Articles
381 Documents
Perencanaan Normalisasi Drainase Dijalan Pancur Kecamatan Baturaja Timur Kabupaten Ogan Komering Ulu
YULIANTINI EKA PUTRI;
ALEKSANDER PURBA;
TRISYA SEPTIANA
Seminar Nasional Insinyur Profesional (SNIP) Vol. 3 No. 2 (2023): Prosiding SNIP Vol.3 No.2 Tahun 2023
Publisher : Fakultas Teknik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Latar belakang pemilihan lokasi Jalan Pancur yang merupakan jalan akses yang menghubungkan jalan utama kota Baturaja dengan jalan Lintas Sumatra yang panjangnya 1,2 KM dengan lebar 4 meter. Dengan pertumbuhan penduduk yang ada dikota Baturaja, dan pesatnya pembangunan perumahan disepanjang jalan pancur. Dengan kondisi tersebut ditambah lagi curah hujan yang meningkat maka jalan pancur dicekungan jalannya banjir. Tujuan penelitian ini adalah merencanakan normalisasi drainase di sepanjang Jalan Pancur Kecamatan Baturaja Timur Kabupaten Ogan Komering Ulu. Metode yang digunakan adalah survey langsung data saluran drainase dan ketinggin daerah aliran sert data curah hujan dan debit air. Dengan data-data tersebut dapat dipakai untuk menghitung penampang drainase dan kapasitas saluran menggunakan rumus. Aliran air saat ini di Jalan Pancur ST 0+500 harus dinormalisasi dengan saluran drainase trapesium dan penggalian tanah untuk memperluas dan memperdalam aliran drainase dan mengurangi faktor banjir, menurut studi tersebut. Perkiraan harga layout ini adalah Rp 779.879.264,25 dan dimensinya 375m x 2m x 1,5m.
STUDI PEMBERIAN PUPUK PELENGKAP CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT ANGGREK BULAN (Phalaenopsis amabilis)
Firnawati Sakalena;
Ratna Widyawati;
M Sarkowi
Seminar Nasional Insinyur Profesional (SNIP) Vol. 3 No. 2 (2023): Prosiding SNIP Vol.3 No.2 Tahun 2023
Publisher : Fakultas Teknik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23960/snip.v3i2.489
Anggrek pada umumnya memerlukan perawatan yang baik supaya mendapatkan hasil yang baik atau yang kita inginkan, tanaman anggrek umumnya mengalami pertumbuhan secara terus-menerus sepanjang hidupnya. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman anggrek selain dipengaruhi oleh faktori klim juga dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara. Pemupukan dapat meningkatkan unsur hara pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman anggrek. Pupuk sebagai unsur hara bagi tanaman biasanya diberikan melalui daun dalam bentuk unsur hara pada media tanam. Jenis pupuk yang digunakan yaitu pupuk majemuk dengan merk dagang Hyponex. Pupuk Hyponex merupakan pupuk daun yang dapat dipergunakan untuk tanaman anggrek, Karena mengandung unsur hara makro yaitu N, P, K, Mg, S dan Ca sedangkan mikro yaitu Cl, Mn, Fe, Cu, Zn, dan Mo. Pemberian pupuk melalui daun lebih efisien dari pada lewat media tanam, hal ini disebabkan karena daun mampu menyerap pupuk sekitar 90%. Perlakuan selang waktu pemberian pupuk pelengkap cair 10 hari, sekali memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan selang waktu pemberian pupuk pelengkap cair 6 hari sekali dan 14 hari sekali. Hal ini disebabkan karena selang waktu 10 hari sekali merupakan waktu yang tepat untuk memenuhi kebutuhan hara yang dibutuhkan tanaman pada setiap fase pertumbuhannya.
Kajian Potensi Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten Pringsewu
Cicih Daniasri;
Ika Kustiani;
Gigih Forda Nama
Seminar Nasional Insinyur Profesional (SNIP) Vol. 3 No. 2 (2023): Prosiding SNIP Vol.3 No.2 Tahun 2023
Publisher : Fakultas Teknik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23960/snip.v3i2.490
Pertanian tanaman pangan merupakan produk yang menjadi bahan pangan pokok bagi sebagian besar masyarakat dan memenuhi gizi bagi konsumsi masyarakat. Kabupaten Pringsewu memiliki posisi strategis untuk menjaga ketersediaan tanaman pangan dan arah pengembangan wilayah Kabupaten Pringsewu yaitu di Kecamatan Gadingrejo. Sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Pringsewu Nomor 02 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tahun 2011 – 2031 bahwa Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp) dikawasan perkotaan Kecamatan Gadingrejo berfungsi sebagai pusat agropolitan. Artinya, pengembangan wilayah budidaya sektor pertanian tanaman pangan dapat dilakukan melalui pendekatan agropolitan. Pengembangan Kawasan Agropolitan merupakan salah satu pendekatan pembangunan perdesaan berbasis pertanian. Metode penelitian yang digunakan adalah mix method dengan pendekatan deduktif. Penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi karakteristik sektor pertanian tanaman pangan di Kecamatan Gadingrejo serta mengidentifikasi peran dan pengaruh sektor pertanian tanaman pangan di Kecamatan Gadingrejo sebagai kawasan agropolitan terhadap pengembangan wilayah Kabupaten Pringsewu. Hasil Penelitian ini menunjukkan pertanian tanaman pangan di Kecamatan Gadingrejo memiliki posisi strategis dan berperan sebagai sektor basis yang memberikan pengaruh terhadap peningkatan perekonomian wilayah Kabupaten Pringsewu.
PEMBANGUNAN JARINGAN GAS BUMI UNTUK RUMAH TANGGA DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU (OKU) PROVINSI SUMATERA SELATAN
Yulyah Agustina;
Muhammad Sarkowi;
Ratna Widyawati
Seminar Nasional Insinyur Profesional (SNIP) Vol. 3 No. 2 (2023): Prosiding SNIP Vol.3 No.2 Tahun 2023
Publisher : Fakultas Teknik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23960/snip.v3i2.491
Dampak dari aktivitas Pembangunan Jaringan Distribusi Gas bumi untuk Rumah Tangga di kabupaten OKU berpengaruh pada aspek komponen lingkungan fisik kimia (kualitas air, udara ambien), dan social ekonomi masyarakat setempat. Rencana Pembangunan Jaringan Gas Bumi untuk rumah tangga di kabupaten Ogan Komering Ulu akan di bangun di kecamatan Lubuk Batang dan Kecamatan Baturaja Timur.Kecamat Lubuk Batang yang memiliki 11 (sebelas) desa, sementara di Kecamatan Baturaja Timur akan di bangun di 2 (dua) desa dan 1 (satu) kelurahan dengan total panjang pipa utama sepanjang 39,46km. Dengan target rumah terpasang sebanyak 5.000 sambungan rumah (SR) untuk jumlah rencana calon pelanggan masing masing desa. Jaringan pipa gas utama akan di gunakan sebagai main header untuk mensuplai melalui percabangan pipa menuju tiap desa dan perumahan warga. Adapun data teknis dan spesifikasi rencana pembangunan jaringana gas bumi untuk rumah tangga di kabupaten ogan komering ulu berdasarkan kajian FFED & DEDC 2019. Pembangunan jaringan gas rumah tangga oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral yang berkerja dengan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) bertujuan untuk membantu masyarakat menengah ke bawah, namun kenyataannya tidak seluruh masyarakat dapat menikmati jaringan gas rumah tangga, sehingga menimbulkan berbagai macam persepsi. Teknik pengumpulan data dengan menyebarkan kuisioner kepasa 177 responden dengan mengunakan system pengambilan acak distrafikasi dan wawancara kepada 6 informan dengan mengunakan purposivesampling di 2 lingkungan. Hasil penelitian berdasarkan indicator kognitif, efektif dan evaluatifmenunjukan kategori negative dengan persentase lebih tinggi yaitu masyarakat tidak mendukung pembangunan jaringan gas rumah tangga. Masyarakat menunjukan aspek kognitif dengan persentase sebesar 51,80%, aspek efektif dengan persentase sebesar 54,10% dan aspek evaluative dengan persentase sebesar 42,40%. Sosialisasi yang tidak menyeluruh menyebabkan banyak masyarakat tidak mengetahui manfaatyang dihasilkam dari program sehingga tidak mengunakan jaringan rumah tangga. Masyarakat penguna cenderung mendukung, sedangkan masyarakat bukan penguna cenderung tidak mendukung program ini.
ANALISIS WAKTU PENYELESAIAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN RSUD IBNU SOETOWO BATURAJA TAHAP I DALAM PENERAPAN MANAJEMEN PROYEK
Subhan Haris Affandy;
MARDIANA MARDIANA;
ALEKSANDER PURBA
Seminar Nasional Insinyur Profesional (SNIP) Vol. 3 No. 2 (2023): Prosiding SNIP Vol.3 No.2 Tahun 2023
Publisher : Fakultas Teknik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23960/snip.v3i2.492
Manajemen proyek dapat didefinisikan sebagai suatu proses dari perencanaan, pengaturan, kepemimpinan, dan pengendalian dari suatu proyek dengan memanfaatkan sumber daya seoptimal mungkin untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Manajemen waktu dalam manajemen proyek (Project Management) sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dan kegagalan suatu proyek. Tolak ukur keberhasilan proyek biasanya dilihat dari waktu penyelesaian pekerjaan yang singkat dengan biaya yang minimal tanpa meninggalkan mutu hasil pekerjaan. Pengelolaan proyek secara sistematis diperlukan untuk memastikan waktu pelaksanaan proyek sesuai dengan kontrak atau bahkan bila diperlukan lebih cepat dari waktu kontrak. Beberapa metode yang telah ditemukan oleh para ahli yaitu Bar Chart atau dikenal dengan Gantt Chart yang pertama kali digunakan oleh Hendri L. Gantt dan Analisis Jaringan Kerja atau Network Analysis, selain itu juga ada beberapa metode yang telah digunakan dalam perencanaan penjadwalan proyek yaitu Critical Path Method (CPM), Kurva S atau yang dikenal dengan Hannum Curve yang pertama kali digunakan oleh Warren T. Hannum seorang perwira Zeni Angkatan Darat Amerika Serikat. Lingkup kerja sebuah proyek pada umumnya sangat besar, tentunya tidak akan rampung dalam sehari. Besarnya ruang lingkup tersebut tentunya. Dari hasil analisa Network tersebut didapat bahwa terjadinya lintasan kritis (Critical Path Method) pada kegiatan : C – D – F – H – J – L dengan waktu 28 minggu bila dilihat dari hasil network dan lintasan kritis (Critical Path Method) tersebut didapat bahwa waktu terpanjang pekerjaan adalah pekerjaan struktur. Dari hasil analisis dapat disimpulkan semua metode dapat dipakai dalam Pelaksanaan Proyek Pembangunan Gedung RSUD Ibnu Soetowo Baturaja Tahap I, namun yang paling sering digunakan pada proyek – proyek konstruksi di Indonesia adalah metode Bar Chart dan S. Curve. Untuk metode lainnya hanya sebagai pembanding untuk membantu penjadwalan, bukan untuk pengambilan keputusan. Dikarenakan kelebihan dari S Curve dapat digabungkan dengan bar chart sehingga pengendalian proyek dapat dikontrol melalui S Curve.
Evaluasi Perwujudan Program Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tangerang Selatan
Yulia Rahmawati;
Dikpride Despa;
Aleksander Purba
Seminar Nasional Insinyur Profesional (SNIP) Vol. 3 No. 2 (2023): Prosiding SNIP Vol.3 No.2 Tahun 2023
Publisher : Fakultas Teknik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23960/snip.v3i2.493
Penelitian ini bertujuan untuk menilai perwujudan atau kondisi aktual dari rencana tata ruang (struktur dan pola ruang) yang sudah ditetapkan dalam Perda Kota Tangerang Selatan Nomor 9 tahun 2019 tentang Perubahan atas Perda Kota Tangerang Selatan Nomor 15 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tangerang Selatan 2011 – 2032 serta mengidentifikasi penyebab belum terwujud dan/atau ketidaksesuaian perwujudannya. Metode penelitian yang digunakan adalah: 1) Metode analisis data spasial (overlay) dimana analisis ini menggunakan data spasial yang disuperimpose (overlay) antara peta penggunaan lahan tahun terbaru/terkini (hasil citra satelit terkini) dengan peta rencana pola ruang RTRW. Hasil analisis spasial ini selanjutnya akan ditransfer menjadi tabel luasan dari masing-masing peta penggunaan lahan yang diolah dan 2) Metode Analisis Komparatif (Persandingan) yaitu analisis yang membandingkan keadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau dua waktu yang berbeda. Adapun penerapan analisis komparatif ini digunakan untuk mengetahui perwujudan program Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tangerang Selatan dengan menyandingkan antara rencana (struktur dan pola ruang) dengan kondisi aktual guna lahan. Dari kedua analisis tadi ditemukan bahwa secara keseluruhan hasil evaluasi (penilaian) perwujudan program rencana tata ruang Kota Tangerang Selatan adalah belum terwujud dengan rata-rata nilai perwujudan 68,51%. Dimana nilai perwujudan paling tinggi yaitu 100% untuk rencana sistem pusat kegiatan dan yang sangat rendah yaitu 37,95% untuk rencana pola ruang kawasan lindung dan 48% untuk rencana infrastruktur kota. Berdasarkan kondisi tersebut dirumuskan alternatif kebijakan berupa Peningkatan keterlibatan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya dalam penyusunan indikasi program Kota Tangerang Selatan melalui Forum Penataan Ruang Daerah, Peningkatan anggaran untuk kegiatan perencanaan yang dapat dilakukan dengan memperkuat hubungan koordinasi kerjasama dengan pemerintah kota/kabupaten yang berbatasan, dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat, serta memperkuat fungsi pengendalian dan pengawasan dalam pemanfaatan ruang sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembangunan kota.
Kajian Standar Laik Fungsi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Shell Indonesia Ceger, Kota Tangerang Selatan
Riyan Rahmawan;
RATNA WIDYAWATI;
TRISYA SEPTIANA
Seminar Nasional Insinyur Profesional (SNIP) Vol. 3 No. 2 (2023): Prosiding SNIP Vol.3 No.2 Tahun 2023
Publisher : Fakultas Teknik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Seperti halnya Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) adalah ijin atas kelaikan sebuah perencaan bangunan gedung untuk di bangun, Sertifikat Laik Fungsi (SLF) adalah pernyataan atas kelaikan fungsi sebuah bangunan yang telah selesai dibangun. Laik Fungsi adalah suatu kondisi Bangunan Gedung yang memenuhi persyaratan administrative dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi Bangunan Gedung yang di tetapkan. Pemeriksaan Kelaikan Fungsi Gedung adalah proses pemeriksaan pemenuhan persyaratan teknis Bangunan Gedung. SLF adalah sertifikat yang kelaikan fungsi Bangunan Gedung sebelum dapat dimanfaatkan. Kegiatan pemeriksaan bangunan gedung dilakukan oleh pemilik atau pemohon yang dibantu oleh para pengkaji teknis. Hasil dari kegiatan ini adalah Laporan Pengkaji Teknis yang berisi tentang hasil pemeriksaan terhadap komponen-komponen bangunan gedung sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Adapun laporan yang disusun ini merupakan Laporan Pengkaji Teknis untuk bangunan gedung SPBU Shell Indonesia Ceger, Kota Tangerang Selatan yang merupakan pelayanan umum bahan bakar. Bangunan SPBU merupakan bangunan prasarana umum/kepentingan umum, gedung ini memiliki kompleksitas sebagai bangunan gedung tidak sederhana dan termasuk kategori fungsi pelayanan.
HARMONISASI TARIF JASA KE PELABUHANAN YANG BERBASIS MODEL SUSTAINABLE SURVEILANCE PADA PENYEDIA JASA /PENGGUNA JASA/OWNER CARGO DALAM RANGKA EFISIENSI DAN PEMANGKASAN BIAYA LOGISTIK DI PELABUHAN UTAMA
Andi Fiardi;
Herry Wardono;
Dikpride Despa
Seminar Nasional Insinyur Profesional (SNIP) Vol. 3 No. 2 (2023): Prosiding SNIP Vol.3 No.2 Tahun 2023
Publisher : Fakultas Teknik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23960/snip.v3i2.495
Berbagai permasalahan di banyak Pelabuhan di Indonesia yang di antaranya diindikasikan masih terdapat double cost dan markup cost antara Penyedia Jasa yang dikenakan kepada Pengguna Jasa (Owner Cargo) serta kurang keterbukaannya para penyedia jasa atas biaya dikenakan kepada pengguna jasa sehingga pengawasan tidak efektif. Sementara itu, Pelabuhan merupakan salah satu dari program Presiden yang termasuk program Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) yang salah satu tujuannya adalah pemangkasan biaya logistik kepelabuhanan. Sebagai upaya menindaklanjuti permasalahan dan mendukung program tersebut, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) baik Pelabuhan Utama maupun Kelas I yang mempunyai tugas pengaturan, pembinaan, pengendalian dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan di Pelabuhan melalui fungsi pengawasan terhadap Tarif Jasa Kepelabuhanan berupaya untuk mewujudkan efisiensi dan pemangkasan biaya logistik melalui Harmonisasi Tarif Jasa Kepelabuhanan di seluruh Pelabuhan. Adapun Harmonisasi Tarif merupakan suatu langkah dalam upaya identifikasi dan mengetahui kepastian komponen tarif biaya pada siklus jasa di ekosistem logistik kepelabuhanan yang meliputi jasa kepelabuhanan, jasa terkait dengan kepelabuhanan dan jasa terkait dengan angkutan di peraian, yang dikenakan oleh Penyedia Jasa kepada Pengguna Jasa (owner cargo) dan memberi pengaruh terhadap biaya logistik di sektor transportasi laut. Harmonisasi Tarif dilaksanakan dengan berbasis model sustainable surveillance yang diharapkan menjadi metode pengawasan yang terkonsolidasi dan mapan dalam penerapannya sehingga dapat mewujudkan peningkatan fungsi pengawasan Kantor Pelabuhan di setiap Pelabuhan. Tahap awal sustainable surveillance terhadap tarif ini dilaksanakan dengan melaksanakan metode kausal komparatif, pengumpulan data-data tarif dari seluruh asosiasi penyedia jasa dan/atau sebagian perusahaan dan owner cargo, pelaksanaan wawancara penyedia jasa dan owner cargo dan penegasan terhadap peraturan-peraturan serta ketentuan yang berlaku. Sehubungan dengan ekosistem logistik kepelabuhanan yang cukup luas beserta pelaku usahanya, pada tahap ini dimulai dari pelaksanaan tinjauan dan kajian oleh KSOP Kelas I Panjang dan mengambil sampel di beberapa Provinsi terutama di setiap Pelabuhan Utama, antara lain jasa Depo Petikemas di Pelabuhan yang nanti akan dilanjutkan terhadap jasa-jasa lainnya yang berperan langsung memberikan dampak kepada biaya logistik di setiap Pelabuhan Adapun hasil didapat antara lain diperoleh beberapa data jenis tarif dan hal-hal yang menjadi perhatian dalam penentuan tarif jasa pada Depo Petikemas yaitu perlunya diatur batas bawah dan batas atas tarif serta ditetapkannya standar layanan minimum pelayanan untuk menjamin persaingan usaha yang sehat dan tarif pelayanan jasa yang wajar serta perlunya penegasan peran asosiasi pengguna jasa dan penyedia
Studi Kawasan Tambak Di Pesisir Pantai Timur Kecamatan Sungai Menang Kabupaten Ogan Komering Ilir
Eko Wahid Apriansyah;
Herry Wardono;
Armijon Armijon
Seminar Nasional Insinyur Profesional (SNIP) Vol. 3 No. 2 (2023): Prosiding SNIP Vol.3 No.2 Tahun 2023
Publisher : Fakultas Teknik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23960/snip.v3i2.496
Wilayah Pesisir merupakan wilayah dinamis yang menjadi wilayah pertemuan dua ekosistem besar yaitu ekosistem laut dan ekosistem darat. Budidaya tambak merupakan potensi di wilayah pesisir pantai timur yang ada di Kabupaten Ogan Komering Ilir.Untuk mengoptimalisasikan tambak ikan dan udang di pesisir pantai timur Kabupaten Ogan Komering Ilir, maka perlu dilakukan pemetaan lahan terhadap lokasi pesisir sebagai kawasan budidaya tambak. Seiring perubahan cuaca yang tak menentu, ketersediaan lahan tambak pasti mengalami perubahan yang dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhi seperti tinggi nya air laut saat pasang, pengalihan fungsi lahan tambak dan faktor lain yang disebabkan oleh alam maupun manusia. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengukur langsung ke lapangan dan wawancara dengan pemilik lahan tambak. Data lapangan yang diperoleh tersebut kemudian diolah menggunakan software ArcGIS 10.8 sehingga dihasilkan suatu peta dasar tematik selanjutnya dapat dilakukan analisis kesesuaian lahan tambak berdasarkan parameter karakteristik lahan dan kesesuaian lahan. Hasil dalam penelitian ini yaitu adanya sebaran tambak di Kecamatan Sungai Menang dan Analisis kesesuaian lahan
ANALISIS KINERJA PENGELOLAAN AIR HUJAN DENGAN SISTEM PEMANENAN AIR HUJAN DAN INFILTRATION TRENCH DI PERUMAHAN DOSEN UNSRI KELURAHAN BUKIT LAMA
Ar Rahman;
Muh Sarkawi;
Alexander Purba
Seminar Nasional Insinyur Profesional (SNIP) Vol. 3 No. 2 (2023): Prosiding SNIP Vol.3 No.2 Tahun 2023
Publisher : Fakultas Teknik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23960/snip.v3i2.497
Perubahan tata guna lahan mempengaruhi jumlah runoff yang dapat meresap ke dalam tanah. Permasalahan ini dapat ditemukan di Perumahan Dosen UNSRI. Hal ini dapat diatasi dengan pengelolaan air dari hujan seperti Infiltration Trench (parit infiltrasi) maupun Rain Water Harvesting (permanen air hujan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis scenario terbaik dalam pengolahan air hujan di daerah penelitian untuk mengurangi runoff berlebih yang terjadi. Data curah hujan harian, tata guna lahan, premeabilitas tanah dan pengukuran lahan serta dimensi drainase existing digunakan dalam analisis algoritma. Penentuan skenario efektif dilakukan dengan analisis algoritma serta dengan memperhitungkan RAB. Skenario yang meliputi infiltration trench kedalaman 1 m serta sistem PAH dengan volume tangki 2 m3 memiliki efektivitas rata-rata terbesar yaitu 55,33%, apabila dibanding dengan skenario Infiltration Trench kedalamam 1 m saja, dapat dikatakan bahwa sistem PAH membawa efektivitas sebesar 23,94%. Sebaliknya dengan penambahan pada implementasi Infiltration Trench hanya meningkatkan efektivitas sebesar 18,4%. Rencana Anggaran Biaya total pada implementasi Infiltration Trench ialah 2 kali lipat dari Sistem PAH. Maka ditetapkan skenario terbaik yaitu implementasi Sistem PAH dengan volume tangki 2 m3. Skenario ini memiliki nilai efektivitas pengurangan runoff rata-rata sebesar 37,05% dari 3 data tahun yang digunakan dan biaya sebesar 1,8 Miliyar Rupiah untuk keseluruhan 194 rumah.