cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
TREN PENGGUNAAN BAHASA ASING PADA NAMA DIRI MASYARAKAT JAWA Prameswari Dyah Gayatri Budi Anggraeni Ilyas; Teguh Setiawan
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.103 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.765

Abstract

The word choice of a name is considered important for every person. A proper name is not only used as a nickname but also as hope from the name giver. The use of proper names is motivated by two factors, socio-cultural and the knowledge of the parents. Ethnically, Javanese people give the name for their child by using an ethnic name. However, such a phenomenon has shifted. The existence of a new trend in naming makes young modern families started to leave the Javanese ethnical name. The young family tends to choose a foreign name as their child’s name. This research is conducted to figure out the shift from Javanese people’s names in 2000 to 2020 as well as specified identities found. The aim of this research is to explain the view of Javanese people towards modernization and globalization in choosing names. This research used a qualitative approach. The data obtained from Javanese people’s names are from Family Card and Information System and Village Connectivity (SIKDES). The result of this research is Javanese people names who were born in 2000 to 2020 tend to use English and Arabic words. The researcher also found the existence of a nomenclature pattern that is divided into religion, birth markers, admired characters, family names, and hopes.Pemilihan nama diri dianggap sangat penting bagi setiap orang. Nama diri tidak hanya digunakan untuk sapaan, tetapi juga sebagai harapan dari pemberi nama. Penggunaan nama diri dilatarbelakangi oleh adanya faktor sosial budaya dan wawasan orang tua. Secara etnis masyarakat Jawa memberi nama anaknya dengan menggunakan kosakata bahasa Jawa. Fenomena tersebut mengalami pergeseran, adanya tren baru dalam pemberian nama diri membuat keluarga muda modern mulai meninggalkan kosakata bahasa Jawa dalam pemberian nama. Keluarga muda cenderung memilih kosakata bahasa asing untuk pemberian nama diri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya pergeseran nama diri masyarakat Jawa di tahun 2000 hingga 2020, dan identitas apa saja yang ditemukan. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana cara pandang masyarakat Jawa terhadap modernisasi dan globalisasi dalam pemilihan kosakata nama diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dari nama masyarakat Jawa pada kartu keluarga dan Sistem Informasi dan Koneksitas Desa (SIKDES). Hasil penelitian ini adalah nama diri masyarakat Jawa yang lahir pada tahun 2000 hingga 2020 cenderung menggunakan kosakata bahasa Inggris dan bahasa Arab. Peneliti juga menemukan adanya bentuk tata nama yang terbagi menjadi agama, penanda kelahiran, karakter yang dikagumi, nama keluarga, dan harapan.
ANALISIS WACANA TERJEMAHAN AL QURAN SURAT AL-ALAQ: TINJAUAN ASPEK LEKSIKAL Jerniati Indra
Widyaparwa Vol 41, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2210.265 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i2.76

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai wacana terjemahan Alquran SuratAl-Alaq yang dianalisis dengan teori kohesi leksikal. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan keterbacaan wacaha terjemahan tersebut dan merealisasikannya dalam lima hal, yakni pengulangan sinonim, antonim, hiponim dan kolokasi. Kajian dilakukan dengan metode deskriptif, dengan teknik kajian pustaka. Realitas kajian menyatakan bahwa piranti kohesi leksikal telah memerankan fungsinya dengan bail sebagai pengutuh wacana. Ituberarti bahwa keterbacaan terjemahan surat Al-Alaq dapat dipaharni dengan baik oleh pembacanya. This writing discusses about discourse of translated Qur'an, surah Al-Alaq which is analyzed by using lexical cohesion theory. The research is aimed to describe readability of translation of discourse and realized in five things, those are repetition, synonym, antonym, hiponim, and collocation. The research is conducted using descriptive method with study literature technique. The reality study is lexical cohesion devices has functioned well as whole of discourse. It means that readability of translation of Surah Al-Alaq can be understood by readers.
Daftar isi dan catatan redaksi NFN Widyaparwa
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.427 KB)

Abstract

PRODUKSI DAN DISTRIBUSI SASTRA KANON: STUDI KASUS PENERBITAN BUKU UMAR KAYAM NFN Mawaidi; NFN Suroso
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.72 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.841

Abstract

The birth of the publisher indie as an agent of the literature books canon cannot be released from the publishing history of the Dutch Indian era. The spirit of the indie publisher is resisting the dominance of the readership and the literature pop market. One of the publishers in indie was Pojok Cerpen with Umar Kayam's book choice. This method of research used interview, reading, and writing techniques. Interview techniques are conducted to challenge information from publishers, in this case seeking data related to canon literature and literary canon distribution patterns. The data was reviewed through the literary sociology of Pierre Bourdieu. The results are as follows. First, the canonicity of Umar Kayam's personal figure and also the canonicity of Umar Kayam's. The aspect of Umar Kayam's personal canonicity included his culture, education, and family influence. The canonicity aspect of Umar Kayam includes the influence of bestowed and the republishing of Seribu Kunang-kunang di Manhattan book at different publishers. Second, distribution aspects on reseller networks with 60% reseller power and the remaining conventional bookstores and festivals.Lahirnya penerbit indie sebagai agen produksi buku sastra kanon tidak bisa dilepaskan dari sejarah penerbitan dari era kolonial Hindia Belanda. Semangat penerbit indie melakukan perlawanan terhadap dominasi selera pembaca dan pasar sastra pop. Salah satu penerbit indie tersebut adalah Pojok Cerpen dengan pilihan buku karya Umar Kayam yang ditinjau melalui sosiologi sastra Pierre Bourdieu. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, membaca, dan mencatat. Teknik wawancara dilakukan untuk mengulik informasi dari penerbit, dalam hal ini berupaya mendapatkan data terkait pertimbangan reproduksi karya sastra kanon dan pola distribusi sastra kanon. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, aspek kanonitas sosok personal Umar Kayam dan aspek kanonitas karya Umar Kayam. Aspek kanonitas personal Umar Kayam meliputi kiprahnya di bidang kebudayaan, pendidikan, dan pengaruh keluarga. Aspek kanonitas karya Umar Kayam meliputi pengaruh penganugerahan dan penerbitan ulang buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan di penerbit yang berbeda-beda. Kedua, aspek distribusi melalui jejaring reseller dengan daya serap 60% dan sisanya toko buku konvensional dan festival-festival.
CERPEN “ISTANA TEMBOK BOLONG” KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA: TINJAUAN POSMODERNISME Riqko Nur Ardi Windayanto
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.364 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.975

Abstract

This study aims to reveal historical facts, irony, and parody, the opposition between the center and the periphery, and contextualization of the short story "Istana Tembok Bolong" by Seno Gumira Ajidarma with the postmodernism theory of Linda Hutcheon. Methodologically, this research consists of data collection and data analysis. Data are collected by listening and noting the lingual units of short stories and literature studies. Data are analyzed by linking textual and contextual coherently. The results show that this short story uses two social historical facts about prostitution in Yogyakarta in 1970, namely ciblek, which is combined with Bong Suwung's prostitution. This amalgamation makes historical facts ironic and parody, not nostalgic. This is done to show the opposition between Mbak Tum (PSK) as the periphery and the community as the center. Mbak Tum is voiced, while society is deconstructed. Contextually, it is related to space hierarchy, resistance to street sex workers, and criticism of the state. For future researchers, it is recommended to explore the role and implications of social historical facts in this short story, considering that Seno often uses historical facts in his other short stories.Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan fakta sejarah, ironi, dan parodi, oposisi antara pusat dan pinggiran, serta kontekstualisasi cerpen “Istana Tembok Bolong” karya Seno Gumira Ajidarma dengan teori posmodernisme Linda Hutcheon. Secara metodologis, penelitian ini terdiri atas pengumpulan data dan analisis data. Data dikumpulkan dengan menyimak-mencatat satuan-satuan lingual dari cerpen dan studi pustaka. Data dianalisis dengan mengaitkan antara yang tekstual dan yang kontekstual secara koheren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen ini menggunakan dua fakta sejarah sosial mengenai prostitusi di Yogyakarta pada 1970, yaitu Ciblek, yang digabungkan dengan prostitusi Bong Suwung. Penggabungan itu menjadikan fakta sejarah bersifat ironis dan parodis, bukan nostalgis. Hal itu di-lakukan untuk menunjukkan oposisi antara Mbak Tum (PSK) sebagai pinggiran dan masyarakat sebagai pusat. Mbak Tum disuarakan, sedangkan masyarakat didekonstruksi. Secara kontekstual, hal itu berkaitan dengan hierarki ruang, resistansi PSK jalanan, dan kritik terhadap negara. Bagi peneliti berikutnya, disarankan untuk mengeksplorasi peran dan implikasi fakta sejarah sosial dalam cerpen ini mengingat Seno kerap menggunakan fakta-fakta sejarah dalam cerpen-cerpennya yang lain.
LIRIK LAGU DOLANAN SEBAGAI SALAH SATU BENTUK KOMUNIKASI BERBAHASA JAWA: ANALISIS FUNGSI Daru Winarti
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1217.36 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.4

Abstract

Penelitian ini mengkaji fungsi bahasa dalam lirik lagu dolanan. Tujuannya ialah untuk mengetahui berbagai fungsi yang ada dalam lirik lagu dolanan sebagai salah satu bentuk berkomunikasi dalam bahasa Jawa. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan sosiolinguistik yang memperhatikan bagaimana pemakaian bahasa sehingga dapat menjalankan fungsinya secara maksimal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa dalam lirik lagu dolanan memiliki beberapa fungsi, seperti fungsi regulatoris, fungsi interaksi, fungsi personal, fungsi heuristik, fungsi informatif, dan fungsi puitik.This research discusses the function of language in the lyrics of lagu dolanan. The research is aimed to investigate the functions of the lyrics of lagu dolanan as a form of communication in Javanese language. This research is conducted by using sociolinguistic approach that concerns about how language is used, so that it can carry out its function optimally. The result of this research shows that the language in the lyrics of lagu dolanan has saveral functions, such as regulatoric, interactive, personal, heuristic, informative, and poetic function.
BUNYI CEMPALA YANG KEHILANGAN GAUNG (PEMAHAMAN GENERASI MUDA JAWA ATAS RAGAM PANGGUNG BAHASA JAWA) (THE LOST OF CEMPALA REVERBERATION (UNDERSTANDING OF JAVANESE YOUNG SPEAKERS IN A PERFORMANCE VARIANT OF JAVANESE)) Wahyu Widodo; Dany Ardhian; Muhamad Fatoni Rohman
Widyaparwa Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.05 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i1.141

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pemahaman generasi muda Jawa atas ragam panggung bahasa Jawa (RPBJ). Instrumen yang dibuat untuk penelitian ini berupa pertunjukan wayang kulit dalam dua adegan. Adegan pertama menggambarkan deskripsi pertapaan (kandha) dan adegan kedua memuat pemberian wejangan Dewa Ruci kepada Werkudara (ginem). Kedua adegan tersebut diperagakan oleh dalang Ki Purbo Asmara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Responden penelitian sejumlah 100 responden, yang diambil dari dua kampus: mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB-UB) dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (FS-UM), yang tentu saja memenuhi kriteria sebagai responden penelitian. Teknik wawancara mendalam dilakukan untuk mengungkap keinginan dan tanggapan generasi muda Jawa atas RPBJ. Selain itu, digunakan juga dua responden yang mampu menguasai RPBJ dengan baik, sebagai contoh ideal penggunaan RPBJ (bench-mark). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman generasi muda Jawa atas RPBJ: kategori baik 2%, kategori cukup 7%, kategori kurang 5%, dan kategori sangat kurang sejumlah 86%. Hasil tersebut mengisyaratkan bahwa RPBJ sangat asing bagi generasi muda Jawa dan keadaan ini akan menuntun RPBJ mengalami status keterancaman bahasa, yakni berpotensi rawan punah (Seriously endangered). Keadaan seperti itu mendesak untuk dilakukan revitalisasi bahasa melalui serangkaian program rekayasa kebijakan bahasa. This research aims to reveal the understanding of Javanese young speakers in a performance variant of Javanese (PVJ). A research instrument are two performance scenes of Javanese shadow puppet. The first scene portrays hermitage (pertapan) (kandha) and the second scene describes pontificate of Dewa Ruci to Werkudara (ginem) performed by Ki Purba Asmara as shadow puppeteer (dalang). This research uses quantitative descriptive methods. The respondents of this research are 100 undergraduate students taken from two Universities: faculty of cultural science from Brawijaya University and faculty of letters from state university of Malang. They are selected based on some of criteria. In-depth interview techniques is employed to reveal aspiration and response of Javanese young speakers on PVJ. Furthermore, two respondents who master the performance variant of Javanese (PJV) well are chosen as ideal model or bench-mark of PVJ. The finding shows that Javanese young speakers understanding on PJV as follows: good criteria amounted to 2%, sufficient criteria amounted to 7%, poor criteria amounted to 7%, and very poor amounted to 86%. This result indicates that Javanese young speakers is very unfamiliar with PJV and this situation leads to vulnerability of language, which is going to seriously endangered. Such circumstance is urgent to revitalize the language through a series of language policy engineering program.
FEMINISME DALAM KUMPULAN CERPEN HARGA PEREMPUAN KARYA SIRIKIT SYAH Siti Ajar lsmiyati
Widyaparwa Vol 39, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1362.846 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i2.37

Abstract

Masalah utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah isu-isu tentang peran perempuan terkait dengan kuatnya pengaruh patriarki seputar persoalan domestik (rumah tangga) dan publik (di luar rumah tangga). Kajian ini bertujuan untuk menyikapi ketimpangan gender yang terjadi pada perempuan. Kajian ini menggunakan pendekatan sosiofeminis sebagai acuan dalam mengungkap citra perempuan sehingga pengolahannya dilakukan dengan kajian feminisme. Dalam pengumpulan data digunakan metode deskriptif-kualitatif, sedangkan dalam analisisnya digunakan teknik analitik yang tertuju pada gagasan atau pemikiran dan sikap perempuan yang terefleksi dalam ucapan dan tindakannya. Hasil penelitian ini menggambarkan lima citra perempuan sebagai berikut. Pertama, perempuan sebagai individu yang memiliki keinginan untuk mengembangkan karier, keinginan untuk diperhatikan dan dihargai. Kedua, perempuan sebagai ibu yang mempunyai perhatian kepada anak-anak dan sebagai pemegang urusan domestik. Ketiga, perempuan sebagai istri yang mandiri dan mencari nafkah tambahan. Keempat, perempuan sebagai sosok yang berprestasi dan mempunyai semangat kompetitif. Kelima, perempuan sebagai anggota masyarakat yang mempunyai peranan positif dan negatif.Main issue taken in this research was role of women dealing with the dominance of patriarchy in domestic (household) and public (outdoor). This review was intended to take attitude about gender imbalance over woman. The review used socio-feminism approach in revealing women image, so that feminism rutiew was used elaboration. Descriptive-qualitative method was used in collecting data, while in the analysis used analytical technique to reveal ideas and woman attitude as reflected on their speech and action. Result of the research illustrate five woman images as follows: first, wonten as individual who own desire to develop carriers, desire to be paid attention and be appreciated. Second, woman as mother who have attention to children and as domestic affair holder. Third, wowan as independent wife who are able to earn money as additional income. Fourth, woman as talented character who have competitive spirit. Fifth, women as social member who have positive and negative roles.
BENTUK TINDAK TUTUR DIREKTIF KESANTUNAN BERBAHASA MAHASISWA DI LINGKUNGAN PGSD JAWA TENGAH: TINJAUAN SOSIOPRAGMATIK St.Y. Slamet; Suwarto W.A.
Widyaparwa Vol 41, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2950.066 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i1.65

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk tindak tutur direktif kesantunan dan ketidaksantunan; (2) prinsip tindak tutur direktif; (3) strategi tindak tutur direktif, dan (4) urutan kesantunan bentuk tutur berdasarkan persepsi mahasiswa. Penelitian ini dilaksanakan di PGSD Jawa Tengah mulai Januari-November 2012. Penelitian ini bersifat naturalistik dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ialah mahasiswa dan dosen dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan angket. Validasi memanfaatkan trianggulasi sumber dan metode. Analisis data menerapkan analisis deskriptif model interaktif. Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa bentuk santun tuturan direktif mahasiswa dapat (1) berupa penanda, kaidah bahasa, dan perilaku santun; (2) berupa maksim kearifan, maksim kemurahan hati, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim simpati; (3) memanfaatkan strategi positif dan negatif. Urutan kesantunannya ialah (a) rumusan saran (37,5%), (b) rumusan pertanyaan (15%), (c) isyarat kuat (12,5%), (d) isyarat halus (10%), (e) pertanyaan berpagar (6%), 0 pernyataan keinginan (3,75%), (g) pernyataan eksplisit (3%), (h) pernyataan imperatif (1,25%), dan (i) modus keharusan (1%). The goals of this research are to find and to describe: (1) the form of direct speaking in the language politeness, (2) the principle of direct speaking in the language politeness, (3) the strategy of direct speaking in the language politeness, (4) the ranking of direct speaking in the language politeness based student perception. This research held in the PGSD program of Central Java from January-November 2012. This is a naturalistic research and it uses the qualitative descriptive approach. The subject are college students and lecturers with the technique is the purposive sampling. The collecting data are observation, interview and questioner. The validity is by using source triangulation and method. The data analysis is by using the interactive descriptive analysis. This research can be concluded: (1) the form of politeness speaking can be seen based on the sign, the form of polite language, and the polite behavior; (2) the ideal of speaking form which is applied such as: the act maxim, the generosity maxim, the approbation maxim, the modesty maxim, the agreement maxim, and the sympathy maxim; while there are also the principle to prevent the use of bad word by using the eufism and honorific; (3) there are two strategies of politeness language, as follows positive and negative strategy; and (4) the sequence of politeness based on the students perception: (a) the advice pattern (37,5%), (b) the question pattern (15%), (c) the strong sign (1.2,5%), (d) the soft sign (10%), (e) the limited question (6%), (f) the demand statement (3,75%), (g) the explicit statement (3%), (h) the imperative statement (1,25%), and (i) the a must question (1%)
RELASI KEKUASAAN DALAM WACANA KONFLIK KPK VS POLRI JILID II Endro Nugroho Wasono Aji
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.499 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.402

Abstract

Power relations are related to the power of individuals, groups, or institutions over individuals, groups, or other institutions. One party in this case tries to dominate the other party. The asymmetrical relationship is illustrated by the conflict between the Corruption Eradication Commission (KPK) and Indonesian Police (Polri) volume II. This was described in the editorial of Suara Merdeka daily newspaper. This paper discusses how the relations involved in the KPK versus Polri conflict volume II were discussed in the editorial of Suara Merdeka. To examine this relationship, qualitative content analysis methods are used. Qualitative content analysis is a method used to understand the message of a discourse. The relation in the KPK versus Polri conflict discourse volume II is described by Suara Merdeka editors by utilizing linguistic aspects in the form of vocabulary and grammar. Utilization of the vocabulary is in the form of the use of euphemisms and prominent formal words. Meanwhile, the use of grammar is in the form of interrogative sentence and per-sonal pronouns we/us. In describing this relation, the editor put the Polri institution in a dominant position, while the KPK institution was marginalized by the President and Polri institutions.Relasi kekuasaan berkaitan dengan kekuasaan individu, kelompok, atau institusi terhadap indivi-du, kelompok, atau institusi lainnya. Salah satu pihak dalam hal ini berusaha mendominasi pihak yang lain. Relasi yang asimetris tersebut tergambar dalam konflik KPK vs Polri jilid II. Hal terse-but dideskripsi dalam wacana “Tajuk Rencana” harian Suara Merdeka. Makalah ini membahas ba-gaimana relasi-relasi yang terjalin dalam konflik KPK vs Polri jilid II yang dibahas dalam “Tajuk Rencana” harian Suara Merdeka. Untuk mengkaji relasi tersebut digunakan metode analisis isi ku-alitatif. Analisis isi kualitatif adalah suatu metode yang digunakan untuk memahami pesan dari suatu wacana. Relasi dalam wacana konflik KPK vs Polri jilid II dideskripsikan oleh redaksi Suara Merdeka dengan memanfaatkan aspek kebahasaan yang berupa kosakata dan gramatika. Pemanfa-atan kosakata tersebut berupa penggunaan eufemisme dan kata-kata formal yang menonjol. Se-mentara itu, pemanfaatan gramatika berupa kalimat interogatif dan pronomina persona kita. Da-lam mendeskripsikan relasi tersebut, redaksi menempatkan institusi Polri pada posisi dominan, sebaliknya institusi KPK pada posisi yang dimarginalkan oleh institusi Presiden dan Polri.

Page 2 of 35 | Total Record : 345