cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 52, No 1 (2024)" : 18 Documents clear
ONOMATOPE MANUSIA DALAM WEBTOON LOKAL PASUTRI GAJE SEASON 1 KARYA ANNISA NISFIHANI Rahmawati, Rahmawati; Suhandano, Suhandano
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1670

Abstract

 Humans as living beings are very productive in creating imitations of sounds from activities, feelings, and circumstances they experience. This study aims to describe the form, meaning, and function of human onomatopoeia contained in the local Webtoon Pasutri Gaje Season 1 by Annisa Nisfihani. The theory used in this study is Hanada's (2016) onomatopoeia theory. The data is in the form of onomatopoeias produced by humans, either from activities, feelings, or circumstances. The data were collected using documentation technique with four stages of analysis, namely (1) data collection, (2) data reduction, (3) data presentation, and (4) data conclusion. Based on the analysis of onomatopoeic forms and meanings, the results of this study show that (1) different onomatopoeic forms often have the same meaning, but are used in the same context of use and (2) the same onomatopoeic forms often have different meanings and describe different contexts. This shows that the meaning of human onomatopoeia is highly dependent on the context in which it is used. Meanwhile, the function of human onomatopoeia in this Webtoon is expressive.Manusia sebagai makhluk hidup sangat produktif dalam menciptakan tiruan-tiruan bunyi dari kegiatan, perasaan, dan keadaan yang dialaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna, dan fungsi onomatope manusia yang terdapat dalam Webtoon lokal Pasutri Gaje Season 1 karya Annisa Nisfihani. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori onomatope dari Hanada (2016). Data berupa onomatope-onomatope yang dihasilkan oleh manusia, baik yang dihasilkan dari kegiatan, perasaan, maupun keadaan. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi dengan empat tahap analisis, yaitu (1) pengumpulan data, (2) pereduksian data, (3) penyajian data, dan (4) penyimpulan data. Berdasarkan hasil analisis bentuk dan makna onomatope, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) bentuk-bentuk onomatope yang berbeda kerap kali memiliki makna yang sama, tetapi digunakan dalam konteks penggunaan yang sama dan (2) bentuk-bentuk onomatope yang sama kerap kali memiliki makna yang berbeda dan menggambarkan konteks yang berbeda pula. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemaknaan terhadap bentuk onomatope manusia sangat bergantung pada konteks penggunaannya. Sementara itu, fungsi onomatope manusia dalam Webtoon ini adalah fungsi ekspresif.
“RAYA AND THE LAST DRAGON” ANIMATION FILM: A SOURCE OF INSPIRATION FOR THE DEVELOPMENT OF INDONESIA'S CULTURE-BASED CREATIVE INDUSTRY Yono, Sri; Satiyoko, Yohanes Adhi; Sumiyardana, Kustri; Wibowo, Eko Cahyo Kusumo; Suwondo, Tirto
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1667

Abstract

The success of the animated film "Raya and The Last Dragon" which blends Southeast Asian culture is one proof of the new power of the economy that relies on creativity. This study aims to analyze aspects of art-literature-culture in the film that have the potential to be an inspiration for the development of culture-based creative industries (economy) in Indonesia. Using the basic concepts of creative economy theory and cultural anthropology, data collection in this descriptive-qualitative study is carried out by document study methods. The main data source of this study is the animated film "Raya and The Last Dragon" and secondary data sources are obtained from written, audio, and video materials. The data collected in this study refers to the scope of culture, namely ideas or opinion, cultural activities, and the results of cultural creativity contained in this animated film. The data that have been identified and classified are further analyzed using the concepts of creative (industrial) economic theory and cultural anthropology. The results of the study show that the work process and aspects of art-culture such as content creation based on local mythology, introduction of cultural values through stories, multi-cultural content creation, cultural tourism, cultural collaboration and creative industries, creative training, and innovation are important factors that inspire creators to develop culture-based creative industries in Indonesia. This study contributes to the development of interdisciplinary studies between humanities (art-culture-literature) and economics. Kesuksesan film animasi “Raya and The Last Dragon” yang meramu budaya Asia Tenggara menjadi salah satu bukti kekuatan baru ekonomi yang bertumpu pada kreativitas. Kajian ini bertujuan menganalisis aspek-aspek seni-sastra-budaya dalam film tersebut yang berpotensi menjadi inspirasi bagi pengembangan industri (ekonomi) kreatif berbasis budaya di Indonesia. Dengan menggunakan konsep dasar teori ekonomi kreatif dan antropologi budaya, pengumpulan data dalam kajian deskriptif-kualitatif ini dilakukan dengan metode studi dokumen. Sumber data utama kajian ini adalah film animasi “Raya and The Last Dragon” dan sumber data sekunder diperoleh dari bahan-bahan tertulis, audio, dan video. Data yang dikumpulkan dalam kajian ini merujuk pada ruang lingkup budaya, yaitu ide atau gagasan, aktivitas budaya, dan hasil dari kreativitas budaya yang terdapat dalam film animasi ini. Data yang telah diidentifikasi dan diklasifikasi selanjutnya dianalisis dengan menggunakan konsep teori ekonomi (industri) kreatif dan antropologi budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses kerja dan aspek-aspek seni-budaya seperti pembuatan konten berbasis mitologi lokal, pengenalan nilai budaya melalui cerita, pembuatan konten multi budaya, pariwisata budaya, kolaborasi budaya dan industri kreatif, pelatihan kreatif, dan inovasi menjadi faktor penting yang menginspirasi kreator untuk mengembangkan industri kreatif berbasis budaya di Indonesia. Kajian ini berkontribusi bagi pengembangan kajian interdisipliner antara humaniora (seni-budaya-sastra) dan ekonomi.
PATTERNS OF CODESWITCHING IN JAVANESE CULTURE ONLINE FORUM Nursanti, Emi
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1307

Abstract

This study specifically aims at 1) finding and interpreting the frequencies of the interrelation between the codeswitching types and functions, and 2) describing the communication features of a Javanese culture online forum based on the codeswitching patterns.  By using a mixed-method design, this study used qualitative data to explain the quantitative results. The data were multilingual utterances in a webinar. The study found that 1) some frequent codeswitching patterns occur in the webinar are: insertion-referential (40.4%), tag-expressive (20.1%), congruent lexicalization-referential (18.0%), congruent lexicalization-expressive (9.5%), intersentential-directive (2.8%), insertion-metalingual (2.1%), congruent lexicalization-metalingual (1.8%), insertion-directive (0.5%), insertion-expressive (0.5%), alternation-expressive (0.3%), congruent lexicalization-phatic (0.3%), and tag-phatic (0.2%). 2) Those patterns suit the nature of the events and the sociocultural background of the people involved. The dominant employment of cultural terms with no equivalent translations and the hierarchical and non-egalitarian Javanese society were the factors motivating the dominant occurrence of the referential and expressive functions of codeswitching.Kajian ini secara spesifik bertujuan untuk 1) menemukan dan menginterpretasikan frekuensi interelasi antara jenis dan fungsi alih kode, dan 2) mendeskripsikan fitur komunikasi forum daring kebudayaan Jawa berdasarkan pola alih kode tersebut. Dengan desain metode campuran, penelitian ini menggunakan data kualitatif untuk menjelaskan hasil kuantitatif. Datanya adalah ujaran multibahasa dalam sebuah webinar. Hasil penelitian menemukan bahwa 1) beberapa pola alih kode yang sering terjadi adalah: insertion-reference (40.4%), tag-expressive (20.1%), congruent lexicalization-reference (18.0%), congruent lexicalization-expressive (9.5%), intersentential-directive (2.8%), insertion-metalingual (2.1%), congruent lexicalization-metalingual (1.8%), insertion-directive (0.5%), insertion-expressive (0.5%), alternation expressive (0.3%), congruent lexicalization-phatic (0.3%), dan tag-phatic (0.2%). 2) Pola tersebut sesuai dengan karakter peristiwa tutur dan latar belakang sosial budaya masyarakat yang terlibat. Penggunaan istilah-istilah budaya yang dominan tanpa terjemahan yang setara dan masyarakat Jawa yang hirarkis dan non-egaliter menjadi faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya fungsi alih kode referensial dan ekspresif yang dominan.
KEARIFAN LOKAL LAMAHOLOT DALAM ANTOLOGI CERPEN KUNTUM KEROKO DI KAKI BUKIT KARYA MAHASISWA PBSI IKTL Wissang, Imelda Oliva
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1466

Abstract

This research aims to describe Lamaholot’s   local wisdom in the form of knowledge, traditions,  and local values in the Anthology of Short Stories Keroko Florests On The Mountain Slope by PBSI IKTL Students. Local wisdom with the noble values contained in it must be protected and maintained, preserved, including preservation through literary works as a creative and aesthetic innovation to maintain and preserve local wisdom as a characteristic and identity of the Lamaholot community. The approach used in this research is a qualitative descriptive approach and the method used is a qualitative method. The results of this research show that there is local wisdom of Lamaholot in the short story anthology Keroko Florests On The Mountain Slope by  PBSI IKTL students, namely (1) local wisdom of farming, (2) local wisdom of ecology, (3) local wisdom of kawen gate, (4) local wisdom of kakan dike-arin sare, (5) gewayan-gelekat local wisdom, and (6) religious local wisdom.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud kearifan lokal Lamaholot berupa pengetahuan, tradisi, dan nilai-nilai lokal dalam Antologi Cerpen Kuntum Keroko di kaki Bukit karya Mahasiswa PBSI IKTL. Kearifan lokal dengan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya harus dijaga dan dipertahankan, dilestarikan, termasuk pelestarian melalui karya sastra sebagai inovasi yang kreatif dan estetik  untuk tetap mempertahankan dan melestarikan kearifan lokal sebagai  ciri, identitas masyarakat Lamaholot. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, yakni pendekatan deskripstif kualitatif dan metode yang diguanakan adalah metode kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat kearifan lokal Lamaholot dalam antologi cerpen Kuntum Keroko di kaki Bukit karya Mahasiswa PBSI IKTL, yakni (1) kearifan lokal perladangan, (2) kearifan lokal ekologi, (3) kearifan lokal kawen gate, (4) kearifan lokal kakan dike-arin sare,  (5) kearifan lokal gewayan-gelekat, dan (6) kearifan lokal religius.
TINDAK TUTUR KEARIFAN LOKAL YOGYAKARTA PADA FILM-FILM PENDEK DI KANAL YOUTUBE PANIRADYA KAISTIMEWAN Fatonah, Devi Umi; Nurhayati, Endang
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1706

Abstract

This research aims to reveal the types, characteristics and functions of speech acts that show Yogyakarta local wisdom in short films on the Paniradya Kaistimewan YouTube channel. This research uses a sociopragmatic approach with descriptive qualitative research methods. The data in this research is speech in the form of words, phrases, clauses or sentences that show the local wisdom of Ngayogyakarta in short films on the Paniradya Kaistimewan YouTube channel. How to collect data by listening, making transcriptions and writing speeches. The research tool used is the researcher himself, assisted by data cards. How to validate data using semantic validity, theoretical triangulation, and stability reliability. The results of the research show: 1) direct literal with the characteristics of using the lingual unit "nuwun sewu" and the request directive function, 2) direct literal with the characteristics of using the lingual unit "nyuwun pangapunten" and the expressive function "nyuwun pangapunten", 3) direct literal with the characteristics of using the lingual unit "matur nuwun" and the expressive function of saying thank you, 4) direct literal with the characteristics of using the word "mangga" and the directive function of giving orders, 5) direct literal with the characteristics of using the word "injih ” and the representative function of providing an explanation, and 6) directly not literal with the characteristics of using the word “mango” and the directive function of request.Penelitian ini bertujuan mengungkap jenis, ciri-ciri, dan fungsi tindak tutur yang menunjukkan kearifan lokal Yogyakarta pada film pendek di kanal Youtube Paniradya Kaistimewan. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiopragmatik dengan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data pada penelitian ini tuturan yang berwujud kata, frasa, klausa, atau kalimat yang menunjukkan kearifan lokal Ngayogyakarta pada film-film pendek di kanal Youtube Paniradya Kaistimewan. Cara mengumpulkan data dengan menyimak, membuat transkripsi, dan menulis tuturan Alat penelitian yang digunakan yaitu peneliti sendiri dibantu kartu data. Cara mengesahkan data menggunakan validitas semantis, triangulasi teori, dan reliabilitas stabilitas. Hasil penelitian menunjukkan: 1) langsung literal dengan ciri-ciri menggunakan satuan lingual “nuwun sewu” dan fungsi direktif permintaan, 2) langsung literal dengan ciri-ciri menggunakan satuan lingual “nyuwun pangapunten” dan fungsi ekspresif “nyuwun pangapunten”, 3) langsung literal dengan ciri-ciri menggunakan satuan lingual “matur nuwun” dan fungsi ekspresif mengucapkan terima kasih, 4) langsung literal dengan ciri-ciri menggunakan kata “mangga” dan fungsi direktif memberi perintah, 5) langsung literal dengan ciri-ciri menggunakan kata “injih” dan fungsi representatif memberi penjelasan, serta 6) langsung tidak literal dengan ciri-ciri menggunakan kata “mangga” dan fungsi direktif permohonan.
KAJIAN FONOLOGI BAHASA JAWA BERDASARKAN TINJAUAN DIAKRONIS Wijayanti, Kenfitria Diah
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1174

Abstract

Comparative historical linguistics can show changes in languages that have kinship relationships. Analysis carried out on comparative historical linguistics can be both synchronous and diachronic. Diachronically the Javanese language has changed from time to time, namely Old Javanese, Middle Javanese, and New Javanese which are still actively used by the speakers. This article focuses on examining changes in phonological aspects of Javanese based on a diachronic review. To analyze the innovation and phonological retention of Proto Austronesian in Javanese, the historical-comparative method is used. The findings contained in this article are: (1) the PAN phoneme reflex can produce regular phoneme change rules (primary rules) in addition to sporadic rules (secondary rules) ); (2) there is some retention and innovation on PAN etymon. The retention of the Javanese phoneme to PAN appears in several consonant phonemes such as * / p /, * / b /, * / z /, * / j /, and / q /, and some vowels such as / a /, / i /, and / u /. Meanwhile, other phonemes are experiencing innovation, both innovation in the form of substitution, split, metathesis, mergers, dissimilation, protesis, and reduplication. Phonological and lexical innovations are significantly more dominant than retention.Linguistik historis komparatif dapat menunjukkan perubahan-perubahan pada bahasa yang memiliki hubungan kekerabatan. Analisis yang dilakukan pada linguistik historis komparatif dapat secara sinkronis maupun diakronis. Secara diakronis bahasa Jawa mengalami perubahan dari masa ke masa yakni dimulai bahasa Jawa Kuno, kemudian bahasa Jawa Tengahan, dan sekarang berkembang bahasa Jawa Baru yang hingga kini masih aktif digunakan oleh penuturnya. Artikel ini berfokus mengkaji perubahan aspek-aspek fonologis pada bahasa Jawa berdasarkan tinjauan diakronis. Metode historis-komparatif digunakan dalam menganalisis fenomena yang terdapat dalam Bahasa jawa terkait inovasi dan retensi fonologis Proto Austronesia. Temuan yang terdapat dalam artikel ini berupa: (1) refleks fonem PAN dapat menghasilkan kaidah perubahan fonem yang teratur (kaidah primer) di samping kaidah sporadis (kaidah sekunder); (2) terdapat beberapa retensi dan inovasi terhadap etimon PAN. Retensi fonem Jawa terhadap PAN tampak pada beberapa fonem konsonan seperti */p/, */b/, */z/, */j/, dan /q/, serta beberapa vokal seperti /a/, /i/, dan /u/. Sementara itu, fonem- fonem lainnya mengalami inovasi, baik inovasi berupa substitusi, split, metatesis, merger, disimilasi, protesis, dan reduplikasi. Secara signifikan inovasi fonologis dan leksikal mendominasi daripada retensi.
RESEPSI PEMBACA PERANAKAN TIONGHOA PADA CERPEN “CLARA ATAWA WANITA YANG DIPERKOSA” KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA Alayya, Syamila Isyqi; Muthmainnah, Atikah; Susanto, Dwi
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1491

Abstract

The May 1998 incident has become a historic event for the Indonesian nation, especially the Chinese race, who at that time were victims of the atrocities of the rioting of the indigenous masses. The pain of being a victim then became a collective memory for the Chinese ethnic group which continues to live on to this day. “Clara atawa Wanita yang Diperkosa” by Seno Gumira Ajidarma is a short story that contains this collective memory. Thus, this study tries to examine the psychology of a Chinese descent reader when they read the short story of “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. There is one reader respondent, who is a Chinese descent female student. In this study, the method used is descriptive qualitative method with data sources derived from readers and literature related to Norman Holland's Reader Response Criticism and the history of the events of May 1998. The method of collecting data is through interviews and interview transcripts. The results obtained are in the form of reception by the Chinese descent reader which is based on collective memories of events happened in May 1998. Apart from reader's past experiences which shape the responds psychologically, reader reception is in the form of rejection of the injustice received by Chinese people which is represented in the short story "Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. Peristiwa Mei 1998 telah menjadi peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia, terutama ras Tionghoa yang pada saat itu menjadi korban kekejaman amuk massa pribumi. Rasa sakit hati menjadi korban pada saat itu lalu menjadi memori kolektif bagi etnis Tionghoa yang terus hidup hingga saat ini. “Clara atawa Wanita yang Diperkosa” karya Seno Gumira Ajidarma merupakan cerpen yang memuat memori kolektif tersebut. Maka, kajian ini mencoba menelisik kejiwaan pembaca peranakan Tionghoa ketika membaca cerpen “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. Responden pembaca berjumlah dua orang, yaitu mahasiswi peranakan Tionghoa. Dalam kajian ini, metode yang dipakai adalah metode deskriptif kualitatif dengan sumber data berasal dari pembaca dan literatur terkait resepsi sastra Norman Holland serta sejarah peristiwa Mei 1998. Metode pengumpulan data melalui wawancara dan transkrip wawancara tersebut. Hasil yang didapat berupa penerimaan pembaca Tionghoa yang didasari pada memori kolektif peristiwa kerusuhan Mei 1998. Selain pengalaman-pengalaman pembaca di masa lalu yang membentuk penerimaannya secara psikologis, resepsi pembaca berupa penolakan terhadap ketidakadilan yang diterima orang Tionghoa yang direpresentasikan dalam cerpen “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”.
UNEN-UNEN AJARAN KARMAPHALA DALAM NASKAH KETHOPRAK “DARAH PRAMBANAN” DENGAN PERSPEKTIF FALSAFAH HIDUP BUDDHISME-JAWA Mardhina, Ani; Endraswara, Suwardi
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1518

Abstract

Unen-unen (expressions) of Javanese philosophy, which contain many teachings, are currently unconsciously less preserved. In fact, these unen-unen can be used as a guideline. In life, this guideline is expected to create goodness for oneself and others. This goodness can be achieved if a person does a good thing as well, and vice versa. Generally, Javanese people are familiar with the term “ngundhuh wohing pakarti” or what is often called the law of karmaphala in Buddhist beliefs. A description that shows human life coherently and contains many teachings is the kethoprak manuscript. A script that is superior and contains many teachings, especially the karmaphala teachings and contains Javanese wisdom values that are relevant to the unen-unen of Javanese philosophy is a kethoprak manuscript, entitled “Darah Prambanan” by Brian Riangga Dhita. Thus the purposes of this research are to 1) describe the types of karmaphala based on where the karma is fruitful and to describe the philosophical expressions of Javanese in the script “Darah Prambanan”; 2) describe the expressions and the actions of the characters in the script “Darah Prambanan” which the Buddism-Javanese perspective; 3) describe the function of karmaphala teachings in life according to the script. The researcher will collect data and present the results descriptively with an ethnographic approach through data cards which will later be analyzed using the content analysis method. So that the reader will know the words and actions of the characters in the kethoprak script “Darah Prambanan” which contains elements of the teachings of karmaphala with the Javanese-Buddhism philosophy perspective of life. This study found 13 conversational sentences and 1 description that contain karmaphala teachings with 6 types of kusala kamma (good karma) and 7 types of akusala kamma (bad karma). While the unen-unen of Javanese philosophy of life that is found is about the philosophy of life when complacent, namely 1) adigang, adigung, adiguna; and 2) sak begja-begjane wong kang lali, luwih begja wong kang eling lan waspada. When facing trials, namely 1) bandha titipan, pangkat sampiran, nyawa gadhuhan; 2) sumebar ron-ronaning kara; 3) nrima ing pandum, and the unen-unen of Javanese philosophy at the time of becoming a ruler are takwa, alert purba wasesa, gemi nastiti, ambeg parama arta, prasaja, satya, blaka, legawa. So from this description, Buddhist and Javanese beliefs both have guidelines for carrying out life. In addition, the teachings of life that is found in this study are responsibility, fairness, patience, and not arbitrary.Unen-unen (ungkapan) falsafah Jawa yang memuat banyak ajaran dewasa ini secara tidak sadar kurang dilestarikan. Padahal, unen-unen tersebut dapat dijadikan sebagai sebuah pedoman. Dalam kehidupan, pedoman ini diharapkan dapat menciptakan suatu kebaikan bagi diri manusia itu sendiri maupun orang lain. Kebaikan ini dapat dicapai apabila seseorang melakukan sebuah kebaikan pula, begitupun sebaliknya. Umumnya, masyarakat Jawa mengenal dengan istilah “ngundhuh wohing pakarti” atau yang sering disebut dengan hukum karmaphala dalam kepercayaan Buddhis. Sebuah gambaran yang menunjukkan kehidupan manusia secara runtut dan memuat banyak ajaran adalah naskah kethoprak. Naskah kethoprak yang unggul dan memuat banyak ajaran terutama ajaran karmaphala serta memuat nilai-nilai kearifan Jawa yang relevan dengan unen-unen falsafah Jawa adalah naskah kethoprak dengan judul “Darah Prambanan” karya Brian Riangga Dhita. Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) mendeskripsikan jenis karmaphala berdasarkan tempat karma itu berbuah dan unen-unen falsafah Jawa yang terdapat dalam naskah “Darah Prambanan”; 2) mendeskripsikan keterkaitan ungkapan dan tindakan dari tokoh dalam naskah tersebut dengan perspektif Buddhisme-Jawa; dan 3) mendeskripsikan fungsi ajaran karmaphala dalam kehidupan sesuai dengan naskah tersebut. Peneliti mengumpulkan data dan memaparkan hasilnya secara deskriptif dengan pendekatan etnografi melalui kartu data yang dianalisis dengan metode analisis konten. Sehingga pembaca akan mengetahui ucapan dan tindakan dari tokoh dalam naskah “Darah Prambanan” yang memuat unen-unen ajaran karmaphala dengan perspektif falsafah hidup Buddhisme-Jawa. Dari penelitian ini ditemukan 13 kalimat percakapan dan 1 keterangan yang memuat ajaran karmaphala dengan jenis kusala kamma (karma baik) berjumlah 6 buah dan akusala kamma (karma buruk) berjumlah 7 buah. Sedangkan unen-unen falsafah hidup Jawa yang ditemukan adalah mengenai falsafah hidup pada saat terlena, yakni 1) adigang, adigung, adiguna; dan 2) sak begja-begjane wong kang lali, luwih begja wong kang eling lan waspada. Saat menghadapi cobaan yakni 1) bandha titipan, pangkat sampiran, nyawa gadhuhan; 2) sumebar ron-ronaning kara; 3) nrima ing pandum, dan unen-unen falsafah Jawa pada saat menjadi penguasa adalah takwa, waspada purba wasesa, gemi nastiti, ambeg parama arta, prasaja, satya, blaka, legawa. Sehingga dari uraian tersebut, dalam kepercayaan Buddhis dan Jawa sama-sama memiliki pedoman untuk melaksanakan kehidupan. Selain itu, ajaran hidup yang ditemukan dalam penelitian ini adalah tanggung jawab, adil, sabar, dan tidak semena-mena. 
POLA PERUBAHAN FONOLOGI ANTARA BAHASA MINANGKABAU UMUM DAN SUBDIALEK MINANGKABAU SELAYO Razin, Thariq; Subiyanto, Agus
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1719

Abstract

This study aims to formulate the rules that apply to the pattern of phonological changes between the general Minangkabau language and the Selayo Minangkabau language subdialect based on distinguishing features in the study of generative transformation phonology. This research is a comparative descriptive of sound changes in general Minangkabau language and Selayo Minangkabau language subdialect. This research took three stages, namely collection, analysis, and presentation. Collection includes observation and interview. Analysis includes reduction. Presentation includes the use of International Phonetics Alphabeth symbols and narration. The results of the analysis show that there are sound differences that occur between the general Minangkabau language and the Selayo Minangkabau language in the form of vowel changes and deletions. Vowel changes occur in the form of alternation of the vowel /a/ in general Minangkabau then becomes the vowel /e/ in Selayo Minangkabau. This vowel change occurs in two positions, namely the end of the word before the consonants /k/ and /h/ and the end of the word without any consonants or vowels. Sound deletion occurs in the form of the removal of the vowel /i/ in general Minangkabau and then becomes /Ø/ in Selayo Minangkabau. Therefore, Selayo Minangkabau always emphasizes the vowel /u/ at the end of words because the deletion of the vowel /i/ always occurs after the vowel /u/ in Selayo Minangkabau.Penelitian ini bertujuan merumuskan kaidah yang berlaku terhadap pola perubahan fonologi antara bahasa Minangkabau umum dan subdialek bahasa Minangkabau Selayo berdasarkan fitur pembeda dalam kajian fonologi transformasi generatif. Penelitian ini merupakan deskriptif komparatif perubahan bunyibahasa Minangkabau umum dan subdialek bahasa Minangkabau Selayo. Penelitian ini menempuh tiga tahap, yaitu pengumpulan, analisis, dan penyajian. Pengumpulan meliputi observasi dan wawancara. Analisis meliputi reduksi. Penyajian meliputi penggunaan simbol International Phonetics Alphabeth dan narasi. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan bunyi yang terjadi antara bahasa Minangkabau umum dan bahasa Minangkabau Selayo berupa perubahan vokal dan pelesapan. Perubahan vokal terjadi dalam bentuk pergantian vokal /a/ dalam bahasa Minangkabau umum kemudian menjadi vokal /e/ dalam bahasa Minangkabau Selayo. Perubahan vokal ini terjadi di dua posisi, yaitu akhir kata sebelum konsonan /k/ dan /h/ dan akhir kata tanpa ada konsonan maupun vokal. Pelesapan bunyi terjadi dalam bentuk penghilangan vokal /i/ dalam bahasa Minangkabau umum kemudian menjadi /Ø/ dalam bahasa Minangkabau Selayo. Oleh sebab itu,bahasa Minangkabau Selayo selalu menonjolkan vokal /u/ di akhir kata karena pelesapan vokal /i/ selalu terjadi setelah vokal /u/ dalam bahasa Minangkabau Selayo.This study aims to formulate the rules that apply to the pattern of phonological changes between the general Minangkabau language and the Selayo Minangkabau language subdialect based on distinguishing features in the study of generative transformation phonology. This research is a comparative descriptive of sound changes in general Minangkabau language and Selayo Minangkabau language subdialect. This research took three stages, namely collection, analysis, and presentation. Collection includes observation and interview. Analysis includes reduction. Presentation includes the use of International Phonetics Alphabeth symbols and narration. The results of the analysis show that there are sound differences that occur between the general Minangkabau language and the Selayo Minangkabau language in the form of vowel changes and deletions. Vowel changes occur in the form of alternation of the vowel /a/ in general Minangkabau then becomes the vowel /e/ in Selayo Minangkabau. This vowel change occurs in two positions, namely the end of the word before the consonants /k/ and /h/ and the end of the word without any consonants or vowels. Sound deletion occurs in the form of the removal of the vowel /i/ in general Minangkabau and then becomes /Ø/ in Selayo Minangkabau. Therefore, Selayo Minangkabau always emphasizes the vowel /u/ at the end of words because the deletion of the vowel /i/ always occurs after the vowel /u/ in Selayo Minangkabau.
KETIDAKSANTUNAN BAHASA LARANGAN DI RUANG PUBLIK Rahmawati, Laili Etika; Rohmah, Rahayu Dwi; Ariyanto, Zahy Riswahyudha
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.922

Abstract

Language impoliteness in public spaces is clearly illustrated by the use of language that tends to be rude, threatening the interlocutor, and insulting. This impolite language behavior is usually caused by the speaker's emotions to have a psychological impact on the interlocutor. The purpose of this study is to describe the form of impoliteness of forbidden language in public spaces. The research method used is descriptive qualitative. The techniques used in data collection are listening techniques and note-taking techniques. The data analysis technique in exploring the problem is using the referential agih and equivalent methods. The results show that the form of impoliteness in the language of prohibition includes the language of prohibition of littering with a total of nineteen impolitenesses, while the language of prohibition precedes while driving amounts to eight impolitenesses. Speeches are not accidentally carried out to provide a psychological threat so that the interlocutor is aware of the impact that will be obtained when violating the forbidden language.Ketidaksantunan berbahasa di ruang publik tampak jelas digambarkan dengan adanya penggunaan bahasa yang cenderung kasar, mengancam lawan tutur, dan menghina. Perilaku bahasa yang tidak santun ini biasanya disebabkan oleh emosi penutur untuk memberikan dampak psikologis kepada lawan tutur. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk ketidaksantunan bahasa larangan di ruang publik. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pragmatik, teori pragmatik untuk mengkaji fenomena ketidaksantunan berbahasa di ruang publik. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini merupakan sumber data tulis yang berwujud pernyataan atau tuturan diungkapkan melalui gambar, spanduk, baliho, dan media lainnya. Sumber data yang digunakan didapat dari hasil riset di lapangan. Data dari penelitian ini berupa wujud tuturan ketidaksantunan bahasa larangan di ruang publik dilihat dari bentuk kebahasaan yang digunakan. Tahapan penelitian ini di antaranya (1) pengumpulan data, (2) identifikasi bentuk-bentuk ketidaksantunan bahasa larangan, (3) klasifikasi dan kategorisasi, (4) analisis data ketidaksantunan bahasa larangan, (5) penafsiran makna, (6) penyajian hasil, dan (7) penyimpulan. Teknik yang dipakai dalam pengumpulan data yakni teknik simak dan teknik catat. Teknik analisis data dalam menggali permasalahan yaitu menggunakan metode agih dan padan referensial. Uji validitas data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi teori. Hasil penelitian ini di antaranya: (1) ketidaksantunan bahasa larangan meliputi bahasa larangan membuang sampah sembarangan sejumlah sembilan belas ketidaksantunan, (2) bahasa larangan mendahului saat berkendara berjumlah delapan ketidaksantunan. Tuturan tersebut dilakukan secara sengaja untuk memberikan ancaman psikologis agar lawan tutur menyadari konsekuensi yang akan diterima jika melanggar bahasa larangan.

Page 1 of 2 | Total Record : 18