cover
Contact Name
Munifah Abdat
Contact Email
munifahabdat_dr@usk.ac.id
Phone
+6281317577701
Journal Mail Official
cakradonyadentaljournal@gmail.com
Editorial Address
FKG USK Darussalam Banda Aceh Aceh
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Cakradonya Dental Journal
ISSN : 2085546X     EISSN : 26224720     DOI : 10.24815/cdj.v
Core Subject : Health,
Cakradonya Dental Journal (CDJ) is a scientific journal publishes twice a year, on February and August. CDJ publishes conceptual articles from original research results that are relevant to the fields of medicine, dental care, oral health, general dentistry, dental materials, and public health. CDJ also publishes literature reviews and case reports.
Articles 524 Documents
DUKUNGAN SUAMI DENGAN KEJADIAN ANEMIA DEFISIENSI ZAT BESI PADA IBU POSTPARTUM Darmawati Darmawati; Mariatul Kiftia; Aida Fitri
Cakradonya Dental Journal Vol 12, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.265 KB) | DOI: 10.24815/cdj.v12i2.18441

Abstract

Anemia postpartum merupakan problema kesehatan yang menjadi masalah besar di seluruh dunia dan secara umum diakibatkan oleh kekurangan zat besi. Dukungan sosial paling sering didapatkan oleh ibu melahirkan dari suami. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi dukungan suami dengan insiden anemia defisiensi zat besi pada ibu postpartum. Studi ini dilakukan menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional di Rumah Sakit dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh. Perekrutan responden dilakukan dengan non-probability sampling method dan diperoleh 102 responden. Penelitian ini menggunakan uji statistik berupa chi-square test. Studi ini menemukan bahwa 49.0% ibu postpartum mengalami anemia ringan, 10.8% mengalami anemia sedang, dan 40.2% lainnya tidak mengalami anemia. Ditemukan terdapat korelasi antara dukungan suami dengan angka anemia defisiensi zat besi yang terjadi pada ibu postpartum (p value 0.028). Selanjutnya, ditemukan pula hubungan antara dukungan instrumental dan dukungan penilaian dengan angka anemia defisiensi zat besi yang terjadi pada ibu postpartum (p-value 0.03; 0.00), serta tidak ditemukan hubungan antara dukungan emosional dan dukungan informasi suami dengan kejadian anemia defisiensi zat besi pada ibu postpartum (p-value 0.28; 0.842). Diharapkan petugas kesehatan dapat melakukan screening anemia sejak kehamilan dan melibatkan suami dalam kegiatan pelayanan antenatal dan postnatal. Upaya ini diterapkan untuk mencegah anemia pada periode antenatal dan postnatal sehingga prevalensi anemia dapat mengalami penurunan.
Indek Sefalik Dan Basis Kranium Anak Retardasi Mental Dan Hubungannya Dengan IQ (Intelligence Quetiont) Dewi Elianora; Iwa Sutardjo; Bambang Udji Rianto
Cakradonya Dental Journal Vol 5, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah lama diketahui bahwa subjek dengan retardasi mental berhubungan dengan misshapen crania, microcephaly dan dysmorphic features. Telah diketahui juga bahwa ukuran kepala berhubungan dengan intelegensia yang rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara ukuran indek sefalik dan basis kranium dengan IQ, dengan cara membandingkan antara anak retardasi mental dengan anak normal. Penelitian ini terdiri dari 168 anak umur 7-12 tahun. 84 anak retardasi mental dan 84 anak normal yang diambil secara random dari SLBN dan SDN Yogyakarta. Subyek terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan jumlah yang sama. Usia tujuh tahun dipilih karena 7 tahun merupakan usia maksimal pertumbuhan otak. Data dibagi menjadi ukuran indek sefalik dan radiographik sefalometri lateral. Indek sefalik didapatkan mengunakan rumus : Maksimal lebar kepala / maksimal panjang kepala x 100. Berdasarkan rumus ini diklasifikasikan menjadi dolichocephalic, mesocephalic, dan brachycephalic. Penilaian IQ dilakukan di Bagian Psikologi UGM, Penilaian sefalometri secara komputerisasi dilakukan di Bagian Radiologi. Semua subyek telah mengisi informed concern. Data dianalisa dan hasilnya dibandingkan antara kedua grup. Hasilnya 63 % anak retardasi mental sedang didapatkan brachycephalic. Umumnya ukuran lebar dan panjang kepala menunjukkan indikasi mikrosefali. Analisa sefalometri menunjukkan bahwa komponen garis dan sudut ((S-N, S-Ar dan NSAr) lebih pendek pada anak retardasi mental daripada anak normal. Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan pada S-N dan Ar, tidak berbeda pada sudut NSAr. Kesimpulan pada penelitian ini adalah indek sefalik dan basis kranium anak retardasi mental didapatkan lebih pendek dari anak normal. Brachycephalic (pendek dan datar) mengambarkan bahwa nak retardasi mental mempunyai IQ rendah. Basis kranial anak retardasi mental kurang berkembang, ini diasumsikan berhubungan dengan gangguan pertumbuhan otak dan ada kaitannya dengan IQ.
POTENSI ANTIMIKROBA PHOTO ACTIVATED DISINFECTION TERHADAP Enterococcus faecalis PADA PERAWATAN SALURAN AKAR GIGI Sinta Deviyanti
Cakradonya Dental Journal Vol 11, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.82 KB) | DOI: 10.24815/cdj.v11i1.13623

Abstract

Disinfeksi sistem saluran akar gigi sangat penting dalam perawatan saluran akar gigi. Instrumenmekanik dan agen desinfeksi atau larutan irigasi seperti NaOCL tidak efektif mengurangi jumlahbakteri di dalam saluran akar yang terinfeksi karena anatomi akar gigi yang kompleks. Kegagalanperawatan endodontik sering meninggalkan bakteri di sistem saluran akar gigi. Enterococcus faecalismerupakan salah satu mikroorganisme terpenting yang bertanggungjawab pada kegagalan perawatansaluran akar gigi. Bakteri ini kebal terhadap agen antimikroba dan mampu berkoloni membentukbiofilm di saluran akar gigi. Saat ini perangkat baru seperti photoactivated disinfection telah dicobauntuk disinfeksi saluran akar gigi. Photoactivated disinfection merupakan strategi antimikroba yangmenggunakan energi laser berkekuatan rendah untuk mengaktivasi suatu pewarna tidak toksik yangdiaktivasi sinar (photosensitizer). Energi yang dipindahkan dari photosensitizer teraktivasi ke oksigenyang tersedia, akan membentuk oksigen singlet sebagai spesies oksigen toksik. Spesies oksigen yangsangat reaktif secara kimia ini dapat merusak membran dan DNA bakteri patogen. Beberapapenelitian menunjukkan bahwa photoactivated disinfection dapat efektif mengurangi E.faecalis didalam saluran akar selama prosedur antimikroba bila digunakan bersama dengan prosedur disinfeksikonvensional untuk sterilisasi saluran akar. Photoactivated disinfection merupakan pendukung untukprotokol standar disinfeksi saluran akar gigi.Kata kunci: photoactivated disinfection, Enterococcus faecalis, perawatan saluran akar.
PENGGUNAAN TEKNIK RADIOGRAFI KONVENSIONAL DAN DIGITAL PADA PERAWATAN ENDODONTIK (Tinjauan Pustaka) Ni Putu Sartika Sukma Putri; Barunawaty Yunus
Cakradonya Dental Journal Vol 13, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.45 KB) | DOI: 10.24815/cdj.v13i2.23531

Abstract

Radiografi kedokteran gigi terus mengalami perkembangan. Hal ini dapat terlihat dengan adanya perubahan dari radiografi konvensional ke radiografi digital. Dari waktu ke waktu penggunaan radiografi digital terus mengalami peningkatan. Namun penggunaan radiografi digital tidak sepenuhnya dapat menggantikan penggunaan radiografi konvensional. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui perbedaan antara radiografi konvensional dan digital, serta memberikan informasi kepada para praktisi untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan radiografi dalam bidang kedokteran gigi, khususnya dalam perawatan endodontik. Radiografi digital menunjukkan keunggulan dalam dosis radiasi, akurasi, keandalan, spesifisitas dari pencitraan dan efektivitas kinerja penggunaannya dibandingkan dengan radiografi konvensional. Dapat disimpulkan bahwa teknik radiografi yang digunakan terdiri dari teknik konvensional dan digital. Dimana teknik digital memiliki keunggulan dibandingkan dengan teknik konvensional, dan merupakan pemeriksaan penunjang dalam praktek kedokteran gigi khususnya dalam bidang endodontik (periapikal, oklusal, panoramik dan CBCT – 3D).
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kayu Manis (Cinnamomum Burmannii) Terhadap Pertumbuhan Enterococcus Faecalis Zaki Mubarak; Santi Chismirina; Cut Aisa Qamari
Cakradonya Dental Journal Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.769 KB)

Abstract

Enterococcus faecalis adalah salah satu flora normal rongga mulut yang sering ditemukan pada kasus kegagalan perawatan endodontik. Kayu manis (Cinnamomum burmannii) merupakan tanaman herbal yang sering digunakan sebagai rempah-rempah, namun juga memiliki sifat antibakteri karena kandungan kimia yang dimilikinya berupa alkaloid, saponin, tanin, polifenol, flavonoid, kuinon dan triterpenoid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak kayu manis (Cinnamomum burmannii) terhadap pertumbuhan E. faecalis. Enterococcus faecalis yang telah dikultur pada media CHROMagar VRE Base diinkubasi pada suhu 37°C dalam suasana anaerob. E. faecalis yang telah dikultur dan diidentifikasi, dipaparkan ekstrak kayu manis (Cinnamomum burmannii) untuk uji aktivitas antibakteri dengan metode Standart Plate Count menggunakan media MHA. Dari hasil analisis data menggunakan uji statistik Kruskal-Wallis didapatkan nilai p=0,003 (p0,05). Hasil uji menunjukkan bahwa pertumbuhan koloni pada setiap konsentrasi kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol negatif mengalami penurunan, pertumbuhan koloni E. faecalis pada konsentrasi 1,5% adalah 299,3 x 104 CFU/ml dan pada konsentrasi 7,5% adalah 6 x 104 CFU/ml. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak kayu manis (Cinnamomum burmannii) memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Enterococcus faecalis dengan Kadar Hambat Minimum (KHM) berada pada konsentrasi ekstrak 1,5%.
Antibiotik Dalam Dunia Kedokteran Gigi Hijra Novia Suardi
Cakradonya Dental Journal Vol 6, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.644 KB)

Abstract

Antibiotik dalam bidang kedokteran gigi sangat luas digunakan baik untuk pengobatan infeksi (terapeutik) ataupun dengan tujuan profilaksis penyakit infeksi. Antibiotik yang banyak digunakan dalam bidang kedokteran gigi adalah golongan penisilin seperti penisilin dan amoksisilin, makrolida seperti klindamisin, golongan sefalosporin dan metronidazol. Hal ini sesuai dengan jenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi odontogenik, yaitu bakteri Gram positif dan bakteri anaerob. Tingkat penggunaan antibiotik secara empiris yang tinggi menimbulkan berbagai permasalahan sehingga dapat menyebabkan penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Pemilihan antibiotik dan penyesuaian dosis obat harus dilakukan secara cermat dan tepat pada pasien-pasien khusus yang mengalami perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik, diantaranya pasien anak-anak dan usia lanjut, pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan/ atau hati, serta pasien wanita yang sedang hamil atau menyusui. Insiden terjadinya resistensi terhadap antibiotik mulai terjadi peningkatan di berbagai bidang kesehatan belakangan ini, termasuk kedokteran gigi sehingga diperlukan perhatian khusus termasuk dari para dokter gigi untuk menekan kejadian ini dengan menggunakan antibiotik secara tepat dan benar.
PERAWATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK DENGAN INTELLECTUAL DISABILITY RINGAN DALAM ANESTESI UMUM (Laporan Kasus) Naninda Berliana Pratidina; Arlette Suzy Puspa Pertiwi; Eriska Riyanti; Willyanti Soewondo
Cakradonya Dental Journal Vol 12, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.692 KB) | DOI: 10.24815/cdj.v12i1.17075

Abstract

Intellectual disability (ID) mengacu pada sekelompok gangguan pada fungsi adaptif dan intelektual serta terjadi sebelum usia dewasa. ID bukan merupakan satu kesatuan, melainkan gejala umum dari disfungsi sistem saraf. Laporan kasus ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai pentingnya perawatan gigi pada anak ID ringan dengan anestesi umum. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun datang ke Poliklinik Kedokteran Gigi Anak RSGM Universitas Padjadjaran dengan keluhan gigi yang kotor dan berbau tidak sedap yang sudah terjadi sejak kurang lebih 2 tahun yang lalu. Pasien didiagnosis ID ringan sejak usia 3 tahun. Pemeriksaan fisik, ekstra oral, radiografi toraks dan laboratorium menunjukkan tidak ada kelainan signifikan. Pemeriksaan intraoral: pulpitis reversibel pada gigi 55, 53, 63, 65, 75, dan 85, pulpitis ireversibel pada gigi 54, nekrosis pulpa pada gigi 64, 73, 74, 83, dan, 84, serta gingivitis marginalis kronis pada rahang atas dan bawah. Perawatan yang dilakukan adalah skeling dan profilaksis rahang atas dan bawah, aplikasi fluor topikal serta ekstraksi gigi 54, 64, 74, 73, 83 dan 84 dalam anestesi umum. Pasien merespon baik terhadap perawatan yang dilakukan. Perawatan gigi dan mulut dengan anestesi umum untuk penyandang ID dapat dijadikan pilihan pada pasien yang tidak kooperatif. Dokter gigi anak berperan penting dalam peningkatan kesehatan gigi dan rongga mulut pada penyandang ID.
PENGARUH PERCEIVED QUALITY PASIEN TERHADAP PEMANFAATAN ULANG PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DI RSGM UNSYIAH Herwanda .; Eka Darma Putra; Larena Yudisa Putri
Cakradonya Dental Journal Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.89 KB) | DOI: 10.24815/cdj.v9i1.9873

Abstract

Rumah Sakit Gigi dan Mulut adalah rumah sakit yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang juga digunakan sebagai sarana prasarana proses pembelajaran, pendidikan dan penelitian bagi profesi tenaga kesehatan kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya. Kualitas pelayanan merupakan hal yang sangat penting untuk mewujudkan kepuasan pasien. Kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan kesehatan memiliki hubungan positif bermakna dengan minat pemanfaatan ulang pelayanan kesehatan. Penilaian pasien terhadap pelayanan rumah sakit ditentukan salah satunya oleh persepsi pasien atas kualitas pelayanan yang diberikan (perceived quality). Tujuan penelitian adalah menganalisis dan membahas pengaruh perceived quality terhadap minat pemanfaatan ulang pelayanan kesehatan gigi dan mulut RSGM FKG Universitas Syiah Kuala, ditinjau melalui lima dimensi kualitas layanan, yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance dan empathy. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara random sampling yang melibatkan 150 orang subjek menggunakan kuisioner yang berisi pertanyaan mengenai perceived quality dan minat pemanfaatan ulang. Analisis menggunakan uji koefisien korelasi Lambda menunjukkan pengaruh signifikan perceived quality dan kelima dimensi kualitas layanan yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance dan empathy terhadap minat pemanfaatan ulang (p0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh signifikan perceived quality dan kelima dimensi kualitas layanan.Kata Kunci: kualitas pelayanan, minat pemanfaatan ulang
HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY TERHADAP PRESTASI AKADEMIK PADA MAHASISWA KEDOKTERAN GIGI (TINJAUAN PUSTAKA) Nurul Husna; Luthfi Saiful Arif; Mardiastuti Wahid
Cakradonya Dental Journal Vol 14, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.665 KB) | DOI: 10.24815/cdj.v14i2.29954

Abstract

Self-efficacy merupakan salah satu bagian dari pilar utama dalam social cognitive theory (SCT) yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Berbagai studi melaporkan bahwa self-efficacy berkaitan dengan prestasi akademik mahasiswa. Tinjauan pustaka ini membahas konsep self-efficacy mulai dari definisi, kategori, aspek, peran, faktor yang mempengaruhi, hubungan antara self-efficacy dengan prestasi akademik dan alat ukur yang digunakan untuk menilai self-efficacy pada mahasiswa kedokteran gigi. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian meliputi ‘self-efficacy’, ‘academic performance’, ‘dental student’ and ‘dentistry’ pada database NCBI, Sage Publication, Science Direct, PubMed, Google Scholar dan sumber terpercaya lainnya. Dari hasil penelurusan didapatkan bahwa hanya satu literatur dari Kolombia yang membahas hubungan self-efficacy dengan academic performance pada mahasiswa kedokteran gigi. Telusur literatur menunjukkan beberapa alat ukur yang dapat digunakan untuk menilai self-efficacy, yaitu General Self-Efficacy Scale, The Collage Academic Self-Efficacy Scale, The Academic Self-Efficacy, dan Collage Self-Efficacy Inventory. Alat ukur ini menjadi tolak ukur untuk mengetahui tinggi atau rendahnya self-efficacy seseorang. Mahasiswa dengan self-efficacy tinggi memiliki kemampuan dalam mengatur, melaksanakan, dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan tugas belajar, serta berkeyakinan dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Pengetahuan tentang tingkat self-efficacy mahasiswa dapat dijadikan sebagai prediktor terhadap keberhasilan akademik mahasiswa tersebut.
TATA LAKSANA TETANUS GENERALISATA DENGAN KARIES GIGI (LAPORAN KASUS) - Safrida wati; - Syahrul
Cakradonya Dental Journal Vol 10, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.157 KB) | DOI: 10.24815/cdj.v10i2.11707

Abstract

Tetanus merupakan penyakit yang dapat  dicegah melalui vaksinasasi, dimana menyebabkan kematian 309.000 orang per tahunnya. Dilaporkan lebih dari satu juta kasus tiap tahunnya di negara berkembang.  Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani ditandai dengan rigiditas dan spasme otot yang periodik dan berat. Seorang  lelaki umur 46 tahun, datang dengan kekakuan seluruh tubuh sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit. Awalnya pasien merasakan kekakuan pada rahangnya sehingga sulit untuk membuka mulut dan sulit menelan, kemudian pasien merasakan tubuhnya seperti robot yang sulit untuk digerakan, sulit berjalan, sulit berbicara dan mengalami hambatan dalam segala aktivitas. Kejang rangsang dialami oleh pasien. Pasien memiliki riwayat demam sejak 1 minggu ini, pasien juga memiliki gigi yang berlubang sejak 2 tahun ini. Pada pemeriksaan vital sign didapatkan tekanan darah 110/70 mmhg, nadi 117 x per menit, frekuensi napas 24 kali permenit, temperatur 380C. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan trismus, rhisus sardonicus dan spastik seluruh tubuh. Tatalaksana awal berupa primary survey, atasi kejang dan spastik, netralisir toksin dan pemberian antibiotik. Pasien diisolasi untuk mencegah kejang rangsang. Pasien dirawat bersama bagian Gigi Mulut dan dilakukan tindakan yang berhubungan dengan faktor resiko karies gigi pasien.

Page 11 of 53 | Total Record : 524