cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
PENILAIAN KEMAMPUAN BERSASTRA DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Umar Sidik
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.28 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.10

Abstract

Tulisan ini menjawab pertanyaan mengapa penilaian pembelajaran sastra dalam PAUD perlu dilakukan. Bagaimana teknik dan prosedur penilaian yang dapat dilakukan oleh guru dan atau orang tua. Pembahasan dilakukan dengan teknik mengurai, membandingkan (diskusi dan argumentasi), dan menyimpulkan ke dalam hal yang terkait dengan permasalahan penilaian terhadap kemampuan bersastra dalam pendidikan anak usia dini (PAUD). Hasil pembahasan menunjukkan bahwa kemampuan bersastra anak terkait dengan perkembangan kognitif, afektif, kepribadian, keindahan, dan bahasa yang dimilki oleh anak. Teknik penilaian dapat dilakukan dengan merekam berbagai kejadian alami dan otentik yang dituangkan ke dalam berbagai perangkat, seperti catatan kejadian khusus (anecdotal record), catatan berkesinambungan (running record), catatan rinci berdasarkan waktu (time sampling record), event sampling recor, rating scale, daftar cek (check list). Kata kunci: penilaian, sastra anak, PAUDAbstractThis writing responded to the question on why literary teaching valuing in PAUD was needed tobe performed. How the eichnique and procedure of valuing that could be performed by teacher or students' parents. The discussion was performed by description, comparison (discussion and argumentation) and resuming technique into the associated things to the valuing problems to the literary capability in children education of Pre School Age (PALID). The result shows that the literary capability of children is dealing with children-'s cognitve, affective, personality, beauty and language development. Valuing technique could be performed by recording any natural and authentic occurrencis that was applied to various equipments like anecdotal record, running record, time sampling record, event sampling record, rating scale and check list. Key word: valuing, literary children, pre school age (PAUD)
PRINSIP KELAKAR DAN PRINSIP DAYA TARIK DALAM WACANA CAKCUK (JOKE AND ATTRACTION PRINCIPLES IN CAKCUK DISCOURSE) Foriyani Subiyatningsih
Widyaparwa Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.668 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i1.146

Abstract

Masalah penelitian ini ialah bagaimanakah penerapan prinsip kelakar dan prinsip daya tarik pada karya desain CakCuk. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan prinsip kelakar dan prinsip daya tarik dalam karya desain CakCuk. Sesuai tujuan dan masalah itu, kajian ini menggunakan teori pragmatik yang berkaitan dengan prinsip kelakar dan prinsip daya tarik. Kajian ini bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data berupa suvenir CakCuk yang memuat adanya pemakaian bahasa. Data diperoleh dengan menggunakan metode simak. Analisis data menggunakan metode agih, komparasi, dan padan kontekstual. Hasil kajian ini, pertama, penerapan prinsip kelakar dalam wacana CakCuk. Prinsip kelakar, yakni berupa tumpuan simpulan dibuat tidak benar dan simpulan juga dibuat tidak benar; pelanggaran terhadap maksim-maksim dari prinsip-prinsip sopan santun secara sengaja; dan pengungkapan hal-hal tabu di dalam tuturan. Kedua, penerapan prinsip daya tarik dalam wacana CakCuk. Prinsip daya tarik memiliki dua komponen, yaitu stilistik teks dan pesan teks. Stilistik teks dibangun melalui tuturan harafiah berupa bentuk metafora dan plesetan. Pesan teks, menyangkut keadaan dan perilaku sosial yang buruk di dalam masyarakat, heroisme dan patriotisme, budaya, serta kuliner. Research problem is how to apply jokes and attraction principle on CakCuk design. Objective of the research is to describe application of joke and attraction principle on CakCuk design. According to the objective and the problem, the research uses pragmatic theory relating to joke and attraction principle. The research is qualitative descriptive. The data source comes from CakCuk souvenir which contains language usage. Data are collected by using scrutinize method. Data analysis uses distributional, comparison, and contextual equation. This research result as follows. Firstly, joke principle has been applied on CakCuk discourse. Joke principles, namely conclusion base and conclusion are made incorrect. Violence of maxims on politeness principles are used intentionally. Utilization of taboo are delivered. Secondly, attraction principle on CakCuk discourse has been applied. Attractiveness principle has two components, namely stylistic text and message text. Stylistic text is arranged by using literal words in form of metaphor and spoof. Message text represents bad situation and social behavior in society, heroism and patriotism, culture, and culinary.
KESATUAN TOPIK WACANA PROSEDURAL RESEP MASAKAN DALAM BAHASA JAWA Titik lndiyastini
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2398.826 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.46

Abstract

Objek tulisan ini difokuskan pada masalah kesatuan topik dalam wacana prosedural resep masakan dalam bahasa Jawa. Kajian ini dilakukan dengan tujuan untuk memerikan perihal kesatuan topik pada wacana resep masakan itu diciptakan. Wacana resep masakan merupakan sebuah wacana tulis yang utuh. Wacana itu merupakan salah satu jenis wacana prosedural, yakni wacana yang berisi keterangan prosedur/tahapan sesuatu dilaksanakan atau dibuat (Longacre, 1968 dalam Wedhawati dkk. 1979:2). Seperti wacana lainnya, wacana resep masakan memiliki topik. Untuk menjabarkan kesatuan topik dalam wacana resep masakan itu digunakan pendekatan struktural dengan metode agih dan teknik bagi unsur langsung serta teknik lanjutary yakni teknik ganti, lesap, dan baca markah. Pada kajian kesatuan topik wacana resep masakan ini terdeskripsikan adanya penataan topik dan strategi kesinambungan topik. Pada penataan topik tampak bahwa topik selalu ditempatkan di bagian depan dan ditonjolkan dengan penuliian secara ortografis. Pada strategi kesinambungan topik tampak bahwa topik dibentuk dengan cara dilesapkary diulang, dan ekuivalensi leksikal. This paper focuses on topic unity in procedural discourse of food recipes in Javanese language. This research was conducted to describe topic unity on making of the food recipes. The food recipes discourse is a whole written discourse. It is one of the procedural discourses, that is a discourse that contains procedural steps of information of something of being made or operated (Longacre, 1968 in Wedhauati.et.al. 1979:2). Food recipe discourse, like other discourse, has topic. Therefore, to explain topic unity in food recipe discourse, the research used structural approach with distributive method and directs element distributive technique and continual technique, that is change, deletion, and signal reading technique. This research describes topic organization and topic continual strategy. The topic organization shouts that the topic is always occupied in the initial part and is emphasized orthographically. The strategy continual topic shows that the topic is formed with deletion, repeatedly, and lexical equioalence.
METAPESAN DI BALIK PARODI IKLAN DJARUM 76 Edi Setiyanto
Widyaparwa Vol 41, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2977.226 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i2.71

Abstract

Kajian ini membahas iklan rokok Djarum 76. Iklan itu dipilih karena di samping menarik juga mengandung berbagai metapesan. Kajian bertujuan mendeskripsikan (a) macam topik yang digunakan dan (b) macam metapesan yang disiratkan. Kajian bersifat deskriptif interpretatif. Teori yang digunakan ialah teori ketaksejajaran dan teori prinsip kerja sama. Data yang digunakan berjumlah 11 iklan. Data diperoleh dengan metode simak, teknik unduh (download) yang dilanjutkan dengan transkripsi. Seluruh data diunduh dari Youtube. Berdasarkan analisis, diketahui bahwa iklan Djarum 76, di samping bertujuan membujuk, juga menyiratkan kritik. Kritik dapat ditujukan kepada masyarakat, lembaga kepemerintahan, atau umum. Kritik kepada masyarakat berkenaan dengan topik (a) tak mau tersaingi ("Jin Tertipu"), (b) salah paham ("Kawin dengan Bunga Desa" dan''Jangkrik"), (c) segala sesuatu ada batasnya ("Pingin Ganteng" dan "Jin Takut Istri"), dan (d) yang penting kumpul ("Terdampar"). Sindiran kepada pemerintah/lembaga kepemerintahan berkenaan dengan topik (a) korupsi ("Model Gayus" dan"Kontes Jin"), (b) arogansi ("Kuda Poni"), dan (c) salah paham ("Wakil Rakyat"). Sindiran kepada umum berkenaan dengan topik tak kenal puas ("Jin Matre"). The study discusses Djarum 76 cigarette advertisment. The advertisement is chosen because the advertisement is not only interesting but it also contains various meta-message. The study is aimed at describing (a) the topic type used and (b) type of implied meta-message. The study is interpretative descriptive. Theory employed is unequal theory and cooperative principle theory. The number of data used is 11 advertisements. The data gained by using watch method and download technique followed by transcription. The data is downloaded from Youtube. Based on analysis, it is found out thntbesidesDjarumT6 advertisement aims at persuading; it 'also implies critic. The critic can be directed to society, government institution, or public. Critic to society relates to topic of (a) do not want to be competed ("Jin Tertipu"), (b) misunderstanding (" Kawin dengan Bunga Desa" and "Jangkrik"), (c) everything has its limit ("Pingin Ganteng" and "Jin Takut lstri"), and (d) the important matter is togetherness ('Terdampar" ). Satire toward the goverment/government institution relating to the topic is (a) corruption ("Model Gayus" and "Kontes Jin"), (b) arrogance ("Kuda Poni"), and (c) misunderstand ("Wakil Rakyat"). Satire toward public relates to unsatisfied ("Jin Matre")
LAGU “JOGJA ISTIMEWA”: REPRESENTASI IDENTITAS DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Sudartomo Macaryus; Yoga Pradana Wicaksono
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.403 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.368

Abstract

This paper is to explain the contents of the song poem "Jogja Istimewa" which contains information, descriptions, imperatives, and messages that show the identity of Yogyakarta (DIY). Verbally formulated lyrics reflect the writer's knowledge, experiences, hopes, and ideology that appear through the mention of names of places, characters, events, interactions, and invitations. Explanations were made using qualitative and qualitative, contextual, and intertextual methods. Textual explanation by interpreting song-poems that have been formulated verbally written. Contextual explanation by linking song lyrics with the historical, cultural and social background of the DIY community. Intertextual explanation by linking the contents of the lyrics with other texts, namely assumptions that are the crystallization of the wisdom of the community. This explanation is done by placing each phenomenon as a cultural sign that all represent the cultural identity and the people of Yogyakarta (DIY). Meaning is done by linking relationships between data to get the full conclusion. The analysis shows that the song poem "Jogja Istimewa" represents Yogyakarta's identity as a city of history, culture, and struggle that continues to be lived and developed by supporting communities and bureaucratic competition in the Government of DIY.Tulisan ini bertujuan menjelaskan isi syair lagu “Jogja Istimewa” yang memuat informasi, deskripsi, imperasi, serta pesan yang menunjukkan identitas Yogyakarta (DIY). Lirik yang diformulasikan secara verbal mencerminkan pengetahuan, pengalaman, harapan, dan ideologi penulis yang tampak melalui penyebutan nama tempat, tokoh, peristiwa, situasi, dan ajakan. Penjelasan dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode tekstual, kontekstual, dan intertekstual. Penjelasan tekstual dengan memaknai syair lagu yang telah diformulasikan secara verbal tulis. Penjelasan kontekstual dengan mengaitkan lirik lagu dengan latar belakang sejarah, budaya, dan sosial masyarakat DIY. Penjelasan intertekstual dengan mengaitkan isi lirik dengan teks lain, yaitu ungkapan-ungkapan yang merupakan kristalisasi kearifan masyarakat. Penjelasan tersebut dilakukan dengan menempatkan setiap gejala sebagai tanda budaya yang secara keseluruhan merepresentasikan identitas budaya dan masyarakat Yogyakarta (DIY). Pemaknaan dilakukan dengan mengaitkan hubungan antardata secara keseluruhan untuk mendapatkan simpulan secara komprehensif. Hasil analisis menunjukkan bahwa syair lagu “Jogja Istimewa” merepresentasikan identitas Yogyakarta sebagai kota sejarah, budaya, dan perjuangan yang terus dihidupi dan dikembangkan oleh masyarakat pendukung dan kalangan birokrat di lingkungan Pemerintah DIY. 
ALTERASI FITUR FONOLOGIS BAHASA BALI PASIEN AFASIA BROCA I Ketut Wardana
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.123 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.536

Abstract

The determination of phonological alteration patterns of speech disorder of Broca aphasia is the scope of neurolincguistic study that needs more attention. Thus, this study investigates the alteration of the phonological feature in Broca's aphasics. This phenomenology-based research involves the observation of two patients with nonhemorrhagic stroke with impaired language modality such as spontaneous speech, naming, reading, writing, but intact comprehension. Data was collected from observation method with listening, involvement, conversation, and noting. The data were recorded wiy Sonny voice recorder. The instruments for language modality measurements were 65 picture list, 65 word list, 1 sheet of  conversation script, and 1 reading text. The data analysis provided the implementation of generative phonology. The results showed that the substitution of marked features by less marked features due to the errors of the articulation planning program. The more complex the articulation of the phonemes, the more often the segments are altered. This study also found the violation of the sonority scale and reconstruction of the syllabic structure. The alteration of segments with the identic place of articulation with features with a different manner of articulation occurs due to phonological neighboring density. So, this study has contributed to clinical recommendations for phonological disorder for neurologists and speech therapists.Penetapan pola alterasi fonologis pada gangguan bunyi afasia Broca merupakan ruang lingkup kajian neurolinguistik yang belum begitu banyak menjadi perhatian. Penelitian ini mengkaji jenis dan pola alterasi fitur fonologis tuturan bahasa Bali pasien afasia Broca. Penelitian deskriptif berbasis fenomenologi ini melibatkan dua pasien stroke nonhemoragik (SNH) dengan pelemahan modalitas bahasa, seperti terbata-bata, penamaan, membaca, menulis, namun keupayaan pemahaman masih baik. Data dikumpulkan melalui metode pengamatan dengan teknik simak, libat, cakap, dan catat. Semua data direkam dengan Sonny voice recorder. Instrumen untuk mengukur modalitas bahasa menggunakan 65 daftar gambar, 65 daftar, kata, 1 skrip percakapan, dan 1 teks bacaan. Semua alterasi bunyi ujaran dianalisis melalui fonologi generatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya alterasi fitur-fitur bermarkah di semua distribusi oleh fitur yang kurang bermarkah karena konsep artikulasi yang keliru. Semakin tinggi kompleksitas artikulasi bunyi, target semakin sering bunyi tersebut mengalami alterasi. Fitur bunyi dengan kompleksitas yang tinggi [+hambat] cenderung diganti dengan fitur bunyi yang kompleksitas artikulasinya setingkat lebih rendah [+frikatif]. Fonem dengan fitur fonologis bermarkah mengalami proses penyederhanaan melalui alterasi bunyi dalam bentuk substitusi, pelesapan, penyisipan, penambahan, dan mutasi. Alterasi terjadi berdasarkan kesamaan fitur tempat artikulasi, namun berbeda pada cara artikulasinya. Hasil penelitian ini dapat menjadi petunjuk ilmiah baik bagi disiplin ilmu klinisi bahasa maupun terapis gangguan berbahasa.
RELIGIUSITAS DAN KONSEP PERNIKAHAN SUKU BANGSA MANDAILING PADA UPACARA HATA PANGUPA (RELIGIOSITY AND CONCEPT OF MANDAILING ETHNIC MARRIAGE IN HATA PANGUPA CEREMONY) Eva Krisna; Fefa Srila Desti
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2404.617 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.105

Abstract

Hata Pangupa adalah pidato yang diucapkan untuk mengembalikan semangat (tondi) pada suku bangsa Batak Mandailing. Karya sastra lisan tersebut masih digunakan sampai hari ini oleh orang Mandailing dalam upacara ritual yang disebut Upa-Upa. Teks Hata Pangupa mengandung unsur-unsur yang bersifat religius. Kajian terhadap teks Hata Pangupa dilakukan dengan tujuan memperoleh makna teks sastra lisan dimaksud. Untuk mencapai tujuan kajian digunakan pendekatan antropologis. Data tulisan ini merupakan data sekunder yang diperoleh melalui metode penelitian perpustakaan. Data diolah dan ditulis dengan teknik deskriptif analisis. Hasil analisis menunjukkan bahwa upacara Upa-Upa merupakan bagian dari keyakinan pada hal-hal yang bersifat keramat, misalnya percaya bahwa manusia, hewan, benda, hal, waktu, dan kesempatan memiliki nilai keramat (sacred value). Upacara Upa-Upa adalah bentuk religi yang didasarkan kepada satu Tuhan (monoteisme) yang dianggap menguasai seluruh alam semesta dan pelaksanaan upacara bertujuan mencapai kesatuan dengan Tuhan tersebut. Selain itu, upacara Upa-Upa juga mengandung konsep atau gagasan tentang pernikahan menurut masyarakat Mandailing.Hata Pangupa is speech spoken to restore the spirit (tondi) in Mandailing Batak tribes. Works of oral literature is still used to this day by the Mandailing tribes in Upa-Upa ritual. Hata Pangupa text contains religious elements. Study of Hata Pangupa text is done with the aim to achieve oral literature meaning of the text. To achieve the goal of the study, an anthropological approach is used. Data text is secondary data obtained through library research method. Data is processed and written with descriptive analysis technique. The analysis shows that the Upa-Upn ceremony is part of the belief in sacred things; for example, believe that human, animal, object, things, time, and opportunity have sacred value. Upa-Upa ceremony is a form of religion which is based on one God (monotheism) that is considered to control the entire universe and the ceremony is intended to achieve unity with God. In addition, the Upa-Upa ceremony also contains the concept or idea of marriage according to Mandailing community.
CAMPUR KODE DARI BAHASA KE DALAM BAHASA INDONESIA TUTURAN MASYARAKAT KETURUNAN ARAB DI KAMPUNG PEKOJAN SEMARANG (CODE MIXING FROM ARABIC INTO INDONESIAN OF ARAB DESCENT SPEECH SOCIETY IN SEMARANG PEKOJAN KAMPONG) Asih Sutarsih
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.684 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.137

Abstract

Campur kode terjadi dalam tuturan masyarakat keturunan Arab di KampungPekojan Sema-rang.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui campur kode dan penyebab terjadinya campur kode tuturan masyarakat keturunan Arab di Kampung Pekojan Semarang. Oleh karena itu, pene-litian ini menggunakan metode deskriptif padan intralingual. Campur kode dalam bahasa tutur masyarakat tersebut terjadi di tataran kata. Campur kode berupa pencampuran bahasa Indonesia dengan kata dari bahasa Arab, bahasa Jawa, dan bahasa Betawi. Campur kode bahasa Indonesia, Arab,dan Betawi dilakukan oleh mereka yang menjalin hubungan sosial yang sangat tinggi dengan masyarakat berbeda etnik di lingkungan tempat tinggal. Campur kode dengan meng-gunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu masyarakat penduduk asli kampung Pekojan hanya dila-kukan oleh yang sudah tua. Demikian pula halnya dengan campur kode dengan bahasa Betawi hanya dilakukan oleh masyarakat keturunan Arab yang sudah tua. Code-mixing occurs in the speech of community of Arab descent in Kampung Pekojan Semarang.This study is conducted to determine the code-mixing and the cause of code-mixing on Arab descent utterances in Pekojan Kampong, Semarang. Therefore, this study uses descriptive method of intralingual equivalent. Code-mixing in Pekojan kampong occurs at the level of words in the form of blending Indonesian words with Arabic, Javanese and Betawi language. The code-mixing between Indonesian, Arabic, and Betawi language is done by those who have high social relationship with different ethnic communities in their environment. Code-mixing using Javanese as native language of indigenous peoples of Pekojan kampong is only performed by the elderly. Similarly, code-mixing with Betawi language is only used by the elderly of Arab descent people.
DINAMIKA PERKEMBANGAN TEATER INDONESIA Di YOGYAKARTA Herry Mardianto
Widyaparwa Vol 39, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3505.958 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i2.33

Abstract

Pertumbuhan dan perkembangan sastra di Yogyakarta menjadi salah satu barometer bagi perkembangan sastra di daerah lain di Indonesia, terlebih perkembangan pementasan dramanya. Setidaknya hal ini dapat dicermati dari pengaruh pementasan Bipbop-nya Rendra sampai pemanggungan monolog Butet Kertarejasa. Konsep-knsep pementasan Rendra dan Butet KErtarejasa terasa begitu kuat dan dicontoh oleh kelompok teater lain, baik yang berada di Jakarta, Surabaya, maupun kelompok-kelompok teater yang tumbuh di kota-kota kecil di Indonesia. Kajian ini ingin melihat bagaimana pertumbuhan kelompok teater, sistem pementasan, dan tanggapan audience terhadap pementasan tersebut melalui isau bedah makro sastra dan penjelajahan existing documentation dengan tujuan mengumpulkan informasi mengenai system pementasan, penulisan naskah, dan system kritik drama di Yogyakarta pada tahun 1980-2000.Growth and development of literature in Yogyakarta has became on of barometers for literary development in other places in Indonesia, primarily the plays performance development. At least, it could be viewed from the influence of Bipbop performance by Rendra to the monologue performance by Butet Kertarejasa. Those performance concepts were much influenced and deserved to be imitated by other theatres group, either in Jakarta, Surabaya, or those that grew in small cities in Indonesia. This review tried to portray the growth of theatre groups, their performance system and audience response to the performance using literary macro and existing documentation gathering in order to collect information about performance, text writing and plays critique system in Yogyakarta between 1980 and 2000.
ANEKDOT TENTANG KEKUASAAN DAN MENTALITAS DALAM CERKAK “KURSI” DAN “LEDHEK” KARYA KRISHNA MIHARJA (ANECDOTE ABOUT AUTHORITY AND MENTALITY IN CERKAK “KURSI” AND “LEDHEK” BY KRISHNA MIHARJA) Yohanes Adhi Satiyoko
Widyaparwa Vol 46, No 2 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.16 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i2.203

Abstract

Penelitian “Anekdot tentang Kekuasaan dan Mentalitas dalam Cerkak ““Kursi”” dan ““Ledhek”” karya Krishna Miharja” berusaha melihat bagaimana dialektika individu dengan dunia sosial budaya mereka melalui tokoh utama  Den Lurah dan Ledhek Kuning dalam memperoleh dan menjalankan fungsi sosial mereka. Tujuan penelitian ini ialah menjelaskan dialektika antara tokoh-tokoh cerita tersebut dan dunia sosial budaya mereka melalui tiga momen simultan, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi dalam kerangka sosiologi pengetahuan Peter Berger. Pembahasan dilakukan dengan pembacaan terhadap kedua cerkak tersebut melalui perwatakan tokoh, latar, dan alur, kemudian menemukan tipifikasi atau perlambangan fungsional yang dapat ditafsirkan menjadi sebuah simpulan yang dapat dipaparkan menjadi sebuah ekspresi dialektis dalam momen eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi tokoh utama dengan dunia sosial budayanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tokoh utama tersebut tidak melakukan interaksi yang benar dalam momen eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi dengan dunia sosial budaya mereka sehingga perjalanan karir mereka berakhir tragis.Research about “Anecdote about Authority and Mentality in Cerkak “Kursi” and “Ledhek” by Krishna Miharja” tries to reveal the dialectic between individuals and their social cultural world through the main character, Den Lurah and Ledhek Kuning in obtaining and running their social functions. The research aims to explain dialectic between those main caharacters and their social cultural through three simultant moments, externalization, objectivation, and internalization in the frame of sociology of knowledge by Peter Berger. The discussuin is conducted by reading to those two cerkaks (Javanese short stories) through characterization, setting, and plot, then by finding functional typifications to be expressed as dialectic expression in moments of externalization, objectivation, and internalization between the main characters and their social cultural worlds. The result shows that those two main characters do not interact properly in the moment of externalization, objectivation, and internalization with their social cultural worlds. It then impacts their carreer to tragic ending.

Page 5 of 35 | Total Record : 345