cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
VARIASI LEKSIKAL BAHASA MINANGKABAU DI KANAGARIAN KUBANG PUTIAH, KABUPATEN AGAM: KAJIAN SOSIODIALEKTOLOGI Adnania Nugra Heni; Muhammad Suryadi
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.016 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.911

Abstract

Minangkabau language is one of local languages in Indonesia. In Minangkabau language, there are some dialects, one of them is Agam dialect. This research aims to find out the lexical variations in Minangkabau language, specifically in Kubang Putiah, Agam regency. This research is descriptive qualitative research using sociodialectology approach. The data in this research are words which contain lexical variations found during the research. The sources of data in this research are 12 informants from 3 different regions in Agam regency, which are; Lukok village, Kampuang nan Limo village, and Lurah village. The data were collected by using fieldwork method with simak libat cakap techniques. After that, the data were analyzed by using identity method with equalizing comparison technique (HBS) and differential comparison techniques (HBB). The result showed that old and young informants with educational backgrounds tend to use lexicons that is influenced by Indonesian language due to frequent contact with Indonesian language. Meanwhile, informants with non-educational background still use the original form of lexicons in Minangkabau language. In addition, these variations are also influenced by the environment, both in the educational environment and in the residential environment.Bahasa Minangkabau merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia. Dalam Bahasa Minangkabau terdapat berbagai macam dialek, salah satunya dialek Agam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi leksikal Bahasa Minangkabau yang terdapat dalam dialek Agam, khususnya di kanagarian Kubang Putiah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiodialektologi. Data dalam penelitian ini adalah kata yang mengandung variasi leksikal yang ditemukan dalam penelitian. Sumber data penelitian ini adalah 12 informan yang berasal dari 3 daerah di kabupaten Agam, yaitu; Jorong Lukok, Jorong Kampuang nan Limo, dan Jorong Lurah. Data dikumpulkan menggunakan metode pupuan lapangan dengan teknik simak, libat, dan cakap. Setelah itu, data dianalisis menggunakan metode padan dengan teknik hubung banding menyamakan (HBS) dan teknik hubung banding membedakan (HBB). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa informan tua dan muda yang berlatar belakang pendidikan cenderung menggunakan kosa kata yang terpengaruh oleh bahasa Indonesia akibat seringnya terjadi kontak dengan bahasa Indonesia, sementara untuk informan dengan latar belakang nonpendidikan cenderung masih menggunakan kosa kata asli bahasa Minangkabau. Selain itu, perbedaan variasi ini juga dipengaruhi oleh lingkungan, baik lingkungan pendidikan maupun lingkungan tempat tinggal.
PEMBELAJARAN GENRE TULIS DALAM SISTEM PERSEKOLAHAN INDONESIA DI SUMATERA UTARA (LEARNING OF WRITTING GENRE IN INDONESIA SCHOOL SYSTEM IN NORTH SUMATERA) Amrin Saragih; Anggraini T Saragih; Isli Pane
Widyaparwa Vol 44, No 1 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2185.764 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i1.123

Abstract

Kajian ini bertujuan mendeskripsi capaian genre tulis oleh pembelajar sekolah (SD, SMP, SMA) di Sumatera Utara (selanjutnya dirujuk sebagai pembelajar SU) dan mengajukan model pembelajaran berdasarkan genre-based language learning yang sejalan dengan Kurikulum 2013. Desain penelitian adalah deskriptif kualitatif. Sumber data adalah 1025 pembelajar dan 18 orang guru, yang terdiri atas guru SD, SMP, dan SMA serta orang tua pembelajar dari sekolah-sekolah itu. Data kajian ini ialah teks atau genre yang ditulis pembelajar SU, deskripsi pembelajaran genre di kelas, dan transkripsi wawancara dengan guru dan orang tua. Teks yang ditulis pembelajar dianalisis dengan menggunakan teori linguistik fungsional sistemik (LFS). Temuan penelitian adalah pertama, pembelajar SU telah memeroleh dan mampu menulis 10 jenis genre tunggal, yakni deskripsi, laporan, recount, narasi, anekdot, exemplum, observasi, prosedur, eksposisi, dan diskusi dan mereka mampu menulis genre majemuk. Kedua, ditemukan bahwa sebagian unsur konteks sosial persekolahan berupa keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan guru tentang genre dan pembelajaran berbasis teks telah menjadi penghambat dalam pembelajaran menulis genre. Ketiga, berkaitan dengan itu model pembelajaran genre dapat dikembangkan. Model pembelajaran genre tulis yang dikembangkan merupakan gabungan dari genre-based language learning dan pendekatan ilmiah yang menjadi ciri utama Kurikulum 2013. Model ini efektif untuk pembelajaran genre tulis. The objectives of the study are to describe writting genres acquired by primary school (SD), junior school (SMP) and high school (SMA) learners in North Sumatera province (referred to as SU learners) and to propose a genre-based language learning model in accordance with the 2013 Curriculum. This study is a qualitative one. The subjects are 1025 learners, 18 teachers (SD, SMP, and SMA teachers), and school learners parents. The data are written texts or written genre composed by the SU learners, descriptions of genre learning in the classroom, teachers and parents interview transcriptions. The written genres by the learners are analyzed by using systemic functional linguistics (SFL) theories. The findings show that firstly, the SU learners have already acquired and been able to write ten kinds of basic genres, namely description, report, recount, narrative, anecdote, exemplum, observation, procedure, exposition, and discussion. Furthermore, the SU learnes have mastered multiple genres.Secondly, some school social context elements, such as the lack of teachers competence and skill on genres and text-based learning become obstacles for writing genre teaching. Thirdly, related to the acquired genres by the learners and obstacles from the school context, a model for genre learning is developed. The developed writing genre learning is a combination of the genre-based language learning and scientific approach as main characteristic of the 2013 Curriculum. The learning model is effective for writting genre learning.
PERIAN SEMANTIK LEKSEM ALAT-ALAT PERTUKANGAN SENG/PATRI DALAM BAHASA JAWA Dwi Sutana
Widyaparwa Vol 38, No 2 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1393.687 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i2.19

Abstract

Tulisan ini membahas semantik leksikal bahasa Jawa, khususnya tentang alat-alat pertukangan seng/patri. Tujuan pembasannya ialah mendeskripsikan leksem-leksem yang mengandung makna alat-alat pertukangan seng/patri dan untuk mengetahui komponen-komponen maknanya. Dengan tulisan ini diharapkan akan dapat mempermudah dalam membedakan antara leksem satu dengan leksem yang lainnya: tentang fungsinya, kemiripan maknanya, dan perbedaan makna spesifiknya. Kajian ini, pada akhirnya dapat digunakan sebagai bahan pendefinisian leksem-leksem dalam penyusunan kamus bahasa Jawa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sinkronik. Maksudnya, di dalam analisis bahasa tidak mempertimbangkan perkembangan yang terjadi pada masa lampau. Sehubungan dengan itu, dilakukan langkah pengumpulan data, pengolahan data, dan pemaparan hasil pengolahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat pertukangan seng/patri ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu disebut sarana dan prasarana. Bahan-bahan yang termasuk sarana ialah (1) anglo anglo, (2) kikir kikir, (3) graji wesi gergaji besi, (4)solder solder, (5) tepas kipas, dan (6) gunting seng gunting seng, sedangkan bahan-bahan yang tergolong prasarana ialah (1) banyu keras air keras, (2) patri patri, (3) gondorukem gondorukem, (4) geni api, dan (5) areng arang.The research discusses lcxical semantic of Javanese language, particularly carpentry tool zinc/solder. The research aims to describe lexeme that contains meaning of carpentry tool zinc/solder and to investigate its compotential meaning. By this writing, it is hopefull to alliveate in differentiating between one lexeme with the other lexeme: its function, its similarity meaning, and the its differention of specific meaning. The research finally can be used as material in defining lexeme for compiling Javanese dictionary. The research employs qualitative desciptive and syncronic method. Therefore, in analyzing the data the development of langunge in the past is not considered. Relating to the approach research is conducted into several steps: data collection, data analysis, and data display. The result shows that capentry tool zinc/solder is diffirentiated into two types, that are facility and infrastructure. Some tools are categorized as facilities, which are (1) anglo 'brazier', (2) kikir 'file', (3) graji wesi 'iron saw', (4)solder 'solder', (5) tepas 'fan', and (6) gunting seng 'zinc scissors'. Some tools are categorized as infrastuctures, which are (1) banyu keras 'hardwater', (2) patri 'solder', (3) gondorukem 'resina coloplonium, (4) geni 'fire', and (5) areng 'charcoal'.
STRUKTUR WACANA DALAM RITUAL NYADRAN AGUNG DI KABUPATEN KULON PROGO Desy Rufaidah; Octavian Muning Sayekti
Widyaparwa Vol 46, No 2 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.93 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i2.169

Abstract

This study aims to describe the discourse structure used in Nyadran Agung ritual which was held in Kulon Progo District. The data of the research are words (utterances) and material elements in the ritual. The data are collected through observation and in-depth interview. The collected data are validated using key informant review, source triangulation and method. To analyze the data, the researchers perform interactive analysis technique and Teun Van Dijk’s model of discourse analysis. The result shows that discourse structures of Nyadran Agung ritual are divided into macro structure, superstructure, and micro structure. The macro structure covers social-culture, religious value, tolerance, and mutual assistance. The superstructure covers pre-preface, preface, content, and closing. The micro structure is observed from the sentence types used during the ritual which covers declarative and imperative (politeness, request, hope, and invitation) sentences.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur wacana ritual Nyadran Agung di Kabupaten Kulon Progo. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata (tuturan) dan unsur material dalam ritual Nyadran Agung. Data diperoleh dengan observasi dan wawancara mendalam. Data yang telah diperoleh divalidasi dengan review informan kunci, triangulasi sumber, dan metode. Data yang telah divalidasi dianalisis dengan teknik analisis interaktif dan model analisis wacana Teun Van Dijk. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur wacana dalam ritual Nyadran Agung terbagi menjadi struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Struktur makro ritual Nyadran Agung, yaitu sosial-budaya, religius, toleransi, dan gotong royong. Superstruktur dalam ritual Nyadran Agung terbagi menjadi empat bagian, yaitu prapendahuluan, pendahuluan, isi, dan penutup. Struktur mikro dilihat dari jenis kalimat, dalam ritual Nyadran Agung ditemukan kalimat deklaratif, imperatif (santun, permintaan, harapan, dan ajakan).
STRUKTUR SEMANTIS VERBA AKTIVITAS GIGI DALAM BAHASA JAWA: KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI Ema Rahardian
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.065 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.783

Abstract

Javanese teeth activity is interested to be analyzed. It is because the Javanese language has various lexicons to express teeth activity. This paper aims to explore the semantic structure of Javanese teeth activity by using the theory of natural semantic metalanguage (NSM). The data used in this paper are taken from The Bausastra Jawa dictionary as well as data created by the researcher as a native Javanese speaker. The technique of data analysis in this study consists of four steps, namely determining the semantic primitive, deriving meaning, determining polysemy, dan paraphrasing the meaning. The result shows that Javanese teeth activity is realized into 23 lexicons, namely, mamah, ngilut, ngenyoh, nggayem, ngemah, nginang, nggondol, nyakot/nyokot, nggeget, ngeret, ngerot, nyathèk, ngerah, nyekit, nyisil, ngrokot, ngrikit, mbrakot, nglethak, nglethuk, nglethus, ngremus, and nglethik. Its semantic prime is melakukan/terjadi and its semantic component are mengunyah, membawa, menggigit, melepaskan, and mematahkan which is mapped based on the patient and instrumental relation.Verba aktivitas gigi dalam bahasa Jawa merupakan salah satu objek penelitian yang menarik untuk dikaji. Hal itu karena bahasa Jawa memiliki berbagai leksikon untuk mengungkapkan aktivitas gigi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan struktur semantis verba aktivitas gigi dalam bahasa Jawa dengan menggunakan teori metabahasa semantik alami. Data penelitian ini diperoleh dari kamus Bausastra Jawa dan data yang dikreasikan oleh peneliti sebagai penutur asli bahasa Jawa. Teknik analisis data dalam penelitian ini terdiri atas empat langkah, yaitu menentukan makna asali, menderivasi makna, menentukan polisemi, dan memarafrase makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa verba aktivitas gigi direalisasikan dalam 23 leksikon, yaitu mamah, ngilut, ngenyoh, nggayem, ngemah, nginang, nggondol, nyakot/nyokot, nggeget, ngeret, ngerot, nyathèk, ngerah, nyekit, nyisil, ngrokot, ngrikit, mbrakot, nglethak, nglethuk, nglethus, ngremus, dan nglethik. Leksikon-leksikon itu memiliki makna asali melakukan/terjadi dengan komponen semantis mengunyah, membawa, menggigit, melepaskan, dan mematahkan. Komponen semantis itu dipetakan berdasarkan hubungan pasien dan instrumen. 
DIGLOSIA DI DAERAH PERBATASAN R. Hery Budhiono
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2332.042 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.81

Abstract

Penelitian ini mengkaji diglosia yang terjadi pada pemakaian kebahasaan pada masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan Provinsi Kalimantan Tengah-Kalimantan Selatan, tepatnya di kota Kuala Kapuas, yang merupakan masyarakat multibahasa. Setidaknya ada tiga Bahasa besar di daerah tersebut, yaitu Bahasa Ngaju (BNg), Banjar (BBj), dan Indonesia (BIn). Konsekuensi menjadi anggota masyarakat multibahasa adalah adanya pilihan-pilihan bahasa. Tujuan penulisan ini ialah memerikan situasi kebahasaan dalam kerangka kediglosikan. Penelitian inimerupakan penelitian deskriptif-sinkronis dengan metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengain menggunakan kuesioner untuk mengetahui pilihan bahasa responden. Responden berjumlah 65 orang dan terdiri atas berbagai kalangan dan rentang usia. Berdasarkan dari yang diperoleh, terdapat setidaknya dua situasi diglosik yang melibatkin tiga bahasa di daerah tersebut, yaitu BIn-BBj dan BBj-BNg. Situasi diglosik lain dan melibatkan bahasa-bahasa daerah non-Ngaju sangat mungkin terjadi. Situasi diglosik tersebut ternyata tidak stabil, bahkan dapat tiris. Bahasa Indonesia sebagai bahasa tinggi kadang-kadang dipakai dalam ranah informal yang merupakan wilayah bahasa rendah. Banjar justru dapat sesekali menerobos kemapanan bahasa Indonesia, demikian pula sebaliknya. Hal tersebut merupakan bukti adanya ketirisan/perembesan. Pada situasi diglosik lainnya, bahasa_Banjar yang diposisikan sebagai bahasa tinggi bagi penutur bahasa Ngaju dapat pula dipakai dalam ranah informal. The paper studied diglossia situation in Kuala Kapuas as multilingual community, area of Central Borneo and South Borneo boundary. There are at least three major languages, namely Ngaju Dayak (NgD), Banjarese Malay (BM) and Indonesia (InL). As consequence of multilingual community member is the existence of language choices. The aim of the paper is to describe language situation relating to diglossic situations. This research is synchronic descriptive with survey method. The data was collected by using questionnaires to figure out respondents' choice of language. There are 65 respondents from different range of age, backgrounds and professions. According to the findings, there are at least two diglossic situation in involving three languages, i,e. InL-BM and BM-NgD. .The other kind of diglossic situation involving other languages than NgD might exist. However, those two diglossic situations evidently are not stable and even more leak. InL as high language is often spoken in informal field that belongs to low language domain. Occasionally, BM can exactly brerak through instability and vice versa. This becomes evidence for diglossia leakage. In another diglossic situation, BM which is considered to be high language for NgD speakers can also be spoken occasionally in low language domain.
POSISI PENGARANG DALAM INTERPRETASI: PEMBACAAN DUA SAJAK TERKENAL SITOR SITUMORANG Dipa Nugraha
Widyaparwa Vol 48, No 1 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.753 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i1.414

Abstract

On how interpretation must position the author of the text is still discussed and always relevant in literary criticism. From mimetic, expressive, social context and creative process, objective approaches towards Barthes’ the death of the author, to the Foucauldian function of the author, the positions of the author with and within his text have always been disputed. This study uses comparative approach. It applies reading with multiple lenses of interpretation to compare the interpretations from different literary approaches in regard to the position of the author in interpretation. Interpretive readings using multiple lenses of interpretation on the status of the author with and within the text are described to show the differences among them. Two most celebrated poems from one of the Indonesian best poets Sitor Situmorang,“Cathedrale de Chartres” and “Malam Lebaran,” are selected and interpreted in this article. The basis for every interpretive reading based on every theory discussed is also provided and explained. This study shows that the author is always present with or within the text he creates. His existence manifests in various ways and in different contexts. Pembicaraan mengenai relevansi pengarang di dalam pembacaan atau interpretasi karya sastra tidak pernah lekang hingga kini. Dari pendekatan mimetik, ekspresif, situasi sosial dan interaksi kreatif, objektif, kematian pengarang oleh Barthes, hingga berlanjut dengan fungsi pengarang oleh Foucault, posisi pengarang terus diperbincangkan. Kajian ini menggunakan pendekatan komparatif.  Kerangka kerja pembandingan mengacu pada interpretasi berlensa jamak yang menyuguhkan berbagai interpretasi dengan pendekatan yang ada sejak masa Yunani kuno hingga masa pascastrukturalisme berkait dengan posisi pengarang dalam interpretasi karya sastra. Dua sajak terkenal Sitor Situmorang, “Cathedrale de Chartres” dan “Malam Lebaran,” diletakkan dalam contoh kerja interpretasi. Di dalam setiap interpretasi yang disuguhkan diberikan acuan teoretis paradigma mengenai bagaimana operasi pembacaan atau interpretasi diberlakukan. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa posisi pengarang di dalam interpretasi tidak bisa dihilangkan dari setiap usaha interpretasi teks. Pengarang selalu hadir dan termanifestasikan dalam berbagai cara dan muncul lewat beraneka konteks.  
Daftar Isi 49-2 NFN Mulyanto
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.22 KB)

Abstract

MITOS KEPERAWANAN DALAM CERPEN JEMARI KIRI KARYA DJENAR MAESA AYU (THE MYTH OF VIRGINITY IN THE SHORT STORY OF JEMARI KIRI BY DJENAR MAHESA AYU) Budi Agung Sudarmanto
Widyaparwa Vol 43, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.679 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i2.114

Abstract

Makalah ini bertujuan membahas mitos keperawanan di dalam cerita pendek berjudul Jemari Kiri karya Djenar Maesa Ayu dalam kaitannya dengan upaya perlawanan perempuan terhadap dominasi patriarki. Di dalam penelitian ini digunakan teori mitos, feminisme yang disandingkan dengan teori resistensi untuk melakukan perlawanan terhadap patriarki. Hasilnya adalah keperawanan masih tetap menjadi mitos yang sangat menghantui kaum perempuan; upaya perlawanan untuk mendapat kesetaraan masih sangat sulit dilakukan; diam dan perlawanan di alam bawah sadar hanyalah upaya terakhir yang bisa dilakukan. This paper is aimed at discussing the myth of virginity in the short story entitled Jemari Kiri by Djenar Maesa Ayu in the relation to the effort of woman resistance towards the domination of patriarchy. In this study is used the theory of myth, feminism juxtaposed with theory of resistance to make resistance towards patriarchy. The result is that the virginity still remains the myth that haunts the women badly; the resistance effort for gaining equality is very hard to manifest; silent and subcinscious resistance are the only last thing to do.
TRANSFORMASI PERALATAN RUMAH TANGGA TRADISIONAL MASYARAKAT JAWA DI ERA INDUSTRI DAN UPAYA KONSERVASI Prembayun Miji Lestari; Retno Purnama Irawati; Mujimin Mujimin
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.133 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.1163

Abstract

The purpose of this study is to describe the transformation of Javanese traditional household appliances in the industrial era, and to describe the conservation efforts of the Javanese traditional household appliances lexicon which is threatened with extinction due to technological transformation. The research data consists of a lexicon of traditional Javanese household appliances that have undergone a transformation in Javanese society in the regencies of Klaten, Boyolali, and Semarang obtained from interviews, observations, and literature review. The results of the study show that the transformation of traditional household appliances in modern Javanese society cannot be separated from the times and has experienced a language shift from Javanese to a foreign language, especially English. Some traditional Javanese household appliances that have been transformed into modern household appliances are classified based on whether traditional tools are still used by the community today. Conservation efforts that can be done to preserve traditional household appliances in era 5.0 include: documenting the names of traditional Javanese household appliances and distributing them to the wider community through articles; preservation of the physical visual form of the utensil, through pictures, replicas of traditional utensils, displays of traditional household utensils in strategic public places for individuals, communities, or official institutions. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan transformasi peralatan rumah tangga tradisional masyarakat Jawa di era industri, dan memaparkan upaya konservasi leksikon peralatan rumah tangga tradisional masyarakat Jawa yang terancam punah karena transformasi teknologi. Data penelitian terdiri atas leksikon peralatan rumah tangga tradisional Jawa yang mengalami transformasi pada masyarakat Jawa di Kabupaten Klaten, Boyolali, dan Semarang. Data pelenilitian diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bentuk transformasi peralatan rumah tangga tradisional masyarakat Jawa modern tidak terlepas dari perkembangan zaman dan mengalami pergeseran bahasa dari bahasa Jawa ke bahasa asing utamanya bahasa Inggris. Beberapa alat rumah tangga tradisional Jawa yang bertransformasi menjadi alat rumah tangga modern diklasifikasikan berdasar masih tidaknya perkakas tradisonal dipergunakan oleh masyarakat hingga saat ini. Upaya konservasi yang bisa dilakukan untuk melestarikan peralatan rumah tangga tradisional di era 5.0 diantaranya: mendokumentasi nama peralatan rumah tangga tradisional Jawa dan menyebarkannya ke masyarakat luas melalui artikel; pelestarian bentuk visual secara fisik dari perkakas tersebut, melalui gambar, replika peralatan tradisional, displai peralatan rumah tangga tradisional di tempat umum yang strategis secara pribadi, komunitas, atau lembaga resmi. 

Page 4 of 35 | Total Record : 345