cover
Contact Name
Rosid Bahar
Contact Email
rosidbahar@gmail.com
Phone
+6282111688459
Journal Mail Official
mahadaly@idrisiyyah.ac.id
Editorial Address
Pagendingan, Jatihurip, Kec. Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 46153
Location
Kab. tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Published by Ma'had Aly Idrisiyyah
ISSN : -     EISSN : 28082044     DOI : https://doi.org/10.58572/hkm.v1i2
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam provides an international scholarly forum for research on Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, and Islamic Thought. Taking an expansive view of the subject, the journal brings together all disciplinary perspectives. It publishes peer-reviewed articles on the historical, cultural, social, philosophical, political, anthropological, literary, artistic, and other aspects of Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, Islamic Thought in all times and places. By promoting an understanding of the richly variegated Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, and Islamic Thought in both thought and practice and in its cultural and social contexts, the journal aims to become one of the leading platforms in the world for new findings and discussions of all fields of Islamic studies.
Articles 71 Documents
Kaidah Al-Yaqinu Laa Yuzaalu Bisyakkin: Keyakinan Tidak Dapat Dihapuskan dengan Keraguan Eva Nur Hopipah; Aah Tsamratul Fuadah
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 3 No. 2 (2023): HIkamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v3i2.34

Abstract

ABSTRACT Fiqhiyyah rules are scientific disciplines that have a high level of urgency for humans. Bearing in mind that the benchmark for the legal object is themukallaf itself, it is different from ushul fiqh, of course. In qawa'id al-ahkam or fighiyyah rules there are what are called kubra rules or ashasiyyah rules which consist of five rules. This qubra rule is a rule whose basic text or argument is beyond doubt because it comes from the Qur'an and hadith. One of the Kubra rules is the rule of al-yaqinu laa yuzaalu bissyakin which means belief cannot be erased by doubt. There are eleven branches in this rule. There are also conditions and exceptions described by jurists in this rule. Examples of applying the rules in the fields of ubudiyah, mu'amalah, jinayah, to siyasah are clearly illustrated comprehensively. The research methodology used in this paper is library research which explores and quotes from credible sources so that it can be used as a reference for scientists in their fields to develop and practice these principles in everyday life. Keywords: Fiqhiyyah rules. Qawa'id al-Ahkam, Rule of Kubra, Al-Yaqiinu Laa Yuzaalu Bissyakkin ABSTRAK Kaidah fiqhiyyah adalah disiplin ilmu yang memiliki tingkat urgensi tinggi untuk manusia. Mengingat patokan objek hukumnya adalah mukallaf itu sendiri, berbeda dengan ushul fiqh tentunya. Dalam qawa’id al-ahkam atau kaidah fighiyyah ada yang disebut dengan kaidah kubra atau kaidah ashasiyyah yang terdiri dari lima kaidah. Kaidah qubra ini adalah kaidah yang dasar nash ataupun dalilnya tidak diragukan lagi karena bersumber dari Al-Qur’an dan hadits. Salah satu kaidah kubra ialah kaidah al-yaqinu laa yuzaalu bissyakin yang artinya keyakinan tidak dapat dihapuskan dengan keraguan. Terdapat sebelas cabang dalam kaidah ini. Adapula syarat-syarat dan pengecualian yang dipaparkan oleh para ahli fukaha dalam kaidah ini. Contoh penerapan kaidah dalam bidang ubudiyah, mu’amalah, jinayah, hingga siyasah pun sangatlah jelas tergambar dengan komprehensif. Metodologi penelitian yang digunakan dalam karya tulis ini adalah penelitian kepustakaan yang menggali dan menukil dari sumber yang kredibel sehingga bisa dijadikan rujukan untuk ilmuwan di bidangnya mengembangkan dan mengamalkan kaidah ini ke dalam kehidupan keseharian. Kata Kunci: Kaidah Fiqhiyyah. Qawa’id al-Ahkam, Kaidah Kubra, Al-Yaqiinu Laa Yuzaalu Bissyakkin
Gerakan Sosial Tarekat Idrisiyyah; (Melacak Akar Moderasi dalam Konsep Tasawuf Sanusiyyah Arsyul, Asep Ahmad
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 3 No. 2 (2023): HIkamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v3i2.36

Abstract

Simplifikasi dan generalisasi atas sufisme sebagai momok keterbelakangan peradaban Islam merupakan upaya rasionalisasi yang nir-objektif. Karena itu, pembahasan ini menjadi penting untuk diteliti karena posisinya hendak mengklarifikasi problematika yang menyelimuti karakter dan hakekat tasawuf itu sendiri, melalui penelaahan mendalam terhadap tarekat Idrisiyyah. Atas dasar pernyataan itu, maka persoalan yang dikaji akan dibatasi oleh dua pertanyaan saja, yaitu; pertama, bagaimana sejarah perkembangan gerakan Sanusiyyah hingga ke tarekat Idrisiyyah?; dan kedua, bagaimana konsep moderasi perspektif tarekat Sanusiyyah? Dengan demikian, kajian ini akan mengandalkan jenis penelitian library research dengan alur pendekatan historis-sosiologis. Dalam konteks itu, asumsi yang melatari analisis wacana terhadap lokus terikat memunculkan satu pandangan umum sementara bahwa kemampuan tarekat Idrisiyyah sebagai sebuah gerakan sosial dalam proses mengadapsi tuntutan perubahan sosial yang begitu cepat didasarkan atas sistem keberagamaan terbuka yang meniscayakan seperangkat perilaku modern yang inklusif.
Tipologi Thariqah Sufiyyah di Indonesia Fauzi, Rizal
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 3 No. 2 (2023): HIkamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v3i2.37

Abstract

Thariqah sebagai madzhab shufiyah muncul sekitar 3H, dimana Junaid al-Baghdadi, diakui sebagai pencetus thariqah dalam shufiyah. Hal ini karena banyak murid Syaikh al-Junaid yang menjadi masyaikh shufiyah selanjutnya, seperti Abu ‘Abdillah al-Kattani, Abu Muhammad al-Jariri, Abu Ya’qub an-Nahrajuri, Abu ‘Abdullah al-Makki, dan lainnya. Adanya silsilah dalam Tarekat, merupakan salah satu syarat utama keabsahan suatu thariqah. Masuknya tarekat ke Indonesia diyakini berbarengan dengan masuknya Islam di Nusantara, dan berkembang sekitar abad ke 15M, seperti yang dibawa oleh Hamzah Fansur yang bertarekat Qadiriyah, Bahkan konon sebelum adab ke 13 para penasihat kerajaan Aceh dari ulama shufi. kemudian masuk tarekat Syathariyah, Naqsyabandiyah, Khalwatiyah, Samaniyah dan ‘Alawiyah. Kemudian masuk Tarekat Tijaniyah dan Sanusiyah Idrisiyyah ke Jawa Barat pada abad ke19 M, oleh Syaikh Akbar Abdul Fattah. Seiring perkembangan dan penyebaran Tarekat di Indonesia, terjadi keragaman corak atau tipologi tarekat, diantaranya tarekat normal, tarekat ruhaniyah, tarekat ‘Alawiyah, tarekat ta’lim wa ta’allum, dan tarekat neo shufisme. Metode penilitian yang digunakan berdasarkan kepada teori teori Mark J.R Sedgwick, dan merujuk kepada kepustakaan. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa adanya 5 tipologi tarekat di Indonesia dari segi silsilah dan ajaran.
Muamalah dalam Tasawwuf: Pendekatan Rohani dalam Penyelesaian Konflik Antar Agama, Suku, Ras dan Kelompok Alfarisi, Salman
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 3 No. 2 (2023): HIkamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v3i2.38

Abstract

Tasawwuf, sebagai dimensi spiritual Islam, memiliki potensi besar dalam memberikan kontribusi terhadap penyelesaian masalah sosial yang kompleks yang dihadapi oleh masyarakat Muslim. Dalam konteks ini, artikel ini menginvestigasi relevansi pendekatan rohani tasawwuf terhadap muamalah (interaksi sosial) dalam rangka menyelesaikan masalah sosial di dalam masyarakat Muslim. Latar belakang penelitian ini muncul dari pemahaman bahwa masalah sosial seperti ketidakadilan, konflik, dan kurangnya harmoni antar individu dan kelompok sering terjadi dalam masyarakat Muslim. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai-nilai dan ajaran tasawwuf, yang mencakup kasih sayang, tolong-menolong, pemahaman karakter, dan toleransi, dapat diaplikasikan sebagai pendekatan rohani dalam mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan tinjauan literatur terhadap sumber-sumber utama dalam tasawwuf serta menganalisis konsep-konsep dan prinsip-prinsip tasawwuf yang relevan dengan muamalah dan penyelesaian masalah sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan rohani dalam tasawwuf dapat memberikan panduan yang kuat dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang kondusif. Dalam kesimpulannya, penelitian ini mengajukan bahwa memahami perspektif tasawwuf dengan pendekatan rohani dapat menjadi solusi yang efektif dalam penyelesaian masalah sosial dalam masyarakat Muslim. Dengan menerapkan nilai-nilai tasawwuf, masyarakat Muslim dapat menciptakan hubungan sosial yang lebih baik, saling menghormati, yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.
Model Dakwah Tasawuf Simpatik Syekh Akbar Muhammad Fathurahman Di Era Digital Euis, Euis Sukawati; Zahra, Fatimah Zahra
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 5 No. 1 (2025): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v5i1.141

Abstract

Pemahaman agama yang benar harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim dan muslimah. agar dapat melaksanakan dan merasakan kemuliaan agama. Kemuliaan agama atau hakikat ibadah dapat dirasakan, jika dalam melaksanakan ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah disertai dengan keilmuaannya. Itu semua akan dicapai apabila belajar kepada fakarnya, didalam ilmu tasawuf disebut Mursyid. Sehingga ada bimbingan dalam melakukan setiap aktifitas ibadah, dan mengetahui keabsahannya. Yakni dengan mengintegrasikan trilogi agama Islam yakni tauhid, fikih dan tasawuf. Dengan demikian kehadiran seorang mursyid sangat urgrnt ditengah- tengah umat, sebagaimana dijelaskan dalam kitab: Al- Mausu’ah AlYusufiyyah, hlm,18. Namun pada kenyataannya kebanyakan umat Islam jangankan beribadah dibawah bimbingan seorang mursyid, terhadap ilmu tasawuf dan tarekat pun banyak yang tidak mengatahui dan mengenalnya, bahkan yang lebih miris ada yang membid’ahkan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana efektifitas model Dakwah tasawuf Syekh Akbar Muhammad Fathurahman di Era Digital. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Interview (wawancara), observasi dan metode Penelaahan tausiyah Mursyid, dengan gaya penulisan kualitatif, yang bersifat deskriptif konsepsional dan eksploratif. Kajian ini menunjukkan bahwa ilmu agama yang didapatkan dari pakarnya atau seorang mursyid robbani akan mendapatkan pemahaman agama yang lurus atau komprehensif. Seorang mursyid Robbani adalah sebagai wakil Allah dimuka bumi dijelaskan dalam kitab‘Al-Mausu’ah. Dimana para mursyid yang ada pada setiap zaman mendapatkan petunjuk atau ilham, maka dapat melakukan pembaharuan atau tajdid dengan metode tarbiyah ruhiyah serta mengetahui kebutuhan umat dizamannya. Sehingga dapat secara dinamis mengikuti kemajuan zaman. Kemajuan teknologi menjadi suatu anugrah, karena dapat membantu kelancaran dakwah taklimiyah. Dengan memadukan antara konsep dakwah tasawuf simpatik dan kemajuan teknologi maka dapat menjawab problematika umat di zaman era globalisasi dan modernisasi yang sangat kompleks.
Bullying verbal perspektif tasawuf (studi analisis pemikiran Al-Ghazali tentang maksiat lisan dalam bidāyatul hidāyah) Raihan Kenny, Muhammad; Alfarisi, Salman; Hanhan Burhani
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 5 No. 1 (2025): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v5i1.190

Abstract

Abstract This study explores the issue of verbal bullying, a behavior often underestimated in society. In truth, it represents a moral deviation and a manifestation of spiritual illness. Al-Ghazali asserts that harmful speech is a reflection of a corrupted heart. The aim of this research is to examine the concept of verbal bullying from Al-Ghazali’s perspective as presented in Bidayatul Hidayah. Employing a qualitative approach through content analysis, this study draws primarily on Bidayatul Hidayah as a main source, supported by relevant secondary materials. According to Imam Al-Ghazali, verbal transgressions that constitute verbal bullying include idle talk, insults, humiliation of others, backbiting, vulgar or obscene language, and lying. As a remedy for these issues, he emphasizes the importance of ash-shamt (silence) and tazkiyah an-nafs (self-purification). Keywords: Verbal Bullying, Al-Ghazali, Verbal Sins, Bidayatul Hidayah Abstrak Penelitian ini membahas tentang bullying verbal yang sering dianggap remeh oleh manusia pada zaman ini. Padahal merupakan bentuk dari penyimpangan akhlak dan penyakit hati. Al-Ghazali berpendapat bahwa ucapan negatif mencerminkan kerusakan hati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran mengenai bullying verbal menurut tasawuf Al-Ghazali, dalam kitab bidāyatul hidāyah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan pendekatan konten analisis. Sedangkan data yang dikumpulkan pada penelitian ini bersumber dari data primer yaitu kitab Bidayatul Hidayah serta data sekunder yang merupakan data-data pendukung untuk melengkapi dan membuat penelitian ini menjadi lebih baik. Berdasarkan hasil analisis mengenai bahaya lisan dalam penelitian ini yang mengarah kepada bullying verbal dalam kitab Bidayatul Hidayah menurut pandangan Imam Al-Ghazali adalah termasuk didalamnya ucapan tak berguna, melaknat, meremehkan, menggunjing, ucapan keji dan cabul, serta pembicaraan mengenai kebatilan. Adapun terapi untuk mengatasi hal tersebut Imam Al-Ghazali menjelaskan ash-shumt (diam), dan tazkiyah an-nafs. Kata Kunci: Bullying Verbal, Al-Ghazali, maksiat lisan, bidayatul Hidayah
Tasawuf Epistemologis Gus Baha’: Ilmu sebagai Jalan Spiritual dalam Tradisi Pesantren Ayatullah; Muhammad Syahrul Hasan
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 5 No. 2 (2025): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v5i2.165

Abstract

Tasawuf tidak hanya berkaitan dengan laku spiritual dan kesalehan personal, tetapi juga memiliki dimensi epistemologis yang penting dalam membentuk cara pandang terhadap ilmu dan pengalaman keagamaan. Penelitian ini mengkaji pemikiran KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha') tentang tasawuf dari sisi epistemologis, dengan menyoroti bagaimana beliau memposisikan ilmu sebagai jalan spiritual dalam kerangka tradisi pesantren. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi tokoh dan analisis isi terhadap ceramah-ceramah Gus Baha’ di berbagai media digital, khususnya YouTube, serta literatur yang relevan tentang epistemologi tasawuf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gus Baha’ memandang ilmu bukan sekadar alat untuk memahami syariat, tetapi sebagai sarana penyucian jiwa dan pendekatan diri kepada Allah. Selain itu, Gus Baha’ juga menekankan pentingnya logika sehat dan sanad keilmuan sebagai fondasi dalam pencarian spiritual. Pandangan ini selaras dengan tradisi tasawuf klasik yang mencerminkan kesinambungan antara ilmu, iman, dan ihsan. Dengan demikian, pemikiran Gus Baha’ membuka peluang reinterpretasi terhadap peran ilmu dalam pendidikan pesantren yang tidak hanya mencetak ahli hukum, tetapi juga hamba yang arif.
Sufism Discourse On Imam Al Shatibi's Maqashid Reasoning Paradigm Arsyul Munir, Asep Ahmad; Arif Tasrikin Imron
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 5 No. 2 (2025): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v5i2.170

Abstract

Sufism as the spiritual treasure of Islam is often debated regarding its understanding within the framework of sharia. The maqasid (objectives) paradigm of rational thought by Imam Al-Shatibi, which emphasizes the purposes and wisdom behind Islamic laws, provides a valuable perspective. The purpose of this writing is to explore Sufism through the maqasid paradigm to ensure its conformity with the principles of sharia. The method used is a literature review and critical analysis of Sufi principles such as makrifat (gnosis), tazkiyat an-nafs (self-purification), and zuhd (asceticism) through the lens of maqasid. The research results show that maqasid serves as a solid foundation for Sufism to provide profound substantive meaning and prevent deviations. Maqasid also provides a framework for evaluating Sufi practices and their contextualization in modern life without sacrificing its core values. In conclusion, Al-Shatibi's maqasid paradigm ensures that Sufism is not only a profound spiritual practice but is also in line with Islamic sharia, enriching the spiritual dimension, and addressing the modern human need for authentic spirituality with a way of life in accordance with the objectives of sharia.
Jalan Pulang ke Fitrah: Pesan Sirrul Asrar bagi Generasi yang Lelah Mencari Diri Faris Bahrul Ulum; Hasan, Muhammad Syahrul
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 5 No. 2 (2025): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v5i2.189

Abstract

Abstract This article examines the teachings of Sirrul Asrar by Shaykh Abdul Qadir al-Jilani as a spiritual map for modern humans experiencing existential crises, a loss of meaning, and disconnection from their primordial nature (fitrah). The study employs a qualitative-descriptive method based on library research, utilizing a thematic-sufistic and reflective-contextual approach to key sections of the text, such as the concepts of wathan al-asli (the original homeland), asfal as-safilin (the lowest state of being), the fourfold structure of knowledge (shari‘ah, tariqah, ma‘rifah, and haqiqah), and the hierarchy of the human soul (jasmani, ruwani, sultani, and qudusi). The findings reveal that Sirrul Asrar is not merely a normative Sufi text, but offers existential therapy that guides the soul toward self-purification, awareness of divine unity (tawhid), and holistic spiritual restoration. The concept of thiflul ma‘ani the birth of true spiritual consciousness represents the culmination of this inner journey toward human authenticity. These teachings are highly relevant in addressing contemporary issues such as spiritual alienation, digital self-construction, value disorientation, and existential fatigue caused by a fast-paced, consumerist culture. Thus, this classical Sufi legacy is crucial to be revived as an alternative narrative and spiritual solution for modern individuals who have lost direction and connection to their existential roots. Keywords: Sirrul Asrar, existential tawhid, thiflul ma‘ani, spiritual crisis, contemporary Sufism Abstrak Artikel ini mengkaji ajaran Sirrul Asrar karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani sebagai peta spiritual bagi manusia modern yang mengalami krisis eksistensial, kehampaan makna, serta keterputusan dari akar fitrahnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif berbasis studi pustaka, dengan pendekatan tematik-sufistik dan reflektif-kontekstual terhadap bagian-bagian penting dalam kitab seperti konsep wathan al-asli, asfal as-safilin, struktur empat cabang ilmu (syariah, thariqah, marifah, dan haqiqah), serta hirarki ruh manusia (jasmani, ruwani, sultani, dan qudusi). Hasil kajian menunjukkan bahwa Sirrul Asrar tidak hanya merupakan teks normatif sufistik tetapi juga mengandung tawaran terapi eksistensial yang membimbing manusia menuju penyucian diri, kesadaran tauhid, dan keutuhan spiritual. Konsep thiflul ma‘ani sebagai lahirnya kesadaran ruhani sejati menjadi titik kulminasi dari perjalanan menuju hakikat manusia. Ajaran ini relevan dalam menjawab problematika kontemporer seperti alienasi batin, pencitraan digital, disorientasi nilai, dan kelelahan spiritual akibat budaya instan dan konsumtif. Oleh karena itu, warisan sufistik klasik ini penting untuk dihadirkan sebagai narasi alternatif sekaligus solusi ruhani bagi manusia modern yang kehilangan arah dan akar eksistensinya. Kata Kunci: Sirrul Asrar, krisis identitas, tauhid eksistensial, peta ruh, sufisme kontemporer
Bullying verbal perspektif tasawuf (studi analisis pemikiran Al-Ghazali tentang maksiat lisan dalam bidāyatul hidāyah) Raihan Kenny, Muhammad; Salman Alfarisi; Hanhan Burhani
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 5 No. 2 (2025): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v5i2.194

Abstract

Abstract This study explores the issue of verbal bullying, a behavior often underestimated in society. In truth, it represents a moral deviation and a manifestation of spiritual illness. Al-Ghazali asserts that harmful speech is a reflection of a corrupted heart. The aim of this research is to examine the concept of verbal bullying from Al-Ghazali’s perspective as presented in Bidayatul Hidayah. Employing a qualitative approach through content analysis, this study draws primarily on Bidayatul Hidayah as a main source, supported by relevant secondary materials. According to Imam Al-Ghazali, verbal transgressions that constitute verbal bullying include idle talk, insults, humiliation of others, backbiting, vulgar or obscene language, and lying. As a remedy for these issues, he emphasizes the importance of ash-shamt (silence) and tazkiyah an-nafs (self-purification). Keywords: Verbal Bullying, Al-Ghazali, Verbal Sins, Bidayatul Hidayah Abstrak Penelitian ini membahas tentang bullying verbal yang sering dianggap remeh oleh manusia pada zaman ini. Padahal merupakan bentuk dari penyimpangan akhlak dan penyakit hati. Al-Ghazali berpendapat bahwa ucapan negatif mencerminkan kerusakan hati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran mengenai bullying verbal menurut tasawuf Al-Ghazali, dalam kitab bidāyatul hidāyah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan pendekatan konten analisis. Sedangkan data yang dikumpulkan pada penelitian ini bersumber dari data primer yaitu kitab Bidayatul Hidayah serta data sekunder yang merupakan data-data pendukung untuk melengkapi dan membuat penelitian ini menjadi lebih baik. Berdasarkan hasil analisis mengenai bahaya lisan dalam penelitian ini yang mengarah kepada bullying verbal dalam kitab Bidayatul Hidayah menurut pandangan Imam Al-Ghazali adalah termasuk didalamnya ucapan tak berguna, melaknat, meremehkan, menggunjing, ucapan keji dan cabul, serta pembicaraan mengenai kebatilan. Adapun terapi untuk mengatasi hal tersebut Imam Al-Ghazali menjelaskan ash-shumt (diam), dan tazkiyah an-nafs. Kata Kunci: Bullying Verbal, Al-Ghazali, maksiat lisan, bidayatul Hidayah