cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 309 Documents
Sufisme dalam Pandangan Muslim Modernis Awal: Telaah Pemikiran Tasawuf Kiai Moechtar Boechari (1899-1926) Ali, Mohamad
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.229 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.606

Abstract

This research tries to find sufism thought by early modernist muslim from Surakarta, Kiai Moechtar Boechari (1899-1926), by tracing his religious view and Sufism thought. He was a santri and friend of K.H. Ahmad Dahlan (1868-1923) who pioneered in establish Muhammadiyah branch Surakarta. In general, as modernist muslim movement, Muham­madiyah is considered as anti-sufism. In contrast to that, Kiai Boechari paid attention to Sufism by writing a thin book, Tasawoef Tjekakan. This intellectual position is somewhat different from the mainstream modernist Islam movement. To explore this issue, this paper uses historical method by Berkhofer‟s situational approach. The result of the research points out, that firstly, religious view of Kiai Boechari is a modernist with authentic formulation, that is: purifying Tauhid, awakening scientific ethos, promoting movement of Islamic modernist, preaching Islam softly, and appreciating women‟s equality. Secondly, the character of Kiai Boechari‟s thought on Sufism seems to resemble Imam Al-Ghazali‟s mysticism of personality (transcendental mysticism), only that he modified by reducing zuhud station in order for a sufi to be involved dynamically in many aspects of life.Keywords: Kiai Moechtar Boechari, modernist muslim, sufism, Surakarta Penelitian ini berupaya mengungkap pemikiran tasawuf seorang muslim modernis awal asal Surakarta, Kiai Moechtar Boechari (1899-1926), dengan cara melacak pandangan keagamaan dan corak pemikiran tasawufnya. Dia merupakan santri dan sahabat K.H. Ahmad Dahlan (1868-1923) yang turut mendirikan Muhammadiyah cabang Surakarta. Pada umumnya, sebagai gerakan Islam modernis, Muhammadiyah dipandang anti-tasawuf. Berbeda dengan itu, Kiai Boechari memberi perhatian pada sufisme dengan menulis buku tipis, Tasawoef Tjekakan. Posisi intelektual yang demikian seolah-olah menempatkannya berada “di luar arus utama” gerakan Islam modernis. Untuk mengeksplorasi masalah tersebut, peneliti memakai metode sejarah dengan pendekatan situasional Berkhofer. Hasil penelitian menunjukkan pertama, pandangan keagamaan Kiai Boechari berhaluan modernis dengan formulasi yang otentik, yakni: memurnikan tauhid; membangkitkan etos keilmuan, aktif di gerakan Islam modern, mendakwahkan Islam dengan kelembutan, dan menghargai kesetaraan perempuan. Kedua, pemikiran tasawuf Kiai Boechari bercorak mistik kepribadian (transendental mistik) seperti halnya Imam Al-Ghazali. Lebih dari itu, dia memodifikasinya dengan tidak memasukkan tangga zuhud, agar sufi lebih dinamis menapaki berbagai aspek kehidupan.Kata kunci: Kiai Moechtar Boechari, muslim modernist, sufisme, Surakarta
Ajaran Tarekat Qadiriyyah Dan Naqsabandiyyah Dalam Naskah "Tarekat" Koleksi Museum Geusan Ulun Sumedang Hayunira, Sasadara; Supriatna, Agus
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 1 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 1 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.146 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i1.612

Abstract

This aims to reveal the contents of the ancient manuscripts, namely the ancient manuscript entitled "Tarekat" which is a collection of the Geusan Ulun Sumedang Museum, West Java. Philological approach was used as the method. The results obtained from the results of the edition as many as 82 pages, there are 128 words can't be read due to physical damage to the text and reading difficulties. There are copy errors on the text in the form of mechanical errors of 3 in the form of 2 repetitions of words, and 1 omission in the form of missing words. The contents of the text of the manuscript contain the teachings of the Qadiriyyah and Naqsabandiyyah orders. The teachings of the orders in this manuscript begin through the introduction of la??if, namely the collection of lat?fah (subtle parts of humans), then the introduction of various kinds of mur?qabah (behavior to draw closer to Allah), and then the procedure for performing both orders follows the reading of prayer 'wirid and the prize. This research provides important information that can add to the knowledge of previous researches about the tariqa in the Nusantara that is unique with the practice of incorporating the teachings of the tariqa in the Nusantara community. The founder figure of the merger between Qadiriyyah and Naqsabandiyyah orders is Sheikh Ahmad Khatib Sambas (1803 AD).Keywords: Teachings of the Qadiriyyah and Naqsabandiyyah Tariqa, Nusantara Ancient Manuscripts Artikel ini bertujuan untuk mengungkap isi naskah kuno berjudul “Tarekat”, yang merupakan koleksi Museum Geusan Ulun Sumedang, Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah metode penelitian filologi, yakni metode yang digunakan untuk mengedisi teks naskah kuno. Hasil penelitian ini menemukan bahwa naskah ini terdiri dari 82 halaman, dan terdapat 128 kata yang tidak dapat dibaca yang disebabkan oleh kerusakan fisik naskah dan menyebabkan kesulitan pembacaan. Terdapat tiga kesalahan penyalinan pada naskah berupa kesalahan mekanis mencakup dua ditografi, yakni kesalahan tulis berupa pengulangan kata, dan satu omisi yang berupa ketinggalan penulisan kata. Naskah ini berisi mengenai ajaran tarekat Qadiriyyah dan Naqsabandiyyah. Ajaran tarekat pada naskah ini dimulai dengan pengenalan la??if, yakni kumpulan lat?fah (bagian halus dari manusia), kemudian pengenalan mengenai macam-macam mur?qabah (perilaku untuk mendekatkan kepada Allah swt), dan setelah itu dijelaskan mengenai tatacara untuk melakoni kedua tarekat tersebut berikut bacaan do’a, wirid, dan hadiahnya. Penelitian ini memberikan informasi penting yang dapat menambahkan pengetahuan atas penelitian-penelitian terdahulu mengenai tarekat di Nusantara yang memiliki keunikan dengan adanya praktek penggabungan ajaran tarekat di masyarakat Nusantara. Pendiri penggabungan tarekat Qadiriyyah dan Naqsabandiyyah adalah Syeikh Ahmad Khatib Sambas (1803 M).Kata kunci: Ajaran Tarekat Qadiriyyah dan Naqsabandiyyah, Naskah Kuno Nusantara. 
Transformasi Metode Bahtsul Masail Nu Dalam Berinteraksi Dengan Al-Qur'an Pratomo, Hilmy
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 1 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 1 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1663.157 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i1.620

Abstract

This article examines the transformation of the method of the bahtsul masail NU while interacting with the Qur'an. Bahtsul masail NU was chosen because it has a large influence. While the primary source used is “Solusi Problematika Aktual Hukum Islam Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama 1926-2010 M.” The book is considered as an official document of NU's bahtsul masail that contains history, ideas and results of bahstul masail since its inception in 1926. There are three things studied in this article: how the transformation of the method of bahtsul masail NU in interacting with Qur'an, what are the dynamics that also affect it and how the implications are inflicted. Using the shifting paradigm theory, Thomas Kuhn found that the interaction with the Qur’an was strongly influenced by religious his characters. The most important thing that founded from this paper is that bahtsul masail NU is increasingly open in interacting with the Qur'an.Keywords: Al-Qur’an, Bahtsul masail NU, Interaction, Manhaji, Transfor­mation Tulisan ini mengkaji transformasi metode bahtsul masail NU dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Bahtsul masail NU dipilih karena memiliki pengaruh cukup luas. Sedangkan sumber primer yang dipakai adalah buku Solusi Problematika Aktual Hukum Islam Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama 1926-2010 M. Pertimbangannya, buku tersebut merupakan dokumen resmi bahtsul masail NU yang memuat sejarah, ide dan hasil bahtsul masail sejak dimulai tahun 1926. Dengan demikian, tulisan ini menggunakan metode analisa isi. Ada tiga hal yang dikaji dalam tulisan ini, yaitu: bagaimana transformasi metode bahtsul masail NU dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, apa saja faktor dan dinamika yang turut memengaruhinya dan bagaimana implikasi yang ditimbulkan. Dengan memakai teori shifting paradigm Thomas Kuhn ditemukan bahwa interaksi bahtsul masail NU dengan Al-Qur’an sangat dipengaruhi paham keagamaan tokoh-tokohnya. Hal terpenting yang ditemukan dari tulisan ini bahtsul masail NU semakin terbuka dan kontekstual dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.Kata Kunci: Al-Qur’an, Bahtsul masail NU, Interaksi, Manhaji, Transfor­masi.
Rekonstruksi Kisah Pangeran Samudro: di Tengah Mitos Ritual Seks Gunung Kemukus, Sumber Lawang, Sragen Widiani, Desti; Jiyanto, Jiyanto
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.484 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.632

Abstract

The story of Prince Samudro's tomb invites pros and cons. This arises because of the negative paradigm that developed in the community that there is trust if the wish is granted, then the visitors to Prince Samudro's grave must perform a ritual of having sex with the opposite sex but not their wife or husband 7 times in one eighty/35 days. From the negative paradigm makes the myth on Mount Kemukus an opportunity for the perpetrators of the practice of prostitution. This negative paradigm needs to be clarified so that the pilgrims are not trapped in the wrong paradigm and belief. The sex ritual at Mount Kemukus is a reality that cannot be covered. Although the Sragen Regency Government has banned the practice of such deviant behavior, the reality is that there are still ritualists who perform the sex ritual. From this reality, there needs to be an effort to straighten out the understanding of the community about the pilgrimage ritual at the tomb of Prince Samudro. One thing that can be done is by reconstructing the story of Prince Samudro so that the people know the true story about Prince Samudro. This research is a descriptive study using historical methods with the following steps: heuristics, verification, interpretation, and historiography. The research site was conducted at Gunung Kemukus, Sumber Lawang, Sragen. This study aims to (1) find out about the myths of sex rituals at Gunung Kemukus, Sumber Lawang, Sragen (2) reconstruct the true story of Prince Samudro at Gunung Kemukus, Sumber Lawang, Sragen.Keywords: Reconstruction, Prince Samudro, Myth of Sexual Rituals Kisah tentang makam Pangeran Samudro ini mengundang pro dan kontra. Hal ini muncul karena paradigma negatif yang berkembang di masyarakat bahwa adanya kepercayaan apabila ingin permohonannya terkabul, maka para pengunjung makam Pangeran Samudro harus mela­kukan suatu ritual berhubungan intim dengan lawan jenis tetapi bukan istri atau suaminya selama 7 kali dalam satu lapan/ 35 hari. Dari paradigma negatif tersebut menjadikan mitos di Gunung Kemukus menjadi peluang bagi para pelaku praktik prostitusi. Paradigma negatif ini perlu diluruskan agar para peziarah tidak terjebak dalam paradigma dan kepercayaan yang keliru. Ritual seks di Gunung Kemukus adalah kenyataan yang tidak bisa ditutupi. Meskipun Pemerintah Kabupaten Sragen sudah melarang adanya praktik perilaku menyimpang tersebut, namun realitasnya masih ada pelaku ritual yang melakukan ritual seks tersebut. Dari realitas tersebut perlu adanya upaya dalam meluruskan pemahamaman masyarakat tentang ritual ziarah di makam Pangeran Samudro. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan rekonstruksi terhadap kisah Pangeran Samudro agar masyarakat mengetahui kisah yang sebenarnya tentang Pangeran Samudro. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan metode sejarah dengan langkah-langkah sebagai berikut: heuristik, verifikasi, inter­pretasi, dan historiografi. Tempat penelitian dilaksanakan di Gunung Kemu­kus, Sumber Lawang, Sragen. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui tentang mitos ritual seks di Gunung  Kemukus, Sumber Lawang Kabupaten Sragen (2) merekonstruksi kisah yang sesungguhnya tentang Pangeran Samudro di Gunung Kemukus, Sumber Lawang Kabupaten Sragen.Kata Kunci: Rekonstruksi, Pangeran Samudro, Mitos Ritual Seks
Solidaritas Sosial di Era Post-Modern: Sakralitas Komunitas Salawatan Jaljalut Indonesia Hefni, Wildani; Ahmadi, Rizqa
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.94 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.648

Abstract

This study attempts to elucidate the emergence of forms of Islamic spirituality in Indonesian Islam identified as the Jaljalut community of Salawatan. This group has proliferated on Java in the last two decades both in urban and rural areas. This group also has attracted followers from a wide social base to their practices, hence contributing significantly to the improvement of religious performance and social solidarity among Indonesian Muslims. By using Durkheim’s approach of social solidarity and phenominological approach, this paper presents how religious community functions in the integration process, especially in the face of modernity. Social solidarity is the main theme discussed by Durkheim as a moral source for forming social order in society. Conclusions indicated from this study include the proposition that religious community can contribute to integration which is called by Durkheim a collective conscience and collective representations.Keywords: social solidarity, Jaljalut community, modernity. Artikel ini menjelaskan munculnya bentuk spritualitas Islam di Indonesia yang direpresentasikan oleh komunitas salawatan Jaljalut. Komunitas ini tumbuh dan berkembang di Jawa baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Komunitas ini diikuti oleh pelbagai kelompok kelas sosial yang kemudian berkontibusi besar dalam pembentukan karakter keberagamaan serta penguatan solidaritas sosial. Dengan menggunakan teori Durkheim tentang solidaritas sosial dan pendekatan fenomenologis, artikel ini mendedah bagaimana komunitas keagamaan salawatan Jaljalut di tengah tantangan modernitas dapat berkontribusi signifikan dalam membentuk kohesi sosial di tengah masyarakat. Solidaritas sosial menjadi tema utama yang dikaji oleh Durkheim sebagai sumber moral untuk membentuk tatanan sosial di masyarakat. Studi ini menegaskan bahwa komunitas keagamaan yang lahir dari solidaritas mekanis dapat berkontribusi pada penguatan integrasi yang disebut oleh Durkheim sebagai nurani kolektif dan representasi kolektif.Kata kunci: solidaritas sosial, komunitas Jaljalut, modernitas.
Pengarusutamaan Pendidikan Perdamaian Berbasis Kearifan Lokal Pela Gandong Pasca Rekonsiliasi Konflik Ambon di Sekolah Hasudungan, Anju Nofarof; Sariyatun, Sariyatun; Joebagio, Hermanu
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 2 (2019): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 17 No. 2 Tahun 2019
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.067 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i2.664

Abstract

The reconciliation of the Ambon Maluku conflict in 2002 is inseparable from the local wisdom of the Maluku people namely, pela gandong. When many parties find it difficult to find out how to end the conflict, pela gandong transforms into part of conflict resolution. However, peace conditions that are still vulnerable (peace vulnerabilities) allow conflict to occur again. Therefore, the achievement of conflict reconciliation must increase to the stage of peace education. The Maluku people define pela as a model of friendship, a system of brotherhood, or a system of fellowship that is developed between all indigenous people of two or more countries. Pela gandong local wisdom-based peace education has been implemented at SMPN 9 Ambon City and SMPN 4 Salahutu Liang Central Maluku District in the form of hot education pela education activities. This is different from the civil education model developed by the United Nations Children's Fund (UNICEF). Ambon Public Middle School 9 has a total of 1431 students with 99% Christians, while SMP Negeri 4 Salahatu Liang has 414 students with 100% Muslims. This study aims to reveal how the mainstreaming of peace education with the local wisdom model is imple­mented. The study was conducted in January 2018 at SMPN 9 Ambon. To get the answers of researchers, qualitative case study research methods are used. Data collection through literature study, interview, and partici­patory observation methods. The results of the study revealed the main­streaming of peace education with the local wisdom model of Pela Gandong can be well implemented and able to maintain peace (keeping the peace) in schools.Keywords: Mainstreaming, Peace Education, Pela Gandong, Ambon Conflict Reconciliation, Schools. Rekonsiliasi konflik Ambon Maluku tahun 2002 tidak terlepas dari kearifan lokal kepunyaan masyarakat Maluku yakni, pela gandong. Saat banyak pihak sulit menemukan bagaimana cara mengakhiri konflik, pela gandong bertransformasi menjadi bagian dari resolusi konflik. Akan tetapi, kondisi perdamaian yang masih rentan (peace vulnerabilities) memungkinkan konflik dapat terjadi lagi. Oleh karena itu, pencapaian rekonsiliasi konflik harus meningkat ke tahap pendidikan perdamaian (peace education). Masyarakat Maluku mendefinisikan pela sebagai model persahabatan, sistem persaudaraan, atau sistem persekutuan yang di kembangkan antar seluruh penduduk asli dari dua negeri atau lebih. Pendidikan perdamaian berbasis kearifan lokal  pela gandong telah diimplementasi di SMPN 9 Kota Ambon dan SMPN 4 Salahutu Liang Kabupaten Maluku Tengah dalam bentuk kegiatan panas pela pendidikan. Hal ini berbeda dari model pendidikan perdamaain yang kekembangkan oleh United Nations Children's Fund (UNICEF). SMP Negeri 9 Ambon memiliki jumlah peserta didik 1431 jiwa dengan 99 % beragama Kristen, sedangkan SMP Negeri 4 Salahatu Liang memiliki jumlah peserta didik 414 jiwa dengan 100 % beragama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana pengarus­utamaan pendidikan perdamaian dengan model kearifan lokal terlaksana. Penelitian dilakukan pada Januari 2018 di SMPN 9 Ambon. Guna menda­patkan jawaban peneliti, dipergunakan metode penelitian kualitatif studi kasus. Pengumpulan data melalui metode studi kepustakaan, wawancara, dan observasi-partisipatoris. Hasil penelitian mengungkapkan pengarusutama­an pendidikan perdamaian dengan model kearifan lokal pela gandong dapat terlaksana dengan baik dan mampu memelihara perdamaian (keeping the peace) di sekolah.Kata Kunci: Pengarusutamaan, Pendidikan Perdamaian, Pela Gandong, Rekonsiliasi Konflik Ambon, Sekolah.
Metode, Sumber, Dan Muatan Lokal Dalam "Al-Qur'an Dan Terjemahnya Dalam Bahasa Banjar" Wardani, Wardani
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 1 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 1 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.14 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i1.670

Abstract

This article is aimed to describe and analyze the translation of the Qur`an into Banjarese language in Alquran dan Terjemahnya dalam Bahasa Banjar published by The Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia in 2017. The discussion will be focused firstly, on the method and source of the translation, secondly, on its contents concerning the local subject. By using the perspective of science of the Qur`an interpretation and philosophy of ethics, this article has arrived at conclusion that the translation belongs to both method of literal (tarjamah harfiyah) and exegetical types (tarjamah tafsiriyah), and uses the archaic type of Banjerese language, Malay language, modified Indonesian language in accordance with Banjarese language structure, and Indonesian language. The translation refers mainly to Alquran dan Terjemahnya (Alquran and Its Translation) of The Ministry of Religious Affairs and other literature with some modifications, and the translation contains based-culture values that are scriptural, religious, theological, and traditional.Keywords: culture, local content, method, source, and translation  Artikel ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan dan menganalisis penerjemahan ke bahasa Banjar dalam Alquran dan Terjemahnya dalam Bahasa Banjar yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI. Diskusi akan difokuskan pertama, pada metode dan sumber penerjemahan, kedua, pada isinya berkaitan dengan muatan lokal. Dengan menerapkan perspektif ilmu tafsir dari filsafat etika, artikel ini sampai pada kesimpulan bahwa penerjemahan tersebut menerapkan baik metode terjemah secara harfiah (tarjamah harfiyah) maupun dengan penafsiran (tarjamah tafsiriyah), dan menggunakan jenis bahasa Banjar arkais, bahasa Melayu, bahasa Indonesia yang dimodifikasi sesuai dengan struktur bahasa Banjar, dan bahasa Indonesia. Penerjemahan tersebut merujuk utamanya kepada Alquran dan Terjemahnya Kementerian Agama and literatur lain dengan beberapa modifikasi, dan hasil terjemahannya memuat nilai-nilai berbasis kultur yang bersifat skriptural, relijius, teologis, dan tradisional.Kata kunci: budaya, metode, muatan lokal, sumber, dan terjemah
Agama dan Magi dalam Kepemimpinan Ulama Banten: Telaah terhadap Naskah Catatan Harian Abuya Muqri (1860-1959) Nur, Mahmudah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 2 (2019): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 17 No. 2 Tahun 2019
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.518 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i2.679

Abstract

This paper is the result of research on the exploration of the work of scholars (ulama) in Banten Province. The focus of this study is on the ability of Abuya Muqri in the field of religion and magic as one of the symbols of the leadership of a Kiai in the Banten region.  The philology approach was used in this study to examine the authenticity of the text. As for analyzing the content of the text that is associated with this research issue, the author uses the sociological knowledge and intertextual approach to see the consistency and relationships of Abuya Muqri's thoughts or ideas in his writing, namely the Abuya Muqri’s diary as a leadership concept in the Banten region. This study shows that abilities in religion and magic are the most important indicators for clerics in the Banten region. Without both, the clerics have no important position in the Banten community. With the ability of religion and magic (the wisdom of wisdom) written in Naskah Catatan Harian Abuya Muqri, Abuya Muqri was successfully recognized as one of the famous Kiai in Banten and made it a knot of wisdom in Banten in the 20th century.Keywords: Leadership, Abuya Muqri, Religion, Magi and Abuya Muqri Daily Record Manuscripts (NHCAM) Tulisan ini merupakan hasil penelitian mengenai eksplorasi karya ulama di Provinsi Banten. Kajian ini berfokus pada kemampuan Abuya Muqri dalam bidang agama dan magi sebagai salah satu simbol ke­pemimpinan seorang kiai di wilayah Banten. Pendekatan filologi diguna­kan dalam kajian ini untuk memeriksa otentisitas teksnya. Adapun untuk menganalisis isi teksnya yang dikaitkan dengan isu penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan sosiologi pengetahuan serta intertekstual untuk melihat konsistensi dan hubungan-hubungan pemikiran atau ide Abuya Muqri dalam karya tulisnya, yaitu naskah buku catatan harian Abuya Muqri sebagai sebuah konsep kepemimpinan di wilayah Banten. Kajian ini menunjukkan bahwa kemampuan dalam agama dan magi menjadi indikator paling penting bagi para kiai di wilayah Banten. Tanpa kedua­nya, para kiai tidak mempunyai kedudukan yang penting dalam masyarakat Banten. Dengan kemampuan agama dan magi (ilmu hikmah) yang tertulis dalam Naskah Catatan Harian Abuya Muqri, Abuya Muqri berhasil diakui sebagai salah satu kiai yang terkenal di Banten dan menjadikannya sebagai simpul ilmu hikmah di Banten pada abad ke-20.Kata kunci: Kepemimpian, Abuya Muqri, Agama, Magi dan Naskah Catatan Harian Abuya Muqri (NCHAM)
Nilai Pendidikan Karakter Religius Novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran Karya Mashdar Zainal: Perspektif Tradisi Islam Nusantara Chandra, Afry Adi; Waluyo, Herman J; Wardani, Nugraheni Eko
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.51 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.681

Abstract

This article describes the educational value of the religious character in the novel of Sawitri and the Seven Birth Trees (Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran) by Mashdar Zainal based on the perspective of the Islam Nusantara tradition. The existence of the value of religious character education is a very important aspect to internalize the students, as an effort to shape the distinctive character of the Indonesian nation. The acculturation between Javanese culture and Islamic tradition has had a major impact on the life of the Javanese people. The acculturation process had a positive impact on both, both for the development of Islam and Javanese culture. The main data source of this research is the text in the novel of Sawitri and the Seven Birth Trees (Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran) which relates to the value of character education based on the perspective of the Islamic Nusantara tradition. Data collection techniques use content analysis. Data validity techniques using data source triangulation and method triangulation. The flow models of Miles and Huberman, namely data reduction, data presentation, and conclusion and verification are used as techniques for analyzing data. The results of the study show in the novel of Sawitri and the Seven Birth Trees (Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran) by Mashdar Zainal there are various manifestations of the value of religious character education based on the perspective of the Islamic Nusantara tradition, namely (1) love God’s creatures, (2) believe in God’s destiny, (3) spread kindness to others, and (4) attitude of gratitude for God’s giving.Keywords: novel, the value of religious character education, Islam Nusantara Artikel ini mendeskripsikan nilai pendidikan karakter religius novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran karya Mashdar Zainal berdasarkan perspektif tradisi Islam Nusantara. Keberadaan nilai pendidikan karakter religius merupakan aspek yang amat penting untuk diinternalisasikan ke­pada peserta didik, sebagai upaya membentuk karakter khas dari bangsa Indonesia. Adanya akulturasi antara budaya Jawa dengan tradisi Islam, membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat Jawa. Proses akul­turasi tersebut membawa dampak positif bagi keduanya, baik bagi per­kembangan Islam maupun budaya Jawa. Sumber data utama penelitian ini berupa teks di dalam novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran yang terkait nilai pendidikan karakter berdasarkan perspektif tradisi Islam Nusantara. Teknik pengumpulan data menggunaan analisis konten (content analysis). Teknik validitas data dengan menggunakan triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Model alir Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, sajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi digunakan sebagai teknik untuk menganalisis data. Hasil penelitian menujukkan bahwa dalam novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran karya Mashdar Zainal terdapat berbagai wujud nilai pendidikan karakter religius ber­dasarkan perspektif tradisi Islam Nusantara, yaitu (1) mengasihi sesama ciptaan Tuhan, (2) percaya terhadap takdir Tuhan, (3) menebar kebaikan kepada sesama, dan (4) sikap syukur atas pemberian Tuhan.Kata Kunci: novel, nilai pendidikan karakter religius, Islamic Nusantara
Transformasi Dakwah Berbasis 'Kitab Kuning' Ke Platform Digital Risdiana, Aris; Ramadhan, Reza Bakhtiar; Nawawi, Imam
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 1 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 1 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.988 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i1.682

Abstract

AbstractThe industrial revolution in digital era challanges Islamic Da'wah agencies. Its traditional method is originally exclusive, and that has been transformed into more inclusive. This paper studied activities of muslim leaders and mosques as the main actors of Islamic Da'wah (preachers), who contact with social medias. This study used sociological approach, to recover muslim preacher’s considerations of digital modalities as new media of Islmic preaching. Using Habitus theory of Pierre Felix Bourdieu, that study points out three main functions of social medias for muslim preachers; first. functioning social media requests the reinterpretation of Kitab Kuning in accordance with current social-political issues, second, Islamic preaching in digital era is kind of all capitalized activies, and third, muslim preachers polarized into three main groups; proactive, contrastive, and unprofessional.Keywords: Islamic Da’wah, Preacher, Social Media, Economy-political Interpretations.Revolusi Industri di era digital menantang para agen dakwah Islam. Metode dakwah Islam tradisional yang semula eksklusif, kini telah bertransformasi menjadi lebih inklusif. Penelitian ini mengkaji serang­kaian aktivitas dakwah pemimpin Islam dan masjid, sebagai aktor utama dakwah Islam, yang bersentuhan dengan media sosial. Dengan pendeka­tan sosiologis, penelitian ini mengungkapkan kesadaran-kesadaran para da’i muslim tentang dunia digital sebagai media baru dakwah Islam. Menggunakan teori Habitus dari Pierre Felix Bourdieu, penelitian ini menemukan tiga hal utama; pertama, pemanfaatan media sosial menuntut interpretasi ulang kitab kuning agar lebih sesuai dengan perkembangan mutakhir isu-isu sosial-politik; kedua, dakwah Islam di era digital tidak lebih dari sekedar serangkaian aktivitas yang terkapitalisasi; dan ketiga para da’i muslim terpolarisasi ke dalam tiga kelompok utama: pro-aktif dengan media sosial, bersikap kontra produktif terhadap media, dan pro-media digital dalam kadar yang tidak profesional.Kata Kunci: Da’wah Islam, Da’i, Media Sosial, Tafsir Ekonomi Politik

Filter by Year

2012 2025