cover
Contact Name
Retnowaty
Contact Email
retnowaty@uniba-bpn.ac.id
Phone
+6285641513654
Journal Mail Official
jurnalkompetensi@uniba-bpn.ac.id
Editorial Address
Jl. Pupuk Raya, Kelurahan Damai Bahagia, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, 76114
Location
Kota balikpapan,
Kalimantan timur
INDONESIA
Kompetensi
Published by Universitas Balikpapan
ISSN : 20870485     EISSN : 26569841     DOI : https://doi.org/10.36277/kompetensi.v15i1
Kompetensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal ini berisi tulisan ilmiah hasil penelitian maupun kajian pustaka dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, sains dan humaniora. Artikel dapat ditulis dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. P-ISSN : 2087-0485 dan E-ISSN : 2656-9841.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi" : 18 Documents clear
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS ARTICULATE STORYLINE 3 MATERI GAYA PADA SISWA KELAS IV SDN 009 SUNGAI KUNJANG Erna Suhartini; Wandini Intan Ayu; Buhari Muhammad Ramli
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.409 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v15i2.73

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pendidikan terhadap media pembelajaran yang mengimbangi kemajuan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah media pembelajaran berbasis Articulate Storyline 3 materi gaya pada siswa kelas IV di SDN 009 Sungai Kunjang. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan prosedur pengembangan model Borg and Gall yang dimodifikasi peneliti menjadi 5 tahapan yaitu meliputi tahap pengumpulan informasi, pengembangan produk awal, validasi produk yang ditinjau oleh validator, uji coba, dan penyempurnaan produk. Teknik pengumpulan data kuesioner digunakan dalam penelitian ini adalah yang berupa analisis kebutuhan, penilaian kelayakan media, dan respon peserta didik. Hasil dari penelitian ini adalah media pembelajaran berbasis Articulate Storyline yang telah dilakukan penilaian kelayakan mendapatkan rata-rata persentase oleh ahli media sebesar 80,5% yang berarti dalam kategori “tinggi”, mendapatkan rata-rata persentase oleh ahli materi sebesar 96,875% yang berarti dalam  kategori “sangat tinggi”, dan dari hasil kuesioner respons peserta didik sebanyak 28 peserta didik dengan uji coba kelompok kecil mendapatkan hasil respons positif hasil rata-rata persentase 94,92% dan kelompok besar mendapatkan hasil rata-rata persentase 98,10% yang keduanya berarti dalam kategori “sangat tinggi”.
ANALISIS PERISTIWA TUTUR DALAM UPACARA ADAT SAUR MATUA ETNIS BATAK TOBA : KAJIAN SOSIOLINGUISTIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Anis Luul Khoir; Asriaty R Purba
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.671 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v15i2.74

Abstract

Artikel ini mengkaji perihal bagian-bagian upacara kegiatan Batak Toba dan pidato-pidato yang ada. Kajian ini ialah kajian penelitian deskriptif kualitatif berdasarkan teori sosiolinguistik Dell Hymes (1972). Hasil kajian menunjukkan bahwa peristiwa tutur berikut terjadi pada Upacara Kegiatan adat Batak Saur Matua Toba: Tahap pertama Moppo, tahap ke-2 Mangonda-ondai dan panggalangon, tahap ke-3 Partuatni na saur matua. Data peristiwa tutur pada Upacara Kegiatan adat saur matua etnis Batak Toba ini terdapat 67 data.Yang mana Setting and scene diadakan digedung wisma, dan dihalaman, pada saat kegiatan moppo, mangonda-ondai dan kegiatan partuatni na saur matua. Participants pada kegiatan tersebut ialah pihak hulahula, suhut, panamboli, suhut na martinodohon, anak, pamimpin gareja, boru, pariban suhut, tulang rorobot, hulahula naposo, dan boru suhut, ale-ale, dan seluruh undangan yang ada di tempat kegiatan. Ends pada kegiatan ini ialah untuk menjawab pertanyaan yang di berikan pihak lawan tutur, untuk menjawab pernyataan dari lawan tutur, menghibur pihak yang berduka, memberi semangat, memberi berkat, meminta maaf, berterima kasih, mendoakan, dan mempersilahkan. Act sequence yang terdapat pada kalimat pada kegiatan ini ialah bentuk ujaran non formal, kalimat lengkap, kalimat tidak lengkap, kalimat seruan, kalimat pernyataan, kalimat pertanyaan, kalimat perintah. Key pada kegiatan saur matua Op.Louis Demak ini ada beberapa, yakni singkat, suara meninggi, suara merendah, suara netral, perasaan lega, sedih, senang, terharu, penuh harap, ekspresi bertanya, dan memohon. Instrumentalities pada kegiatan ini ialah bahasa lisan. Norm of interaction and interpretation  ialah sopan santun dan saling menghargai. Genre yang terdapat pada kegiatan ini ialah dialog, narasi, nyanyian, pepatah, pantun, nasihat, ayat, doa, dan permohonan. Manfaat adanya penelitian ini ialah bisa menambah wawasan peneliti mengenai penelitian terkait dan diharapkan bisa memberikan masukan informasi dan acuan untuk melestarikan warisan budaya masyarakat di Indonesia.
PERAN TOLU SAHUNDULAN LIMA SAODORAN DALAM UPACARA MANGGALAR ADAT MARHAJABUAN PADA ETNIK SIMALUNGUN : KAJIAN TRADISI LISAN Risdayanti Situngkir; Herlina Herlina
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.025 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v15i2.75

Abstract

Tujuan dilakukannya upacara manggalar adat adalah untuk menyelesaikan adat yang tertunda. Penelitian ini menggunakan kajian tradisi lisan membahas mengenai peran tolu sahudulan lima saodoran terhadap pelaksanaan manggalar adat marhajabuan dalam masyarakat Simalungun. Penelitian ini membahas mengenai unsur tolu sahundulan lima saoduran, tahap pelaksanaan dan peran tolu sahundulan lima saodoran dalam upacara manggalar adat maharjabuan pada etnik Simalungun. Landasan teori yang digunakan dalam menganalisis masalah ini adalah teori tradisi lisan yang dikemukakan oleh Neuman dengan menggunakan penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa tradisi manggalar adat dilakukan jika terdapat sepasang suami istri yang melakukan pernikahan disebabkan oleh hal-hal yang memaksakan mereka untuk melakukan upacara pernikahan tanpa adat istiadat. Dalam pelaksanaan upacara manggalar adat maka harus melibatkan tolu sahundulan lima saodoran sebagai penggerak utama untuk melakukan upacara adat. Manggalar adat dilakukan agar seseorang mendapat kebebasan dalam melakukan aktivitas adat istiadat.
Kearifan Lokal Dalam Tradisi Paijur Batu Pada Masyarakat Batak Toba Di Desa Lobu Tua Kecamatan Andam Dewi Kabupaten Tapanuli Tengah Yusnia Matondang; Herlina Herlina
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.913 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v15i2.76

Abstract

Kajian akademik ini berjudul “Kearifan Lokal Dalam Tradisi Paijur Batu Masyarakat Batak Toba Desa Lobu Tua Kecamatan Andam Dewi Kabupaten Tapanuli Tengah” dan judul lengkapnya adalah “Kearifan Lokal Dalam Tradisi Paijur Batu Masyarakat Toba”. masyarakat Batak.” Dalam artikel ilmiah ini, dibedah praktik paijur batu yang umum di kalangan masyarakat Batak Toba dusun Lobutua. Fokus utama penelitian ini adalah tahapan-tahapan tradisi paijur batu pada masyarakat Batak Toba di Desa Lobutua serta signifikansi pemanfaatan kearifan lokal dalam tradisi paijur batu pada masyarakat Batak Toba di Desa Lobutua. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tahapan-tahapan tradisi paijur batu yang dipraktikkan oleh masyarakat Batak Toba di Desa Lobutua, dan (2) mengidentifikasi nilai-nilai kearifan lokal yang dipraktikkan oleh masyarakat Batak Toba di Desa Lobutua yang termasuk dalam paijur. tradisi batu. Penelitian ini memanfaatkan konsep kearifan lokal yang dikembangkan oleh Robert Sibarani. Selain itu, pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan temuan penelitian lapangan, ada tujuh fase tradisi paijur batu dalam masyarakat Batak Toba, khususnya di Desa Lobu Tua. Selain itu, ada sebelas nilai kearifan lokal. Dalam rangka membantu terpeliharanya budaya Batak Toba di Desa Lobu Tua yang sedang mengalami transisi budaya, maka akan dilakukan penilaian tentang nilai-nilai kearifan lokal.
UPACARA SAUR MATUA ETNIK BATAK ANGKOLA/MANDAILING: KAJIAN SEMOTIKA SOSIAL Stephanie Grace Ester Harahap; Jekmen Sinulingga
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.341 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v15i2.77

Abstract

Artikel ini berjudul “Tradisi Upacara Saur Matua Etnik Batak Angkola/Mandailing: Kajian Semiotika Sosial”. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk simbol yang terdapat dalam upacara saur matua etnik Batak Angkola/Mandailing, (2) mendeskripsikan fungsi simbol yang terdapat dalam upacara saur matua etnik Batak Angkola/Mandailing, dan (3) mendeskripsikan nilai simbol yang terdapat dalam upacara saur matua etnik Batak Angkola/Mandailing. Teori yang digunakan untuk menganalisis adalah teori yang dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif  dengan observasi wawancara terstruktur. Berdasarkan analisis data dan pembahasan, maka ditemukan bahwa terdapat 34 simbol, yakni (1) 20 bentuk simbol peralatan, (2) 7 bentuk simbol makanan, (3) 5 bentuk simbol penanda status sosial, (4) 2 bentuk simbol waktu, kemudian dari hasil penelitian terhadap fungsi simbol berdasarkan bentuk simbol yang telah ditemukan, ialah (1) menyatakan pesan ekspresif, (2) menyatakan pesan direktif, (3) menyatakan pesan komisif, (4) menyatakan pesan representatif, dan (5) menyatakan pesan deklaratif. Untuk nilai simbol pada upacara, ditemukan 11 nilai simbol kesetiakawanan sosial, kesopansantunan, gotong royong, disiplin, pelestarian dan kreativitas budaya, pengelolaan gender, kerukunan, komitmen, kesejahteraan, dan rasa syukur.
ANALISIS TOKOH DALAM NOVEL INONG KARYA RADIUS S.K SIBURIAN: KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA Trisna Erawani Aritonang; Herlina Herlina
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.855 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v15i2.78

Abstract

Penelitian ini merupakan kajian tentang Psikologi Sastra terhadap buku yang berjudul Inong karya Radius S.K Siburian.Tujuan dalam penelitian ini ialah unsur intrinsik yang ada dalam novel Inong dan mendeskripsikan struktur kepribadian yang melatar belakangi psikologis para tokoh dalam novel Inong karya Radius S.K Siburian. Data yang digunakan dalam penelitian merupakan studi kepustakaan. Teori yang digunakan dalam menganalisis tokoh cerita tersebut ialah teori struktural, dan teori psikologi sastra dari teori kepribadian Sigmund Freud yaitu: id, ego, dan superego. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini ditemukan aspek psikologi yaitu Id, Ego, dan Superego pada masing-masing tokoh. Aspek Id pada tokoh Inong mengacu kepada tindakan refleks seperti menolak rasa sakit. Berlanjut kepada ego dari tokoh inong, pengambilan keputusan, penyelesaian masalah yang ada. Sedangkan superego tokoh inong mengacu kepada nilai moral kepribadian yang terdapat pada masyarakat dan nilai agama. Pada tokoh Bapak id nya lebih mengacu kepada sifat penguasa dan sewenang-wenang. Pada tokoh Dame dan Jon id yang dimiliki lebih mengacu kepada menolak rasa sakit dan memilih kenikmatan. Sedangkan untuk aspek ego Dame, dan Jon memiliki kemiripan dengan Inong.
TRADISI PASAHAT INDAHAN NASINAOR PADA ETNIK BATAK TOBA DI DESA KELURAHAN PARGARUTAN, KECAMATAN SORKAM, KABUPATEN TAPANULI TENGAH KAJIAN: TRADISI LISAN Juliana Pera Situmeang; Jamorlan Siahaan
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.407 KB)

Abstract

Secara umum  kata “pasahat” adalah “ memberikan” dan kata “Indahan”  yaitu “Nasi/ Makanan”. Dan kata “Nasinaor” merupakan kata yang dapat dikutip dari kata “Parsaoran/marsaor” yang dapat diartikan dengan kata pergaulan yang memiliki rasa persaudaran yang tinggi. Sehingga dapat diartikan bahwa tradisi adat indahan nasinaor ini merupakan acara adat yang bertujuan untuk menjalin rasa persaudaraan supaya semakin kompak satu sama lain. Tradisi lisan merupakan kegiatan budaya tradisional suatu kumpulan komunitas yang diwariskan secara turun temurun dari media lisan dari satu individu ke individu lain dari susunan kata lisan (verbal) maupun tradisi tradisi lain yang bukan lisan. Adapun tujuan dari artikel ini adalah untuk mendeartikelkan tahapan-tahapan yang dilakukan dalam proses adat indahan nasinaor, mendeartikelkan fungsi kegiatan adat indahan nasinaor, mendeartikelkan nilai-nilai tradisi lisan pada setiap tahapan adat indahan nasinaor. Teori yang digunakan  teori Tradisi Lisan yang dikemukakan Oleh Robert Sibarani. Dalam artikel ini menggunakan metode deskriptif. Hasil yang didapat dalam artikel ini terdapat delapan tahapan adat indahan nasinaor, fungsi acara adat indahan nasinaor, dan sembilan nilai-nilai tradisi lisan dalam setiap tahapan adat indahan nasinaor .
PENGEMBANGAN BUKU SAKU DIGITAL BERBASIS MIND MAPPING DALAM PEMBELAJARAN IPA MATERI KALOR DAN PERPINDAHANNYA SISWA KELAS V TAHUN AJARAN 2022/2023 Ira Lutvi Akhlakul Karimah; Hety Diana Septika; Tri Wahyuningsih; Yudo Dwiyono
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.814 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validasi dan kelayakan Buku Saku Digital Berbasis Mind mapping dalam Pembelajaran IPA Materi Kalor dan Perpindahannya Siswa Kelas V Tahun Ajaran 2022/2023. Penelitian ini adalah penelitian Research and Development yang diadaptasi dari model pengembangan Borg and Gall yang meliputi 7 tahap yaitu: 1) potensi dan masalah, 2) pengumpulan data, 3) desain produk, 4) validasi, 5) revisi desain, 6) uji coba kelayakan terbatas, dan 7) revisi produk. Dari hasil uji kevalidan oleh ahli materi, media, dan bahasa buku saku digital berbasis mind mapping mendapat interval kevalidan 0,881 dengan kategori sangat valid. Uji coba kelayakan terbatas pada siswa mendapat persentase respon sebesar 77% dan masuk kategori layak, sedangkan pada guru memperoleh respon 98% dan masuk kategori sangat layak. Berdasarkan hasil uji kevalidan dan kelayakan maka dapat disimpulkan bahwa buku saku digital berbasis mind mapping sangat valid dan layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran IPA materi kalor dan perpindahannya untuk siswa Kelas V Tahun Ajar 2022/2023.
STRUKTUR INTRINSIK DAN FUNGSI CERITA PROSA RAKYAT SIANTURI TUAN DIHORBO PADA MASYARAKAT BATAK TOBA: KAJIAN FOLKLOR Jalentar F Siburian; Herlina Herlina
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.879 KB)

Abstract

Legenda ini merupakan salah satu peninggalan bagi masyarakat batak terkhusus marga sianturi. tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik dan fungsi dari legenda Sianturi Tuan Dihorbo. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik penelitian lapangan dengan metode observasi, wawancara, dan kepustakaan. Penelitian ini menggunakan teori struktur yang dikemukakan oleh Nurgiantoro dan Teori fungsi yang dikemukakan oleh Bascom. Adapun hasil penelitian adalah sebagai berikut; tema dari legenda sianturi adalah menyebarnya keturunan Sianturi Tuan Dihorbo dan berdirinya rumah bercat darah manusia. alur/plot menggunakan alur maju. latar/setting meliputi latar tempat di desa Simatupang, desa Paranginan Utara, dan desa Lumban Sianturi. Latar waktu terjadi pada zaman dahulu, pagi hari, malam hari. penokohan/perwatakan terdapat 6 tokoh yaitu Tuan Dihorbo, Datu Birara, Boru sanduduk, saudara Tuan Dihorbo( Mandosi Raja, Bonanionan, Parmassahati). Sudut pandang yang digunakan penulis adalah sudut pandang orang ketiga. Gaya bahasa/majas menggunakan gaya bahasa Eufeminisme. Amanat yang terdapat dalam legenda Sianturi Tuan Dihorbo adalah pentingnya memastikan sebuah tindakan karena jika ceroboh dapat menimbulkan malapetaka. Serta memiliki fungsi: sebagai cerminan atau proyeksi angan-angan pemiliknya, sebagai alat pengesah pranata dan lembaga kebudayaan, sebagai alat pendidikan, dan sebagai alat penekan atau pemaksa berlakunya tata nilai masyarakat dan pengendalian perilaku masyarakat.
Simbol Pengobatan Tradisional Etnik Batak Toba Judika Panggabean; Flansius Tampubolon
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.234 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v15i2.88

Abstract

Artikel ini membahas tentang simbol pengobatan tradisional etnik Batak Toba. Etnik Batak Toba memiliki pengetahuan berupa pengobatan tradisional, seseorang yang dipercayai dapat menyembuhkan berbagai penyakit dengan cara tradisional disebut Parubat huta. Dalam proses pengobatan ini sebagian besar dilakukan dengan cara memanggil roh nenek moyang dan melakukan ritual. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan  bentuk  simbol, fungsi dan makna dalam pengobatan tradisional etnik Batak Toba. Dalam menyelesaikan artikel ini penulis menggunakan teori semiotik dengan metode deskriptif kualitatif dan untuk menunjang hasil dari artikel ini penulis menggunakan metode pengumpulan data dengan cara (1) wawancara dengan informan, (2) Observasi dan (3) Dokumentasi simbol yang terkait. Lokasi penelitian artikel ini di Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, penulis meneliti simbol yang terdapat pada pengobatan tradisional etnik Batak Toba . Adapun hasil yang ditemukan oleh penulis dalam simbol pengobatan tradisional etnik Batak Toba yang difokuskan pada 3 penyakit yakni kanker payudara (andorabion), terkilir (taralit), penyakit kulit (gadam) terdapat  18 bentuk, fungsi dan makna simbol yang meliputi simbol peralatan, simbol ramuan (pulungan), simbol mantra (tabas). Kanker payudara (andorabion) memiliki 2 jenis simbol peralatan antara lain : pinggan pasu (piring keramik besar), imbuluni manuk (bulu ayam). 4 jenis simbol ramuan (pulungan) antara lain : sira risi (garam kasar), baoran ni aek (air mengalir), jarum, salimbatu (jeringau). Terkilir (taralit) memiliki 3 jenis simbol peralatan antara lain : napuran tiar (ucapan terimakasih), haminjon (kemenyan), sigaret (rokok). 2 jenis simbol ramuan antara lain : gambiri (kemiri), tumba (liter). 1 jenis simbol mantra yaitu tabas tawar mulajadi. Gadam (penyakit kulit) memiliki 3 jenis simbol peralatan antara lain : losung batu (lesung batu), pinggan na bontar (cawan warna putih), pandais (pengoles). 2 jenis simbol ramuan (pulungan) antara lain : pining (pinang), gambiri (kemiri). 1 jenis simbol mantra (tabas) yaitu tabas tawar bisa. Dengan adanya artikel ini penulis mengharapkan generasi muda meningkatkan kepedulian serta membantu meningkatkan eksistensi pengobatan tradisional etnik Batak Toba agar menambah nilai jual dari pengobatan tradisional dan terjaga kelestariannya.

Page 1 of 2 | Total Record : 18