen one group pre test postest yang dilakukan pada Mei 2014. Sampel adalah balita gizi kurang dan gizi baik umur 25 – 59 bulan masing-masing sebanyak 46 balita (matching usia dan jenis kelamin). Pemberian taburia dua hari sekali selama sebulan dengan pendampingan. Recall konsumsi 1x24 jam dilakukan sebelum dan setelah perlakuan. Analisis data menggunakan uji t (α = 0,05).Hasil: Konsumsi energi pada kelompok balita gizi kurang, sebelum dan sesudah perlakuan rata-rata meningkat 112,6 kkal dan pada kelompok gizi baik sebesar 54,8 kkal. Paired t test pada masing-masing kelompok menunjukkan peningkatan konsumsi energi secara bermakna (p=0,000). Konsumsi protein pada kelompok balita gizi kurang, sebelum dan sesudah perlakuan rata-rata meningkat 8,8 gram dan pada kelompok gizi baik sebesar 3,2 gram. Paired t test pada masing-masing kelompok menunjukkan peningkatan konsumsi protein secara bermakna (p<0,05). Independent t-test menunjukkan perbedaan bermakna pada konsumsi energi kedua kelompok (p=0,003), demikian pula dengan konsumsi protein (p=0,000). Kelompok balita gizi kurang menunjukkan peningkatan konsumsi energi dan protein yang lebih baik dibandingkan kelompok gizi baik (p<0,05).Kesimpulan:Ada pengaruh pemberian taburia terhadap konsumsi energi dan protein balita gizi kurang dan gizi baik umur 25-59 bulan (p<0,05). 
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG TOILET TRAINING DENGAN PENGGUNAAN DIAPERS PADA ANAK USIA TODDLER DI POSYANDU DUSUN BANJENG MAGUWOHARJO Casnuri, Fika Lilik Indrawati
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.415 KB) | DOI: 10.35842/mr.v12i2.13

Abstract

Latar belakang: Balita usia tiga tahun seharusnya sudah dilakukan pelatihan untuk menggunakan toilet, namun kenyataannya masih banyak ibu yang belum mengajarkan toilet training sehingga balita masih belum bisa untuk melaksanakan toilet training.Tujuan penelitian: untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang toilet training dengan penggunaan diapers pada anak usia toddler di Posyandu Dusun Banjeng Kecamatan Maguwoharjo Yogyakarta.Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian Cross Sectional. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki anak yang melakukan pendidikan di Posyandu Dusun Banjeng Kecamatan Maguwoharjo dengan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan analisis uji chi square.Hasil penelitian: hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 25 responden sebagian memiliki pengetahuan yang cukup tentang toilet training dan sebagian besar tidak menggunakan diapers pada anak. Hasil uji chi square menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengatahuan ibu tentang toilet training dengan penggunaan diapers pada anak usia toddler di Posyandu Dusun Banjeng Kecamatan Maguwoharjo Yogyakarta yaitu dengan nilai pvalue 0,693.Kesimpulan: semakin tinggi pengetahuan ibu, maka akan semakin tinggi kesempatan penggunaan diapers pada anak. Kata kunci: Pengetahuan, Penggunaan Diapers, Usia Toddler ABSTRACTBackground: Toddlers age of three years should have been done the training to use the toilet, but in reality there are many mothers who do not teach toilet training so the toddler is still not able to carry out toilet training.Objective: to determine the relationship between the level of knowledge of mothers about toilet training with the use of diapers for children ages toddler in IHC Hamlet Banjeng Maguwoharjo District of Yogyakarta.Methods: This study used quantitative approach with cross sectional study design. Population and sample in this research is all mothers who have children who do education in the District Banjeng Hamlet IHC Maguwoharjo with total sampling technique. Collecting data using questionnaires with chi square analysis.Result: The results showed that the majority of the 25 respondents have enough knowledge about toilet training and most do not use diapers in children. Chi-square test results showed no significant relationship between the level of maternal pengatahuan about toilet training with the use of diapers for children ages toddler in IHC Hamlet Banjeng Maguwoharjo District of Yogyakarta with a value pvalue 0.693. Conclusion: the higher the mother's knowledge, the higher the chance of the use of diapers in children. Keywords: Awareness, Usage Diapers, Age Toddler    
GAMBARAN KEPATUHAN DOKTER PRAKTEK SWASTA (DPS) TERHADAP SPO (STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL) DI WILAYAH KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2013 J. Nugrahaningtyas W. Utami
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.619 KB) | DOI: 10.35842/mr.v11i1.159

Abstract

Latar Belakang :  Menurut Kementrian Kesehatan (2012) menyatakan  bahwa mutu pelayanan kesehatan adalah kinerja yang menunjuk pada tingkat  kesempurnaan pelayanan kesehatan. Permenkes 2052/Menkes/Per/X/2011 menyatakan bahwa praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter dan dokter gigi terhadap pasien dalam  melaksanakan upaya kesehatan. Dalam  menjalankan praktik sehari-hari tersebut di atas, maka memerlukan panduan yang berupa SPO, merupakan panduan yang mendasarkan ilmu pengetahuan yang terbaru, berisikan instruksi/langkah-langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja rutin tertentu yang memberikan langkah yang benar dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan yang dibuat oleh fasilitas pelayanan kesehatan berdasarkan standar profesi.Tujuan : Untuk dapat melihat kepatuhan dokter praktek swasta (DPS) terhadap SPO di wilayah kota YogyakartaMetode Penelitian : Desain penelitian menggunakan deskripsi observasional. Teknik pengumpulan data menggunakan  metode survey dan pengumpulan data dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan melalui wawancara dan observasi langsung terhadap responden. Sample responden adalah dokter praktek swasta yang melakukan pelayanan medis di wilayah Kota Yogyakarta yang bekerja di praktek mandiri/swasta, klinik maupun di apotek dan yang berizin maupun tidak berizin, sebanyak 181 responden.Hasil : Responden adalah dokter dan dokter gigi umum dan spesialis sebanyak 181 responden. Dari 181 responden, dijumpai 20 orang dokter yang tidak ditemukan tempat praktek dan tidak dijumpai keterangan yang jelas di Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. Untuk aspek identitas maka dijumpai lebih dari 80 % dokter dan dokter spesialis baik umum maupun gigi dalam menjalankan pratek kedokteran sudah memiliki persyaratan aspek identitas. Kepatuhan SPO pada dokter umum dan dokter spesialis menunjukkan untuk menerima rujuk balik, menggerakan masyarakat, dan memberikan pelayanan tindakan memberikan hasil kurang dari 80 % dan untuk dokter gigi dan dokter gigi spesialis menunjukkan pelayanan merujuk pasien, menerima rujuk balik, menggerakan masyarakat, memberikan surat keterangan kesehatan dan memberikan pelayanan tindakan memberikan hasil kurang dari 80 %.Kesimpulan : Kepemilikan SIP dijumpai dokter umum dan dokter spesialis yang memiliki SIP sebanyak 85 % dan  dokter gigi dan dokter gigi spesialis yang memiliki SIP dalam melakukan praktik kedokteran sebanyak 76 %. Masih dijumpai dokter dan dokter gigi yang praktik tidak sesuai dengan data di Dinkes Kota Yogyakarta. Kepatuhan SPO dijumpai dokter umum dan dokter spesialis merujuk pasien dalam memberikan surat keterangan kesehatan, memberikan penyuluhan dan konseling, memonitor pasien, pemberian resep, menjaga kerahasiaan, serta pemeriksaan pasien menunjukkan lebih dari 80% dokter telah melaksanakan SPO sesuai yang tercantum di dalam SPO. Sedangkan menerima rujuk balik, menggerakan masyarakat, dan memberikan pelayanan tindakan menunjukkan hasil kurang dari 80 % dan dokter gigi dan dokter gigi spesialis pelayanan yang diberikan dokter gigi dan dokter gigi spesialis nampak bahwa SPO pemberian resep, memberikan penyuluhan dan konseling, menjaga kerahasiaan, memonitor pasien, pemberian resep, pelayanan tindakan serta pemeriksaan pasien menunjukkan lebih dari 80 % dokter telah melaksanakan SPO sesuai yang tercantum di dalam SPO. sedangkan untuk merujuk pasien, menerima rujuk balik pasien, memberikan surat keterangan kesehatan, dan menggerakkan masyarakat masih di bawah 80%.  Kata Kunci :Praktek dokter swasta, Kepatuhan SPO
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERKAIT KUSTA TERHADAP PERLAKUAN DISKRIMINASI PADA PENDERITA KUSTA Sulidah Sulidah
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 11, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.081 KB) | DOI: 10.35842/mr.v11i3.29

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang kusta terbesar didunia. Rantai penularan yang panjang dan berbelit merupakan faktor penyulit dalam program pengendalian kusta. Stigma negatif dan leprophobia menyebabkan penderita kusta seringkali menjadi sasaran perlakuan diskriminasi. Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang kusta menyebabkan sikap negatif masyarakat diduga menjadi pemicu perlakuan diskriminasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan masyarakat tentang kusta, sikap masyarakat pada penderita kusta, dan menganalisis hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perlakuan diskriminasi pada panderita kusta. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional dengan tingkat kepercayaan 95%. Populasi penelitian ini adalah masyarakat berusia 18-60 tahun yang dalam lingkungan tempat tinggalnya terdapat penderita kusta. Besar sampel 227 responden diambil dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang diadopsi dari Tosac (2006) dengan alpha Cronbach 0,81. Analisis keeratan hubungan antar variabel diuji menggunakan Mann-Whitney. Temuan penelitian ini telah mengidentifikasi tingkat pengetahuan masyarakat tentang kusta masih rendah, sikap masyarakat negatif terhadap penderita kusta, dan kecenderungan perlakuan diskriminasi oleh masyarakat pada penderita kusta. Analisis hubungan antar variabel menghasilkan tingkat kemaknaan 0,000 yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap masyarakat terkait kusta terhadap perlakuan diskriminasi pada penderita kusta.Kata kunci : pengetahuan, sikap, kusta, perlakuan diskriminasi.
STUDI KOMPARATIF PEMBERIAN EDUKASI TENTANG KESIAPSIAGAAN BENCANA GEMPA BUMI DENGAN MEDIA POWER POINT DAN VIDEO BERNYANYI TERHADAP PENGETAHUAN SISWA KELAS 4-5 DI SD KARANGGAYAM Lala Budi Fitriana; Paulinus Deny Krisnanto; Nosi Glosia
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 16, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.51 KB) | DOI: 10.35842/mr.v16i3.426

Abstract

Comparative Study of Providing Education on Earthquake Disaster Preparedness with Power Point Media and Singing Videos on Knowledge of Class 4-5 Students At Karanggayam Elementary SchoolBackground: Knowledge is the basis or the beginning of one’s action and awareness, knowledge is crucial in taking disaster management actions. Objectives: This study aims to determine the knowledge before and after providing education about earthquake disaster preparedness using PowerPoint media to students in grades 4-5 Karanggayam Elementary School; and the knowledge before and after giving education about earthquake disaster preparedness using singing-video media to students in grades 4-5 Karanggayam Elementary School. Methods: This research method used a quasi-experimental design with pre-test and post-test nonequivalent groups. The respondents were selected using an accidental sampling technique. The number of samples were 30 respondents, divided into two groups, and each group consisted of 15 respondents. The research instrument used were questionnaire sheets. The data collected on the use of PowerPoint media and singing videos were both analyzed using a Bivariate analysis, they were assessed using the Wilcoxon test. Results: The median value for PowerPoint media was 16 before and became 17 after the intervention, the video singing median value was 17 before and became 16 after the intervention. The results of statistics tests before and after the intervention in the PowerPoint media group obtained a P value of 0.180, and in the video singing group, the P value was 0.131. Conclusion: There was no difference in the knowledge about earthquake disaster preparedness in the PowerPoint media group and the singing videos group.
EFEKTIVITAS DIABETES SELF MANAGEMENT EDUCATION (DSME) TERHADAP KEJADIAN KAKI DIABETIK NON ULKUS Santi Damayanti, Nazwar Hamdani Rahil
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 13, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.28 KB) | DOI: 10.35842/mr.v13i3.186

Abstract

Latar Belakang : Ulkus kaki diabetik  merupakan salah satu komplikasi  diabetes melitus (DM).Untuk mencegah komplikasi, pilar utama penatalaksanaan DM yaitu edukasi. Diabetes Self Management Education (DSME) adalah  memberikan  pengetahuan  kepada  pasien mengenai  aplikasi  strategi  perawatan  diri  secara  mandiri  untuk  mengoptimalkan kontrol metabolik, mencegah komplikasi, dan memperbaiki kualitas hidup pasien DM.  Sampai saat ini puskesmas Ngaglik I belum menerapkan edukasi dengan metode DSME, tetapi masih menggunakan edukasi konvensional.Tujuan:  mengetahui kefektifan DSME terhadap kejadian kaki diabetik non ulkus di puskesmas Ngaglik I Sleman Yogyakarta.Metode  : Jenis penelitian Quasi Experiment dengan rancangan nonequivalent control group design.Teknik pengambilan sampel yaitu consecutive sampling. Analisis statistik yang digunakanWilcoxon Signed Ranks Testdan mann-whitneyU.Hasil : Hasil analisis beda mean kejadian kaki diabetic non ulkus pre tes dan post test pada kelompok intervensi dengan p value 0,009, sedangkan pada kelompok kontrol p value 0,069. Hasil analisis beda mean kejadian kaki diabetic non ulkus sesudah DSME pada kelompok intervensi dan control dengan P value 0.003Simpulan : DSME efektif menurunkan kejadian kaki diabetik non ulkus di Puskesmas Ngaglik I Sleman Yogyakarta. Kata kunci : DSME, Kaki diabetik non ulkus