cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 950 Documents
Satuan Lingual Penanda Gender Sulis Triyono
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.877 KB) | DOI: 10.22146/jh.798

Abstract

Bahasa sebagai suatu sistem memiliki seperangkat subsistem yang masing-masing mengorganisasikan komponen- komponennya sehingga membentuk keteraturan yang sistemik. Perangkat subsistem yang dimaksud adalah subsistem bunyi, subsistem gramatikal, dan subsistem makna. Tiap-tiap subsistem itu memiliki unsur-unsur yang secara terorganisasi membentuk subsistemnya sendiri-sendiri. Unsur-unsur subsistem yang dimaksud adalah fonem sebagai satuan lingual terkecil sampai wacana sebagai satuan yang terbesar. Satuan-satuan lingual tersebut memiliki fungsi masing-masing. Ada yang berfungsi sebagai penanda jumlah (number), penanda kala (tenses), dan ada pula yang berfungsi sebagai penanda jenis kelamin (gender). Penandaan yang berkenaan dengan jumlah, dalam bahasa Indonesia misalnya, ditandai dengan digunakannya satuan lingual berupa bentuk perulangan (reduplikasi), misalnya: dari kata rumah menjadi rumah-rumah 'banyak rumah'; kata memukul menjadi memukul-mukul 'berkalikali memukul', dan sebagainya. Sementara itu, satuan lingual sebagai pewujud keterangan waktu dapat berupa kata seperti: kemarin, sekarang, besok , dan sebagainya. Dalam hubungan dengan satuan lingual penanda gender dalam bahasa Indonesia cenderung dipengaruhi oleh faktor sosiobudaya dan semantis. Walaupun demikian, aspek-aspek kebahasaan seperti fonologi, morfologi, dan sintaksis tidak mustahil juga berpengaruh. Dengan kata lain, satuan lingual penanda gender mungkin dapat berwujud fonem, morfem, kata, dan frasa. Misalnya, dalam tataran fonologi, fonem /a/ dapat menandai gender maskulin, sedangkan fonem /i/ menandai gender feminin seperti terlihat pada contoh kata putra dan putri. Kata putra mengacu pada gender maskulin, sedangkan kata putri mengacu pada gender feminin. Perbedaan antara kedua kata itu semata-mata hanya karena perbedaan fonem /a/ pada kata putra dan fonem /i/ pada kata putri. Dengan kata lain, perbedaan kedua gender tersebut berada pada tataran fonologis. Kata-kata lain yang beranalogi dengan pasangan di atas, sekalipun jumlahnya terbatas, terdapat pada pasangan kata-kata dewa-dewi, siswa-siswi, muda-mudi, dan sebagainya.
Analisis Kesalahan Sintaksis Bahasa Prancis Oleh PEmbelajar Berbahasa indonesia: Sebuah Studi Kasus Roswita Lumban Tobing
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.69 KB) | DOI: 10.22146/jh.799

Abstract

Bahasa Prancis bagi pembelajar berbahasa Indonesia merupakan bahasa asing (selanjutnya disebut B2). Bahasa Prancis dipelajari setelah pembelajar menguasai bahasa Indonesia (B1). Penggunaan dua bahasa (Indonesia yang lebih dikuasai dari bahasa Prancis yang sedang dipelajari) menyebabkan terjadinya pencampuran unsur struktur dan kosa kata kedua bahasa tersebut, apalagi jika bahasa tersebut berasal dari rumpun yang berbeda. Karena itu, akan terjadi kesalahan-kesalahan yang salah satunya disebabkan oleh pengaruh dari B1. Bahasa Indonesia memiliki bentuk dan sifat yang berbeda dengan bahasa Prancis. Bahasa Indonesia termasuk kategori bahasa aglutinatif yang tidak mengenal adanya perubahan bentuk verba, sedangkan bahasa Prancis termasuk kategori bahasa fleksi yang mengalami konjugasi verba serta deklinasi nomina dan ajektiva (Cristal,1992: 297).
Variasi Fonologis Pemakaian Bahasa Jawa Di Pusat Kota Dan Daerah Pinggiran Bagian Utara Kabupaten Grobogan Wening Sahayu
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.33 KB) | DOI: 10.22146/jh.800

Abstract

Kabupaten Grobogan adalah kabupaten yang wilayahnya terletak di Propinsi Jawa Tengah, kurang lebih 64 km ke arah timur dari ibu kota Propinsi Jawa Tengah. Sarana Transportasi yang menghubungkan wilayah ini dengan ibu kota Propinsi dan wilayah-wilayah yang lain relatif baik dan lancar, sehingga arus komunikasi berlangsung dengan baik pula. Demikian pula mobilitas penduduk berfrekuensi tinggi dari satu daerah ke daerah lain, kecuali penduduk di daerah-daerah pedesaan di pinggiran bagian utara. Hal ini disebabkan oleh letak daerah-daerah ini sangat terpencil dan belum terjangkau transportasi umum. Keadaan sosial penduduk yang relatif miskin, menyebabkan tidak terbelinya kendaraan pribadi, bahkan juga sepeda, yang bisa menjadi sarana transportasi penduduk. Oleh karena itu, kegiatan penduduk cenderung hanya berkisar di daerahnya atau paling jauh di daerah tetangga
NOTES ON LEWIS-WILLIAMS AND DOWSON’S NEUROPSYCHOLOGICAL MODEL IN PREHISTORIC ART ANALYSIS Daud Aris Tanudirjo
Humaniora Vol 16, No 1 (2004)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.418 KB) | DOI: 10.22146/jh.801

Abstract

Archeologists working on prehistoric art have considered neuro-psychological model in prehistoric art and analysis introduced by Lewis-Williams and Dowson a significant contribution in the efforts to find models in elucidating the meaning of prehistoric art. However, question and objections towards Lewis-Williams and Dowson ‘s neuropsychological model in prehistoric analysis show that the claim of its possible universal application needs further consideration. Ethnograhic data which so far has been used to strengthen the applicability of this model is also questionable. Thus, despite the fact the neuropsychological model in prehistoric art and analysis has provided another way of viewing, understanding and interpreting prehistoric art, it seems to have some weaknesses in terms of methodology and application.
PEWARISAN BUDAYA DAN KEPRIBADIAN . Kodiran
Humaniora Vol 16, No 1 (2004)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.827 KB) | DOI: 10.22146/jh.802

Abstract

Hubungan antara kebudayaan dan kepribadian sangat erat. Relasi ini ditunjukkan oleh studi-studi antropologi dan psikologi yang dilakukan melalui penelitian secara empiris dengan cara-cara observasi, tes-tes proyeksi, dan life history dalam masyarakat dan kebudayaan tertentu di berbagai kawasan di Eropa, Amerika, Asia, dan Pasifik. Hasil dari penelitian-penelitian itu menyimpulkan bahwa konsep dan teori psikologi tentang masalah-masalah kepribadian tidak berlaku umum. Ada aneka warna kepribadian dasar (base personality structure) serta watak umum suatu bangsa (national character) yang ditumbuhkembangkan dari pola adat pengasuhan anak (child rearing) dan pendidikan yang diteruskan melalui proses enkulturasi dan sosialisasi. Demikianlah, peranan latar belakang kebudayaan dalam pembentukan watak dan kepribadian amat dominan
Sejarah / Sastra . Kuntowijoyo
Humaniora Vol 16, No 1 (2004)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.528 KB) | DOI: 10.22146/jh.803

Abstract

Di Indonesia sejarah dan sastra menjadi satu dalam mitos sampai awal abad ke-20. Ketika kesadaran mitis itu berakhir, keduanya berjalan senndiri-sendiri. Sekalipun keduanya merekam realitas, tetapi sejarah adalah ilmu, sastra adalah imajinasi. Sejarah dan sastra berbeda dalam struktur dan substansi. Dalam struktur sejarah ada evidensi, informasi, fakta, dan berguna untuk menjelaskan realitas. Dalam struktur sastra ada strukturalisasi kemungkinan, ekspresi, imajinasi, dan berguna untuk mengadili realitas. Sementara itu, substansi sejarah adalah objektifikasi kehidupan karena ia harus sadar akan perubahan. Sastra adalah subjektifikasi kehidupan dan acuannya adalah keabadian.
ULAMA JAWA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH A. Adaby Darban
Humaniora Vol 16, No 1 (2004)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.059 KB) | DOI: 10.22146/jh.804

Abstract

Ulama Jawa di samping berperan sebagai pemuka agama Islam juga memiliki fungsi sebagai informal leaders, dan juga sebagai key person dalam perjuangan bangsa Indonesia melawan Kolonial Belanda. Fungsi itu berlaku karena sebagai besar masyarakat adalah pemeluk Islam, dan kehidupan ulama sebagai religious elite dekat dengan rakyat (merakyat). Keberpihakan kaum birokrat tradisional kepada pemerintah kolonial menyebabkan masyarakat mencari kepemimpinan baru yaitu para ulama sebagai pengayom dan pemuka dalam perlawanan terhadap pemerintah kolonial
EKSPLOITASI EKONOMI PENDUDUKAN JEPANG DI SURAKARTA (1942-1945) Julianto Ibrahim
Humaniora Vol 16, No 1 (2004)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2876.17 KB) | DOI: 10.22146/jh.805

Abstract

Tulisan ini mengungkapkan eksploitasi ekonomi yang dilakukan pemerintah militer Jepang di Surakarta. Kebijakan dilakukan dengan cara mengumpulkan sumber bahan makanan pokok dan penanaman paksa terhadap tanaman yang menguntungkan untuk perang. Sumber bahan makanan pokok yang wajib dikumpulkan adalah padi, gaplek, jagung, kapas, dan rosela. Pengumpulan padi dan gaplek yang sangat eksploitatif menyebabkan masyarakat Surakarta mengalami kekurangan pangan, sehingga banyak di antara mereka mengkonsumsi makanan yang tidak layak dimakan, yaitu bonggol pisang dan bonggol sente.
PERBANDINGAN TEMA IKONOGRAFI KALENDER MONUMENTAL DAN BERGAMBAR DI PRANCIS PADA ABAD XII DAN XIII . Sugiharjo
Humaniora Vol 16, No 1 (2004)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.61 KB) | DOI: 10.22146/jh.806

Abstract

Para seniman di zaman Karoling telah menemukan kembali dan memodifikasi tema-tema kalender yang sudah ada sejak jaman kuno. Tema-tema kalender tersebut mengalami kesuksesan yang besar pada abad ke XII dan XIII, baik pada kalender monumental yang terdapat pada gereja maupun kalender monumental yang terdapat pada gereja maupun kalender bergambar yang terdapat pada naskah keagamaan. Kalaupun di situ terdapat kesamaan gambar, namun beberapa di antaranya hanya terdapat pada siklus kalender monumental, sedangkan sebagian besar lainnya terdapat pada kalender bergambar. Pengaruh seni miniaturis telah mempengaruhi seniman yang ditugaskan untuk melukis dekorasi pada gereja khususnya pada abad ke XIII telah memperkaya motif ikonografis.
Social Space, Language, and Consciousness in Helena María Viramontes's Under the Feet of Jesus Michael Nieto Garcia
Humaniora Vol 16, No 1 (2004)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.147 KB) | DOI: 10.22146/jh.807

Abstract

This paper analyzes social space with the tool of postmodern theories of space in the specific case of migrant agricultural workers portrayed in Helena María Viramontes's Under the Feet of Jesus. Language and consciousness are the main vehicles by which Estrella, the central protagonist of the novel, liberates herself from the dominant social discourses-linguistic, racial, economic, and gender-that position her as a neocolonial subject.

Filter by Year

1989 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue