cover
Contact Name
Respati Retno Utami
Contact Email
respatiutami@unesa.ac.id
Phone
+6285736709270
Journal Mail Official
jurnalbaradha@unesa.ac.id
Editorial Address
Jl Lidah Wetan, Lidah wetan, Kecamatan Lakarsantri, Kota Surabaya, Jawa Timur 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Online Baradha
ISSN : -     EISSN : 22525777     DOI : https://doi.org/10.26740/job.v17n1
JOB (Jurnal Online Baradha) is an open access journal published by the Javanese language and Literature Education Study Program, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya. First published issue of Volume 1 No 1 in 2009 with 1 article in it. JOB: Jurnal Online Baradha is published twice a year, namely in June and November. JOB (Jurnal Online Baradha) has an International Standard Serial Number (ISSN) in both print and electronic versions, e-ISSN 2252-5777 (electronic version). Focus and Scope JOB (Jurnal Online Baradha) is a scholarly journal that presents literature, culture and local wisdom, linguistics, and Javanese philology or manuscripts and javanese language teaching, including: Javanese language education Javanese tradition Javanese folklore Javanese art Javanese literary criticism Javanese morphology Javanese semantics Javanese philology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 383 Documents
TRADISI SIRAMAN WARANGGANA DI SENDANG BEKTIHARJO DESA BEKTIHARJO KECAMATAN SEMANDING KABUPATEN TUBAN Putri, Ayu Aprilia; Susilo, Yohan
Jurnal Online Baradha Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi Siraman Waranggana di Sendang Bektiharjo merupakan tradisi yang tumbauh dilingkup masyarakat Desa Bektiharjo Kecamatan Semandinga Kabupaten Tuban. Tradisi siraman waranggana dilaksanakan sejak jaman dahulu dan tidak diketahui tahun berapa pastinya. Tradisi tersebut dilaksanakan ditanggal 1 bulan November bertempatan hari jadi kota Tuban. Penelitian ini akan membahas menegenai bagaimana awal mula tradisi, kemudian bagaiamana proses tradisi tersebut, apa saja ubarampe yang dibutuhkan dalam prosesi dan makna setiap ubarampenya, apakah ada perubahan didalam prosesi tradisi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk dari tradisi siraman waranggana dengan mengunakan Tintingan Folklor. metode yang digunakan dalam penelitian ini yaiku metode deskriptif kualitatif. Sumber dan penelitian yang digunakan yaiku data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti yaiku wawancara dan dokumentasi. Pada pelaksanaan tradisi terbagi atas tiga prosesi, yaitu (1) prosesi menabur bunga, (2) prosesi siraman waranggana, (3) prosesi pendanyangan. Pada prosesi-prosesi tersebut terbagi atas tiga bagian yaiku pembukaan, pelaksanaan, dan penutup. Ubarampe yang digunakan dalam tradisi ini berupa air tujuh sumber, kupat lepet, tumpeng robyong, ingkung ayam, bunga melok, kemenyan, keris pusaka, bunga sekaran, kendi dan kendil. Perubahan dalam tradisi siraman waranggana yaiku perubahan dalam pelaksanaan dan dalam perubahan nama tradisi tersebut.
KEPERCAYAAN TRADISI NYADRAN PADA MAKAM NYI RORO KEMBANG SORE DI GUNUNG GIRI BOLO DESA BOLOREJO KECAMATAN KAUMAN KABUPATEN TULUNGAGUNG (Tintingan Folklor Setengah Lisan) Rishanti, Erliyana; Susilo, Yohan
Jurnal Online Baradha Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrackNyadran tradition on the Tomb of Nyi Roro Kembang Sore includes activities that are still often carried out by the people of Bolorejo Village, Kauman Subdistrict, Tulungagung Regency. This tradition is carried out on days that are pakem, namely Legi Friday and Pon Friday. Nyadran tradition at the Tomb of Nyi Roro Kembang Sore was held to express gratitude to Gusti Allah the Almighty and to honor Nyi Roro Kembang Sore as an elder from Tulungagung Regency. The focus of this study discusses how the origin, procedures, ubarampe and meaning in the tradition of nyadran at the Tomb of Nyi Roro Kembang Sore. This study uses the half-oral folklore theory of James Danandjaja. The research design used is descriptive qualitative research methods, data sources in the research there are primary and secondary also using oral and non-oral data. The results of research on the Nyadran tradition Nyi Roro Kembang Sore Tomb produce meaning related to culture. This study discusses the origin of the tradition of nyadran, derived from Nyi Roro Kembang Sore who is the daughter of the Duchy of Betak. Nyadran tradition procedures on the Tomb of Nyi Roro Kembang Sore begins from sowing flowers, burning incense, removing personal tools, ujuban. As for the medicine, there are telon pair flowers, frankincense, savory rice, ingkungan, fried chili sauce, noodles, srondeng and personal medicine. Keywords: Half-Oral Folklore, Tradition Of Nyadran, Belief, Nyi Roro Kembang Sore AbstrakTradisi nyadran pada Makam Nyi Roro Kembang Sore termasuk kegiatan yang masih sering dilakukan oleh masyarakat Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung. Tradisi ini dilakukan pada hari bersifat pakem yaitu Jumat Legi dan Jumat Pon. Tradisi nyadran pada Makam Nyi Roro Kembang Sore dilaksanakan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Gusti Allah Yang Maha Kuasa dan untuk menghormati Nyi Roro Kembang Sore sebagai sesepuh dari Kabupaten Tulungagung. Fokus penelitian ini membahas tentang bagaimana asal usul, tata cara, ubarampe dan makna dalam tradisi nyadran pada Makam Nyi Roro Kembang Sore. Penelitian ini menggunakan teori folklor setengah lisan dari James Danandjaja. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian deskriptif kualitatif, sumber data di dalam penelitian ada primer dan sekunder juga menggunakan data lisan dan non lisan. Hasil penelitian tradisi nyadran pada Makam Nyi Roro Kembang Sore menghasilkan makna yang berkaitan dengan kebudayaan. Penelitian ini membahas mengenai asal usul tradisi nyadran, berasal dari Nyi Roro Kembang Sore yang merupakan putri dari Kadipaten Betak. Tata cara tradisi nyadran pada Makam Nyi Roro Kembang Sore diawali dari menabur bunga, membakar kemenyan, mengeluarkan alat pribadi, ujuban. Sedangkan untuk ubarampenya ada bunga telon sepasang, kemenyan, nasi gurih, ingkungan, sambel goreng, mie, srondeng dan ubarampe pribadi. Kata Kunci: Folklor Setengah Lisan, Tradhisi Nyadran, Kepercayaan, Nyi Roro Kembang Sore
Tradisi Nyadran Larungan Kepala Kerbau Dam Bagong Desa Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek (Kajian Folklor) Putri, Angella Mustika; Susilo, Yohan
Jurnal Online Baradha Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Culture is one of the works of the nation that must be preserved for generations. Culture and people have a relationship and the most important motive. Tradition is included in the real form of culture. RNDB is one of the rituals held once a year in the month of Sela. The buffalo head ritual is carried out with the intention and purpose of expressing gratitude to God who created the world, for providing welfare and safety to the people of Trenggalek Regency. The purpose of this study is to (1) describe the origin of RNDB, (2) describe the management during RNDB, (3) describe the form and meaning of uborampe in RNDB, (4) describe the use value of RNDB, (5) describe changes in RNDB in Trenggalek Regency. Theory is a concept that has to do with problem formulation is folklore theory. From this research using qualitative descriptive research methods to describe the atmosphere more clearly and objectively. The result of the study is to tell the beginning that has something to do with the beliefs of the surrounding community. And the changes that occur grow efforts to continue to preserve in the development of this era. traditions are distributed to the younger generation and regional administrators themselves as supporters must be responsive so that the culture in Trenggalek is always known. Keywords : Ritual prohibition, Folklore, Dam bagong ABSTRAK Kebudayaan merupakan salah satu hasil karya dari bangsa yang harus dilestarikan dengan cara turun-temurun. Kebudayaan dan manusia memiliki hubungan dan menjadi dorongan terpenting. RNDB merupakan salah satu ritual yang dilaksanakan satu tahun sekali di bulan Sela. Ritual melarung kepala kerbau dilakukan dengan maksud dan tujuan untuk ucapan rasa syukur terhadap Tuhan yang menciptakan dunia, karena telah memberikan kesejahteraan dan keselamatan terhadap masyarakat Trenggalek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan asal-usul RNDB, (2) mendeskripsikan tata laksana selama RNDB, (3) mendeskripsikan bentuk dan makna uborampe dalam RNDB, (4) mendeskripsikan nilai guna RNDB, (5) mendeskripsikan perubahan dalam RNDB di Kabupaten Trenggalek. Teori kan konsep yang ada hubungannya dengan rumusan masalah adalah teori folklor. Dari penelitian tersebut menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif untuk menggambarkan suasana yang lebih jelas. Hasil dari dhata tersebut diperoleh dari observasi, wawancara, dokumentasi. Hasil dari penelitian adalah menceritakan awal mula yang ada hubungannya dengan kepercayaan masyarakat sekitar. Bentuk dan makna yang terkandung dari kepercayaan berupa uborampe dan tata laksananya. Serta adanya perubahan yang terjadi menumbuhkan upaya untuk tetap melestarikan didalam perkembangan jaman ini. tradisi disalurkan kepada generasi muda dan pemerindah daerah sendiri sebagai pendukungnya harus tanggap supaya kebudayaan di Trenggalek selalu dikenal. Kata kunci : Ritual larungan, Folklor, Dam bagong
PELANGGARAN MAKSIM KESOPANAN DALAM VIDEO NGAMEN PADA YOUTUBE WOKO CHANNEL (KAJIAN PRAGMATIK) Zazula, Selvi Anisata; Surana, Surana
Jurnal Online Baradha Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT This study uses qualitative methods that have the aim to explain the form of deviation of the principle of politeness and also to determine the form of implicature of any conversation that exists in the video ngamen. The source of data used in this study is the conversation between the characters in the video ngamen on youtube channel Woko channel. This research background on the use of language used in conversation in video ngamen by woko channel is not in accordance with the rules of language. In this study the researchers used the study of pragmatic theory and using SPEAKING techniques in analyzing speech. The data collection technique uses a listen-to-Record Technique, by listening to the conversation on video and then recording the transcript of the conversation. The results of this study are 1). There are statements that deviate from the maxim of wisdom, that deviate from the maxim of generosity, that deviate from the maxim of praise, that deviate from the maxim of humility, that deviate from the maxim of agreement and that deviate from the maxim of sympathy. 2). It was found that the speech implicature of the conversation is divided based on the meaning implied in the speech, which found speech implicature meaningful conversation instruct, speech implicature meaningful conversation ask, speech implicature meaningful conversation disagree, speech implicature meaningful conversation reject, and speech implicature meaningful conversation prohibit. With this research, it is hoped that it can be a lesson for readers and can apply the principles of politeness in conversation every day. Keywords: Language, Violation Of The Principle Of Politeness, Conversation Implicature. ABSTRAK Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang memiliki tujuan untuk menjelaskan wujud penyimpangan maksim kesopanan dan juga untuk mengetahui wujud implikatur percakapan apa saja yang ada dalam video ngamen. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu percakapan antar tokoh yang ada dalam video ngamen di kanal youtube Woko channel. Penelitian ini berlatar belakang pada penggunaan Bahasa yang digunakan dalam percakapan dalam video ngamen karya woko channel tidak sesuai dengan tata aturan Bahasa. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kajian teori pragmatik dan menggunakan Teknik SPEAKING dalam menganalisis tuturan. Teknik pengumpulan dhata nggunakake Teknik Simak catat, dengan menyimak percakapan dalam video kemudian mencatat transkrip percakapan. Hasil dari penelitian ini adalah 1). Ditemukan penuturan yang menyimpang dari aturan prinsip kesopanan yaitu ada tuturan yang menyimpang dari aturan maksim kebijaksanaan, tuturan yang menyimpang dari peraturan maksim kedermawanan, tuturan yang menyimpang dari aturan maksim pujian, 3 tuturan yang menyimpang dari aturan maksim kerendahan hati, tuturan yang menyimpang dari aturan maksim kesepakatan dan tuturan yang menyimpang dari aturan maksim kesimpatian. 2). Ditemukan penuturan implikatur percakapan yang dibagi berdasarkan makna yang tersirat dalam tuturan, yaitu ditemukan tuturan implikatur percakapan yang bermakna menyuruh, tuturan implikatur percakapan yang bermakna meminta, tuturan implikatur percakapan yang bermakna tidak setuju, tuturan implikatur percakapan yang bermakna menolak, dan tuturan implikatur percakapan yang bermakna melarang. Dengan adanya penelitian ini diharap bisa menjadi pembelajaran bagi pembaca dan bisa menerapkan peraturan prinsip kesopanan dalam percakapan setiap harinya. Kata kunci : Bahasa, Penyimpangan Maksim Kesopanan, Implikatur Percakapan.
Kepercayaan Masyarakat Terhadap Petung Adeg Griya di Desa Panditan Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan Permatasari, Dianur; Sukarman, Sukarman
Jurnal Online Baradha Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/job.v19n2.p277-296

Abstract

ABSTRACT The community's trust in petung adeg griya is a belief that exists in the life of the people of Panditan Village, Lumbang District, Pasuruan Regency. The belief in petung adeg griya is carried out by the community when they want to build a house with the aim of getting a file, life safety, and smooth fortune, and being kept away from all the disasters that exist. In this study the researcher will discuss how the beginning of the formation of the village of Panditan and also the existence of a calculation in the midst of people's lives, then the procedures for the adeg griya petung, the function of the adeg griya petung, the impact when the adeg griya petung is not used, and finally how to preserve the adeg griya petung . The purpose of this research is to describe the beliefs of petug adeg griya using folklore theory. The method used in this research is descriptive qualitative. The source of this research data is in the form of primary data and secondary data. In the data collection process, researchers conducted interviews and also collected documentation. In order to calculate Adeg Griya, there are 14 things that need to be considered, one of which is the Neptu Day and the market. The benefits in this study are 1) as a projection system, 2) as a means of education, 3) as a means of social control, 4) as a means of validating culture, and finally 5) benefits to bring blessings, 6) economic functions, 7) religious functions , 8) social function. The impact caused by the belief in petung adeg griya when building a house is not carried out is that it can cause hazards such as fire, damage, sickness, also lives can be at stake. To preserve the belief in petung adeg griya, the people of Panditan Village use various methods, such as telling their children and grandchildren or teaching Javanese calculations to young people who have an interest in learning math. Keywords: Folklore, Belief, Petung adeg griya. ABSTRAK Kepercayaan masyarakat terhadap petung adeg griya merupakan sebuah kepercayaan yang ada dalam kehidupan masyarakat Desa Panditan, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan. Kepercayaan terhadap petung adeg griya dilaksanakan masyarakat pada saat hendak membangun sebuah rumah yang bertujuan untuk mendapatkan sebuah keberkasan, keselamatan hidup, dan kelancaran rejeki, serta dijauhkan dari segala musibah yang ada. Pada penelitian ini peneliti akan membahas mengenai bagaimana awal mula terbentuknya desa Panditan dan juga adanya sebuah perhitungan ditengah kehidupan masyarakat, kemudian tata cara petung adeg griya, fungsi petung adeg griya, dampak ketika tidak digunakannya petung adeg griya, dan yang terakhir cara melestarikan petung adeg griya. Tujuan dilakukannya penelitian ini sebagai bentuk deskripsi dari kepercayaan petug adeg griya dengan menggunakan teori folklor. Metode yang digunakan pada penelitian ini deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Dalam proses pengumpulan data, peneliti melakukan wawancara dan juga mengumpulkan dokumentasi . untuk melakukan perhitungan adeg griya ada bebarapa 14 hal yang perlu diperhatikan salah satunya terdapat neptu hari dan pasaran. Manfaat dalam penelitian ini yaiku 1) sebagai system proyeksi, 2) sebagai sarana Pendidikan, 3) sebagai sarana pengendali sosial, 4) sebagai sarana pengesahan budaya, dan yang terakhir 5) manfaat untuk mendatangkan keberkahan, 6) fungsi ekonomi, 7) fungsi religius, 8) fungsi sosial. Dampak yang disebabkan dari kepercayaan petung adeg griya ketika membangun rumah tidak dilakukan yaitu bisa menyebabkan bahaya seperti kebakaran, kerusakan, sakit-sakitan, juga nyawa bisa jadi taruhannya. Untuk melestarikan kepercayaan petung adeg griya ini masyarakat Desa Panditan menggunakan berbagai cara, seperti menceritakan kepada anak cucu atau mengajarkan ilmu perhitungan Jawa kepada para pemuda yang memiliki minat untuk belajar ilmu perhitungan. Kata Kunci: Folklor, Kepercayaan, Petung adeg griya.
Kejahatan dalam Novel Lodan saka Segara Kidul Karya Kukuh S. Wibowo (Kajian Sosiologi Sastra) Islamiah, Wulan sari; Darni, Darni
Jurnal Online Baradha Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT This Lodan saka Segara Kidul novel tells about the crimes committed by the characters in the novel. The topic of crime then attracts the attention of researchers to explore further, because in addition to being written in literary works, crimes are also often found in everyday real life. The formulation of the problem in this study 1) What is the description of crime in the LSSK novel and 2) What is the cause of crime in the LSSK novel?. The purpose of this study is 1) to explain the picture of crime, and 2) to explain the causes of crime in the LSSK novel. This research uses the study of literary sociology, especially those described by Wellek and Warren. The research method used is qualitative descriptive. The source data was obtained from the LSSK novel by Kukuh S. Wibowo, while the research data was taken from words, conversations, sentences related to the topic of discussion. Data collection techniques are carried out by means of literature studies. While data analysis techniques are carried out by describing or explaining the facts and the last is concluded. The results of this study explain 1) the picture of crime in the form of physical violence in the form of abuse, threatening and intimidating psychological violence, and murder. While 2) the cause of crime itself there are internal factors in the form of emotions and revenge to avenge death, as well as external factors in the form of the environment. Keywords : Crime, Sociology of Literature, Murder. ABSTRAK Novel Lodan saka Segara Kidul ini menceritakan mengenai tindak-tindak kejahatan yang dilakukan oleh para tokoh dalam novel tersebut. Topik kejahatan tersebut kemudian menarik perhatian penliti untuk ditliti lebih jauh, karena selain tertulis dalam karya sastra, kejahatan juga sering ditemukan dikehidupan nyata sehari-hari. Rumusan masalah dalam penelitian ini 1) Bagaimana gambaran kejahatan dalam novel LSSK serta 2) Apa penyebab kejahatan dalam novel LSSK?. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk menjelaskan gambaran dan penyebab kejahatan dalam novel LSSK. Penelitian ini menggunakan kajian sosiologi sastra, khususnya yang dijelaskan oleh Wellek dan Warren. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Sumber data didapatkan dari novel LSSK karya Kukuh S. Wibowo, sedangkan data penelitian diambil dari kata, percakapan, kalimat-kalimat yang berkaitan dengan topik pembahasan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi pustaka. Sedangkan teknik analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan atau menjelaskan fakta-fakta dan yang terakhir disimpulkan. Hasil dari penelitian ini menjelaskan 1) gambaran kejahatan berupa tindak kekerasan fisik berupa aniaya, kekerasan psikis mengancam dan mengintimidasi, dan pembunuhan. Sedangkan 2) penyebab kejahatan itu sendiri ada faktor internal berupa emosi dan dendam ingin membalaskan kematian, serta faktor eksternal berupa lingkungan. Kata Kunci : Kejahatan, Sosiologi Sastra, Pembunuhan.
Peralihan Eksistensi Tokoh Utama dalam Novel Akik Sapta Rengga Karya JFX Hoery (Kajian Psikologi Eksistensial) Yunita, Meywa Tiara; Andriyanto, Octo Dendy
Jurnal Online Baradha Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/job.v19n2.p258-276

Abstract

Novel Akik Sapta Rengga karya JFX Hoery merupakan sastra Jawa modern yang menceritakan tentang proses eksistensi diri seseorang yang mengalami peralihan akibat kondisi psikologis yang dialaminya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan motif peralihan eksistensi tokoh utama dalam novel Akik Sapta Rengga karya JFX Hoery; (2) mendeskripsikan eksistensi tokoh utama berdasarkan perkembangan kesadaran diri dalam novel Akik Sapta Rengga karya JFX Hoery. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan kajian teori psikologi eksistensial Rollo May. Teknik mengumpulkan data menggunakan teknik studi pustaka yaitu membaca, menginventarisasi data, dan mengklasifikasi data. Teknik analisis data menggunakan model alir yaitu tahap reduksi data, tahap menyajikan data, dan tahap menyajikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) terdapat tiga motif peralihan eksistensi yang dialami oleh tokoh utama yaitu kurangnya rasa kepercayaan diri, menemukan eksistensinya secara umwelt, dan merasakan kecemasan (2) terdapat tiga tahap kesadaran diri dalam diri tokoh utama sesuai dengan teori Rollo May yaitu tahap pemberontak, tahap kesadaran diri yang wajar, dan tahap kesadaran diri kreatif. Kata Kunci: Eksistensi, Kesadaran Diri, Peralihan
RESISTANSI TRADISI SLAMETAN RONG TAUNAN BAYI OLEH WARGA DESA KALIBATUR, KECAMATAN KALIDAWIR, TULUNGAGUNG Oktafina, Lia Refi; Sukarman, Sukarman
Jurnal Online Baradha Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The tradition of Slametan Rong Taunan Bayi (TSRTB) is a series of baby birth ceremonies that are still carried out by the residents of Kalibatur Village. The resistance of TSRTB by the residents of Kalibatur Village attracts to be researched. The formulation of the problem is about the series of TSRTB events, TSRTB ubarampe, changes in TSRTB, the influence of global hegemony on TSRTB, and TSRTB resistance by Kalibatur villagers. This research is a means of inventorying and documenting TSRTB data and determine the level of resistance. This research with critical cultural studies uses mixed methods. Data were obtained through interviews, observation, questionnaires, documentation, and notes. The series of TSRTB events are preparation, implementation, and closing. Ubarampe that must be prepared for slametan are ubarampe slametan, ubarampe kething, and ubarampe gebragan. TSRTB changes are found in the series of events and the ubarampe. This is influenced by global hegemony. The forms of global hegemony are geography, educational level, occupation, and religion. TSRTB resistance by Kalibatur villagers has two strategies, namely citation and performance. The TSRTB resistance level shows a figure of 73.57%. It falls into the middle category, which is in the range of 50%-75%. Keywords: Resistance, Tradition, Slametan Rong Taunan Bayi Abstrak Tradisi Slametan Rong Taunan Bayi (TSRTB) merupakan rangkaian tradisi slametan kelahiran bayi yang masih dilaksanakan oleh warga Desa Kalibatur. Resistansi TSRTB oleh warga Desa Kalibatur menarik untuk diteliti. Rumusan masalahnya mengenai rangkaian acara TSRTB, ubarampe TSRTB, perubahan TSRTB, pengaruh hegemoni global terhadap TSRTB, dan resistansi TSRTB oleh warga Desa Kalibatur. Penelitian ini merupakan sarana inventarisasi, dokumentasi data TSRTB, dan mengetahui resistansinya. Penelitian cutural studies ini menggunakan mix methods. Data didapatkan melalui wawancara, observasi, angket, dokumentasi, dan rekam catat. Rangkaian acara TSRTB yaitu persiapan (menentukan hari, menyiapkan tempat, mencukupi kebutuhan dapur, menyiapkan ubarampe, dan mengundang), pelaksanaan (pembukaan, kenduri, membagi berkat, menitipkan, memandikan bayi, gebragan, dan mengantarkan kething), dan penutupan (membersihkan tempat, mengembalikan alat, dan berbagi makanan). Ubarampe yang harus disiapkan untuk slametan adalah ubarampe slametan, ubarampe kething, dan ubarampe gebragan. Perubahan TSRTB terdapat pada rangkaian acara dan ubarampe. Hal ini dipengaruhi oleh hegemoni global. Wujud hegemoni global tersebut adalah keadaan geografis, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan kepercayaan. Resistansi TSRTB oleh warga Desa Kalibatur dilaksanakan melalui dua strategi: citasi dan performansi. Tingkatan resistansi TSRTB menunjukkan angka 73,57%. Masuk kategori menengah, yaitu pada rentang 50%-75%. Maka, resistansi TSRTB perlu ditingkatkan lagi agar tidak hilang. Kata Kunci: Resistansi, Tradisi, Slametan Rong Taunan Bayi
BATIK TULIS TENGAH SAWAH DI DESA WIYORO KECAMATAN NGADIROJO KABUPATEN PACITAN (Kajian Wujud, Makna, Ekologi Budaya dan Fungsi) Pamungkas, Dinda Dara; Andriyanto, Octo Dendy
Jurnal Online Baradha Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi Kirab Tirta Amerta Sari di Candi Sumberawan, Dusun Sumberawan, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang (Tintingan Folklor) Puspitasari, Riantina; Andriyanto, Octo Dendy
Jurnal Online Baradha Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/job.v19n2.p373-392

Abstract

Abstract The tradition of Kirab Tirta Amerta Sari (TKTAS) tradition is one of the cultural activities carried out to preserve water sources as a form of gratitude for the gift of God Almighty. Over time, the carnival has become a cultural icon in Sumberawan Hamlet because this tradition is carried out in the courtyard of Sumberawan Temple, Sumberawan Hamlet, Toyomarto Village, Singosari District, Malang Regency. The interesting thing to study in the carnival is that it contains various cultural values ??and traditional values ??that reflect the personality of the Javanese people around Sumberawan Hamlet. To analyze this tradition using folklore tinting and qualitative descriptive research methods. Data collection techniques using observation techniques, interviews, and documentation. From this research, an extraordinary thing was found, namely the shape of the temple, which is actually the only stupa in East Java, contains amerta water, similar to Rompitaan or holy baths located in Kadewaguruan or Mandhalagiri. The amerta water is the basis for the implementation of this tradition. The developments and changes in this tradition are from the implementation procedures and ubarampe. The procedure for implementing it is different from in the past, at first it was only a water source salvation which was carried out by several people bringing ubarampe core cok akan, flower setaman, and rice ambeng. Currently, the water source salvation is carried out in a procession style, so it is called the Kirab Tirta Amerta Sari. The ubarampe used today is added with a pretala jug, some ancak, and plantains surrounded by betel leaves. Keywords:Sumberawan Temple, Salvation Water Source, Kirab Tirta Amerta Sari Abstrak Tradisi Kirab Tirta Amerta Sari (TKTAS) merupakan salah satu kegiatan budaya yang dilaksanakan untuk melestarikan sumber air sebagai bentuk rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa. Seiring berjalannya waktu, kirab tersebut menjadi ikon budaya di Dusun Sumberawan karena tradisi ini dilakukan di pelataran Candi Sumberawan, Dusun Sumberawan, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Hal menarik untuk dikaji dalam kirab tersebut yaitu mengandung berbagai nilai budaya dan nilai tradisi yang mencerminkan kepribadian masyarakat Jawa di sekitar Dusun Sumberawan. Untuk menganalisis tradhisi tersebut menggunakan tintingan folklor dan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari penelitian tersebut ditemukan hal yang luar biasa yaitu bentuk candi yang sebenarnya berupa stupa satu-satunya di Jawa Timur ini terdapat air amerta mirip dengan petirtaan atau pemandian suci yang terletak di Kadewaguruan atau Mandhalagiri. Air amerta tersebut yang mendasari pelaksanaan tradisi ini. Adapun perkembangan dan perubahan dalam tradhisi ini yaitu dari tata pelaksanaan dan ubarampe. Tata pelaksanaan berbeda dengan jaman dahulu, awalnya hanya selamatan sumber air yang dilaksanakan oleh beberapa orang dengan membawa ubarampe inti cok bakal, bunga setaman, dan nasi ambeng. Saat ini, selamatan sumber air dilaksanakan dengan model arak-arakan maka dari itu dinakaman Kirab Tirta Amerta Sari. Ubarampe yang digunakan saat ini ditambah dengan kendi pretala, beberapa ancak, dan pisang raja dikelilingi daun sirih. Perkembangan dan perubahan ini untuk menjaga eksistensi dan kelestarian TKTAS di Dusun Sumberawan. Kata Kunci: Candi Sumberawan, selamatan sumber air, Kirab Tirta Amerta Sari