cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 950 Documents
Pertumbuhan Dan Perkembangan Budaya Arab Pada Masa Dinasti Umayyah Fadlil Munawwar Manshur
Humaniora Vol 15, No 2 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.313 KB) | DOI: 10.22146/jh.785

Abstract

Dinasti Umayyah adalah sebuah rezim pemerintahan Islam yang berada di bawah kekuasaan keluarga Umayyah yang berlangsung dari tahun 661 sampai dengan tahun 750 Masehi. Pendiri dinasti ini adalah Muawiyah (661-680), putra Abu Sufyan yang pernah menentang Rasulullah saw, tetapi kemudian masuk Islam setelah kota Mekah ditaklukkan oleh pasukan Islam dari Madinah. Pada mulanya, Muawiyah adalah gubernur Syria yang berkedudukan di Damaskus. Ia memberontak kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib, hingga Ali wafat dibunuh oleh orang Khawarij. Pengikut Ali kemudian mengangkat Hasan, putra sulung Ali Ibn Abi Thalib, sebagai khalifah baru, tetapi Hasan yang tidak ingin berkonflik dengan Muawiyah, lalu mengikat perjanjian damai dengan pihak Muawiyah yang pada akhirnya Muawiyah menjadi penguasa tunggal masyarakat Muslim waktu itu. Keluarga Hasan hidup mengasingkan diri sebagai orang biasa, tetapi kaum Umayyah terus mem-burunya dan pada akhirnya Hasan wafat karena diracun (Ali, 1978:472). Muawiyah Ibn Abi Sufyan memindahkan ibukota negara dari Madinah ke Damaskus, Syria, tempat ia berkuasa tatkala menjadi gubernur. Ia juga mengganti sistem pemerintahan dari sistem demokrasi ke sistem monarki (Yatim, 1999:42). Kendati Muawiyah memper-oleh kekuasaannya dengan cara arbitrasi yang curang dan melalui perang saudara di Shiffin pada tahun 657 Masehi, tetapi ia memiliki karier dan prestasi politik yang menakjubkan. Keberhasilan Muawiyah mendirikan dinasti Umayyah bukan hanya akibat dari kemenang-an diplomasi di Shiffin dan terbunuhnya Khalifah Ali, tetapi juga karena sejak semula sudah memikiki “basis rasional” yang solid bagi landasan pembangunan politiknya di masa depan, yaitu dukungan kuat dari penduduk Syria dan dari keluarga Umayyah sendiri. Di samping itu, Muawiyah juga seorang administrator ulung yang berhasil menempatkan tokoh-tokoh penting dalam posisi-posisi strategis (Mufrodi, 1997:69-70).
Inovasi dalam cerita Ketoprak Anglingdarma Akhmad Nugroho
Humaniora Vol 15, No 2 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.049 KB) | DOI: 10.22146/jh.786

Abstract

Ketoprak, sebagai salah satu jenis teater daerah Jawa, pertama kali muncul di Yogyakarta sekitar tahun 1925. Cerita yang dipentaskan mula-mula bersumber dari dongeng seperti Jaka Tarub, Piti Tumpa, dan Panji, kemudian meningkat ke cerita adaptasi seperti Menak, Sam Pek Ing Tay, dan Si Jin Kui (Harymawan, l993:229). Dari segi cerita itulah, ketoprak menunjukkan adanya perubahan sesuai dengan kreativitas pengarangnya. Kebaruan-kebaruan juga terjadi pada sastra daerah lain di Indonesia ini., seperti dalam sastra daerah Minangkabau, drama Puti Bungsu karya Wisran Hadi adalah resepsi warisan budaya lama Minangkabau yang diciptakan kembali sesuai dengan konteks masa kini (Teeuw, l988:216). Wisran Hadi dalam dramanya itu menggunakan beberapa sumber, pertama-tama tentu saja Malin Kundang, kemudian kedua Malin Deman, dan bahkan mengambil sumber yang ketiga Sangkuriang dari Sunda (Junus, l985:39). Wisran Hadi juga menulis teks sandiwara Cindua Mato yang dapat dihubungkan dengan mitos Minangkabau Cindua Mato, tampak hubungan tradisi dan modernitasnya (Esten, l992).
Ikan Tunggal Bernama FÂDHIL Karya Syaikh Hamzah Fansuri: Analisis Semiotik . Sangidu
Humaniora Vol 15, No 2 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.543 KB) | DOI: 10.22146/jh.787

Abstract

Hamzah Fansuri meninggalkan sejumlah tulisan berbentuk prosa dan puisi atau syair dalam bahasa Melayu. Sejumlah tulisannya yang berbentuk syair telah diterbitkan oleh Doorenbos pada tahun 1933 (Baroroh-Baried, 1987:1-2). Semua syair yang secara otentik telah terbukti sebagai tulisan Hamzah Fansuri telah diterbitkan oleh Drewes dan Brakel dalam bukunya yang berjudul The Poems of Hamzah Fansuri. Syair itu telah diterbitkannya dalam bentuk suntingan berjumlah tiga puluh dua judul dan empat judul diantaranya diberi syarah. Keempat judul yang diberi syarah itu adalah Subchânal-Lâh Terlalu Kâmil, Allah Maujud Terlalu Bâqî, Sidang Fakir Empunya Kata, dan Ikan Tunggal Bernama Fâdhil. Tiga puluh dua judul syair karangan Hamzah yang telah dikemukakan di atas disebut Rubâ`î Hamzah Fansuri (Drewes dan Brakel, 1986:42-143), sedangkan syarah Syamsuddin terhadap empat judul syair Hamzah Fansuri disebut Syarah Rubâ`î Hamzah Fansuri (Drewes dan Brakel, 1986:194-225). Rubâ`î Hamzah Fansuri yang berjudul Ikan Tunggal Bernama Fâdhil menurut Syarah Rubâ`î berisi hubungan antara manusia dengan Allah Ta`ala. Manusia di dalam kerangka tasawuf diibaratkan seperti seekor ikan yang berenang di lautan yang amat luas, tidak bertepi, dan tidak berujung. Sementara itu, Allah Ta`ala diibaratkan seperti air laut yang sangat luas dan dalam. Keluasan dan kedalaman air laut tidak dapat dilukiskan dengan akal pikiran, seperti halnya keluasan dan kedalaman ilmu dan Dzât-Nya. Namun demikian, seorang hamba Allah yang banyak mempunyai keutamaan-keutamaan, ia dapat sampai, bertemu, dan pada akhirnya dapat merasa bersatu dengan Allah Ta`ala (Wachdatul-Wujûd). Seorang hamba yang dapat merasa bersatu dengan Allah Ta`ala adalah seseorang yang telah dapat menjalankan fanâ’ fil-Lâh, yaitu hancurnya batas-batas individual diri seseorang dalam menyatu dengan Allah Ta`ala. Apabila seorang hamba Allah telah melakukan perjalanan menuju sumber, yaitu Allah Ta`ala, maka ia harus melenyapkan kejahilan dan menggantinya dengan kebaikan. Dalam keadaan seperti ini, seorang hamba mengatakan dan mengiktikadkan innî anal-Lâh yang artinya sesungguhnya aku adalah Allah.
Lari Dari Kenyataan: Raj, Priyayi, Dan Wong Cilik Biasa Di Kasunanan Surakarta, 1900-1915 . Kuntowijoyo
Humaniora Vol 15, No 2 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.928 KB) | DOI: 10.22146/jh.788

Abstract

Raja, priyayi, dan wong cilik biasa di Kasunanan Surakarta (Solo), 1900- 1915, terperangkap dalam sistem simbol. Sebenarnya mereka sama saja seperti orang lain yang tidak hanya hidup dalam kenyataan, tetapi juga dalam sistem simbol. Perbedaannya ialah sistem simbol mereka bertentangan dengan kenyataan. Pertentangan itu menyebabkan adanya patologi sosial di semua tingkat masyarakat, meskipun dengan kadar yang berbeda-beda. Perbedaan itu disebabkan oleh kedudukan dalam hierarki, berturut-turut mereka adalah raja, bangsawan, priyayi, wong cilik saudagar, dan wong cilik biasa. Kali ini akan kita bicarakan tentang raja, priyayi, dan wong cilik biasa. Raja kita bicarakan karena ia berada di puncak hierarki, sedangkan priyayi karena mereka berada di tengah-tengah hierarki dan hidup sehari-hari di antara wong cilik, saudagar dan biasa. Mereka melihat para saudagar mengalami mobilitas sosial, sedangkan nasib mereka tidak berubah dan itulah kenyataan yang pedih bagi mereka. Sementara itu, wong cilik biasa kita bicarakan karena mereka berada di ujung yang sangat lemah dari hierarki dan kenyataan bagi mereka lebih berupa budaya kota yang sedang tumbuh daripada hierarki kekuasaan. Bangsawan tidak kita bicarakan karena mereka hanya merupakan lapisan yang tipis dari hierarki dan hidup terasing di purinya sendiri. Wong cilik saudagar tidak kita bicarakan, karena meskipun mereka dalam hierarki berada di ujung bersama wong cilik biasa, tetapi dengan kenyataan mereka bisa menghindar dari hierarki dan bisa mengkonsumsi budaya kota. Tidak pula kita bicarakan di sini orang asing, bangsawan "pikiran" (priyayi terpelajar), dan priyayi gupernemen karena mereka terbebas dari hierarki tradisional.
Transformasi Upacara Adat Papua: Wor Dalam Lingkaran Hidup Orang Biak Enos H Rumansara
Humaniora Vol 15, No 2 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.883 KB) | DOI: 10.22146/jh.789

Abstract

Agama merupakan bagian / unsur penting dalam kehidupan manusia yang dapat memberikan ajaran-ajaran yang berupa aturan-aturan serta petunjuk-petunjuk yang dijadikan pedoman dalam kehidupan manusia dan diyakini kebenarannya. Dalam kajian antropologi, agama dilihat sebagai sistem kebudayaan atau sebagai pranata sosial atau sebagai seperangkat simbol yang dapat digunakan manusia dalam kehidupan sosialnya. Geertz dalam kajiannya melihat agama sebagai suatu sistem kebudayaan, yang kebudayaan itu sendiri dilihatnya sebagai pola bagi kelakuan, yaitu terdiri atas serangkaian aturan-aturan, resep-resep, rencana-rencana, dan petunjuk yang digunakan manusia untuk mengatur tingkah lakunya (Suparlan, 1980:X). Atas dasar inilah agama digunakan oleh warga masyarakat sebagai pandangan hidup yang berfungsi menjelaskan keberadaan manusia di dunia, darimana ia berasal, dan kemana ia akan pergi sesudah meninggal. Dengan demikian, agama adalah satu-satunya bagian kebudayaan yang mampu menjelaskan arah dan tujuan hidup manusia. Itulah sebabnya agama dikatakan sebagai inti kebudayaan (Saifuddin, 1986: 5). Dengan demikian, dalam kajian antropologi agama tidak dapat dikaji dengan pendekatan teologi, tetapi dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial.
Pandangan Masyarakat Gunung Kidul terhadap Pelarian Majapahit sebagai Leluhurnya (Kajian atas Data Arkeologi dan Antropologi) Andi Putranto
Humaniora Vol 15, No 2 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.277 KB) | DOI: 10.22146/jh.790

Abstract

Gunung Kidul merupakan wilayah yang terletak di sebelah selatan kota Yogyakarta. Secara geografis, Gunung Kidul merupakan daerah pegunungan kapur (karst) yang didominasi oleh lahan tidak produktif. Wilayah Gunung Kidul meliputi Pegunungan Seribu di sebelah selatan, Cekungan Wonosari di tengah, dan Pegunungan Batur Agung di sebelah utara. Peninggalan arkeologis yang berasal dari masa Hindu-Budha (masa klasik) cukup banyak ditemukan di Gunung Kidul. Temuan yang bersifat monumental tersebut berupa bangunan candi, yang menunjukkan hasil kebudayaan agama Hindu maupun Budha (Djatiningsih, 1997:31–40 ). Selain itu, ditemukan beberapa arca dan prasasti. Peninggalan- peninggalan tersebut tersebar di wilayah Kecamatan Panggang, Patuk, Ngawen, Wonosari, Paliyan, Semanu, Tepus, Karangmojo, Semin, dan Ponjong. Pada saat ini, peninggalan-peninggalan tersebut sebagian besar hanya tinggal reruntuhan. Bagian yang tersisa hanya bagian fondasi. Meskipun demikian, masih terdapat bangunan candi yang relatif lengkap keberadaannya, yaitu Candi Risan di Kecamatan Semin.
Penelitian Berwawasan Gender dalam Ilmu Sosial Irwan Abdullah
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.832 KB) | DOI: 10.22146/jh.794

Abstract

Sebagai sebuah proses sosial, konstruksi realitas itu bertumpu pada istilah dan nilai yang dibawa oleh sebuah bahasa yang digunakan untuk menjadi kekuatan dalam pencitraan. Proses itu juga menunjuk kepada faktor sejarah yang di dalamnya terkandung pengertian bahwa konstruksi realitas perempuan memiliki akar dan tahapan-tahapan yang kompleks. Kompleksitas realitas kehidupan kaum perempuan dapat ditinjau dari dua sudut. Pertama, realitas itu tersusun dari unsurunsur yang begitu luas yang menyebabkan pemahaman dan penelitian terhadap realitas itu harus mengindentifikasikan unsur-unsur tersebut dan melihat kaitan antarunsur yang terdapat dalam susunan itu. Tanpa usaha yang sistematis untuk memilah-milah dan menghubung-hubungkan unsur-unsur yang menyusun realitas, tidak akan diperoleh suatu pemahaman yang dalam tentang apa, siapa, dan bagaimana kaum perempuan itu. Dalam hal ini, dapat dilihat bahwa unsurunsur penyusun realitas itu berupa agama, budaya, ekonomi, politik, atau lingkungan fisik suatu tempat. Dalam kenyataannya, unsur-unsur tersebut tidak dapat diabaikan. Ketimpangan gender, misalnya, dapat berkaitan dengan "budaya" dan "ekonomi". Keluarga dari kebudayaan yang sama di desa yang sama memperlihatkan pola hubungan laki-laki dan perempuan yang berbeda karena kemampuan ekonomi keluarga itu berbeda. Lebih khusus lagi unsur-unsur tersebut dapat dirinci menjadi, misalnya, pendidikan, pekerjaan, keanggotaan partai, dan lingkungan tempat tinggal. Kedua, realitas hidup kaum perempuan tersusun dari unsur yang berlapis-lapis yang menyebabkan usaha penelitian menjadi usaha mengupas lapis demi lapis unsur untuk menemukan realitas tersebut. Lapislapis ini telah menyebabkan realitas hidup kaum perempuan tidak ubahnya suatu misteri yang perlu diungkapkan dengan membuka lapis demi lapis sebelum ditemukan apa, siapa, dan bagaimana sesungguhnya kaum perempuan itu. Susunan yang berlapis-lapis ini terutama disebabkan oleh proses sejarah. Misalnya, pada lapis ekonomi, harus dilihat apakah ketimpangan gender tersusun atas dasar pembagian kerja pertanian yang berkaitan dengan sumber daya ekonomi yang dimiliki masyarakat dan dipengaruhi oleh kesempatan kerja yang dimiliki suatu rumah tangga. Lapis-lapis ini dibuka satu per satu untuk mengetahui hakikat realitas dan hubungan gender.
Novel-novel Pramoedya Ananta Toer: Refleksi Pendegradasian Dan Interpretasi Makna Perjuangan Martabat Manusia IB Putera Manuaba
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.317 KB) | DOI: 10.22146/jh.795

Abstract

Satu gejala sosial yang merebak dalam masyarakat Indonesia adalah terjadinya pendegradasian martabat manusia. Gejala ini sesungguhnya telah berlangsung sejak lama. Akan tetapi, selama ini belum tampak dilakukan penanganan yang serius sehingga pendegradasian martabat manusia hampir berlangsung terusmenerus. Di era "reformasi" yang konon mulai memperhatikan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan, ternyata kita masih menyaksikan berbagai tindakan pendegradasian martabat manusia dalam pelbagai segmen kehidupan ini. Dengan perkataan lain, sampai saat ini, kita menyaksikan masyarakat yang masih belum dapat menunjukkan sikap hidup dan kepribadian yang mencerminkan penghormatan kepada martabat manusia. Buktinya, berbagai daerah di Tanah Air masih sarat dengan tindakan kekerasan (violence) atas kemanusiaan. Fenomena pendegradasian ini secara kental terefleksikan dalam novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya disebut: Toer), seorang sastrawan besar Indonesia. Sastrawan merupakan salah satu pihak yang berkomitmen melakukan peningkatan martabat manusia. Lewat representasi realitas sosial dalam karya-karya sastranya, tampak Toer melontarkan berbagai pemikiran yang sarat dengan pesan-pesan (message) perjuangan dan penghargaan kemanusiaan. Toer adalah sastrawan yang fenomenal dan menarik dibahas berkait dengan persoalan perjuangan martabat manusia (Heryanto, 1998:5; Manuaba, 2000a:144- 145). Menarik bukan hanya karena karyakaryanya dalam waktu yang cukup lama dilarang penguasa, melainkan terutama karena dipandang mampu menyuguhkan refleksi pengangkatan martabat manusia. Jika disimak karya-karya Toer, hampir keseluruhan karyanya bertemakan soal kemanusiaan (humanity).
Peran Dan Fungsi Tokoh Semar-Bagong Dalam Pergelaran Lakon Wayang Kulit Gaya Jawa Timuran Wisma Nugraha Christianto
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.436 KB) | DOI: 10.22146/jh.796

Abstract

Wayang Kulit gaya Jawa Timuran adalah sebuah seni pergelaran lakon yang mempergelarkan lakon-lakon atau cerita dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata, sama halnya dengan seni pergelaran wayang kulit di daerah lain (Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan daerah lainnya). Secara geografis, tradisi pedalangan Jawa Timuran berada di dalam wilayah Provinsi Jawa Timur bagian utara di sekitar wilayah Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, sebagian wilayah Kabupaten Lamongan, dan sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan. Di wilayah Malang, terdapat tradisi pedalangan yang mirip dengan tradisi yang ada di Jawa Timuran, tetapi masyarakat Malang dan kelompok masyarakat tradisi Jawa Timuran menyebut sebagai tradisi Malangan. Dunia seni pergelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran belum banyak menarik minat peneliti sastra dan kesenian di Indonesia karena dianggap sebagai seni daerah Pesisiran yang diasumsikan kurang menarik dibandingkan dengan dunia kesenian di lingkup keraton (Yogyakarta dan Surakarta). Seni pedalangan dan pergelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran merupakan sebuah dunia seni pertunjukan rakyat yang tidak banyak mendapat campur tangan kepentingan keraton dari berbagai aspek sosial, politik, kultural, dan aspek-aspek pragmatik lainnya. Ia tumbuh alami di desa-desa pewaris dan pelestari tradisinya sesuai dengan dinamika dan tataran pengetahuannya. Tokoh Semar dalam kehidupan seni pergelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran memiliki kedudukan dan fungsi yang penting dan agak berbeda dibandingkan perannya dalam dunia pergelaran wayang Jawa Tengahan dan Yogyakarta. Melalui tokoh Semar, kiranya dapat dipahami bagaimana konstruk sebuah lakon dipergelarkan dan bagaimana lakon diberi makna atau dikomunikasikan kepada publik. Sebaliknya, publik menghayati dan menangkap pesan lakon melalui peran tokoh Semar.
Gaya Bahasa Perbandingan dalam Serat Nitipraja Arsanti Wulandari
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.162 KB) | DOI: 10.22146/jh.797

Abstract

Serat Nitipraja (selanjutnya disebut SNP) yang ditulis pada 1643 merupakan salah satu karya sastra Jawa yang digolongkan sebagai sastra piwulang. Pengertian sastra piwulang adalah karya sastra yang di dalamnya terkandung ajaran moral dan sikap hidup (Sudewa, 1991:3). Sejalan dengan pendapat tersebut, terdapat satu pernyataan bahwa karya sastra lama dapat dijadikan sumber informasi masa lalu ataupun bahan ajar untuk masa sekarang untuk hal-hal yang masih relevan (Robson, 1978:5). Demikian halnya dengan teks SNP. Teks SNP memberikan gambaran mengenai kriteria seorang pemimpin. Piwulang yang terdapat pada SNP adalah piwulang yang ditujukan kepada para pemimpin kerajaan, dalam hal ini raja, bupati, dan petinggi kerajaan lainnya. Piwulang tersebut dikemas dalam bentuk kebahasaan yang unik, yaitu disajikan dengan perumpamaan-perumpamaan yang patut untuk dikaji lebih jauh maknanya.

Filter by Year

1989 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue