cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
ANALISIS STRUKTUR DAN FUNGSI TEKS IKLAN LAYANAN MASYARAKAT Restu Sukesti
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1371.885 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.893

Abstract

Public service advertisements (PSA) as a means of communication "govern" to the public even though the form of commanding is in the form of orders, prohibitions, appeals, and suggestions. PSAs in internet media use pictures and writing, both together as a means of communication, but what can "talk" a lot is language. Language in PSAs, hereinafter referred to as text, is studied in this study with a qualitative descriptive approach and with research methods: data collection (download and copy techniques), data analysis (text structure analysis (discourse) techniques), language structure analysis techniques/grammar, and analytical techniques pragmatics). The results obtained indicate that there are three forms of ILM text, namely only images, a mixture of images and writings, and only text; 2) PSA text composition consists of themes, supports, and illustrations; 3) the language in ILM uses a mixture of foreign vocabulary, and verbs with -kan, -i, and klitika -lah. the peculiarity of the message in the PSA text is in the form of a commanding message, either directly or indirectly.Iklan layanan masyarakat (ILM) sebagai sarana komunikasi memberikan “perintah” pada masyarakat dan wujud perintah itu berupa suruhan, larangan, imbauan, dan saran. ILM dalam media internet menggunakan sarana gambar dan tulisan, keduanya bersama sebagai sarana komunikasi, tetapi yang dapat “berbicara” banyak ialah sarana bahasa. Bahasa dalam ILM, selanjutnya disebut teks dikaji dalam penelitian ini dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan dengan metode penelitian: penjaringan data (teknik unduh dan salin), penganalisisan data (teknik analisis struktur teks (wacana), teknik analisis sturktur bahasa/gramatika, dan teknik analisis pragmatik). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa 1) bentuk teks ILM ada tiga, yaitu hanya gambar, campuran gambar dan tulisan, dan hanya tulisan; 2) komposisi teks ILM terdiri atas tema, pendukung, dan ilustrasi; 3) bahasa pada ILM memanfaatkan campuran kosakata asing, dan verba berafiks –kan, -i, dan klitika –lah, 4) kekhasan kosakata pada teks ILM ialah menggunakan kata “imperatif” (jangan, ayo, mari, dsb.); dan 5) kekhasan pesan pada teks ILM ialah berupa pesan memerintah, baik secara langsung maupun taklangsung.
TINDAK TUTUR EKSPRESIF MUDIK LEBARAN Edi Setiyanto
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.495 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.649

Abstract

This study discusses the speech acts expressive of Eid Mubarak homecoming. This study proposes to describe the psychological atmosphere of homecoming travelers until they choose homecoming even though they have to experience discomfort during the trip. This study utilizes speech act theory, especially the types of expressive speech acts. This study is descriptive qualitative. The data is utterances written on posters or placards attached to luggage or transportation mode of the travelers. The data are obtained by observing method, downloading technique, followed by copying technique. The data are taken from the website or Facebook. The obtained data are 36 utterances. The data are analyzed using the marker reading method, inserting technique, and the equivalent method, namely the pragmatic equivalent. The study found out that there are seven types of homecoming expressive speech acts. The seven types of homecoming expressive speech acts are (1) apologizing, (2) stating gratitude, (3) implementing determination, (4) joking, (5) reasoning, (6) complaining, and (7) describing indecision. The seven types of expressive speech acts describe the psychological atmosphere of people during a homecoming trip or why they must choose homecoming.Kajian ini membahas tindak tutur ekspresif mudik lebaran. Kajian ini bertujuan menggambarkan suasana psikologis pemudik sehingga tetap memilih mudik meski harus mengalami ketidaknyamanan perjalanan. Kajian ini memanfaatkan teori tindak tutur, terutama jenis-jenis tindak tutur ekspresif. Kajian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data kajian berupa tuturan yang dituliskan pada poster atau plakat yang ditempelkan pada barang bawaan atau moda transportasi yang digunakan pemudik. Data diperoleh dengan metode simak, teknik unduh, yang dilanjutkan dengan teknik salin. Data diambil dari laman atau Facebook. Data yang diperoleh berjumlah 36. Data dianalisis menggunakan metode baca markah, teknik sisip, dan padan pragmatik bergantung sifat permasalahan. Kajian menemukan tujuh jenis tindak tutur ekspresif mudik. Tujuh jenis tindak tutur ekspresif itu ialah (1) meminta maaf, (2) mengungkapkan syukur, (3) melaksanakan tekad, (4) melucu, (5) mengungkapkan alasan, (6) mengeluh, dan (7) menggambarkan kebimbangan. Tujuh jenis tindak tutur ekspresif itu menggambarkan kondisi psikologis pemudik saat melakukan mudik atau mengapa melaksanakan mudik.
KONSTRUKSI RELASI SEMANTIK VERBA SERIAL DALAM BAHASA KEDANG Rizal D. Syifa; Agus Subiyanto
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.926 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.899

Abstract

This research is a qualitative descriptive study that discusses the semantic relation of serial verbs construction in Kedang language. There are two sources of data, namely; primary data obtained through interviews and secondary data obtained through language documentation. The data were analyzed using the agih and padan method which was initiated by Sudaryanto, then adjusted to Dixon's typology theory regarding the pattern of serial verb formation. The results showed that there were eight semantic relations of serial verbs in Kedang language, are (1) motion/displacement, (2) objective, (3) manner, (4) cause - effect, (5) locative, (6) aspectual, (7) benefactive. , and (8) causative. From the serialization, there is a special pattern of rules in the Kedang language, namely; (a) action-manner pattern for manner verbs, (b) action-purpose pattern for objective verbs, (c) action-location pattern for locative verbs, and (d) action (cause) - action (effect) pattern. There are two argument interpretations which can be classified as satelite verb in benefactive verb.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang membahas tentang relasi semantik konstruksi verba serial dalam bahasa Kedang. Ada dua sumber data, yaitu data primer yang diperoleh melalui wawancara dan data sekunder yang diperoleh melalui dokumentasi bahasa. Data dianalisis menggunakan metode agih dan padan dari Sudaryanto, yang kemudian disesuaikan dengan teori tipologi dari Dixon mengenai pola pembentukan verba serial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada delapan relasi semantis verba serial dalam bahasa Kedang, kedelapan relasi semantis tersebut yaitu (1) gerak/perpindahan, (2) objektif, (3) kecaraan, (4) sebab akibat, (5) lokatif, (6) aspektual, (7) benefaktif, dan (8) kausatif. Dari serialisasi tersebut, terdapat pola kaidah khusus dalam bahasa Kedang, yaitu; (a) pola tindakan-cara untuk verba kecaraan, (b) pola tindakan-tujuan untuk verba objektif, (c) pola tindakan-lokasi untuk verba lokatif, dan (d) pola tindakan (penyebab) - tindakan (akibat). Ada dua interpretasi argumen yang dapat diklasifikasikan sebagai bahasa berkerangka verba dalam serialisasi benefaktif.  
SATUAN LINGUAL PENANDA TOKOH SENTRAL DALAM KEKOHESIFAN WACANA CERITA PENDEK INDONESIA (UNIT LINGUAL MARKERS OF CENTRAL FIGURES DISCOURSE COHESIVENESS SHORT STORY IN INDONESIA) Sumadi Sumadi
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.429 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.132

Abstract

Penelitian ini membahas satuan lingual penanda tokoh sentral dalam peranannya sebagai pembentuk kekohesifan wacana cerita pendek Indonesia. Teori yang digunakan di dalam penelitian ini ialah teori struktural, khususnya yang berkaitan dengan unsur dan struktur wacana narasi. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif. Tokoh sentral dalam cerita pendek pada umumnya ditampilkan pertama kali oleh narator sebagai subjek-pelaku atau subjek-pengalam. Tokoh sentral itu dipertahankan cara menyebutnya dengan pengulangan atau penggantian dalam rangka pembentukan kekohesifan wacana cerita pendek. Dalam peranannya sebagai pembentuk kekohesifan wacana cerita pendek Indonesia, tokoh sentral dapat berupa pronomina persona, nama diri, dan nama jabatan atau frasa nominal yang memiliki unsur nama jabatan. This study discusses the lingual unit marker central figure in his role as a shaper of short stories discourse cohesiveness Indonesia. The theory used in this research is the structural theory, especially with regard to the elements and structure of narrative discourse. The method used is descriptive qualitative method. The central character in the short story in general displayed the first time by the narrator as subject-actor or subject-experiencer. The central figure was sustained manner by repetition or replacement call for the creation of short stories discourse cohesiveness. In its role as a shaper of short stories discourse cohesiveness Indonesia, the central figure can be a personal pronoun, proper name, and the name of the nominal position or phrases that have an element of function name.
SUBORDINASI DAN KOMODIFIKASI KULTURAT DALAM BEBERAPA SAJAK Suyono Suyatna
Widyaparwa Vol 39, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.872 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i1.28

Abstract

Pembacaan terhadap sejumlah sajak dengan perspektif poskolonial memperlihatkan bahwa secara kultural kita belum sepenuhnya mencapai masyarakat yang madani dan merdeka. Arus modernisasi dan globalisasi yang menerpa negeri ini, melahirkan subordinasi dan komodifikasi kultural. Dengan demikian, kita belum menjadi subjek yang sepenuhnya merdeka.Modernity and globalization stream in this country, besides giving benefit, also causing cultural "colonized", factually in cultural subordination and co-modification. Reading on poets using postcolonial perspective had showed that modernity and globalization emerged new "colonized" in cultural colonization form. lt was assumed that literature was a mirror of society, so that reading on poets using postcolonial perspectiae, hopefully, reminds us that nowadays there is a global power (economy, politic and culture) that cover and ready to "prey" us.
Senyapan dalam Tuturan Berbahasa Indonesia: Studi terhadap Tuturan pada“Debat Pilkada DKI 2017” Wira Kurniawati
Widyaparwa Vol 46, No 1 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.039 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i1.165

Abstract

The purpose of this study is to describe the pause in the production of Indonesian speech in terms of duration, percentage, and reason of pause. This data is released on the pause in the speech delivered by the candidate for governor and vice governor in the event of “2017 Governor Candidate Debate of DKI Jakarta". Data is captured by recording all debate events from the youtube.com. Speech is then transcribed orthographically with the help of Praat version 5, then classified according the purposes. The results show that the existing silence is varied, ranging from very short pause (37 ms) to very long pause (3,633 ms). However, the average pause (499.89 ms) remains in normal pause. The percentage of speaker silence can be said to be quite large because it takes 20.71% or a fifth of the total speech duration. Meanwhile, the reason for pause is divided into two, which is because it is intentional and because it is not intentional. Intentional pause arises from respiration, lingual unit segmentation, grammatical pause, and also expression; unintentional disappearance can occur because of the mental processes experienced by speakers in planning and producing speech, that is because unpreparedness speakers start the utterance, caution choosing words, the mistakes, the pressure, and change the content of the speech.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan senyapan dalamtuturan lisan berbahasa Indonesia dari segi durasi, persentase, serta alasannya. Data diambil dari tuturan calon gubernur dan wakil gubernur dalam acara “Debat Calon Gubernur DKI Jakarta 2017”. Pengumpulan data dilakukan dengan mengunduh keseluruhan tayangan acara dari youtube.com. Tuturan ditranskripsi secara ortografis, lalu diidentifikasi dengan bantuan Praat versi 5, kemudian diklasifikasi berdasar tujuan penelitian. Hasilnya menunjukkan bahwa durasi senyapan sangat variatif, mulai dari senyapan sangat pendek sekali (37 md) hingga sangat panjang (3.633 md). Namun, rata-ratanya (499,89 md)berada dalam senyapan normal. Adapun persentase senyapan cukup besar karena membutuhkan waktu 20,71% atau seperlima lebih durasi bicara total. Alasan penutur senyap ada dua: disengaja dan tidak disengaja. Senyapan yang disengaja terjadi karena pernapasan, segmentasi satuan lingual, jeda gramatikal, serta pemberian ekspresi.Senyapan tidak disengaja terjadi karena proses mental yang dialami penutur dalam merencanakan dan memproduksi tuturannya, yaitu ketidaksiapan memulai tuturan, kehati-hatian memilih kata, adanya kekeliruan, adanya tekanan, dan pengubahan isi tuturan. 
DIALEKTOLOGI BAHASA MELAYU DI PESISIR KABUPATEN PONTIANAK Patriantoro Patriantoro
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2525.519 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.56

Abstract

Penelitian ini mengkaji dialektologi bahasa Melayu di Pesisir Kabupaten Pontianak, terutama di hilir sungai Mempawah. Bahasa Melayu ini digunakan oleh sebagian besar penduduk yang tinggal di pesisir pantai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode percakapan, teknik pancing dengan menunjukkan gambar, benda, atau aktivitas. Metode yang digunakan dalam analisis data, yaitu komparatif sinkronis untuk analisis dialektologi dan komparatif diakronis untuk analisis rekontruksi bahasa. Rumus dialektometri digunakan untuk menghitung jarak unsur-unsur kebahasaan dalam persentase. Teknik rekonstruksi dari atas ke bawah (top down reconstruction) digunakan untuk menemukan retensi dan inovasi. Penghitungan bed4 leksikon antartitik pengamatan menggunakan segi tiga antardesa dan segi banyak. Berdasarkan analisis diketahui, hanya titik pengamatan 1-3 (yang mencapai 23%) dianggap beda wicara 'aksen'. Titik pengamatan 1-2, 2-3, 2-4, 3-4 (di bawah 21%) dianggap tidak ada perbedaan. Di daerah penelitian masih ditemukan adanya leksikon proto, inovasi, dan pinjaman. The research discusses the dialectology of Malay used by the people in the coastal area of Pontianak, particularly those who live in the downstream area of the river. Malay has been used by a great number of people who reside in the coastal area. This research employs quantitative as well as qualitative research methods. The data collected through the use of in-depth interview method and elicitation technique by directly showing the pictures, pointing the areal objects, or explaining the intended activities. The synchronic comparative method is used to analyze the dialectology of Malay and the diachronic comparative method is used to help with the analysis of the language construction. The dialectometry is used to figure the percentage of lexicon differences between the research areas. The top down reconstruction technique serves as the way to analyze the data to find the retention and innovation forms. The lexicon differences in different areas are calculated by applying the triangular or polygones de thiessen. The result of the data analysis shows that area 1-3 hold 23% of lexicon different which indicates that they are areas with different wicara, but still share same dialect. However areas L-2,2-3, 2-4, 3-4 hold under 21% of lexicon differences which indicates that they share the same and not different. In the areas where the research is conducted, some of the relic from of the proto-language are still found, as well as the innovation forms the borrowing.
BENTUK ADVERBIA PENANDA MODALITAS DAN KATEGORI YANG DIMODIFIKATORINYA DALAM TEKS TERJEMAHAN ALQURAN Markhamah Markhamah; Abdul Ngalim; Dini Nur’aini Gita Saputri; Atiqa Sabardila; Muhammad Muninuddinilah Basri
Widyaparwa Vol 47, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.313 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i1.311

Abstract

This research aims to identify (1) the formd of adverbial modality markers in Quran translation texts,and (2) the categories modified by the modality markers. The data of this research is all lingual units containing adverbial modality markerd in Quran translation texts that has language ethics. Data collection utilized reading and documentation techniques, whereas data analysis utilized identity and constituent analysis methods. The results of this research identify the forms of adverbial modality markers in Quran translation texts to be in base and derivative forms. The base forms mark the modality of certainty, sincerity, determina-tion, causality, and obligation. (1) Modality of certainty is marked by pasti, (2) Modality of sincerity is mar-ked by sungguh,). (3) Modality of determination is marked by tetap, (4) Modality of causality is marked with saling. (5) Modality of obligation is marked by harus,). The derivative forms include repetition, afixation, combination, and particleization. Repetition form marks modalities of (a) expectation, with marker mudah-mudahan and sekali-kali, (b) metaphorization, with markers seakan-akan. (2) Affixation form marks modali-ties of (a) sincerity, with marker sesungguhnya (b) imagination, with marker sekiranya,  berkehendak, and hendaknya which translate from (c) will, with marker berkehendak. (3) Word combination form marks modalities of (a) expectation, with marker insya Allah, insya Allah, hampir saja, and barangsiapa. (4) Particleization form is found on modalities janganlah, tentulah, tetaplah, hendaklah, and pastilah. Three cate-gories are found to be modified by the modality markers: (1) adjectives/ adjective phrase, (2) noun/noun phrase (frequencyand (3) verb/verb phrase. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk adverbia penanda modalitas (APM) pada teks terjemahan Alquran (TTA), dan (2) mendeskripsikan kategori yang dimodifikatori adverbia penanda modalitas pada (TTA).   Data dalam penelitian ini adalah semua satuan lingual yang mengandung  adverbia penada modalitas pada TTA yang mengandung etika berbahasa. Teknik pengumpulan data  adalah teknik simak dan teknik catat. Analisis data menggunakan metode agih dan metode padan. Hasil penelitian menunjukkan bentuk adverbia penanda modalitas (APM) pada TTA terdiri atas bentuk dasar dan bentuk turunan.    APM yang berupa bentuk dasar menandai modalitas kepastian, kesungguhan, ketetapan, keslingan, dan keharusan. (1) APM  kepastian dengan penanda pasti sepadan dengan BA لَ   (lam penguat), memang.  (2) APM kesungguhan dengan penanda sungguh, BA نإ (inna), قَدْ (qad) ((3:118),  dan (2) وَقَدْ خَلَتْ (waqad kholat) (46:17).   (3) APM ketetapan penanda tetap, BA أَصَرَّ- يصرُّ, (asoru-yasoru), (4) APM kesalingan, penanda saling, BA تَفَاعَلَ (taqaala).   (5) APM keharusan, penanda harus  لىيجب (yajabaal).   Bentuk turunan meliputi, bentuk ulang, berimbuhan,   gabungan, serta berpartikel.    (1) Bentuk ulang yang menandai modalitas (a) pengharapan dengan penanda mudah-mudahan dan sekali-kali, yakni لعل   (laala)-عسى (asyaya), dan لَنْ (lan)   (laala) dan عسى (asyaya), (b) peringatan (lan) لَنْ, dan (c) pengibaratan dengan penanda seakan-akan, adalah  كَأَن (ka’ana).    (2) Berimbuhan yang menandai modalitas (a) kesungguhan dengan penanda sesungguhnya (BA بَلْ (bal), (b) pengandaian penanda sekiranya لَو (lawa), APM  berkehendak, dan hendaknya berpadanan dengan BA يُرِيدُونَ (yuriduuna) (c) keinginan berkehendak, عُونَ (una).     (3) APM berbentuk  gabungan kata yang menandai modalitas (a) pengharapan insya Allah, insya Allah, hampir saja, dan barangsiapa.   (4) APM   berpartikel yang menandai modalitas janganlah, tentulah, tetaplah, hendaklah, dan pastilah.    (b) Kategori yang dimodifikatori adverbia penanda modalitas ada  lima  macam. (1) Adverbia penanda modalitas memodifikatori adjektiva/frasa adjektiva   (2) Adverbia penanda modalitas memodifikatori nomina/frasa nomina  (11 kali ). (3) Adverbia penanda modalitas memodifikatori verba/frasa verba (79 kata). (4)  APM memodifikatori Frase Preposisi, dan (5)  APM memodifikatori kata penunjuk
PEMANFAATAN KOMIK ANAK SEBAGAI MEDIA MITIGASI BENCANA Siti Anafiah
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3713.295 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.91

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan (1) unsur-unsur dalam komik apa yang dapat dimanfaatkan sebagai media mitigasi bencana; (2) kesesuaian dan ketepatan komik anak bagi calon pembaca anak berdasarkan tahap perkembangan kognitifnya, dan (3) merumuskan pernanfaatan komik anak untuk mitigasi bencana dalam pembelajaran di SD. Objek penelitian ini adalah enam komik anak yang diterbitkan oleh yayasan IDEP untuk Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat tahun 2006. Komik anak yang dikaji tersebut diambil melalui teknik purposive sampling. Data diambil dengan menggunakan teknik baca dan catat. Data dianalisis melalui pendekatan pragmatik. Hasil penelitian ditemukan unsur-unsur intrinsik komik yang dapat dimanfaatkan sebagai media mitigasi bencana, yaitu tokoh tema, latar, alur, sudut pandang, dan amanat atau pesan. Muatan pengelolaan bencana pada komik anak terdapat dalam sebelum bencana (pencegahan dan kesiapan), selama bencana (peringatan; tanggapan darurat) dan setelah bencana (bantuan dan pemulihan bencana). Segmen pembaca komik ini adalah anak usia 9 - 12 tahun. Hal itu terlihat dari penggunaan bahasa yang digunakan lugas, jelas, dan sederhana dalam menyampaikan pesan sehingga mudah dipahami oleh anak. Perumusan pemanfaatan komik dalam pembelajaran di SD dapat diintegrasikan dengan pelajaran bahasa Indonesia. Selain itu juga dapat diintegrasikan dengan beberapa mata pelajaran tertentu, karena pembelajaran sekarang berpedoman pada kurikulum 2013 dengan pendekatan tematik integratif. This study aims to describe (t) the elements child comic book that can be used as n medium for disaster mitigation; (2) the suitability and appropriateness of the child comic book for the prospective reader of comic book based on child cognitive development stage; and (3) the formulation of child comic usability in disaster mitigation learning for elementary school. The object of this study is six child comic books published by IDEP Foundation for Community Based Disaster Mitigation in 2006. The studied child comic books are taken by purposive sampling technique. Data is taken by using rending and recording technique. Data were analyzed through a pragmatic approach. The research result shows that comic intrinsic elements that can be used as n medium for disaster mitigation, namely the character, theme, setting, plot, point of view, and the mandate or message. Disaster mitigation content in the child comic book is in the pre-disaster (prevention and preparedness), during a disaster (warning, emergency response) and after disaster (relief and disaster recovery). This comic reader segment is child aged 9-12 years. This is shown from language use, which is straight forward, clear, and simple in conveying the message; so that it is easily understood by child. The use of comics in the learning formulation in elementary school can be integrated with learning lndonesian. In addition, it can also be integrated with some specific subjects because learning is now based on the 2013 curriculum with integrated thematic approach.
KAJIAN KEBAHASAAN PADA IKLAN CETAK DI MASA PANDEMI COVID-19 Vilya Lakstian Catra Mulia
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.71 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.600

Abstract

Covid-19 epidemic attacked Indonesia so that the government decided policy to have to stay at home which started in the middle of March 2020. People had to adapt to the situation. This moment attracts the attention of service and product providers to conform. The researcher uses printed advertisements as the data source in the form of a multimodal document and find various businesses respond to the condition. They support the government’s policy while remaining motivating customers to use their products and services. The research is done in a qualitative paradigm towards words, phrases, clauses, sentences, and pictures as the data to answer the research topic. The data source was taken from the daily newspaper Kompas at the beginning of staying at home policy implementation by the government. The data collection was done by criterion-based sampling. Supported by the multimodal analysis approach, this research observes how linguistic and visual image components simultaneously convey intentions of the advertisements in the pandemic outbreaks. Readers are directed to know various terms raised by the advertisement to campaign the government’s policy while remain promoting. The researcher finds kinds of text genres working harmoniously with visual images to articulate meanings. This research is able to show that offered products and services by providers in their pandemic-time advertisement are part of the solution towards customers’ needs while physical and social distancings were enforced. Linguistic analysis in this research gives new findings of the benefit of text and visual images to express meanings in various ways for the same goal.Wabah Covid-19 melanda Indonesia sehingga pemerintah menetapkan kebijakan untuk beraktivitas di rumah saja mulai pertengahan bulan Maret 2020. Masyarakat harus bisa beradaptasi dengan situasi. Momen ini turut menarik perhatian penyedia layanan jasa dan produk untuk menyesuaikan diri. Peneliti menggunakan iklan cetak sebagai sumber data berupa dokumen multimodal dan menemukan beragam perusahaanturut merespon keadaan ini. Mereka mendukung kebijakan pemerintahsambil tetap mendorong konsumen untuk  menggunakan produk dan jasa yang dimiliki. Penelitian dilakukan dengan paradigma kualitatif terhadap kata, frasa, klausa, kalimat, dan gambar sebagai data untuk menjawab topik penelitian. Sumber data diperoleh dari koran harian Kompas pada awal masa berlakunya kebijakan aktivitas di rumah oleh pemerintah. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik sampling berbasis kriteria. Didukung dengan pendekatan analisis dokumen multimodal, penelitian ini mengamati bagaimana komponen linguistik dan visual secara simultan menyampaikan maksud dari beragam iklan tersebut di saat pandemi. Pembaca diarahkan untuk mengetahui beragam istilah yang diangkat oleh iklan-iklan itu untuk mengampanyekan kebijakan pemerintah sambil tetap promosi. Peneliti menemukan macam-macamgenreteks yang berjalan harmonis dengan tampilan visual untuk mengartikulasikan makna. Penelitian ini mampu menunjukkan bahwa produk dan jasa yang ditawarkan perusahan pada iklan di masa pandemi merupakan bagian dari solusi terhadap kebutuhan konsumen saat jarak fisik dan sosial diberlakukan. Analisis kebahasaan dalam penelitian ini memberikan temuan baru tentang manfaat teks dan tampilan visual untuk menyuarakan maksud dengan beragam cara untuk tujuan yang sama.

Page 3 of 35 | Total Record : 345