cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
KARAKTERISTIK BAHASA JAWA MASYARAKAT KELAS SOSIAL ATAS DAN BAWAH DALAM FILM KARTINI: KAJIAN VARIASI BAHASA Haryanto, Haryanto; Munariswati, Munariswati; Rahayu, Yayuk Eny
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1882

Abstract

This research aims to (1) describe the characteristics of the Javanese language of upper and lower social class people in the Kartini film; and (2) describe the context of the community situation in the Kartini Film. This study was a qualitative descriptive research. The object of study in this research is the speech between characters in the film Kartini. The data was obtained using listening techniques and note-taking techniques. The daata was analyzed using a flow that includes data collection, classification, processing and data presentation. Researchers acted as key instruments. Data validity was obtained by diligent observation, peer discussion, and theoretical triangulation. The results of the research show that (1) the characteristics of the Javanese language of upper and lower social classes in Kartini Films can be differentiated based on (a) the use of sentences, (b) the use of greetings and pronouns, and (c) the use of diction or language; and (2) the context of the social situation in the Kartini Film, namely Javanese society during the Dutch colonial period. At that time, the social class of speakers and interlocutors greatly influenced the way they communicated.Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan karakteristik bahasa Jawa masyarakat kelas sosial atas dan bawah dalam Film Kartini; dan (2) mendeskripsikan konteks situasi masyarakat dalam Film Kartini. Kajian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah sosiolinguistik khususnya variasi bahasa berdasarkan faktor kelas sosial.  Objek kajian dalam penelitian ini, yakni tuturan antartokoh dalam film Kartini. Data diperoleh dengan menggunakan teknik simak dan teknik catat. Data dianalisis dengan alur yang meliputi pengumpulan data, pengklasifikasian, pengolahan, dan penyajian data. Peneliti berperan sebagai instrumen kunci. Validitas data didapatkan dengan ketekunan pengamatan, diskusi teman sejawat, dan triangulasi teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) karakteristik bahasa Jawa masyarakat kelas sosial atas dan bawah dalam Film Kartini dapat dibedakan berdasarkan (a) penggunaan kalimat, (b) penggunaan kata sapaan dan kata ganti, dan (c) penggunaan diksi atau bahasa; dan (2) konteks situasi masyarakat dalam Film Kartini, yakni masyarakat Jawa pada masa penjajahan Belanda. Pada masa itu, kelas sosial penutur dan mitra tutur sangat mempengaruhi cara mereka berkomunikasi.
Sampul depan, belakang, dan dalam Widyaparwa, NFN
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

POLA PENGGUNAAN PARTIKEL PENEGAS BAHASA SUNDA: ANALISIS BERBASIS KORPUS Rahmawati, Rahmawati; Roselani, Ni Gusti Ayu
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1820

Abstract

 Sundanese is one of Indonesia's regional languages with its own characteristics that distinguish it from other languages. One of these characteristics can be seen from the use of affirming particles. This study aims to describe the form, meaning, and tendency of Sundanese affirming particle usage patterns. This research uses a descriptive qualitative method and a corpus linguistic analysis approach. This research data is Sundanese LCC corpus data consisting of 3,257,544 tokens and 95,133 word types. The corpus data was obtained from the CQPweb page at Lancaster. The data analysis method in this research consists of five stages: determining the corpus, determining keywords, classifying data, presenting data, and concluding research results. There are three main findings in this study. First, ‘ogé’, ‘téh’, and ‘mah’ are the most frequently used affirming particles in sentences. Second, affirming particles are often used to emphasize subjects and adverbs. However, only ‘ogé’ and ‘baé’ can be used with all word classes. At least this study found 27 different patterns in the use of Sundanese-affirming particles. Third, each Sundanese-affirming particle has a different meaning. Bahasa Sunda merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia yang memiliki kekhasan tersendiri yang membedakan dengan bahasa lain. Kekhasan tersebut salah satunya dapat dilihat dari penggunaan partikel penegas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna, dan kecenderungan pola penggunaan partikel penegas bahasa Sunda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan analisis linguistik korpus. Data penelitian ini merupakan data korpus LCC Sundanese yang terdiri atas 3.257.544 token dan 95.133 jenis kata. Data korpus diperoleh dari laman CQPweb at Lancaster. Adapun metode analisis data dalam penelitian ini terdiri atas lima tahap, yaitu penentuan korpus, penentuan kata kunci, klasifikasi data, penyajian data, dan penyimpulan hasil penelitian. Ada tiga temuan utama dalam penelitian ini. Pertama, ogé, téh, dan mah adalah partikel penegas yang paling sering digunakan dalam kalimat. Kedua, partikel penegas sering digunakan untuk menegaskan subjek dan keterangan. Namun, hanya partikel ogé dan baé yang dapat digunakan bersama semua kelas kata. Sekurang-kurangnya, penelitian ini menemukan 27 pola yang berbeda dalam penggunaan partikel penegas bahasa Sunda. Ketiga, setiap partikel penegas bahasa Sunda memiliki makna yang berbeda.
PERGESERAN MAKNA KANCA WINGKING DALAM PERSPEKTIF GENERASI MILENIAL Chasanah, Lisa Nur; Arimi, Sailal
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1674

Abstract

In Javanese culture, a woman who has become a wife is called a kanca wingking (friend at the back). Along with the rapid development of technology and information, there are social changes in society. One of them is the shifting role of kanca wingking in Javanese society. This study aims to reveal the shifting role of kanca wingking from the perspective of the millennial generation. The research uses the theory of language variation and changes to analyze the shifting meaning of kanca wingking with a focus on three variables (gender, age, and education). This research is a qualitative descriptive research. The data of this research is in the form of language collected through a questionnaire method using Google Forms. This questionnaire was limited to respondents of Javanese descent who were born and raised in the region, language, and culture of Java (East Java, Central Java, Yogyakarta). A total of 121 respondents were collected, consisting of two generations, namely generation Y and generation Z. The results showed that the shift in the meaning of kanca wingking from the perspective of the millennial generation almost completely occurred in the present. Generation Y tends to know the meaning of kanca wingking better than generation Z. The term kanca wingking is not completely abandoned but has a very different role in the household and views or perceptions among the community. The role of kanca wingking in the perspective of the millennial generation is more flexible, less rigid, and likes freedom, while the perspective or view in society tends to positively assess and support the achievements of a woman or wife.Dalam kebudayaan Jawa, perempuan yang telah berstatus menjadi seorang istri disebut dengan istilah kanca wingking (teman di belakang). Seiring perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat menyebabkan adanya perubahan sosial di dalam masyarakat. Salah satunya adalah pergeseran peran kanca wingking dalam masyarakat Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pergeseran peran kanca wingking dalam perspektif generasi milenial. Penelitian menggunakan teori variasi dan perubahan bahasa untuk menganalisis pergeseran makna kanca wingking dengan fokus pada tiga variabel (jenis kelamin, usia, dan pendidikan). Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa bahasa yang dikumpulkan melalui metode kuesioner menggunakan Google Form. Kuesioner ini dibatasi pada responden keturunan asli Jawa yang lahir hingga besar berada di wilayah, bahasa, dan budaya Jawa (Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY). Responden terkumpul sejumlah 121 orang yang terdiri dari atas dua generasi, yaitu generasi Y dan generasi Z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergeseran makna terhadap kanca wingking dalam perspektif generasi milenial hampir sepenuhnya terjadi di masa sekarang. Generasi Y cenderung lebih mengetahui makna kanca wingking daripada generasi Z. Istilah kanca wingking tidak sepenuhnya ditinggalkan, tetapi memiliki peran yang sangat jauh perbedaannya dalam rumah tangga dan pandangan atau persepsi di kalangan masyarakat. Peran kanca wingking dalam perspektif generasi milenial lebih fleksibel, tidak kaku, dan menyukai kebebasan, sedangkan perspektif atau pandangan di dalam masyarakat cenderung menilai positif dan mendukung atas prestasi seorang perempuan ataupun istri.
PSYCHOLOGICAL ANALYSIS OF LITERARY FEMALE CHARACTERS IN THE NOVEL AYAT-AYAT CINTA 2 BY HABIBURRAHMAN ELSHIRAZY (PSYCHOANALYSIS STUDY OF SIGMUND FREUD) Ain Sugianto, Anis Masliani; Halimah, H.
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1672

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan struktur kepribadian tokoh perempuan dalam novel Ayat-Ayat Cinta 2 Karya Habiburrahman Elshirazy. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra menggunakan kajian psikoanalitik yang dikembangkan oleh Sigmund Freud mengenai pembagian psikologi manusia meliputi id, ego dan superego. Sumber data penelitian ini adalah novel berjudul Ayat-Ayat Cinta 2 karya Habiburrahman Elshirazy. Data dalam penelitian ini berupa kutipan naratif dan dialog yang terdapat dalam novel Ayat-Ayat Cinta 2 karya Habiburrahman Elshirazy yang diadaptasi dari teori psikologi sastra Sigmund Freud. Struktur kepribadian tokoh yang dianalisis adalah empat tokoh perempuan yaitu Aisha, Sabina, Hulya dan Keira. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga struktur kepribadian yang ditemukan pada empat karakter wanita yang dianalisis. Keempat tokoh wanita tersebut mempunyai unsur kepribadian Id yang terlihat dari beberapa keinginan kuat tokoh dalam menghadapi permasalahannya. Unsur kepribadian Ego terlihat pada setiap tindakan yang ingin dilakukan seorang tokoh sehubungan dengan suatu permasalahan. Sedangkan superego terletak pada tindakan yang dilandasi oleh moralitas, nilai, etika, dan norma masyarakat.