cover
Contact Name
Ema Aenun Najib
Contact Email
mynameisnajib20@gmail.com
Phone
+6281578126825
Journal Mail Official
hikami@stkq.alhikamdepok.ac.id
Editorial Address
Jl. H. Amat no. 21, RT 06 RW 01 Kukusan - Beji - Depok - Jawa Barat - Indonesia
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir
ISSN : 29864771     EISSN : 28097262     DOI : 10.59622
HIKAMI adalah jurnal program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Jurnal ini ditujukan bagi para pembaca, peneliti, dan pengkaji yang ingin mendalami, memahami, dan mengamalkan seputar kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Beberapa artikel yang dimuat di dalamnya merupakan hasil penelitian dan artikel para ulama Al-Quran dan Tafsir. Secara khusus, jurnal ini membahas: Pertama Tafsir Al-Quran Nusantara Kedua Ad-Dakhil fi Tafsir Ketiga Ilmu Al-Quran Keempat Living Quran Kelima Kajian Al-Quran Klasik, Pertengahan, dan Kontemporer.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 122 Documents
VALIDITAS METODOLOGI INTERPRETASI AL-QUR’AN Shofiuddin Shofiuddin; Mursid Adi Saputra
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2021): DECEMBER
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v2i2.51

Abstract

Jurnal ini berjudul “Validitas Metodologi Interpretasi Al-Qur’an (Analisis Sosio-Historis-Politik)”. Pembahasan skripsi ini berfokus pada tinjauan sosio-historis-politik dan dipertajam dengan uji validitas dari lima metode tafsir yaitu ijmȃlȋ, taḥlȋlȋ, muqȃran, maudhȗ’ȋ dan hermeneutika Fazlȗr Rahmȃn.Jenis dan pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yang bersifat library research. Adapun, sumber primer dari penelitian yaitu Kitab al-Bidȃyah fȋ Tafsȋr al-Maudhȗ’ȋ karya Al-Farmȃwȋ, Tafsȋr Al-Jalȃlain karya Jalȃluddȋn Al-Syuyȗthȋ dan Al-Maḥallȋ Tafsȋr Al-Qur’ȃn Al-Adhȋm karya Ibnu Katsȋr, Tafsir Al-Jȃmi’ li Ahkȃm Al-Qur’ȃn karya Al-Qurthȗbȋ, dan Jurnal Islam and Modernity karya Fazlȗr Rahmȃn. Selain itu, untuk memudahkan proses penelitian ini penulis menggunakan pendekatan sosio-historis-politik dan dipertajam dengan pendekatan filsafat ilmu yaitu teori koherensi, korespondensi dan pragmatisme. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah lahirnya metodologi tafsir dilatar belakangi oleh tuntutan sosial-politik yang berkembang dan berubah dari masa ke-masa dan relevan sesuai konteks sosial dan politik masing-masing. Penelitian ini bisa dibaca melalui tinjauan ilmu sosiologi, sejarah, politik, dan filsafat ilmu.
KONTEKSTUALISASI MAKNA JAHILIYAH PERSPEKTIF SAYYID QUTUB DALAM KITAB FI ZILAL AL-QUR’AN M Yusron Shidqi; Moh Zainuri Fauzi
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2021): DECEMBER
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v2i2.52

Abstract

Bermula dari pernyataan Sayyid Qutub yang mengatakan bahwa jahiliyah bukanlah kebalikan dari apa yang dinamakan ilmu pengetetahuan (‘ilm), akan tetapi Jahiliyah  yang dimaksud dalam Al-Qur’an adalah keadaan spritual yang menolak uluhiyyah Allah dan suatu aturan atau sistem yang bertolak belakang dengan hukum Allah. Boleh dikatakan bahwa Jahiliyah itu adalah kebalikan dari Islam dan bertentangan dengan Islam. Dan juga kejahiliyahan itu tidak hanya terbatas dalam waktu tertentu saja, akan tetapi Jahiliyah adalah suatu tatanan, suatu aturan, suatu sistem yang dapat dijumpai kemarin, hari ini, bahkan hari esok. Tentu pendapat ini mengejutkan mengingat hampir suluruh umat muslim mengakui bahwa jahiliyah adalah suatu masa sebelum datangnya Islam. Dengan demikan, maka penelitian ini betujuan untuk mengkaji metode-metode yang digunakan Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat-ayat jahiliyah sehingga menghasilkan pemaknaan yang demikian itu. Penelitian ini tergolong penelitian kualitatif dengan model study kepustakaan (library research) dengan teknik pengumpulan data melalui metode dokumentasi. Adapun yang menjadi sumber primer dalam penelitian ini adalah kitab Tafsir fi Zilal al-Qur’an dan juga literatur-literatur kepustakaan yang relevan dengan topik pembahasan. Dengan metode analisis data deskriptif-analisis diharapkan akan dapat mengetahui metode-metode yang digunakan Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat.Melalui metode yang telah dipaparkan di atas menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat al-Qur’an secara kontekstual. Adapun metode yang digunakan Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat secara kontekstual adalah metode doubel-movent dengan pendekatan sosio-historis, sehingga menghasilkan sebuah makna kontekstual terhadap jahiliyah. Diantara makna-maknanya adalah; perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan aturan-aturan Allah, sebuah ideologi tanpa disertai argumentasi yang ilmiah, dan kesombongan serta fanatisme kesukuan.           
PERNIKAHAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN M Fikri Hasbi; Dede Apandi
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2022): JUNE
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v3i1.53

Abstract

Pernikahan merupakan salah satu fitrah kemanusiaan (‘garizah insaniyah) naluri kemanusiaan, karena itu islam menganjurkan menikah. Bila garizah tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu pernikahan, maka ia akan mencari jalan-jalan syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam. Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntunan naluri manusia yang asasi serta sarana untuk membina keluarga yang islami. Penelitian ini ditunjukan untuk mengadakan kajian yang lebih mendalam terhadap makna yang terkandung di balik teks ayat al-Qur’an tentang menikah, sehingga dapat  diketahui dengan jelas bagaimana ayat al-Qur’an berbicara mengenai pernikahan. Hasil dari penelelitian ini penululis menyoimpulkan bahwa bahwa dalam pernikahan terdapat tuntunan hakiki yaitu kebahagiaan yang bersifat rohani, karena pada hakekatnya perkawinan menurut Allah  dalam firman-Nya telah memberikan kesempatan kepada  manusia untuk meraih kebahagiaan jasmani dan rohani melalui pernikahan yang menimbulkan halalnya hubungan antara laki- laki dan perempuan dari suatu perkawinan. Berpasang  pasangan merupakan sunatullah yang berlaku pada semua  mahluk Allah Swt, baik pada manusia, tumbuh tumbuhan maupun hewan. Untuk hidup berpasang-pasangan, terlebih dahulu manusia harus diikat dengan ikatan pernikahan yang sah, disinilah letak perbedaan manusia dengan makhluk lainnya.
KONSEP ISTIQAMAH DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Shofiuddin Shofiuddin; Muh Hamim Thohari
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2021): DECEMBER
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v2i2.54

Abstract

Penelitian ini berjudul konsep istiqamah dalam perspektif al-Qur’an (kajian tafsir tematik terhadap ayat-ayat istiqamah). Penelitian ini berusaha menguraikan beberapa penafsiran istiqamah menurut para mufassir atau dalam kata lain untuk mengetahui dan mengkaji konsep istiqamah secara mendalam sesuai dengan tuntunan agama dan syariat Allah SWT. Penelitian ini merupakan kajian studi kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif-analisis dengan langkah-langkahnya meliputi penyusunan data dan penafsiran data atau menguraikannya secara sistematis terhadap sebuah konsep atau antar konsep, dengan menggunakan motode kajian tafsir tematik. Adapun hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa konsep istiqamah dalam al-Qur’an, Pertama istiqamah janji. Kedua istiqomah do’a, Ketiga istiqamah dalam perintah. Keempat istiqamah dalam tauhid. Kelima istiqamah dalam berdakwah. Keenam istiqamah dalam jalan agama.
KONSTRUKSI METODOLOGIS PENAFSIRAN AYAT-AYAT JILBAB Subur Wijaya; Syaifullah Syaifullah
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2021): DECEMBER
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v2i2.55

Abstract

Berawal dari suatu acara disebuah acara di TV, M. Quraish Shihab menjawab pertanyaan salah satu audiens tentang jilbab, Shihab menjelaskan dengan berbagai macam pendapat para ulama'. Jawaban ini membuat semua yang mendengarkan jawabannya menjadi resah, karena dianggap bertentang dengan paham yang ada di Indonesia. Dari kejadian ini penulis ingin membedah bagaimana metode penafsiran yang digunakan oleh Shihab, sehingga berpendapat seperti jawaban yang telah di utarakan. Metode yang digunakan di dalam penulisan skripsi ini, menggunakan metode pendekatan kualitatif. Di dalam skripsi ini juga menggunakan kajian pustaka yakni meneliti dengan menggunakan data yang sudah ada dan data-data yang yang mempunyai relevansi dengan judul skripsi ini. Dari penelitian ini melahirkan kesimpulan, bahwa dari kedua mufassir tersebut di dalam penggunaan metode tidak jauh berbeda, hanya saja Shihab lebih banyak menggunakan pendekatan bahasa, dan penggunaan metode sumber penafsirannya, dengan menukil berbagai pendapat, namun tanpa ada pentarjihan darinya. Berbeda dengan al-Qurtubi yang lebih sedikit menggunakan pendekatan bahasa, dan di dalam penggunaan metode sumber penafsirannya, ia menyatakan pentajihan pribadinya. Dari metode yang digunakan masing masing mufassir tersebuat juga mempunyai kesimpualan yang sama, atas kebolehan perempuan menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya, hanya saja Shihab mengatakan bahwa tidak pantas mencela perempuan yang menampakkan dari apa yang telah disepakati oleh keduanya, karena masih ada ulama' yang memperbolehkan menampakkan selain wajah dan kedua telapak tangan.
MENANGKAL ISLAMOFOBIA MELALUI INTERPRETASI AYAT-AYAT MODERASI PERSPEKTIF MUFASSIR KONTEMPORER Subur Wijaya; Mirza Nursyabani
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2022): JUNE
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v3i1.58

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menggali sikap wasathiyyah yang bersumber dari al-Qur’an guna menemukan jawaban atas permasalahan kontemporer. Tulisan ini menyimpulkan bahwa wasathiyyah dalam al-Qur’an menawarkan sikap keeseimbangan dalam menjalani keberagamaan di tengah kompleksitas sosial yang salah satunya adalah tidak diterimanya eksistensi umat Islam. Usaha pemberantasan Islamofobia dengan merujuk pada wasathiyyah dalam al-Qur’an dapat direalisasikan dengan menghadirkan pilar Islam moderat yang berfokus pada dialog peradaban dan upaya integrasi antar umat beragama. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif yang bertumpu pada studi kepustakaan (library research). Sumber primer pada penelitian ini adalah Al-Qur’an dan 3 karya tafsir kontemporer antara lain Tafsîr Al-Marâghî, Tafsîr Al-Manâr, dan Tafsîr At-Tahrîr wa At-Tanwîr dan sekunder berupa semua karya informatif yang membahas masing-masing tema; wasathiyyah dan islamofobia. Oleh karena dua tema yang berbeda, penulis mengambil pendekatan instrumental study untuk memahami lebih jelas Islamofobia sebagai fenomena sosial dan pendekatan maudhû’î untuk menganalisis tema wasathiyyah dalam al-Qur’an.  
KONTEKSTUALISASI MAKNA JAHIL IYAH PERSPEKTIF SAYYID QUTUB DALAM KITAB FI ZILAL AL-QUR’AN M Yusron Shidqi; Moh Zainuri Fauzi
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2022): JUNE
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v3i1.59

Abstract

Bermula dari pernyataan Sayyid Qutub yang mengatakan bahwa jahiliyah bukanlah kebalikan dari apa yang dinamakan ilmu pengetetahuan (‘ilm), akan tetapi Jahiliyah  yang dimaksud dalam Al-Qur’an adalah keadaan spritual yang menolak uluhiyyah Allah dan suatu aturan atau sistem yang bertolak belakang dengan hukum Allah. Boleh dikatakan bahwa Jahiliyah  itu adalah kebalikan dari Islam dan bertentangan dengan Islam. Dan juga kejahiliyahan itu tidak hanya terbatas dalam waktu tertentu saja, akan tetapi Jahiliyah adalah suatu tatanan, suatu aturan, suatu sistem yang dapat dijumpai kemarin, hari ini, bahkan hari esok. Tentu pendapat ini mengejutkan mengingat hampir suluruh umat muslim mengakui bahwa jahiliyah adalah suatu masa sebelum datangnya Islam. Dengan demikan, maka penelitian ini betujuan untuk mengkaji metode-metode yang digunakan Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat-ayat jahiliyah sehingga menghasilkan pemaknaan yang demikian itu. Penelitian ini tergolong penelitian kualitatif dengan model study kepustakaan (library research) dengan teknik pengumpulan data melalui metode dokumentasi. Adapun yang menjadi sumber primer dalam penelitian ini adalah kitab Tafsir fi Zilal al-Qur’an dan juga literatur-literatur kepustakaan yang relevan dengan topik pembahasan. Dengan metode analisis data deskriptif-analisis diharapkan akan dapat mengetahui metode-metode yang digunakan Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat.Melalui metode yang telah dipaparkan di atas menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat al-Qur’an secara kontekstual. Adapun metode yang digunakan Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat secara kontekstual adalah metode doubel-movent dengan pendekatan sosio-historis, sehingga menghasilkan sebuah makna kontekstual terhadap jahiliyah. Diantara makna-maknanya adalah; perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan aturan-aturan Allah, sebuah ideologi tanpa disertai argumentasi yang ilmiah, dan kesombongan serta fanatisme kesukuan.
KONSEP TA`WIL SUNNI-MUKTAZILAH (STUDI ANALISIS AYAT-AYAT MUTASYÂBIHÂT DALAM MAFÂTIH AL-GHAÎB KARYA FAKHRUDDIN AL-RÂZI DAN TANZÎH AL-QUR’ÂN ‘AN AL-MATHÂʻIN KARYA QÂDLÎ ʻABDUL JABBÂR) Subur Wijaya; Zakiyal Fikri Mochamad
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2022): JUNE
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v3i1.60

Abstract

Skripsi ini berjudul “Konsep Ta`wil Sunni-Muktazilah (Studi Analisis Ayat-Ayat Mutasyâbihat dalam Mafâtih Al-Ghaîb Karya Fakhruddin Al-Râzi dan Tanzih Al-Qur’ân ‘an Al-Mathâ’in karya ʻAbdul Jabbâr).” Penilitian ini difokuskan pada perbandingan model dan manhaj penafsiran al-Râzî (w. 606 H) dari aliran suni dengan Qâdlî “Abd al-Jabbâr (w. 415 H) dari muktazilah terhadap ayat-ayat mutasyâbihât berupa ayât shifât (lafaz istiwâ`, yad, dan ‘ain), al-hurûf al-muqathaʻah dan ru`yatullâh (melihat Allah SWT). Skripsi ini sejalan dengan kitab “al-Mufassirûn baina al-Taˋwîl wa al-Itsbât fî Ayât al-Shifât” karya Muẖammad bin Abd al-Raẖmân al-Mugrâwî dan skripsi (2005) “Metode Ulama Salaf dalam Memahami Ayât-ayât Mutasyâbihât” susunan Abdul Kadir. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang menyatakan bahwa persoalan ayat-ayat mutasyâbihât seperti ayât shifât, itu telah didekati dengan menggunakan metode ta`wîl tafshîlî oleh ulama salaf maupun khalaf dan juga oleh ulama suni maupun muktazilah termasuk al-Râzî (w. 606 H) dan Abd al-Jabbâr (w. 415 H) tersebut. Sementara penelitian ini berbeda dengan kitab “al--Taˋwîl fî al-Tafsîr baina al-Mu‘tazilah wa al-Sunnah” karya al-Sa„îd Syanuqah yang hanya menegaskan bentuk penafsiran aliran suni dan muktazilah secara umum itu pun hanya dipusatkan pada penafsiran Zamakhsyarî (w. 538 H). Penelitian ini menunjukkan bahwa manhaj pena`wilan kedua tokoh tersebut terlihat sangat unik bahkan seringkali saling menjatuhkan satu sama lain. Hal itu terlihat pada pemahaman keduanya terhadap ayat ru`yatullâh. Di mana al-Râzî (w. 606 H) menilainya muhkam, sementara Abd al-Jabbâr (w. 415 H) sebagai mutasyâbih. Disamping itu, keduanya juga sama-sama terpengaruh oleh ideologi mazhab yang dianutnya, sehingga hasil penafsirannya pun sangat condong untuk mempertahankan mazhabnya itu.
KONSEP FITRAH DALAM AL-QUR’AN (KAJIAN ANALISIS AYAT FITRAH PERSPEKTIF QURAISH SHIHAB DALAM TAFSIR AL-MISHBAH) Hamzah Hamzah; Muhammad Zarqali
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2022): JUNE
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v3i1.61

Abstract

Penelitian ini ditulis bertujuan untuk mengetahui konsep fitrah dalam tafsir al-Mishbah karya Quraish Shihab. Hal ini sangat penting mengingat pada era modern ini sangat banyak manusia yang menyelewengkan fitrah yang telah Allah ciptakan padanya. Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang ditulis olch Tian Wahyudi (tahun 2015) yang lebih mengedepankan konsep pembelajaran berdasarkan fitrah manusia. Namun, Penelitian ini sama dengan penelitian yang ditulis oleh Wen Hartono (tahun 2012) dari segi objek penelitian yang dikaji yang membahas tentang fitrah dalam tafsir al-Azhar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang murni bersifat kepustakaan (library rescach), dengan menjadikan tafsir al-Mishbah sebagai sumber primer. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Untuk mencapai suatu kesimpulan yang konkret maka penulis menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu suatu teknik analisis data dengan cara mengumpulkan data-data yang ada kaitannya dengan permasalahan dan memeriksa secara konseptual atas makna yang terkandung oleh istilah-istilah yang digunakan untuk mendapatkan kejelasan makna yang sebenarnya. Berdasarkan metode yang dipaparkan diatas, maka penulis mencapai suatu hasil atau kesimpulan bahwasanya Quraish Shihab mengatakan fitrah berarti bawaan lahir manusia, baik jasmani maupun rohaninya. Oleh sebab itu beli tidak setuju dengan perubahan fisik pada diri manusia dan itu merupakan suatu dosa besar bagi pelakunya. Adapun metode beliau dalam mencari makna fitrah tersebut adalah dengan menggunakan metode bi al-Ma'sur dan bi al-Ra'y dengan menggunakan pendekatan bahasa, fiqh, sosial, dan ilmu pendidikan.
VALIDITAS QIRA’AT IMAM ABŪ ‘AMR DALAM KITAB TANWĪR AL-ṢADR BI QIRA’AT AL-IMĀM ABĪ ‘AMR (STUDI QS. AL-ANFĀL) Muhamad Dikron; Subur Wijaya
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2022): DECEMBER
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v3i2.64

Abstract

Eksistensi praktek qira’at tujuh tidak merata di dunia Islam, dan tidak mencakup keseluruhan imam tujuh (al-qurra’ al-sab’ah). Di Indonesia, ulama nusantara yang berkhidmat di tanah haram, Muhamad Mahfudz al-Tarmasi (w. 1920 M) memberikan konsen di bidang qira’at dengan menulis karya Tanwīr al-Ṣadr Bi Qira’at al-Imām Abī ‘Amr. Karya ini, hemat penulis sebagai salah satu usaha untuk terus menghidupkan qira’at sab’ah di tengah-tengah masyarakat, khususnya bacaan Abū ‘Amr. Meskipun demikian, validitas qira’at Imam Abū ‘Amr dalam kitab Tanwīr al-Ṣadr Bi Qira’at al-Imām Abī ‘Amr masih menjadi permasalahan. Kesimpulan yang didapatkan melalui kroscek dari sampel surat al-Anfal terhadap validitas qira’at Abū ‘Amr dalam kitab Tanwīr al-Ṣadr Bi Qira’at al-Imām Abī ‘Amr, secara general valid dan memiliki konsistensi terhadap kaidah atau pola karakteristik qira’at Abū ‘Amr. Hasil validitas dan konsistensi didapatkan melalui parameter pola karakteristik qira’at Abū ‘Amr yang telah ditulis oleh al-Syāṭibiy yaitu meliputi bacaan isti’adzah, basmalah, al-Idgām, al-mad wa al-qashr, dua hamzah baik dalam satu kata atau dua kata, hamzah mufrod, al-fath, al-imālah dan al-Taqlīl, waqaf atau berhenti pada khat atau rasm utsmani, ya’ iḍāfah, ya’ zaidah dan farsy al-huruf  atau pola karakteristik khusus.

Page 11 of 13 | Total Record : 122