cover
Contact Name
Ema Aenun Najib
Contact Email
mynameisnajib20@gmail.com
Phone
+6281578126825
Journal Mail Official
hikami@stkq.alhikamdepok.ac.id
Editorial Address
Jl. H. Amat no. 21, RT 06 RW 01 Kukusan - Beji - Depok - Jawa Barat - Indonesia
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir
ISSN : 29864771     EISSN : 28097262     DOI : 10.59622
HIKAMI adalah jurnal program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Jurnal ini ditujukan bagi para pembaca, peneliti, dan pengkaji yang ingin mendalami, memahami, dan mengamalkan seputar kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Beberapa artikel yang dimuat di dalamnya merupakan hasil penelitian dan artikel para ulama Al-Quran dan Tafsir. Secara khusus, jurnal ini membahas: Pertama Tafsir Al-Quran Nusantara Kedua Ad-Dakhil fi Tafsir Ketiga Ilmu Al-Quran Keempat Living Quran Kelima Kajian Al-Quran Klasik, Pertengahan, dan Kontemporer.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 75 Documents
KONTEKSTUALISASI MAKNA JAHIL IYAH PERSPEKTIF SAYYID QUTUB DALAM KITAB FI ZILAL AL-QUR’AN M Yusron Shidqi; Moh Zainuri Fauzi
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3, No 1 (2022): Edisi Juni 2022
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.601 KB)

Abstract

Bermula dari pernyataan Sayyid Qutub yang mengatakan bahwa jahiliyah bukanlah kebalikan dari apa yang dinamakan ilmu pengetetahuan (‘ilm), akan tetapi Jahiliyah  yang dimaksud dalam Al-Qur’an adalah keadaan spritual yang menolak uluhiyyah Allah dan suatu aturan atau sistem yang bertolak belakang dengan hukum Allah. Boleh dikatakan bahwa Jahiliyah  itu adalah kebalikan dari Islam dan bertentangan dengan Islam. Dan juga kejahiliyahan itu tidak hanya terbatas dalam waktu tertentu saja, akan tetapi Jahiliyah adalah suatu tatanan, suatu aturan, suatu sistem yang dapat dijumpai kemarin, hari ini, bahkan hari esok. Tentu pendapat ini mengejutkan mengingat hampir suluruh umat muslim mengakui bahwa jahiliyah adalah suatu masa sebelum datangnya Islam. Dengan demikan, maka penelitian ini betujuan untuk mengkaji metode-metode yang digunakan Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat-ayat jahiliyah sehingga menghasilkan pemaknaan yang demikian itu. Penelitian ini tergolong penelitian kualitatif dengan model study kepustakaan (library research) dengan teknik pengumpulan data melalui metode dokumentasi. Adapun yang menjadi sumber primer dalam penelitian ini adalah kitab Tafsir fi Zilal al-Qur’an dan juga literatur-literatur kepustakaan yang relevan dengan topik pembahasan. Dengan metode analisis data deskriptif-analisis diharapkan akan dapat mengetahui metode-metode yang digunakan Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat.Melalui metode yang telah dipaparkan di atas menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat al-Qur’an secara kontekstual. Adapun metode yang digunakan Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat secara kontekstual adalah metode doubel-movent dengan pendekatan sosio-historis, sehingga menghasilkan sebuah makna kontekstual terhadap jahiliyah. Diantara makna-maknanya adalah; perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan aturan-aturan Allah, sebuah ideologi tanpa disertai argumentasi yang ilmiah, dan kesombongan serta fanatisme kesukuan.
PEMIMPIN NON MUSLIM DALAM PERSPEKTIF IBN JARIR ATH-THABARY M Yusron Shidqi; Nasril Albab Mochammad
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 2, No 1 (2021): Edisi Juni 2021
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.249 KB)

Abstract

Hingga kini dikalangan ‘Ulama masih terdapat perberbedaan pendapat terkait boleh dan tidaknya non-Muslim sebagai pemimpin bagi umat Islam. Hal itu umumnya didasarkan pada pemaknaan kata auliâ dalam al-Qur’an terkait konteks larangan menjadikan orang-orang kafir sebagai auliâ. Maka peneliti mengangkat tema “Pemimpin Non-Muslim dalam Perspektif Ibn Jarir Ath-Thabary” yang didasarkan pada tiga ayat terkait tema tersebut, yakni surat Ali Imrân ayat 28, surat al-Nisâ 144 dan surat al-Mâidah 51. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah pertama, Apa pengertian pemimpin dalam konsep Islam. Kedua, Apa saja term-term yang digunakan dalam Islam terkait pemimpin atau penguasa. Ketiga, bagaimana penafsiran Ath-Thabary terhadap surat Ali Imrân ayat 28, surat al-Nisâ 144 dan surat al-Mâidah 51. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif (analytical descriptive method) yaitu suatu upaya mendeskripsikan dan menganalisa penafsiran terkait kata auliâ dalam al-Qur’an terkait konteks larangan menjadikan orang-orang kafir sebagai auliâ. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ketiga ayat di atas menurut At-thabary bermakna larangan menjadikan orang-orang kafir sebagai auliâ bagi umat Islam. Adapun Ath-Thabary memaknai term auliâ dengan pembantu, penolong, penopang atau pelindung.
KONSEP SAB‘A SAMA Zidni Irfani
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 1, No 1 (2020): edisi JUNI
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (939.471 KB)

Abstract

Penelitian ini berjudul “Konsep Sab’a Sama>wa>t dalam Mafa>tih al-Ghaib dan Tafsir Ilmi Kementerian Agama RI”. Penelitian ini difokuskan pada mengetahui makna sab’a sama>wa>t dalam Tafsir Mafa>tih al-Ghaib dan Tafsir Ilmi Kementerian Agama RI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna sab’a sama>wa>t yang terdapat di beberapa ayat Al-Qur’an dalam perspektif Tafsir Mafa>tih al-Ghaib karya Imam Fakhruddi>n al-Ra>zi> dan Tafsir Ilmi Kementerian Agama RI. Penelitian ini menunjukkan bahwa sab’a sama>wa>t menurut Fakhruddi>n al-Ra>zi> dan Tafsir Ilmi Kemenag RI merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT yang diciptakan secara berlapis-lapis (bertingkat-tingkat). Pengertiannya, yang satu lebih jauh dari lainnya, karena yang satu lebih atas dari yang lainnya. Tujuh langit tersebut tetap kokoh di alam raya ini, tanpa ada tiang-tiang yang menyangga dan tanpa ada tali yang mengikat.
PENAFSIRAN SYEKH WAHBAH ZUHAILÎ TENTANG MARAH DALAM KITAB TAFSÎR AL-MUNÎR: AQÎDAH, SYARÎ’AH, DAN MANHAJ Muhammad Nizar Ulil Albab; Adib Minanul Cholik
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3, No 2 (2022): Edisi Desember 2022
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.603 KB) | DOI: 10.59622/jiat.v3i2.67

Abstract

Penafsiran Syekh Wahbah al-Zuhailî tentang marah dalam kitab Tafsir al-Munir. Mengingat bahwa marah merupakan bagian dari sifat manusia yang harus mampu dikendalikan oleh setiap manusia. Sebab, marah ini memiliki dampak yang positif ataupun negatif bagi orang yang mengekpresikannya. Di dalam kitab Lisan al 'Arab dan al-Mu'jam al-Wasith sebagaimana dikutip Khuma’is al-Said, marah al-gadab secara bahasa mempunyai beberapa makna, di antaranya: al-sukht (kemurkaan), dan a'l-‘abusu (kemuraman). Imam Al-Ghazali di dalam karyanya mengatakan adanya marah dalam diri manusia adalah untuk menjaganya dari kerusakan dan untuk menolak kehancuran. Adapun penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menjadikan Tafsir al-Munir sebagai sumber data premier. Untuk mencapai suatu kesimpulan yang konkrit maka penulis menggunakan metode deskriptif-analisis, yaitu dengan cara mengumpulkan data-data yang ada kaitannya dengan permasalahan dan memeriksa secara konseptual makna yang ada dalam berbagai istilah guma mendapatkan kejelasan makna yang sebenarnya. Berdasarkan metode tersebut, penulis mendapatkan suatu kesimpulan bahwa Syaikh Wahbah memaknai term Gadab (marah) dalam Al-Qur’an sebagai berikut: pertama, Gadab yang bermakna murka Allah, dimana makna murka tersebut subjeknya adalah Allah dan objeknya adalah kaumnya yang menentang utusan-utusan Allah. Kedua, Gadab yang bermakna marahnya utusan Allah kepada kaumnya yang suka membantah, mencela Nabi dan melakukan tindakan yang melenceng dari ajaran-ajaran para Nabi. Ketiga, marah manusia oleh manusia, yaitu marah seseorang yang di tujukan kepada orang lain dan bahkan berdampak kepada alam sekitarnya.
PERNIKAHAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN M Fikri Hasbi; Dede Apandi
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3, No 1 (2022): Edisi Juni 2022
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.692 KB)

Abstract

Pernikahan merupakan salah satu fitrah kemanusiaan (‘garizah insaniyah) naluri kemanusiaan, karena itu islam menganjurkan menikah. Bila garizah tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu pernikahan, maka ia akan mencari jalan-jalan syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam. Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntunan naluri manusia yang asasi serta sarana untuk membina keluarga yang islami. Penelitian ini ditunjukan untuk mengadakan kajian yang lebih mendalam terhadap makna yang terkandung di balik teks ayat al-Qur’an tentang menikah, sehingga dapat  diketahui dengan jelas bagaimana ayat al-Qur’an berbicara mengenai pernikahan. Hasil dari penelelitian ini penululis menyoimpulkan bahwa bahwa dalam pernikahan terdapat tuntunan hakiki yaitu kebahagiaan yang bersifat rohani, karena pada hakekatnya perkawinan menurut Allah  dalam firman-Nya telah memberikan kesempatan kepada  manusia untuk meraih kebahagiaan jasmani dan rohani melalui pernikahan yang menimbulkan halalnya hubungan antara laki- laki dan perempuan dari suatu perkawinan. Berpasang  pasangan merupakan sunatullah yang berlaku pada semua  mahluk Allah Swt, baik pada manusia, tumbuh tumbuhan maupun hewan. Untuk hidup berpasang-pasangan, terlebih dahulu manusia harus diikat dengan ikatan pernikahan yang sah, disinilah letak perbedaan manusia dengan makhluk lainnya.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL PERSPEKTIF AL-QUR’AN Subur Wijaya; Idris Hisbullah Huzen
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 2, No 1 (2021): Edisi Juni 2021
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.345 KB)

Abstract

Penelitian ini berjudul “Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural Perspektif Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh mengenai nilai-nilai multikultural yang terkandung di dalam alQur’an untuk kemudian dikaitkan atau dikorelasikan dengan konsep pendidikan multikultural.  Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan Library Research (penelitian kepustakaan) dan menggunakan metode deskriptif-analisis (Descriptive-analytis) yaitu dengan mendeskripsikan kemudian menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an terkait nilai-nilai pendidikan multikultural. Sumber data berupa sumber-sumber tertulis berupa kitab-kitab tafsir, buku-buku, artikel, jurnal, makalah, karya tulis dan sumber-sumber otoritatif lainnya yang relevan dengan tema.   Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat banyak sekali nilai-nilai multikultural di dalam al-Quran yang sesuai dan sejalan yang dapat di aplikasikan dalam pendidikan multikultural. Semua nilai itu terfokus pada tiga nilai yang menjadi nilai inti (core value) pada pendidikan multikultual. Nilai keadilan, nilai toleransi dan nilai kebangsaan apabila mampu di aplikasikan dengan baik oleh masyarakat multikultur seperti bangsa Indonesia, dapat menumbuhkan kesadaran dan rasa saling menghargai atas perbedaan dan keberagaman ras, suku, budaya, etnis dan agama sehingga mampu mereduksi timbulnya konflik yang disebabkan oleh berbagai macam perbedaan.  
KONSEP JIHAD PERSPEKTIF SYEKH ‘ABDUL RAUF AS- SINGKILI (Kajian Analisis Tafsir Turjuman al-Mustafid) Abdul Kodri Komairi
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 1, No 1 (2020): edisi JUNI
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (999.417 KB)

Abstract

Penelitian ini berjudul ”Konsep Jihad Perspektif Syekh ‘Abdul RaufAs-Singkili (Kajian Analisis Tafsir Turjuma>n Al-Mustafi>d)”, tema inidiangkat karena keresahan penulis terhadap fenomena konsepsi jihad yangterjadi pada masa ini, khususnya di Indonesia. Pemilihan tokoh kepada AbdulRauf As-Singkili karena beliau adalah mufassir pertama di Indonesia,sehingga penulis ingin mengetahui tentang bagaimanakah konsep jihadmenurut ‘Abdul Rauf As-Singkili di dalam Tafsirnya Turjuma>n al-Mustafi>d?Penelitian ini membahas beberapa ayat-ayat jihad (13 ayat jihad) yangmemiliki peran vital terhadap kesalahfahaman makna bagi mereka pelakuteror dengan mengatsnamakan jihad. Pembatasan masalah terhadap 13 ayatjihad dikarenakan banyak sekali ayat-ayat jihad di dalam al-Qur’an.Setelah ditelusuri secara mendalam dan dianalisis secara detail, AsSingkili cenderung lebih memaknai jihad dari satu sudut pandang yaknidengan perang secara khusus (perang dengan senjata), kendati demikianterdapat juga pemaknaan jihad secara global. Dan hal yang demikian akanmembuahkan sebuah hasil yang akan mendorong pembaca tafsir Turjuma>n alMustafi>d untuk bersikap hati-hati dalam memaknai ataupun menafsirkan alQur’an agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang fatal.
KONSEP TA`WIL SUNNI-MUKTAZILAH (STUDI ANALISIS AYAT-AYAT MUTASYÂBIHÂT DALAM MAFÂTIH AL-GHAÎB KARYA FAKHRUDDIN AL-RÂZI DAN TANZÎH AL-QUR’ÂN ‘AN AL-MATHÂʻIN KARYA QÂDLÎ ʻABDUL JABBÂR) Subur Wijaya; Zakiyal Fikri Mochamad
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3, No 1 (2022): Edisi Juni 2022
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.018 KB)

Abstract

Skripsi ini berjudul “Konsep Ta`wil Sunni-Muktazilah (Studi Analisis Ayat-Ayat Mutasyâbihat dalam Mafâtih Al-Ghaîb Karya Fakhruddin Al-Râzi dan Tanzih Al-Qur’ân ‘an Al-Mathâ’in karya ʻAbdul Jabbâr).” Penilitian ini difokuskan pada perbandingan model dan manhaj penafsiran al-Râzî (w. 606 H) dari aliran suni dengan Qâdlî “Abd al-Jabbâr (w. 415 H) dari muktazilah terhadap ayat-ayat mutasyâbihât berupa ayât shifât (lafaz istiwâ`, yad, dan ‘ain), al-hurûf al-muqathaʻah dan ru`yatullâh (melihat Allah SWT). Skripsi ini sejalan dengan kitab “al-Mufassirûn baina al-Taˋwîl wa al-Itsbât fî Ayât al-Shifât” karya Muẖammad bin Abd al-Raẖmân al-Mugrâwî dan skripsi (2005) “Metode Ulama Salaf dalam Memahami Ayât-ayât Mutasyâbihât” susunan Abdul Kadir. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang menyatakan bahwa persoalan ayat-ayat mutasyâbihât seperti ayât shifât, itu telah didekati dengan menggunakan metode ta`wîl tafshîlî oleh ulama salaf maupun khalaf dan juga oleh ulama suni maupun muktazilah termasuk al-Râzî (w. 606 H) dan Abd al-Jabbâr (w. 415 H) tersebut. Sementara penelitian ini berbeda dengan kitab “al--Taˋwîl fî al-Tafsîr baina al-Mu‘tazilah wa al-Sunnah” karya al-Sa„îd Syanuqah yang hanya menegaskan bentuk penafsiran aliran suni dan muktazilah secara umum itu pun hanya dipusatkan pada penafsiran Zamakhsyarî (w. 538 H). Penelitian ini menunjukkan bahwa manhaj pena`wilan kedua tokoh tersebut terlihat sangat unik bahkan seringkali saling menjatuhkan satu sama lain. Hal itu terlihat pada pemahaman keduanya terhadap ayat ru`yatullâh. Di mana al-Râzî (w. 606 H) menilainya muhkam, sementara Abd al-Jabbâr (w. 415 H) sebagai mutasyâbih. Disamping itu, keduanya juga sama-sama terpengaruh oleh ideologi mazhab yang dianutnya, sehingga hasil penafsirannya pun sangat condong untuk mempertahankan mazhabnya itu.
BIOGRAFI SINGKAT DAN PENAFSIRAN AL-MARAGHI TERHADAP AYAT-AYAT INTERAKSI SOSIAL Hamzah Hamzah; Hilmi Hilmi
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 2, No 1 (2021): Edisi Juni 2021
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.45 KB)

Abstract

Konsep interaksi sosial yang terdapat di dalam al-Qur’an mempunyai banyak karakter dan macam-macamnya, setiap ayat yang berbicara tentang interaksi memiliki makna-makna yang bisa dibilang berbeda, namun jika diteliti dengan seksama itu semua adalah satu pemahaman. Seperti yang terdapat pada surah al-Mumtahanah ayat 8 bahwasannya interaksi sosial itu adalah proses timbal balik yang dilakukan oleh seluruh belahan manusia dengan tidak membeda-bedakan antara ras, suku,  ideologi, negara bahkan agama. Dan Allah SWT tidak melarang atau bahkan menganjurkan untuk berinteraksi kepada siapapun.  Dalam artian berintraksi kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian. Dan Allah SWT juga menganjurkan untuk berbuat adil dengan mereka semuanya. Berbuat adil dalam masalah interaksi itu tidak ada batasannya, baik kepada sesama agama maupun lintas agama. Dengan syarat interaksi sosial yang terjalin itu tidak melanggar syari’at dan hukum-hukum Allah SWT. Imam Musthafa al-Maraghi    memberikan    penjelasan bahwasannya Interaksi sosial adalah suatu hubungan timbal balik yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat. Baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok, yang mana tidak saling membedakan atara satu dengan yang lain, baik dari aspek sosial, kasta, posisi, suku, ekonomi bahkan agama.
MODERASI DALAM AL-QUR’AN (Diskursus Kisah-Kisah 25 Rasul) Sofiuddin Sofiuddin
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 1, No 2 (2020): edisi DESEMBER
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.069 KB)

Abstract

Jurnal ini berjudul "MODERASI DALAM AL-QUR’AN (Diskursus Kisah-Kisah 25 Rasul)". Penelitian ini dibatasi pada lingkup, tema dan objek. Pembatasan dari segi tema yaitu potret komprehensif tentang konsep moderat dalam al- Qur’an, sedangkan objek penelitiannya yaitu kisah-kisah 25 Rasul yang mencerminkan sikap moderat. Dalam upaya penelitan skripsi ini, penulis ingin memberikan paparan data tentang kisah- kisah 25 Rasul yang dalam hidupnya mereka semua telah mengajarkan kepada seluruh umat di dunia berprilaku baik, mempunyai sikap teladan dan berfikir secara matang sebelum melakukan sesuatu dengan mengusung semangat moderasi.Peran penting penelitian ini untuk memberikan kontribusi pengetahuan tentang sikap-sikap moderat yang berdasarkan keteladanan 25 Rasul, disamping untuk mengisi ruang kosong yang belum pernah diteliti oleh peneliti terdahulu (yakni para peneliti secara intens yang ingin mengembangkan wacana Islam moderat yang bisa ditransmisikan pada seluruh elemen masyarakat). Dengan demikian penulis memilih judul “MODERASI DALAM AL-QUR’AN (Diskursus Kisah-Kisah 25 Rasul)” yang menurut penulis kiranya penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan berfikir masyarakat secara luas.